• Tidak ada hasil yang ditemukan

45 Ibid.

Setelah Theresa May lengser dari jabatannya sebagai Perdana Menteri Inggris, kini posisinya digantikan oleh Boris Johnson. Ia terpilih menjabat sebagai perdana menteri setelah mendapat perolehan suara sejumlah 92.153 dalam sebuah pemungutan suara yang Parta konservatif lakukan, mengalahkan Jeremy Hunt selaku Menteri Luar Negeri Ingggris46. Pada bulan Juli 2019, dalam pidatonya Boris Johnson dengan tegas menyatakan bahwa penyelesaian persoalan berkenaan dengan brexit akan ia selesaikan tepat pada akhir Oktober 2019 serta akan menyelesaikan persoalan mengenai Brexit didalam negeri yang telah memecah belah masyarakat Inggris kedalam kelompok-kelompok yang berbeda. Boris Johnson mengawali karirnya sebagai seorang jurnalis yang kemudian tepat pada tahun 2001 ia memulai karirnya dalam dunia perpolitikan ketika ia terpilih sebagai anggota parlemen untuk Partai Konservatif mewakili Henley47. Ia kemudian terpilih kembali pada keanggotaan parlemen Inggris pada tahun 2005 dan duduk dikursi parlemen hingga tahun 2008.

Pada tahun 2008, Johnson terpilih menjadi walikota London menggantikan Ken Livingstone yang berasal dari Partai Buruh. Ia bahkan berhasil menjabat walikota London dalam dua periode, yaitu pada periode tahun 2012 hingga 201648. Selama kepemimpinannya menjadi walikota London, Boris Johnson telah berhasil mengurangi angka kejahatan di

46 Elfan & Yuwono. Komunikasi dalam Negosiasi Politik Brexit. Jurnal Komunikasi dan Bahasa, Vol.1, Nomor 2, Desember 2020.

47 Ibid.

48 Congressional Research Service. Brexit: Status and Outlook. CRS Report Prepared for Members and Committees of Congress, 13 Februari 2020, https://crsreports.congress.gov.

London. Namun, dalam keberhasilannya mengurangi angka kejahatan itu, kebijakan lainnya yang ia buat juga tidak terlepas dari kontroversial, seperti pengadaan proyek water cannon dan garden bridge yang menghabiskan dana yang sangat besar dan ia menggunakannya dengan uang publik yang seharusnya dana publik tersebut bisa digunakan untuk kepentingan publik yang lebih penting dan mendesak49. Setelah jabatannya menjadi walikota London telah berakhir, Boris Johnson kemudian memutuskan untuk kembali ke parlemen dan ia berhasil terpilih kembali mewakili Uxbridge dan South Ruislip50. Karirnya mulai melejit ketika ia kemudian ditunjuk oleh Perdana Menteri Theresa May sebagai menteri luar negeri Inggris. Sebagai seorang politisi Inggris, Johnson mendukung keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa atau Brexit. Ia bersama dengan Michael Gove, merupakan pemimpin dari kelompok vote leave atau kelompok yang pro-Brexit. Untuk mensukseskan kampanye dari kelompok vote leave yang ia pimpin, Johnson rela untuk mengelilingi Inggris menggunakan bus merah khas Inggris dengan ditempeli oleh berbagai iklan-iklan pro-Brexit. Tidak heran jika ia dijuluki sebagai politisi pro-Brexit garis keras (hard-Brexiter)51.

Dalam rentang waktu yang belum lama setelah Johnson terpilih menduduki kuris PM Inggris, penolakan terhadap masa kepemimpinan Boris Johnson dengan cepat ditunjukkan oleh masyarakat Inggris.

