BAB III METODOLOGI PENELITIAN
4.5. Proses Pengolahan Pertambangan Emas Tradisional
Penambangan emas tradisional di Desa Banua Rakyat telah berkembang selama 5 tahun terakhir. Kegiatan proses penambangan emas diawali dengan penggalian batuan yang diperkirakan mengandung emas. Penggalian batuan
dilakukan didaerah perbukitan di Desa Banua Rakyat dengan membuat lobang atau terowongan. Bantuan-batuan tersebut dibungkus dalam karung hingga penuh.
Kemudian, batuan tersebut dibawa untuk diolah di Desa Banua Rakyat.
Proses Pengolahan dimulai dengan penghancuran batuan. Batuan dihancurkan sampai berbentuk kerikil kecil berukuran kira-kira 1-2 cm.
Selanjutnya setelah batuan tersebut berbentuk kerikil, dimasukkan ke dalam karung. Pengolahan emas menggunakan teknik amalgamasi. Pertama-tama gelundung (mesin penghancur batu mengandung emas) dibuka tutupnya.
Masukkan air, batuan kerikil, dan merkuri. Di dalam gelundung terdapat 3-5 batang besi untuk menghidupkan gelundung. Proses untuk menghancurkan batuan tersebut berlagsung selama 4-5 jam.
Setelah 4-5 jam, mesin gelundung dimatikan dan tutup gelundung dibuka.
Hasil pengolahan terdiri dari air buangan yang mengandung merkuri, lumpr, sisa batuan yang tidak hancur sempurna, dan amalgam (ikatan emas-perak dan merkuri). Air buangan dan lumpur akan dialirkan kelubang penampungan, sementara sisa batuan yang tidak hancur sempurna ditampung untuk diolah kembali. Kemudian dilakukan penyaringan untuk memisahkan merkuri dengan amalgam. Penyaringan dilakukan dengan pemerasan menggunakan kain parasut.
Kemudian amalgam dan merkuri akan terpisah. Merkuri akan digunakan kembali untuk pengolahan berikutnya. Sementara amalgam akan dibakar untuk menguapkan merkuri sehingga tertinggal emas dengan konsentrasi tertentu.
Proses pengolahan emas di Indonesia biasanya menggunakan teknik amalgamasi, yaitu dengan mencampur bijih dengan merkuri untuk membentuk
amalgam dengan media air dalam tabung yang disebut gelundung, Selanjutnya emas dipisahkan dengan proses penggarangan sampai didapatkan logam paduan emas dan perak (bullion).
Proses pengolahan emas dengan metode amalgamasi ini merupakan salah satu penyebab pencemaran merkuri. Proses amalgamasi dilakukan dengan pengikatan logam emas dari bijih tersebut dengan menggunakan merkuri (Hg) dalam tabung yang disebut gelundung (amalgamator). Gelundung selain berfungsi sebagai tempat proses amalgamasi juga berperan dalam mereduksi ukuran butir bijih dari yang kasar menjadi lebih halus. Hasil amalgamasi selanjutnya dilakukan pencucian dan pendulangan untuk memisahkan amalgam dari ampas (tailing). Amalgam yang diperoleh diproses melalui pembakaran (penggerobosan) untuk memperoleh perpaduan logam emas perak (bullion).
Ada 3 jenis limbah utama emas. Pertama adalah batuan limbah yaitu batuan permukaan atas yang dikupas untuk mendapatkan batuah bijih atau batuan yang mengandung emas. Selanjutnya ada tailing bijih emas yang sudah diambil emasnya menggunakan merkuri dan tailing berbentuk lumpur yang mengandung logam berat.
Untuk penanganan limbah (tailing) penambangan emas tradisional dapat diusahakan dengan:
Air limbah dari proses pemisahan emas diperlukan proses pengolahan sebelum dibuang ke lingkungan. Salah satu rangkaian proses sederhana yang diperlukan untuk penurunan kadar merkuri adalah berupa proses koagulasi,
sedimentasi, dan filtrasi. Menurut Supriadi (2010), dari rangkaian proses tersebut dapat menurunkan kadar merkuri sebesar 20-90 %.
