Proses produksi adalah segala kegiatan yang menciptakan atau menambah kegunaan (utility) suatu barang atau jasa. Apabila terdapat kegiatan yang mengakibatkan adanya penambahan kegunaan atau faedah suatu barang dan jasa, maka kegiatan tersebut dapat dikatakan sebagai kegiatan produksi, jadi yang dimaksud dengan proses produksi adalah suatu cara, metode, atau teknik bagaimana menciptakan suatu faedah atau menambah faedah suatu barang dan jasa, dengan menggunakan faktor-faktor produksi yang ada, (Ahyari, 2012;
dalam Reski Amelia dkk, 2010).
Proses produksi “Sarabba Instan” meliputi beberapa tahap, seperti berikut:
Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan fisik dan pemisahan bahan baku.
Penyortiran dilakukan untuk memisahkan antara bahan baku yang berkualitas baik dan kurang baik. Hanya yang berkualitas baik yang digunakan untuk pembuatan sarabba instan ini. Penyortiran dilakukan dengan melihat kualitas dan kebersihan jahe dan gula merah.
Kualitas jahe dilihat dari aroma dan keadaan jahe, jahe yang memiliki aroma tidak terlalu pekat, tandanya belum dapat digunakan. Kualitas gula merah dilihat dari rasa, apabila gula merah yang memiliki rasa yang dianggap kurang manis, maka gula ini tidak digunakan dalam pembuatannya. Karena gula merah yang kurang manis akan mempengaruhi rasa dari sarabba. Setelah disortir, maka dilakukan perendaman. Perendaman jahe dilakukan agar kotoran-kotoran yang kering mudah hilang, setelah itu dilakukan pencucian. Pembersihan dilakukan dengan cara manual, yaitu dengan cara mencuci jahe. Pencucian jahe ini menggunakan air yang mengalir agar lebih bersih.
Penyikatan jahe ini dilakukan bersamaan dengan pencucian, agar dapat dipastikan bahwa jahe yang dibersihkan tadi sudah benar-benar bersih. Pencucian ini kembali dilakukan agar kotoran-kotoran yang masih menempel saat penyikatan dapat hilang dari jahe tersebut, dengan menggunakan wadah ember atau baskom.
Setelah bersih, ditiriskan agar memudahkan untuk melakukan penggilingan. Jahe digiling dengan menggunakan blender sebagai mesin penggiling.
Hal ini dilakukan untuk memudahkan penyaringan. Jahe yang sudah digiling disaring untuk mengambil sari dari jahe tersebut. Penyaringan dilakukan
satu sampai dua kali agar ampasnya tidak masuk ke dalam sari. Setelah selesai melakukan penyaringan, maka semua bahan baku dicampur. Bahan baku yang digunakan yaitu jahe, gula merah (jawa), air, merica dan santan. Kegiatan produksi mulai dari penyortiran sampai pada kegiatan pencampuran bahan baku biasanya berlangsung selama ± 3 jam.
Setelah semua bahan baku tercampur, maka dilakukan perebusan.
Perebusan ini dilakukan dengan menggunakan panci yang berukuran besar.
Perebusan ini dilakukan hingga semua campuran bahan baku mengental dan pada tahap inilah baru bisa dikatakan “Sarabba”. Perebusan ini biasanya berlangsung selama ± 1 jam. Pendinginan dilakukan, agar kemasan yang digunakan untuk membungkus minumannya tidak kempes atau rusak, karena kemasannya hanya terbuat dari plastik. Pendinginan ini dilakukan sekitar 2-3 jam.
Setelah sarabba tersebut dingin, maka sarabba di masukkan ke dalam kemasan botol plastik. Pelabelan merupakan tahap akhir dari proses produksi sarabba. Setelah sarabba di masukkan ke botol plastik, maka botol tersebut diberi label. Pengemasan dan labeling biasanya berlangsung selama ± 1 jam. Dari hasil pembahasan di atas, terlihat bahwa kegiatan produksi dilakukan dengan menggunakan waktu yang cukup lama.
Salah satu faktor penyebabnya adalah karena alat-alat yang digunakan masih manual, dan kegiatan produksi ini bisa dilakukan dalam waktu yang lebih singkat apabila menggunakan alat-alat yang lebih bagus lagi seperti mesin, utamanya pada kegiatan mengupas dan memotong bahan baku (Jahe merah).
Akan tetapi, berhubung karena tempat produksi yang digunakan selama tidak
begitu luas sehingga tidak memungkinkan untuk menggunakan alat-alat mesin, seperti mesin pemotong bahan baku tersebut. Melihat kondisi tersebut, maka ibu Hajira selaku pemilik perusahaan, mulai membangun sebuah perusahaan yang terletak tidak jauh dari tempat produksi sebelumnya (yang digunakan saat ini).
