Prospek Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi Sumatera untuk tahun 2015 diprakirakan melambat dibandingkan tahun 2014 dan cenderung berada dibawah prakiraan sebelumnya. Perkembangan kondisi terkini mendorong perkiraan ekonomi Sumatera di tahun 2015 mengalami koreksi ke bawah atau menjadi berada pada kisaran 3,40-3,90%
(yoy). Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh rendahnya kinerja pertambangan minyak bumi dan gas Sumatera. Selain itu, kinerja ekspor komoditas perkebunan dan industri pengolahan juga diperkirakan melambat. Indikasi permintaan dunia yang belum menguat masih akan membatasi prospek perbaikan harga komoditas global ke depan.
Kondisi harga komoditas yang belum membaik memberikan tekanan terhadap kinerja sektor pertanian dan pertambangan Sumatera. Berbagai hasil liaison mengkonfirmasi bahwa tekanan harga sangat terasa di pelaku usaha perkebunan kelapa sawit dan karet. Tekanan pada sektor pertanian juga ditambah oleh potensi kekeringan yang dialami beberapa wilayah di Sumatera akibat fenomena El Nino. Sementara itu, kinerja sektor pertambangan masih terbatas seiring dengan tekanan harga jual yang masih terjadi pada komoditas batubara, meskipun terdapat optimisme terhadap produksi minyak bumi ke depan. Perlambatan kinerja beberapa sektor utama di Sumatera diperkirakan mengakibatkan kinerja konsumsi rumah tangga Sumatera dan ekspor juga turut mengalami perlambatan.
Berdasarkan berbagai risiko tersebut, Pemerintah dan berbagai pihak perlu menyusun rencana bagi pertumbuhan ekonomi Sumatera agar lepas dari ketergantungan kondisi komoditas utama. Dukungan fiskal dalam realisasi berbagai proyek menjadi penentu untuk menekan biaya logistik Sumatera yang masih relatif besar. Berbagai proyek yang tengah dilakukan di Sumatera seperti mega proyek jalan tol Sumatera di ruas Lampung-Sumatera Selatan, serta jaringan kereta api perlu terus dipantau agar dapat berjalan lancar. Selain dukungan fiskal, berbagai proyek infrastruktur perlu mendapatkan dukungan khususnya terkait kejelasan Pemerintah Daerah mengenai pembebasan lahan. Berbagai proyek perlu terus didorong agar segera berlanjut dari fase groundbreaking. Penyelesaian berbagai proyek infrastruktur dasar ini, diharapkan dapat mengurangi kesenjangan ekonomi di Sumatera serta menarik minat investor untuk mengembangkan sumber pertumbuhan baru lainnya seperti hilirisasi industri, kegiatan perdagangan, dan potensi kegiatan ekonomi lainnya (Lihat Boks).
Prospek Inflasi
Inflasi Sumatera pada akhir tahun 2015 diperkirakan masih berada dalam kisaran yang sejalan dengan sasaran inflasi nasional sebesar 4%±1%. Hal ini didukung dengan pencapaian inflasi tahun kalender hingga Juli yang baru mencapai 1,56%, lebih rendah dari nasional 1,90%. Perbaikan produksi pangan di awal tahun dan realisasi program pemerintah dalam peningkatan produktivitas lahan pertanian diperkirakan cukup berkontribusi dalam peningkatan produksi pertanian, sehingga mendukung terjaganya inflasi Sumatera selama tahun 2015.
Dari sisi permintaan, masih belum membaiknya harga komoditas menyebabkan terbatasnya pendapatan masyarakat sehingga konsumsi relatif lebih tertahan.
Meskipun demikian, terdapat beberapa potensi risiko inflasi karena El Nino ke depan yang perlu diwaspadai, terutama yang berasal dari komoditas volatile food. Risiko kekeringan di sentra produksi dapat berdampak pada penurunan volume produksi yang berpotensi akan diikuti dengan gejolak kenaikan harga bahan makanan. Selanjutnya, risiko inflasi administered price berasal dari rencana penyesuaian tarif Listrik, LPG 3 kg serta harga BBM. Dari kelompok inti, tekanan inflasi ke depan diperkirakan masih berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah meskipun diminimalisir dampaknya oleh harga komoditas yang menurun. Di samping itu, tingginya alokasi infrastruktur di tahun 2015 dapat berdampak pada meningkatnya permintaan dan harga bahan bangunan terutama menjelang akhir tahun.