Menggunakan bioabsorber, secara teknis dapat dilakukan dengan membuat embung/waduk kecil sebelum pembungan akhir (badan air). Embung tersebut harus dijadikan sebagai muara buangan air limbah pertambangan rakyat sehingga terkonsentrasi pada satu tempat. Pada embung tersebut ditumbuhkan eceng gondonk yang akan mengadopsi logam berat yang terlarut didalamnya. Sebagai pengolahan akhir sebelum dibuang ke pembuangan air dapat digunakan saringan karbon aktif untuk mengadsorbsi kandungan sisa yang belum dapat diikat/diabsorbsi oleh eceng gondok.
Banua Rakyat Kecamatan Naga Juang Kabupaten Mandailing Natal Desa Banua Rakyat merupakan salah satu desa di Kecamatan Naga Juang Kabupaten Mandailing Natal yang sebahagian besar mata pencaharian penduduknya sehari-hari menambang emas dengan cara tradisional, dengan adanya penambangan emas tradisional di desa Banua Rakyat ini memberi lapangan pekerjaaan bagi masyarakat sekitar dan meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Namun disamping memeberi dampak positif berupa meningkatnya perekonomian, penambangan emas tradisional juga memberi dampak negatif, yaitu diperkirakan tercemarnya sumber air minum dan air bersih di Desa Banua Rakyat karena lokasi pengolahan penambangan emas tradisional tersebut terletak disekitar permukiman masyarakat setempat.
5.1.1 Kandungan Merkuri Pada Bak Penampungan Pengolahan Pertambangan Emas Tradisional di Desa Banua Rakyat Kecamatan Naga Juang Kabupaten Mandailing Natal
Pemeriksaan dilaboratorium terhadap kadar merkuri (Hg) pada sampel pembuangan air limbah pengolahan emas tradisional sangat tinggi yaitu 0,014 mg/I sedangkan ambang batas yang diperbolehkan yaitu 0,002 mg/I.
Adapun penyebab tingginya kandungan merkuri didalam bak penampungan pengolahan pertambangan emas tradisional adalah dikarenakan bak penampungan tersebut difungsikan untuk tempat pengendapan cairan merkuri
yang telah bergabung dengan limbah yang di hasilkan oleh pertambangan tersebut sebelum dibuang ke lingkungan atau ke badan air.
Air limbah dari proses pemisahan emas diperlukan proses pengolahan sebelum dibuang ke lingkungan. Salah satu rangkaian proses sederhana yang diperlukan untuk penurunan kadar merkuri adalah berupa proses koagulasi, sedimentasi, dan filtrasi. Menurut Supriadi (2010), dari rangkaian proses tersebut dapat menurunkan kadar merkuri sebesar 20-90 %.
5.1.2 Kandungan Merkuri (Hg) Pada Air Sumur Gali Masyarakat di Desa Banua Rakyat Kecamatan Naga Juang Kabupaten Mandailing Natal
Pemeriksaan dilaboratorium terhadap kadar merkuri (Hg) pada air sumur masyarakat di Desa Banua Rakyat sudah melewati ambang batas yaitu 0,02 mg/I, sedangkan nilai ambang batas yang di perbolehkan yaitu 0,001 mg/I.
Pengambilan sampel yang dilakukan pada air sumur gali masyarakat mulai dari jarak 10-100 meter sudah tidak memenuhi syarat berdasarkan permenkes No.416 Tahun 1990 tentang pengolahan kualitas air dan pengendalian pencemaran air, sedangkan sampel pada pembuangan air limbah dengan jarak pengambilan sampel dari pengolahan emas tradisional yaitu 20 meter dan hasil menunjukkan kandungan merkurinya sangat tinggi menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No.5 tahun 2014 tentang pengolahan kualitas air dan pengendalian pencemaran air tidak memenuhi syarat untuk dibuang ke lingkungan atau dibuang ke badan air.
