• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

A. Hasil Penelitian

1. Proses Pengembangan

Proses pengembangan terdiri dari 5 langkah penelitian, yaitu (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, dan (5) revisi desain. Langkah-langkah tersebut diadopsi dari 10 langkah penelitian dan pengembangan milik Sugiyono.

a. Potensi dan Masalah

Penelitian dan pengembangan ini berawal dari adanya potensi dan masalah. Potensi yang peneliti lihat adalah pengenalan makanan tradisional sebagai upaya pelestarian salah satu aset budaya dapat dilakukan melalui sebuah buku ensiklopedi yang sesuai untuk siswa SD. Sedangkan masalah yang peneliti temui yaitu belum ada buku ensiklopedi yang membahas mengenai makanan tradisional. Buku ensiklopedi yang tersedia di perpustakaan secara bentuk atau desain kurang menarik sehingga

sering diabaikan oleh siswa. Buku ensiklopedi yang tersedia di perpustakaan antara lain buku ensiklopedi tumbuhan, hewan, tata surya, dan berbagai penemuan-penemuan.

Memperkenalkan makanan tradisional dalam bentuk buku ensiklopedi kepada siswa SD adalah salah satu cara yang tepat untuk melestarikan makanan tradisional yang keberadaannya mulai tergeser oleh makanan cepat saji (fast food). Makanan cepat saji secara tampilan lebih menarik dan cara pembuatannya yang cepat, membuat makanan ini semakin diminati oleh semua kalangan. Bila keadaan ini terus berlangsung, maka makanan tradisional akan semakin langka dan secara perlahan dapat menghilang. Oleh karena itu perlu adanya pemahanan mengenai makanan tradisional secara dini, sehingga dapat menumbuhkembangkan kecintaan terhadap makanan tradisional. Dengan demikian kelak siswa akan dapat melestarikan makanan tradisional daerah.

Berdasarkan pembahasan dalam jurnal yang berjudul

“Pembuatan Buku Makanan Tradisional Surabaya Sebagai Upaya Pelestarian Produk Lokal” karya Aziz, Bahruddin dan Eliazer,

peneliti mempunyai keyakinan bahwa memilih buku ensiklopedi adalah media yang tepat sebagai sarana pengenalan makanan tradisional kepada siswa SD. Jurnal tersebut menjelaskan bahwa buku adalah media cetak yang dapat berperan mendidik untuk semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Buku

merupakan sumber ilmu dan sumber pembangun watak bangsa. Selain itu, buku juga dapat dijadikan sebagai sarana informasi untuk memahami sesuatu dengan mudah. Buku yang digunakan oleh siswa SD sebaiknya memiliki komposisi lebih dominan pada gambar, sehingga akan lebih mudah dipahami.

b. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan kuesioner. Wawancara dilakukan untuk mendapatkan data mengenai ketersediaan buku ensiklopedi di perpustakaan SD, penggunaan buku ensiklopedi, dan tema maupun bentuk buku ensiklopedi yang cocok untuk siswa. Kuesioner dilakukan untuk mendapatkan data mengenai jenis buku yang sering dibaca, pengetahuan tentang buku ensiklopedi, jenis makanan yang disukai, pengetahuan tentang makanan tradisional, dan pendapat tentang buku ensiklopedi makanan tradisional.

Wawancara dilakukan pada hari Kamis, 3 Desember 2015 di SDN Petinggen dengan narasumber 2 guru (guru kelas IVA dan VA) dan 6 orang siswa yang dipilih secara acak (3 siswa kelas IVA dan 3 siswa kelas VA). Data yang diperoleh kemudian direduksi sesuai dengan yang dibutuhkan dan selanjutnya ditarik sebuah kesimpulan.

Berdasarkan narasumbernya, hasil wawancara dapat disimpulkan kedalam 2 kategori, yaitu guru dan siswa.

