• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Pembuatan Produk

Dalam dokumen TUGAS AKHIR -MN (Halaman 142-153)

BAB V PERENCANAAN INDUSTRI PERALATAN TANGKAP

V.1 Analisis Teknis

V.1.3 Proses Pembuatan Produk

Proses pembuatan produk dibagi melalui beberapa tahap. Dimulai dari preparation ( desain produk, pembelian material, dan lain-lain), fabrication & assembly (marking, cutting,

forming, fitting, dan lain-lan), painting (pembersihan dan pengecatan), electrical & mechanical

(instalasi kabel, komponen pendukung mesin beserta pengamanannya), pengujian (function

test, running test, dan pulling test), packaging dan delivery. Berikut ada alur dari pembuatan

125

Gambar V.21 Alur produksi komponen peralatan tangkap

Berikut adalah penjelasan dari setiap proses produksi mulai dari tahap kontrak sampai

delivery :

1. Kontrak

Adalah kesepakatan antara dua orang atau lebih mengenai hal tertentu yang disetujui kedua belah pihak. Dalam hal ini terjadi kesepakatan antara maker dengan pihak pemilik kapal. Intinya kontrak berisikan spesifikasi dari peralatan tangkap beserta harga. Di dalamnya juga terdapat penjadwalan, metode pembayaran, denda bila tidak mencapai kesepakatan awal dan lain-lain.

2. Preparation

Pada tahap ini, terdapat beberapa persiapan yang dilakukan pihak pembuat produk sebelum melakukan kegiatan produksi. Hal ini dilakukan agar meminimalisir kekurangan dan kesalahan selama kegiatan produksi. Persiapan tersebut yakni :

a. Desain

Tahap desain dibagi menjadi dua tahap sebagai berikut : b) Perhitungan kapasitas produk

Pihak owner memberikan spesifikasi beban yang akan ditarik, ukuran objek yang ditarik, kecepatan tarik yang diinginkan, daya yang dibutuhkan dan

sebagainya. Lalu dilakukan kalkulasi sehingga didapatkan ukuran-ukuran pada produk beserta daya mesin penggerak yang dibutuhkan

c) Gambar produksi

Dari data spesifikasi tersebut, kemudian dibuatkan data material yang dibutuhkan dan gambar kerja yang akan digunakan.

Gambar V.22 Contoh gambar spesikasi power block

(Sumber: Marco Global, 2016)

Gambar V.22 diatas merupakan contoh desain dari power blok tampak depan dan samping. Desain tersebut digunakan sebagai gambar produksi dari power blok.

b. Pengadaan dan pembelian material

Dari desain dan gambar produksi yang telah ada, dibuat list dari material yang dibutuhkan dan dicek di gudang penyimpanan. Bila tidak memenuhi kebutuhan yang dibutuhkan, dilakukan pembelian material sampai kebutuhan produksi dan safety stock terpenuhi. Safety stock harus dipersiapkan bila mana terjadi kelangkaan dari material yang dibutuhkan selama produksi berlangsung

3. Proses Produksi

Gambar produksi yang telah didesain digunakan sebagai acuan proses produksi. Pada proses ini melalui beberapa tahap, yaitu:

127 a. Fabrikasi dan Assembly

Pada tahap fabrikasi dan Assembly terdapat beberapa proses, diantaranya:

 Persiapan

Pada proses ini membutuhkan beberapa peralatan, diantaranya: gambar kerja,

steel marker, busur derajat, penggaris, dan meteran. Berikut adalah rincian

dari proses persiapan:

 Mempersiapkan lembaran pelat yang sesuai dengan gambar kerja

 Ketebalan pelat harus disesuaikan dengan spesifikasi gambar kerja

Membuat marking (penandaan) dengan teliti menggunakan steel

marker, penggaris, meteran dan busur derajat.

 Pemotongan

Pada proses ini membutuhkan beberapa peralatan, diantaranya: mesin potong, mesin jig saw, kikir, mesin gerinda, kaca mata, dan sarung tangan. Berikut adalah rincian dari proses pemotongan:

Pemotongan material sesuai dengan marking yang telah dibuat menggunakan mesin potong dapat dilihat pada Gambar V.23

 Untuk memotong bagian yang tidak terjangkau oleh mesin potong, gunakan mesin jig saw untuk mendapatkan hasil yang presisi

 Bekas potongan agar dikikir/digerinda agar tidak tajam

Gambar V.23 Hasil pemotongan pelat untuk main frame pada winch

 Bending (penekukan)

Pada proses ini dilakukan penekukan pelat sesuai dengan gambar kerja. Berikut adalah rincian dari proses bending pelat:

 Setelah proses pemotongan, tahap selanjutnya adalah melakukan bending material sesuai dengan gambar kerja

 Pastikan ukuran & sudut bending sesuai dengan gambar kerja

 Rolling (penekukan)

Pada proses ini dilakukan pembetukan pelat untuk diameter tertentu sesuai dengan gambar kerja. Berikut adalah rincian dari proses rolling pelat:

 Setelah proses pemotongan, tahap selanjutnya adalah melakukan rolling material sesuai dengan gambar kerja