49 Ibid.

50 Ibid.

51 Stefano Fella, Planning for a No-deal Brexit. House of Commons Library, Briefing Paper, 5 November 2019.

Perjalanannya menuju gedung parlemen terhambat oleh Masyarakat Inggris beramai-ramai, yang membawa spanduk bertulis “identitas, demokrasi, kedaulatan, kebebasan”. Namun, Boris Johnson tak memberi respon apapun atas aksi masyarakat Inggris yang menolak pemerintahannya. Penolakan atas kepemimpinannya tidak hanya datang dari masyarakat Inggris tetapi juga datang dari para menteri salah satunya adalah Menteri Keuangan Inggris, Philip Hammond52. Ia menyatakan bahwa sebagai wujud penolakan atas kepemimpinan Boris Johnson, sekaligus sebagai simbol bahwa dalam pemerintahan Inggris terjadi kekacauan, ia akan mundur dari jabatannya.

Pada 24 Juli 2014, Perdana Menteri Inggris resmi dijabat oleh Boris Johnson, selepas pengunduran diri perdana menteri sebelumnya, Theresa May, dari kursi jabatannya kepada Ratu Elizabeth di Istana Buckingham53. Dengan adanya kepemimpinan Boris Johnson itu, tentu ia memiliki cara tersendiri dalam menyelesaikan persoalan Brexit dengan waktu yang singkat dengan cara apapun tanpa kesepakatan. Mendengar adanya rencana Boris Johnson tersebut membuat partai oposisi Inggris akan melakukan berbagai cara untuk menghambat rencana Boris Johnson dalam menyelesaikan Brexit tanpa kesepakatan. Bahkan rencana suatu undang-undang baru dibuat ataupun pemungutan suara dilakukan guna

52 Ibid.

53 Congressional Research Service. Brexit: Status and Outlook. CRS Report Prepared for Members and Committees of Congress, 13 Februari 2020, https://crsreports.congress.gov

menggulingkan pemerintahan Boris Johnson ditempuh oleh para anggota partai itu.

Jeremy Corbyn selaku ketua Partai Buruh sekaligus partai oposisi, telah melakukan dialog dengan Partai Nasional Skotlandia, Partai Liberal Demokrat, dan Partai Hijau guna menyusun rencana aksi perlawanan atas rencana Boris Johnson terkait penyelesaian Brexit tanpa kesepakatan.

Rencana kuat Perdana Menteri Boris Johnson untuk membawa Inggris keluar dari keanggotaan Uni Eropa dengan tanpa kesepakatan serta upaya penolakan dengan tegas rencana itu oleh parlemen, menjadikan kekhawatiran akan penyelesaian yang tak akan menemu titik temu seperti yang terjadi pada era Theresa May akan terjadi pula dalam pembahasan mengenai Brexit pada era Boris Johnson54. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa dalam proses penyelesaian Brexit, Theresa May berserta Parlemen Inggris tak menemu jalan keluar, yang akhirnya menjadikannya undur diri dari jabatannya selaku PM Inggris. Para oposisi yang tak setuju memiliki pendapat bahwa Brexit tanpa kesepakatan akan membawa bencana bagi Inggris.

Uni Eropa menyatakan bahwa Inggris akan bertanggungjawab pada konsekuensi yang akan Inggris hadapi dengan skenario no deal, sebagai bentuk penolakan atas rencana besar Boris Johnson guna membawa Inggris pada tanpa kesepakatan (no deal Brexit)55. Jean C.

54 Ibid.

55 Stefano Fella, Planning for a No-deal Brexit. House of Commons Library, Briefing Paper, 5 November 2019.

Junker selaku ketua komisi Uni Eropa menyampaikan pernyataan itu setelah melakukan diskusi dengan Boris Johnson lewat telepon dengan.

Jean Junker memberi penyataan bahwa skenario penyelesaian Inggris no deal Brexit (tanpa kesepakatan) sesuai keinginan Boris Johnson telah Uni Eropa siapkan. Namun, berbagai upaya guna menghindari situasi no deal Brexit akan tetap dilakukan. Perihal ini bermakna Inggris akan sepenuhnya bertanggungjawab atas keputusannya dalam melepaskan diri dari keanggotaan Uni Eropa tanpa kesepakatan, tidak pada Uni Eropa. Boris Johnson bahkan membuat sebuah komite khusus untuk mengawasi jalannya penyelesaian Brexit dibawah kepemimpinannya serta menyiapkan dana tambahan sebesar £2,1 miliar sebagai persiapan no deal Brexit56. Pendanaan tersebut dikerahkan untuk mengatasi kemacetan di pelabuhan.

