IMBAS PERTIKAIAN ELITE POLITIK
C. Karakteristik Konflik 1. Sumber dan Penyebab
2. Proses, Dampak Konflik, dan Subyek Berkonflik
Secara umum peristiwa Mei 2001 dipahami orang sebagai peristiwa yang bernuansa politik dan jika dilihat pada hubungan umat beragama lebih bersifat konflik internal umat Islam, NU vis-à-vis Muhammadiyah. Walaupun demikian karena dalam peristiwa tersebut juga terjadi pembakaran gereja, kita harus memikirkan juga bahwa hal itu terkait dengan konflik antarumat beragama. Pandangan logis untuk itu sudah diurai dalam bagian sebelumnya, terutama dengan melihat potensi prakonflik dilihat dari beberapa data pendukung.
Untuk itu lebih mamahami bagaimana konflik itu terjadi dapat digambarkan sebagai berikut, khususnya yang berkaitan dengan sisi lain peristiwa Mei 2001.
1) Sejak awal Mei 2001 masyarakat Kota Pasuruan dan sekitarnya telah dilanda demam konflik. Mereka sudah terpolarisasi ke dalam dua kutub utama yaitu pendukung Gus Dur, Presiden ketika itu, dan kelompok yang dianggap sebagai pendukung lawan-lawan politik Gus Dur akibat upaya pelengserannya dari kursi kepresidenan. Mereka ini adalah pendukung Amien Rais yang kemudian direpresentasikan kepada orang/lembaga Muhammadiyah, PAN dan simpatisannya, juga orang PDI-P dan Golkar. Memasuki tanggal 25 Mei polarisasi itu semakin mengkristal yang ditandai dengan gerakan pemasangan spanduk dan massa. Gerakan massa mencapai puncak emosionalnya pada tanggal 29 Mei, karena saat itu mereka mulai merusak berbagai fasilitas dan asset yang dimiliki Muhammadiyah, PDI-P, dan Golkar.
Di kalangan orang-orang Kristen sudah mendengar akan terjadinya kerusuhan massal, namun mereka tidak menyangka akan menimpa juga gereja-geraja yang mereka miliki. Waktu perusakan dan pembakaran gereja hampir bersamaan dengan perusakan fasilitas milik Muhammadiyah dan lainnya yaitu sekitar pukul 10.00 pagi. Bedanya fasilitas Muhammadiyah dan yang lain hanya dirusak, sedangkan gereja lebih parah lagi yaitu dirusak dan dibakar (GPIB), dan dirusak saja seperti pada Gereja Antonius.
Di GPIB pada jam-jam di hari tersebut ‘kebetulan’ tidak ada orang, pendeta masih di Surabaya, dan para kaster tidak masuk kerja. Mungkin sekali mencegah keamanan diri, sebab ketika itu banyak juga fasilitas umum yang terpaksa tutup seperti toko Cina, apotik, dan poliklinik. Juga belajar dari pengalaman sebelumnya. Setiap ada kerumunan dan kerusuhan massal, gereja sering dijadikan sasaran perusakan. Misalnya yang menimpa Gereja Antonius
ketika kampanye PPP pada Pemilu 1992, juga sebuah gereja di Bangil pada saat kampanye PPP tahun 1997, selain juga toko-toko Cina dan beberapa bank tidak luput dari sasaran amuk massa (Suara Independen, 7/III, Mei 1997). Fakta ini menunjukkan bahwa ketika terjadi kerusuhan massal sering memfokuskan targetnya pada simbol keagamaan dan kemapanan ekonomi. Ini merupakan indikasi adanya potensi konflik yang berlatar belakang SARA, khususnya dari segi agama dan suku.