1. Guru

Guru menyadari di perpustakaan SD tersedia banyak buku ensiklopedi, namun guru kurang mengetahui secara mendetail mengenai judul buku ensiklopedi. Secara keseluruhan, buku ensiklopedi yang terdapat di perpustakaan membahas mengenai tema sains.

Guru kelas IVA mengatakan sebagai berikut:

“Di perpustakaan SD tersedia banyak sekali buku

ensiklopedi mas, namun untuk judulnya saya kurang begitu mengetahui secara pasti, yang saya tahu banyak buku

ensiklopedi mengenai sains”.

Jawaban tersebut hampir identik dengan jawaban yang diberikan oleh guru kelas VA.

Guru kelas VA mengatakan:

“Tersedia banyak sekali buku ensiklopedi di perpustakaan

SD mas, ada mengenai tumbuhan, hewan, tata surya, bumi, air, berbagai penemuan-penemuan, dan mungkin masih banyak lagi judul yang lain”.

Ketersediaan buku ensiklopedi tersebut belum mampu didayagunakan secara optimal oleh guru. Guru kelas IVA belum mempergunakan buku ensiklopedi sebagai sarana penunjang dalam pembelajaran. Beliau hanya meminta siswa untuk sering membaca buku ensiklopedi di perpustakaan. Namun berbeda

dengan guru kelas VA, beliau sudah pernah mempergunakan buku ensiklopedi sebagai salah satu sumber belajar bagi siswa.

Guru memilih tema makanan tradisional untuk dikembangkan sebagai tema buku ensiklopedi. Selain untuk pengenalan makanan tradisional, kedua guru belum menjumpai adanya buku ensiklopedi yang membahas tema tersebut, sehingga akan menjadi sebuah tema yang menarik. Menurut narasumber (guru), pembahasan dalam buku ensiklopedi difokuskan pada beberapa makanan yang terdapat di satu propinsi, sehingga informasi yang diberikan dapat lebih mendalam. Gambar dalam buku ensiklopedi disarankan menggunakan variasi gambar nyata/foto dan kartun, sehingga secara tampilan akan lebih menarik.

2. Siswa

Pemahaman siswa mengenai buku ensiklopedi tergolong cukup baik, 4 di antara 6 siswa sudah mengenal bahkan sering membaca buku ensiklopedi. Adapun 2 siswa yang tidak sering membaca buku ensiklopedi memberikan alasan sebagai berikut:

“Buku ensiklopedi yang ada di perpustakaan kurang

menarik mas, bentuk bukunya kebesaran”.

“Buku ensiklopedi yang ada di perpustakaan banyak

tulisan, dan kata-katanya susah dimengerti.”

Sebanyak 4 siswa memilih tema makanan tradisional untuk pengembangan buku ensiklopedi, karena mereka ingin

mengetahui sejarah dari makanan tradisional, sedangkan 2 siswa ragu-ragu dan tidak memilih tema apapun.

Semua siswa sepakat jika pembahasan dalam buku ensiklopedi cukup beberapa saja, karena menurut mereka akan lebih fokus sehingga informasi mudah untuk dicermati. Pengembangan buku ensiklopedi menurut siswa akan menarik jika memadukan gambar nyata/foto dan kartun dengan ukuran buku yang tidak terlalu besar (sebesar ukuran buku tulis, 17cm x 21cm) dan ukuran huruf sedang/dapat terbaca jelas.

Pengumpulan data yang kedua yaitu kuesioner. Peneliti menyebarkan kuesioner di SDN Petinggen pada hari Kamis, 3 Desember 2015 dengan responden kelas IVA dan VA yang berjumlah 58 siswa. Kelas IVA berjumlah 29 siswa dan kelas VA 29 siswa. Lembar kuesioner berisikan 10 pertanyaan yang sudah dilengkapi dengan pilihan jawaban. Berikut ini adalah tabel hasil rekapitulasi kuesioner.