Seiring dengan pembangunan pabriknya yang baru, maka pihak perusahaan juga, menggunakan waktunya untuk mencari informasi serta petani-petani atau pedagang-pedagang yang berhubungan dengan hasil produksi pertanian khususnya jahe merah.
Sarabba instan sebenarnya dapat bertahan selama kurang lebih 6 bulan, namun melihat persaingan yang begitu ketat sehingga pihak perusahaan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan prima kepada relasi serta konsumennya, sehingga produknya tidak dibiarkan tinggal terlalu lama baru diganti. Sarabba instan tersebut cocok dan akan lebih tahan bila disimpan di tempat yang dingin seperti pre zeer supaya kandungan air santan yang terdapat dalam sarabba bisa bertahan lebih lama.
Dari hasil pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa jumlah produksi UPPKS Balla Ratea belum maksimal, jumlah produksinya dalam setiap bulan hanya sampai 1000 botol dan paling maksimal 1200 botol/bulan, karena bahan baku yang digunakan sampai saat ini belum bisa tersedia sesuai dengan jumlah dan waktu yang dibutuhkan oleh perusahaan. Selain itu pabriknya belum selesai dibangun, sehingga alat-alat produksi yang baru (lebih bagus kapasitasnya) belum bisa digunakan. Adapun saran yang dapat diberikan oleh peneliti adalah sebaiknya UPPKS membina kelompok tani atau petani secara
langsung dalam melakukan budidaya jahe merah, merica dan juga dalam pembuatan gula jawa.
2. Price (Harga)
Harga menggambarkan besarnya rupiah yang harus dikeluarkan oleh seorang konsumen untuk memperoleh sebuah produk dan dalam dunia usaha hendaknya harga dapat dijangkau oleh konsumen supaya produk kita dapat dipasarkan. Berdasarkan perhitungan biaya variabel dan juga biaya tetap, maka perusahaan UPPKS Balla Ratea menetapkan setiap jenis ukuran produkya dengan harga yang berbeda-beda. Di mana yang paling utama di sini adalah bahan bakunya Karena bahan baku sarabba instan masih sulit untuk didapatkan, sehingga harganya jadi mahal, dan ini sangat berpengaruh terhadap harga jual setiap produk.
Di mana untuk ukuran 330 ml seharga Rp. 35.000,-/ botol, ukuran 500 ml seharga Rp. 50.000,-/botol dan ukuran 630 ml seharga Rp. 80.000,-/botol, harga tersebut merupakan harga jual kepada konsumen akhir dan harga jual kepada konsumen perantara (relasinya) yang diantarkan langsung ke tempatnya masing-masing dipotong sebesar 10 %/botol. Sedangkan relasi kerjanya yang langsung mengambil produk di perusahaan UPPKS Balla Ratea harganya masing-masing dipotong sebesar 15 %/botol. Harga produk yang sebenarnya sebelum ditambah dengan harga mark up adalah ukuran 330 ml Rp. 17.000,-/botol, ukuran 500 ml adalah Rp. 20.000,-/botol dan ukuran 630 ml adalah Rp.
26.000,-/botol. Setiap jenis ukuran masing-masing ditambah dengan keuntungan yang sama untuk semua ukuran yaitu 20 %.
Namun resiko kerugiannya berbeda-beda setiap ukuran. Ukuran 330 ml resiko kerugian sebesar 12% / botol sehingga harga jualnya ditetapkan sebesar Rp.
22.500,-, ukuran 500 ml ditambah resiko kerugian sebesar 17 % / botol sehingga harga jualnya ditetapkan sebesar Rp. 27.500,-, sedangkan ukuran 630 ml ditambah resiko kerugian sebesar 24 % / botol sehingga harga jualnya ditetapkan sebesar Rp. 37.000,-. Setelah melakukan penelusuran pasar sasaran, maka dapat diketahui
bahwa harga jual produk tersebut setiap pasar berbeda-beda.
Pada tempat penjualan “Aneka Ole-Ole Khas Makassar” yang terdapat di Jl. Andi Pettarani dan Pusat Ole-Ole Khas Makassar di Somba Opu harga jualnya adalah sama dengan harga jual yang digunakan oleh UPPKS Balla Ratea ketika produknya dijual langsung ke konsumen akhir, yaitu untuk ukuran 330 ml maka harganya adalah sebesar Rp. 22.500,-/botol, untuk ukuran 500 ml harganya adalah Rp. 27.500,-/botol dan untuk ukuran 630 ml harga jualnya adalah sebesar Rp. 37.000,-/botol.