2) Puluhan pemuda berhasil masuk ke dalam GPIB, peninggalan Belanda yang megah dan besar ini serta berdiri November 1829, dengan melompat pagar dan sebagian menaiki tangga. Mereka kemudian masuk gereja melalui jendela, menumpuk kursi dan membakarnya. Pembakaran ini berlangsung sampai pukul 14.00, sehingga meludeskan kayu jati besar, besi dan atap gereja, juga puluhan buku yang berusia ratusan tahun dan sangat bernilai bagi gereja. Pamadam kebakaran yang mau mendekat gereja ditahan oleh massa, sekitar pukul 14.00 massa membubarkan diri dan jamaah gereja yang sebelumnya berbaur dengan massa dan penonton mulai berani memasukinya untuk melihat keadaan.
Yang menarik adalah di tengah pembakaran tersebut ada pekikan kalimah suci ‘Allahu Akbar’ bercampur dengan teriakan yang mengindikasikan kebencian terhadap yang berbau Kristen. Misalnya ada pernyataan dalam logat Jawa-timuran, ‘saiki gerejane sing diobong sesok wonge.’ Bahkan ketika Gus Dur dan petinggi NU datang ke gereja tersebut untuk persuasi dan memberi bantuan beberapa hari setelah peristiwa, massa yang ada di luar gereja meneriaki Gus Dur agar cepat pergi dari sana, ‘wis Gus dang cepet metu soko kono.’
Pernyataan-pernyataan ini menunjukkan dua hal. Pertama, menunjukkan adanya sentimen keagamaan yang sangat kuat khususnya kepada Kristen. Kedua, memberikan bukti bahwa peristiwa itu bukan bersifat spontanitas massa akibat kejadian pokok atau kerena massa terdesak oleh aparat keamanan yang menyebabkan mereka masuk gereja.
Sementara di gereja Katolik, Antonius, terbatas pada perusakan kaca, selain beberapa peralatan dan usaha perampasan barang miliki pengurus gereja. Adanya dua gereja yang saling berdekatan (kurang lebih 30 meter) tapi memperoleh perlakuan berbeda oleh massa saat itu, menurut Pdt. L. karena GPIB merupakan gedung peninggalan Belanda dan terbesar di Pasuruan. Alasan seperti ini harus
dirunut ke belakang dalam kaitannya dengan hubungan orang keturunan Madura dengan Belanda. Menurut Hefner (1999: 13) dan Lombard (1996: 36-37) orang-orang Madura datang ke Pasuruan terjadi sejak tahun 1730 karena Belanda membutuhkan pekerja untuk membuka perkebunan. Mereka melintasi Selat Madura untuk bekerja sekaligus membawa budayanya. Pada akhirnya mereka selain sebagian besar mendiami di daerah pantai atau lor-rel sekarang, juga daerah atas. Dengan demikian hubungan Belanda dan orang-orang Madura di Pasuruan ketika itu adalah hubungan antarkelas sosial-ekonomi-politik, dan agama yang berbeda. Kesadaran identitas kelas dan agama ini nampaknya terus berlangsung dari generasi ke generasi melalui proses sosialisasi. Saat ini kemudian gedung GPIB dianggap bagian dari simbol kemapanan secara sosial-ekonomi dan agama yang masih tersisa.
3) Setelah kejadian tersebut pada pimpinan umat beragama Kristen, Protestan maupun Katolik, melakukan pertemuan dengan MUI, Departemen Agama, dan kiai. Tujuannnya saling tukar informasi dan mengevaluasi mengenai peristiwa tersebut. Baru beberapa hari kemudian, sebagaimana dikemukakan di atas, Gus Dur dan petinggi NU menemui pimpinan umat Kristen sebagai langkah persuasi dan memberi bantuan. Dalam hal ini pimpinan gereja Katolik menolak dengan alasan kerusakannya tidak terlalu parah dan menyarankan untuk diberikan kepada pimpinan GPIB.
4) Dalam peristiwa ini memang tidak ada korban jiwa, namun terbatas pada kerugian fisik yaitu terbakarnya dan rusaknya dua gereja. Walaupun demikian yang paling memprihatinkan adalah dampak secara psikologis dan sosial-keagamaan, sebab dengan peristiwa itu menjadi (lebih) memperlebar jarak sosial antara pihak Islam dan Kristen. Hal ini dirasakan oleh pihak Kristen sebagaimana dikemukakan Pdt. L. bahwa ia tidak melihat adanya toleransi pada tingkat bawah, dan tentu sangat mengganggu proses kerukunan antarumat beragama.