Nilai ambang batas (NAB) kadar merkuri berdasarkan Permenkes.
No.416 tahun 1990 yaitu 0,001 mg/I, maka air sumur masyarakat Desa Banua
Rakyat Kecamatan Naga Juang Kabupaten Mandailing Natal Tidak layak dikonsumsi karena melewati ambang batas.
5.1.3 Karakteristik Sumur Gali Masyarakat
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jarak dari lokasi pengolahan pertambangan emas tradisional menentukan tingkat konsentrasi (Hg) yang terakumulasi dari dalam air sumur, dimana semakin lebih tinggi pula konsentrasinya jika dibandingkan dengan lokasi yang berada jauh dari tempat pengolahan pertambangan emas tradisional.
Di Desa Banua Rakyat terdapat tanah jenis lanau (debu) yang memiliki pori-pori tanah sedang dan permeabilitas yang sedang. Ini merupakan merkuri yang mengalir didalam tanah sebagian akan tertahan ditanah, sihingga tidak semua merkuri akan merembes ke dalam air sumur masyarakat.
Tanah yang didominasi pasir akan banyak mempunyai pori-pori makro (besar), tanah yang didominasi debu (lanau) akan banyak mempunyai pori-pori meso (sedang), dan yang didominasi liat akan banyak mempunyai pori-pori mikro (kecil). Tanah lanau adalah butiran penyusunan tanah yang berukuran diantara pasir dan liat (Wikipedia).
Dominasi fraksi debu ditanah akan menyebabkan terbentuknya pori-pori meso (sedang) sihingga cakupannya cukup luas dan menghasilkan daya serap terhadap air yang cukup kuat. Hal ini menyebabkan air dan udara cukup mudah masuk dan keluar tanah, dan sebagian air akan tertahan. Tanah berjenis lanau memiliki permeabilitas (kemmapuan tanah untuk dapat dilalui air) yang sedang, yaitu memiliki daya serap 2,0-6,5 cm/jam. Artinya, dalam 1 jam kedalaman
serapan air ditanah yaitu 2,0-6,5 cm. Kemiringan tanah juga berpengaruh terhadap pengendapan kadar merkuri didalam air, kemiringan yang cukup besar akan mengakibatkan terjadinya aliran air turbulen, sedangkan aliran yang kecil akan mengakibatkan aliran sungai menjadi lumier. Jenis aliran akan berpengaruh terhadap proses pengendapan merkuri pada air, aliran air yang cenderung datar dan rendahnya kecepatan aliran sungai akan mngakibatkan lumpur dan sedimen.
Salah satu yang mempengaruhi kualitas air sumur adalah jarak terhadap sumber pencemar. Pencemaran sumur gali dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah kondisi geografis, hidrogeologi, topografi tanah, musim, aliran air tanah dan kontruksi bangunan fisik sumur gali. Jarak sumber pencemaran bahan kimia terhadap air sumur yang diperbolehkan adalah 200 meter. Di Desa Banua Rakyat masih ada sebagian sumur masyarakat yang jaraknya <200 meter dari lokasi pengolahan emas tradisional. Tetapi air sumur warga masih dalam batas aman untuk dipergunakan untuk keperluan sehari-hari. Hal ini disebabkan seluruh sumur memiliki dinding yang berbahan beton yang kedap air sedalam 3 meter sehingga mengurangi pencemaran terhadap air bersih. Dinding sumur gali yang memenuhi persyaratan sanitasi adalah dinding sumur yang berbahan kedap air, tujuannya sebagai proteksi/pelindung terhadap bakteri-bakteri patogen maupun non-patogen yang ada didalam tanah, sehingga kualitas air dapat terjaga dan tidak tercemar.
