BAB 7. PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH
7.2. Prospek Inflasi
tinggi pada triwulan-triwulan sebelumnya seiring dengan semakin besarnya perhatian pemerintah kepada subsektor ini seperti program bantuan kapal inkamina, budidaya udang vaname dan Sistem Logistik Ikan nasional (SLIN).
Sektor perdagangan, hotel dan restoran diperkirakan tumbuh moderat. Faktor penopang kinerja sektor PHR antara lain perayaan keagamaan seperti Idul Adha, Natal dan Tahun Baru. Di sisi suplai semakin bertambahnya beberapa sentra perdagangan besar akan menambah pangsa bisnis retail yang dapat memicu peningkatan konsumsi masyarakat dan pada gilirannya meningkatkan kinerja PHR. Di Banggai, seiring dengan tingginya investasi PMA mengakibatkan tingginya kinerja PHR di daerah tersebut. Sementara di Morowali dan Morowali Utara, tidak beroperasinya perusahaan-perusahaan tambang di daerah tersebut memberikan dampak ikutan berupa penurunan tingkat hunian kamar hotel dan penurunan kinerja pedagang besar dan eceran akibat menurunnya daya beli masyarakat. Sektor PHR menghadapi tantangan berupa instruksi dari pemerintah pusat kepada seluruh jajaran PNS untuk tidak melakukan kegiatan rapat di hotel yang rencananya akan diterapkan mulai triwulan IV 2014. Di samping itu kebijakan kenaikan BBM oleh pemerintah dapat memicu penurunan tingkat konsumsi masyarakat yang pada gilirannya dapat berdampak pada terjadinya penurunan permintaan jasa PHR.
Kinerja sektor jasa-jasa dan sektor bangunan diproyeksikan meningkat. Meningkatnya realisasi proyek Pemda di triwulan IV 2014 menjadi faktor utama meningkatnya kinerja kedua sektor ini. Di sisi lain pembangunan smelter di Morowali dan beberapa perusahaan besar di Banggai berkontribusi besar pada pertumbuhan sektor-sektor tersebut.
7.2. Prospek Inflasi
Dengan memperhitungkan kenaikan BBM sebesar Rp2.000/l, inflasi Tahunan Kota Palu pada triwulan IV 2014 diperkirakan mencapai 8,4%-8,9% (yoy) lebih tinggi dibandingkan inflasi triwulan III 2014 sebesar 5,5% (yoy) maupun periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 7,6% (yoy). Di sisi lain inflasi triwulanan (qtq) diperkirakan mencapai 3,96% - 4,46% atau lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi triwulanan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 1,12%(qtq).
78 Grafik 7.6. Proyeksi Inflasi Kota Palu (Tw IV-2014)
5,6 6,2 6,0 4,8 4,0 3,9 6,7 5,9 7,3 6,9 8,2 7,6 8,5 7,1 7,8 9,1 10,2 10,4 7,1 5,03 5,46 7,30 1,0 2,0 3,0 4,0 5,0 6,0 7,0 8,0 9,0 10,0 11,0 12,0 Ja n Feb Ma r A p r M ei Ju n Ju l A gu st Se p O kt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul A gu st Se p O kt Nov Des 2013 2014 Proyeksi moderat Proyeksi optimis Proyeksi pesimis
Sumber : BPS Prov Sulteng dan Proyeksi BI (%, yoy)
Di sisi penawaran, tekanan inflasi pada triwulan IV 2014 diperkirakan meningkat. Adanya isu kenaikan harga BBM menjelang akhir tahun 2014 menyebabkan terjadinya kelangkaan BBM yang berpengaruh pada terbatasnya stok solar di pelabuhan. Akibatnya, frekuensi nelayan untuk melaut turun drastis yang berdampak pada berkurangnya pasokan ikan segar di pasar. Selanjutnya, kebijakan kenaikan harga BBM yang telah ditetapkan pemerintah per tanggal 18 Oktober 2014 akan berdampak signifikan pada biaya input produksi, biaya transportasi dan pengangkutan serta biaya lainnya yang akan mempengaruhi tekanan inflasi di sisi penawaran. Di sisi lain tingginya permintaan berbagai komoditas pangan di luar Provinsi Sulawesi Tengah seperti Kalimantan Timur dan beberapa provinsi di Sulawesi juga mengakibatkan komoditas ikan segar dan bumbu-bumbuan semakin berkurang di Kota Palu yang berpotensi meningkatkan risiko inflasi. Di sisi cuaca, berdasarkan prakiraan sifat hujan yang dikeluarkan oleh BMKG Provinsi Sulawesi Tengah diperoleh informasi bahwa sifat hujan Provinsi Sulawesi Tengah di triwulan IV 2014 cenderung normal (86-115%) dengan curah hujan dalam tingkat menengah.
