• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I. PENDAHULUAN

B. Landasan Teori

1. Proses Belajar - Mengajar

Sebelum kita mengkaji apa itu proses belajar – mengajar, terlebih dahulu kita melihat terminologi dari proses, belajar, dan mengajar.

a. Proses

Proses adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Latin yakni

“processus” yang artinya “berjalan ke depan”. Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata proses diartikan sebagai runtunan perubahan peristiwa dalam perkembangan sesuatu (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989 : 703). Terminologi kata ini memiliki konotasi urutan

langkah atau kemajuan yang mengarah pada suatu sasaran atau tujuan. Menurut Chaplin (1972) dalam Syah (1995 : 113) proses adalah Any change in any object or organism, particularly a behavioral or psycological change (proses adalah suatu perubahan yang menyangkut tingkah laku atau kejiwaan).

b. Belajar

Berbagai terminologi dan penekanan yang berbeda-beda mengenai belajar bisa ditemukan dari berbagai sumber. Keragaman terminologi mengenai belajar tersebut ditentukan oleh berbagai hal antara lain: latar belakang dan perspektif orang yang memberi arti, situasi, agama, budaya dan lain-lain. Namun demikian hampir semua definisi mengenai belajar saling mendukung satu sama lain. Berikut akan dibeberkan beberapa definisi mengenai belajar antara lain:

1) Menurut Hilgar dan Bower (1975) dalam Purwanto (1990 : 84); Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, di mana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang.

2) Menurut Gagne (1977) dalam Purwanto (1990 : 84); Balajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan

mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi. Menurut Gagne dalam Dimyati dan Mudjiwono (1999 : 10); belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengelolaan informasi, menjadi kapabilitas baru.

3) Morgan (1978) dalam Purwanto (1990 : 84); Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau penglaman.

4) Witherington dalam Purwanto (1990 : 84); adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru daripada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian.

Proses belajar dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif dan psikomotorik yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif yang berarti berorientasi ke arah yang lebih maju daripada keadaan sebelumnya (Syah, 1995:113). Belajar pada manusia merupakan suatu proses psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif subyek dengan lingkungannya dan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, ketrampilan, nilai-sikap, yang bersifat konstan/membekas. Perubahan-perubahan itu dapat berupa sesuatu yang baru, yang segera nampak

dalam perilaku nyata atau masih tinggal tersembunyi; mungkin juga perubahan hanya berupa penyempurnaan terhadap hal yang sudah pernah dipelajari (Winkel, 1983:15). Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perobahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan (Hamalik, 1983:21). Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa belajar adalah beberapa perubahan sebagai hasil dari pengalaman, latihan, dan interaksi dengan lingkungan.

Terminologi-terminologi di atas memuat beberapa ciri yang penting dari belajar yakni bahwa: terdapat perubahan dalam tingkah laku, perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman, perubahan itu harus relatif mantap, dan harus merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup panjang, serta perubahan harus menyangkut seluruh aspek kepribadian.

c. Mengajar

Mengajar adalah upaya membantu kegiatan belajar siswa. Dalam hal ini guru berinteraksi sedemikian rupa dengan siswa agar siswa belajar membentuk makna dan pemahamannya sendiri dalam memperoleh pengetahuannya. Jadi guru tidak menjajalkan pengetahuan kepada siswa namun melibatkannya dalam aktivitas atau kegiatan belajar (Syah, 1995 183). Mengajar adalah penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar (Hasibuan

dan Moedjiono, 1985 : 3). Mengajar menunjuk pada apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai pengajar (Sudjana, 1989 : 28).

Pandangan lain tentang mengajar berasal dari filsafat konstruktivis. Mengajar bukan merupakan kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke murid melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Mengajar berarti partisipasi dari pelajar dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi (Betencourt, 1989 dalam Suparno, 1997 : 65).

Berdasarkan berbagai pandangan mengenai belajar dan mengajar di atas maka dapat dikatakan bahwa belajar dan mengajar merupakan dua hal yang memiliki ketergantungan satu sama lain yang tidak dapat dipisahkan dan berlangsung dalam suatu tahapan (periode) tertentu di mana tahapan tersebut membutuhkan sebuah proses yang berkesinambungan.

