Konten Youtube Katekese Bulan Maria Kasimirus
Tenaga Pastoral Awam Pusat Pastoral Keuskupan Surabaya
Mojopahit 17 Surabaya. Masing-masing tempat ini mengisahkan hal menarik tersendiri yang perlu kita ketahui untuk menggugah iman kita sebagai murid Yesus.
Lokasi shooting episode 1-5 berlokasi di Wisma Rehabilitasi Sosial Katolik atau Wireskat. Wisma ini terletak di Kota Blora kira-kira 5-6 jam perjalanan dari Surabaya. Tempat ini dirintis oleh seorang Romo Congregatio Missionis (CM) yaitu P. Ernesto Fervari, CM pada tahun 1965. Tempat ini didirikannya untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang terpapar penyakit kusta pada waktu itu. Mereka yang ditampung Wireskat adalah mereka yang sudah sembuh dari sakit kusta tetapi masih mendapat stigma buruk dari masyarakat sekitar, bahkan dari keluarga mereka sendiri. Oleh karya Roh Kudus, melalui Romo Ernesto, Gereja menjawab perannya untuk membebaskan dan merawat orang yang diistimewakan dalam Kerajaan Surga. Gereja hadir di dunia dan bagi masyarakat. Kita tahu, soal kusta ini sangat biblis. Dalam Kitab Suci baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru terdapat cerita tentang kusta. Weriskat ini dapat dikatakan didirikan di atas biblis.
Nah, akan menarik lagi bila kita mengaitkan tempat ini dengan sosok Bunda Maria. Di dalam Wireskat ada Gua Maria, yang diresmikan pada 1972. Jadi lokasi ini adalah satu-satunya tempat ziarah di Indonesia yang menjadi satu dengan tempat memelihara dan merawat orang kusta. Nama Gua Maria-nya sendiri mengungkapkan sosok Bunda Maria sebagai Ibu Yesus Kristus, penyelamat para penderita kusta. Nama tempat Gua Maria-nya adalah Sendangrejo (yang berarti sumber selamat).
Proses shooting tim video katekese Bulan Maria di gua Maria Wireskat. (Dokumentasi Penulis)
Lokasi shooting kedua untuk episode 7 adalah Gereja Santo Pius X Blora.
Lokasinya tidak jauh dari Wireskat, hanya 30 menit perjalanan sepeda motor.
Arsitektur Gereja yang dirancang oleh Romo Mangunwijaya ini unik dan kaya pesan.
Romo Mangunwijaya dikenal sebagai tokoh pendidikan nasional di mana gagasan pendidikan yang diusungnya masing relevan bagi pembangunan Indonesia yang humanis.
Sekilas bentuk gereja tampak seperti kapal. Gereja memang sering digambarkan bahtera yang berlayar menuju pantai pulau abadi, Surga. Setelah diamati lebih lanjut, ternyata arsitektur bangunan gereja melukiskan tangan manusia yang sedang sungkem, tangan yang sedang berdoa. Doa erat kaitannya dengan Bunda Maria. Doa paling tinggi adalah mendengarkan Tuhan, mempercayakan diri kepada kehendak Allah. Bunda Maria adalah seorang pendoa sejati yang selalu ingin mendengarkan puteranya, merenungkan Sabda Puteranya, dan menghidupinya dalam ketekunan dan kesetiaan; hingga berbuah pada kenyataan Maria diangkat ke Surga. Saudara kita kaum Muslim pun percaya hal yang sama, bahwa “doa paling tinggi adalah membaca Al-Quran,” menurut Gus Aan Anshori saat talkshow episode ke-6.
Proses shooting konten yg mengulas sejarah Paroki St Pius X Blora. (Dokumentasi Penulis)
Gambaran Gua Maria yang satu lingkungan dengan penderita kusta ini memberi pesan istimewa bahwa kita diajak hadir untuk memberikan perlindungan, perawatan, penghiburan dan hidup bagi penderita dan kaum yang ditindas oleh sistem apa pun.
Shooting terakhir dilakukan di Pusat Pastoral, Jl. Mojopahit 17, Surabaya.
Seolah setelah ziarah bersama Bunda Maria di Gua Maria dan di Gereja; langkah terakhir adalah diajak kembali ke komunitas, kembali kepada diri sendiri. Ada percakapan menarik saat shooting bersama Gus Aan. Ia mengatakan bahwa
“Saya dilahirkan dan dididik di lingkungan Muslim yang menganggap diri muslim paling benar dan suci, sama seperti orang-orang di komunitas Mojopahit 17 ini yang menganggap diri benar daripada orang yang di luar sana.” Pernyataan ini mengungkapkan bahwa tempat ini adalah sarana untuk belajar mendapatkan kebenaran, dengan tetap mengakui kebenaran di luar sana, lepas dari ada luka sejarah atau tidak.
