• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

C. Pembahasan

1. Proses Pembentukan Kepercayaan Subjek

Subjek 1 dididik dan dibesarkan dengan budaya barat yang mengutamakan kebenaran. Ia berusaha mencari informasi dan membuktikan segala sesuatu sebelum dia mempercayai hal tersebut. Subjek 1 tertarik pada Tiberias saat menyelidiki tentang baptisan, ia mendapatkan informasi bahwa baptisan yang benar adalah baptis selam. Subjek 1 merasa diarahkan Tuhan untuk dibaptis selam oleh Pdt.Pariadji melalui mimpi dan pengelihatan, karena itu ia percaya pada Pdt.Pariadji.

Subjek 1 mendapat pengajaran dari Tiberias bahwa sakit penyakit merupakan akibat dari kutukan nenek moyang dan tubuh-darah Kristus pada perjamuan memiliki kuasa untuk menghapuskan kutukan tersebut. Ia juga mendengar cerita dari saudaranya yang mendukung pendapat ini. Subjek 1 berusaha mencari tau kebenaran ajaran ini dengan banyak membaca dan menonton film, setelah itu ia berusaha membuktikannya. Ketika merasa berhasil membuktikannya, ia menjadi percaya.

Subjek 1 seperti telah ditunjukkan di atas, menjadi percaya pada Tiberias dan ajarannya tentang kuasa Perjamuan Kudus, setelah ia berusaha mencari kebenaran ajaran tersebut melalui banyak sumber dan berhasil membuktikannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Azwar (1995) bahwa kepercayaan adalah komponen kognitif dari sikap. Kepercayaan datang dari pengetahuan kita mengenai karakteristik suatu objek. Setelah ia memiliki informasi dan pengetahuan mengenai kuasa dibalik Perjamuan Kudus yang ia dapat dari banyak sumber, lalu kemudian berhasil membuktikannya sendiri, ia menjadi percaya.

Subjek 1 sakit selama puluhan tahun. Ia telah berobat dengan cara medis dan menghabiskan banyak uang tapi tetap tidak sembuh. Subjek 1 sadar bahwa ia kambuh karena masalah rumah tangga yang membuat ia tertekan. Hubungan rumah tangganya membaik setelah ia masuk Tiberias. Ia merasa mendapat dukungan dari suaminya ketika suaminya mau menggosokkan Minyak Urapan padanya saat sakit, dan

menguatkannya untuk meyakini bahwa ia akan sembuh. Azwar (1995) menyatakan bahwa kebutuhan emosional adalah salah satu determinan utama pembentuk kepercayaan. Dengan menggunakan Minyak Urapan untuk penyembuhan, Subjek 1 mendapatkan hubungan emosi yang baik dengan suaminya.

Subjek 1 tidak langsung sembuh total setelah ia menggunakan Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus. Subjek 1 pernah datang kepada salah satu pendeta di Tiberias dan mengeluhkan bahwa ia masih sering kambuh walaupun sudah ikut Perjamuan Kudus. Pendeta tersebut menguatkan dia untuk meyakini bahwa ia memiliki kemampuan untuk menolak penyakitnya. Pendapat dan dukungan dari pendeta ini menurut Hybels & Weaver II (2004) juga mempengaruhi kepercayaan Subjek 1 pada Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus sebagai sarana penyembuhan.

Subjek 1 juga bercerita mengenai kegunaan Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus dalam kehidupannya sehari-hari. Ia sangat mengandalkan kedua hal tersebut baik untuk pengganti obat-obatan, juga sebagai perlindungan. Kondisi ini dapat terjadi, karena Subjek 1 memiliki banyak pengalaman dengan Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus, yang menunjukkan bahwa kedua hal tersebut dapat diandalkan saat dibutuhkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Erikson bahwa seseorang dapat membentuk kepercayaan pada suatu objek, jika ia dapat mengandalkan objek tersebut saat ia butuhkan.