Tabel 4.1 Hasil Rekapitulasi Kuesioner No Pertanyaan Jumlah siswa yang memilih dari 58 siswa Presentase 1 Buku apakah yang sering kamu baca?

a. Buku cerita fiksi 3 5,2% b. Buku cerita komik 48 82,8% c. Buku ensiklopedi 7 12% 2 Apakah kamu mengetahui buku yang termasuk buku ensiklopedi?

a. Ya 16 27,6%

b. Tidak 42 72,4%

3 Apa guna buku ensiklopedi?

a. Menambah wawasan 29 50% b. Mencari hiburan 1 1,7%

c. Tidak tahu 28 48,3%

4 Makanan apakah yang kamu sukai? a. Makanan cepat saji (contoh:

burger, mie instan, pizza)

36 62,1% b. Makanan tradisional (contoh:

gudheg, geplak, thiwul)

22 37,9% 5 Bagaimana pendapatmu tentang makanan tradisional?

a. Makanan tradisional itu enak/memiliki cita rasa yang khas

53 91,4%

b. Makanan tradisional itu tidak enak

3 5,2%

c. Makanan tradisional itu ketinggalan jaman

2 3,4%

6 Apakah kamu tahu makanan tradisional di DIY?

a. Tahu (lebih dari 5) 14 24,1% b. Hanya mengetahui beberapa

saja (minimal 5)

36 62,1% c. Tidak tahu sama sekali 8 13,8% 7 Bagaimana perasaanmu jika melihat makanan tradisional daerah

mulai tergantikan dengan makanan cepat saji/modern?

a. Sedih 5 8,6%

b. Kecewa 17 29,3%

c. Biasa saja 26 44,8%

d. Senang 10 17,3%

8 Apakah kamu pernah menemui buku ensiklopedi makanan teradisional daerah?

b. Pernah tapi lupa (ragu-ragu) 18 31%

c. Pernah 10 17,3%

9 Apa yang kamu lakukan jika suatu hari nanti ada buku ensiklopedi yang membahas tentang makanan tradisional daerah?

a. Tertarik untuk membaca 37 63,8%

b. Biasa saja 18 31%

c. Tidak tertarik sama sekali 3 5,2% 10

Komponen apa yang harus ada dalam buku ensiklopedi makanan daerah, supaya kamu tertarik untuk membaca/mempelajarinya? (bisa pilih lebih dari satu)

a. Diberi gambar nyata (foto) makanan

38 65,5% b. Tidak perlu ada gambar 5 8,6% c. Deskripsi (filosofi/asal usul)

makanan

35 60,3% d. Bahan-bahan makanan 28 48,3% e. Cara membuat makanan 33 56,9% f. daerah dimana makanan itu

berasal

40 68,9%

Berdasarkan data dalam kuesioner terlihat bahwa banyak siswa yang menyukai jenis makanan cepat saji (fast food), yaitu sebesar 62,1% dan hanya 37,9% yang menyukai makanan tradisional. Adapun tingkat pengetahuan siswa mengenai makanan tradisional daerah juga masih kurang, yaitu hanya 24,1% yang mengetahui lebih dari 5 jenis makanan tradisional yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebanyak 75,9% siswa hanya mengetahui beberapa (5 jenis makanan tradisional) dan tidak tahu. Siswa juga terlihat biasa-biasa saja jika makanan tradisional tergantikan oleh makanan cepat saji (fast food), hal ini dapat dilihat dari data yang menunjukkan bahwa 44,8% biasa saja, siswa yang sedih dan kecewa hanya 37,9%, dan 17,3% malah senang. Data

kuesioner juga memperlihatkan bahwa siswa lebih sering membaca buku komik dan fiksi, yaitu sebesar 88% dan hanya 12% yang sering membaca buku ensiklopedi.