Shooting bersama Gus Aan di tempat ini memberi gambaran bahwa rumah kita terbuka. Gereja terbuka terhadap percikan kebijaksanaan dalam diri, budaya dan agama lain. Itulah yang disebut dialog. Dialog sejati bila para pesertanya dapat dengan terbuka mengakui identitas mereka secara terbuka; bila semua peserta saling menghargai kebebasan masing-masing, sehingga masing-masing semua peserta dapat juga mempraktikkan keyakinan mereka dalam kehidupan” (Sunarko, 2016: 328-329).
Tim Video Katekese Bulan Maria bersama warga Wireskat. (Dokumentasi Penulis)
Konten Tiap Episode
Pada episode pertama, dibahas tentang dasar penetapan bulan Mei sebagai bulan Maria oleh Gereja. Pada awal video akan ditampilkan panorama Wireskat dan Gua Maria. Episode kedua berisi tanya-jawab tentang devosi kepada Bunda Maria, yang barangkali sudah akrab kita lakukan tetapi belum mengerti apa itu devosi kepada Bunda Maria. Episode ketiga membahas penampakkan Bunda Maria.
Episode ini menjawab berbagai pertanyaan seperti: Kenapa ada tempat-tempat ziarah yang luar biasa besar di Eropa? Pesan istimewa apa yang ditekankan dalam setiap penampakan-penampakan Bunda Maria?
Episode keempat berisi tanya-jawab tentang dogma Maria. Ada banyak dogma tentang Maria seperti Maria Bunda Allah, Maria Tetap Perawan, Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa, sampai dogma Maria Diangkat Ke Surga. Bila selama ini kita melihat dogma-dogma tentang Maria secara terpisah, kali ini kita diajak untuk melihat berbagai tentang Maria sebagai satu kesatuan. Melalui konten episode ini, kita dibantu untuk memahami telaah teologi yang (terlihat) sulit dengan pembahasan yang mudah dipahami.
Proses shooting konten bahan Maria di gua Maria Wireskat (situasi sore hari). (Dokumentasi Penulis)
Pada episode kelima, tim konten katekese memberikan pengantar sekaligus rangkuman bahan pendalaman iman di Paroki, stasi, atau lingkungan sepanjang Bulan Mei 2021. Tema besarnya adalah “Bersama Bunda Maria, Mengenal Yesus Sebagai Guru dan Tuhan” yang akan dilakukan sebanyak 5 pertemuan. Dari pertemuan satu sampai lima sangat menarik, dan sebaiknya tidak boleh dilewatkan.
Sebab, alur kelima pertemuan pendalaman itu sendiri menggambarkan perjalanan seorang yang ingin menjadi murid Yesus yang benar dan setia sampai tuntas.
Gus Aan. Sumber: facebook.com
Episode keenam, yang menghadirkan Gus Aan sebagai narasumber. Melalui Gus Aan, kita mengenal sosok Bunda Maria menurut perspektif saudara-saudara kita yang beragama Islam.
Satu hal yang menarik dalam diskusi dengan Gus Aan adalah penghormatan umat Islam terhadap Bunda Maria yang dikenal Siti Mariam. Bagi Gus Aan, Bunda Maria adalah wanita yang paling dimuliakan di antara segala ciptaan di alam raya. Bunda Maria adalah pribadi yang teguh pada kebenaran. Kalau dia pun ditawari kekayaan duniawi yang menggiurkan, ia tetap tidak mau berkompromi kepada sesuatu yang tidak benar. Bunda Maria sangat terkenal ketaatannya pada Allah.
Tentu ada pertanyaan di benak kita, misalnya saja: kalau saudara kita dari agama Islam mengakui seperti itu, dan ada cukup banyak dalam Al-Quran mengisahkan tentang Bunda Maria, mengapa hal itu tidak begitu dimunculkan dalam tradisi atau setidaknya pada diskusi akademis dari cendikiawan muslim? Hal ini perlu dipelajari lebih lanjut demi meningkatkan relasi antar umat beragama, khususnya Katolik dan Islam.
Pada episode terakhir, yang membahas profil Gereja Santo Pius X Blora.