Secara ilmiah, merkuri ada didalam tanah karena adanya kegiatan gunung berapi dan pelapukan batuan. Apabila merkuri tersebut masuk ke dalam sumber air secara ilmiah, tidak akan menimbulkan efek merugikan karena masih dapat
ditolerir oleh alam (Palar, 2008). Namun karena adanya penambangan emas tradisional yang membuang limbah merkuri, maka akan memperkuat adanya pencemaran merkuri tersebut terhadap air sumur masyarakat.
Dalam peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 23 Tahun 2008 Tentang Pedoman Teknis Pencegahan Pencemaran Atau Kerusakan Lingkungan Hidup Akibat Penambangan Emas Rakyat., disebutkan bahwa kegiatan penambangan harus membatasi laju pembukuan lahan. Namun kenyataannya pengolahan penambangan emas tradisional sudah berada ditengah-tengah pemukiman warga, bahkan dipekarangan rumah warga. Hal ini menyebabkan pencemaran air tanah yang merupakan sumber air yang digunakan masyarakat.
Metil-metil merupakan bentuk merkuri yang paling beracun. Dalam WHO (1989), disebutkan bahwa merkuri didalam umunya terdapat sebagai metilmerkuri, yaitu bentuk senyawa organic dengan daya racun tinggi dan sukar terurai dibandingkan zat asalnya. Pada tragedi Minamata di Jepang, Industri Kimia Chisso menggunakan merkuri khlorida (HgCI2) sebagai katalisator dalam memperoduksi asetaldehid sintesis dimana setiap memproduksi satu ton asetaldehid menghasilkan limbah antara 30-100 gram merkuri dalam bentuk metal merkuri yang dibuang ke Teluk Minamata. Sehingga ikan yang berada dalam perairan tersebut mengandung 27-102 ppm, sedangkan batasan kandungan merkuri maksimum pada ikan menurut Food ang Drug Administration (FDA) adalah 0,5 ppm. Limbah logam berat yang dibuang ke perairan laut, sering bersifat kronis (subletal) dan tidak menyebabkan kematian biota laut secara
langsung. Pengaruh toksisitas kronis jarang terpantau oleh manusia, karena pengarah baru muncul setelah beberapa tahun kemudian. Menurut Food and Drug Administration (FDA), kadar total merkuri di alam secara normal adalah 20-625
ppb.
5.2 Keluhan Kesehatan Masyarakat di Desa Banua Rakyat
Berdasarkan wawancara yang peneliti lakukan pada 35 kepala keluarga (KK) di Desa Banua Rakyat diperoleh data bahwa seluruh kepada keluarga tidak ada yang merasakan keluhan kesehatan yang diakibatkan oleh penggunaan sumber air tersebut. Air yang dipergunakan /dikomsumsi oleh masyarakat sehari-hari sudah tidak aman dan melewati nilai ambang batas yang telah ditetapkan oleh PERMENKES RI No. 28 Tahun 2001. Penambangan emas tradisional yang berkembang di Desa Banua Rakyat lebih kurang sekitar 6 tahun, jika penambangan emas tradisional ini berjalan dalam waktu ± 10 tahun, besar kemungkinan akan berdampak terhadap kesehatan masyarakat di Desa Banua Rakyat Kecamatan Naga Juang Kabupaten Mandailing Natal. Keracunan yang disebabkan oleh merkuri ini umumnya berawal dari kebiasaan memakan makanan dari laut atau sungai seperti ikan,udang dan tiram.
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang diperbolehkan dan pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Penambangan emas tradisional di Desa Banua Rakyat menggunakan teknik amalgamasi.
2. Kandungan merkuri (Hg) pada bak penampungan air limbah pengolahan pertambangan emas tradisional adalah 0,14 mg/I.
3. Kandungan merkuri (Hg) pada air sumur gali masyarakat Desa Banua Rakyat memenuhi syarat menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No.5 Tahun 2014 dengan baku mutu 0,002 mg/I. Kandungan merkuri terendah adalah 0,01 mg/I dan kandungan merkuri tertinggi pada sampel air sumur 3 yaitu 0,009 mg/I.