79
Grafik 7.7. Prakiraan Curah Hujan Oktober 2014 Grafik 7.8. Prakiraan Curah Hujan November 2014
Grafik 7.9. Prakiraan Curah Hujan Desember 2014
Sumber : BMKG Provinsi Sulawesi Tengah
Di sisi permintaan, tekanan inflasi diperkirakan meningkat. Pada bulan Oktober tekanan permintaan bersumber dari perayaan keagamaan Idul Adha dan Tahun Baru Hijriah. Sementara di bulan Desember, permintaan masyarakat akan kebutuhan pangan dan sandang semakin meningkat seiring perayaan Natal dan Tahun Baru. Di sisi lain puncak realisasi APBD dan APBN di Sulawesi Tengah di triwulan IV 2014 juga ikut memberikan tekanan inflasi di sisi permintaan.
Survei Konsumen bulan Oktober 2014 menunjukkan ekspektasi inflasi cenderung meningkat dalam jangka pendek. Faktor kebijakan pemerintah yang akan menaikkan BBM serta perayaan keagamaan menjadi faktor utama meningkatnya ekspektasi inflasi 3 bulan dan 6 bulan ke depan.
80 Grafik 7.10. Laju Inflasi Bulanan dan Indeks Ekspektasi Perubahan Harga
-1,50 0,00 1,50 3,00 4,50 6,00 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190 200 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 2013 2014 2015
Inflasi Palu (mtm) Indeks Ekspekstasi Perubahan Harga Umum 6 bulan yad % m.t.m Indeks
Grafik 7.11. Proyeksi Harga Emas (USD/Troy) Grafik 7.12. Proyeksi Harga Minyak Mentah Dunia (USD/barrel)
Sumber : Financial Forecast Center
Di sisi eksternal, risiko inflasi cenderung moderat. Berdasarkan proyeksi dari financial forecast center, harga emas dunia cenderung menurun namun harga minyak dunia menunjukkan pergerakan harga yang mulai meningkat pada awal triwulan IV 2014. Berdasarkan karakteristiknya, penurunan harga emas internasional akan diikuti oleh harga emas domestik khususnya di Sulawesi Tengah.
Tekanan inflasi administered price meningkat tajam. Kebijakan kenaikan harga BBM sebesar Rp2.000/l untuk premium dan solar diperkirakan memberikan dampak langsung dan tidak langsung yang besar pada inflasi Kota Palu di akhir tahun 2014. Tarif angkutan udara diperkirakan mengalami peningkatan seiring dengan penyesuaian BBM yang telah dilakukan serta perayaan keagamaan (Natal dan Tahun Baru) menjelang akhir tahun. Kebijakan kenaikan tarif listrik diperkirakan masih memberikan andil inflasi pada triwulan IV 2014. Walaupun kenaikan harga dilakukan pada periode 1 November
81 2014 akan tetapi dampaknya terhadap inflasi akan dirasakan pada bulan Oktober dan November karena karakteristik sebagian masyarakat yang menggunakan listrik pintar (prabayar) dan listrik pasca bayar.
Tabel 7.1. Skema Kenaikan Harga Tarif Tenaga Listrik (Rp/Kwh)
Golongan Tarif awal 01-Jul 01-Sep 01-Nop
Industri I-3 Non Tbk. 864 964 1.075 1.200
Rumah Tangga R-2 (3.500 VA-5.500 VA) 1.145 1.210 1.279 1.352
Pemerintah P2 (>200 KVA) 1.026 1.081 1.139 1.200
Rumah Tangga R-1 (12.200 VA) 1.004 1.109 1.224 1.353
Pemerintah P-3 997 1.104 1.221 1.352
Rumah Tangga R-1 (1.300 VA) 979 1.090 1.214 1.352
Sumber : PT PLN
Inflasi inti pada triwulan IV 2014 diperkirakan meningkat. Faktor yang berpotensi meningkatkan inflasi inti antara lain perayaan keagamaan dan kenaikan harga pasca pengumuman kenaikan BBM oleh pemerintah. Beberapa komoditas kelompok bahan makanan dan kelompok makanan jadi diperkirakan menjadi penyumbang inflasi utama seiring dengan meningkatnya permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru. Di sisi lain, produsen dan pedagang akan melakukan penyesuaian harga jual akibat peningkatan biaya input produksi dan biaya pengangkutan pasca kenaikan BBM. Kenaikan listrik yang dilakukan pemerintah di tahun 2014 secara tidak langsung juga dapat berdampak pada inflasi inti. Kenaikan tarif listrik biasanya akan ditransmisikan pengusaha atau produsen ke kenaikan harga jual. Di sisi lain, semakin meningkatnya tren investasi di Sulawesi Tengah juga memberikan tekanan pada komoditas inflasi inti antara lain bahan bangunan. Faktor-faktor yang mengurangi risiko (downward risk) inflasi inti relatif minim antara lain penurunan harga emas yang biasanya akan ditransmisikan ke penurunan harga domestik.