Harga jual tersebut digunakan dengan pertimbangan bahwa, sekarang semakin hari semakin banyak produk baru yang bermunculan, jadi supaya produk tersebut laku di pasaran, maka tidak perlu menjualnya dengan harga yang terlalu mahal. Dari harga jual tersebut konsumen antara sudah mendapatkan keuntungan sebesar 10% sampai 15%. Namun di tempat-tempat tersebut yang paling banyak dijual adalah ukuran 330 ml dan ukuran 500 ml, hal ini disebabkan karena ukuran tersebut lebih ekonomis dan lebih pas untuk dijadikan sebagai ole-ole. Hal ini berbeda dengan harga jual yang digunakan di pasar-pasar atau distribusi lain, seperti pada Warkop Pengayoman, Teras Café Graha
Pena Lantai 2 dan Rumah Makan Kaisar, yang menjual sarabba instannya sebesar Rp. 8.000,- sampai Rp. 10.000,-/ gelas. Di mana untuk ukuran 330 ml dapat dijual sampai 7 gelas, untuk ukuran 500 ml dapat dijual sampai 10 gelas dan untuk ukuran 630 ml bisa dijual sampai 20 gelas. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 9. Jumlah Penerimaan Penjualan Konsumen Perantara dalam Setiap Ukuran Sarabba Instan (untuk Harga Rp. 8.000/Gelas)
Ukuran
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2012
Tabel 9 menunjukkan bahwa apabila tempat-tempat tersebut menjual dengan harga Rp. 8.000, maka untuk ukuran 330 ml mereka menerima sebesar Rp. 56.000,-, untuk ukuran 500 ml mereka menerima sebesar Rp. 80.000,- dan untuk ukuran 630 ml mereka menerima sebesar Rp. 160.000,-. Belum lagi ketika mereka menjual dengan harga Rp. 10.000,-/gelas, jumlah penerimaannya dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 10. Jumlah Penerimaan Penjualan Konsumen Perantara dalam Setiap Ukuran Sarabba Instan (untuk Harga Rp. 10.000/Gelas)
Ukuran ml Jumlah
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2012
Tabel 10 menunjukkan, bahwa ketika mereka menjualnya dengan harga Rp. 10.000,-/gelas, maka mereka bisa menerima sebesar Rp. 70.000,- untuk ukuran 330 ml, Rp. 100.000,- untuk ukuran 500 ml, dan Rp. 200.000,- untuk ukuran 630 ml. Melihat harga jual dari sarabba instan tersebut, maka dapat dipastikan bahwa banyak masyarakat atau calon konsumen yang tidak bisa menjangkau harganya, khususnya bagi masyarakat yang tingkat ekonominya menengah ke bawah.
Menurut ibu Hajirah selaku pemilik perusahaan, bahwa ia sengaja membuat produk dengan ukuran 330 ml, 500 ml dan 630 ml, dan sengaja memilih sasaran pasar yang tingkat ekonominya menengah ke atas karena ia berpikir bahwa produknya masih belum terlalu lama dan apabila produknya tidak laku di pasaran yang tingkat ekonominya menengah ke atas, maka dia tinggal menurunkan harga supaya masyarakat yang ekonominya menengah ke bawah dapat membelinya. Tetapi apabila dari awal pihak perusahaan memilih
konsumen yang tingkat ekonominya menengah ke bawah, maka apabila produknya tidak laku di pasaran, maka ia akan susah untuk menjualnya.
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa harga jual dari sarabba instan belum bisa dijangkau oleh masyarakat atau konsumen yang tingkat ekonominya menengah ke bawah karena harganya yang mahal. Adapun solusi yang bisa diberikan oleh peneliti adalah sebaiknya perusahaan membuat produk yang ukurannya lebih kecil lagi (lebih ekonomis), supaya masyarakat yang tingkat ekonominya menengah ke bawah juga dapat menikmatinya.
3. Promotion (Promosi)
Promosi adalah kegiatan memperkenalkan produk, baik produk berupa barang maupun berupa jasa yang bertujuan untuk menarik perhatian masyarakat untuk membelinya. Tanpa adanya promosi, maka produk tersebut tidak akan dikenal oleh masyarakat atau calon konsumen. UPPKS Balla Ratea memperkenalkan produknya melalui dua cara yaitu dengan cara personal selling dan public relation.
Personal selling (penjualan personal), dilakukan oleh pihak perusahaan dengan cara melakukan presentasi secara lisan kepada calon pembeli. Hal ini paling sering dilakukan kepada teman-teman pihak perusahaan, namun melihat kegiatan ini prosesnya lambat, maka kegiatan promosi tidak akan cukup bila hanya menggunakan metode tersebut.