4. Air sumur yang dikonsumsi masyarakat Desa Banua Rakyat tidak layak di konsumsi karena melewati baku mutu yang ditetapkan oleh Permenkes No.
416 Tahun 1990.
6.2. Saran
1. Kepada para penambang emas yang beroperasi disekitar pemukiman masyarakat, agar mengindahkan peraturan/UU yang telah ditetapkan oleh pemerintah agar masyarakat desa Banua Rakyat sehat dan sejahtera.
2. Kepada pemerintah Kabupaten Mandailing Natal diharapkan agar melakukan pemantauan aktifitas penambangan emas tradisional, dan melakukan penyuluhan kepada para penambang agar melakaukan pengolahan terlebih dahulu sebelum membuang limbah yang mengandung merkuri ke lingkungan ataupun kebadan air.
3. Kepada para penambang emas yang beroperasi disekitar permukiman masyarakat dan yang jaraknya dekat kebadan air agar membuat bak penampungan air limbah minimalnya 1 bak penampungan sebelum dibuang kelingkungan atau kebadan air untuk mengurangi kandungan merkuri (Hg) didalam limbah yang dihasilkan pengolahan pertambangan emas tersebut.
4. Kepada para penambang emas yang beroperasi disekitar pemukiman masyarakat, agar memperhatikan jarak pengolahan emas tradisional terhadap pemukiman masyarakat minimal jaraknya 200 meter agar mengurangi kontaminasi dari air limbah seperti merkuri (Hg) yangg dihasilkan oleh pertambangan tersebut yang nantinya biasa mencemari air sumur gali masyarakat tersebut.
5. Saat ini air sumur gali sudah tidak layak dikonsumsi oleh masyarakat Desa
6. Memberi masukan kepada peneliti selanjutnya untuk melakukan pemeriksaan
terhadap akumulasi merkuri pada penambang dan masyarakat sekitar
penambangan emas tradisional.
Arikunto,S.2009. Manajemen penelitian.Jakarta.Penerbit:Rineka Cipta Arya,W.W.2001. Dampak pencemaran Lingkingan. Yogyakarta.Penerbit
Ependi,H.2003.Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan.Penerbit Kamisius.Yogyakarta.
Gabriel, J. F. 2001. Fisika Lingkungan. Cetakan Pertama. Jakarta : Penerbit.
Hipokrates
Harvany Boky, J. M. L. Umboh. B. Ratag. Jurnal Perbedaan Kandungan Merkuri (Hg) Air Sumur Gali Berdasarkan Jarak Dari Sumber Pencemaran di Mustofa Saddam Tugas Akhir mengenai Analisis kandungan merkuri air
sumur gali masyarakat pada penambangan emas tradisional Desa Saba Padang Kecamatan Hutabargot Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2013.
Notoatmojo.2007. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya.
Jakarta.PT Rineka Cipta
Palar, H, 2008. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat.Jakarta. Rineka.cipta Permenkes RI no.82 tahun 2001.Tentang Pengolahan kualitas air Dan
pengendalian pencemaran.
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No.5 Tahun 2014 tersebut, disebutkan baku mutu air limbah berdasarkan jenis industrinya.
Rianto,S.,Setiani,O.,Budiono.2012.Jurnal kesehatan lingkungan Indonesia vol,11 no.1.2012.4141-887.Di akses tanggal 12 januari.
Robert J. Kodoatie, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air. Penerbit, : Andi.
Cetakan, : Ke – 1
Setiabudi, B. T. 2005. Jurnal Penyearan Merkuri Akibat Usaha Pertambangan Emas di Daerah Sangon, Kabupaten Kulon Progo D.I.Yogyakatra. di akses tgl 10 Februari 2015
Siswoyo, E.2011. Pengolahan Air limbah Laboratorium dengan Menggunakan Sistem Kombinasi Adsopsi dan Fitoremediasi Yogyakarta:Tesis Universitas Gajah Mada,Diakses pada tanggal 25-April-2015.