D. Upaya Pengendalian Potensi Konflik
Upaya-upaya pengendalian masih terbatas melalui pendekatan struktur yaitu upaya pengendalian yang dilakukan oleh pihak lembaga pemerintah dan aparat keamanan. Berbagai upaya tersebut adalah: (1) Sosialisasi dan institusionalisasi
tentang kerukunan umat bergaama, (2) Sosialisasi wawasan kebangsaan dan ketahanan nasional, dan (3) Antisipasi atau deteksi dini melalui kegiatan intelegen
Sosialisasi program pemerintah di bidang keagamaan, khususnya yang
berkaitan dengan hubungan intern dan antarumat beragama. Di Pasuruan ada beberapa kegiatan yang berkaitan dengan hal ini yaitu: (1) pembinaan dan pemanfaatan dai/mubaligh. (2) Pembinaan kader dan dialog dari kalangan agamawan muda intern dan antarumat beragama. (3) Kegiatan yang dilakukan Forum Komunikasi AntarUmat Beragama (FKAUB), dan Penyuluh Agama Honorer (PAH).
Upaya sosialisasi kerukunan antarumat beragama di antaranya dengan memanfaatkan da’i/mubaligh yang ada. Kegiatan ini tertuang dalam Surat Gubernur Jawa Timur No. 451/4107/032/2005 tanggal 22 Nopember 2005 tentang Pembinaaan Dai/Mubaligh se-Jawa Timur kepada bupati dan walikota. Kegiatan tersebut sekaligus sebagai upaya tindak lanjut dari Pembinaan da’i/mubaligh yang diselenggarakan Kanwil Depag Jatim tanggal 5-7 September 2005 di Pandaan Pasuruan. Pesertanya terdiri dari kalangan da’i muda dari organisasi sosial keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, ta’mir masjid, dan majelis taklim atau pengajian. Sayangnya dalam hal ini tidak ada tindak lanjut di lapangan. Hal ini menurut informan saya, HI, karena kurangnya perhatian dari pimpinan di Kota Pasuruan.
Sosialisasi permasalahan kerukunan umat beragama juga dilakukan melalui kegiatan dialog agamawan muda sekaligus upaya institusionalisasi alumni dialog tersebut. Kegiatan ini diprakarsai dan difasilitasi oleh Pemerintah Propinsi Jawa Timur. Pesertanya meliputi tokoh atau pemimpin agama, organisasi keagamaan, cendikiawan, mahasiswa, pelajar, guru agama, perempuan LSM agama, baik dari kalangan Islam, Kristen-Protestan, Katolik, Hindu dan Budha. Sasaran dari kegiatan ini adalah untuk membangun komunikasi dan interaksi antaragamawan muda dari berbagai agama, sekaligus mencairkan sikap ekslusifisme dan permusuhan, menumbuhkembangkan solidaritas dan persaudaraan antaragamawan muda lintas agama, sekaligus mencari bentuk kerja sama dalam rangka mterciptanya suasana kerukunan. Dilihat dari sasaran tersebut semestinya wadah ini sampai pada level bentuk aksi, namun hal itu tidak berjalan dengan baik, jika tidak dapat dikatakan gagal.
Upaya yang mengarah kepada pengendalian potensi konflik juga dilakukan dilakukan oleh Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKUAB). Pembentukan FKUAB ini di pasuruan didasarkan atas Surat Edaran Gubernur Jawa Timur Nomor 451/1178/031/2000 tanggal 10 Februari 2000 tentang Anjuran Pembentukan Forum Komunikasi Antar Umat Beragama di Daerah. Pimpinan dalam FKUAB Kota Pasuruan terdiri dari wakil dari wadah musyawarah umat beragama seperti MUI (KH. Fayumi) dan Kristen (Pendeta La) Sejak tahun 2006 ini secara nasional bernama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Perubahan ini berlaku sejak diberlakukannya Peraturan Bersama Menteri Agama dan Mendagri Nomor 9 Th 2006/Nomor 8 Tahun 2006, 21 Maret 2006 tentang ‘Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, dan Pendirian Tempat Ibadah.’
Di Kota Pasuruan FKUB berdasarkan PB Menag dan Mendagri tahun 2006 tersebut belum terbentuk. Dalam kaitan ini beberapa pihak mengakui bahwa forum ini pada masa lalu tidak berperan secara efentif dalam pengendalian potensi konflik. Forum ini lebih banyak dikenal sebagai wadah ketika penyelesaian konflik antarumat beragama, itupun sifatnya sangat sementara. Karena itu ada kritik membangun dari informan dari masyarakat seperti dikemukakan HI dan Mm:
Dalam mengisi FKUB tahun 2006 harus ada keberanian dari tokoh-tokoh lama untuk melakukan (hal-hal) yang berarti dibandingkan sebelumnya. Karena selama ini Forum ini hanya cenderung menunda konflik karena akar masalahnya tidak pernah tersentuh seperti upaya penanaman sikap toleransi, kemauan saling memahami lintas agama terutama dari kalangan muda, tidak ada kegiatan kongkrit di lapangan seperti kegiatan bersama mengurangi kemiskinan atau bencana, bukan hanya doa bersama dan berbicara dari forum ke forum. Selama ini usaha memerangi kemiskinan banyak dilakukan oleh orang Kristen yang kemudian melahirkan kecurigaan dari kalangan muslim…. Akibatnya Forum yang ada sangat bersifat elitis dan tidak menyentuh masyarakat kebanyakan.
Untuk ini memang perlu penerjamahan secara lebih rinci pada level praksis, sehingga forum ini memiliki peran dalam pengendalian potensi konflik. Lebih penting dari itu adalah bagaimana mengimplimentasikannya di lapangan dan mengefektifkan perannya serta menumbuhkembangkan representasi keanggotaan internal forum sesuai dengan perkembangan yang ada. Misalnya perlu pelibatan generasi muda.
Selain forum ini masih ada wadah yang ikut berperan melakukan sosialisasi yaitu Penyuluh Agama Honorer (PAH). Lembaga ini memiliki peran mediator dari kebijakan pemerintah kepada masyarakat. Hanya saja belum dioptimalkan dalam upaya pengendalian potensi konflik antarumat beragama. Padahal sebenarnya ia potensial untuk dijadikan sebagai struktur mediasi dalam alih nilai dan kebijakan kepada masyarakat, khususnya masyarakat Islam. Hal ini karena di dalamnya terdiri dari tokoh agama yang dapat dijadikan panutan masyarakat Islam. Di Pasuruan wadah ini ada sekitar 127 orang yang tersebar di 3 kecamatan yang ada
Sosialisasi wawasan kebangsaan dan ketahanan nasional dan hak-ahak azasi
manusia. Kegiatan ini dilakukan oleh Badan Keselamatan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Kota Pasuruan. Tujuan pokok dari kegiatan ini sama dengan yang ada lembaga yang sama di Indonesia seperti di tasikmalaya dan lainnya yaitu menanamkan nilai-nilai kebangsaaan, pluralitas dan berbagai isu nasional seperti tentang hak azasi manusia (HAM), demokratisasi, serta hal yang terkait dengan hubungan antarkelompok dalam masyarakat (SARA). Melalui kegiatan ini diharapkan kelompok-kelompok dan kader memahami dan mensosialisasikan kepada masyarakat tentang makna penting nilai-nilai kebangsaan, sehingga stabilitas dalam masyarakat dapat dipertahankan.