Keputusan kontroversial Boris Johnson kembali muncul setelah masa libur parlemen Inggris diperpanjang sampai dua minggu menjelang deadline keputusan Brexit, yakni 14 Oktober diputuskan oleh Johnson57. Hal lumrah yang terjadi di Inggris ialah masa libur parlemen ataupun masa reses. Namun, tentu berbeda untuk situasi yang terjadi kini, deadline keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa bertepatan dengan masa reses. Dengan adanya keputusan itu, kesempatan guna menghalangi langkah Perdana Menteri Johnson dalam membawa Inggris keluar dari keanggotaan Uni Eropa dengan no deal tak dimiliki oleh anggota

56 Ibid.

57 Ibid.

perlemen. Pada pertemuan dengan Uni Eropa tanggal 17 Oktober 2019, akan dihadiri oleh Johnson58.

Perihal tersebut tentu mendatangkan bermacam respon dari para anggota parlemen, salah satunya anggapan bahwa keputusan itu ialah pelanggaran atas sistem demokrasi Inggris oleh wakil pemimpin Partai Buruh inggris, Tom Watson. Lain daripada itu, rencana Perdna Menteri itu dikecam pula oleh Tom Brake dari Partai Brexit Demokrat Liberal, serta mengemukakan bahwa sebuah deklarasi perang atas keputusan Johnson itu.

Selepas parlemen Inggris menolak proporsal Brexit yang sudah ia ajukan, selaku Perdana Menteri Inggris, Johnson tak menyerah. Proposal Boris Johnson yang berfokus terhadap penghapusan backstop Irlandia tersebut dinilai masih lemah59. Proposal yang diajukan oleh Johnson tersebut bertujuan untuk mencegah pembangunan tembok fisik perbatasan antara Irlandia Utara (bagian dari wilayah Inggris) dengan Republik Irlandia (wilayah Uni Eropa). Proposal yang diajukan oleh Johnson tersebut mengunggulkan niat Johnson bahwa Irlandia Utara masih diperbolehkan untuk bergabung dalam pasar Eropa untuk barang, tetapi meninggalkan serikat kepabeanan. Johnson menyatakan bahwa, penundaan Brexit tidak akan terjadi walaupun parlemen menolak proposal usulannya, dan daripada mengambil keputusan guna menunta penyelesaian

58 Congressional Research Service. Brexit: Status and Outlook. CRS Report Prepared for Members and Committees of Congress, 13 Februari 2020, https://crsreports.congress.gov.

59 Stefano Fella, Planning for a No-deal Brexit. House of Commons Library, Briefing Paper, 5 November 2019.

Brexit, Johnson lebih memilih mati diselokan. Rencana melakukan proses pengunduran diri Inggris dari keanggotanan Uni Eropa tanpa kesepakatan ditentang oleh parlemen Inggris melalui pemungutan suara pada tanggal 3 September60.

Usulan proposal Brexit yang diajukan oleh Perdana Menteri Boris Johnson mengalami kekalahan dengan anggota parlemen yang menolak sejumlah 328 orang, sedang yang setuju sejumlah 301 lainnya61. Selepas penolakan parelemen Inggris atas proposal Brexit yang Johnson ajukan, Pernyataan Johnson bahwa, ia akan melakukan pemilihan anggota parlemen baru, jika usulan Brexit yang ia rencanakan ditentang parlemen Inggris, yang gagal pula guna mendapat dukugan dalam parlemen. Pada tanggal 9 September 2019, parlemen kembali membahas pemungutan suara itu, yang memperoleh hasil yang sama. Jeremmy Corbyn selaku ketua Partai Buruh, memberi pernyataan bahwa ia siap melakukan dukungan atas pemilihan parlemen baru, dengan syarat Inggris tidak diseret menuju Brexit dengan no deal oleh Johnson. Dalam keadaan setelah proposalnya ditolak, Boris Johnson segera memperbaiki proposal usulannya untuk diajukan kembali kepada parlemen Inggris, diantaranya yaitu pertama, Irlandia meninggalkan serikat kepabeanan Uni Eropa bersama dengan seluruh wilayah Inggris pada awal 202162. Namun, Irlandia Utara tetap mematuhi peraturan perdagangan Uni Eropa terkait