Soemirat Slamet, Juli.2009.Kesehatan Lingkungan.Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
Susanto, J. P. 2005. Jurnal Analisis Deskripsi Pencemaran Air Sumur Pada Daerah Industri Pengecoran Logam. Pusat pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan, Diakses pada tanggal 13 Januari 2015.
Sutrisno,T.2004.Teknologi Penyediaan Air Bersih.Rineka Cipta.Jakarta.
Wardana, Wisnu. 2001. Dampak pencemaran lingkungan.Yogyakarta. Penerbit Andi.
Widowati.2008.Efek Toksik Logam Pencegahan dan Penanggulangan.
Penerbit.Andi Yogyakarta.
2. Bacalah setiap item pertanyaan dengan teliti
3. Berilah tanda ( √ ) sesuai dengan pengetahuan anda
4. Bapak Ibu/Saudara di harapkan bersedia menjawab semua pertanyaan yang ada
B. Data Umum1. Nama Responden :
2. Umur : Thn 3. Jenis kelamin :
4. Penghasilan : 5. Pendidikan terakhir :
a. Tidak sekolah/Tidak tamat SD b. Pendidikan Dasar (SD-SLTP) c. Pendidikan menengah (SLTA) d. Perguruan Tinggi
C. Data Khusus
1. Apakah anda menggunakan Air sumur gali untuk keperluan memasak ?
( ) Ya ( ) Tidak
2. Apakah Anda menggunakan Air sumur gali untuk keperluan sehari-hari ?
( ) Ya ( ) Tidak
3. Sudah berapa lama anda menggunakan air sumur gali untuk kebutuhan sehari-hari ?
a. Di bawah 1 Tahun b. Di atas 1 Thn
5. Jika ada perubahan seperti yang di poin pertanyaan no 5 sejak kapan anda rasakan ?
a. Setelah ada Pertambangan b. Sebelum ada Pertambangan 6. Apakah anda mengetahui bagaimana cara untuk meminimalisir kandungan merkuri dalam air sumur gali yang anda pergunakan ?
( ) Ya ( ) Tidak
7. Apakah anda mempunyai mesin penggiling batu emas / galundung ?
( ) Ya ( ) Tidak
8. Jika ada sudah berapa lama mesin galundung anda beroperasi ?
a. Di bawah 1 Thn b. Di atas 1 Thn
9. Apakah anda mengetahui dampak terhadap kesehatan apabila limbah Pertambangan Tradisional tidak diolah dengan berwawasan lingkungan ?
( ) Ya ( ) Tidak
10. Sudah pernahkah warga mengalami keluhan seperti dalam tabel ini ?
No Keluhan yang di rasakan Ya Tidak1.
Kulita. Kulit menjadi merah b. Gatal-gatal
2
Sarafa. kesemutan
b. gemetaran pada tangan dan kaki
3
Ginjala. sering buang air kecil b. susah buang air besar 4
Saluran Cernaa. gusi bengkak b. mual
c. muntah
11. Sudah berapa lama anda mengalami keluhan-keluhan tersebut ? a. 5 bln c. 13 – 18 bln
b. 6 -12 bln d. 24 bln
12. Kalau anda sudah pernah berobat, apakah gejala penyakit tersebut masih anda rasakan selama menggunakan air sumur gali tersebut ?
( ) Ya ( ) Tidak
13.Setelah sembuh apakah anda menggunakan air sumur lagi untuk keperluan sehari-hari ?
( ) Ya ( ) Tidak
2 Irwansyah 1 1 1 1 1
1 Darwan 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 70 Cukup 1 2 50
33 Asler 5 5 5 5 5 0 5 5 0 5 5 5 0 5 55 Kurang 1 1 31
34 Samsuddin 5 0 5 5 0 0 5 5 5 0 5 5 5 0 40 Kurang 1 1 22
35 Sahroni 5 5 5 0 5 5 5 5 5 5 5 5 0 0 50 Kurang 1 1 18
Keterangan: