• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSPEK PEREKONOMIAN DAN INFLASI REGIONAL

Dalam dokumen BAB 1 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL (Halaman 39-46)

Perkembangan ekonomi yang terjadi di beberapa negara selama semester I-2010 masih menunjukkan tren positif. International Monetary Fund (IMF) semakin yakin bahwa arah recovery global berjalan sesuai perkiraan, meski disertai naiknya resiko di sektor keuangan. Pada bulan Juli 2010, perekonomian dunia diproyeksi tumbuh 4,6%, lebih tinggi dari angka proyeksi di bulan April sebesar 4,2%. Di dalam negeri, pemerintah Indonesia masih memiliki keyakinan yang kuat terhadap asumsi makroekonomi yang ditetapkan, dengan tidak melakukan revisi terhadap target pertumbuhan ekonomi dan inflasi tahun 2010. Hal ini sejalan dengan proyeksi IMF yang menilai perekonomian Indonesia bergerak stabil sepanjang semester I-2010. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2010 diperkirakan masih berada pada kisaran 6%.

Dalam laporan terpisah, proyeksi pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara pada paruh kedua 2010 terindikasi melambat. Kondisi tersebut diperkirakan berlanjut hingga tahun 2011, menyusul kekuatan stimulus fiskal dan moneter untuk mengatasi dampak resesi yang diperkirakan mulai memudar. Kinerja ekonomi Jepang, China, Eropa, Australia, Taiwan, Korea dan Malaysia terindikasi menurun akibat melemahnya permintaan pada industri manufaktur. Sama halnya dengan negara Singapura yang mengantisipasi turunnya momentum pertumbuhan ekonomi di semester ke-2 tahun 2010. Hal ini dikhawatirkan berimpikasi langsung pada perekonomian Kepulauan Riau yang responsif terhadap daya beli global, mengingat dominannya peran ekspor luar negeri pada struktur ekonomi regional

2010 2011 2010 2011 2010 2011 World Output  4.2 4.3 4.6 4.3 0.4 0.0 United States 3.1 2.6 3.3 2.9 0.2 0.3 Euro Area 1.0 1.5 1.0 1.3 0.0 ‐0.2 Japan 1.9 2.0 2.4 1.8 0.5 ‐0.2 United Kingdom 1.3 2.5 1.2 2.1 ‐0.1 ‐0.4 China 10.0 9.9 10.5 9.6 0.5 ‐0.3 India 8.8 8.4 9.4 8.4 0.6 0.0 Singapore 8.9 6.8 9.9 4.9 1.0 ‐1.9 Hongkong 5.0 4.4 6.0 4.4 1.0 0.0 Middle East 4.5 4.8 4.5 4.9 0.0 0.1 Indonesia 6.0 6.2 6.0 6.2 0.0 0.0 April‐2010 Earlier Projections Year over Year April‐2010 Projections Difference from Latest Projections July‐2010

Sumber : IMF Wprld Economic Outlook, July 2010 (Update) Tabel 7.1.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Beberapa Negara di Dunia

Sumber : IMF Wprld Economic Outlook, July 2010 (Update) Grafik 7.1.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Kepri dan Beberapa Negara pada Triwulan III-2010

khususnya kota Batam. Insentif free trade zone (FTZ) dinilai belum optimal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di 3 kawasan, Batam, Bintan, dan Karimun.

Sementara itu tekanan inflasi diperkirakan meningkat yang dipicu oleh beberapa faktor, antara lain kenaikan tarif dasar listrik (TDL), datangnya bulan Ramadhan dan Idul Fitri serta peningkatan inflasi di sektor makanan karena cuaca yang sulit diprediksi. Tingkat inflasi di kota Batam pada bulan Juli 2010 diproyeksi masih cukup besar akibat masih tingginya harga beberapa komoditas pangan, yang sebelumnya mendorong laju inflasi bulan Juni hingga mencapai 1,42% (month-to-month). Di samping meningkatnya permintaan di bulan Ramadhan dan Idul Fitri, kenaikan tarif listrik PLN Batam yang diberlakukan pada bulan Juli disertai kondisi cuaca yang memburuk akan berkontribusi besar terhadap kenaikan indeks harga secara umum di bulan Agustus dan September 2010.

