11 SKALA NARSISME REMAJA
C. Prosedur
Pada pengembangan skala ini dilakukan beberapa tahap untuk mendapatkan skala narsisme pada siswa SMA/SMK yang valid. Tahap-tahap yang dilalui antara lain penentuan aspek dan indikator, peer review, peer judgment, expert judgment, penyebaran skala, dan pengukuran validitas serta reliabilitas.
Tahap pertama yang dilakukan dalam pengembangan skala ini adalah menentukan aspek dan indikator perilaku narsisme. Penentuan aspek dilakukan dengan cara studi literatur dari beberapa jurnal. Hasilnya terdapat empat aspek yang mengindikasikan narsisme, yaitu membuat “konten foto”
yang berlebihan khususnya foto selfie, memiliki tujuan untuk dikagumi orang lain, memiliki perasaan bahwa diri sendiri paling unggul (grandiose self), memiliki perasaan iri dan khawatir akan orang lain. Namun, pada saat dilakukan expert judgement aspek keempat (memiliki perasaan iri dan khawatir akan orang lain) dirasa kurang relevan sehingga aspek keempat tersebut dihapuskan. Ketiga aspek yang diterima saat dilakukan expert judgement memiliki definisi konseptual sebagai berikut:
1. Membuat “konten foto” yang berlebihan khususnya foto selfie
Selfie diartikan sebagai sebuah seni fotografi mengambil gambar diri sendiri menggunakan kamera lalu dibagikan di media sosial. Dalam topik narsisme, seseorang dikatakan
memiliki sifat narsis ketika mereka mengambil serta mengunggah foto selfie dalam jumlah yang banyak.
2. Memiliki tujuan untuk dikagumi oleh orang lain
Rasa ingin dikagumi dalam hal ini berkaitan dengan sifat
“mencari perhatian” dari orang lain seperti membutuhkan adanya umpan balik positif (komentar, likes) dari orang lain terhadap unggahan mereka sendiri.
3. Memiliki perasaan bahwa diri sendiri yang paling unggul (grandiose self)
Unggul dalam hal ini berarti seseorang dengan tingkat narsisme yang tinggi akan memiliki perasaan bahwa mereka merasa lebih baik dalam hal mengunggah foto di media sosial serta merasa lebih banyak mendapatkan umpan balik dari orang lain.
Ditinjau dari ketiga aspek tersebut, peneliti menentukan indikator perilaku yang mencerminkan aspek-aspek tersebut.
Penentuan indikator ini dilakukan dengan menyebarkan skala open ended (lampiran 1) yang berisi tiga pertanyaan kepada siswa SMA/SMK di Indonesia. Terdapat 110 partisipan dalam tahap ini. Setelah itu, data yang diperoleh dikoding menjadi empat belas indikator (lampiran 2) yang dinilai relevan dengan tiga aspek tersebut.
Setelah indikator berhasil ditentukan, tahap selanjutnya adalah peneliti menuliskan aitem-aitem yang disesuaikan dengan indikator. Target aitem awal yang ditentukan oleh peneliti adalah 21 aitem, sehingga dalam pembuatannya peneliti membuat 42 aitem (lampiran 2) sebagai antisipasi apabila nantinya terdapat aitem yang gugur.
Kemudian dilakukan peer review terhadap 42 aitem yang telah dibuat. Hasilnya, terdapat 12 aitem dan 3 indikator yang harus gugur karena dinilai kurang sesuai dengan indikator aitem tersebut. Dari 30 aitem yang tidak gugur, terdapat beberapa item yang harus diperbaiki redaksinya agar tidak menimbulkan makna ganda. Dari 30 aitem yang tersisa, selanjutnya dilakukan uji validitas isi menggunakan Aiken’s V dengan 26 orang reviewer.
Rumus untuk menentukan validitas isi yaitu:
V = ∑s/[n(c-1) Keterangan:
s = r – lo
lo = Angka penilaian validitas yang terendah (dalam hal ini adalah 1)
c = Angka penilaian validitas yang tertinggi (dalam hal ini adalah 5)
r = Angka yang diberikan oleh penilai n = Jumlah expert
Penghitungan Aiken’s V menunjukkan terdapat satu aitem yang nilai Aiken’s V-nya memiliki koefisien nilai dibawah 0,7 dan satu aitem yang memiliki makna sama dengan aitem lainnya sehingga aitem-aitem tersebut harus digugurkan. Selanjutnya, expert judgement dilakukan terhadap 28 aitem. Dari expert judgment yang telah dilakukan, terdapat dua aitem yang bermakna ganda dan harus dipecah. Hasil akhir dari pengujian validitas ini yaitu 30 aitem yang kemudian disebar menggunakan google form kepada siswa SMA di Indonesia (lampiran 3).