Metode promosi yang kedua adalah public relation (hubungan masyarakat), dengan cara ikut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan, seperti kegiatan-kegiatan PKK dan juga rajin mengikuti kegiatan
pameran-pameran. Pihak perusahaan belum melakukan kegiatan promosi dengan cara direct marketing (sistem pemasaran interaktif yang menggunakan satu atau lebih media iklan seperti e-mail, internet dan sebagainya) karena sampai saat ini produksi belum berlangsung secara kontinyu.
Hal ini disebabkan karena pasokan bahan baku yang masih kurang, sehingga kegiatan produksi sarabba jadi tidak kontinyu dan hasil produksinyapun tidak menentu. Hal inilah yang menyebabkan sehingga pihak perusahaan belum melakukan promosi secara besar-besaran, karena yang ditakutkan oleh pihak perusahaan adalah permintaan konsumen meningkat sementara jumlah produksinya tidak bisa memenuhi permintaan tersebut. Dan apabila hal tersebut terjadi, maka akan merusak citra perusahaan, sehingga image perusahaan tersebut akan menjadi jelek di mata masyarakat dan bisa berpengaruh terhadap kelangsungan hidup perusahaan ke depannya.
Karena sebenarnya promosi juga bisa terjadi melalui konsumen yang membeli produk tersebut. Ketika mereka membeli suatu produk, mereka biasanya menyampaikan informasi kepada teman-temannya tentang baik atau tidaknya kualitas produk yang ia beli. Promosi yang seperti inilah yang sering kita dapati di lingkungan sekitar kita. Bagi perusahaan yang pelayanan atau produknya bagus, maka akan berdampak bagus pula bagi perusahaan, tetapi apabila pelayanan dan produknya tidak bagus, maka akan berdampak buruk pula bagi perusahaan.
Begitu pula halnya dengan image perusahaan UPPKS Balla Ratea, bila dari awal pelayanannya sudah tidak bagus, maka calon konsumen akan berpikir
duakali untuk membeli produknya dan otomatis namanya juga akan menjadi jelek. Dari hasil pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa promosi yang dilakukan oleh pihak perusahaan belum meluas, karena produksi yang belum bisa dilakukan secara kontinyu. Dari permasalahan tersebut, peneliti menyarankan kepada pihak perusahaan bahwa apabila bahan baku sudah bisa memenuhi kebutuhan dalam kegiatan produksi, maka sebaiknya pihak perusahaan melakukan kegiatan promosi melalui media cetak, seperti koran, majalah, dan melalui televisi, radio serta internet (dunia maya) dan sebagainya.
4. Tempat atau Distribusi (Place)
Tempat atau distribusi merupakan salah satu variabel yang sangat berpengaruh dalam kegiatan pemasaran, karena hal inilah yang menentukan kemana arah produk tersebut dipasarkan dan apakah tempat pemasan produknya mudah dijangkau oleh konsumen atau tidak. Oleh karena itu, sebaiknya dalam memilih tempat Adapun saluran distribusi produk pada UPPKS Balla Ratea Dapat Dilihat Pada Gambar 4.
Gambar : 4 pola jalur distribusi “ sarabba instan” yang diproduksi oleh UPPKS balla ratea kecamatan pallangga kabupaten gowa, 2012
Produsen
Pola Jalur Distribusi “Sarabba Instan” yang Diproduksi Oleh UPPKS Balla Ratea, Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa, 2012. Sesuai dengan Gambar 4, maka dapat dijelaskan bahwa UPPKS Balla Ratea mendistribusikan produknya melalui empat cara, yaitu dengan cara mendistribusikan langsung kepada konsumen (kantor-kantor dan masyarakat umum) dan mendistribusikan melalui pedagang perantara (toko-toko, restoran, café, warkop) yang ada di Makassar, serta menyalurkan melalui distributor, kemudian distributor menyalurkan ke toko-toko, restoran, café, warkop kemudian ke konsumen akhir.
Kegiatan distribusi ini dilakukan di wilayah Makassar. Sedangkan apabila produknya dipasarkan ke luar kota Makassar seperti Pulau Jawa, Jakarta, Surabaya, Yokyakarta, Palu, Bandung dan Kalimantan, produk ini didistribusikan melalui pedagang besar kemudian langsung dijual kepada konsumen akhir tanpa melalui pedagang pengecer, karena rata-rata konsumen yang datang langsung ke pedagang besar tersebut untuk membeli produknya
“Sarabba Instan”. Untuk wilayah Makassar sendiri, seperti di Pengayoman yaitu Warkop Wasagena mengambil barang sebanyak 200-300 botol/bulan, Rumah Makan Kaisar setiap bulannya mengambil sebanyak 100 botol/bulan.