7

7..11.. PRPROOSSPPEEKK PPERERTTUUMMBBUUHHAANN EEKKOONNOOMMII

Menjaga momentum pemulihan, perekonomian Kepulauan Riau di triwulan III-2010 diproyeksi dapat tumbuh di kisaran 6,80±1%, kembali melambat dibanding triwulan II yang diestimasikan 7,43% (year-on-year). Dengan demikian, laju pertumbuhan PDRB selama tahun 2010 diharapkan dapat pulih ke level 7%, dimana pada masa krisis tahun 2009 hanya mencatat angka pertumbuhan 3,5%. Pertumbuhan ekonomi di triwulan mendatang akan lebih ditopang oleh perbaikan konsumsi rumah tangga sehubungan dengan datangnya bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri.

Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau ; Keterangan: * Angka Sementara;;

(P) Angka proyeksi Bank Indonesia Batam Juni-2010 dalam kisaran ±1%

Tabel 7.2.

Laju Pertumbuhan Ekonomi Kepulauan Riau berdasarkan Sektoral & Penggunaan

Grafik 7.2. Perkembangan Impor Beberapa Komoditas Utama

Sumber : DSM-BI (SITC)

TW‐III TW‐II* TW‐III (P)‐IV 2009* 2010 (P)

KOMPONEN PENGGUNAAN ‐ Konsumsi Rumah Tangga 19.43% 25.26% 26.13% 17.37% 26.51% ‐ Konsumsi Lembaga Swasta 24.18% 16.35% 4.60% 23.56% 6.69% ‐ Konsumsi Pemerintah 21.20% 15.40% 11.69% 13.95% 15.06% ‐ Pembentukan Modal Tetap Bruto 13.48% 21.92% 20.62% 15.14% 20.66% ‐ Ekspor Barang dan Jasa ‐4.29% 5.58% 5.01% ‐2.11% 4.56% ‐ Impor Barang dan Jasa 3.69% 17.98% 16.64% 7.59% 17.42% SEKTOR EKONOMI ‐ Pertanian 0.90% 4.76% 3.21% 1.50% 3.40% ‐ Pertambangan & Penggalian 2.08% 3.10% 2.45% 1.10% 2.24% ‐ Industri Pengolahan 2.26% 6.37% 5.17% 2.38% 6.09% ‐ Listrik, Gas & Air Bersih 2.45% 7.77% 7.03% 2.08% 5.65% ‐ Bangunan 14.59% 12.47% 11.91% 13.36% 12.14% ‐ Perdagangan, Hotel & Restoran 3.70% 11.16% 11.52% 3.84% 11.25% ‐ Pengangkutan & Komunikasi 7.84% 7.28% 7.51% 6.67% 7.41% ‐ Keuangan, Persewaan & Jasa P'an 4.56% 5.01% 5.06% 5.50% 5.13% ‐ Jasa‐Jasa 8.66% 5.73% 5.43% 8.44% 5.57% 3.50% 7.43% 6.80% 3.51% 7.20% PDRB (termasuk migas) 2010 year on year year over year 2009

Asesmen perlambatan berasal dari melemahnya kinerja ekspor menyusul permintaan global yang cenderung menurun. Ekspor Kepulauan Riau diperkirakan tumbuh 5,01%, lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang mencatat kenaikan sebesar 5,58%. Indikasinya terlihat dari arus impor barang modal yang akan diolah kembali menjadi komoditi ekspor utama. Menurunnya permintaan luar negeri secara relatif diperkirakan terjadi produk mesin elektrik, logam dasar besi dan baja, serta barang/benda dari logam. Kondisi tersebut pada gilirannya berpengaruh pada perkembangan investasi yang masuk dalam bentuk barang modal, sebagaimana tercermin dari tingkat pertumbuhan investasi Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB) yang turun dari 21,92% menjadi 20,62%.

