• Tidak ada hasil yang ditemukan

E. Prosedur Pengangkatan Anak Warga Negara Indonesia Oleh Warga Negara Asing

2. Proses Pengangkatan Anak Warga Negara Indonesia Oleh Warga Negara Asing

Berdasarkan hasil pengamatan Mahkamah Agung Republik Indonesia menemukan fakta bahwa peraturan perundang-undang yang mengatur tentang prosedur , tata cara menerima, memeriksa, dan mengadili serta menyelesaikan permohonana pengangkatan anak dipandang belum mencukupi. Maka Mahkamah Agung sebagai lembaga tertinggi yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kekuasaan kehakimanan di Indonesia, memandang perlu mengeluarkan surat edaran yang menyempurnakan surat edaran sebelumnya yang mengatur prosedur dan syarat-syarat pengajuan permohonan pengangkatan anak.

Disamping hukum acara perdata yang berlaku, prosedur pengangkatan anak dan syarat-syarat pengangkatan anak secara teknis diatur dalam Surat Edaran Mahkamah Agung No 2 Tahun 1983 Tentang Penyempurnaan Surat Edaran Mahkamah Agung No 6 Tahun 1979 Tentang Pengangkatan Anak. Prosedur pengangkatan anak baik antara Warga Negara Indonesia ataupun antara Warga Negara Indonesia dengan Warga Negara Asing

a. Permohonan

1. Syarat dan bentuk permohonan pengangkatan anak warga negara asing a. Surat permohonan bersifat voluntair

b. Permohonan dilakukan secara lisan sesuai dengan hukum yang berlaku di pengadilan negeri atau permohonan secara tertulis

c. Permohonan pengangkatan anak hanya dapat diterima apabila ternyata telah ada urgensi yang memadai, misalnya ada ketentuan undang-undangnya

d. Surat permohonan pengangkatan anak dapat ditandatangani oleh pemohon sendiri atau oleh kuasa hukumnya

e. Dibubuhi materai yang secukupnya

f. Surat permohonan mengangkat anak ditujukan kepada ketua pengadilan negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat tinggal/domisili anak warga negara indonesia yang akan diangkat

2. Isi surat pengangkatan anak permohonan Warga Negara Asing

a. Bagian dasar hukum permohonan pangangkatan anak, harus secara jelas diuraikan motivasi yang mendorong niat untuk mengajukan permohonan pengangkatan anak

b. Harus diuraikan secara jelas bahwa permohonan pengangkatan anak, terutama didorong oleh motivasi untuk kebaikan dan/kepentingan calon anak angkat warga negara Indonesia yang bersangkutan dengan uraian yang memberikan kesan bahwa calon orangtua angkat benar-benar memiliki kemampuan dari berbagai aspek bagi masa depan anak angkat menjadi lebih baik

Isi petitum permohonan pengangkatan anak bersifat tunggal yaitu hanyalah memohon “agar anak bernama A ditetapkan sebagai anak angkat dari B” tanpa ditambahkan permintaan lain, seperti “agar anak bernama A ditetapkan sebagai Ahli waris dari si B”

selanjutnya syarat bagi perbuatan pengangkatan anak warga negara asing (inter country adoption) yang harus dipenuhi sebagai berikut:

1. Syarat calon orangtua angkat warga negara asing/pemohon, berlaku ketentuan sebagi berikut:

a. harus telah berdomisili dan bekerja tetap di Indonesia sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun

b. Harus disertai izin tertuis dari Menteri Sosial atau pejabat yang ditunjukkan bahwa calon orangtua angkat warga negara asing memperoleh izin untuk mengajukan permohonan pengangkatan anak seorang warga negara Indonesia

c. pengangkatan anak Warga Negara Indonesia harus dilakukan melalui suatu yayasan sosial yang memiliki izin dari Departemen Sosial bahwa yayasan tersebut telah diizinkan bergerak dibidang kegiatan pengangkatan anak warga negara indonesia yang langsung dilakukan anatara orangtua kandung warga negara Indonesia dengan orangtua angkat warga negara asing (private adoption) tidak diperbolehkan.

