Tahap III. Penelitian terhadap produksi biji tanaman leguminosa pakan Calopogonium mucunoides Desv
3. MATERI DAN METODE PENELITIAN
3.3. Pelaksanaan penelitian
3.3.2. Proses produksi hifa guna mendapatkan inokulum
Proses produksi hifa dimulai dengan mempersiapkan media perkecambahan berupa zeolit. Zeolit dicuci bersih untuk menghilangkan serbuk halus dan kotoran yang ada kemudian disterilkan menggunakan autoclave pada
15
suhu 1210C tekanan 15 atm selama 20 menit. Zeolit yang telah steril selanjutnnya digunakan sebagai media semai dan juga media kultur dengan memasukkan ke dalam bak berukuran 30x25x5 cm yang telah dilubangi bawahnya sebanyak 5 kg zeolit per bak dan 0.5 kg mycofer yang diperoleh di PAU sebagai lapisan.
Benih sorghum direndam didalam air hangat bersuhu 70oC selama 5 menit. Media tanam yang digunakan disiram menggunakan aquades dan dibuat lubang tanam sebanyak 24 lubang. Setelah itu benih ditabur di atas media zeolit steril 2 benih per lubang selama 3-4 minggu. Selama masa perkecambahan kelembaban media dijaga dengan menyiram menggunakan aquades 2 kali sehari menggunakan sprayer.
Pengecekan infeksi FMA pada kecambah dilakukan saat tanaman berumur 3 minggu. Sampel kecambah yang akan dicek infeksinya diambil secara acak sebanyak 5 kecambah dari setiap bak pada tempat pengambilan yang berbeda. Untuk meyakinkan bahwa telah terinfeksi, dilakukan pengamatan hifa pada akar semai dibawah mikroskop biasa. Jika diketahui minimal 75% akar telah terinfeksi dilakukan pemanenan akar sorghum dan pembersihan akar dibawah air mengalir untuk digunakan pada proses coating benih.
3.3.3. Proses coating benih
Proses pelapisan benih (seed coating) dilakukan dengan terlebih dahulu membuat larutan suspensi yang homogen sesuai perlakuan. Perlakuan menggunakan mikoriza terdiri dari aquades, arabic gum, boron dan larutan mikoriza. Perlakuan tanpa mikoriza terdiri dari aquades, arabic gum dan mineral boron. Boron yang digunakan masing-masing perlakuan, yaitu 0, 200, 400 dan 600 ppm (mg/L).
Pada perlakuan menggunakan mikoriza, akar sorghum yang telah dipanen dicuci bersih dan dipotong-potong untuk kemudian dihancurkan menggunakan blender dengan tambahan aquades sampai diperoleh larutan murni FMA (perbandingan aquades dan akar 50 ml:10 gram). Suspensi bahan coating
diperoleh dengan melarutkan arabic gum (10 gram), boron sesuai perlakuan dan serbuk halus zeolit yang telah diayak sebelumya (10 gram) dalam larutan murni FMA sampai terbentuk larutan. Benih dimasukkan dalam larutan sambil diaduk
hingga terlapisi secara merata secara cepat untuk menghindari penggumpalan arabic gum selama 10-15 menit. Setelah benih terlapisi secara merata, benih kemudian diangkat dan disaring untuk menghilangkan larutan yang tersisa, ditata dalam nampan dan dikeringan di ruangan ber-AC selama 48 jam.
Pada perlakuan tanpa mikoriza, boron dicampur kedalam air menggunakan blender dengan perbandingan 10 gram B : 50 ml aquades sampai terbentuk larutan. Benih leguminosa kemudian dimasukkan kedalam larutan dan ditaruh ke dalam nampan, disaring dan dikeringkan matahari kemudian setelah kering dan terselubung, benih disimpan. Benih coating nantinya akan ditanam dan dilakukan pengamatan sesuai tahapan penelitian.