Implikasinya pada aktivitas produksi langsung dirasakan oleh sektor industri pengolahan yang diproyeksi kembali melambat pada level 5,17±1%. Di samping itu, koreksi pertumbuhan juga terjadi pada sektor jasa-jasa, terutama jasa telekomunikasi dan jasa angkutan udara disebabkan berlakunya kembali pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10% sesuai PMK No.240/PMK.03/2009. Ketentuan yang merevisi PMK No.45/PMK.03/2009 tersebut mulai diberlakukan sejak bulan Juli 2010. Peraturan baru ini disinyalir akan menjadi sumber permasalahan baru bagi Kepulauan Riau khususnya kota Batam yang sebelumnya dikenal sebagai kawasan bebas yang tidak mengenal adanya PPN. Lebih dari itu, peraturan tersebut bertentangan dengan aturan tertinggi di atasnya yakni UU No.44 tahun 2007 tentang FTZ.

Akibatnya investor akan semakin dibingungkan dengan ketidakpastian hukum serta ketidakjelasan arah FTZ di Batam, Bintan dan Karimun (BBK), terutama bagi investor asal Singapura. Dalam pernyataan terakhir (06.08.2010), pemerintah Singapura sangat menyayangkan ketidakseriusan pemerintah Indonesia dalam mengimplementasikan FTZ di BBK, padahal seharusnya banyak bidang investasi yang dapat dikembangkan antara lain di sektor pariwisata, agribisnis, industri, dan transportasi. Singapura sebagai investor terbesar Indonesia (2009) dengan nilai investasi sebesar US$4,4 miliar, dimana sepertiganya ditanam di Batam dan Bintan. FTZ di BBK yang semakin membingungkan pada akhirnya direspon pengusaha Singapura dengan mengalihkan investasi ke Vietnam dan Johor, yang juga diangkap jauh lebih kooperatif dalam hal pengurusan administrasi dan perizinan.

Sektor pertanian juga merupakan sektor yang diproyeksi melambat di triwulan III, akibat kondisi cuaca yang masih tidak menentu. Angka ramalan BPS Kepulauan Riau untuk komoditi padi, jagung dan kacang tanah mengkonfirmasi adanya penurunan level produksi dari ketiga komoditas tersebut. Hasil produksi tanaman padi bahkan diperkirakan akan terus menurun dengan tajam hingga akhir tahun.

Sementara pertumbuhan sektor pertambangan di triwulan III-2010 juga diproyeksi lebih rendah dengan laju pertumbuhan sekitar 2,45±1% Tren kenaikan harga komoditas minyak bumi dan gas alam belum mempengaruhi kinerja sektor pertambangan. Kenaikan harga diduga masih berada dalam rentang deviasi penyesuaian, sehingga tidak mempengaruhi harga kontrak pembelian minyak maupun gas yang dieksplorasi. Dilihat dari aspek produksi, penurunan kinerja sektoral dipengaruhi oleh realisasi lifting minyak bumi dari blok eksplorasi Belanak (Conoco Phillips), blok Kerapu (star Energi) dan blok Anoa (Premier Oil) yang lebih rendah dibanding pencapaian pada periode yang sama tahun 2009. Sedangkan realisasi lifting gas diperkirakan relatif stabil sebagaimana tercermin dari level pencapaian lifting pada blok gas milik Conoco Phillips, Star Energi dan Premier Oil.

Meskipun demikian, kinerja sektor perdagangan, pengangkutan dan komunikasi, serta sektor keuangan dan jasa-jasa diperkirakan tumbuh lebih baik dibanding periode triwulan II-2010. Kenaikan permintaan masyarakat terhadap kebutuhan pokok dan sandang

Grafik 7.4.

Proyeksi Harga Minyak Bumi dan Gas

Sumber : US-EIA (Short-Term Energy Outlook – July 2010) Grafik 7.3.