Penyebaran skala dilakukan selama tiga hari. Terdapat 190 orang yang berpartisipasi dalam pengisian skala. Setelah itu, dilakukan uji reliabilitas terhadap data yang terkumpul dari
190 responden. Hasil uji reliabilitas terhadap 30 aitem tersebut adalah 0.882. Meskipun reliabilitas yang dimiliki skala ini sudah tinggi, tetapi terdapat enam aitem yang harus digugurkan karena memiliki corrected item total correlation rendah di bawah 0.3 sehingga tidak dapat mengungkap keperilakuan pada subjek dan bila aitem tersebut dihilangkan maka akan menaikan reliabilitas keseluruhan. Kemudian, dilakukan lagi uji reliabilitas terhadap 24 aitem yang tersisa dan menghasilkan angka reliabilitas sebesar 0.892. Gugurnya enam aitem tersebut juga menyebabkan terdapat dua indikator yang tidak digunakan pada skala pendek karena hanya tersisa satu aitem pada indikator tersebut.
Tahap terakhir dari pengembangan skala ini adalah pembuatan skala narsisme versi pendek yang terdiri dari 20 aitem dengan cara mengambil dua aitem dengan corrected item total correlation tertinggi di masing-masing indikator (lampiran 4). Skala versi pendek ini memiliki reliabilitas sebesar 0,877.
Setelah itu, dilakukan uji korelasi pearson pada skala pendek dan skala panjang. Dalam uji korelasi skala pendek dan panjang ini didapatkan nilai korelasi kedua skala adalah 0,981 yang memiliki arti bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kedua skala tersebut (mendekati +1). Dengan ini dapat dilihat bahwa konsistensi skala cenderung tinggi. Skala pendek dan panjang cenderung dapat memberikan hasil yang sama jika digunakan sebagai alat ukur. peneliti menyebarkan skala pendek ke siswa SMA/SMK. Data yang diperoleh dari penyebaran skala pendek ini akan digunakan untuk penormaan tingkat narsisme pada siswa SMA/ SMK.
Hasil dan Diskusi D. Skala Panjang 1. Blueprint
Tabel 1. Blueprint
Aspek Indikator Jumlah
Membuat konten
yang berlebihan Membagikan kegiatan sehari-hari 2 Memiliki tujuan
untuk dikagumi oleh orang lain
Membagikan momen yang menarik dan
berkesan 4
Membagikan momen untuk mendapatkan
banyak viewer 3
Berkeinginan untuk mendapatkan umpan
balik 3
Membagikan konten untuk
menyombongkan diri 3
Menginformasikan keadaan pribadi 3 Membagikan konten sesuai dengan trend
yang ada 3
Membagikan konten yang bertujuan agar
dikagumi orang lain 2
Memiliki perasaan bahwa diri sendiri yang paling unggul (grandiose self)
Mengecek jumlah like yang diterima 2 Melihat viewer dari konten yang diunggah 3 Mengecek komentar terhadap konten yang
diunggah 2
TOTAL 30
2. Hasil Uji Validitas Isi (AIKEN’S V) Tabel 2. Uji Validitas Isi
Aitem 1 0.817
Aitem 2 0.827
Aitem 3 0.788
Aitem 4 0.837
Aitem 5 0.856
Aitem 6 0.721
Aitem 7 0.885
Aitem 8 0.856
Aitem 9 0.769
Aitem 10 0.808
Aitem 11 0.836
Aitem 12 0.807
Aitem 13 0.875
Aitem 14 0.875
Aitem 15 0.846
Aitem 16 0.788
Aitem 17 0.605
Aitem 18 0.750
Aitem 19 0.750
Aitem 20 0.769
Aitem 21 0.837
Aitem 22 0.865
Aitem 23 0.760
Aitem 24 0.760
Aitem 25 0.779
Aitem 26 0.759
Aitem 27 0.807
Aitem 28 0.750
Aitem 29 0.730
Aitem 30 0.836
Menurut Azwar (2008) aitem yang memenuhi persyaratan validitas isi merupakan aitem yang memiliki koefisien Aiken’s V diatas 0,7. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, terdapat satu aitem yang nilai Aiken’s V-nya memiliki koefisien nilai dibawah 0,7 sehingga aitem tersebut harus digugurkan (aitem 17). Rendahnya nilai Aiken’s V aitem tersebut dikarenakan reviewer menilai bahwa aitem tidak relevan dengan indikator maupun aspek. Selain karena koefisien Aiken’s V yang rendah, ditemukan satu aitem yang memiliki makna tidak operasional yang berbunyi “Saya peduli terhadap sikap positif followers saya terhadap konten yang saya bagikan” (aitem 23) sehingga aitem tersebut juga digugurkan. Selanjutnya, dilakukan expert judgment terhadap 28 aitem yang tersisa. Setelah dilakukan expert judgment, ditemukan bahwa ada dua aitem yang bermakna ganda sehingga kemudian dipecah masing-masing menjadi dua aitem (aitem 3 dan 16). Selain itu terdapat beberapa istilah yang harus diubah, seperti foto/video menjadi konten.
Tabel 3
Validitas Isi setelah expert judgment
Aitem 1 0.817
Aitem 2 0.827
Aitem 3 0.788