• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Keperawatan Pada Klien Dengan Schizophrenia

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 42-67)

KLIEN SCHIZOPHRENIA DI KERSAMANAH GARUT

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.4 Proses Keperawatan Pada Klien Dengan Schizophrenia

Unsur dalam proses keperawatan adalah pengkajian, penetapan diagnosis keperawatan, intervensi, dan evaluasi (Nursalam, 2008). Berikut ini adalah Model Stress Adaptasi Stuart, yang merupakan salah satu model yang dapat dikembangkan dalam pendekatan proses keperawatan jiwa. Model ini mengintegrasikan aspek biologis, psikologis dan sosial budaya dalam pelayanan kepada klien. Tahapan yang terjadi sehingga muncul diagnosa keperawatan pada klien dapat dilihat pada skema 2.1.

Skema 2.1

Model Stress Adaptasi Stuart

Sumber: Stuart (2009)

2.1.4.1 Pengkajian

Pengkajian klien schizophrenia dimulai dari mengkaji faktor predisposisi. Selanjutnya dikaji faktor presipitasi, faktor presipitasi, penilaian stressor, sumber koping dan mekanisme koping (Stuart, 2009).

1. Faktor Predisposisi

Faktor predisposisi menurut Model Stress Adaptasi Stuart terdiri dari tiga faktor, yaitu biologis, psikologis dan sosial budaya. Pendapat lain menyatakan bahwa schizophrenia

dapat merupakan hasil dari kombinasi beberapa penyebab diantaranya faktor biologis, faktor psikologis, dan faktor lingkungan (Townsend, 2009).

a. Faktor Biologis

Faktor biologis terdiri dari latar belakang genetik, status nutrisi, sensitivitas biologi, kondisi kesehatan umum, dan paparan terhadap zat racun.

1) Genetik

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa saudara dari individu dengan schizophrenia memiliki kecenderungan lebih besar untuk terkena penyakit ini dibandingkan populasi secara umum. Risiko umum untuk terkena schizophrenia adalah 1 persen di antara populasi penelitian, sedangkan saudara kandung atau keturunan dari klien yang teridentifikasi

schizophrenia memiliki risiko 5 sampai 10 persen

terkena schizophrenia (Andreasen & Black, 2006 dalam Townsend, 2009). Pada penelitian ini faktor genetik akan diukur sebagai variabel perancu karena faktor genetik (herediter) menjadi faktor yang menyebabkan tingginya risiko seseorang menderita

schizophrenia.

Kejadian schizophrenia pada kembar monozigot memiliki rasio 4 sampai 5 kali risiko dibandingkan kembar dizigot dan sekitar 50 kali dibanding populasi umum (Sadock & Sadock, 2007 dalam Townsend, 2009). Karena setengah kasus menunjukkan bahwa hanya salah satu dari pasangan monozigot yang terkena schizophrenia, maka beberapa peneliti

menyimpulkan bahwa ada faktor lingkungan yang berinteraksi dengan faktor genetik (Townsend, 2009). Hal ini menunjukkan bahwa schizophrenia terjadi tidak hanya karena faktor biologis saja, tetapi ada interaksi dengan faktor lain.

2) Sensitivitas biologi

Hipotesis dopamin menyatakan bahwa schizophrenia (atau gejala mirip schizophrenia) dapat disebabkan oleh aktivitas berlebih dari syaraf yang tergantung

dopamine pada otak. Beberapa neurotransmitter telah

diimplikasikan sebagai penyebab schizophrenia. Yaitu dopamine, norepinephrine, serotonin, glutamate, dan GABA. Sistem dopaminergik adalah

yang paling banyak dipelajari dan yang paling dekat berkaitan dengan gejala penyakit (Townsend, 2009). Teori ini menunjukkan bahwa ketidakseimbangan neurotransmitter sangat berperan dalam munculnya tanda dan gejala schizophrenia.

3) Kondisi kesehatan umum

Sadock dan Sadock (2007 dalam Townsend, 2009) melaporkan bahwa data epidemiologis menunjukkan insiden schizophrenia yang tinggi setelah paparan influenza pada masa prenatal.

