• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses berpikir induksi.

Dalam dokumen Metodologi Penelitian Bisnis dan Manajemen (Halaman 44-47)

BERPIKIR ILMIAH A Manusia dan Permasalahannya.

D. Proses Berpikir.

2. Proses berpikir induksi.

Proses berpikir induksi sangat berbeda dengan deduksi. Tidak terdapat hubungan yang kuat antara alasan dan kesimpulan dalam proses berpikir secara induksi. Melakukan induksi adalah menarik suatu kesimpulan dari satu atau lebih fakta-fakta atau seperangkat bukti-bukti. Kesimpulan yang dibuat akan menerangkan fakta-fakta, dan fakta-fakta akan mendukung kesimpulan. Contoh induksi yang sederhana adalah :

Desa A di kecamatan X terserang wabah flu burung (avian influenza),

Desa B di kecamatan X terserang wabah flu burung (avian influenza),

Desa C di kecamatan X terserang wabah flu burung (avian influenza),

Desa D di kecamatan X terserang wabah flu burung (avian influenza),

……… ………..,

……… ………,

Desa Z di kecamatan X terserang wabah flu burung (avian influenza),

Jadi, semua desa di kecamatan X terserang wabah flu burung (avian influenza) Contoh aplikasi dalam praktek bisnis, misalkan perusahaan mengeluarkan biaya iklan sebesar Rp. 1 milyar, namun penjualan tetap tidak

Fact 1.

Tekan saklar “on” lampu tidak menyala.

Why?

Induction

Fact 2.

Pasang bola lampu baru, dan saklar di-on-kan

lampu menyala.

Hypothesis : Bola lampu putus sehingga

tidak nyala

Deductive : Lampu rusak tidak menyala saat saklar di-on-kan.

Inductive : lampu yang baik akan menyala

jika saklar di-on-kan.

Kunjungi http://www.paksis.wordpress.com untuk artikel manajemen gratis Metodologi Penelitian Bisnis 35 meningkat. Ini adalah sebuah fakta, bahwa penjualan perusahaan tidak meningkat baik selama maupun setelah ditayangkannya iklan. Pertanyaan yang dapat diajukan: “Mengapa penjualan tidak meningkat, padahal sudah

dikeluarkan biaya promosi?”.

Jawaban yang mungkin segera diperoleh adalah karena materi atau media iklan yang digunakan tidaK mengena. Kesimpulan semacam ini adalah proses berpikir induksi, karena kita tahu dari pengalaman bahwa penjualan biasanya akan meningkat selama masa promosi. Kita juga tahu dari pengalaman bahwa jika jenis iklan atau media iklan yang dipilih tidak mengena, maka penjualan tidak akan naik. Proses induksi pada dasarnya sebuah hipotesis. Kemungkinan penjualan tidak meningkat dapat diterangkan dengan hipotesis berikut :

1. Para retailer kemungkinan tidak memiliki stok barang yang cukup untuk memenuhi permintaan pelanggan selama promosi berlangsung,

2. Adanya demonstrasi karyawan angkutan sehingga terjadi keterlambatan pengiriman barang dan pada gilirannya promosi menjadi tidak efektif, 3. Terdapat banjir bandang sehingga para retailer menutup usahanya selama

sepuluh hari.

Contoh lain dapat digambarkan tentang situasi seorang salesperson

yang bernama Dessy. Dessy adalah salah satu sales person yang memiliki kinerja terjelek diantara rekan-rekananya. Kinerja Dessy yang tidak memuaskan tentu saja membangkitkan pemikiran kita untuk bertanya “Mengapa dia

memiliki kinerja yang buruk?”