Angka Tetap (ATAP) & Angka Ramalan (ARAM) Produksi Padi, Jagung dan Kacang Tanah

Sumber : BPS Kepulauan Riau Keterangan : * Angka Tetap (ATAP)

** Angka Ramalan (ARAM)

Grafik 7.6.

Perkembangan Pencapaian Lifting Gas Berdasarkan Blok Eksplorasi

Sumber : Departemen ESDM – Ditjen Migas Grafik 7.5.

Perkembangan Pencapaian Lifting Minyak Bumi Berdasarkan Blok Eksplorasi

selama bulan Ramadhan dan Idul Fitri akan mendorong aktivitas di sektor perdagangan eceran. Dalam waktu bersamaan, mobilitas masyarakat yang kembali ke daerah asalnya di tengah kenaikan tarif tiket transportasi menjadi insentif terhadap kinerja sektor angkutan. Penggunaan alat komunikasi juga akan mengalami peningkatan, ditambah dengan banyaknya penawaran paket-paket murah dari berbagai operator seluler. Sementara perkembangan sektor pariwisata diproyeksi tetap tumbuh tinggi, terbantu oleh pelaksanaan berbagai event skala nasional dan internasional yang dicanangkan dalam rangka program Visit Batam 2010.

No. Agenda Kegiatan Tanggal Tempat

1 Clipper Around Teh World 19-23 Jan 2010 Nongsa Point Marina 2 Strait Regata 23-30 Jan 2010 Nongsa Point Marina 3 Lions Club Charity Golf 31-Jan-10 Palm Springs Golf Resort

4 Cap Go Meh 28-Feb-10 Vihara Duta Maitreya

5 Batam Grand Wedding Expo 18-28 Feb 2010 Nagoya Hill 6 Batam Cruise Festival 2-4 April 2010 Nongsa Point Marina 7 Asia Pacific Volley Ball Championship 20-25 April 2010 Nongsa Point Marina 8 Asian Golf Charity 24-25 April 2010 Batam Golf Club 9 Kejurnas Bridge ke 48 23-Apr-10 Golden View

10 BGSC Open Tournament 15 Mei 2010 Palm Springs Golf Resort 11 The 10th Batam Expo 2010 5-9 Mei 2010 SPC

12 1st Batam Act & Food festival 7 -14 Mei 2010 SPC

13 Sinar Mas Cup IV Golf Tournamnet Jun-10 Palm Springs Golf Resort 14 Rice Cup Golf Tournament Per 3 bulan Southlinks Country Club 15 International Bridge Gub Cup V11 30 Juli 2010 Golden View

16 International Cricket Tournamen June-July 2010 Batam

17 Adventure Race 6-9 Agustus 2010 Nongsa Point Marina 18 Independence Cruise Fiesta 6-9 Agustus 2010 Nongsa Point Marina 19 Batam Amaateur Golf Championship 23-25 Sept 2010 Palm Springs Golf Resort