Tekanan inflasi volatile foods tinggi. Pada bulan Oktober, Kota Palu 2014 tercatat mengalami inflasi sebesar 1,31% (mtm). Inflasi yang tinggi di bulan Oktober 2014 di luar dari siklus normal. Dalam lima tahun terakhir, bulan Oktober justru selalu terjadi deflasi bulanan dengan rata-rata sebesar -0,69%. Faktor berupa kenaikan harga yang signifikan pada kelompok ikan segar menjadi pendorong utama tingginya inflasi pada bulan tersebut. Berdasarkan Focus Group Discussion (FGD) yang dilakukan KPw BI Sulawesi Tengah terhadap berbagai stakeholder diperoleh informasi bahwa isu kenaikan BBM yang menyebabkan terjadinya kelangkaan solar di pelabuhan. Dampaknya, frekuensi nelayan yang melaut menjadi berkurang sehingga pasokan ikan segar ke pasar menjadi terbatas. Berkaitan dengan hal tersebut, TPID Provinsi Sulawesi Tengah mengusulkan agar seluruh Stasiun Pengisian Disel Nelayan (SPDN) di data ulang dan segala persyaratan administratif yang diperlukan oleh SPDN dalam memperoleh BBM ber subsidi dapat dilengkapi. TPID
82 Sulawesi Tengah juga menyarakankan agar dilakukan penambahan kuota BBM bersubsidi di daerah pelabuhan Donggala yang merupakan salah satu penyangga utama pasokan ikan segar ke Kota Palu. Dalam hal ini koordinasi dan komunikasi sangat diperlukan antar SKPD dan lembaga agar permasalahan di tingkat lapangan dapat diantisipasi dengan baik. Khusus untuk tabama, panen padi yang diperkirakan terjadi pada Oktober 2014 diperkirakan dapat menambah pasokan beras di berbagai daerah dan berpotensi meningkatkan cadangan beras Bulog sebagai salah satu penyangga kesinambungan stok beras di Sulawesi Tengah. Di bulan November dan Desember, inflasi diperkirakan tetap pada kisaran tinggi akibat kebijakan kenaikan BBM yang dilakukan pemerintah. Biaya input produksi serja biaya transportasi petani dan nelayan akan meningkat yang pada gilirannya dapat meningkatkan harga jual di tingkat produsen dan konsumen.
---Latar Belakang
Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi kekhasan dan potensi unggulan daerah, maka perlu dan sangat penting dilaksanakan pemetaan basis ekonomi dan daya saing sektoral daerah. Pemetaan tersebut berguna untuk mendorong pengembangan potensi ekonomi yang produktif serta penyusunan perencanaan pembangunan daerah secara komprehensif. Sektor basis dan sektor yang berdaya saing kuat akan menghasilkan barang dan jasa baik untuk pasar di daerah maupun untuk pasar di luar daerah yang bersangkutan. Penjualan hasil ke luar daerah itu mendatangkan arus pendapatan ke dalam daerah tersebut. Arus pendapatan ini menyebabkan kenaikan konsumen maupun kenaikan investasi di daerah itu, yang pada gilirannya dapat menaikkan pendapatan dan kesempatan kerja. Dengan demikian, identifikasi untuk memotret potensi ekonomi merupakan enabler kebijakan yang sangat penting dalam mewujudkan stabilitas makro ekonomi suatu daerah.
Pada tataran praktisnya, identifikasi potensi ekonomi suatu daerah menggambarkan sejauhmana berbagai sumberdaya alam (SDA) dan sumberdaya manusia (SDM) yang dimiliki suatu daerah memiliki kekuatan dalam memberikan kontribusi produktif terhadap pertumbuhan ekonomi. Dimana pencapaian laju pertumbuhan yang tinggi dan perluasan kesempatan kerja merupakan hal yang fundamental bagi pembangunan daerah.