Beberapa yang ingin dilukiskan dalam diskusi seputar profil dan arsitektur bangunan gereja antara lain: gereja yang berdoa dan berjiwa sosial, keberadaan komunitas Samin, hingga karya pendidikan yang namanya melukiskan keterlibatan Gereja dalam pembangunan masyarakat setempat. Salah satu gambaran Gereja yang ada dalam cita-cita pendirian paroki ini adalah perumusan dirinya sebagai Gereja Katolik Indonesia (bukan Gereja Katolik di Indonesia). Gereja adalah bagian dari masyarakat. Dari segi arsitekturnya, Gereja ini sangat spiritual dan membumi (mengindonesia). Bunda Maria disebut juga Bunda Gereja, Bunda kaum beriman yang hadir di tengah masyarakat.
Para Narasumber
Menjelang shooting, RD. Alexius Kurdo Irianto menyampaikan dengan jujur bahwa ia merasa dihantui adanya kemungkinan keliru secara ajaran Katolik saat menyampaikan jawaban tentang Bunda Maria. Takut keliru dan salah ajaran ini bukankah suatu bentuk negatif dari ungkapan hanya ingin berpegang pada yang benar saja. Ini sangat Maria banget. Maria hanya tunduk pada kebenaran. Itu satu hal. Hal lain, ketika istirahat di ruang makan terjadilah diskusi kecil. Beliau menyampaikan permenungannya yang menggelisahkan tentang keperawanan Bunda Maria, dan Dogma Maria Diangkat Ke Surga dengan jiwa dan raga. Ternyata, meskipun beliau telah lama menjadi imam, dan menggeluti bidang katekese, ia tetap mencari kemungkinan ajaran Gereja dapat diterima oleh akal budi manusia zaman sekarang.
Inilah yang disebut fides quaerens intellectum (iman yang mencari pengertian).
Berkaitan dengan dogma Maria Tetap Perawan sebelum, saat dan sesudah melahirkan Kristus, Romo Kurdo menemukan penjelasan dengan apa yang sekarang ada dalam dunia medis. “Sekarang ini mengandung tanpa penetrasi (berhubungan intim) tetapi dapat terjadi kehamilan. Ini yang disebut fertilisasi. Untuk melahirkan pun, sekarang melahirkan bisa tanpa melalui vagina, yang dikenal operasi sesar,”
ungkap Romo Kurdo. Nah, kalau manusia aja bisa begitu, mengapa Allah tidak bisa, ujarnya. Kalau manusia saat itu karena perkembangan pengetahuan dan teknologi, Allah tidak perlu suatu perkembangan ilmu dan teknologi untuk mencapai kemampuan di luar apa yang mungkin dapat dipikirkan manusia. Allah sudah sempurna dalam segala sesuatu.
Terkait dengan kegelisahannya tentang bagaimana bisa dipikirkan manusia seperti Maria diangkat dengan jiwa dan raga ke dalam Surga, beliau menemukan suatu analogi yaitu seekor ulat berproses menjadi kupu-kupu. Ulat, setelah mengalami metamorfosis menjadi kupu-kupu ini sesuatu yang berbeda sekali dari segi rupa atau bentuk, tetapi itu isinya sama. Ulat yang tadi sekarang menjadi kupu-kupu yang sangat indah. Kupu-kupu-kupu ini sesuatu bentuk yang baru dan berbeda sekali saat menjadi ulat. Di alam semesta ini, ada penjelasan misteri Allah, meskipun tidak sepenuhnya dapat dipikirkan manusia.
Gua Maria Wireskat. (Dokumentasi Penulis)
Narasumber yang kedua, Gus Aan juga mempunyai dorongan yang sama dalam memahami apa yang sudah diimani. Gus Aan adalah pribadi yang dibentuk oleh lingkungan tradisi keislamannya dianggap masih murni. Tapi sebagai manusia ia selalu terbuka untuk mencari kekayaan imannya sehingga semakin mantap dia beriman. Misalnya, diungkapkan bahwa gagasan keislaman NU lebih cocok di hati dan pikirannya. Ia pun tertarik belajar dan terbuka soal kebenaran meskipun tidak diajarkan dalam tradisi pemikiran muslim seperti tentang Bunda Maria. Intinya ada dorongan beriman dengan akal sehat.
Baik Romo Kurdo dan Gus Aan dapat membantu kita menemukan keaslian kita mengaktualisasikan iman yang tidak mengeliminasi akal budi dan hati nurani.
Bunda Maria pun seorang suka menyimpan misteri Allah dan merenungkannya.
Bagi kita, umat Katolik, setiap peristiwa adalah unik, tiada duanya dan tidak ada yang kebetulan. Semua menyiratkan Wahyu yang selalu baru bagi insan beriman yang mencari keteduhan bersama Allah.