• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III FENOMEMA KOMUNITAS GAY DI SALATIGA

B. Fenomena Komunitas Gay di Kota Salatiga

3. Proses Coming Out pada Gay

Pengertian coming out (Putri dan Zulkhaida, 2007: 3-4) adalah proses dari penemuan atau penerimaan diri sendiri dan pemberitahuan tentang orientasi lesbian atau gay seorang individu kepada orang lain. Sedangkan menurut Troiden (dalam Siahaan 2009: 51-52), Coming Out

(pengakuan), tahap ini merupakan tahap di mana homoseksualitas diambil sebagai jalan hidup. Tahap ini mungkin dapat diartikan bahwa telah terjadi kombinasi antara seksualitas dan emosi, dan mempunyai hubungan dengan pasangan tetap.

Tahapan-tahapan dalam Coming Out menurut Rothblum (dalam Putri dan Zulkhaida, 2007: 4):

64

a. Mengetahui: Seorang individu baru menyadari bahwa mereka berbeda dari heteroseksual.

b. Penerimaan Diri: Tahap yang sangat sulit karena penilaian masyarakat dan ketakutan masyarakat terhadap homoseksual. Namun tahapan ini merupakan tantangan yang harus dijalani.

c. Keterbukaan: Pengetahuan dan penerimaan seseorang untuk terbuka pada orang lain.

d. Memberitahu pada Keluarga: Tahap ini merupakan keputusan yang sangat penting. Karena orang tua sulit menerima bahwa anaknya adalah sorang homoseks.

e. Bergabung dalam Komunitas: Kebutuhan dasar seorang individu untuk data dimiliki, dan penguatan yang tidak didapat dari keluarga.

Faktor-faktor yang mendasari terjadinya Coming Out menurut Coleman (dalam Putri dan Zulkhaida, 2007: 4):

1) Ingin berkembang menjadi individu yang berjiwa sehat dengan konsep diri positif.

2) Ingin mengubah mitos dan stereotype yang ada di masyarakat mengenai homoseksual.

3) Ingin memiliki rasa percaya diri yang baik.

4) Ingin dapat bersosialisasi dalam masyarakat tanpa memandang bahwa dirinya memiliki orientas seksual berbeda.

65

Berikut hasil wawancara, berkenaan tahapan-tahapan coming Out

para subyek penelitian:

a. Wawancara dengan T (28) pada tanggal 15 April 2014:

“Saat lahir saya biasa-biasa saja dan benar-benar jadi seorang gay dari SD. SMP udah masuk ke dunia malam dan udah jadi

‘kucing’ (gigolo). Selama dua tahun saya menjalani kehidupan

yang demikian dan akhirnya saya mulai merasa resah dan berpikir, buat apa sih saya mencari uang dengan cara begitu? Meski waktu itu harga saya lagi tinggi, tapi saya memutuskan untuk meninggalkan dunia tersebut. SMP kelas tiga saya sudah memutuskan untuk tidak menjadi kucing lagi dan inilah untuk pertama kalinya saya jalan dengan cowok, meski pada waktu itu saya masih punya cewek. Menginjak bangku SMA, keberanian untuk masuk ke dalam komunitas gay secara besar-besaran baru muncul. Namun masyarakat dan orangtua saya belum tahu mengenai hal itu, karena saya masih harus menjaga imej. Apalagi, saat itu saya masih terlibat aktif dalam sie kerohanian di SMA....Baru tahun 2006 setelah lulus SMA, saya memberitahukan kepada orang tua akan orientasi seksual saya. Awalnya orang tua saat diberitahukan shock dan tidak setuju, selama beberapa hari keluarga cuma diam dan saya merasa asing berada di rumah. Namun, setelah itu kelurga berjalan normal kembali dan tidak mempermasalahkan orientasi seksual saya, mereka cuma mengingatkan saya selalu menjaga kesehatan. Dan di awal perkuliahan, saya memberanikan diri untuk terbuka untuk berani tampil dan menyatakan kepada masyarakat bahwa saya gay pada

Januari 2007. “

b. Wawancara dengan A (40) pada 16 April 2014:

“Klo itu sih dari dulu dari kecil, kan cuma dari dulu anak-anak belum menyadari kita itu seperti ini. Sampai istilahnya gini, sampai banyak teman-teman sudah punya keluarga tidak menyadari bisa sampai begini....Kemungkinan keluarga tahu, slama kita tertutup tidak terlalu open keluarga akan diam saja. Yang tahu saya begini (gay) cuma almarhum kakak saya....Sebelum ada komunitas pun saya sudah bertemu atau ngumpul-ngumpul dengan teman-teman sesama (gay), aku dimasukkan ke lembaga dengan mengurusi LSL itu dari komunitas. Orang kerja di komunitas itu lebih gampang masuk. Gampangnya gini, kita bukan bagian dari komunitas kita akan

langsung di justice dari komunitas: ‘kamu cuma mau cari ini, kamu cuma...ya kayak gitu?’...Intinya mereka (teman-teman

66

gay) lebih eksklusif (tertutup-tutup), soale memang aku sendiri pun dari komunitas mengalami hal seperti itu apalagi dari orang luar maksudnya seperti itu...sebenarnya bukan takut mas, piye yo? yo sisi lain mereka takut, di sisi lain mereka belum berani mengungkapkan jati diri mereka.”

c. Wawancara dengan D (31) pada tanggal 21 April 2014:

“Emmm, kayaknya sejak kecil deh. Heran aja waktu SD, gw kalau lihat cowok ganteng suka aja. Ya...namanya aja masih kecil belum tahu apa itu suka atau cinta sama seseorang apalagi yang di sukai tuh cowok. Menurut gw, mungkin yaaa gw menjadi gay

yaa itu sebuah takdir kali, takdir atau bukan gw ga’ peduli yang

penting gw dah nyaman jadi begini (gay)....Ya gw masih kalenganlah (tertutup) mas sama orang lain masih takut, kemungkinan orang tua gw dah tahu, soalnya gw kerjanya di salon. Kalau pagi gw nyalon malamnya kalau ada panggilan gw jadi kucing (gigolo) deh...komunitas bagi gw kayak hidup mati gw, soalnya enjoy aja kalau kumpul ama teman-teman sesama (gay) dan lebih terbuka aja sama teman-teman.”

d. Wawancara dengan S (25) pada tanggal 25 Februari 2015:

“Aku menyadari/merasa (gay) ketika awal SMA. Sejauh ini aku PD karena aku tidak membuat ulah dan tidak merugikan orang, serta aku tidak ada keinginan untuk heteroseks....Menjalani hidup sebagai gay terhadap keluarga saya lebih cenderung tertutup/pendiam, bersikap sewajarnya. Kepada teman pun saya bersikap sewajarnya (jika dengan teman yang belum akrab), tapi jika dengan yang sudah akrab lebih terbuka, bebas bercerita tanpa ada harus ditutup-tutupi. Jika dengan masyarakat hampir sama jawaban saya terhadap keluarga....Adanya komunitas gay

di Salatiga saya tidak tahu dan tidak ingin tahu.”

Dari keempat subyek diketahui bahwa ketiga subyek (T, A, dan D) mengetahui akan orientasi seksual (homoseks) mereka ketika mereka masih kecil sedangkan subyek S mengetahui orientasi seksualnya pada saat ia duduk di SMA dan juga keempat subyek mulai menerima orientasi seksual (homoseks) pada saat itu juga. Pada tahapan keterbukaan dengan orang lain hanya subyek T yang berani mengungkapkan/terbuka akan

67

orientasi seksualnya pada orang lain/masyarakat umum bahkan ia sudah memberitahukan juga kepada keluarganya. Sedangkan ketiga subyek lainnya belum berani untuk terbuka dengan orang lain bahkan dengan keluarganya hanya orang-orang terdekatnya/sesama komunitas saja yang diberitahukan. Dalam bahasa khas gay, seorang gay yang tertutup disebut

“gay kalengan” sedangkan gay yang terbuka disebut “gay bobor”.

Keempat subyek sudah merasa nyaman dan menerima akan orientasi seksual mereka sampai saat ini. Dari keempat subyek hanya subyek S yang tidak masuk dalam komunitas karena tidak mengetahui dan tidak ingin tahu akan komunitas gay tersebut.

Dokumen terkait