60 Ibid.

61 Ibid.

62 European Parliament Briefing. The Revised Brexit Deal: What has Changed and Next Steps?, Oktober 2019.

dengan produk pertanian dan sejenisnya. Kedua, pemeriksaan bea cukai atas barang yang diperdagangkan antara Inggris dan Uni Eropa dilakukan secara terpusat, pemeriksaan tidak dilakukan di perbatasan tetapi dikantor dagang atau titik lain dalam rantai pasok barang.

Selepas keputusannya guna memperpanjang masa reses parlemen dianggap melanggar hokum, masa pemerintahan Johnson, kembali jadi perbincangan. Mahkamah Agung lalu menyatakan bahwa hal yang tak wajar atas upaya perpanjangan masa reses yang dilakukan oleh Johnson serta pelanggaran atas nilai-nilai dasar demokrasi Inggris, selepas keputusan itu dibawa ke Mahkamah Agung63. Perdana Menteri Johnson diminta untuk turun dari jabatannya sebagai Perdana Menteri, karena dianggap sudah menyalahgunakan kekuasaannya guna membekukan parlemen menjelang tenggat waktu selesainya Brexit, dalam sidang Mahkamah Agung itu.

Ketika menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson dihadapkan dengan berbagai kebuntuan mengenai Brexit. Brexit awalnya dijadwalkan terjadi pada 29 Maret 2019, tetapi parlemen Inggris tidak menyepakati jalan kedepan karena adanya perpecahan dalam internal masyarakat Inggris serta adanya tantangan guna penyelesaian konflik perbatasan antara Irlandia Utara dengan Republik Irlandia64. Ditengah terjadinya kebuntuan untuk menyelesaikan persoalan Brexit ini, akhirnya

63 Ibid.

64 European Parliament Briefing. The Revised Brexit Deal: What has Changed and Next Steps?, Oktober 2019.

pada April 2019, para pemimpin Uni Eropa sepakat untuk memberikan perpanjangan waktu kepada Inggris sampai dengan 31 Oktober 2019. Pada 17 Oktober 2019, negosiator dari Uni Eropa bersama dengan Pemerintahan Boris Johnson menyimpulkan perjanjian penarikan baru, tetapi Boris Johnson menghadapi tantangan dalam mengamankan persetujuan Parlemen Inggris atas kesepakatan yang telah dibuat bersama dengan Uni Eropa tersebut65.

Inggris dan Uni Eropa telah mencapai kesepakatan mengenai perjanjian penarikan yang telah direvisi mengenai hubungan Uni Eropa dengan Inggris pada masa yang akan datang pafa 17 Oktober 2019, tetapi, dalam pertemuan khusus yang terjadi pada tanggal 19 Oktober, House of Commons menahan persetujuan untuk kesepakatan yang telah direvisi tersebut. Perdana Menteri Boris Johnson kemudian mengirimkan surat kepada Uni Eropa untuk meminta perpanjangan periode waktu sampai 31 Januari 2020. Boris Johnson kembali mengajukan proposal usulannya yang berisi mengenai lima poin penting diantaranya yaitu66 : pertama, proposal berpusat pada komitmen pemerintah Inggris untuk menemukan solusi yang sesuai dengan Perjanjian Belfast. Kerangka kerja tersebut adalah dasar fundamental untuk pemerintahan di Irlandia Utara dan pemerintah Inggris dibawah Boris Johnson akan memprioritaskan perlindungan terhadap Irlandia Utara. Kedua, pemerintah Inggris dibawah Boris Johnson akan terus berkomitmen terhadap wilayah kerja sama antara