Dalam melakukan penyebaran kuesioner peneliti juga melakukan pendekatan personal kepada siswa yang menyukai makanan cepat saji (fast food), hal tersebut dilakukan karena peneliti ingin mengetahui alasan siswa menyukai makanan tersebut. Ada sedikitnya 10 siswa beralasan jika makanan cepat saji (fast food) lebih terjangkau atau mudah didapatkan karena tersedia di dekat/berada di sekitar mereka, cara memasak yang cepat membuat mereka tidak perlu menunggu lama, dan bentuk/tampilan makanan cepat saji sangat menarik sehingga siswa selalu tertarik untuk mengkonsumsinya. Sedangkan alasan siswa sering membaca buku komik dan fiksi yaitu karena buku tersebut secara tampilan lebih menarik, terdapat banyak gambar, dan secara isi lebih mudah dipahami. Hal itu berbeda dengan buku ensiklopedi, menurut siswa buku ensiklopedi yang tersedia secara bentuk kurang nyaman saat dipegang (terlalu besar), secara desain kurang menarik, dan secara isi cukup sulit dipahami.

Berbagai data yang diperoleh, digunakan oleh peneliti sebagai dasar dalam mendesain buku ensiklopedi makanan tradisional, sehingga secara bentuk akan nyaman saat digunakan, menarik, dan isinya sesuai dengan tingkat pemahaman siswa.

Dengan membaca buku ensiklopedi makanan tradisional diharapkan siswa mendapat pemahaman mengenai makanan tradisional, menumbuhkan kecintaannya, dan kelak dapat melestarikan makanan tradisional.

c. Desain Produk

Berdasarkan potensi dan masalah yang ada serta akumulasi informasi dari pengumpulan data, maka peneliti dapat mendesain sebuah produk yang berupa buku ensiklopedi makanan tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta bagian II. Buku ensiklopedi ini merupakan sub judul/bagian dari buku ensiklopedi makanan tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta, hasil kerjasama dengan peneliti lain. Buku ensiklopedi makanan Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta membahas 5 makanan tradisional yang ada di setiap kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta. Nama kabupaten dan nama makanan tradisional disusun berdasarkan abjad, sehingga disepakati bahwa ensiklopedi makanan tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta Bagian I meliputi Bantul, Gunungkidul, dan Kota Yogyakarta, sedangkan Bagian II meliputi Kulonprogo dan Sleman Buku ensiklopedi makanan tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki ukuran 17cm x 21cm. Ukuran tersebut dipilih peneliti karena didasari dari jawaban siswa saat dilakukan wawancara. Sampul buku ensiklopedi berwarna merah terdapat 5

siswa-siswi SD berpakaian merah putih berdiri membawa salah satu makanan tradisional yang menjadi ikon dari kelima kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta. Di belakang kelima siswa terdapat tugu putih yang menjadi identitas Daerah Istimewa Yogyakarta. Sampul tersebut didesain dalam bentuk kartun sehingga secara tampilan akan menarik. Produk ini berisi kata pengantar, petunjuk penggunaan buku, daftar isi, peta DIY, peta letak makanan tradisional berasal di setiap kabupaten, gambar nyata/foto makanan tradisional, dan daftar pustaka. Peneliti tidak mencantumkan daftar foto karena foto yang terdapat dalam buku ensiklopedi adalah foto dokumentasi pribadi peneliti.

Buku ensiklopedi makanan tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta Bagian II menguraikan pembahasan mengenai makanan tradisional yang ada di Kabupaten Kulonprogo dan Sleman. Makanan tradisional di Kulonprogo meliputi Gebleg, Growol, Jenang Madu Sirat, Keripik Red Devil/Crispy ikan, Tempe Benguk, dan di Kabupaten Sleman meliputi Dhodhol Salak, Jadah Tempe, Keripik Belut, Legandha, Slondhok Renteng. Makanan tersebut diambil berdasarkan rekomendasi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan di daerah setempat. Makanan tersebut di rekomendasikan karena keberadaan makanan tersebut mulai jarang ditemukan, padahal makanan tersebut merupakan makanan yang menjadi ciri khas kabupaten.