Metode Analisis
Identifikasi basis sektoral menggunakan metode location quotient (LQ). Metode ini berfungsi untuk mengetahui sektor-sektor basis dan non basis pada suatu daerah yang dapat diketahui dengan melihat koefisien rasio antara variabel regional/daerah kabupaten (nilai tambah, kesempatan kerja, maupun pendapatan) dalam sektor tertentu dengan variabel provinsi dalam sektor yang sama. Jika suatu sektor memiliki LQ lebih dari satu (LQ > 1), maka sektor tersebut termasuk dalam kategori sektor basis, dan bilamana LQ kurang dari satu (LQ < 1), maka sektor tersebut tidak termasuk sektor basis. Sedangkan jika LQ sama dengan satu (LQ = 1), maka ada kecenderungan sektor tersebut bersifat tertutup karena tidak melakukan transaksi ke dan dari luar wilayah, namun kondisi ini sulit ditemukan dalam sebuah perekonomian wilayah.
Sementara itu, analisis Shift Share berguna dalam menganalisis perubahan struktur ekonomi kabupaten/kota dibandingkan dengan ekonomi tingkat provinsi. Analisis ini bertujuan untuk menentukan kinerja perekonomian daerah dengan membandingkannya dengan daerah yang
a. Pertumbuhan ekonomi daerah/regional (PR) kabupaten/kota diukur dengan cara menganalisis perubahan pendapatan agregat secara sektoral dibandingkan dengan perubahan pada sektor perekonomian yang sama di tingkat provinsi.
b. Pertumbuhan proporsional (PP) untuk mengukur perubahan relatif, pertumbuhan atau penurunan perekonomian kabupaten/kota dibandingkan dengan perekonomian provinsi. Pengukuran ini memungkinkan untuk mengetahui apakah perekonomian kabupaten/kota terkonsentrasi pada sektor-sektor yang tumbuh lebih cepat dari sektor perekonomian provinsi.
c. Pertumbuhan Pangsa Pasar Wilayah (PPW) untuk menentukan seberapa jauh daya saing sektor daerah (lokal) dengan perekonomian wilayah atau provinsi. Jika PPW dari suatu sektor adalah positif, maka sektor tersebut lebih tinggi daya saingnya dari pada sektor yang sama pada perekonomian wilayah atau nasional.
Dominasi Sektor Pertanian pada Perekonomian Kabupaten/Kota di Sulawesi Tengah
Berdasarkan metode analisis LQ dengan menggunakan data dari berbagai release BPS Kabupaten/Kota dan Sulawesi Tengah Dalam Angka Tahun 2014, maka diperoleh nilai LQ sebagai berikut :
Tabel 1.
Hasil LQ Kabupaten/Kota di Sulawesi Tengah Tahun 2013
Sumber : BPS data diolah, 2014
Sektor Basis Sektor Non-Basis Keterangan :
non-basis pertanian. Sub-sektor yang berperan dominan dalam sektor pertanian di tingkat kabupaten/kota adalah subsektor tanaman bahan makanan, perkebunan, dan perikanan. Perekonomian Kabupaten/Kota di Sulawesi Tengah juga memiliki basis yang kuat di sektor perdagangan, hotel, dan restoran.
Hasil analisis LQ lainnya menunjukkan bahwa sektor pertambangan menjadi basis ekonomi di Kabupaten Morowali. Potret sektoral tersebut menggambarkan perkembangan riil produksi sektor pertambangan dan penggalian yang secara perlahan-lahan menghasilkan perubahan struktural ekonomi Kabupaten Morowali. Peranan sektor Pertanian kemudian semakin berkurang akibat laju ekspasi sektor pertambangan penggalian, dimana pertumbuhan sektoral sektor tambang jauh lebih tinggi dari rata-rata provinsi dan daerah kabupaten/kota lainnya.
Hasil Analisis Shift Share
Gambaran makro sektor pertanian Kabupaten/Kota di Sulawesi Tengah merupakan sektor yang unggul, akan tetapi menghadapi tekanan karena mengalami pertumbuhan yang relatif lambat, kondisi ini ditandai dengan hasil Pertumbuhan Proporsional (PP) yang negatif. Sektor pertanian dalam ukuran Pangsa Pasar Wilayah (PPW) pada sentra produksi seperti Kabupaten Pari-Mou, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Banggai masih memiliki keunggulan dengan kontribusi pertumbuhan yang relatif lebih cepat dibandingkan sektor yang sama di daerah lain atau dengan kata lain mempunyai keunggulan lokasional yang baik.
Selanjutnya, gambaran makro sektor pertambangan di Provinsi Sulawesi Tengah menunjukkan bahwa hanya dua Kabupaten yang memiliki keunggulan sektoral. Kabupaten Morowali dan Kabupaten Banggai merupakan daerah yang memiliki PP dan PPW yang positif. Dengan demikian, kedua daerah tersebut memiliki sektor pertambangan yang tumbuh relatif cepat dan memiliki keuntungan lokasional yang baik/daya saing sektoral yang kuat.
Distribusi terbesar sektor industri pengolahan Provinsi Sulewesi Tengah masih berasal dari subsektor kayu dan hasil hutan lainnya, dan subsektor makanan, minuman dan tembakau. Pertumbuhan pada sektor industri pengolahan terutama didorong oleh membaiknya kinerja subsektor kayu dan hasil hutan. Kota Palu menjadi sentra utama industri pengolahan subsektor kayu dan hasil hutan lainnya. dengan total output yang mencapai Rp 187 miliar pada tahun 2013 dengan rata-rata pertumbuhan tahunan dari 2009-2013 sebesar 5,9 persen. Gambaran umum sektor industri, sebagian besar memiliki komponen PP dengan nilai yang negatif, tetapi komponen PPW sebagian besar memiliki nilai yang positif.
Sigi dan Kabupaten Buol. Namun dari segi PP, secara keseluruhan daerah Kabupaten/Kota memiliki angka yang negatif. Pada intinya kinerja sektor tersebut relatif lambat pada tingkat Provinsi. Dimana Kabupaten Parigi Moutong menjadi daerah penyumbang terbesar bagi pembentukan PDRB Provinsi Selteng sektor perdagangan, hotel dan restoran yakni sebesar 21 persen. Sementara itu Kota Palu menyumbang sebesar 16 persen, dan Kabupaten Donggala menyumbang sebesar 11 persen.
Kinerja sektor angkutan dan komunikasi secara Pertumbuhan Proporsional (PP) di seluruh kabupaten/kota menunjukkan nilai PP yang negatif. Hanya daerah daerah tujuan investasi pertambangan yang merupakan daerah destinasi investor dan pendatang, memiliki komponen PP yang positif. Lain halnya dengan sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan. Pada tingkat kabupaten, satu-satunya kabupaten yang memiliki nilai PP dan PPW positif adalah Kabupaten Banggai. Dengan demikian Kabupaten Banggai mampu tumbuh relatif lebih cepat pada tingkat provinsi, sekaligus memiliki keunggulan lokasional karena sektor tersebut dapat tumbuh lebih cepat dibandingkan daerah yang lain. Dalam konteks makro sektor ini merupakan sektor potensial yang masih bisa berkembang karena memiliki komponen pertumbuhan proporsional yang mampu bertumbuh dengan cepat.
Implikasi Kebijakan
Ke depan, dalam rangka menciptakan pertumbuhan ekonomi dengan memperhatikan kondisi kekhasan dan potensi sektoral daerah, maka rekomendasi kebijakan yang penting untuk dilaksanakan adalah :
1. Melakukan perbaikan dari segi infrastruktur dan mengintensifkan pengembangan metode dan teknologi pertanian agar dapat meningkatkan produktivitas lahan, selain itu diperlukan upaya-upaya penyuluhan terkait dengan pengembangan potensi subsektor pertanian. 2. Mengembangkan sektor industri dalam bentuk supply value chain produk pertanian sebagai
persiapan dalam menghadapi MEA. Selain itu, perlu juga menyediakan bantuan teknis dalam aspek sertifikasi produk agar memenuhi standar produk nasional serta memperluas networking dalam konteks pemasaran.
3. Membangun kawasan konsentrasi pertambangan di Kabupaten Banggai dan Kabupaten Morowali.
4. Untuk asesmen ekonomi, sebaiknya pemerintah daerah melakukan perhitungan PDRB Green untuk mengetahui kualitas dari pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan oleh daerah-daerah dengan basis ekonomi ekstraktif atau sektor pertambangan dan penggalian.