Subjek 1 merasa dapat mengandalkan Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus saat ia butuhkan, setelah melihat pengalamannya. Ia merasa kutukan nenek moyangnya lepas sehingga sakitnya tidak kambuh lagi jika pergi ke daerah Jawa Barat karena menggunakan Perjamuan Kudus. Kondisi ini oleh Skinner disebut superstitious

behavior, karena Subjek 1 merasa bahwa penggunaan Perjamuan

Kudus membuat ia tidak sakit. Padahal ia mendapatkan reinforcement kebetulan saja.

b. Proses Subjek 2

Subjek 2 sakit sejak lahir dan sudah berobat ke banyak dokter spesialis, tapi tidak sembuh. Kebocoran pada bilik jantungnya hanya dapat disembuhkan dengan cara melakukan operasi penutupan lubang, tetapi ia tidak mampu untuk membiayai operasi tersebut. Subjek 2 sadar bahwa ia dapat meninggal setiap saat, dan ia merasa tidak mampu berbuat apapun untuk mencegahnya, sehingga ia menjadi pasrah menghadapi sakitnya.

Subjek 2 datang ke Tiberias karena diajak oleh seorang temannya, yang tahu bahwa ia sakit parah. Subjek 2 terus dibujuk untuk datang, sampai akhirnya ia datang untuk menyenangkan hati temannya. Tahun 1996 ia resmi menjadi anggota jemaat Gereja Tiberias setelah ia dibaptis. Subjek 2 sembuh pada tahun 2004, setelah mengikuti Kebaktian Kebangkitan Rohani (KKR) dan dinyatakan oleh

Pdt.Pariadji bahwa sakitnya akan sembuh dalam 10 hari. Selama 8 tahun Subjek 2 aktif sebagai pelayan di gereja dan mengikuti Ibadah penyembuhan di Tiberias tanpa percaya dan berharap untuk sembuh. Ia kemudian menjadi sangat takjub ketika bisa sembuh begitu saja.

Subjek 2 kemudian diberi penjelasan bahwa ia sembuh karena kuasa Minyak Urapan dan Perjamuan. Ia mencari tahu mengenai kebenaran hal itu dan berusaha menguji kebenarannya. Subjek 2 mengalami proses pembentukan percaya sesuai dengan pendapat Azwar (1995), yaitu kepercayaan yang muncul dari pengetahuannya mengenai karakteristik objek. Subjek 2 percaya dan menggunakan Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus untuk penyembuhan, karena ia sudah mengalami penyembuhan itu sendiri. Kesembuhan tersebut menjadikan reinforcement baginya untuk menggunakan Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus sebagai sarana penyembuhan.

Skinner (dalam Cloninger, 2004) menyatakan bahwa seseorang dapat memilih perilaku adaptif yang akan ia lakukan berdasarkan pengalamannya, dan lingkungan akan mempengaruhi orang tersebut dalam memilih perilaku. Subjek 2 mengalami reinforcement saat penyakit jantungnya sembuh. Lingkungan sekitarnya yaitu gereja Tiberias mengarahkannya bahwa reinforcement tersebut ia dapatkan karena adanya kuasa dari Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus yang selama ini ia gunakan. Karena itu perilaku penggunaan Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus untuk penyembuhan menjadi dikuatkan.

Setelah kesembuhan jantungnya, Subjek 2 terus menggunakan Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus untuk penyembuhan lainnya. Ia berhasil sembuh dari penyakit TBC ginjal yang sebenarnya tidak ia sadari dengan Perjamuan Kudus, tetapi ia tidak berhasil menyembuhkan kutil di lehernya dengan Minyak Urapan. Subjek 2 bisa membantu orang lain sembuh dengan mendoakan orang tersebut dengan Minyak Urapan dan memberikan Perjamuan Kudus, tapi tidak sedikit juga orang yang ia doakan tidak sembuh lalu meninggal.

Kegagalan dan kekecewaan karena tidak berhasil menyembuhkan ini tidak membuat Subjek 2 berhenti percaya pada Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus. Ia berhasil membentuk pengharapan, yang menurut Erikson adalah berkat dari kontinuitas pengalaman yang dimilikinya dengan Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus sebagai sesuatu yang dapat ia andalkan. Subjek 2 dapat percaya bahwa walau kadang ia tidak berhasil menyembuhkan, Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus tetap memiliki kuasa. Hanya saja ia percaya Tuhan yang berkuasa menentukan apakah orang akan sembuh atau tidak.