Hipotesis yang timbul berdasarkan pengalaman di perusahaannya, Desy memiliki jumlah telpon ke konsumen harian yang sedikit. Hipotesis- hipotesis yang lain berdasarkan bukti-bukti lain diantaranya :

1. Wilayah kerja pemasaran Dessy mungkin tidak potensial dibanding wilayah pemasaran yang lain,

2. Kemampuan untuk mengembangkan ketrampilan menjual Dessy lemah, sehingga jarang terjadi “closing” atau “deal” yang efektif,

3. Dessy tidak punya wewenang menurunkan harga produk, sementara di daerah yang sama para pesaing membuat kebijakan harga yang lebih rendah sehingga pasar Dessy lari ke kompetitor,

4. Beberapa orang tidak mampu menjual produk tersebut, dan Dessy adalah salah satu diantaranya.

Dalam proses induksi, agar kesimpulan dapat meyakinkan (confidence)

masih harus perlu dilakukan konfirmasi. Untuk melakukan sebuah konfirmasi, perlu diberikan lebih banyak bukti-bukti. Tugas penelitian adalah

1. Menentukan bukti yang diperlukan untuk menerima atau menolak hipotesis 2. Merancang metode-metode untuk menemukan atau mengukur bukti-bukti

lain

3. Kombinasi pola berpikir deduksi dan induksi

Apabila pendekatan deduksi dan induksi digunakan secara berurutan dalam proses penelitian, John Dewey menyebutnya sebagai proses “double

36 Metodologi Penelitian Bisnis Kunjungi http://www.paksis.wordpress.com untuk artikel manajemen gratis

menemukan fakta-fakta dan kita bertanya “Mengapa begini?”. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita biasanya mengajukan beberapa penjelasan yang sifatnya tentative atau sementara dan ini disebut sebagai hipotesis. Hipotesis dapat dinyatakan untuk menerangkan bukti atau fakta yang menyangkut permasalahan. Deduksi adalah proses yang mana kita menguji apakah sebuah hipotesis mampu menerangkan fakta-fakta. Proses ini dapat dilihat pada Gambar 3.3.

Anda mempromosikan produk, tapi penjualan tidak meningkat (Fakta 1) 1. Anda bertanya : “Mengapa penjualan tidak meningkat? (Induksi)

2. Anda mebuat inferensi sebuah kesimpulan (Hipotesis) untuk menjawab pertanyaan. Promosi telah dilaksanakan dengan jelek (Hipotesis)

3. Anda menggunakan hipotesis ini untuk menyimpulkan (deduce) bahwa penjualan tidak akan meningkat selama promosi tetap dijalankan dengan jelek. Anda tahu dari pengalaman, bahwa promosi yang dilakukan dengan jelek tidak pernah akan meningkatkan penjualan (deduksi).

4. Sebuah promosi yang dilakukan dengan baik akan menghasilkan penjualan yang meningkat (deduksi)

5. Kita menjalankan promosi yang efektif dan penjualan akan meningkat (Fakta2).

Gambar 3.3. Skematis Diagram Mengapa Penjualan Tidak Meningkat? Penjelasan cara berpikir deduktif dan induktif dalam penelitian juga disampaikan oleh Djarwanto, (1998 : 9). Menururt Djarwanto, persoalan hendaknya dirumuskan secara sederhana, positif dan deklaratif. Merumuskan sebuah persoalan bisa secara deduktif, yakni menarik konklusi (kesimpulan) logis yang berhubungan dengan suatu problema dari kaidah-kaidah atau prinsip- prinsip umum atau bertolak dari suatu kenyataan umum. Persoalan dapat pula didirumuskan secara induktif, yakni menarik konklusi dari hasil observasi atau eksperimen-eksperimen yang diperoleh dengan jalan mengumpulkan pengalaman-pengalaman.

Fact 1.

We promote product, but

sales don’tincrease. Why?

Induction

Fact 2.

We run an effective promotion and sales increase.

Hypothesis : The promotion

was poorly executed

Deductive : in-effective promotion will not increase sales.

Inductive : Effective promotion will increase sales.

Kunjungi http://www.paksis.wordpress.com untuk artikel manajemen gratis Metodologi Penelitian Bisnis 37 Gambar 3.4. Skematis Diagram Mengapa Kinerja Karyawan Jelek.

Bagaimana sebuah kombinasi deduksi dan induksi (double movement of

reflective thought) dapat menjelaskan kasus Dessy? Prosesnya digambarkan

secara sekematik diagram pada Gambar 3.4 di atas.

Dalam dokumen Metodologi Penelitian Bisnis dan Manajemen (Halaman 44-47)

Dokumen terkait