 Pastikan ukuran & diameter rolling sesuai dengan gambar kerja  Perakitan dan pengelasan

Pada proses perakitan, dapat dilihat pada Gambar V.24, ini membutuhkan beberapa peralatan, diantaranya: overhead crane+belt, forklift, jangka sorong, mesin bor, kunci pas, kunci L, tang kombinasi, mesin las, mesin gerinda, meteran, sarung tangan, masker, kap las, kaca mata, obeng, palu, dan siku. Berikut adalah rincian dari proses perakitan:

Sebelum dilakukan perakitan, dilakukan proses fitting untuk menyesuai sambungan antar material

 Lakukan perakitan sesuai dengan gambar kerja

Perakitan dilakukan mulai dari main frame

Perakitan dilakukan dengan tage weld yaitu proses penyambungan awal dari sudut ke sudut

 Mempersiapkan dan mengecek kesiapan dari mesin las

 Memlilih kawat sesuai dengan ketebalan dan jenis pelat

Atur arus (ampere) mesin las sesuai dengan jenis kawat las yang digunakan

 Pembersihan pada bagian yang akan dilas

 Lakukan proses pengelasan

129

 Pengecekan final hasil pengelasan

Selanjutnya pemasangan penyusun permesinan pada main frame antara lain pemasangan gear, pemasangan main shaft, pemasangan komponen mesin, pemasangan gear cover dan lain-lain. Dibantu dengan kunci pas dan dikunci dengan bolt.

 Untuk beberapa bagian dilakukan pengelasan agar tersambung dengan

main frame.

Bersihkan hasil pengelasan dari spatter lalu di gerinda

Gambar V.24 Proses fabrikasi dan assembly

b. Painting

Pada tahap painting terdapat beberapa proses, diantaranya:

 Persiapan

Pada proses persiapan painting ini membutuhkan beberapa peralatan, diantaranya: masker, kaca mata, dan sarung tangan. Berikut adalah rincian dari proses persiapan painting:

 Menggunakan peralatan dengan benar

 Mempersiapkan permukaan produk yang akan dikerjakan

 Mempersiapkan peralatan pengecetan

 Pembersihan

Pada proses pembersihan painting ini membutuhkan beberapa peralatan, diantaranya: sarung tangan karet/kulit, brushing, mesin gerinda, sikat baja,

palu, thinner/solvent cleaner, majun, dan amplas. Berikut adalah rincian dari proses pembersihan painting:

Permukaan pelat dibersihkan dengan gerinda brushing atau sikat baja hingga rata. Untuk bagian-bagian tertentu yang sulit terjangkau gerinda, pembersihan dilakukan dengan menggunakan amplas

 Pembersihan dari minyak, air, dan kotoran lainnya dengan menggunakan thinner dan keringkan permukaannya dengan majun

 Untuk tingkat pembersihan yang sulit, seperti tingkat karat yang tinggi, sebaiknya menggunakan pembershan dengan bahan kimia, seperti:

rust remover, grease cleaning, atau H2O  Pengecatan

Pada proses painting ini membutuhkan beberapa peralatan, diantaranya: kompresor, Spray Gun, amplas, cat, epoxy, thinner, dan dempul. Berikut adalah rincian dari proses painting:

Primer Coat

Cat yang dipakai dalam pengecatan ini adalah wash primer yang merupakan cat dasar untuk melindungi permukaan logam agar tidak mudah terkorosi

Top Coat

Setelah kering, permukaan pelat digosok lagi menggunakan amplas dan majun. Lakukan pengecatan top coating tahap I secara merata. Proses pengeringan dilakukan ± 24 jam untuk hasil yang lebih maksimal. Setelah kering, baru dilakukan pengecatan top coating tahap II. Pengecatan akhir ini difungsikan sebagai cat pelindung paling luar, pengecatannya pun dilakukan

2 kali untuk menghasilkan warna dan daya kilap yang bagus dengan ketebalan ± 2 mikron.

131 c. Electrical & Mechanical

 Pemasangan komponen dan proteksinya

Pada proses ini dilakukan pemasangan komponen-komponen sistem kelistrikan dan komponen tambahan untuk permesinan dapat dilihat pada Gambar V.25. Contoh pemasangan komponen pada electric line hauler , yaitu: on/off switch, electric plugs, kabel listrik, dll. Berikut adalah rincian dari proses pemasangan komponen:

 Komponen yang menghasilkan panas yang lebih diletakkan pada bagian atas peralatan tangkap sehingga tidak menyebabkan panas pada komponen lainnya.