d. Pengangkatan anak Warga Negara Indonesia oleh Seorang Warga Negara Asing yang tidak terikat dalam perkawinan sah/belum menikah (single

parent adoption) tidak diperbolehkan

e. Calon orang tua angkat harus seagama dengan agama yang dianut oleh calon anak angka

2.Syarat bagi calon anak angkat warga negara asing yang diangkat

b. Disertai penjelasan tertulis dari menteri sosial atau pejabat yang ditunjuk bahwa calon anak angkat warga negara indonesia yang bersangkutan diizinkan untuk diangkat sebagai anak angkat oleh calon orangtua angkat warga negara asing yang bersangkutan

b. Pemeriksaan

Permohonan pengangkatan anak termasuk perkara voluntair. Proses pemeriksaan perkara voluntair berbeda denga perkara contentiosa, yakni bersifat sepihak (ex parte). Hanya keterangan dan bukti pemohon, dan tidak menerapkan asas mendengar kedua belah pihak (audi et alteram partem) atau asas memberi kesempatan yang sama (to give the same opportunity)

Pemeriksaan perkara permohonan pengangkatan anak yang bersifat voluntair tidak ada tahapan jawaban, replik, dan duplik. Pengadilan hanya mendengar keterangan pemohon dan/atau kuasa sehubungan dengan permohonan tersebut dan memeriksa bukti serta saksi yang diajukan pemohon.

1. Mendengar langsung

Pemeriksaan permohonan pengangkatan anak tidak hanya mendengar keterangan pemohon, tetapi mendengar pihak-pihak yang terkait sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Mahkamah Agung No 6 tahun 1983. Pengadilan Negeri dalam memeriksa perkara permohonan pengangkatan anak mendengar langsung:

a. Calon orang tua angkat Warga Negara Asing (suami isteri) dan orang tua kandung Warga Negara Indonesia

b. Badan/yayasan sosial yang telah mendapat izin dari departemen sosial /pejabat sosial setempat bergerak dibidang kegiatan pengangkatan tersebut.

c. Seorang petugas/pejabat instansi sosial setempat yang akan memberikan penjelasan tentang latar belakang kehidupan sosial ekonomi anak warga negara indonesia yang dimohonkan untuk diangkat oleh orang tua angkat warga negara asing

d. Calon anak angkat Warga Negara Indonesia kalau menurut umurnya sudah dapat berbicara

e. Petugas/pejabat imigrasi bilamana tidak ada pejabat imigrasi disuatu daerah, petugas/pejabat tertentu dari pemerintah daerah yang ditunjuk memberi penjelasan tentang status imgratur dari calon anak warga negara indonnesai dan/atau calonrga negara asing orangtua angkat warga negara asing

f. Pihak kepolisian setempat

2. Memeriksa Dan Meneliti Alat-Alat Bukti

Pengadilan negeri memeriksa dan meneliti alat-alat bukti lain yang dapat menjadi dasar permohonan ataupun pertimbangan putusan pengadilan anatara lain sebagai berikut:

1. Surat-surat resmi tentang kelahiran anak angkat Warga Negara Indonesia dan lain-lain

2. Akte kelahiran, akta kenal lahir yang ditandatangani oleh bupati atau walikota setempat

3. Akta-akta, surat resmi pejabat lainnya yang diperlukan (sura izin departemen sosial)

4. Akta notaris, surat-surat dibawah tangan (korespodensi-korespondensi) 5. Surat-surat keterangan. Laporan sosial, pertanyaan-pertanyaan

6. Surat keterangan dari kepolisian tentang clon orangtua angkat warga negara asing, termasuk bahwa calon orangtua WNA, tersebut telah berada dan bekerja tetap di Indonesia sekurang-kurangnya 3 tahun. Dan calon anak angkat Warga Negara Indonesia tersebut.