Situasi dimana kadang Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus berhasil menyembuhkan, tetapi kadang tidak ini juga menunjukkan bahwa Subjek 2 mengalami reinforcement tidak tetap. Reinforcement tidak tetap ini menurut Skinner (dalam Hall, 1993), berperan menghasilkan dan menjaga kelangsungan tingkah laku menggunakan Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus yang sangat stabil.

c. Proses Subjek 3

Subjek 3 mengandalkan pengobatan dengan orang pintar sebelum ia bertobat, kemudian setelah bertobat ia hanya melakukan pengobatan medis. Akan tetapi, pengalaman Subjek 3 dengan pengobatan medis kurang baik. Selain dari faktor biaya yang memberatkan baginya, Subjek 3 juga mengalami masalah-masalah lain seperti ketakutannya pada diagnosis dokter dan merasa salah diberi obat. Hal tersebut membuatnya tidak percaya pada pengobatan medis.

Subjek 3 senang mencoba datang ke berbagai gereja, dan ia juga mencoba datang ke Tiberias, setelah melihat bahwa banyak orang di tempat ia belajar Alkitab yang menjadi anggota Tiberias. Tiberias memiliki ajaran mengenai penyembuhan dengan sarana Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus. Subjek 3 melihat kesaksian di Tiberias bahwa banyak orang sembuh setelah menggunakan Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus sebagai sarana penyembuhan dan setelah didoakan oleh Pdt Pariadji.

Subjek 3 yakin bahwa Pdt.Pariadji adalah orang yang memiliki kuasa, pada ibadah penyembuhan banyak orang berdesak-desakan berusaha diurapi langsung oleh Pdt.Pariadji dengan Minyak Urapan. Kepercayaan subjek 3 muncul karena ia melihat bahwa jemaat itu sembuh setelah disentuh dan didoakan oleh Pdt.Pariadji. Situasi ini sesuai dengan teori Belajar Sosial Bandura, Subjek 3 mendapat reinforcement vicarious karena melihat jemaat sembuh setelah diurapi

dengan Minyak Urapan oleh Pdt.Pariadji, kemudian ia termotivasi untuk meniru jemaat yang sudah sembuh, untuk diurapi langsung oleh Pdt.Pariadji. Subjek 3 juga mendapat reinforcement vicarious setelah mendengar kesaksian dari jemaat yang sembuh karena menggunakan Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus sebagai sarana penyembuhan. Saat ia sakit ia mengingat kesaksian tersebut lalu meniru model menggunakan Minyak Urapan untuk menyembuhkan sakitnya.

Gozzaniga & Heathertrone (2003) menyatakan bahwa hampir setiap orang terpengaruh secara kuat oleh situasi sosial. Hybels & Weaver II (2004) juga mengatakan bahwa kepercayaan seseorang dipengaruhi oleh pandangan orang lain. Kedua pernyataan ini nampak pada Subek 3, ia terlihat sangat terpengaruh oleh lingkungan sosialnya. Kepercayaannya pada Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus terbentuk karena lingkungan sosialnya mempercayai hal tersebut.

Pendapat Azwar (1995) yang mengatakan bahwa pengalaman pribadi, cerita orang lain dan kebutuhan emosional seseorang adalah determinan pembentuk kepercayaan, juga sesuai dengan situasi Subjek 3. Selain percaya karena mendengar kesaksian orang, Subjek 3 juga memiliki kebutuhan emosional untuk berpegang pada seseorang yang memiliki kuasa. Seperti dulu ia mengandalkan orang pintar, ia juga menyatakan bahwa ia datang ke Tiberias karena kuasa yang dimiliki oleh Pdt.Pariadji. Subjek 3 meyakini bahwa Pdt.Pariadji adalah orang yang berkuasa atas kebenaran.