3.3.4. Tahapan penelitian
I. Pengaruh mineral Boron dalam coating terhadap persen daya kecambah benih Calopogonium mucunoides Desv. dengan masa simpan yang berbeda
Benih yang telah dicoating kemudian dilakukan penyemaian menggunakan bak perkecambahan dan disiram setiap harinya. Setelah keseluruhan benih tumbuh, bibit dipindah ke dalam polybag tanah 10 kg dan disiram setiap hari. Setiap minggunya dilakukan pengukuran tinggi vertikal tanaman dan jumlah daun untuk dilihat perlakuan terbaik. Berdasarkan perlakuan terbaik yang diperoleh kemudian dilakukan coating ulang dan perlakuan penyimpanan benih coating selama 2, 4 dan 6 minggu.
Pada perlakuan penyimpanan benih , setiap perlakuan diambil masing-masing 30 butir benih ditata diatas kertas saring yang dialasi dengan tisu didalam cawan kemudian diberi air sampai basah. Tisu digunakan guna menjaga kelembaban agar tidak terlalu kering. Ulangan dilakukan sebanyak 3 kali dan dilihat persen daya berkecambah (DB).
Tahap II. Penelitian terhadap produksi biomassa tanaman leguminosa pakan Calopogonium mucunoides Desv.
Pada penelitian produksi biomassa, benih coating yang telah ditanam pada selain dilakukan pengukuran setiap minggunya dengan parameter tinggi vertikal dan jumlah daun juga dilakukan perlakuan boron tahap kedua berupa penyemprotan 50ml larutan boron setiap tanaman. Penyemprotan dilakukan pada
17
minggu ke 10 setelah masa tanam secara merata pada daun sebanyak 3 kali yaitu per dua hari penyemprotan. Pada minggu ke-16 pemeliharaan dilakukan pemanenan 3 tanaman leguminosa per perlakuan untuk dihitung berat segar dan berat kering daun, batang dan akar, jumlah bintil akar, berat segar dan berat kering bintil akar, kandungan karbohidrat terlarut serta infeksi akar. Pot tanaman leguminosa lainnya tetap dipelihara sampai terbentuk polong dan dilakukan pengamatan tambahan terhadap jumlah bunga dan polong yang terbentuk.
Pemanenen fase generatif dilakukan pada umur 26 minggu pemeliharaan setelah tanaman menghasilkan polong bernas. Leguminosa yang dipanen kemudian dihitung berat segar dan berat kering daun, batang dan akar, jumlah bintil akar, berat segar dan berat kering bintil akar, kandungan karbohidrat terlarut dan serta infeksi akar.
Tahap III. Penelitian terhadap produksi biji tanaman leguminosa pakan Calopogonium mucunoides Desv.
Penelitian terhadap produksi biji dilakukan terhadap tanaman leguminosa pakan Calopogonium mucunoides Desv. mulai pembungaan sampai terbentuknya polong. Pengamatanyang dilakukan pada penelitian ini adalah jumlah bunga yang terbentuk yang dihitung setiap 3 hari sekali dan jumlah polong yang dihitung setiap minggunya. Parameter yang diukur meliputi jumlah bunga yang terbentuk keseluruhan, jumlah polong, berat polong, berat biji dan berat biji per 25 butir. Pemanenan dan pemotongan tanaman dilakukan setelah 70-80% tanaman membentuk polong kering.
3.4. Analisis Data
Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap pola factorial (RAL) 4x2 dengan 3 ulangan (Gomez dan Gomez, 1995 ; Mattjik dan Sumertajaya, 2002). Adapun model matematis dari rancangan yang digunakan adalah :
Dimana :
Yijk : pengamatan pada perlakuan faktor boron taraf ke-1,2,3,4 faktor mikoriza taraf ke-1,2 dan ulangan ke 1,2,3
µ : rata-rata umum
i : pengaruh perlakuan faktor boron ke-1,2,3,4
j : pengaruh perlakuan faktor mikoriza ke-1,2 ( )ij : interaksi dari faktor boron dan factor mikoriza
ijk : pengaruh acak perlakuan boron ke-12,3,4 dan perlakuan mikoriza ke-1,2 untuk mengetahui adanya pengaruh perlakuan, dilakukan analisis sidik ragam (ANOVA) dari paket statistik SPSS.
3.5. Peubah yang diukur
1. Tinggi Tanaman (cm) dan Jumlah Daun
Tinggi vertikal tanaman diukur setiap minggu selama pemeliharaan menggunakan penggaris dengan skala cm, dimulai dari permukaan media sampai titik tumbuh. Untuk jumlah daun dihitung per helai daun yang telah terbentuk dan terbuka.
2. Berat Kering Tajuk (gram)
Setelah pemotongan dan diperoleh berat segar, tanaman dibiarkan kering matahari dan dimasukkan ke dalam oven dengan suhu ± 60°C selama 2x24 jam lalu ditimbang berat keringnya. Berat kering tajuk (gram) dilakukan dengan menghitung total berat kering daun dan batang setelah oven. Berat kering daun (gram) dihitung dengan menimbang berat daun setelah oven. Berat kering batang (gram) diukur dengan menimbang berat batang setelah oven.
3. Jumlah Nodul/bintil akar
Bintil akar yang sehat (hidup) dipisahkan dari akar dan dihitung jumlahnya serta ditimbang bobot hidupnya.
4. Kolonisasi FMA
Kolonisasi FMA diukur dengan menggunakan metode yang dikembangkan oleh Brundrett et.al. (1996). Prosedur sebagai berikut :
19
a. Akar yang telah dipotong-potong dan diwarnai sepanjang 1 cm diambil secara acak dan disusun pada kaca objek, 1 slide untuk 10 potong akar.
b. Pengamatan kolonisasi FMA dilakukan terhadap vesikel, arbuskula dan atau internal hifa, serta mencatat jumlah potongan akar yang terkolonisasi dari 10 potongan akar tersebut
c. Persentase akar yang terkolonsasi FMA dihitung berdasarkan rumus : bidang pandang contoh akar terkolonisasi
% kolonisasi = x 100% total bidang pandang contoh akar
5. Daya berkecambah (DB)
Perhitungan daya DB berdasarkan persentase kecambah normal (KN) pada pengamatan pertama dan pengamatan kedua. Pengamatan pertama pada hari ke-7 setelah tanam (KN I) dan pengamatan kedua pada hari ke-14 setelah tanam (KN II). Rumus perhitungannya
KNI + KN II
DB (%) = x 100% benih yang ditanam
6. Berat Segar dan Kering Benih
Benih yang telah tumbuh di panen dan ditimbang untuk mendapatkan berat segar kemudian dikeringkan dan ditimbang bahan keringnya (BK).
7. Jumlah polong
Pengukuran jumlah polong dilakukan dengan menghitung polong yang berisi dari keseluruhan polong. Dilakukan juga penimbangan berat polong dan berat biji serta penghitungan jumlah bunga.
8. Berat polong per 25 butir
Polong yang telah matang dihitung berat biji yang terbentuk secara keseluruhan dan berat per 25 butir biji.
9. Kandungan karbohidrat terlarut
Pengukuran kandungan kabohidrat terlarut dilakukan terhadap kandungan akar dan daun kering dengan menggunakan metode Fenol (Apriyantono et al.
1989) dan diukur menggunakan spektofotometer, dengan tahap sebagai berikut :
a.Akar dan daun yang telah dioven 600C dan dihaluskan, ditimbang menggunakan timbangan digital sebanyak 1 gram.
b.Akar dan daun hasil penimbangan kemudian dihaluskan menggunakan mortar dan air panas masing-masing selama 5 menit.
c.Larutan akar dan daun yang diperoleh kemudian disentrifuge selama 15 menit hingga diperoleh supernatant.
d.Supernatan yang diperoleh kemudian diambil sebanyak 0,1 ml untuk kemudian ditambahkan dengan 0,9 ml H2O lalu distirer.
e.Larutan setelah distirer ditambahkan 0,5 ml larutan fenol 5% lalu dikocok f. Tambahkan 2,5 ml H2SO4 dengan cara menuangkan secara tegak lurus ke
permukaan larutan.
g.Larutan yang diperoleh kemudian dimasukkan ke tabung spektrofotometer untuk dilakukan pembacaan kadar gula total pada panjang gelombang ( )
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Pengaruh coating boron dan FMA terhadap persen daya kecambah benih pada daya simpan yang berbeda
4.1.1. Uji benih coating pada daya simpan yang berbeda
Pengujian benih merupakan salah satu langkah penting yang dilakukan untuk mengkaji dan menetapkan nilai setiap contoh benih yang perlu diuji selaras dengan faktor kualitas benih. Hasil yang di dapat dari pengujian di laboratorium, daya kecambah benih diartikan sebagai mekar dan berkembangnya bagian-bagian penting dari embrio suatu benih yang menunjukkan kemampuannya untuk tumbuh secara normal pada lingkungan yang sesuai (Kartasapoetra, 2004). Pengujian benih dilakukan terhadap biji yang telah disimpan selama 5 bulan kemudian dicoating dan disimpan selama 2, 4 dan 6 minggu pada suhu ruang. Tabel 2.
Tabel 2. Pengaruh pemberian boron dan FMA terhadap persen daya kecambah (DB) pada uji benih dengan masa penyimpanan berbeda
Perlakuan Boron (ppm) Rataan
0 200 2 minggu M0 23,33±8,82 35,56±13,47 29,44±12,19b M1 51,11±17,11 42,22±5,09 46,67±12,29a Rataan 37,22±19,48 38,89±9,81 4 minggu M0 52,22±15,40 57,78±1,93 55,00±10,27 M1 42,22±5,09 46,67±26,46 44,44±17,21 Rataan 47,22±11,63 52,22±17,85 6 minggu M0 56,67±6,67 36,67±10,00 46,67±13,33 M1 44,44±10,72 35,56±27,96 40,00±19,55 Rataan 50,56±10,42 36,11±18,79 Keterangan :
M0 = tanpa inokulasi FMA, M1=dengan inokulasi FMA
Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) Berdasarkan analisa sidik ragam, perlakuan boron dan interaksi boron dengan FMA tidak menunjukkan perbedaan nyata (P>0,05) terhadap persen daya kecambah pada penyimpanan 2, 4 dan 6 minggu. Pada perlakuan inokulasi FMA, penyimpanan 2 minggu menunjukkan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap peningkatan persen daya kecambah sedangkan pada penyimpanan 4 dan 6 minggu tidak menunjukkan perbedaan yang nyata.
4.1.2. Ikhtisar
Dari hasil diatas menunjukkan bahwa sampai penyimpanan 6 minggu, biji coating masih menunjukkan nilai derajat perkecambahan yang baik. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan coating dan penyimpanan tidak berpengaruh negatif terhadap perkecambahan benih. Inokulasi FMA pada penyimpanan 2 minggu meningkatkan nilai derajat perkecambahan dengan mempercepat perkecambahan, hal ini terjadi karena sifat FMA dapat menyerap air yang berada di rongga-rongga tanah yang lebih kecil dan juga akar tanaman bermikoriza dapat memanen unsur hara selain yang dapat diserap oleh akar biasa yang kemudian oleh hifa akan diolah menjadi bentuk yang dapat diserap oleh akar. Berdasarkan kedua sifat tersebut, maka pertumbuhan perkecambahan akan jauh lebih cepat dibanding dengan yang tidak memiliki FMA (Fakuara, 1988). Pada penyimpanan 4 dan 6 minggu, inokulasi FMA mempunyai nilai sama dengan perlakuan tanpa inokulasi FMA. Artinya, inokulasi FMA dapat mempertahankan nilai derajat perkecambahan.
Boron merupakan salah satu unsur hara mikro yang dibutuhkan oleh tanaman yang terdapat di dalam tanah. Mineral mikro boron sangat penting dalam perkecambahan. Pemberian boron 200 ppm menunjukkan nilai yang tidak berbeda dengan kontrol. Artinya pemberian boron 200 ppm dapat mempertahankan nilai derajat perkecambahan benih sehingga pemberian boron dan inokulasi FMA dinilai cukup efektif mempertahankan nilai daya kecambah tanaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Welch (1999) yang menyatakan bahwa benih berkembang menjadi tanaman membutuhkan kecukupan nilai nutrisi, sehingga persentase daya kecambah tinggi. Menurut Rerkasem et al. (1997) dan Dordas (2006) defisiensi boron akan menyebabkan rendahnya nilai daya kecambah dan meningkatnya benih abnormal.
Faktor`kecukupan nilai nutrisi, kematangan fisiologis benih sewaktu masih terikat pada tanaman merupakan faktor yang mempengaruhi viabilitas dan vigoritas benih. Selanjutnya penyakit dan hama, kekurangan air serta
23
kekurangan makanan, baik pada tanaman induk sewaktu pertumbuhan dan perkembangannya atau pada waktu pematangan fisik benih juga berpengaruh terhadap tingginya viabilitas dan vigor benih. Perlakuan penyimpanan yang kurang tepat seperti kelembaban relatif udara dan suhu juga akan mempengaruhi vigor benih yang dapat menyebabkan vigor benih akan lebih cepat menurun (Kartasapoetra, 2004).
4.2.Pengaruh coating boron dan FMA terhadap produksi biomassa tanaman leguminosa pakan Calopogonium mucunoides desv
4.2.1. Laju pertambahan tinggi vertikal tanaman
Laju pertumbuhan tinggi vertikal tanaman menunjukkan total nilai pertambahan tinggi vertikal tanaman setiap minggunya selama pemeliharaan. Perlakuan FMA dan interaksi boron dengan FMA tidak menunjukkan perbedaan nyata terhadap pertumbuhan tinggi vertikal tanaman fase vegetatif sedangkan interaksi boron dengan FMA fase generatif menunjukkan perbedaan nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan tinggi tanaman. Perlakuan dengan memberikan boron 200 ppm tanpa FMA meningkatkan laju pertumbuhan tinggi vertikal tanaman fase vegetatif dan generatif sebesar 13% dan 5%. Gambar 7.
Gambar 7.Pengaruh pemberian boron dan FMA terhadap tinggi vertikal tanaman leguminosa pakan Calopogonium mucunoides Desv.
184.94 211.94 182.44 181.17 199.00 192.56 171.89 179.56 39.25a 41.50 a 13.17c 14.17c 29.67ab34.33 a 33.67 a 15.00 c -50.00 100.00 150.00 200.00 250.00 T in g g i ( cm ) Perlakuan vegetatif generatif
Pemberian boron 200 ppm akan dapat meningkatkan laju pertambahan tinggi vertikal tanaman fase vegetatif dan generatif sedangkan pemberian boron diatas 200 ppm dapat menurunkan nilai laju pertambahan tinggi vertikal tanaman. Perlakuan inokulasi FMA mampu meningkatkan nilai laju pertambahan tinggi vertikal tanaman fase generatif dibanding tanpa inokulasi FMA utamanya pada level boron 400 ppm. Pada pertumbuhan fase vegetatif, inokulasi FMA menurunkan nilai laju pertambahan tinggi vertikal tanaman.
4.2.2. Total pertambahan jumlah daun
Total pertambahan jumlah daun menunjukkan jumlah pertambahan daun setiap minggunya selama pemeliharaan. Perlakuan boron dengan FMA menunjukkan adanya interaksi terhadap pertambahan jumlah daun Calopogonium mucunoides Desv. Gambar 8. Pemberian boron dalam coating bersama FMA meningkatkan pertambahan jumlah daun fase vegetatif sedangkan fase generatif tidak berbeda nyata.
Gambar 8. Gafik pengaruh pemberian boron dan FMA terhadap jumlah daun leguminosa Calopogonium mucunoides Desv.
Level pemberian boron terbaik adalah boron 200 ppm. Peningkatan level boron diatas 200 ppm menyebabkan penurunan pertambahan jumlah daun Calopogonium mucunoides Desv. Inokulasi FMA tidak menunjukkan pengaruh nyata pada fase vegetatif maupun generatif akan tetapi inokulasi FMA bersama boron akan meningkatkan pertambahan jumlah daun pada fase generatif. 106.67 ab118.33 a 74.67c 77.67 c 88.33bc 86.67 bc 86.67 bc 81.00 bc 151.67a 116.33 b 150.33 a 86.00 c 95.00 ab 166.00 a 149.33 a148.00 a -20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 140.00 160.00 180.00 M0B0 M0B200M0B400M0B600 M1B0 M1B200M1B400M1B600 Ju m lah d au n Perlakuan vegetatif generatif
25
4.2.3. Produksi biomassa kering
4.2.3.1. Produksi berat kering daun
Level boron dan interaksi boron dengan FMA tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap produksi berat kering daun panen vegetatif sedangkan panen generatif menunjukkan pengaruh nyata (P<0,05). Inokulasi FMA juga tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap peningkatan berat kering daun baik panen vegetatif maupun generatif.
Tabel 3. Pengaruh pemberian boron dan FMA terhadap produksi berat kering daun
Perlakuan Boron (ppm) Rataan 0 200 400 600
BK Daun fase vegetatif (g/tanaman)
M0 29,1±2,7 29,2±4,0 23,4±3,1 22,9±6,3 26,2±4,8 M1 27,6±2,7 21,8±11,6 24,2±2,2 24,8±2,8 24,6±5,7 Rataan 28,3±2,6 25,5±8,8 23,8±2,5 23,9±4,5
BK Daun fase generatif (g/tanaman)
M0 8,02±0,36d 12,40±1,25b 11,13±1,01bc 8,40±2,51cd 9,99±2,31 M1 11,70±1,57b 15,93±1,50a 11,07±0,12bc 9,20±0,53d 11,98±2,74 Rataan 9,86±2,26b 14,17±2,30a 11,10±0,64b 8,80±1,68b
Keterangan :
M0 = tanpa inokulasi FMA, M1=dengan inokulasi FMA
Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) Pemberian boron dapat menyebabkan peningkatan berat kering daun fase generatif. Penggunaan level boron diatas 400 ppm dapat menyebabkan penurunan berat kering daun. Perlakuan terbaik ditunjukkan oleh perlakuan boron 200 ppm bersama FMA dengan peningkatan sebesar 98,63% sedangkan level boron terbaik ditunjukkan pada boron 200 ppm dengan peningkatan berat kering daun sebesar 43,71%. Penggunaan boron diatas 200 ppm menyebabkan penurunan produksi berat kering daun.
4.2.3.2. Produksi berat kering batang
Berdasarkan hasil analisa sidik ragam, perlakuan boron dan interaksi boron dengan FMA menunjukkan pengaruh tidak nyata terhadap berat kering batang panen vegetatif, tetapi menunjukkan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap berat kering batang panen generatif. Inokulasi FMA pada panen vegetatif dan generatif tidak menunjukkan perbedaan nyata. Tabel 4.
Tabel 4. Pengaruh pemberian boron dan FMA terhadap produksi berat kering batang
Perlakuan Boron (ppm) Rataan
0 200 400 600
BK Batang panen fase vegetatif (g/tanaman)
M0 13,07±5,26 9,60±2,92 12,30±4,10 11,47±2,12 11,61±3,50 M1 13,80±7,30 7,33±5,71 11,17±2,37 8,43±5,62 10,18±5,41 Rataan 13,43±5,71 8,47±4,24 11,73±3,06 9,95±4,14
BK Batang panen fase generatif (g/tanaman)
M0 19,47±2,87bc 24,00±0,72a 25,00±1,22a 18,73±0,31c 21,80±3,17 M1 21,80±2,08abc 23,73±0,46a 22,67±1,93ab 14,20±2,51d 20,60±4,25 Rataan 20,63±2,58b 23,86±0,56a 23,83±1,95a 16,47±2,95c
Keterangan :
M0 = tanpa inokulasi FMA, M1=dengan inokulasi FMA
Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) Perlakuan terbaik ditunjukkan pada pemberian boron 200 ppm tanpa FMA dengan kenaikan berat kering batang sebesar 18,89% dibanding boron 0 ppm tanpa FMA. Berat kering batang terendah panen generatif ditunjukkan oleh boron 600 ppm dengan FMA. Penggunaan boron 600 ppm menyebabkan penurunan berat kering batang. Level terbaik ditunjukkan oleh boron 200 ppm dengan peningkatan berat kering batang sebesar 10,81%.