Ketidaknormalan anatomis juga dapat berkaitan dengan schizophrenia. Dengan penggunaan teknologi

neuroimaging, ditemukan ketidaknormalan struktur

otak pada klien dengan schizophrenia. Adanya pelebaran ventrikel otak adalah temuan yang paling konsisten; namun peluasan sulci dan atropi cerebellar

juga ditemukan. Pemeriksaan juga menunjukkan penurunan ukuran lobus frontal, tetapi hal ini tidak selalu ditemukan. MRI telah digunakan untuk mengeksplorasi abnormalitas pada area-area yang spesifik seperti amygdala, hippocampus, lobus temporal dan ganglia basalis pada otak seorang dengan schizophrenia.

Pada klien schizophrenia diduga terjadi ‘salah susun’ pada sel piramida di hippocampus (Jonsson, Luts, Guldberg-Kjaer, & Brun, 1997 dalam Townsend, 2009). Teori ini menunjukkan bahwa schizophrenia dapat terjadi pada seseorang yang memiliki abnormalitas struktur otak.

4) Kondisi fisik. Beberapa penelitian melaporkan adanya keterkaitan antara schizophrenia dengan epilepsi (khususnya pada lobus temporalis), penyakit Huntington, trauma kelahiran, trauma kepala pada masa dewasa, penyalahgunaan alcohol, tumor otak (khususnya pada sistim limbik), masalah cerebrovascular, systemic lupus

eritematosus, myxedema, parkinsonism, dan penyakit

Wilson (Townsend, 2009). Pernyataan ini menunjukkan korelasi antara kondisi fisik dengan kondisi psikologis. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan (Nasrallah et al, 2005 dalam Stuart, 2009) bahwa seseorang dengan

schizophrenia memiliki morbiditas dan mortalitas lebih

tinggi karena penyakit medis.

b. Faktor Psikologis

Faktor psikologis terdiri dari kecerdasan, keterampilan verbal, moral, kepribadian, pengalaman masa lalu, konsep

diri, motivasi, pertahanan psikologis dan locus of control atau perasaan seseorang mampu mengontrol nasibnya sendiri.

Sadock dan Sadock (2007 dalam Townsend, 2009) menyatakan bahwa petugas kesehatan harus memikirkan kedua faktor, biologis dan psikososial, yang mempengaruhi schizophrenia. Penyakit ini mempengaruhi seseorang secara individual tetapi dampak secara psikologis akan unik pada setiap orang. Seperti dinyatakan pada sub pokok bahasan sebelumnya bahwa

schizophrenia terjadi tidak karena satu faktor saja

melainkan karena adanya interaksi antara berbagai faktor. Faktor psikologis juga merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan dan perlu diberikan penanganan selain untuk mengatasi aspek biologis dari schizophrenia.

c. Faktor Sosial Budaya

Faktor sosial budaya terdiri dari usia, jenis kelamin, pendidikan, penghasilan, pekerjaan, posisi sosial, latar belakang budaya, keyakinan, afiliasi politik, pengalaman sosialisasi, dan tingkat integrasi sosial (Townsend, 2009).

Schizophrenia banyak terjadi pada individu dari golongan

sosial konomi rendah (Ho, Black & Andreasen, 2003 dalam Townsend, 2009). Hidup dalam kemiskinan, seperti tinggal di tempat yang padat, nutrisi yang tidak mencukupi, tidak adanya perawatan prenatal, kurangnya sumber-sumber dalam menghadapi stress, dan merasa tidak berdaya untuk merubah kondisi miskin seseorang menjadi faktor ekonomi yang dapat menjadi predisposisi

Pandangan alternatif adalah hipotesa downward drift, yang menyatakan bahwa, karena karakter penyakit ini, individu dengan schizophrenia memiliki kesulitan untuk mempertahankan pekerjaan dan beralih pada tingkat sosial ekonomi yang lebih rendah (atau gagal untuk meningkat dari kelompok sosial ekonomi yang rendah). Pandangan ini mempertimbangkan bahwa kondisi sosial ekonomi yang sulit merupakan konsekuensi dari

schizophrenia, bukan sebagai penyebab (Townsend,

2009).