Pengkondisian operan oleh Skinner dijelaskan sebagai penyeleksian perilaku melalui konsekuensi yang terjadi ketika perilaku tersebut dilakukan. Hal ini terjadi pada Subjek 3. Ketika menggunakan Minyak Urapan untuk sarana penyembuhan penyakitnya ia mendapatkan reinforcement berupa penyembuhan, sehingga perilaku penggunaan Minyak Urapan sebagai sarana penyembuhan dikuatkan. Akan tetapi saat menggunakan Perjamuan Kudus untuk penyembuhan, ia tidak mendapat reinforcement, sehingga perilaku ini tidak dikuatkan. Pada akhirnya ketika Subjek 3 mengalami sakit, ia memilih untuk menggunakan Minyak Urapan sebagai sarana penyembuhan.

d. Proses Subjek 4

Subjek 4 datang pertama kali ke Tiberias untuk mencari Pdt. Gilbert, yang menurutnya berkotbah dengan baik. Setelah masuk ke Tiberias Subjek 4 mengetahui ajaran Tiberias mengenai Minyak Urapan sebagai sarana untuk menjadi kesukaan Tuhan.

Subjek 4 kadang menjual barang dari Jakarta ke Lampung dan ia merasa dukungan Tuhan itu penting untuk kelangsungan usahanya. Dukungan itu ia dapatkan jika ia disukai oleh Tuhan dan untuk itu ia menggunakan Minyak Urapan yang merupakan kesukaan Tuhan. Subjek 4 menggunakan Minyak Urapan untuk menambah keyakinan. Ia percaya bahwa ada kuasa dalam Minyak Urapan yang membuat apa yang diolesinya menjadi kesukaan Tuhan dan mendatangkan kebaikan.

Cervone dalam Hockenbury (2003) menyatakan bahwa manusia memproses informasi dari pengalaman sosial, dan informasi ini akan mempengaruhi tujuan, harapan, kepercayaan, dan perilakunya. Subjek 4 dalam pengalaman sosialnya di Tiberias melihat bahwa banyak orang sukses dengan menggunakan Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus. Kesaksian yang Subjek 4 dengar dari jemaat Tiberias yang sudah sukses ini, kemudian mempengaruhinya untuk juga menggunakan Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus. Subjek 4 menggunakan Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus karena ia percaya dan berharap bahwa dengan menggunakan Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus ia akan menjadi kesukaan Tuhan dan mendapat kesuksesan.

Proses yang terjadi pada Subjek 4 juga sesuai dengan teori Belajar Sosial yang dikemukakan oleh Bandura. Subjek 4 meniru prilaku model yang menggunakan Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus, karena melihat bahwa model mendapat reinforcement positif, yaitu kesuksesan setelah menggunakan Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus. Ia meniru prilaku model karena berharap dan percaya bahwa jika ia menggunakan Minyak Urapan ia akan menjadi kesukaan Tuhan seperti model yang sukses setelah menggunakan Minyak Urapan. Hal ini menunjukkan bahwa Subjek 4 termotivasi oleh reinforcement vicarious, ketika ia melihat kesaksian jemaat lain yang mendapat kesuksesan.

Subjek 4 sangat mempercayai bahwa Pdt.Pariadji adalah orang yang kudus dan semua kata-katanya adalah kebenaran. Dalam tiap kesempatan, Pdt. Pariadji selalu mengatakan bahwa Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus memiliki kuasa yang besar untuk menolak hal-hal buruk, termasuk sakit-penyakit. Karena Subjek 4 sangat mempercayai Pdt.Pariadji, ia juga kemudian menjadi percaya pada pernyataan Pdt. Pariadji bahwa Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus memiliki kuasa penyembuhan. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Hybels & Weaver II (2004) yang mengatakan bahwa kepercayaan seseorang dipengaruhi oleh pandangan orang lain, termasuk di dalamnya pemimpin agama.

Subjek 4 menceritakan bahwa ia pernah mendapat keberuntungan, yaitu dagangannya laku setelah ia mengoleskan Minyak Urapan pada kemasan barang yang dijual, dan perlindungan sehingga tidak jadi kehilangan uang, karena menggunakan Minyak Urapan, sebelum keluar dari rumah. Penggunaan Minyak Urapan oleh Subjek 4 sebagai sarana untuk mendapat perlindungan dan keberuntungan ini disebut oleh Skinner (dalam Hergenhahn & Olsen, 2007) sebagai perilaku takhayul atau superstitious behavior. Subjek 4 percaya bahwa ritual pengolesan Minyak Urapan sebagai sarana perlindungan dan keberuntungan akan membuat ia mendapat

reinforcement yaitu menjadi kesukaan Allah, sehingga ia akan

Dokumen terkait