Konsep belajar – mengajar bukanlah suatu kejadian sepihak. Artinya, ungkapan pembelajaran yang diberikan oleh seorang pengajar bukan semata transfer pengetahuan tertentu, melainkan memiliki efek pendamping (nurturing effect) yang tersirat dalam proses tersebut dan yang meningkatkan kemandirian peserta didik, (Drost, 1999 : vii).

Prose pembelajaran adalah proses mengajar dan belajar yang terdiri atas kegiatan mengajar (Drost, 1999 : 1).

Proses Belajar – Mengajar (PBM) oleh para ahli melihatnya sebagai sebuah kegiatan yang integral (utuh terpadu) antara siswa sebagai pelajar yang sedang belajar dengan guru sebagai pengajar yang sedang mengajar. Dalam kesatuan kegiatan ini terjadi interaksi resiprokal yakni hubungan antara guru dengan para siswa dalam situasi instruksional, yaitu suasana yang bersifat pengajaran (Syah, 1995 : 237).

Para siswa, dalam situasi instruksional itu menjalani tahapan kegiatan belajara melalui interaksi dengan kegiatan tahapan mengajar yang dilakukan guru. Akan tetapi dalam proses belajar – mengajar masa kini di samping guru menggunakan interaksi resiprokal, dianjurkan pula untuk memanfaatkan komunikasi banyak arah untuk mencapai suasana pendidikan yang kreatif, dinamis dan dialogis (Pasal 40 ayat 2a UU Sisdiknas 2003 dalam Syah, 1995 : 237).

Bruner (dalam Budiningsih 2005 : 17) berpendapat bahwa teori pembelajaran adalah perskriptif dan teori belajar adalah deskriptif. Dikatakan preskriptif karena tujuan utama pembelajaran adalah menetapkan metode pembelajaran yang optimal, dan deskriptif karena tujuan utama teori belajar adalah memberikan proses belajar. Bruner (dalam Budiningsih 2005 : 43) melanjutkan bahwa pembelajaran yang selama ini diberikan di sekolah lebih banyak menekankan pada perkembangan kemampuan analisis, kurang mengembangkan kemampuan berpikir intuitif. Pada hal berpikir intuitif sangat penting bagi mereka yang menggeluti bidang matematika, biologi, fisika, dan sebagainya, sebab

setiap disiplin mempunyai konsep-konsep, prinsip, dan prosedur yang harus dipahami sebelum seseorang dapat belajar. Cara baik untuk belajar adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (discovery learning).

Dalam belajar fisika yang terpenting adalah siswa yang aktif belajar fisika. Maka semua usaha guru diarahkan untuk membantu dan mendorong agar siswa mau mempelajari fisika sendiri (Suparno, 2007:2).

Di sini akan terjadi proses interaksi antara siswa yang belajar dan guru yang mengajar, dan sedapat mungkin guru diharapkan untuk tidak terlalu mendominasi kegiatan pembelajaran akan tetapi justru harus memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaan. Peran guru bukanlah sebagai sumber ilmu pengetahuan akan tetapi peran guru lebih mengarah pada memberikan kemudahan kepada siswa untuk belajar sendiri (guru sebagai fasilitator).

Pembelajaran fisika hingga saat ini sangat dipengaruhi oleh berbagai teori yakni yang mepengaruhi cara guru fisika mengajar dengan baik sesuai dengan keadaan siswa, bahan kemampuan guru, situasi zaman, dan perkembangan ilmu pengetahuan. Satu di antara teori-teori yang mempengaruhi pembelajaran fisika adalah: Filsafat Konstruktivisme.

Filsafat konstruktivisme adalah filsafat yang mempelajari hakikat pengetahuan dan bagaimana pengetahuan itu terjadi. Menurut filsafat

konstruktivisme, pengetahuan itu adalah bentukan (konstruksi) kita sendiri yang sedang menekuninya (Suparno, 2007 : 8).

Sejalan dengan filsafat konstruktivisme yang selalu memperlakukan siswa sebagai subyek yang belajar maka guru haruslah menciptakan suatu iklim pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuannya. Ini berarti bahwa pengetahuan bukanlah sesuatu yang instan atau hal yang siap saji akan tetapi siswa harus berusaha secara aktif untuk mengkonstruksi.

Dokumen terkait