Secara umum, kondisi perekonomian kabupaten/kota di wilayah timur Sumatera relatif lebih baik dibandingkan di wilayah barat Sumatera.8 Hal ini tercermin dari beberapa indikator perekonomian seperti PDRB per kapita dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) per kapita yang lebih tinggi di pantai timur Sumatera.
PDRB per kapita mengindikasikan tingkat kesejahteraan dan potensi perekonomian. Sementara itu, PAD mengindikasikan kapasitas ekonomi daerah terkait dengan pembayaran pajak hasil usaha. PAD juga mengindikasikan kemampuan fiskal pemerintah daerah untuk berperan dalam pembiayaan pembangunan.
Adanya perbedaan atau kesenjangan ekonomi antara wilayah timur dan barat Sumatera ini disebabkan antara lain oleh sejumlah faktor berikut : (1) perbedaan kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) terutama migas yang terletak di pantai timur (Provinsi Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan);(2) risiko rawan gempa geografis di wilayah barat, serta (3) keuntungan geografis wilayah timur yang dekat dengan negara-negara ASEAN.
Gambar II.1. PDRB Per Kapita dan Kapasitas Fiskal Daerah di Sumatera
Dari aspek investasi, baik yang dilakukan baik oleh asing (PMA) maupun domestik (PMDN) menunjukkan adanya perbedaan antara investasi di wilayah barat dan timur Sumatera. Secara nilai, investasi terbesar PMA dan PMDN terdapat di Provinsi Riau, Sumatera Utara dan Sumatera Selatan, sementara investasi terendah di Sumatera adalah di provinsi Bengkulu. Kondisi yang sama juga ditunjukkan oleh rasio realisasi investasi terhadap PDRB yang menunjukkan angka lebih tinggi di Provinsi Sumatera Selatan, Aceh dan Riau. Sementara itu, Bengkulu, Jambi dan Sumatera Barat menjadi provinsi dengan rasio realisasi investasi terhadap PDRB terendah.
Sementara itu, terdapat pula perbedaan pada aspek kualitas sumber daya manusia dan tingkat kemiskinan antara daerah di pantai barat Sumatera dengan pantai timur Sumatera. Hal ini tercermin dari angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang cenderung lebih tinggi untuk daerah-daerah seperti di Riau, Kepri, dan Sumut. Gambaran saya sama juga terlihat pada tingkat kemiskinan yang cenderung lebih besar di daerah-daerah barat Sumatera seperti Aceh dan Bengkulu.
Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kesenjangan wilayah timur dan barat Sumatera ini adalah terkait dengan akses terhadap daerah lain yang salah satunya melalui konektivitas udara. Studi menunjukkan bahwa adanya hub dalam penerbangan merupakan kunci untuk memaksimalkan konektivitas dalam meningkatkan
8 Wilayah timur meliputi Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung. Sementara wilayah barat meliputi Aceh, Sumatera Barat, dan Bengkulu.
perdagangan serta investasi yang pada akhirnya berdampak pada pertumbuhan ekonomi.9 Saat ini, konektivitas udara antar provinsi di Sumatera terhubungkan melalui 3 (tiga) hub yakni Provinsi Kepulauan Riau, Sumatera Utara dan Sumatera Selatan. Provinsi Kepulauan Riau (Batam) merupakan pintu gerbang ke negara-negara ASEAN yang saat ini sudah hampir seluruhnya terkoneksi melalui angkutan udara keseluruh provinsi di Sumatera kecuali Aceh. Di wilayah utara, konektivitas udara terhubung melalui kota Medan di Sumatera Utara sementara di wilayah selatan terhubung melalui kota Palembang di Sumatera Selatan. Adapun hub konektivitas udara melalui ketiga kota tersebut masih berpusat di wilayah timur. Di sisi lain, konektivitas di wilayah barat masih relatif terbatas seperti kota Padang yang baru terhubung dengan tiga kota dan Bengkulu dengan dua kota.
