A. Hasil Penelitian
6. Proses Penyulingan Minyak Nilam
Mula-mula nilam kering ditimbang terlebih dahulu, yaitu kurang lebih seberat 400 kg. Daun-daun tersebut kemudian dimasukkan ke dalam ketel pengolah yang sudah berisi air sehingga posisi daun berada di atas air karena antara keduanya dipisahkan oleh sebuah plat berpori. Dengan cara seperti ini daun tidak bercampur menjadi satu dengan air dan daun tidak menjadi gosong. Jika semuanya sudah siap kemudian di lakukan pembakaran di dalam tungku sebagai awal dimulainya proses penyulingan. Bahan bakar yang digunakan adalah karet / ban bekas atau kayu bakar.
Pembakaran ini akan menguapkan air sehingga uap air naik dengan membawa minyak yang dikandung dalam nilam di atasnya. Uap campuran antara air dan minyak tersebut dialirkan melalui pipa penyalur ke dalam wadah penampung yang terbuat dari bahan stainless steel dengan melewati kolam pendingin. Kolam pendingin berfungsi untuk mendinginkan uap sehingga terjadi pengembunan dan yang keluar tidak hanya berupa uap saja. Tetes-tetes embun yang terbentuk akan mengalir ke dalam ember penampung. Jadi ember penampung berisi campuran air dan minyak nilam tetapi bukan berupa larutan, karena minyak nilam tidak bisa larut dalam air. Perbedaan bobot jenis antara kedua cairan tersebut menyebabkan keduanya terpisah dengan posisi minyak nilam di atas air, karena minyak nilam mempunyai bobot jenis yang lebih ringan.
Selanjutnya minyak nilam dari ember penampung diambil menggunakan gayung untuk dipindahkan ke dalam jerigen. Proses pemisahan dilakukan menggunakan kain monel. Kain monel digunakan untuk memisahkan minyak nilam dengan air yang masih terbawa ketika pemindahan, sehingga akan diperoleh minyak nilam secara murni. Proses tersebut akan tuntas diambil minyaknya dalam jangka waktu 12 jam. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
commit to user
Gambar 3. Skema Penyulingan Minyak Nilam
7. Pemasaran
Minyak nilam yang dihasilkan dari proses penyulingan nilam memilki konsumen yang potensial di luar negeri. Hal ini karena Indonesia belum memilki teknologi untuk mengolah minyak nilam menjadi barang jadi, seperti parfum, komestika, dan sabun. Minyak nilam CV. Nilam Kencana Jaya ini dibeli oleh agen penampung minyak nilam yang berasal dari Garut dan Puewokerto. Daerah tersebut bersedia menampung semua minyak nilam yang dihasilkan, berapapun jumlahnya, sehingga ada jaminan pemasaran. Minyak nilam yang dihasilkan CV. Nilam Kencana Jaya dijual dengan cara minyak nilam dikirim menggunakan mobil ke dareah-daerah tersebut. Dimana nantinya minyak yang telah dibeli tersebut akan dijual pada eksportir atau akan langsung diekspor sendiri ke luar negeri. Beberapa negara tujuan ekspor minyak nilam adalah Jepang, Singapura, Ameraika dan Perancis.
Bak Penampungan Air Air Mendidih Minyak Nilam Pipa Penyalur Kolam Pendingin Plat BeRpori Air Tungku Daun Nilam Kunci Nilam Pipa Air Masuk Pipa Air keluar
commit to user 8. Analisis Usaha
a. Biaya
Biaya adalah nilai korbanan yang dikeluarkan dalam proses produksi. Biaya dalam penelitian ini adalah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi penyulingan minyak nilam, baik biaya yang benar-benar dikeluarkan atau tidak benar-benar-benar-benar dikeluarkan. Biaya tersebut terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel.
1. Biaya Tetap
Biaya tetap adalah biaya yang digunakan dalam usaha penyulingan minyak nilam yang besarnya tidak dipengaruhi oleh jumlah produk minyak nilam yang dihasilkan. Besar biaya tetap dapat dilihat pada Tabel 8 berikut ini.
Tabel 8. Biaya Tetap Usaha Penyulingan Minyak Nilam CV. Nilam Kencana Jaya di Kabupaten Brebes Tahun 2011
No. Jenis Biaya Jumlah (Rp) Persentase (%)
1. Penyusutan alat 35.722.350 59,92
2. Bunga modal investasi 23.898.385,5 40,08
Jumlah Biaya Tetap 59.620.735,5 100
Sumber : Diadopsi dan diolah dari lampiran 1
Tabel di atas menunjukkan bahwa biaya tetap terdiri dari penyusutan dan biaya bunga modal investasi. Biaya yang terbesar adalah biaya penyusutan yakni Rp 35.722.350,- yang terdiri dari penyusutan ketel pengolah, jerigen 32 kg, drum 120 kg, pipa penyalur, kolam pndingin, timbangan, tungku, ember penampung, skop, gancu, gayung, corong, kain monel dan mobil.
Biaya bunga modal investasi sebesar Rp 23.898.385,5. Biaya ini merupakan biaya yang dikorbankan karena memilih usaha penyulingan minyak nilam daripada disimpan di bank. Saat penelitian berlangsung (tahun 2011) suku riil di bank yang berlaku adalah 6 % per tahun. Biaya bunga modal investasi diperhitungkan dengan mengalikan suku bunga bank yang berlaku dengan sejumlah modal yang dikeluarkan dalam usaha penyulingan tersebut.
commit to user
2. Biaya Variabel
Biaya variabel adalah biaya yang digunakan dalam proses penyulingan minyak nilam yang besarnya berubah-ubah secara proporsional terhadap kuantitas output yang dihasilkan. Biaya variabel usaha penyulingan minyak nilam di CV. Nilam Kencana Jaya dapat dilihat pada Tabel 9 berikut ini.
Tabel 9. Biaya Variabel Usaha Penyulingan Minyak Nilam CV. Nilam Kencana Jaya di Kabupaten Brebes Tahun 2011
No Jenis Biaya Jumlah (Rp) Persentase
(%)
1. Biaya Perawatan 4.280.000 0,17
2. Biaya Bahan Baku :
a. Nilam Kering b. Nilam Basah 1.134.350.000 801.400.000 49,31 34,83
3. Biaya Bahan Bakar :
a. Kayu Bakar b. Karet 95.590.000 86.900.000 4,15 3,76 4. 5. 6. 7.
Biaya Tenaga Kerja Biaya Listrik Biaya Transportasi Biaya Lain-lain 179.025.000 657.000 16.000.000 9.150.000 7,78 0,02 0.69 0.39
Total Biaya Variabel 2.300.052.000 100
Sumber : Diadopsi dan diolah dari lampiran 3, 4, 5, dan 8
Berdasarkan Tabel 9 di atas diketahui besarnya biaya variabel yang paling banyak dikeluarkan adalah biaya untuk pembelian bahan baku penyulingan berupa nilam. Satu kali proses penyulingan rata-rata dibutuhkan nilam kering sebanyak 400 kg per unit penyulingan dengan pengeluaran sebesar Rp 1.908.450.000,- selama tahun 2011.
Bahan bakar merupakan biaya terbesar kedua yang harus dikeluarkan yaitu sebesar Rp 182.490.000,-. Biaya bahan bakar yang dikeluarkan adalah pembelian kayu bakar dan karet / ban bekas. Upah tenaga kerja merupakan biaya terbesar ketiga yang harus dikeluarkan.
Tenaga kerja yang ada meliputi tenaga kerja keluarga,
pemasak/penyuling, tenaga kerja operasional, dan tenaga kerja biasa. Dibutuhkan biaya sebesar Rp 179.025.000,- selama tahun 2011.
commit to user
Transportasi untuk distribusi pengiriman minyak nilam ke agen penampung minyak nilam Rp 16.000.000,-
Biaya lain-lain adalah biaya makan dan minum bagi tenaga kerja. Selama satu tahun proses penyulingan dikeluarkan sebesar Rp 9.150.000,- Biaya variabel lain yang relatif kecil dikeluarkan adalah biaya perawatan ketel, pipa penyalur dan kolam pendingin yaitu sebesar Rp 4.280.000,- serta biaya listrik untuk penerangan yaitu sebesar Rp 657.000,- selama satu tahun yaitu tahun 2011.
3. Biaya Total
Biaya total adalah hasil dari penjumlahan seluruh biaya tetap dan biaya variabel yang dikeluarkan selama proses produksi. Besarnya biaya total untuk proses produksi usaha penyulingan minyak nilam CV. Nilam Kencana Jaya selama satu tahun dapat dilihat pada Tabel 10 berikut.
Tabel 10. Biaya Total Usaha Penyulingan Minyak Nilam CV. Nilam Kencana Jaya di Kabupaten Brebes Tahun 2011
No Jenis Biaya Jumlah (Rp) Persentase (%)
1 Biaya Tetap 59.620.735,5 2,72
2 Biaya Variabel 2.300.052.000 97,28
Total Biaya 2.359.672.735,5 100
Sumber: Diadopsi dan diolah dari lampiran 1, 3, 4, 5 dan 8
Berdasarkan Tabel 10, biaya usaha penyulingan minyak nilam sebesar Rp 2.359.672.735,5 selama tahun 2011. Biaya tersebut terdiri dari biaya tetap sebesar Rp 59.620.735,5 dan biaya variabel sebesar Rp 2.300.052.000,-.
b. Penerimaan
Penerimaan usaha penyulingan minyak nilam merupakan perkalian antara total produk yang terjual dengan harga per kg. Penerimaan dari usaha penyulingan minyak nilam hanya berasal dari minyak nilam yang dihasilkan. Berikut ini adalah tabel penerimaan usaha penyulingan minyak nilam yang diperoleh CV. Nilam Kencana Jaya per bulan pada tahun 2011.
commit to user
Tabel 11. Penerimaan Usaha Penyulingan Minyak Nilam CV. Nilam Kencana Jaya Per Bulan di Kabupaten Brebes Tahun 2011
Bulan ∑ Ketel Frek. Produk si ∑ Bahan Baku (kg) ∑ Produk si Minyak (kg) Harga/ kg (Rp) Penerimaan (Rupiah) Januari 2 108 43.200 648 305.500 197.964.000 Februari 2 96 38.400 576 310.000 178.560.000 Maret 2 108 43.200 648 305.500 197.964.000 April 2 100 40.000 600 295.000 177.000.000 Mei 5 240 96.000 1.440 300.000 432.000.000 Juni 5 260 104.000 1.560 300.000 468.000.000 Juli 5 260 104.000 1.560 310.000 483.600.000 Agustus 5 120 48.000 720 300.500 216.360.000 September 2 138 55.200 828 295.500 244.674.000 Oktober 2 104 41.600 624 302.500 188.760.000 November 2 100 40.000 600 302.500 181.500.000 Desember 2 104 41.600 624 310.000 193.440.000 Jumlah 10.428 3.159.822.000
Sumber : Diadopsi dan diolah dari lampiran 3 dan 9
Berdasarkan Tabel 11 di atas, diketahui bahwa penerimaan selama satu tahun yaitu tahun 2011 sebesar Rp 3.159.822.000,-. Adapun dalam satu kali proses penyulingan rata-rata dihasilkan 6 kg minyak nilam, dengan harga pada tahun 2011 bervariasi yaitu antara Rp 295.000,- sampai Rp 310.000,- per kilogram. Harga tersebut tergantung dari permintaan dan penawaran minyak di luar negeri.
Penerimaan terbesar berturut-turut diperoleh pada bulan Mei, Juni, Juli dan Agustus. Hal tersebut disebabkan karena pada keempat bulan tersebut merupakan bulan panen nilam. Akan tetapi pada bulan Agustus CV. Nilam Kencana Jaya hanya melakukan produksi penyulingan minyak nilam satu kali dalam sehari dikarenakan bertepatan dengan bulan puasa. Bulan panen biasanya dimulai pada bulan Mei, selain itu juga pada bulan Mei merupakan bulan kemarau/tidak turun hujan. Sehingga para petani nilam mudah didalam melakukan penjemuran nilam. Hal tersebut akan
commit to user
memudahkan CV. Nilam Kencana Jaya dalam memperoleh persediaan bahan baku. CV. Nilam Kencana Jaya pada bulan panen yaitu bulan Mei hingga Agustus mulai menggunakan seluruh ketel yang ada yaitu sejumlah 5 ketel untuk digunakan seluruhnya dalam produksi penyulingan minyak nilam. Selain bulan penen tersebut CV. Nilam kencana Jaya hanya menggunakan 2 ketel dalam melakukan produksi penyulingan minyak nilam.
c. Keuntungan
Keuntungan yang diperoleh dari penerimaan usaha penyulingan minyak nilam yang diperoleh CV. Nilam Kencana Jaya merupakan selisih antara penerimaan dengan biaya total. Untuk mengetahui keuntungan penerimaan usaha penyulingan minyak nilam yang diperoleh CV. Nilam Kencana Jaya di Kabupaten Brebes dapat dilihat dari Tabel 12 di bawah ini.
Tabel 12. Keuntungan Usaha Penyulingan Minyak Nilam CV. Nilam Kencana Jaya di Kabupaten Brebes Tahun 2011
No. Uraian Rata-Rata
1. 2.
Penerimaan dari penjualan minyak nilam(Rp) Biaya total (Rp)
3.159.822.000 2.359.672.735,5
Keuntungan (Rp) 800.149.264,5
Sumber : Diadopsi dan diolah dari lampiran 1, 3, 4, 5, 8 dan 9
Berdasarkan Tabel 12 di atas, diketahui penerimaan selama satu tahun yaitu tahun 2011 proses penyulingan adalah Rp 3.159.822.000,- dengan biaya total sebesar Rp 2.359.672.735,5 maka keuntungan yang diperoleh sebesar Rp 800.149.264,5.
d. Profitabilitas
Berdasarkan keuntungan yang diperoleh, maka dapat diketahui profitabilitas atau tingkat keuntungan dari usaha penyulingan minyak nilam. Profitabilitas merupakan hasil bagi antara keuntungan usaha dengan biaya total yang dinyatakan dalam persen. Untuk mengetahui besarnya
commit to user
profitabilitas dari usaha penyulingan minyak nilam CV. Nilam Kencana Jaya dapat dilihat pada Tabel 13 berikut ini.
Tabel 13. Profitabilitas Usaha Penyulingan Minyak Nilam CV. Nilam Kencana Jaya di Kabupaten Brebes Tahun 2011
No. Uraian Rata-Rata
1. 2. Biaya total (Rp) Keuntungan (Rp) 2.359.672.735,5 800.149.264,5 Profitabilitas 33,90
Sumber : Diadopsi dan diolah dari lampiran 10
Berdasarkan Tabel 13 profitabilitas yang diperoleh dari usaha penyulingan minyak nilam adalah sebesar 33,90%. Usaha penyulingan minyak nilam ini termasuk dalam kriteria profitabel, karena memiliki nilai profitabilitas lebih dari nol.
e. Efisiensi Usaha
Efisiensi usaha dapat dihitung dengan menggunakan R/C rasio, yaitu perbandingan antara penerimaan dan biaya yang dikeluarkan. Besar efisiensi usaha penyulingan minyak nilam CV. Nilam Kencana Jaya dapat dilihat pada Tabel 14 berikut ini.
Tabel 14. Efisiensi Usaha Penyulingan Minyak Nilam CV. Nilam Kencana Jaya di Kabupaten Brebes Tahun 2011
No. Uraian Rata-Rata
1. 2.
Penerimaan dari penjualan minyak nilam(Rp) Biaya total (Rp)
3.159.822.000 2.359.672.735,5
Efisiensi usaha (R/C ratio) 1,34
Sumber : Diadopsi dan diolah dari lampiran 11
Berdasarkan Tabel 14, dapat diketahui bahwa nilai R/C ratio sebesar
1,34 yang berarti bahwa setiap Rp 1,00 yang dikeluarkan dalam usaha penyulingan minyak nilam akan didapatkan penerimaan 1,34 kali dari biaya yang telah dikeluarkan dalam usaha penyulingan minyak nilam. Usaha penyulingan minyak nilam ini termasuk dalam kriteria efisien, karena memiliki nilai efisiensi lebih dari satu.
commit to user f. Risiko Usaha
Hubungan antara risiko dan keuntungan dapat diukur dengan koefisien variasi (CV) dan batas bawah keuntungan (L). Koefisien variasi merupakan perbandingan antara risiko yang harus ditanggung dengan jumlah keuntungan yang akan diperoleh sebagai hasil dan sejumlah modal yang ditanamkan dalam proses produksi. Semakin besar nilai koefisien variasi menunjukkan bahwa risiko yang harus ditanggung semakin besar dibanding dengan keuntungannya. Sedangkan batas bawah keutungan (L) menunjukkan nilai nominal keuntungan terendah yang mungkin diterima oleh pengusaha (Hernanto, 1993). Untuk mengetahui besarnya risiko usaha dari usaha penyulingan minyak nilam yang diperoleh CV. Nilam Kencana Jaya di Kabupaten Brebes dapat dilihat dari Tabel 15 di bawah ini.
Tabel 15. Risiko Usaha Penyulingan Minyak Nilam CV. Nilam Kencana Jaya di Kabupaten Brebes Tahun 2011
No. Uraian Rata-Rata
1. 2. 3. 4. Keuntungan (Rp) Simpangan baku
Risiko usaha/Coevisien Variasi Batas bawah keuntungan (Rp)
800.149.264,5 69.113.608,72 1,03651 -71.548.098,89 Sumber : Diadopsi dan diolah dari lampiran 12
Berdasarkan Tabel 15, menunjukkan bahwa keuntungan yang diterima usaha penyulingan minyak nilam CV. Nilam Kencana Jaya selama satu tahun adalah sebesar Rp 800.149.264,5. Berdasarkan perhitungan keuntungan tersebut, maka dapat diketahui besarnya simpangan baku usaha penyulingan minyak nilam, yaitu sebesar Rp 69.113.608,72,-. Simpangan baku merupakan besarnya fluktuasi keuntungan yang diperoleh, sehingga dapat dikatakan bahwa fluktuasi keuntungan usaha usaha penyulingan minyak nilam berkisar Rp 69.113.608,72,-. Koefisien variasi dapat dihitung dengan cara membandingkan antara besarnya simpangan baku terhadap keuntungan rata-rata yang diperoleh. Koefisien variasi dari usaha penyulingan minyak nilam sebesar 1,03651. Hal ini menujukkan bahwa usaha penyulingan minyak nilam tesebut berisiko, karena nilai koefisien
commit to user
variasi yang diperoleh lebih besar dari standar koefisien variasi 0,5. Batas bawah keuntungan usaha ini sebesar minus Rp 71.548.098,89 berarti ada peluang kerugian yang harus ditanggung oleh pemilik usaha penyulingan CV. Nilam Kencana Jaya yakni sebesar Rp 71.548.098,89 selama tahun 2011.
B. Pembahasan