65 Ibid.

66 Ibid.

Inggris dengan Irlandia yang sudah berlangsung lama termasuk yang diatur dalam Perjanjian Belfast, termasuk perjanjian mengenai area perjalanan umum, hak-hak warga negara yang tinggal di Irlandia Utara, dan lain sebagainya yang masih akan terus diterapkan oleh pemerintah Inggris. Ketiga, adanya penciptaan zona peraturan semua pulau di Irlandia yang mencakup semua barang dan pertanian. Penciptaan zona ini akan menghilangkan peraturan mengenai pemeriksaan perdagangan antara Irlandia dengan Irlandia Utara dengan memastikan bahwa peraturan barang di Irlandia Utara sama dengan di negara anggota Uni Eropa lainnya. Keempat, pemerintah Inggris dibawah Boris Johnson mengusulkan mengenai eksekutif dan Majelis Irlandia Utara harus memiliki kesempatan untuk mengesahkan pengaturan mengenai zona regulasi perdagangan sebelum diberlakukan secara resmi, yaitu pada masa transisi dan setiap empat tahun sesudahnya. Jika persetujuan tidak tercapai, maka peraturan zona regulasi tersebut dapat diakhiri. Kelima, Irlandia Utara akan sepenuhnya menjadi wilayah pabean Inggris bukan pabean Uni Eropa setelah akhir masa transisi.

Boris Johnson juga mengusulkan bahwa semua proses kepabeanan yang diperlukan untuk memastikan kepatuhan terhadap rezim pabean Inggris dan Uni Eropa harus berjalan secara terdesentralisasi, dengan dokumen yang dilakukan secara elektronik saat barang berpindah antara kedua negara dan dengan jumlah pemeriksaan fisik yang sangat kecil.

Pemeriksaan tersebut dilakukan ditempat pedagang atau titik lain pada

rantai pasokan. Untuk mewujudkan hal tersebut pemerintah Inggris bersama dengan Irlandia Utara harus melakukan perbaikan dan penyederhanaan kebijakan yang dapat diterapkan pada aturan bea cukai.

Pengaturan tersebut dapat didukung oleh kerja sama yang era tantara otoritas Inggris dan Irlandia Utara, menurut Boris Johnson, semua itu harus dibarengi dengan komitmen yang kuat antara kedua belah pihak untuk tidak pernah melakukan pemeriksaan diwilayah perbatasan dalam waktu kedepan67.

Kegagalan Johnson guna menyelesaikan Inggris keluar dari keanggotaan Uni Eropa pada waktu yang telah ditentukan, hingga Boris Johnson meminta perpanjangan waktu lagi dan disetujui oleh Uni Eropa hingga 31 Januari 2020. Perpanjangan waktu itu disetujui dengan syarat, bagi Inggris ini merupakan perpanjangan waktu terakhir, dimana hingga 31 Januari 2020 ialah waktu yang diberi untuk Inggris, guna mendiskusikan bersama parlemen masa depannya dengan Uni Eropa68.

Boris Johnson sebagai perdana menteri Inggris telah melakukan berbagai upaya untuk segera menuntaskan persoalan Brexit ini dengan jalan apapun. Hal tersebut ia lakukan semenjak adanya tuntutan masyarakat Inggris yang bertajuk ‘put it to the people’ dan ‘let us be heard’ yang menyebabkan masyarakat Inggris terpecah menjadi dua

67 European Parliament Briefing. The Revised Brexit Deal: What has Changed and Next Steps?, Oktober 2019.

68 Ibid.

kubu69. Penyelesaian Brexit dibawah pemerintahan Boris Johnson ini memang sangat ambisius untuk segera membawa Inggris keluar dari keanggotaan Uni Eropa, hal tersebut didasari dengan berbagai tinjauan yang dilakukan oleh Boris Johnson seperti kacaunya situasi internal masyarakat Inggris. Masyarakat Inggris terpecah menjadi dua kubu akibat adanya persoalan mengenai Brexit ini.