Grafik II.31. Nominal PMA dan PMDN Tahun 2014 (Rp triliun) Grafik II.32. Rasio PMA dan PMDN terhadap PDRB Tahun 2014
Grafik II.33. Indeks Pembangunan Sumatera (2013) Grafik II.34. Tingkat Kemiskinan di Sumatera (%) Hasil simulasi dengan menggunakan teknik minimum spanning tree menunjukkan gambaran optimal untuk pengembangan konektivitas udara (Gambar 3)10. Untuk meningkatkan konektivitas di wilayah barat, Provinsi Aceh memerlukan tambahan konektivitas ke Provinsi Sumatera Barat serta konektivitas antara Sumatera Barat dan Bengkulu. Sementara itu, untuk menghubungkan wilayah barat dan timur diperlukan konektivitas tambahan antara provinsi Sumatera Barat dan Riau. Selain itu, untuk mengembangkan pusat pertumbuhan ekonomi baru, diperlukan konektivitas tambahan yang dapat menghubungkan Jambi dengan wilayah utara yakni Sumatera Utara dan wilayah selatan yakni Lampung. Adapun Kepulauan Bangka Belitung yang terpisah
9 Banno & Redondi (2014). Air connectivity and foreign direct investments : Economic effects of the introduction of new routes. European Transport Research Review. Springer.
10 Penggunaan teknik ini bertujuan untuk mendapatkan solusi konektivitas terbaik (efisien) yang dapat memberikan dampak ekonomi signifikan. Sebagai asumsi dasar, daerah yang paling banyak terhubung dengan daerah lain diyakini akan memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi. Konektivitas dalam studi ini diterjemahkan dalam bentuk analisa jarak secara geografi, proksi demand dan kapasitas ekonomi dengan pembobotan pada jarak ekonomi. Hal ini sejalan dengan harapan bahwa adanya konektivitas akan membuat pusat pertumbuhan baru dan memberikan dampak positif (spillover effect) kepada daerah sekitarnya. Simulasi menggunakan jarak secara geografi yang dihitung berdasarkan jarak antar pelabuhan udara di masing-masing daerah yang terkoneksi dengan daerah lainnya. Sementara frekuensi penerbangan langsung dari suatu daerah ke daerah lainnya di Sumatera menjadi proksi demand. serta. Adapun jarak secara ekonomi didekati dengan menggunakan korelasi pertumbuhan ekonomi antar daerah yang ditransformasikan menjadi pseudodistance.
0.52
Riau Kepri Jambi Babel Sumut Sumsel Sumbar Lampung Aceh Bengkulu
PDRB PER KAPITA 2014 (RP JUTA)
Sumber: BPS, diolah
0.39 0.38 0.37 0.36 0.36 0.36 0.35 0.35 0.34
0.31
Bengkulu Sumsel Riau Sumbar Kepri Lampung Sumut Jambi Aceh Babel Sumber: BPS, diolah
Riau Kepri Sumut Sumbar Babel Bengkulu Sumsel Jambi Aceh Lampung Sumber: BPS
dengan daratan Sumatera juga terindikasi memerlukan adanya konektivitas baru yakni menuju Bengkulu dan Jambi. Keberadaan konektivitas langsung ke provinsi di wilayah barat tersebut diharapkan dapat memberikan spillover effect positif kepada kinerja ekonomi di daerah tersebut dan wilayah di sekitarnya sehingga secara tidak langsung akan dapat mengurangi kesenjangan ekonomi antar wilayah barat dan timur Sumatera.
Gambar II.2. Kondisi Eksisting Konektivitas Udara di Sumatera Gambar II.3. Hasil Simulasi Gambaran Optimal Konektivitas Udara di Sumatera
Perluasan konektivitas udara perlu diselaraskan dengan upaya menyeimbangkan pusat pertumbuhan di Sumatera sebagai salah satu strategi untuk mengurangi kesenjangan wilayah timur dan barat. Kebijakan yang mendorong pengembangan pusat pertumbuhan di wilayah barat perlu didukung antara lain melalui perluasan akses konektivitas udara. Agar kebijakan yang dikeluarkan dapat efektif, perlu adanya pemetaan yang menggabungkan konektivitas udara dan kapasitas ekonomi di Sumatera.
Halaman ini sengaja dikosongkan