Penyulingan daun cengkeh dilakukan dengan metode distilasi kukus (steam distillation). Proses distilasi kukus adalah ekstraksi minyak atsiri dari bahan bakunya yang diletakkan pada suatu pelat berlubang atau sarangan (screen plate), dengan uap (steam) yang dihasilkan dari boiler yang letaknya terpisah dari ketel. Uap dari boiler dialirkan ke dalam ketel dengan tekanan yang secara gradual meningkat. Peningkatan tekanan ini dilakukan untuk mengefisiensikan ekstraksi semua minyak dalam sel-sel daun. Proses dengan tekanan gradual ini dapat meningkatkan hasil tambahan sekitar 1-2% lebih tinggi dibandingkan dengan cara konvensional yang menggunakan tekanan atmosfer.
Ekstraksi minyak atsiri terjadi dalam fase uap yang kemuadian dikondensasikan melalui kumparan pipa dengan memanfaatkan sistem pendinginan kolam secara counter-current, yaitu jalur pipa uap berlawanan arah dengan jalur air pendingin. Setelah melalui kondensasi, proses selanjutnya ialah pemisahan antara minyak atsiri dan air kondensat melalui alat pemisah minyak dengan sistem pengendapan (skema distilasi kukus disajikan pada Gambar 2). Keunggulan proses distilasi kukus ini dibanding metode distilasi lainnya (distilasi air dan distilasi air dan kukus) adalah aroma yang dihasilkan akan lebih kuat (strong oil) dengan kadar eugenol yang lebih tinggi dibanding metode distilasi lainnya (I; MBUKSW 2014). Penyulingan dilakukan selama 6 jam dan estimasi waktu untuk penyiapan bahan dan alat penyulingan selama 2 jam sehingga total waktu satu siklus produksi ialah 8 jam.
12
Gambar 2 Skema Distilasi Kukus
4. Pengemasan
Proses pengemasan dilakukan dengan memasukkan langsung minyak hasil penyulingan ke dalam jerigen-jerigen HDPE berwarna berukuran 25 L yang dapat menampung 20 kg minyak daun cengkeh. Pemilihan kemasan primer ini dilakukan agar produk mudah didistribusikan dan minimasi risiko melalui ekspedisi jalur laut. Dalam proses ini perlu lebih berhati-hati karena tingginya kemungkinan loss massa akibat tercecer atau tumpah.
Neraca Massa
Neraca massa berguna untuk mengetahui besaran input dan output yang dibutuhkan dan dihasilkan dalam satu rangkaian proses (satu siklus). Perhitungan neraca massa ini juga dapat digunakan untuk merekayasa kebutuhan bahan baku dalam mencapai target produksi yang diinginkan. Basis yang digunakan dalam perhitungan ini ialah 1 ton daun cengkeh kering, neraca massa penyulingan daun cengkeh kering dapat dilihat pada Lampiran 1.
Dengan asumsi rendemen 2,8% untuk bahan baku di daerah Maluku (Mirna 1989) serta kebutuhan air boiler setara dengan input bahan baku, minyak daun cengkeh yang dihasilkan sebanyak 28 kg. Ampas daun cengkeh sebagai residu dapat dimanfaatkan kembali uuntuk pembakaran boiler sedangkan air kondensat minyak cengkeh harus diolah kembali agar aman untuk dibuang ke lingkungan.
Kebutuhan Mesin dan Peralatan
Kebutuhan peralatan yang digunakan untuk proses produksi minyak daun cengkeh dapat dilihat pada Tabel 5 dan Gambar 3.
Tabel 5 Mesin dan Peralatan Penyulingan Minyak Daun Cengkeh
Mesin/Peralatan Unit Spesifikasi
Ketel Suling 4 Kapasitas 250 kg daun, tipe bejana vertikal, bahan stainless steel, D: 100 cm, H: 150 cm, pengukur tekanan: presure gage 6 kg/cm2.
Boiler 1 Tabung vertikal, sistem pipa api modifikasi, bahan
bakar padatan (ampas daun/kayu bakar), material besi, D: 175 cm, H: 100 cm, volume 2.400 L.
Pemisah Minyak 4 Tipe tabung vertikal, material stainless steel, D: 39 cm, H: 35 cm, volume total: 45 L.
Kondensor 4 Tipe spiral kondensor (direndam dalam kolam
pendingin), material pipa stainless steel, D pipa 2 in, panjang total pipa 42 m.
Keterangan: 1. Material suling
2. Campuran uap air dan minyak atsiri 3. Pasokan kukus atau steam
4. Kumparan pendingin
5. Kondensor
6. Air pendingin masuk 7. Air pendingin keluar 8. Minyak atsiri 9. Distilat air
13
Gambar 3 Peralatan penyulingan: (a) Boiler pipa api (b) Ketel suling (c) Kumparan kondensor
Lokai Pabrik
Lokasi pabrik minyak daun cengkeh ialah di Kecamatan Jailolo yang memiliki luas lahan cengkeh terbesar di Kabupaten Halmahera Barat, yaitu 60% dari keseluruhan lahan. Kecamatan ini memenuhi kriteria yang dibutuhkan untuk menjalankan pabrik seperti kedekatan dengan bahan baku, kedekatan dengan sumber air, aksesibilitas transportasi dan distribusi, keamanan, serta infrastruktur. Profesi masyarakat sekitar didominasi oleh nelayan kecil dan buruh tani yang hanya bekerja saat panen raya cengkeh sehingga dengan adanya pabrik penyulingan ini masyarakat juga dapat berperan aktif dan dapat meningkatkan perekonomian mereka dengan cara menjual hasil pengumpulan daun cengkeh gugur secara tim. Lokasi bangunan bersebelahan dengan sungai sehingga dapat memenuhi kebutuhan bahan baku air untuk pembakaran boiler. Lokasi ini juga dekat dengan jalan utama yang menghubungkan Halmahera Utara dan Halmahera Selatan.
Kebutuhan Luas Ruangan
Kebutuhan luas ruangan pada pabrik minyak daun cengkeh ini terdiri dari ruang produksi dan ruang non produksi. Ruang produksi berfungsi sebagai tempat melakukan proses pengolahan bahan baku menjadi produk sedangkan ruangan non produksi adalah ruangan yang berfungsi untuk kegiatan-kegiatan selain kegiatan produksi yang mendukung kegiatan produksi tersebut. Berikut ini beberapa ruangan yang dibutuhkan dalam pembuatan usaha minyak daun cengkeh :
A. Ruangan Non-Produksi 1. Ruangan Kantor
Bangunan kantor yang terdiri dari ruang kantor utama dan ruang rapat, Ruangan tersebut digunakan untuk aktivitas non produksi yang mengurus manajemen perusahaan termasuk administrasi. Ruang kantor ini berukuran 16 m2 (4x4 m) yang cukup untuk meletakkan meja, kursi, dan perangkat kebutuhan rapat lainnya.
2. Mushola dan Toilet
Ruangan ini berfungsi sebagai tempat ibadah umat islam yang dominan di Indonesia khususnya di kabupaten ini dan juga toilet sebagai prasarana wajib. Luas ruangan ini sebesar 14 m2 (3,5x4 m).
14
3. Area Parkir dan Halaman
Area ini berfungsi sebagai jalur bongkar muat produk-produk yang akan didistribusikan. Area parkir ini diasumsikan seluas 38,5 m2 (7x5,5 m).
B. Ruangan Produksi 1. Ruangan Penerimaan
Ruangan ini berfungsi untuk menerima pasokan bahan baku dan tempat penyimpanan sementara daun cengkeh kering. Luas ruang penerimaan diasumsikan 8 m2 (4x2 m) dengan adanya lorong untuk mobilitas.
2. Green House Penjemuran dan Penyimpanan Sementara
Bangunan ini tepat bersebelahan dengan bangunan pabrik yang berfungsi sebagai tempat penjemuran daun cengkeh saat musim penghujan. Green house
ini direncanakan sebesar 38 m2 (19x2 m) yang terbagi dua oleh lorong untuk mobilitas pekerja.
3. Ruangan Proses
Ruangan ini berfungsi sebagai inti pabrik, yaitu tempat berlangsungnya proses penyulingan dan pemisahan minyak hingga produk dikemas dalam jerigen-jerigen berukuran 25 L yang cukup untuk 20 kg minyak. Kebutuhan luas ruang proses sebesar 58,08 m2 yang direncanakan 7,5x8 m. Rincian perhitungan disajikan di Lampiran 2.
4. Ruangan Penyimpanan Produk
Ruangan ini berfungsi sebagai tempat pemberhentian terakhir dari produk yang telah diporses. Penyimpanan produk ini berdekatan dengan ruangan proses dan parkir agar memudahkan dalam distribusi produk. Distribusi produk dilakukan seminggu sekali, sehingga terdapat 336 kg minyak yang disimpan yang setara dengan 17 jerigen dengan asumsi 20 kg minyak/jerigen. Luas per satuan jerigen 0,4x0,4 m, sehingga luas kebutuhan penyimpanan produk sebesar 4 m2 dengan kelonggaran 150%.
5. Area Pengolahan Limbah
Area ini berfungsi sebagai tempat pengolahan limbah cair dari hasil samping produksi minyak hingga hasil akhirnya aman untuk dibuang ke sungai. Kolam pengolahan limbah diasumsikan sebesar 6 m2 (4x1,5 m) yang disekat untuk pengolahan primer dan sekunder. Total kebutuhan luas ruang ini dengan adanya ruang untuk operator dan kelonggaran sebesar 23,8 m2 (6x4 m). 6. Ruang Boiler dan Pengolahan Air Umpan
Ruang ini berfungsi sebagai ruang utilitas, penyedia daya, baik itu steam
maupun air yang sebelumnya telah diolah sesuai standar baku air umpan. Total kebutuhan kedua ruangan ini sebesar 15,61 m2 (8x8 m).
Berdasarkan perhitungan kebutuhan luas ruangan keseluruhan, baik itu ruang produksi maupun ruang non-produksi, total kebutuhan luas ruang untuk pabrik minyak daun cengkeh yaitu sebesar 216,04 m2 yang dirinci dalam Tabel 6.
15
Tabel 6 Kebutuhan Luas Ruang
No. Nama Ruang Kebutuhan Luas Ruang
beserta Allowance (m2)
Alokasi Luas Ruang yang Diberikan (m2)
1 Kantor 16 4 x 4 = 16
2 Mushola dan Toilet 14 3,5 x 4 = 14
3 Parkir dan Halaman 38,5 7 x 5,5 = 38,5
4 Penerimaan 8 4 x 2 = 8 5 Penjemuran dan Penyimpanan Sementara 38 2 x 19 = 38 6 Proses Produksi 58,08 7,5 x 8 = 60 7 Penyimpanan Produk 4,05 2 x 2 = 4 8 Pengolahan Limbah 23,8 6 x 4 = 24 9 Boiler 7,92 4 x 2 = 8
10 Pengolahan Air Umpan 7,69 4 x 2 = 8
Total Luas Ruang 216,04 218,5
Alokasi yang dibutuhkan menyesuaikan dengan lahan yang tersedia dan kemudahan perhitungan sehingga pabrik akan dibangun dengan ukuran 11,5x19 m. Total luasan pabrik minyak daun cengkeh sebesar 218,5 m2.
Perancangan Tata Letak dan Layout Pabrik
Pabrik minyak daun cengkeh termasuk pabrik yang hanya menghasilkan satu jenis produk, sehingga pusat-pusat aktivitas/kerja dan mesin/peralatan disusun dalam satu line sesuai dengan urutan operasi/prosesnya secara kontinu (Rohmawati 2007). Tipe tata letak yang sesuai dengan pabrik ini ialah tata letak lintas produksi atau
product layout. Tujuan pemilihan tipe tata letak product layout ini adalah untuk mengurangi biaya penanganan material, memudahkan pengawasan, pekerja lebih terspesialisasi, sehingga dapat melakukan penghematan biaya. Pola aliran bahan yang digunakan membentuk aliran lurus yang bertujuan mengefisiensikan waktu dan pergerakan.
Product layout dirancang dengan metode A-R Chart (Activity-Relationship Chart). A-R Chart merupakan suatu metode yang menghubungkan aktivitas-aktivitas secara berpasangan sehingga semua aktivitas akan diketahui tingkat hubungannya (Wignjosoebroto 2009). Dalam metode A-R Chart, keterkaitan aktivitas dinilai menggunakan derajat hubungan yang beralasan. Alasan penilaian derajat dan bagan keterkaitan aktivitas dapat dilihat pada Tabel 7. Derajat hubungan aktivitas dapat diberi tanda sandi dan nilai sebagai berikut:
A : Harus bersebelahan (absolutely necessary) = 34
E : Harus berdekatan (Especially important) = 33 I : Cukup berdekatan (important) = 32
O : Tidak harus berdekatan (ordinariy ok) = 31
U : Bebas dan tidak saling terkait (unimportant) =30
16
Tabel 7 Alasan Penilaian Derajat Keterkaitan
Kode Alasan
1 Urutan proses dan kerja
2 Penggunaan pekerja yang sama
3 Pengawasan dan keamanan
4 Efisiensi waktu
5 Keindahan, kebersihan, dan kenyamanan 6 Adanya komunikasi dan pencatatan 7 Kontak antar pekerja
8 Bising, asap, debu, atau bau.
Terdapat beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam merancang hubungan antar aktivitas, yaitu persyaratan khusus yang harus dipenuhi untuk kegiatan atau ruang tertentu, karakteristik bangunan, letak bangunan, fasilitas eksternal, dan kemungkinan perluasan (Caessara 2011). Perancangan hubungan tersebut membutuhkan opini pakar (akademisi dan praktisi) yang kemudian disusun dalam diagram keterkaitan aktivitas seperti Gambar 4.
10 Pengolahan Air Um pan 9 Boiler
8 Pengolahan Limbah 7 Penyim panan 6 Proses Produksi
5 Gre en House Penjemuran dan
Penyim panan Sem entara 4 Penerimaan
3 Parkir dan Hala man 2 Mushola 1 Kantor O I 4 A 6 O O 3 I 3,6 U O U U U U U A 4 U O E U A 1 A O U A 1 I U A 1 E U A E U U U U U U U E U E U U U U U
Gambar 4 Diagram Keterkaitan Aktivitas pada Pabrik Minyak Daun Cengkeh
Ruangan kantor harus berdekatan dengan ruang penerimaan dan harus cukup berdekatan dengan parkir dan ruang penyimpanan produk. Ruangan proses produksi harus bersebelahan dengan ruang penerimaan untuk mengefisiensikan waktu pengerjaan. Ruangan penyimpanan produk harus berdekatan dengan ruang produksi dan green house penjemuran karena urutan proses yang dilakukan dan penggunaan pekerja yang sama. Informasi yang diperoleh dari bagan tersebut kemudian dihitung berdasarkan nilai derajat hubungan pada masing-masing ruang yang dinyatakan dalam TCR (Total Closeness Ratio). Hasil perhitungan TCR disajikan dalam Gambar 5.
17
Gambar 5 Grafik Hasil Perhitungan Nilai TCR
Ruang proses produksi dan penerimaan memiliki nilai TCR yang tertinggi, hal ini berarti posisi ruangan ini harus berada di tengah-tengah/pusat pabrik karena kedua ruangan ini cukup berkaitan dengan ruangan lainnya ataupun menjadi kunci utama pabrik (center). Begitupun pada penelitian Purwanti (2014), ruang produksi dan gudang bahan baku memiliki nilai TCR tertinggi yang berarti harus berada di pusat pabrik. Data dari diagram keterkaitan aktivitas dan perhitungan TCR kemudian digunakan untuk membuat diagram keterkaitan antar aktivitas. Diagram tersebut menggunakan template yang menggambarkan kegiatan yang ada. Setiap template
mencantumkan informasi mengenai derajat keterkaitan kegiatan tersebut dengan kegiatan lainnya. Template keterkaitan antar aktivitas disajikan pada Gambar 6.
111 13 127 331 179 331 133 61 115 141 Kantor Mushola
Parkir dan Halaman Penerimaan Penjemuran dan Penyimpanan Sementara Proses Produksi Penyimpanan Produk Pengolahan Limbah Boiler
18
Gambar 6 Template Keterkaitan Aktivitas
Template keterkaitan ini disusun berdasarkan urutan proses dari bahan baku hingga menjadi produk yang dapat langsung didistribusikan. Pembangunan ruangan dan pengaturan tata letak harus disesuaikan dengan ukuran luas tempat yang dibutuhkan. Hal ini dilakukan untuk mengefisiensikan tempat dan biaya yang akan digunakan untuk membangun ruangan tersebut. Berdasarkan data perancangan tata letak dan kebutuhan luas ruang, maka didapat layout pabrik di Lampiran 3.
Aspek Manajemen dan Organisasi
Dalam studi kelayakan pendirian pabrik minyak daun cengkeh, aspek manajemen yang dibahas adalah tipe organisasi yang sesuai untuk industri ini. Kajian terhadap manajemen dan organisasi meliputi pemilihan bentuk perusahaan dan struktur organisasi yang sesuai, kebutuhan tenaga kerja, serta deskripsi pekerjaan.
Struktur Organisasi
Struktur organisasi yang sesuai dengan pabrik ini menganut sistem pelimpahan wewenang sentralisasi. Hal ini bertujuan agar kebijakan yang seragam dapat menimbulkan kompleksitas permasalahan. Selain itu, dalam sebuah industri pengolahan, wewenang untuk memberi keputusan dimaksudkan agar operasinya dapat berjalan lancar (Subagyo 2008). Struktur organisasi untuk pabrik minyak daun cengkeh dapat dilihat pada Lampiran 4.
I 3,7 O 2,5,6 I- O 7 I 7 O 1 I- O 1,3 A 4 E- A 1,3,5,6 E- A 4,6 E- I 1 O 2,6 I 1,5 O 4 I- O 1,3 A- E- I- O- A 4 E 7 A 6 E 3 A 4,5,7 E 8,9,10 A- E 6,10 I- O- A 10 E 6 A 9 E 6,8 I- O- X- 1 Kantor X- 4 Penerimaan X- 3 Penjemuran dan Penyimpanan Sementara X- 2
Mushola dan Toilet X-
3
Parkir dan Halaman
X- 7 Penyimpanan Produk X- 6 Proses Produksi X- 8 Pengolahan Limbah X- 9 Boiler X- 10 Pengolahan Air Umpan Keterangan: Product Line : Water Line :
19
Kebutuhan Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang terlibat dalam pabrik minyak daun cengkeh ini terdiri dari tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tidak langsung. Tenaga kerja langsung merupakan tenaga kerja yang terlibat secara langsung dalam proses produksi sedangkan tenaga kerja tidak langsung adalah tenaga kerja yang terlibat dalam proses non-produksi seperti pemasaran dan keuangan. Tenaga kerja langsung meliputi operator produksi dan pekerja pada penanganan limbah yang dibedakan dalam dua
shift sedangkan tenaga kerja tidak langsung ialah tenaga kerja yang mengurusi bagian manajerial pabrik (Huda 2014). Total tenaga kerja yang dibutuhkan pada pabrik minyak daun cengkeh ini berjumlah 19 orang. Rincian kebutuhan tenaga kerja di pabrik minyak daun cengkeh dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8 Kebutuhan Tenaga Kerja
No Jabatan Kualifikasi Pendidikan Jumlah (orang)
Tenaga Kerja Tidak Langsung
1 Direktur S1 1
2 Manajer Produksi S1 1
3 Manajer Pemasaran S1 1
4 Manajer Administrasi &
Keuangan S1 1 5 Staf PPIC D3 1 6 Staf Pemasaran D3 1 7 Staf Logistik D3 1 8 Staf Administrasi D3 1 9 Staf Keuangan D3 1 10 Keamanan SMA 2 11 Supir SMA 2
Tenaga Kerja Langsung
12 Supervisor Produksi S1 1
12 Operator Produksi D3 5
Total 19
Deskripsi Pekerjaan
Deskripsi tugas dan tanggung jawab disusun untuk memudahkan pekerja dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya. Deskripsi tugas dan tanggung jawab masing-masing jabatan antara lain sebagai berikut:
1. Direktur
Direktur bertugas untuk mengelola keseluruhan fungsi perusahaan yang meliputi kegiatan perencanaan, organisasi, dan mengawasi kegiatan manajer yang berada dibawahnya. Tanggung jawab utama perusahaan akan dipegang oleh direktur 2. Manajer Produksi
Manajer produksi bertugas untuk melakukan perencanaa, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan produksi seperti penjagaan kualitas produk dari bahan baku hingga finish product.
3. Manajer Pemasaran
Manajer pemasaran bertugas mengelola keseluruhan kegiatan pemasaran baik promosi, penjualan, kerja sama dengan mitra maupun proyeksi permintaan pasar.
20
4. Manajer Administrasi dan Keuangan
Manajer administrasi dan keuangan bertanggung jawab dalam kelancaran administrasi serta keuangan perusahaan baik itu dalam perencanaan, pelaksanaan, pengendalian ataupun pelaporan. Tugas yang diberikan kepada manajer administrasi dan keuangan bertujuan untuk menjamin audit dan dokumentasi pekerjaan tersimpan dengan baik sesuai prosedur.
5. Manajer Keuangan
Manajer keuangan bertugas mengelola, mengawasi, dan mengaudit semua bentuk penerimaan dan pengeluaran produksi dalam perlahan serta menangani masalah keuangan dalam perusahaan.
6. Staf Administrasi
Staf administrasi bertanggung jawab dalam mengawasi pelaksanaan kegiatan administrasi di dalam perusahaan, baik dalam pencatatan administrasi perusahaan maupun operasional perusahaan.
7. Staf Keuangan
Staf keuangan bertugas mengawasi dan mengelola pencatatan keuangan perusahaan.
8. Staf Logistik
Staf logistik bertanggung jawab mengelola pengadaan bahan baku dan pengelolaannya, serta pendistribusian produk.
9. Staf Pemasaran
Staf pemasaran bertanggung jawab mendistribusikan produk ke pasar (konsumen), dan membantu manajer pabrik memperoleh informasi kondisi pasar. 10. Keamanan
Keamanan bertugas untuk mengamankan keseluruhan perusahaan, baik secara fisik bangunan maupun orang-orang yang ada di perusahaan.
11. Operator Produksi
Operator bertanggung jawab dalam menjalankan mesin-mesin produksi dan memastikannya sesuai dengan prosedur. Operator akan berkordinasi dengan manajer produksi agar tidak terjadi kesalahan.
Aspek Legalitas dan Lingkungan Badan Usaha
Terdapat tiga bentuk legal badan usaha, yaitu kepemilikan sendiri (proprietorship), persekutuan (partnership), dan perusahaan (coorporations). Berdasarkan modal investasi dalam pendirian usaha, pabrik ini relatif tidak terlalu besar dan memiliki risiko yang juga tidak terlalu besar, skala pabrik minyak daun cengkeh pun tergolong usaha kecil-menengah (UKM) yang kepemilikan usahanya terdiri dari dua-tiga orang. Oleh karena itu, bentuk badan usaha yang sesuai adalah bentuk persekutuan (partnership).
Perizinan
Untuk mendapatkan legalitas usaha di wilayah Maluku Utara, ada beberapa jenis perizinan yang perlu dipersiapkan antara lain akta pendirian, izin usaha industri (IUI), izin mendirikan bangunan (IMB), NPWP badan usaha, SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan), TDP (Tanda Daftar Perusahaan), SK domisili perusahaan, dan pendaftaran pengadilan negeri. Bentuk dari akta pendirian adalah akta notaris yang
21
berisi tentang anggaran dasar dan anggaran rumah tangga badan hukum usaha. Akta pendirian ini diterbitkan oleh Menteri Kehakiman dan HAM RI. Berdasarkan SK Menteri Perindustrian RI No 41/M-IND/Per/6/2008 terhadap semua jenis industri dengan nilai investasi perusahaan yang seluruhnya di atas 200 juta tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha wajib memperoleh IUI. Selain itu, Izin Mendirikan Bangunan (IMB) sangat diperlukan sebelum bangunan didirikan. Setelah mendapatkan IMB maka dilanjutkan dengan Izin Pendirian Bangunan (IPB). Kemudian dilanjutkan dengan Kelayakan Mendirikan Bangunan (KMB) yang dilakukan setiap 5 tahun sekali.
Pengolahan Limbah
Terdapat tiga jenis limbah pada usaha minyak daun cengkeh ini, yaitu limbah padat, limbah cair, dan limbah gas. Limbah padat berasal dari residu penyulingan daun cengkeh, limbah cair berasal dari hasil samping penyulingan, sedangkan limbah gas berasal dari pembakaran boiler.