4.2.3.3. Produksi berat kering akar
Berdasarkan hasil analisa sidik ragam, perlakuan pemberian boron dan interaksi boron dengan FMA menunjukkan pengaruh tidak nyata terhadap berat kering akar panen vegetatif sedangkan pada panen generatif menunjukkan pengaruh nyata (P<0,05). Tabel 5.
Tabel 5. Pengaruh pemberian boron dan FMA terhadap produksi berat kering akar
Perlakuan Boron (ppm) Rataan
0 200 400 600
BK Akar panen vegetatif (g/tanaman)
M0 1,63±0,87 2,17±0,67 1,83±0,85 1,47±0,23 1,78±0,66 M1 2,00±0,79 1,50±0,72 1,33±0,49 2,70±2,36 1,88±,26 Rataan 1,82±0,77 1,83±0,72 1,58±0,68 2,08±1,65
BK Akar panen generatif (g/tanaman)
M0 6,60±0,35bc 7,93±0,61abc 10,13±3,00a 5,47±0,42c 7,53±2,25 M1 7,73±0,90abc 8,73±1,10ab 6,73±0,50bc 2,87±1,29d 6,52±2,47 Rataan 7,17±0,87a 8,33±0,91a 8,43±2,68a 4,17±1,66b
Keterangan :
M0 = tanpa inokulasi FMA, M1=dengan inokulasi FMA
27
Hal berbeda terjadi pada hasil inokulasi FMA, dimana inokulasi FMA tidak menunjukkan perbedaan nyata baik panen fase vegetatif maupun generatif.
Perlakuan terbaik ditunjukkan pada perlakuan boron 400 ppm tanpa FMA dengan peningkatan berat kering akar sebesar 53,49% dibanding boron 0 ppm tanpa FMA. Peningkatan level boron menyebabkan peningkatan rataan berat kering akar sampai level boron 400`ppm. Penggunaan boron diatas 400 ppm akan menyebabkan penurunan berat kering akar.
4.2.4. Kandungan total karbohidrat terlarut daun dan akar
Berdasarkan hasil sidik ragam, Tabel 6, perlakuan boron dengan FMA menunjukkan perbedaan nyata (P<0,05) terhadap peningkatan kandungan total karbohidrat terlarut pada akar, sedangkan pada daun tidak menunjukkan perbedaaan nyata. Perbedaan yang tidak nyata juga ditunjukkan pada interaksi antara level pemberian boron dan perlakuan FMA.
Tabel 6.Pengaruh pemberian boron dan FMA terhadap kandungan total karbohidrat terlarut (Water Soluble Carbohydrate) pada akar dan daun
Perlakuan Boron (ppm) Rataan
0 200 400 600 akar (mg BK/tanaman) M0 165,2±35,8d 269,0±25,5ab 293,1±46,6ab 263,0±6,7abc 247,6±57,6 M1 304,9±17,8a 204,2±15,3cd 231,5±17,8bc 307,7±14,6a 262,1±50,0 Rataan 235,0±83,9 236,6±41,2 262,3±45,8 285,4±27,4 daun (mg BK/tanaman) M0 7616,3±490,7 7010,5±444,9 5410,9±291,2 6463,8±495,2 6625,4±928,2 M1 6752,0±36,1 5197,5±1038,0 7090,3±1400,9 6067,0±287,4 6276,7±1022,4 Rataan 7184,2±574,2 6104,0±1233,2 6250,6±1273,9 6265,4±402,2 Keterangan :
M0 = tanpa inokulasi FMA, M1=dengan inokulasi FMA
Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) Peningkatan kandungan total karbohidrat terlarut akar terjadi pada perlakuan FMA tanpa boron dengan peningkatan sebesar 84,56% dan pada pemberian boron 600 ppm tanpa FMA sebesar 86,25%. Ini menunjukkan pada level boron 200 dan 400 ppm menyebabkan penurunan kandungan karbohidrat total akar sedangkan interaksi FMA menyebabkan peningkatan kandungan total karbohidrat terlarut pada level boron 600 ppm.