Secara lebih rinci kegiatan Wawasan Kebangsaan bertujuan untuk penanaman pemahaman tentang pentingnya persatuan, kesatuan, dan patriotisme, sehingga tercipta Pasuruan yang dinamis dan kondusif. Pesertanya pimpinan parpol, osmas dan LSM sebanyak 100 orang dan diadakan sekali dalam setahun. Kegiatan Ketahanan Nasional atau Bangsa melibatkan santri dari pondok pesantren yang ada Kota Pasuruan, setiap angkatan sebanyak 50 orang. Dalam pelaksanaannya bekerja sama dengan pihak Departemen Agama. Adapun kegiatan Peningkatan HAM dan demokratisasi pesertanya lintas agama yaitu dari ormas-ormas keagamaan, tokoh masyarakat, kiai dan ustad, pelajar SMA, dan pejabat eselon tiga. Kegiatan ini dilakukan setahun sekali dan setiap angkatan berkisar 75 orang.
Dari ketiga kegiatan tersebut seperti dikemukakan Pak Bb, tidak ada lanjut baik dalam bentuk dialog ide maupun kegiatan bersama. Pernah sekali aksi bersama yaitu memberikan sumbangan bencana ke Yogya.
Selain kegiatan rutin (ketiga kegiatan tersebut) yang memiliki dana dan karenanya kegiatannya dipertanggungjawabkan kepada DPRD, ada juga kegiatan
nonrutin seperti koordinasi dengan aparat keamanan dan memfasilitasi wakil pengunjuk rasa ke DPRD dan juga menyalurkan tuntutan pengunjuk rasa ke Presiden dan pihak lain seperti walikota. Kegiatan non rutin ini sebenarnya masuk dalam ketegori kegiatan penyelesaian konflik.
Deteksi dini kemungkinan terjadinya konflik suku, agama, ras, dan
antrgolongan (SARA). Kegiatan ini dilakukan Forum Komunikasi Koordinasi dan Informasi Daerah (Forkorinda)) yang diketuai oleh Sekda dan ketua hariannya dari kepala Kesbang, sedangkan anggotanya meliputi Kasi Kodim, Unit Intel Kodim, Kasi Intel Kejaksaan, Kasat Intelpam Polres, Kasi Intel Btigib AD dan AU, Kesbanglinmas, dan BIN daerah. Tugas pokok dari lembaga ini adalah memantau dan mengantisipasi berbagai isu dan benih-benih konflik SARA dalam masyarakat. Melalui kegiatannya akan diketahui akan terjadinya sebuah peristiwa yang berkaitan dengan hubungan antarkelompok, khususnya antarumat beragama.
E. Upaya Penyelesaian Konflik
Sebagaimana dijelaskan dalam laporan tahun pertama, di daerah ini terjadi banyak konflik kasus antarumat beragama yaitu antara umat Islam dan Kristiani. Satu di antaranya adalah konflik fokus yang terjadi sekitar pada 28-30 Mei 2001 ketika terjadi kerusuhan menjelang dilengserkannya Gur Dur dari kursi kepresidenan. Selain itu pasca 2001 tersebut masih ada konflik menjelang pendirian gereja di Rumah Tahanan (Rutan) Pasuruan pada Agustus 2005.
Dari berbagai konflik yang ada, upaya penyelesaian konflik sepenuhnya dilakukan oleh aparat dari lembaga pemerintah (pendekatan struktur), baik sebagai penengah (mediator) dan fasilitator maupun sebagai pemrakarsa dan pemimpin. Lembaga tersebut terutama adalah Kesbanglinmas dan Departemen Agama., termasuk kepolisian. Sementara dari pihak FKUAB dan pimpinan keagamaan dan unsur-unsur yang terlibat diundang oleh lembaga pemerintah, dan hal ini disesuaikan dengan peristiwanya. Misalnya dalam kasus konflik Mei 2001. Pada saat itu pimpinan umat beragama Kristen, Protestan maupun Katolik, melakukan pertemuan dengan MUI, Departemen Agama, dan kiai. Tujuannnya saling tukar informasi dan mengevaluasi mengenai peristiwa tersebut.
Dominasi aktor dari lembaga pemerintah dalam penyelesaian konflik sebagaimana dikemukakan oleh informan saya, Bb, dan Mm, setidaknya karena dua hal yaitu: (1) pemerintah sendiri tidak mau disaingi oleh tokoh-tokoh panutan lokal dari kalangan masyarakat, dan (2) masih lemahnya inisiatif dan motivasi dari tokoh masyarakat. Hal ini terkait dengan adanya persepsi yang kuat bahwa penyelesaian konflik sepenuhnya menjadi kewajiban pemerintah, dan karenanya mereka hanya menunggu, dan kadangkala hanya menjadi penungguan karena pemerintah sendiri kurang memberikan peluang kepada mereka. Apalagi jika diingat bahwa antaraktor lokal dari masyarakat sendiri (antar kiai) terkesan ada persaingan terutama mereka yang ikut berperan atau diperankan dalam politik. Sebab biasanya kiai yang berperan dalam bidang politik praktis kharismanya menjadi menurun dan tidak menjadi lintas-kelompok.
Mengenai kepuasan tidaknya dari pihak-pihak yang terlibat tidak ada ukuran yang disepakati bersama. Ukuran kepuasan terhadap hasil penyelesaian bersifat subyektif dan cenderung kelompok mayoritas yang diuntungkan. Sebenarnya jika terjadi ketidakpuasan, setiap kelompok dapat mengajukan ke pengadilan, namun selama ini belum pernah terjadi atau proses hukum dari pihak yang yang tidak puas. Sebagaimana dikemukakan oleh Pdt. Lt, pihak Kristiani biasanya mengikuti apapun keputusan yang diambil dalam musyawarah atau pertemuan karena erasa pihaknya sebagai minoritas, tujuannya agar tidak terjadi permasalahan baru.
Aspek hukum memang belum menjadi opasi penyelesaian konflik yang ada di Kota Pasuruan. Dalam kaitan ini memang ada dua pandangan yang saling bertolak belakang seperti dikemukakan oleh informan saya, Bb, dan HI:
Hukum tidak perlu dulu dalam menyelesaikan konflik, yang penting justru penyelesaian di luar pengadilan untuk menghindari balas dendam dan pro-kontra antarpihak yang terlibat. Penyelesaian secara kekeluargaan dengan surat pernyataan yang diketahui Muspida lebih efektif, lalu disosialsiasikan kepada anggota yang terlibat. Lalu memantau realisasi dari surat pernyataan tadi...
Mengenai bidang hukum dalam penyelesaian konflik antarumat beragama tidak pernah terjadi karena khawatir menimbulkan masalah baru dan kerawanan baru...Sebenarnya supaya jera hukum harus ditegakkan karena dengan tanpa hukuman menjadi tidak mendidik anggota masyarakat.
Persoalan penegakan hukum ini nampakanya dilematis, di satu sisi sangat penting ditegakkan untuk memberikan efek jera bagi anggota masyarakat, terutama
untuk tidak melakukan kerusuhan ketika berkonflik dengan pihak lain. Di sisi lain dikhawatirkan menimbulkan rentetan persoalan lanjutan dari kelompok yang anggotanya kena hukuman, terutama jika kelompok itu termasuk mayoritas dalam masyarakat.
F. Profil Budaya
1. Umum
Pasuruan dikenal dengan jalur atau daerah tapal kuda yang membentang sampai Banyuangi. Karena itu daerah-daerah yang masuk Kota Pasuruan disebut dengan daerah pedhalungan yaitu suatu daerah yang secara kultural terjadi titik temu atau akulturasi antara budaya Madura dan Jawa, terutama di bagian pantai Pasuruan. Daerah ini didominasi oleh suku Madura, hal ini nampak dari logat bahasa Jawa masyarakat, selain bahasa Madura sendiri, yang umumnya khas Madura sebagai bahasa komunikasi harian.