Buku ensiklopedi ini dilengkapi dengan gambar nyata/foto dan penjelasan mengenai asal usul, bahan, cara pembuatan, bentuk dan penyajian. Gambar nyata diambil peneliti langsung ke daerah atau tempat makanan tradisional tersebut berada, sehingga selain mendapatkan gambar yang asli peneliti juga memperoleh informasi dari pembuat maupun orang yang berkecimpung di bidang makanan tradisional secara lebih mendalam. Gambar dan informasi yang diperoleh kemudian dikombinasikan dan disusun dengan tata letak yang menarik. Informasi yang diberikan merupakan penjabaran yang singkat dan jelas dengan menggunakan kata sederhana, sehingga buku ensiklopedi ini mudah dipahami oleh semua pembaca, khususnya siswa SD.

d. Validasi Desain

Validasi desain merupakan proses kegiatan untuk menilai kelayakan desain produk yang dibuat peneliti. Dalam hal ini peneliti mengajukan draf produk yang telah dibuat untuk mendapatkan penilaian mengenai beberapa aspek. Aspek penilaian meliputi kenyamanan, kelengkapan komponen, konsistensi susunan, kesesuaian bahasa, dan isi. Validasi dilakukan dengan menghadirkan guru, orang-orang yang berkecimpung dalam bidang multikultur, dan siswa yang berkompeten untuk menilai produk yang dirancang peneliti. Validasi pertama dilakukan oleh guru SD

yang mengampu kelas V. Validasi kedua dilakukan oleh 2 orang dosen, 1 dosen PGSD dan 1 dosen Ilmu Sejarah yang berpengalaman dan berkecimpung dalam bidang multikultur. Validasi yang ketiga dilakukan oleh 3 orang siswa SD (1 siswa kelas IV dan 2 siswa kelas V).

Validasi menggunakan skala 1-4 yang mengadaptasi skala Likert. Skor tersebut kemudian dikonversi menjadi data kualitatif dengan acuan sebagai berikut (Widoyoko, 2015:238):

Tabel 4.2 Konversi Data Kuantitatif ke Data Kualitatif Skala Lima

Interval Rerata Skor Kategori

X > ̅̅̅ + 1,80 Sbi ˃ 4,2 Sangat Baik

̅̅̅ + 0,60 Sbi < X < ̅̅̅ + 1,80 Sbi 3,4 < X 4,2 Baik

̅̅̅ – 0,60 Sbi < X < ̅̅̅ + 0,60 Sbi 2,6 < X 3,4 Cukup Baik

̅̅̅ –1,80 Sbi < X < ̅̅̅ – 0,60 Sbi 1,8 < X 2,6 Kurang Baik X < ̅̅̅ – 1,80 Sbi 1,8 Sangat Kurang Baik

Keterangan :

Rerata ideal ( ̅̅̅ ) : (skor maksimal ideal + skor minimal ideal)

Simpangan baku ideal (Sbi) : (skor maksimal ideal - skor minimal ideal)

X : Skor aktual

Pada perhitungan, konversi nilai menggunakan 5 kategori yaitu (1) sangat kurang, (2) kurang, (3) cukup, (4) baik, (5) sangat

baik. Konversi tersebut dapat digunakan pada skala skor 1-5, namun skala skor yang digunakan peneliti adalah 1-4, maka perhitungannya adalah sebagai berikut:

Skor maksimal ideal : 4 Skor minimal ideal : 1

Rerata ideal ( ̅̅̅) : (skor maksimal ideal + skor minimal ideal)

:

Simpangan baku ideal (Sbi) : (skor maksimal ideal - skor minimal ideal)

:

Skor kategori sangat baik = X > ̅̅̅ + 1,80 Sbi = X > 2,5 + (1,80 x 0,5) = X > 2,5 + 0,9