 Untuk kondisi tertentu penempatan komponen dapat dikonsultasikan dengan pemilik kapal

 Jarak antar komponen sesuai dengan rekomendasi dari pembuat komponen

 Penataan jalur kabel kelistrikan dan saluran cairan untuk permesinan hydrolik

 Komponen yang terbuka harus diberi pelindung dari sentuhan langsung

 Pemberian pelindung tidak boleh menghambat dalam proses operasi

 Pelindung konduktor/busbar menggunakan bahan non magnetik untuk menghindari panas dari efek arus eddy

 Koneksi sistem

Pada proses ini dilakukan koneksi pada setiap komponen yang terpasang agar dapat terintegrasi dengan baik sesuai dengan perencanaan. Berikut adalah rincian dari koneksi sistem:

 Sebelum melakukan koneksi sistem pastikan komponen-komponen yang akan dikoneksikan terpasang sesuai dengan perencanaan

 Luas penampang kabel harus disesuaikan dengan arus yang dialiri

 Kabel tidak boleh menyentuk konduktor aktif untuk menghindari kenaikan temperature

Gambar V.25 Persiapan komponen permesinan

4. Pengujian produk

Sebelum produk dikirim ke pihak owner, produk dioperasikan terlebih dahulu di pabrikan untuk memastikan koneksi sistem, mesin, penggulung dan lain-lain bekerja dengan baik. Pengujian dilakukan melalui 2 tahap yakni function & running test dan pulling test. Berikut penjelasan dari pengujian yang dilaksanakan :

a. Functiont & Running Test

Berikut adalah penjabaran dari function & running test:

 Jalankan mesin, pengecekan semua koneksi tiap komponen bekerja, tidak ada kebocoran, semua switch bekerja, brake untuk net drum dapat bekerja, dan lain-lain

 Pengecekan motor berputar dengan baik atau tidak tanpa ada hambatan

Pengecekan dengan menggunakan tali kawat pada drum dan line spool, apakah drum atau line spool dapat menggulung dengan baik atau tidak

 Perlakuan intermittent function testing, dimana produk dinyala-matikan dengan jeda beberapa waktu secara berulang-ulang.

133

b. Pulling test

Berikut adalah penjabaran dari pulling test :

Pengetesan dapat dilakukan outdoor atau indoor, usahakan lokasi yang luas agar pengetesan dapat menyerupai kondisi asli

 Persiapan pembebanan untuk pengujian, dimana bobotnya diusahakan sama seperti saat operasi penangkapan dilakukan.

 Jalankan mesin dan perhatikan apakah produk dapat bekerja dan menarik dengan baik dengan beban yang ditentukan

 Untuk mengetahui kemampuan tarikan dari produk, dapat dilakukan dengan menggunakan pull tester, test rig atau semacamnya

 Mesin dijalankan dan biarkan menarik hingga maksimum. Di layar digital akan muncul kapasitas tarik yang dimiliki produk tersebut.

5. Packaging

Produk yang telah dilakukan segala macam rangkaian pengujian dan sebagainya siap untuk dikirim ke pihak pembeli. Untuk menjaga agar kondisi tetap utuh selama pengiriman dilakukan, produk dikemas dengan pelindung baik dari kayu atau baja agar tidak lecet dan rusak.

6. Delivery & Instalation

Delivery dilakukan setelah produk menjalani serangkaian pengujian yang

dilakukan oleh maker, owner, dan badan klasifikasi. Serah terima produk dilakukan ditempat yang telah ditetapkan dalam kontrak. Serah terima dilaksanakan sesuai dalam jadwal pelaksanaan pekerjaan (time schedule) yang telah ditetapkan dalam kontrak. Apabila delivery tidak sesuai dengan kontrak, maka pihak maker berkewajiban membayar sanksi sesuai dengan yang telah disepakati oleh kedua belah pihak, yaitu pihak owner kapal dengan maker.

Selanjutnya instalasi pada kapal yang dituju. Bila pada kontrak disetujui hingga proses instalasi, maka pihak produsen harus menyediakan pekerjanya dalam instalasi produk pada kapal dan pembiayaan instalasi sudah termasuk dalam biaya yang ditentukan sebelumnya.

Dari alur produksi yang dijelaskan pada gambar V.21 dan breakdown material tiap produk pada sub bab V.1.2 dibentuk aliran material mentah (raw material) pada flow chart aliran material untuk mengetahui proses lebih detail dan perlakuan material untuk membentuk produk yang diinginkan. Berikut flow chart aliran material yang ditunjukkan pada gambar V.26

Gambar V.26 Flow Chart Aliran Material

Dari gambar V.26 dijelaskan untuk input material mentah berupa pelat diproses mulai dari

material preparation, marking, cutting bending & rolling (disesuaikan dengan bentuk frame

dari hauler), dan assembly sehingga terbentuk main frame dari tiap hauler. Selanjutnya penambahan input material beli berupa swivel pulley, pulley, dan lain-lain lalu diinstalasi dengan main frame dari hauler sehingga didapatkan produk berupa body part atau main frame akhir dari produk-produk hauler. Selanjutnya body part dikenakan proses pengecatan. Selanjutnya penambahan input permesinan hauler berupa electric motor, engine driven, gear,

135

shaft, dan lain-lain lalu diinstalasi dan dilakukan konfigurasi dari perlengkapan mesin yang

terinstalsi agar semua sistem terintegrasi. Selanjutnya dilakukan pengetesan produk untuk mengetahui apakah produk dapat berjalan sesuai dengan spesifikasi. Produk akhir hasil pengetesan telah siap dikirim dan diinstalasi di lokasi yang ditentukan.

Dalam dokumen TUGAS AKHIR -MN (Halaman 142-153)