4.2.5. Persen kolonisasi akar
Level boron dan interaksi boron dengan FMA menunjukkan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap persen kolonisasi akar panen vegetatif dan generatif. Inokulasi FMA pada fase vegetatif dan generatif tidak menyebabkan peningkatan. Tabel 7. Persen kolonisasi tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan boron 0 ppm dengan FMA sebesar 20,00±4,33% dan boron 200 ppm tanpa FMA sebesar 24,07±2,32%.
Tabel 7. Pengaruh pemberian boron dan FMA terhadap persen infeksi akar
Perlakuan Boron (ppm) Rataaan
0 200 400 600
Persen infeksi akar panen vegetatif(%)
M0 5,19±1,70bc 9,62±3,84abc 0,95±1,65c 4,44±5,09bc 5,05±4,34
M1 20,00±4,33a 16,05±15,21ab 5,24±1,72bc 1,11±1,92c 10,60±10,55
Rataan 12,59±8,63a 12,84±10,53a 3,10±2,79b 2,78±3,90b Persen infeksi akar panen generatif (%)
M0 8,15±0,64d 24,07±2,32a 18,89±5,88ab 10,37±0,64cd 15,37±7,24 M1 14,45±4,84bcd 14,44±1,12bcd 15,55±2,94bc 10,74±6,32cd 13,80±4,12 Rataan 11,30±4,63b 19,26±5,52a 17,22±4,54a 10,56±4,02b
Keterangan :
M0 = tanpa inokulasi FMA, M1=dengan inokulasi FMA
Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) Level boron terbaik ditunjukkan oleh boron 200 ppm baik panen vegetatif maupun panen generatif. Peningkatan level boron diatas 200 ppm tidak diikuti dengan peningkatan persen infeksi akar.
4.2.6. Produksi bintil akar
Produksi bintil akar meliputi jumlah bintil dan berat kering bintil. Berdasarkan pada Gambar 9, perlakuan boron, FMA dan interaksinya boron dengan FMA tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan baik pada jumlah bintil maupun berat kering bintil panen fase vegetatif. Bintil akar yang dihasilkan rata-rata memiliki berat kering bintil yang lebih rendah dibanding jumlah bintil akar sehingga bintil yang dihasilkan kecil-kecil.
29
Gambar 9. Pengaruh pemberian boron dan FMA terhadap jumlah dan berat kering bintil akar fase vegetatif
Peningkatan level boron tidak diikuti dengan peningkatan berat kering bintil akar kecuali pada boron 600 ppm dengan FMA. Inokulasi FMA pada boron 600 ppm mampu meningkatkan berat bintil akar dan menghasilkan bintil yang lebih besar. Standar deviasi yang luas menyebabkan angka yang dihasilkan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Lampiran 6.
Produksi bintil akar fase generatif, Gambar 10, tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap jumlah bintil akar sedangkan pada berat kering bintil akar menunjukkan pengaruh yang signifika. Perlakuan boron dengan FMA menunjukkan adanya interaksi terhadap produksi berat kering bintil akar.
Gambar 10. Pengaruh pemberian boron dan FMA terhadap jumlah dan berat kering bintil akar fase generatif
46.00 78.00 11.00 3.00 53.00 56.00 23.00 63.00 76.00 64.00 8.00 4.00 148.00 33.00 13.00 311.00 -50.00 100.00 150.00 200.00 250.00 300.00 350.00 M0B0 M0B200 M0B400 M0B600 M1B0 M1B200 M1B400 M1B600 Be ra t k erin g (m g ) Perlakuan jumlah bintil BK bintil
-79.00 89.00 20.00 21.00 94.00 20.00 37.00 -26.00 b 2.00 b 2.00 b 16.00 b 99.00 a 4.00 b 5.00 b -20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 M0B0 M0B200 M0B400 M0B600 M1B0 M1B200 M1B400 M1B600 Be ra t k erin g (m g ) Perlakuan jumlah bintil BK bintil
Perlakuan boron menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap berat kering akar dengan level terbaik 200 ppm. Pemberian boron diatas 200 ppm menyebabkan penurunan berat kering bintil akar.
II.7. Ikhtisar