= X > 3,4

Skor kategori baik = ̅̅̅ + 0,60 Sbi < X < ̅̅̅ + 1,80 Sbi = 2,5 + (0,60 x 0,5) < X < 2,5 + (1,80

x 0,5)

= 2,5 + 0,3 < X < 2,5 + 0,9 = 2,8 < X < 3,4

Skor kategori cukup baik = ̅̅̅ – 0,60 Sbi < X < ̅̅̅ + 0,60 Sbi = 2,5 – (0,06 x 0,5) < X < 2,5 + (0,06

x 0,5)

= 2,5 – 0,3 < X < 2,5 + 0,3 = 2,2 < X < 2,8

Skor kategori kurang baik = ̅̅̅ – 1,80 Sbi < X < ̅̅̅ – 0,60 Sbi = 2,5 – (1,80 x 0,5) < X < 2,5 – (0,60

x 0,5)

= 2,5 – 0,9 < X < 2,5 – 0,3 = 1,6 < X < 2,2

Skor kategori sangat kurang = X < ̅̅̅ – 1,80 Sbi = X < 2,5 – (1,80 x 0,5) = X < 2,5 – 0,9

= X < 1,6

Berdasarkan perhitungan sebelumnya, diperoleh konversi data kuantitatif menjadi kualitatif sebagai berikut:

Tabel 4.3 Konversi data kuantitatif ke kualitatif

Interval Skor Kriteria

X > 3,4 Sangat Baik 2,8 < X < 3,4 Baik 2,2 < X < 2,8 Cukup Baik 1,6 < X < 2,2 Kurang Baik X < 1,6 Sangat Kurang

1. Validasi Desain Produk Pertama

Validasi dilakukan oleh seorang guru kelas V di SDN Ngento, pada hari Rabu, 12 April 2016. Beliau adalah orang yang berkompeten dalam bidang guru atau tenaga pendidik. Beliau telah menjadi guru selama kurang lebih 24 tahun. Berikut hasil rekapitulasi validasi yang beliau lakukan.

Tabel 4.4 Hasil Rekapitulasi Validasi Pertama

No Aspek Pernyataan

Guru SD Rata-rata skor setiap

Aspek Skor Saran

1 Kenyamanan Ukuran buku saat digunakan 4 -

3,7 Ukuran tulisan untuk dibaca 3 -

Gambar terlihat jelas 4 - 2 Kelengkapan

Komponen

Terdapat kata pengantar 3 -

3,7 Terdapat daftar isi 4 -

Terdapat daftar pustaka 4 - 3 Konsitensi

Susunan

Konsistensi antara isi dengan

gambar 4 -

4 Konsistensi urutan penjelas

informasi 4 -

4 Kesesuaian Bahasa

Penggunaan bahasa sesuai

dengan usia anak 4 - 4 5 Isi Pengembangan ensiklopedi

makanan tradisional daerah mencakup 2 kabupaten di DIY (Kulonprogo dan Sleman)

4 -

3,5 Pengembangan ensiklopedi

berisi deskripsi makanan tradisional pada 2 kabupaten di DIY (Kulonprogo dan Sleman)

3 -

Jumlah Skor 41 -

Rata-rata Skor 3,7

Dari hasil validasi yang dilakukan oleh guru, menunjukkan bahwa draf produk yang dibuat berada dalam kriteria sangat

baik yaitu 3,7 (X > 3,4). Hanya saja masih lemah dalam aspek isi, yaitu memperoleh skor rata-rata 3,5.

2. Validasi Desain Produk Kedua

Validasi yang kedua dilakukan oleh 2 orang dosen, yang terdiri dari 1 dosen PGSD dan 1 dosen Ilmu Sejarah. Validator tersebut adalah orang-orang yang berkecimpung dalam bidang multikultur. Validasi dilakukan pada hari Selasa, 13 April 2016 oleh dosen PGSD dan pada hari Kamis, 21 april 2016 oleh Dosen Ilmu Sejarah. Berikut tabel hasil rekapitulasi validasi kedua.