2. Faktor Presipitasi

Faktor presipitasi dalam Model Stress Adaptasi Stuart dapat berasal dari faktor biologis, psikologis, dan sosial budaya. Stressor pencetus dapat berasal dari internal klien atau lingkungan di luar klien. Selain menggambarkan sumber stressor, perlu diketahui pula waktu dan berapa kali stressor terjadi (Stuart, 2009).

Tidak ada bukti yang ilmiah yang membuktikan bahwa stress menyebabkan schizophrenia. Tetapi sangat memungkinkan bahwa stress berkontribusi terhadap keparahan penyakit ini. Diketahui bahwa stress yang ekstrim dapat mencetuskan fase psikotik. Stress dapat menjadi pencetus penyakit pada individu yang memiliki kecenderungan genetis terhadap

schizophrenia (Townsend, 2009).

3. Penilaian stressor

Merupakan pandangan klien mengenai stressor.

Schizophrenia dapat berkembang karena adanya hubungan

batas stress seseorang (Stuart, 2009). Walaupun tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa stress adalah penyebab dari schizophrenia, namun diyakini bahwa stress dapat memperburuk schizophrenia (Jones & Fernyhough, 2007 dalam Stuart, 2009).

4. Sumber Koping

Schizophrenia membutuhkan penyesuaian pada klien dan keluarga. Penyesuaian yang diperlukan setelah seseorang mengalami masalah psikosis adalah: (1) gangguan kognisi, (2) mencapai pemahaman, (3) keseimbangan semua aspek kehidupan, dan (4) meraih pencapaian kerja dan pendidikan (Stuart, 2009).

5. Mekanisme Koping

Pada fase aktif psikosis, pasien menggunakan mekanisme pertahanan yang tidak disadari untuk melindungi diri dari pengalaman yang tidak menyenangkan yang disebabkan oleh penyakitnya. Berbagai mekanisme koping digunakan oleh klien schizophrenia. Mekanisme koping dapat dijelaskan berkaitan dengan schizophrenia. Regresi terjadi karena masalah pemrosesan informasi dan pengeluaran banyak energi untuk mengatasi ansietas. Proyeksi digunakan sebagai usaha untuk menjelaskan kebingungan persepsi dengan mengalihkan masalah pada sesuatu atau seseorang. Menarik diri terjadi karena kesulitan menjalin kepercayaan dan karena terlalu asik dengan dunianya sendiri. Keluarga seringkali menyangkal diagnosa schizophrenia pada anggota keluarganya. Mekanisme koping yang perlu dikaji pada klien dengan schizophrenia adalah strategi koping kognitif, emosional, interpersonal, fisiologis, dan spiritual (Stuart, 2009).

2.1.4.2 Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada klien dengan schizophrenia adalah diagnosa gangguan yang terdiri dari 11 diagnosa keperawatan yaitu gangguan sensori persepsi, gangguan proses pikir, harga diri rendah, risiko perilaku kekerasan, isolasi sosial, defisit perawatan diri, risiko perilaku kekerasan, regiment terapeutik inefektif, regimen keluarga inefektif, berduka disfungsional dan kerusakan komunikasi verbal. Berikut ini akan dipaparkan mengenai data subjektif dan data objektif yang menunjukkan 7 diagnosa gangguan utama.

Tabel 2.1

Diagnosa Keperawatan Pada Klien Schizophrenia

No Data Subjektif Data Objektif Diagnosa Keperawatan 1 Mendengar suara-suara atau

kegaduhan

Mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap Mendengar suara menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya

Bicara atau tertawa sendiri tanpa lawan bicara Marah-marah tanpa sebab Mencodongkan telinga ke arah tertentu Menutup telinga Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi dengar/suara

Melihat bayangan, sinar, bentuk geometris, bentuk kartun, melihat hantu atau monster

Menunjuk-nunjuk ke arah tertentu

Ketakutan pada objek yang tidak jelas

Gangguan Sensori Persepsi:

Halusinasi Penglihatan Membaui bau-bauan seperti

bau darah, urine, feses, kadang-kadang bau itu menyenangkan

Menghidu seperti sedang membaui bau-bauan tertentu Menutup hidung

Gangguan Sensori Persepsi: Halusinasi Penghidu Merasakan rasa seperti

darah, urine, atau feses Sering meludah Muntah Gangguan Sensori Persepsi: Halusinasi pengecapan Mengatakan ada serangga di

permukaan kulit Merasa seperti tersengat listrik

Menggaruk-garuk

permukaan kulit Gangguan Sensori Persepsi: Halusinasi Perabaan 2 Memiliki isi pikir yang

berulang-ulang diungkapkan dan menetap

Takut terhadap objek atau situasi tertentu atau cemas berlebihan tentang tubuh atau kesehatannya Merasa benda-benda di sekitarnya aneh dan tidak nyata

- Gangguan proses

Merasa berada di luar tubuhnya

Merasa diawasi atau dibicarakan oleh orang lain Berpikir bahwa pikiran atau tindakannya dikontrol orang lain

Mengatakan memiliki kekuatan fisik atau kekuatan lain atau yakin bahwa orang lain dapat membaca pikirannya

3 Mengkritik diri sendiri Perasaan tidak mampu Pandangan hidup yang pesimis Penolakan terhadap kemampuan diri Penurunan produktivitas Kurang memperhatikan perawatan diri

Berpakaian tidak rapi Selera makan kurang Tidak berani menatap lawan bicara

Lebih banyak menunduk Bicara lambat

Nada suara lemah

Harga Diri Rendah

4 Menceritakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang lain

Merasa tidak aman berada dengan orang lain

Mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang lain

Merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu Tidak mampu

berkonsentrasi dan membuat keputusan

Merasa tidak berguna Tidak yakin dapat melangsungkan

Tidak memiliki teman dekat Menarik diri

Tidak komunikatif

Tindakan berulang dan tidak bermakna

Asyik dengan pikirannya sendiri

Tidak ada kontak mata Tampak sedih, afek tumpul

Isolasi Sosial

5 Isi pembicaraan mengancam Muka merah dan tegang Pandangan tajam Mengatupkan rahang dengan kuat Mengepalkan tangan Jalan mondar-mandir Bicara kasar

Suara tinggi, menjerit atau berteriak

Mengancam secara verbal atau fisik

Melempar atau memukul benda/orang lain

Merusak barang atau benda Tidak mempunyai kemampuan untuk mencegah/mengontrol perilaku kekerasan Risiko Perilaku Kekerasan

6 - Gangguan kebersihan diri: rambut kotor, gigi kotor, kulit berdaki dan bau, kuku panjang dan kotor

Tidakmampu

berhias/berdandan: rambut acak-acakan, pakaian kotor dan tidak rapi, pakaian tidak sesuai, tidak bercukur (klien pria), tidak berdandan (klien wanita)

Tidak mampu makan mandiri: makan berceceran, makan tidak pada tempatnya Tidak mampu

defekasi/berkemih mandiri: defekasi/berkemih tidak pada tempatnya, tidak membersihkan diri dengan baik setelah

defekasi/berkemih

Defisit Perawatan Diri

7 Memberikan isyarat secara tidak langsung, misal mengatakan “tolong jaga anak-anak saya karena saya akan pergi jauh’

Mengancam akan bunuh diri

Memiliki rencana bunuh diri dengan menunjukkan persiapan alat untuk melaksanakan rencana tersebut

Mencederai diri sendiri

Risiko Bunuh Diri

Sumber : (Keliat, dkk., 2011)

2.1.4.3 Intervensi Keperawatan

Intervensi keperawatan jiwa dikelompokkan dalam intervensi generalis dan intervensi spesialis. Intervensi generalis menggunakan standar yang telah disepakati di Indonesia yaitu SAK (Standar Asuhan Keperawatan) Jiwa. SAK jiwa ini berisi panduan Strategi Pelaksanaan (SP) untuk melakukan komunikasi terapeutik pada klien dan pada keluarga. Intervensi spesialis keperawatan jiwa dapat berupa psikoterapi yang saat ini telah dikembangkan dengan sasaran individu, keluarga, dan kelompok.