Meskipun tidak ada data resmi secara pasti, namun seorang informan di bagian P & K, Muh (42 tahun), memperkirakan jumlah keturunan orang madura mencapai 50-60% dari penduduk Pasuruan. Orang Madura datang ke Pasuruan sekitar tahun 1730 karena Pemerintah kolonial Belanda membutuhkan tenaga pekerja untuk membuka perkebunan di wilayah Pasuruan. Sebagaimana juga dikemukakan Hefner (1999:13) sampai akhir abad ke-19 separuh penduduk Pasuruan terdiri dari orang Madura. Para migran Madura tersebut kemudian membawa serta bahasa dan tradisi mereka dan mempengaruhi budaya masyarakat setempat.
Ciri khas lain dari budaya pedhalungan adalah masyarakat Islamnya dikenal sebagai kelompok santri-tradisional dan pengaruh kiai sangat kuat, memiliki temperamen keras serta mudah tersinggung, terutama masyarakat di lor-rel sepanjang pantai. Ketundukan kepada kiai merupakan sebuah keharusan tanpa pamrih, sebuah budaya yang bersumber dari nilai-nilai agama. Hubungan kiai-santri atau pengikut menunjukkan adanya hubungan patron dan klien, di mana dominasi kiai menjadi sangat besar. Bahkan walaupun seorang muslim yang termasuk kategori abangan dalam arti tidak melaksanakan ajaran Islam secara utuh, namun jika orang mengejek kiai atau agama Islam termasuk simbol-simbol Islam mereka akan tersinggung. Kiai dianggap memiliki karomah dan kesaktian.
Dalam konteks hubungan kiai-santri-pengikut ini seorang budayawan Pasuruan, KK (45 tahun), mengemukakan secara skeptis dan kritis:
Pada masa-masa yang akan datang tokoh agama, kiai itu harus dikendalikan pengikut, bukan kiai yang mengendalikan pengikutnya. Kiai harus mengikuti kemauan pengikut. Hal ini dapat dicapai kalau ada kesetaraan antara tokoh dengan pengikut, terutama dari segi pendidikan dan ideologi. Melalui peningkatan pendidikan maka pengikut akan mempunyai wawasan yang luas sehingga mereka kritis terhadap yang dilakukan kiai terutama dalam persoalan politik. Sekarang ini banyak kiai yang bermain di bidang politik mulai menghadapi resistensi dari masyarakat, sehingga mereka tidak menjadi panutan untuk semua masyarakat dan tidak bisa jadi penengah karena tidak netral lagi. Hal ini terlihat ketika dalam Pilkada yang baru lalu.
Sebenarnya budaya masyarakat Pasuruan bukan hanya terdiri dari budaya santri-Islam, tapi juga budaya priyayi-Mataraman, dan Cina. Informan saya, KK (45 tahun) mengemukakan secara panjang lebar tentang hal ini:
...Secara sederhana budaya yang berkembang di Pasuruan saat ini ada tiga subbudaya yaitu budaya santri, Mataraman, dan Cina...Budaya santri adalah budaya yang dimiliki orang Islam yang taat menjalankan syariat dan memiliki tata cara kelakuan yang didasarkan atas ajaran agama. Mereka ini sekarang adalah orang Jawa dan Madura atau keturunan Jawa-Madura, sedangkan pada masa lalu terdiri dari orang Jawa yang berpenduduk asli.
Setelah jatuhnya Pasuruan ke tangan kekuasaan Mataram pada tahun 1617, maka budaya Mataram mulai mempangaruhi masyarakat Pasuruan. Budaya Mataram atau disebut budaya Jawa mengandung ajaran tentang pendidikan budi pekerti, dasar perilaku dalam pergaulan dan konsep manunggaling kawula gusti, dan pendidikan dasar anak.
Budaya Cina yang ada di pasuruan sudah banyak mengalami perubahan akibat proses akulturasi budaya karena pengaruh budaya Belanda dan Jawa. Dalam tataran manifes