Tabel 4.5 Hasil Rekapitulasi Validasi Kedua

No Aspek Pernyataan

Dosen I Dosen II Rata-rata skor setiap

Aspek Skor Saran Skor Saran

1 Kenyamanan Ukuran buku

saat digunakan 4 - 4 - 3,8 Ukuran tulisan untuk dibaca 3 Judul, sub judul dan warna huruf perlu diperbesar dan disesuaikan 4 - Gambar terlihat jelas 4 - 4 - 2 Kelengkapan Komponen Terdapat kata pengantar 4 - 4 - 4 Terdapat daftar isi 4 - 4 - Terdapat daftar pustaka 4 - 4 -

3 Konsistensi Susunan Konsistensi antara isi dengan gambar 4 - 4 - 3,7 Konsistensi urutan penjelas informasi 4 - 3 - 4 Kesesuaian Bahasa Penggunaan bahasa sesuai dengan usia anak 3 Gunakan aturan baku dalam penulisan Bahasa Jawa 3 - 3 5 Isi Pengembangan ensiklopedi makanan tradisional daerah mencakup 2 kabupaten di DIY (Kulonprogo dan Sleman) 4 - 3 - 3,5 Pengembangan ensiklopedi berisi deskripsi makanan tradisional pada 2 kabupaten di DIY (Kulonprogo dan Sleman) 4 - 3 - Jumlah Skor 42 40 - Rata-rata Skor 3,7

Hasil validasi menunjukkan bahwa desain produk sangat baik, yaitu memperoleh skor 3,7 (X > 3,4). Hanya saja dalam aspek kesesuaian bahasa mendapat skor rata-rata yang rendah yaitu 3, hal itu dikarenakan masih terdapat kesalahan dalam penulisan istilah Bahasa Jawa. Skor rata-rata tertinggi diperoleh dalam aspek kelengkapan komponen, yaitu dengan skor 4.

3. Validasi Desain Produk Ketiga

Validasi desain produk yang ketiga dilakukan oleh siswa SD kelas atas. Untuk mendapatkan hasil yang valid, peneliti menghadirkan 3 orang siswa, 1 siswa kelas IV dan 2 siswa kelas V SD. Validasi dilakukan oleh 2 siswa SD kelas V pada hari Kamis, 14 April 2016 dan siswa kelas IV pada hari Sabtu, 16 April 2016. Berikut hasil rekapitulasi validasi yang dilakukan oleh siswa.

Tabel 4.6 Hasil Rekapitulasi Validasi Ketiga

Aspek Pernyataan Siswa Kelas IV Siswa Kelas V (a) Siswa Kelas V (b) Rata-rata Skor Setiap Aspek Skor Saran Skor Saran Skor Saran

Kenyamanan Ukuran buku saat

digunakan 4 - 4 - 4 -

3,9 Ukuran tulisan untuk

dibaca 3 - 4 - 4 -

Gambar terlihat jelas 4 - 4 - 4 - Kelengkapan

Komponen

Terdapat kata

pengantar 4 - 4 - 4 -

4 Terdapat daftar isi 4 - 4 - 4 -

Terdapat daftar

pustaka 4 - 4 - 4 -

Konsistensi Susunan

Konsistensi antara isi

dengan gambar 4 - 4 - 4 - 4 Konsistensi urutan penjelas informasi 4 - 4 - 4 - Kesesuaian Bahasa Penggunaan bahasa sesuai dengan usia anak 4 - 3 - 3 - 3,3 Isi Pengembangan ensiklopedi makanan tradisional daerah mencakup 2 kabupaten di DIY 4 - 4 - 4 - 4

(Kulonprogo dan Sleman) Pengembangan ensiklopedi berisi deskripsi makanan tradisional pada 2 kabupaten di DIY (Kulonprogo dan Sleman) 4 - 4 - 4 - Jumlah Skor 43 43 43 - Rata-rata Skor 3,9

Hasil validasi ketiga menunjukkan bahwa desain yang dibuat peneliti dalam kriteria sangat baik (X > 3,4) yaitu sebesar 3,9. Aspek kelengkapan komponen, konsistensi susunan, dan isi mendapat nilai sempurna yaitu 4. Skor rata-rata terendah yaitu 3,3 pada aspek kesesuaian bahasa.