Untuk pusat Ole-Ole Makassar yang ada di jl. A. Pettarani dan di Somba Opu, masing-masing mengambil produk sebanyak 3 lusin/bulan, dengan setiap ukuran masing-masing mengambil sebanyak 1 lusin. Dan produk-produk tersebut biasanya habis dalam waktu dua pekan saja. Namun berhubung karena bahan baku yang sampai saat ini masih terbatas dan kegiatan produksi yang masih
dilakukan secara manual, sehingga produk-produk yang disalurkan ke setiap tempat harus dibatasi.
Apabila ada produk tersebut yang tidak laku di pasaran sampai waktu 2 bulan, maka dalam waktu 2 bulan tersebut UPPKS Balla Ratea sudah menarik produknya dan menggantinya dengan produk yang baru. Hal ini dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan untuk menjaga image (nama baik) dari perusahaan tersebut, apalagi perusahaannya baru-baru berkembang sementara dari hari ke hari begitu banyak produk-produk baru yang bermunculan dan persaingan juga jadi semakin ketat.
Jumlah produksi pada bulan Januari sampai pada bulan April 2012 sama banyaknya, yaitu masing-masing 300 botol yang terdiri dari masing-masing ukuran 330 ml sebanyak 300 botol, ukuran 500 ml 360 botol dan ukuran 630 ml 240 botol, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran 7 Hal ini berbeda pada bulan Mei, karena pada bulan tersebut produksinya meningkat menjadi 1200 botol.
Ini disebabkan karena ada kegiatan pameran, sehingga pihak produsen berusaha semaksimal mungkin untuk dapat memproduksi sebanyak 1200 botol, yang terdiri dari ukuran 330 ml sebanyak 450 botol, ukuran 500 ml 410 botol dan ukuran 630 ml tetap pada posisi 240 botol, karena ukuran ini biasanya hanya disalurkan ke warkop-warkop atau restoran. Sedangkan ukuran 300 ml dan 500 ml yang biasa dibawa oleh pemilik perusahaan untuk mengikuti kegiatan pameran-pameran.
Dari hasil pembahasan tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tempat pemasaran dari sarabba instan belum tersebar secara merata khususnya di kota Makassar sendiri. Dari permasalahan tersebut, maka peneliti dapat menyarankan agar pemasaran sarabba instan dapat tersebar secara merata khususnya di kota Makassar sendiri, maka sebaiknya pihak perusahaan selain menyalurkan produknya ke rumah-rumah makan, café, dan pusat ole-ole, maka sebaiknya pihak perusahaan juga menyalurkan produknya ke warnet-warnet atau toko-toko yang ada di sekitar kampus.
65 A. Kesimpulan
Sesuai dengan hasil penelitian yang dilaksanakan selama kurang lebih satu bulan, maka peneliti dapat memberikan beberapa kesimpulan, yaitu:
a. Penerapan bauran pemasaran:
1. Jumlah produksi sarabba instan 1000 botol/bulan dan produksi maksimal 1200 botol/bulan.
2. Harga jual setiap ukuran berbeda-beda, ukuran 330 ml harga jualnya Rp. 22.500,-/botol, ukuran 500 ml Rp. 27.500,-/botol dan ukuran 630 ml Rp. 37.000,-botol.
3. Pemasaran dengan menggunakan personal selling dan public relation.
4. Minuman Tradisional Sarabba instan yang masih belum merata, khususnya di wilayah Makassar sendiri.
b. Hambatan dalam penerapan bauran pemasaran:
1. Bahan Baku Sarabba instan terbatas, akibatnya jumlah produksi tidak stabil dan kegiatan produksi tidak kontinyu.
2. Keterbatasan bahan baku menyebabkan harga jual mahal.
B. Saran
Supaya ketersediaan bahan baku bisa memenuhi kebutuhan produksi perusahaan, maka sebaiknya UPPKS membina kelompok tani atau petani secara langsung dalam budidaya jahe merah, merica dan pembuatan gula jawa. Dengan
demikian bahan baku tidak terbatas lagi dan harganya tidak terlalu mahal, sehingga masyarakat menengah ke bawah dapat juga menikmati sarabba instan.
Selain itu bahan baku yang tidak terbatas membuat kegiatan produksi dapat dilakukan secara kontinyu, sehingga pihak perusahaan bisa melakukan kegiatan promosi secara besar- besaran dan distribusinya pun tidak dibatasi lagi oleh perusahaan.