20 Kavadi Festival Sri LaIdah Temple

21 Moon Cake Festival Sept-Oct 2010 Vihara Duta Maytreya 22 World Pegeants South of Asia Sep-10 SPC Batam

23 Nongsa Cup V Oktober 2010 Palm Springs Golf Resort 24 Marine Batam Expo 2010 Oktober 2010 Pacific Palace Hotel

25 Sumatera Expo 2010 Nov-10 SPC

26 Sailing Regata Open International 25-28 Nov 2010 Nongsa Point Marina 27 Deepavali Celebration 25-Dec-10 Ocarina

28 Batam Big Bazzar Desember 2010 Dec-10 Batam

7

7..22.. PPRROOSSPPEEKKIINNFFLLAASSII

Tekanan inflasi dalam 3 bulan ke depan diproyeksi meningkat yang dipicu oleh beberapa faktor, antara lain kenaikan tarif dasar listrik (TDL), datangnya bulan Ramadhan dan Idul Fitri serta peningkatan inflasi di sektor makanan karena cuaca yang sulit diprediksi. Laju inflasi kota Batam di tahun 2010 berpotensi besar menyentuh level maksimum dari angka proyeksi sebesar 4±1%. Sementara tingkat inflasi di kota Tanjungpinang yang meningkat tajam pada bulan Juni 2010 diproyeksi masih konvergen dengan perkiraan sebelumnya di kisaran 4,3±1%. Secara umum, inflasi yang terjadi di kota Tanjungpinang selama triwulan III-2010 akan lebih rendah dibanding kenaikan harga (inflasi) di kota Batam.

Di samping pengaruh pergerakan harga komoditas internasional yang meningkat, kendala panen cabe dan bawang akibat faktor cuaca menimbulkan shock pasokan sehingga

Tabel 7.3.

Beberapa Agenda Visit Batam 2010

memberi pengaruh pada pergerakan harga-harga di bulan Juli 2010. Laju inflasi di bulan Juli diperkirakan masih cukup tingi, meski berada di bawah level inflasi pada bulan sebelumnya.

M-I M-II M-III M-IV M-V M-I M-II M-III M-IV

VOLATILE

1 BERAS 7,125 7,125 7,125 7,375 7,375 7,375 7,375 7,700 7,825 4.8% 2 MINYAK GORENG 7,875 7,875 8,125 8,000 8,000 8,000 8,000 8,000 8,000 0.3% 3 MIE KERING INSTANT 1,250 1,225 1,225 1,200 1,200 1,200 1,200 1,200 1,200 -1.6%

4 SUSU BUBUK 22,600 22,600 22,600 22,600 22,600 22,600 22,600 22,600 22,600 0.0% 5 DAGING SAPI 20,000 20,000 20,000 20,000 20,000 20,000 20,000 20,000 20,000 0.0% 6 DAGING AYAM RAS 23,750 23,750 23,750 23,750 24,500 24,500 24,500 26,250 27,500 7.5% 7 TELUR AYAM RAS 13,725 14,400 14,175 14,850 14,850 15,300 16,650 17,100 17,100 14.8% 8 CABE MERAH 24,000 24,000 24,000 24,000 24,000 24,000 24,000 24,000 24,000 0.0% 9 CABE RAWIT 21,000 25,750 25,250 27,250 30,750 35,000 29,500 22,625 26,000 8.8% 10 BAWANG MERAH 10,750 12,000 14,250 13,000 12,750 14,250 17,000 15,750 17,250 28.0% 11 BAWANG PUTIH 18,250 19,000 21,750 28,000 27,000 25,000 23,750 24,000 27,750 10.2% 12 TOMAT SAYUR 9,250 10,000 10,000 9,500 9,500 9,750 9,500 9,500 9,250 -1.6% 13 TOMAT BUAH 8,500 7,750 9,250 8,750 8,500 8,500 8,500 8,500 8,500 -0.6% 14 WORTEL 6,750 7,500 7,750 10,250 8,000 7,750 7,500 7,250 7,000 -8.4% 15 KENTANG 6,750 6,500 7,250 7,250 7,750 7,250 7,250 8,000 8,250 8.3% 16 KACANG PANJANG 7,750 8,500 11,250 13,750 11,500 10,500 8,750 6,250 11,250 -12.9% 17 KANGKUNG 6,250 8,000 8,750 9,500 6,250 4,375 4,375 4,000 5,500 -41.1% 18 BAYAM 8,500 8,250 8,250 11,500 7,250 8,250 8,500 6,750 9,500 -5.7% 19 SAWI HIJAU 10,000 10,500 10,500 11,750 9,500 8,750 7,750 6,250 8,250 -25.8% 20 TEMPE 6,250 6,250 6,250 6,250 6,250 6,250 6,250 6,250 6,250 0.0% 21 TAHU MENTAH 4,625 4,625 4,625 4,625 4,625 4,625 4,625 4,625 4,625 0.0% 22 KELAPA 2,813 2,813 2,813 2,813 2,813 2,813 2,813 2,813 2,813 0.0% 23 JERUK 11,500 11,750 11,250 11,250 11,250 11,250 11,250 12,500 12,500 4.2% 24 IKAN BANDENG 24,250 24,250 22,500 22,500 21,500 21,000 21,000 21,500 21,500 -7.6% 25 IKAN KEMBUNG/GEMBUNG 22,250 22,250 22,000 22,000 22,000 22,000 22,000 23,000 23,000 1.8% 26 IKAN MAS 35,000 35,000 35,000 35,000 34,250 34,250 34,250 32,000 32,000 -4.9% 27 IKAN TONGKOL 16,000 16,250 16,500 16,500 16,250 17,500 17,500 16,500 16,500 4.3% 28 UDANG BASAH 37,750 36,000 36,750 36,750 36,750 36,750 36,750 39,000 39,000 2.9% CORE 39 NASI 7,000 7,000 7,000 7,000 7,000 7,000 7,000 7,000 7,000 0.0% 30 MIE 7,000 7,000 7,000 7,000 7,000 7,000 7,000 7,000 7,000 0.0% 31 AYAM GORENG 8,000 8,000 8,000 8,000 8,000 8,000 8,000 8,000 8,000 0.0% 32 GULA PASIR 10,375 10,375 10,375 10,375 10,375 10,375 10,375 10,375 10,375 0.0% 33 EMAS PERHIASAN 346,000 344,000 344,000 350,750 344,750 342,500 345,000 335,000 328,750 -2.3% 34 ROTI MANIS 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 0.0% 35 KUE BASAH 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 0.0% 36 AIR MINUM KEMASAN 1,500 1,500 1,500 1,500 1,500 1,500 1,500 1,500 1,500 0.0% 37 SABUN DETERGEN BUBUK 12,000 12,000 12,000 12,000 12,000 12,000 12,000 12,000 12,000 0.0% ADMINISTERED