Kelompok pertama adalah kelompok pro-Brexit yaitu a.) students for Brexit. Kelompok ini ialah sebuah organisasi yang datang dari kalangan mahasiswa yang punya tujuan guna mensukseskan Brexit serta memberi promosi dampak positif jika Inggris berhasil meninggalkan Uni Eropa70. Guna menyebarkan informasi berkenaan hal-hal positif yang didapatkan Inggris untuk Ketika Inggris berhasil meninggalkan keanggotaan Uni Eropa ialah tujuan utamanya. Target mereka adalah mahasiswa-mahasiswa dan pelajar diberbagai penjuru wilayah Inggris.

Para mahasiswa yang tergabung dalam kelompok ini menyuarakan bahwa hasil referendum masyarakat Inggris yang memilih untuk keluar dari keanggotaan Uni Eropa harus segera diselesaikan. Mereka berharap lebih kepada kepemimpinan Boris Johnson hingga mereka tergabung kedalam sebuah aksi protes yang bertemakan “let us be heard”. Tidak hanya turun dalam sebuah aksi protes secara langsung, kelompok ini menyampaikan

69 Niken Pratiwi, 2017, Pengaruh Tory Political Cabinet Terhadap Keputusan Referendum British Exit (Brexit), Skripsi, Malang: Prodi Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Malang.

70 Ibid.

pula respon serta tanggapannya lewat kampanye-kampanye secara daring di media sosial.

Para mahasiswa ini menyoroti mengenai beasiswa Erasmus+ yang selama ini selalu mereka khawatirkan, dimana Inggris juga turut memberikan dana sebagai bentuk anggaran dalam sektor pendidikan bagi anak-anak Uni Eropa dan non Uni Eropa. Kelompok ini menyatakan bahwa Erasmus+ bukanlah sebuah program yang tepat guna didanai Inggris. Hal tersebut disebabkan adanya pelajar tertentu yang butuh program pembiayaan belajar diluar negeri yang sesungguhnya, dimana mereka mendapatkan kebebasan pemakaian pajak guna kepentingan promosi pendidikan, tak sekadar sepertiga seperti yang diberikan oleh Erasmus+. Menurut kelompok ini, Brexit merupakan sebuah momentum untuk mendapatkan peluang serta kemungkinan yang lebih besar bagi para pelajar dan pendidikan perguruan tinggi Inggris. Inggris akan punya kesempatan guna bisa terlibat dalam kesepakatan yang tak kompleks serta terpisah dari Uni Eropa berkenaan dengan pertukaran pelajar, selepas Inggris benar-benar keluar dari keanggotaan Uni Eropa.

b.) Veterans for Britain. Kelompok ini berusaha untuk memberikan dukungan terhadap Ratu Inggris guna mengembalikan kontrol atas kedaulatan penuh pada seluruh sektor terutama mengenai sektor pertahanan internal Inggris yang selama ini tidak bisa dilakukan karena

Inggris dibawah kontrol kebijakan Uni Eropa71. Kelompok berikut memberi pernyataan kalau aspek pertahanan serta keamanan nasional Inggris akan makin melemah jika Inggris tidak keluar dari keanggotaan Uni Eropa, oleh karenanya pilihan terbaik bagi Inggris ialah Brexit.

Kelompok ini merupakan salah satu kelompok yang paling aktif dalam berkampanye untuk mempengaruhi masyarakat Inggris memilih leave dan mendorong pemerintah untuk segera menyelesaikan persoalan Brexit ini.

Aksi mereka tersebut dilakukan untuk membantu Inggris segera keluar dari keanggotaan Uni Eropa dan mendapatkan Inggris segera mendapatkan kesempatan terbaik untuk menjalankan sendiri sektor pertahanan dan keamanan nasionalnya dan membawa Inggris keluar dari European Union Army dengan cara apapun. Veterans for Britain menegaskan terkait respon mereka terhadap rancangan kesepakatan Brexit yang hanya mencantumkan sedikit berkenaan dengan sektor pertahanan serta keamanan, mereka melihat pemerintah dibawah Boris Johnson lebih banyak menyoroti hubungan Inggris dengan Irlandia Utara untuk menghapuskan backstop.

c.) Fishing for Leave. Kelompok ini merupakan masyarakat Inggris yang bekerja sebagai nelayan, dimana mereka sangat mendukung Inggris untuk keluar dari keanggotaan di Uni Eropa72. Para nelayan ini mengemukakan pendapat mereka bahwa sebesar 60% wilayah perairan Inggris berada dibawah kontrol pihak asing. Oleh karena itu, kelompok ini

71 Niken Pratiwi, 2017, Pengaruh Tory Political Cabinet Terhadap Keputusan Referendum British Exit (Brexit), Skripsi, Malang: Prodi Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Malang.