Berikut tabel hasil rata-rata validasi dari guru, orang yang berkecimpung dalam bidang multikultur, dan siswa.

Tabel 4.7 Hasil Rata-rata Validasi

No Aspek Validator Rata- rata Guru Bidang multikultur Siswa 1 Kenyamanan 3,7 3,8 3,9 3,8 2 Kelengkapan Komponen 3,7 4 4 3,9 3 Konsistensi Susunan 4 3,7 4 3,9 4 Kesesuaian Bahasa 4 3 3,3 3,4 5 Isi 3,5 3,5 4 3,7 Jumlah 18.9 18 19.2 - Jumlah keseluruhan 56,1 Rata-rata 3,7

Berdasarkan hasil validasi, komponen draf produk yang dibuat peneliti dinyatakan sudah lengkap, dan susunannya sudah konsisiten yaitu ditunjukkan dengan memperoleh skor rata-rata 3,9. Namun, dalam aspek kesesuaian bahasa masih memerlukan perbaikan karena hanya mendapat rata-rata 3,4. Perbaikan dalam aspek kesesuaian bahasa yaitu dalam penggunaan istilah yang kurang dimengerti anak, misalnya paceklik dan dipilin. Perbaikan juga dilakukan terhadap bentuk dan warna tulisan yang kurang sesuai sehingga susah untuk dibaca siswa SD, dan perbaikan pada tata tulis aturan baku. Dalam hal tata tulis aturan baku, kata yang berasal dari bahasa asing/bahasa Jawa harus ditulis miring, misalnya jenang madu sirat. Jenang madu sirat adalah makanan tradisional dan namanya asli dari bahasa Jawa maka cara penulisannya harus ditulis secara miring, yaitu jenang madu sirat.

Secara keseluruhan draf produk yang dibuat peneliti sudah dalam kriteria sangat baik yaitu mendapat skor rata-rata 3,7 (X > 3,4). Dengan demikian draf produk yang dibuat peneliti layak digunakan.

e. Revisi Desain

Revisi desain dilakukan dengan memperbaiki draf produk berdasarkan komentar yang diberikan oleh validator. Revisi

dilakukan dengan tujuan agar desain produk yang dibuat menjadi produk yang sempurna dan berdayaguna secara optimal. Revisi dilakukan pada aspek kesesuaian bahasa, hal itu terlihat dari skor yang diperoleh yaitu hanya 3,4. Semua komentar dari validator merupakan masukan pada aspek kesesuain bahasa.

Berikut tabel penjabaran komentar dari validator beserta revisi yang dilakukan oleh peneliti.

Tabel 4.8 Komentar Validator Beserta Revisi yang Telah Dilakukan

No Validator Komentar Revisi

1 Dosen Kualitas gambar dan tata letak bagus sekali. Tata tulis dan bahasa perlu memperhatikan aturan baku.

Peneliti memperbaiki tata tulis dan mengubah beberapa kata agar sesuai dengan aturan baku.

Bahasa/penggunaan istilah disesuaikan usia anak. 2 Guru Secara keseluruhan sudah

bagus, hanya judul dan sub judul pada kabupaten Kulonprogo kurang jelas karena perpaduan warna yang mengaburkan tulisan.

Peneliti memperbaiki dengan mengganti warna tulisan pada judul dan sub judul Kulonprogo sehingga dapat terbaca dengan jelas. 3 Siswa Ada kata yang tidak

dimengerti (paceklik).

Peneliti memberikan penjelasan tambahan pada kata yang kurang dipahami,

Dokumen terkait