1. Intervensi Keperawatan Generalis

Intervensi keperawatan generalis dilakukan dengan menggunakan panduan SAK (Standar Asuhan Keperawatan) Jiwa. SAK berisi panduan untuk melakukan komunikasi

terapeutik kepada klien dan keluarga. SAK untuk pasien maupun untuk keluarga berisi SP 1 sampai SP 5 s.d 12. Masing-masing SP adalah panduan untuk melakukan satu kali komunikasi terapeutik kepada klien ataupun keluarga. SP dapat dilakukan berulang-ulang jika kriteria keberhasilan yang diharapkan belum tercapai.

Pada setiap SP klien diarahkan untuk mengenali masalahnya dan dilatih untuk mengatasi masalahnya secara mandiri. Misalnya untuk klien dengan isolasi sosial, pada pertemuan pertama (SP 1), klien bersama-sama dengan perawat mengenali penyebab isolasi sosialnya terjadi, kemudian klien diajak untuk menyadari pentingnya bersosialisasi, dan klien dilatih untuk berkenalan dengan anggota keluarganya. Pada SP berikutnya klien dilatih untuk bersosialisasi secara bertahap sampai klien dapat melakukannya secara mandiri.

SP keluarga diberikan agar keluarga memahami masalah yang dialami klien, keluarga mengetahui cara merawat klien, sampai keluarga mampu merawat klien secara mandiri di rumah. Panduan lengkap SAK untuk intervensi kepada klien dan keluarga dapat dilihat pada lampiran.

2. Intervensi Keperawatan Spesialis

Intervensi keperawatan spesialis juga dapat diberikan kepada klien dan keluarga. Intervensi keperawatan spesialis telah banyak dikembangkan baik untuk individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Terapi spesialis untuk individu diantaranya adalah cognitive therapy, behavioral therapy,

cognitive-behavioral therapy, social skill training, thought stopping, progressive relaxation dan assertiveness training.

terus dikembangkan untuk memberikan intervensi kepada individu dengan schizophrenia.

Intervensi keperawatan spesialis untuk keluarga yang telah dikembangkan antara lain adalah family psychoeducation dan

triangle therapy. Pada penelitian ini, akan dilakukan family

psychoeducation kepada keluarga dengan klien

schizophrenia. Intervensi keperawatan spesialis jiwa yang

akan digunakan dalam penelitian ini adalah FPE.

Family Psychoeducation (FPE)

Beberapa pemberi layanan menangani schizophrenia sebagai penyakit yang tidak hanya mengenai individu saja, tetapi juga seluruh keluarga. Walaupun keluarga tampak memiliki koping yang baik, dapat dipastikan ada pengaruh pada status mental keluarga saat salah satu anggota keluarga mengalami

schizophrenia. Safier (1997, dalam Townsend, 2009)

menyatakan bahwa keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan schizophrenia akan mengalami pergolakan yang besar dalam dirinya. Hal ini menjadi dasar pentingnya keluarga mendapatkan terapi.

Intervensi kepada keluarga dimaksudkan untuk memperkuat sistem keluarga, mencegah atau menghambat kekambuhan, dan mempertahankan klien di masyarakatnya. Program psikoedukasi ini memperlakukan keluarga sebagai sumber, bukan sebagai stressor, dengan berfokus pada penyelesaian masalah yang konkrit, dan perilaku menolong yang spesifik untuk beradaptasi dengan stress. Dengan memberikan informasi pada keluarga tentang penyakit dan menyarankan tentang mekanisme koping yang efektif, program psikoedukasi mengurangi kecenderungan klien untuk kambuh

dan mengurangi pengaruh penyakit ini pada keluarga yang lain (Townsend, 2009).

Intervensi psikoedukasi yang sudah cukup terkenal dikembangkan oleh National Alliance on Mental Illness (NAMI). Dalam program dari keluarga ke keluarga, keluarga saling mengajari satu sama lain mengenai penyakit ini, metoda koping yang digunakan, dan sumber-sumber dukungan yang ada.

Psikoedukasi untuk keluarga termasuk dengan individu yang mengalami gangguan, seperti schizophrenia, depresi mayor, dan gangguan bipolar, biasanya dikombinasikan dengan terapi farmaka (Nathan and Gorman, 2007 dalam Stuart, 2009). Psikoedukasi ini terbukti memperbaiki gejala umum dan mengurangi penolakan serta beban keluarga (Stuart, 2009).