PP -66397,69 -40839,36 -4475,04 -22772,70 -8489,53 40096,10 -25126,15 -676,67 27905,95 -3221,10 -3430,45 5152,48 9352,07 -103,55 -6994,21 -387,81 -6626,20 PPW 55206,42 30010,37 15985,13 37359,74 -2448,23 24730,31 17775,08 3568,30 293864,44 21548,08 105652,08 47850,49 23112,71 2744,54 20591,46 4687,76 37692,41 PR 26167,45 27425,08 4064,94 11157,80 10587,90 981,87 8404,39 512,66 2038,53 46307,05 11276,46 6149,85 3133,21 238,99 2230,31 547,34 20407,84 PP -15170,30 -7043,33 -1236,55 -5661,74 -1109,09 4076,92 -3791,40 -90,66 1340,96 -2125,41 -946,95 903,56 2433,67 -20,37 -776,05 -123,91 -1551,28 PPW -353,15 3620,25 -348,39 -417,05 3586,20 -4033,79 2669,01 160,00 -982,49 11576,36 3145,49 -545,40 -1412,88 -44,62 236,75 65,57 204,44 PR 7483,93 12483,53 1931,15 7146,34 29615,27 588,29 4574,68 663,08 1100,53 19656,61 6983,39 5645,12 3178,75 96,52 2215,68 154,17 8686,41 PP -4338,73 -3206,03 -587,45 -3626,23 -3102,23 2442,68 -2063,73 -117,26 723,94 -902,20 -586,44 829,40 2469,05 -8,23 -770,96 -34,90 -660,29 PPW -1479,20 -2248,50 -510,70 -833,11 7204,96 -2551,97 1231,06 320,19 -600,47 4652,59 1123,05 -796,53 -1850,80 -18,29 234,28 12,73 -627,12 PR 46775,43 50792,32 10737,89 19926,10 16936,62 2143,40 18891,59 1680,04 13133,65 25860,77 8744,07 8131,13 2023,90 348,04 5239,00 520,18 22782,30 PP -27117,55 -13044,52 -3266,45 -10111,00 -1774,13 8899,84 -8522,40 -297,10 8639,43 -1186,96 -734,29 1194,66 1572,04 -29,66 -1822,95 -117,76 -1731,77 PPW 23179,12 12977,20 5217,56 1057,90 -2866,49 -8617,24 -396,19 524,06 2945,92 -10145,81 -416,78 -2797,79 -1163,94 -90,38 68,95 -19,42 -578,52 PR 21617,01 57446,89 2756,76 12677,40 26910,74 6153,61 12380,75 1442,30 11091,78 50506,95 3017,06 16193,74 7126,70 429,93 8078,91 558,20 33312,12 PP -12532,23 -14753,55 -838,60 -6432,83 -2818,93 25551,03 -5585,22 -255,06 7296,27 -2318,18 -253,36 2379,25 5535,56 -36,64 -2811,12 -126,37 -2532,19 PPW 10684,22 20096,66 141,85 -5576,57 1930,19 183938,36 4629,47 99,76 -8585,05 2235,23 139,30 -1225,99 -4859,26 -262,29 3599,21 114,16 -5983,93 PR 91819,84 105981,32 20989,86 18335,89 45694,95 26725,65 31703,94 1741,88 50051,11 98077,90 46202,60 11895,24 9582,63 925,05 44,71 1342,86 111711,26 PP -53231,56 -27218,19 -6385,09 -9304,09 -4786,60 110970,38 -14302,33 -308,04 32924,04 -4501,61 -3879,91 1747,69 7443,16 -78,84 -15,56 -304,00 -8491,62 PPW 14527,72 -41245,13 -2193,78 2384,20 -2622,36 -92589,03 -1428,61 241,16 -6856,15 14861,71 16188,31 -1957,94 -8154,79 13,79 14,85 871,14 43622,35 PR 5116,17 1434,37 16396,38 0,00 7272,94 47906,46 136303,54 24832,11 98362,43 141311,08 138830,91 133184,12 48766,74 22536,20 27748,89 34132,29 312937,27 PP -2966,04 -368,37 -4987,76 0,00 -761,85 198917,41 -61489,46 -4391,40 64703,63 -6485,93 -11658,46 19567,92 37878,84 -1920,73 -9655,44 -7727,00 -23787,60 PPW 4129,88 -263,99 -1075,63 0,00 133,91 -201536,87 21278,92 845,29 -27163,07 1854,86 5240,54 -29196,04 -43910,58 462,53 13369,55 1874,71 84665,33 PR 260360,45 209975,93 34550,94 35796,87 101388,26 15145,02 70271,77 1285,62 73689,93 168245,64 88236,22 8716,91 5129,95 756,67 102,78 2727,51 100593,57 PP -150941,16 -53926,15 -10510,35 -18164,22 -10620,53 62885,24 -31701,11 -227,35 48473,86 -7722,18 -7409,72 1280,72 3984,62 -64,49 -35,76 -617,46 -7646,52 PPW 95607,71 -26625,77 -762,59 413,35 2309,27 -65262,26 20226,34 -376,27 -65988,79 