7. Surat-surat tentang pribadi calon orangtua angkat WNA mencakup: a. Surat nikah calon orangtua angkat

b. Surat lahir mereka

c. Surat keterangan kesehatan

d. Surat keterangan pekerjaan dan penghasilan calon orang tua angkat (suami istri)

e. Persetujuan atau izin untuk mengangkat anak/bayi indonesia dari instansi/lembaga sosial yang berwenang dari negara asal calon orang tua angkat wrga negara asing

f. Surat keterangan atas dasar penelitian social worker dari instansi/lembaga sosial yang berwenang dari negara asal calon orang tua angkat warga negara asing

g. Surat pernyataan calon orangtua angakat WNA bahwa mereka tetap berhubungan dengan departemen luar negeri/perwakilan republik indonesia setempat sungguhpun anak tersebut telah memperoleh kewarganegaraan oran tua angkat Warga Negara Asing nya.

Surat-surat resmi tentang pibadi orangtua angkat (poin 4 s/d 5) harus telah didaftarkan dan dilegalisir oleh Departemen Luar Negeri/Perwakilan Republik Indonesia negara asal calon orang tua angkat Warga Negara Asing tersebut

surat dari syarat-syarat bagi perbuatan pengangkatan anak orang WNA

3. Pengadilan Negeri mengarahkan Pemeriksaan Di Persidangan ;

a. Untuk memperoleh gambaran yang sebenarnya tentang latar belakang/motif dari pihak-pihak yang akan melepaskan anak angkat Warga Negara Indonesia, termasuk organisasi sosial/yayasan sosial dari mana anak angkat Warga Negara Indonesia tersebut berasal ataupun pihak orangtua angkat Warga Negara Asing

b. Untuk mengetahui seberapa jauh dan seberapa dalam kesungguhan, ketulusan dan kesadaran kedua belah pihak akan akibat-akibat dari perbuatan hukum melepas dan mengangkat anak tersebut, hakim menjelaskan hal-hal tersebut kepada kedua belah pihak

c. Untuk mengetahui keadaan ekonomi, keadaan rumah tangga (kerukunan, keserasian, kehidupan keluargaang terdekat ) serta cara mendidik dan mengasuh dari kedua calon orang tua angkat tersebut

a. Untuk menilai bagaimana tanggapan anggota keluarga yang terdekat (anak-anak yang telah besar) dari kedua orangtua angkat Warga Negara Asing tersebut

b. Untuk memperoleh keterangan dari pihak Departemen Luar Negeri, imigrasi, dan kepolisian setempat

Hal ini untuk menghindari menghindari agar penyelundupan legal terhadap ketentuan Pasal 2 Undang-Undang Kewarganegaraan dapat dihindarkan. Disini tampak adanya faktor-faktor hukum publik dan mungkin faktor-faktor keamanan negara.

Pengangkatan seorang anak Warga Negara Indonesia , oleh orang tua Warga Negara Asing diperlukan adanya jaminan dan kepastian yang meyakinkan bahwa hari kemudian dari anak yang diangkat lebih cerah daripada keadaan sekarang . agar diteliti bahwa calon anak angkat harus berumur 5 tahun. Disamping itu kepentingan martabat bangsa yang dirugikan karena pengangkatan anak tersebut. 4. Untuk Mengadakan Pemeriksaan Setempat Dimana Calon Anak Angkat Warga Negara Indonesia Itu Berada

Menurut SEMA No. 6 tahun 1983 Tentang Penyempurnaan SEMA No 2 Tahun 1979 mengenai pengangkatan anak memberikan petunjuk bahwa untuk permohonn pengangkatan anak (intercountry adoption) berupa “putusan” voluntair yang diktumnya berbunyi “ MENGADILI” dan sistematik kedua jenis permohonan tersebut serupa dengan sistematik putusan perkara gugatan perdata yang terdiri dari dua bagian yaitu: Tentang jalannya kejadian dan tentang pertimbangan hukum

c. Putusan terhadap permohonan-permohonan pengesahan pengangkatan anak Isi putusan dalam bagian “tentang jalannya kejadian agar secara lengkap dimuat pokok-pokok yang terjadi selama pemeriksaan dimuka sidang, dan dalam bagian “ tentang pertimbangan hukum” dipertimbangkan/diadakan penilaian tentang:

1. Motif yang mendasari/mendorong yang menjadi latar belakang mengapa disatu pihak ingin melepaskan anak, dilain pihak mengapa ingin mengadakan pengangkatan

2. Keadaan kehidupan ekonomi, kehidupan rumah tangga (apakah rumah tangga yang bersangkutan dalam keadaan harmonis) cara-cara pendidikan yang dilakukan oleh kedua belah pihak orang tua yang bersangkutan

3. Kesungguhan, ketulusan, serta kerelaan pihak yang melepaskan maupun kesadaraannya akibat-akibat yang menjadi bebannya setelah pengangkatan itu terjadi.

4. Kesungguhan, ketulusan serta kerelaan pihak yang mengankat maupun kesadaraannya akibat-akibat yang menjadi bebannya setelah pengangkatan itu terjadi.

5. Kesan-kesan yang diperoleh pengadilan tentang kemungkinan hari depan calon anak angkat Warga Negara Indonesia/Warga Negara Asing yang bersangkutan, terutama bila mana anak Warga Negara Indonesia diangkat orangtua angkat Warga Negara Asing dipahami anak tersebut akan lepas dari jangkauan pemerintah.

Amar putusan dalam pengangkatan anak Warga Negara Indonesia oleh orang tua angkat Warga Negara Asing berbunyi sebagai berikut:

MENGADILI

1. Menetapkan Anak Laki-Laki/perempuan

bernama...umur/tanggal lahir...di...sebagai anak angkat

dari suami istri...alamat...warga negara...

2. menghukum pemohon untuk membayar biaya perkara yang ditetapkan sebesar Rp...

Pengiriman salinan penetapan atau putusan pengangkatan anak ditentukan Surat Edaran Mahkamah Agung No 6 Tahun 1983 . Sebagai pedoman terbaru dalam Surat Edaran Mahkamah Agung no. 3 tahun 2005 bahwa dalam rangka pengawasan Mahkamah Agung maka setiap salinan putusan penangankatan anak agar dikirim kepada:

1. Mahkamah Agung Cq. Panitera Mahkamah Agung RI 2. Departemen Sosial

3. Departemen Hukum dan Hak Asasi manusia Cq. Direktorat Jendral Imigrasi 4. Departemen Luar Negeri

5. Departemen Kesehatan 6. Kejaksaan

Dalam rangka pengawasan dan perlindungan terhadap anak angkat, sudah sepatutnya apabila orang tua asal diberi salinan putusan atau penetapan, adapun dimaksud orang tua asal tersebut, bisa orangtua kandung, wali yang sah, dan organisasi sosial atau orang lain yang bertanggungjawab atas perawatan membesarkan anak tersebut sebelum dialihkan kekuasaannya kepada orangtua angkat selama dalam kekuasaan oragtua angkatnya. Apabila di kemudian hari terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang mengganggu atau mengancam kepentingan anak, salinan tersebut dijadikan dasar untuk mengajukan pencabutan kekuasaan orangtua angkat.

Adapun mengenai bimbingan dan pengawasan terhadap pelaksanaan pengangkatan anak menjadi tanggung jawab pemerintah dan masyarakat. Ketentuan mengenai bimbingan dan pengawasan ini akan diatur dalam peraturan pemerintah sebagaimana telah diamanatkan dalam Pasal 41 UU No 23 tahun 2003 Dalam Peraturan pemerintah Republik Indonesia No. 54 Tahun 2007 Tentang Pelaksaan Pengangkatan Anak menyerahkan pengawasan pelaksanaan adopsi kepada pemerintah dan masyarakat. Tetapi pengawasan pasca adopsi sangatlah kurang.