72 Ibid.

mendorong pemerintahan Boris Johnson untuk segera keluar dari keanggotaan Uni Eropa dan bisa mengambil alih wilayah perairan Inggris sendiri dan menentukan kebijakan perairan nasional mereka secara mandiri. Kelompok nelayan ini juga menyatakan dukungannya terhadap keluarnya dengan cara apapun termasuk keluar tanpa kesepakatan (no deal Brexit). Kelompok ini juga tergabung dalam aksi kampanye yang bertemakan “put it to the people” dan membawa spanduk kampanye bertuliskan “no deal, no problem”. Kelompok ini berpandapat bahwa, tidak perlu adanya hubungan masa depan atau kesepakatan baru antara Inggris dengan Uni Eropa khsususnya terkait dengan sektor perairan karena hal tersebut hanya akan menghancurkan urusan dalam negeri Inggris karena Inggris harus patuh terhadap kesepakatan baru tersebut selama periode transisi. Kelompok ini menolak dengan keras segala campur tangan Uni Eropa atas sektor perairan Inggris, selepas adanya referendum.

Kedua, adalah kelompok anti Brexit yaitu, a.) Scientist for EU.

ialah kelompok yang memberi penolakan Inggris keluar dari keanggotaan di Uni Eropa73. Kelompok ini beranggota para pakar ilmu pengetahuan Inggris. Alasan kuat mereka adalah untuk mengupayakan ketersediaan informasi serta bukti secara akurat untuk masyarakat Inggris berkenaan dengan konsekuensi terburuk yang dapat diterima Inggris jika Inggris tetap memilih keluar dari keanggotaan di Uni Eropa. Kelompok berikut

73 Ibid.

memberi pernyataan dengan lugas bahwa adanya rencana no deal Brexit dibawah pemerintahan Boris Johnson, hal tersebut akan menjadikan Inggris masuk kategori negara dunia ketiga serta akan menjadikan Inggris kehilangan program Horizon Program, yang memberikan dana dalam sektor penelitian Inggris selama ini. Jika no deal Brexit benar-benar terjadi, maka Inggris akan kehilangan €577,45 juta. Dana bantuan yang datang dari Horizon Program setiap tahunnya itu datang dari European Research Council (ERC) serta Marie Sklowodoska-Curie Actions (MSCA) ialah program pendanaan penelitian terbesar di Uni Eropa. Mereka tidak percaya terkait adanya janji pemerintah Boris Johnson terkait dengan adanya kesepakatan-kesepakatan baru yang akan dibuat pasca Inggrus resmi keluar dari keanggotaan Uni Eropa. Hal tersebut terjadi karena

memberi pernyataan dengan lugas bahwa adanya rencana no deal Brexit dibawah pemerintahan Boris Johnson, hal tersebut akan menjadikan Inggris masuk kategori negara dunia ketiga serta akan menjadikan Inggris kehilangan program Horizon Program, yang memberikan dana dalam sektor penelitian Inggris selama ini. Jika no deal Brexit benar-benar terjadi, maka Inggris akan kehilangan €577,45 juta. Dana bantuan yang datang dari Horizon Program setiap tahunnya itu datang dari European Research Council (ERC) serta Marie Sklowodoska-Curie Actions (MSCA) ialah program pendanaan penelitian terbesar di Uni Eropa. Mereka tidak percaya terkait adanya janji pemerintah Boris Johnson terkait dengan adanya kesepakatan-kesepakatan baru yang akan dibuat pasca Inggrus resmi keluar dari keanggotaan Uni Eropa. Hal tersebut terjadi karena

Dokumen terkait