49810,55 -6712,50 -2461,63 -4418,57 104,82 23,98 -158,04 -3112,06 PR 55181,07 85079,20 6165,72 23421,97 21316,18 3560,22 38319,65 2605,09 10622,99 74781,27 35964,00 13747,01 6642,03 521,85 6088,01 495,11 59156,17 PP -31990,63 -21850,10 -1875,60 -11884,89 -2232,89 14782,75 -17286,82 -460,69 6987,89 -3432,33 -3020,11 2019,76 5159,10 -44,48 -2118,37 -112,09 -4496,70 PPW 45842,56 8753,90 -203,12 -1810,08 -6160,28 -14547,97 6166,17 571,61 -4128,89 4438,06 -5034,89 -2692,77 -5220,13 -62,38 1790,36 -65,03 -3974,48 PR 119491,01 124155,10 23913,33 21972,15 59354,64 12315,99 17517,39 1567,23 47962,03 66062,27 26609,50 10445,00 8380,57 754,99 38,02 1271,42 89323,38 PP -69273,62 -31885,59 -7274,40 -11149,22 -6217,46 51138,49 -7902,47 -277,15 31549,82 -3032,14 -2234,56 1534,62 6509,48 -64,35 -13,23 -287,83 -6789,82 PPW 40868,61 5730,49 4958,07 7610,07 -7312,17 -51625,48 3812,08 -15,08 -32307,85 -903,12 -2620,94 -2422,62 -7110,05 -21,65 8,21 91,41 -547,56 PR 60461,85 125288,22 10378,57 18431,99 35244,94 7823,62 38660,17 2498,54 29990,89 50412,94 35193,13 20034,73 7518,20 1294,81 9441,41 1780,32 68723,76 PP -35052,11 -32176,60 -3157,15 -9352,85 -3691,95 32485,27 -17440,44 -441,85 19728,26 -2313,87 -2955,38 2943,58 5839,65 -110,36 -3285,21 -403,04 -5223,97 PPW 13788,25 21809,38 3529,58 -1842,14 -10354,99 -33164,89 8396,26 283,31 -23409,15 -1815,07 3270,25 -5202,31 -5934,84 -362,46 2202,80 -205,28 20991,20 PR 22367,82 38331,77 2701,60 10328,85 8856,88 2605,09 19051,19 2686,98 12856,22 26166,61 4243,35 9042,39 2897,14 357,23 5468,39 319,63 33505,57 PP -12967,50 -9844,39 -821,82 -5241,12 -927,77 10816,86 -8594,40 -475,18 8456,93 -1201,00 -356,34 1328,54 2250,31 -30,45 -1902,77 -72,36 -2546,89 PPW 11425,68 898,62 2,22 1791,27 -2359,11 -9148,95 -1785,79 10,20 -8195,15 2751,39 308,99 -1668,93 -1493,45 5,21 901,38 1,73 3512,33 Palu Prigi Moutong Poso Sigi Tolitoli Tojo Una Una Banggai Banggai Kepulauan Banggai Laut Buol Morowali Donggala
Maka dari hasil shift share, dapat disusun tipologi klassen sebagai berikut :
-PPW
PP
Hijau (+PP,+PPW) sektor maju dan tumbuh cepat, daya saing sektoral kuat
Kuning (-PP,+PPW) Sektor maju tapi tertekan, daya saing sektoral kuat Biru (+PP,-PPW) Sektor potensial yang masih bisa berkembang, daya saing sektoral lemah tapi tumbuh cepat
Merah (-PP,-PPW) Sektor Tertinggal, daya saing sektoral lemah dan pertumbuhan lambat
DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN
Inflasi
Inflasi month to month
Inflasi year to date
Inflasi year on year
Inflasi quarter to quarter
Inflasi inti (core inflation)
Adalah peningkatan harga barang dan jasa secara umum dalam satu periode. Umumnya inflasi diukur dengan melihat perubahan harga sekelompok barang dan jasa yang dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat seperti tercermin pada perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK). Berdasarkan faktor penyebabnya, inflasi dapat dipengaruhi baik oleh sisi permintaan maupun sisi penawaran.
Adalah perbandingan harga (nisbah) perubahan Indeks Harga Konsumen bulan bersangkutan dibandingkan IHK bulan sebelumnya (inflasi bulanan), dan sering disingkat (m-t-m).
Adalah inflasi yang mengukur perbandingan harga perubahan Indeks Harga Konsumen bulan bersangkutan dibandingkan IHK bulan Desember tahun sebelumnya (inflasi kumulatif), dan sering disingkat (y-t-d).