Terapi keluarga biasanya terdiri dari program utama untuk memberikan edukasi kepada keluarga tentang schizophrenia, dan program yang lebih luas dengan keluarga dibentuk untuk mengurangi manifestasi konflik yang jelas dan untuk merubah pola komunikasi keluarga dan penyelesaian masalah. Respon terhadap terapi ini sangat dramatis. Ho, Black, dan Andreasen (2003 dalam Townsend, 2009) melaporkan pada beberapa penelitian bahwa hasil positif pada penanganan klien dengan schizophrenia ini dapat tercapai dengan mengikutsertakan keluarga dalam pelayanan.

Family Psychoeducation therapy adalah salah satu elemen

program perawatan kesehatan jiwa keluarga dengan cara pemberian informasi dan edukasi melalui komunikasi yang

terapeutik. Program psikoedukasi merupakan pendekatan yang bersifat edukasi dan pragmatik (Stuart, 2009).

FPE dilakukan dalam 5 sesi, yaitu : (1) sesi 1, pengkajian masalah keluarga, (2) sesi 2, edukasi kepada keluarga tentang cara merawat klien dengan gangguan jiwa, (3) sesi 3, manajemen stress keluarga, (4) sesi 4, manajemen beban keluarga, dan (5) sesi 5, pemberdayaan komunitas untuk membantu keluarga. Penjelasan lengkap mengenai FPE pada klien schizophrenia dapat dilihat pada modul FPE terlampir.

3. Pemberdayaan Kader dan Peran Pengawas Minum Obat (PMO)

Intervensi lain yang dapat diberikan di komunitas adalah dengan menerapkan model CMHN. Pada penelitian ini akan dilakukan pemberdayaan kader untuk menjalankan peran PMO kepada klien dengan schizophrenia di rumah.

Pemberdayaan masyarakat merupakan proses pengembangan potensi pengetahuan maupun keterampilan masyarakat agar mereka mampu mengontrol diri dan terlibat dalam pemenuhan kebutuhan mereka sendiri (Helvie, 1998 dalam Keliat, 2010). Kader Kesehatan Jiwa (KKJ) merupakan sumber daya masyarakat yang perlu dikembangkan di Desa Siaga Sehat Jiwa. Pemberdayaan kader kesehatan jiwa sebagai tenaga potensial yang ada di masyarakat diharapkan mampu mendukung program CMHN yang diterapkan di masyarakat. Seorang kader akan mampu melakukan kegiatan apabila kader tersebut telah diberikan pembekalan sejak awal. Metode yang dipakai dalam mengembangkan kader kesehatan jiwa sebaiknya teratur, sistematis, dan rasional (Keliat, 2010).

Kemampuan kader kesehatan jiwa dalam melakukan kegiatan perlu dipertahankan, dikembangkan, dan ditingkatkan melalui manajemen pemberdayaan kader yang konsisten dan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini. Pengembangan kader kesehatan jiwa digambarkan sebagai suatu proses pengelolaan motivasi kader sehingga mereka dapat melaksanakan kegiatan dengan baik. Hal ini juga merupakan penghargaan bagi kader karena melalui manajemen sumber daya manusia (SDM) yang baik, kader akan mendapatkan kompensasi berupa penghargaan (compensatory reward) sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya (Keliat, 2010).

Manajemen pemberdayaan kader kesehatan jiwa di Desa Siaga Sehat Jiwa berfokus pada proses rekruitmen, seleksi, orientasi, penilaian kinerja, dan pengembangan kader. Proses ini dilakukan dalam mempersiapkan Desa Siaga Sehat Jiwa, juga setiap kali ada penambahan kader baru (Keliat, 2010).

a) Proses rekruitmen kader kesehatan jiwa

Rekruitmen kader kesehatan jiwa adalah suatu proses pencarian dan pemikatan para calon kader yang mempunyai kemampuan dalam mengembangkan Desa Siaga Sehat Jiwa. Proses awal dalam merekrut kader adalah dengan melakukan sosialisasi tentang pembentukan Desa Siaga Sehat Jiwa disertai dengan kriteria kader yang dibutuhkan. Adapun kriteria kader adalah sebagai berikut:

1) Bertempat tinggal di Desa Siaga Sehat Jiwa 2) Sehat jasmani dan rohani

3) Mampu membaca dan menulis dengan lancar menggunakan bahasa Indonesia

4) Bersedia menjadi kader kesehatan jiwa sebagai tenaga suka rela

5) Mempunyai komitmen untuk melaksanakan program kesehatan jiwa komunitas

6) Menyediakan waktu untuk kegiatan CMHN 7) Mendapat izin dari suami atau istri atau keluarga

(Keliat, 2010)

Rekruitmen kader dilakukan di tiap desa pada wilayah puskesmas yang akan dikembangkan menjadi Desa Siaga Sehat Jiwa. Kader Kesehatan Jiwa DSSJ direkrut dengan rasio satu KKJ bertanggung jawab terhadap 15-20 keluarga (Keliat, 2010).

Proses rekrutmen kader di Desa Siaga Sehat Jiwa dilakukan dengan melibatkan tokoh masyarakat yang dapat menentukan calon kader yang mampu dan mau melakukan kegiatan kesehatan jiwa di lingkungan tempat tinggalnya. Perawat CMHN melakukan koordinasi dengan kepala desa, kepala dusun, atau dengan organisasi masyarakat yang ada di wilayah kerjanya, seperti PKK. Proses rekrutmen kader kesehatan jiwa dilakukan sebagai berikut.

1) Perawat CMHN mengadakan pertemuan dengan kepala desa dan tokoh masyarakat setempat untuk menjelaskan pembentukan Desa Siaga Sehat Jiwa dan kebutuhan kader kesehatan jiwa.

2) Perawat CMHN menjelaskan kriteria kader dan jumlah kader yang dibutuhkan untuk tiap desa dan dusun.

3) Tokoh masyarakat melakukan pencarian calon kader berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.

4) Kader yang telah direkrut mengisi biodata pada formulir yang telah disediakan untuk proses seleksi selanjutnya.

(Keliat, 2010).

b) Proses Seleksi Kader Kesehatan Jiwa

Proses seleksi adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk memutuskan apakah calon kader diterima atau tidak sebagai kader kesehatan jiwa. Proses seleksi ini penting untuk mendapatkan sumber daya manusia yang mempunyai motivasi dan kemampuan yang tepat sesuai dengan yang dibutuhkan. Proses seleksi calon kader di Desa Siaga Sehat Jiwa adalah sebagai berikut. 1) Perawat CMHN melakukan koordinasi dengan tokoh

masyarakat atau organisasi masyarakat dalam menentukan calon kader yang memenuhi syarat. 2) Kader terpilih harus mengisi surat pernyataan

bersedia menjadi kader kesehatan jiwa dan bersedia menjalankan program CMHN.

3) Kader terpilih diwajibkan mengikuti pelatihan kader kesehatan jiwa.

(Keliat, 2010)

c) Proses Orientasi Kader Kesehatan Jiwa

Setiap kader yang akan melaksanakan program kesehatan jiwa akan melalui masa orientasi, yaitu mengikuti sosialisasi program CMHN dan pelatihan kader kesehatan

jiwa. Orientasi yang dilakukan mencakup informasi budaya kerja dan informasi umum tentang visi, misi, filosofi, kebijakan Desa Siaga Sehat Jiwa, dan kemampuan kader kesehatan jiwa. Kegiatan orientasi menggunakan metode klasik selama 2 hari, praktik lapangan selama 3 hari, dan dilanjutkan dengan praktik penerapan Desa Siaga Sehat Jiwa. Materi pelatihan kader kesehatan jiwa mencakup :

1) Program Desa Siaga Sehat Jiwa

2) Deteksi keluarga di masyarakat: kelompok keluarga sehat, kelompok keluarga yang berisiko mengalami masalah psikososial, dan kelompok keluarga dengan gangguan jiwa

3) Peran serta dalam menggerakkan masyarakat pada

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 42-67)