38 BAHAN BAKAR RUMAH TANGG 3,000 3,000 3,000 3,000 3,000 3,000 3,000 3,000 3,000 0.0% 39 ROKOK KRETEK 9,000 9,000 9,000 9,000 9,000 9,000 9,000 9,000 9,000 0.0% 40 ROKOK KRETEK FILTER 7,750 7,750 7,750 7,750 7,750 7,750 7,750 7,750 7,750 0.0%

JULI 2010

JUNI 2010 Avg.∆

(m-t-m) K O M O D I T I

Indikator dini berdasarkan Survei Pemantauan Harga (SPH) yang dilakukan oleh Kantor Bank Indonesia Batam secara mingguan semakin memperkuat asesmen masih tingginya laju inflasi di bulan Juli 2010. Hasil SPH sampai dengan minggu ke-4 bulan Juli 2010 memperlihatkan besarnya kenaikan harga kebutuhan pangan yang banyak dikonsumsi oleh

Grafik 7.8.

Laju Inflasi Kota Tanjung Pinang

Sumber : BPS Kota Tanjung Pinang

Ket: Apr-Des 2010 adalah Proyeksi BI Batam (Jan-2010) Grafik 7.7.

Laju lnflasi Kota Batam

Sumber : BPS Kota Batam

Ket: Apr-Des 2010 adalah Proyeksi BI Batam (Jan-2010)

Tabel 7.4.

Perkembangan Harga Beberapa Komoditi Penyumbang Inflasi Terbesar

Sumber : Survei Pemantauan Harga (SPH) Kota Batam

masyarakat, seperti bawang, merah, bawang putih, cabe rawit, beras, telur dan daging ayam ras, serta ikan-ikanan. Di lain pihak, masuknya gula impor pada bulan April dan Mei sebanyak 3.000 ton belum memberi pengaruh terhadap penurunan harga gula di pasaran. Naiknya permintaan masyarakat menjelang Ramadhan disinyalir turut menghambat penurunan harga gula di tengah faktor distribusi yang semakin lancar.