Adalah inflasi yang mengukur perbandingan harga perubahan Indeks Harga Konsumen bulan bersangkutan dibandingkan IHK bulan yang sama tahun sebelumnya (inflasi tahunan), dan sering disingkat (y-o-y).
Adalah inflasi yang mengukur perbandingan harga perubahan Indeks Harga Konsumen pada akhir triwulan yang bersangkutan dibandingkan IHK akhir triwulan sebelumnya (inflasi triwulanan), dan sering disingkat (q-t-q).
Adalah inflasi komoditas yang perkembangan harganya dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi secara umum (faktor-faktor fundamental seperti ekspektasi inflasi, nilai tukar dan keseimbangan permintaan dan penawaran agregat) yang akan berdampak pada perubahan harga-harga secara umum dan lebih bersifat permanen.
Inflasi volatile foods
Inflasi administered prices Uang kartal Uang kuasi Uang giral LDR NPLs PPAP
Adalah inflasi kelompok komoditas bahan makanan yang perkembangan harganya sangat bergejolak karena faktor-faktor tertentu.
Adalah inflasi kelompok komoditas yang perkembangan harganya diatur oleh pemerintah.
Adalah uang kertas, uang logam, komemoratif koin dan uang kertas komemoratif yang dikeluarkan oleh bank sentral yang menjadi alat pembayaran yang sah di suatu negara.
Adalah kewajiban sistem moneter dalam bentuk deposito berjangka, tabungan dalam rupiah dan saldo rekening valuta asing milik penduduk. Berdasarkan standar penyusunan dan penyajian statistik secara internasional yang terbaru, BPR/BPRS dimasukkan sebagai anggota sistem moneter sehingga tabungan dan deposito yang ada di BPR/BPRS diperhitungkan sebagai uang kuasi.
Terdiri dari rekening giro masyarakat di bank, kiriman uang, simpanan berjangka dan tabungan yang sudah jatuh tempo yang seluruhnya merupakan simpanan penduduk dalam rupiah pada sistem moneter.
Adalah rasio total kredit terhadap total Dana Pihak Ketiga (DPK). DPK terdiri dari deposito berjangka, tabungan dan giro. LDR singkatan dari Loans to Deposit Ratio.
Adalah kredit-kredit di perbankan yang tergolong kolektibilitas tidak lancar, yaitu kurang lancar, diragukan dan macet berdasarkan ketentuan Bank Indonesia. NPLs singkatan dari Non Performing Loans.
Adalah sejumlah dana yang dialokasikan untuk
mengantisipasi tidak tertagihnya aktiva produktif yang tergolong kurang lancar, diragukan dan macet berdasarkan ketentuan Bank Indonesia. Aktiva produktif dalam hal ini adalah kredit. PPAP singkatan dari Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif.
Cash Inflow Cash outflow Net flow PTTB PDB-PDRB DAU DAK Bagi Hasil
Adalah uang kartal yang masuk ke Bank Indonesia, misalnya melalui kegiatan setoran yang dilakukan oleh bank-bank umum.
Adalah uang kartal yang keluar dari Bank Indonesia melalui proses penarikan tunai bank umum dari giro di Bank Indonesia atau pembayaran tunai melalui Bank Indonesia. Adalah selisih antara outflow dan inflow.
Adalah kegiatan pemusnahan uang atau Pemberian Tanda Tidak Berharga, sebagai upaya Bank Indonesia untuk menyediakan uang kartal yang layak dan segar (fit for
circulation) untuk bertransaksi.
Adalah sebuah analisis perhitungan pertumbuhan ekonomi dengan menghitung seluruh nilai tambah yang terjadi di sebuah wilayah tertentu pada waktu tertentu. Untuk skala nasional disebut Produk Domestik Bruto (PDB) dan untuk skala regional/daerah disebut Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
DAU singkatan dari Dana Alokasi Umum. DAU merupakan transfer yang bersifat umum (block grant) untuk mengatasi masalah ketimpangan horisontal (antar daerah) dengan tujuan utama pemerataan kemampuan keuangan antar daerah.
DAK singkatan dari Dana Alokasi Khusus. DAK merupakan transfer yang bersifat khusus (specific grant) untuk memenuhi pembiayaan kebutuhan khusus daerah dan atau kepentingan nasional.
Merupakan dana perimbangan untuk mengatasi masalah ketimpangan vertikal (antara pusat dan daerah) yang dilakukan melalui pembagian hasil antara pemerintah pusat dan daerah penghasil, dari sebagian penerimaan perpajakan (nasional) dan penerimaan sumber daya alam.