Pasal 32 menyatakan bahwa “ Pengawasan dilaksanakan agar tidak

terjadi penyimpangan atau pelanggaran dalam pengangkatan anak”

Pasal 33 Menyatakan bahwa ”Pengawasan dilaksanakan Untuk;

mencegah pengangkatan anak yang tidak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, mengurangi kasus-kasus penyimpangan atau pelanggaran pengangkatan anak, memantau pelaksanaan anak”

Pasal 34 menyatakan bahwa “pengawasan dilaksankan kepada: orang

perseorangan, lembaga pengasuhan, rumah sakit bersalin, praktek-praktek kebidanan, panti sosial pengasuhan anak”.

Pasal 35 menyatakan bahwa “pengawasan terhadap pelaksanaan

pengangkatan anak dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat”

Pasal 36 menyatakan bahwa “Pengawasan oleh pemerintah sebagaiman

dimaksud Pasal 35 dilakukan oleh Departemen Sosial”

Pasal 37 menyatakan bahwa “Pengawasan oleh masyarakat sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 35 dilakukan oleh: orang perorangan, keluarga, kelompok, lembaga pengasuhan anaka, dan lembaga perlindungan anak”

Pasal 38 menyatakan bahwa “(1) dalam hal terjadi atau diduga terjadi

penyimpangan atau pelanggaran terhadap pelaksaan pengangkatan anak, masyarakat dapat melakukan pengaduan kepada aparat penegak hukum dan/atau Komosi Perlindungan Anak Indonesia, Instansi sosila setempat atau Menteri, (2) Pengaduan diajukan secara tertulis disertai dengan identitas diri pengadu dan data awal tentang adanya dugaan penyimpangan atau pelanggaran”

Di Indonesia ada 7 organisasi Sosial yang mendapatkan izin dari Departemen Sosial untuk melakukan pengangkatan anak. Yayasan itu adalah 30

1. Yayasan Sayap Ibu di Jakarta dan Jogjakarta

:

2. Yayasan Tiara Putra di Jakarta

30

http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20090109035558AAwvJWv 6

3. Yayasan Asuhan Bunda di Bandung dan Batam

4. Yayasan Pemeliharaan Anak dan Bayi di Surakarta, Jawa Tengah 5. Yayasan Bala Keselamatan Matahari Terbit di Surabaya untuk

adopsi Lintas Negara

6. Yayasan Kesejahteraan Ibu dan Anak di Kalimantan 7. Yayasan Pembinaan Asuhan Bunda di Riau Cabang Batam

Ketujuh yayasan tersebut diatas diakui oleh pemerintah sebagai organisasi sosial yang dapat melakukan pengangkatan anak. Apabila ada organisasi sosial lainnya diluar ketujuh organisasi dimaksud maka pengangkatan anak tersebut dapat dibatalkan melalui permohonan Departemen Sosial ke Pengadilan Negeri.

Dalam hal agar hubungan si anak tidak terputus sama sekali dengan orang tua biologisnya, Mahkamah Agung Menghimbau hakim-hakim yang mengeluarkan penetapan tentang pengangkatan anak alias adopsi untuk memperhatikan kelengkapan administrasi, khususnya akta kelahiran anak. Sebelum mengabulkan permohonana adopsi, hakim harus memastikan bahwa kata kelahiran anak sudah lengkap. Hal ini tertuang dalam Surat Edaran Mahkamah Agung No. 2 Tahun 2009 tentang Kewajiban Melengkapi Permohonan Pengangkatan Anak dengan Akta kelahiran. Surat Edaran Mahkamah Agung tersebut tetap merujuk pada Surat Edaran Mahkamah Agung terdahuku yang mengatur hal serupa, yaitu Surat Edaran Mahkamah Agung No. Tahun 1979 dan Surat Edaran Mahkamah Agung No. 6 Tahun 1983. Selain itu, Mahkamah Agung merujuk pada perundang-udangan terbaru yaitu, Undang-undang No 23 Tentang

Administrasi Kependudukan, dan peraturan teknisnya, Perpres No. 25 Tahun 2008 Tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Catatan sipil31.

Dokumen terkait