Sementara di bulan Agustus tekanan inflasi diperkirakan kembali meningkat, dipicu oleh kenaikan harga tarif dasar listrik (TDL) oleh PT. PLN Batam yang rencananya direalisasi pada bulan Juli 2010. Jika diasumsikan kenaikan tarif listrik sama dengan kenaikah harga gas yang ditetapkan pemerintah sebesar 10%, maka akan memberi tambahan inflasi sekitar 0,31% di bulan Agustus 2010. Selain itu, kenaikan harga di bulan Juli dan Agustus juga akan diwarnai dengan tingginya permintaan masyarakat selama bulan Ramadhan dan Idul Fitri, terutama kelompok bahan pangan dan sandang. Meski cukup minimal, sektor pendidikan juga diperkirakan turut menyumbang inflasi seiring dengan tahun ajaran baru. Selanjutnya pada bulan September harga-harga diperkirakan cenderung turun bahkan berpeluang mengalami deflasi. Dengan demikian secara triwulanan, laju inflasi kota Batam selama triwulan III-2010 diperkirakan sekitar 1,87±1%, meningkat dari triwulan II-2010 yang tercatat sebesar 1,67% (angka kumulatif inflasi bulanan). Sejalan dengan itu, laju inflasi tahunan diproyeksi naik dari 5,14% menjadi 5,26±1% (y-o-y).

Berbeda halnya dengan kota Batam, tekanan inflasi di kota Tanjung Pinang selama triwulan III-2010 diperkirakan melemah dibanding triwulan sebelumnya. Kumulatif inflasi bulanan selama periode triwulan III diproyeksi sebesar 0,51%, jauh lebih rendah dibanding periode triwulan II yang tercatat sebesar 2,11%. Implikasinya, laju inflasi tahunan juga diprediksi turun dari 4,84% menjadi 4,05±1% (y-o-y). Indikator dini prakiraan curah hujan yang menurun pada Agustus dan September 2010 cukup mengkonfirmasi asesmen tersebut.

JULI

2010 SEPTEMBER 2010

AGUSTUS 2010 Gambar 7.1.

Prakiraan Curah Hujan di Indonesia Bulan Juli – September 2010

Meski demikian, kondisi cuaca yang kurang menentu masih perlu diantisipasi karena dikhawatirkan dapat mengganggu distribusi barang-barang kebutuhan ke wilayah Kepulauan Riau. Indikator dini kecepatan angin dan tinggi signifikan gelombang laut diperairan Selat Malaka dan Laut Natuna masih diproyeksi meningkat, yang diikuti naiknya frekuensi gelombang tinggi (>3 meter) di perairan Selat Malaka.

May‐10 Jun‐10 Jul‐10 Aug‐10 May‐10 Jun‐10 Jul‐10 Aug‐10 May‐10 Jun‐10 Jul‐10 Aug‐10

Selat Malaka   1 – 12    2 – 7    2 – 10    2 – 13    0.1 – 1.1    0.2 – 1.0    0.2 – 1.2    0.3 – 1.3    0 – 5 %    0 – 5 %    0 – 5 %    0 – 10 %   Laut Natuna   1 – 11    2 – 6    2 – 8   3 – 12   0.1 – 1.2   0.1 – 0.7   0.1 – 0.4   0.2 – 1.1   0 – 5 %   0 – 5 %    0 – 5 %    0 – 5 %  

Lokasi  Angin 10 m Rata – Rata (Knot)  Tinggi Signifikan Rata – Rata (meter)  Frekuensi Gel. > 3 Meter

Tabel 7.5.

Prakiraan Kecepatan Angin, Tinggi Signifikan dan Frekuensi Tejadinya Gelombang Laut di Perairan Selat Malaka dan Laut Natuna Bulan Mei – Agustus 2010

Dalam dokumen BAB 1 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL (Halaman 39-46)

Dokumen terkait