• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSPEK PEREKONOMIAN

Dalam dokumen LAPORAN KEBIJAKAN MONETER (Halaman 31-43)

Bank Indonesia memperkirakan perekonomian masih akan mengalami penyesuaian didukung dengan stabilitas makroekonomi yang tetap terjaga. Pertumbuhan ekonomi 2014 diperkirakan mencapai 5,1-5,5%, tidak berubah dari proyeksi sebelumnya, namun cenderung mendekati batas bawahnya. Hal tersebut disebabkan oleh pertumbuhan PDB dunia yang tidak sekuat prakiraan sebelumnya dan penghematan anggaran APBNP 2014. Proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia yang lebih lemah mengakibatkan kinerja ekspor yang tidak sekuat perkiraan sebelumnya, sementara penghematan anggaran pemerintah mendorong melambatnya konsumsi pemerintah. Pada tahun 2015, pertumbuhan ekonomi diperkirakan kembali membaik pada kisaran 5,4-5,8%, tidak berubah dari proyeksi semula. Perbaikan itu seiring dengan perkiraan kondisi ekonomi global yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Sejalan dengan hal tersebut, kontribusi ekspor terhadap pertumbuhan juga diprakirakan akan meningkat.

Sejalan dengan moderasi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2014, inflasi diperkirakan lebih rendah dibandingkan dengan inflasi 2013 dan berada dalam kisaran sasaran inflasi 2014 sebesar 4,5+1%. Pada tahun 2015, kebijakan moneter yang terukur dan didukung koordinasi dengan kebijakan Pemerintah diperkirakan dapat kembali mendorong inflasi menurun di kisaran 4,0+1%.

Penyesuaian ekonomi diharapkan dapat mendorong defisit transaksi berjalan dan pertumbuhan kredit 2014 ke level yang sehat. Sejalan dengan moderasi pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan kredit diperkirakan tetap berada pada kisaran 15-17% pada tahun 2014, sehingga konsisten dengan upaya mengarahkan ekonomi menjadi lebih sehat dan seimbang. Sementara itu, defisit transaksi berjalan diperkirakan tetap dapat ditekan menuju ke sekitar 3,0% dari PDB. Peningkatan defisit pada triwulan II 2014 tersebut antara lain dipengaruhi peningkatan impor menjelang puasa dan hari raya serta repatriasi pendapatan dan pembayaran bunga. Ke depan, defisit transaksi berjalan diperkirakan membaik di triwulan-triwulan berikutnya, seiring dengan terus meningkatnya ekspor manufaktur dan kembali dimulainya ekspor mineral, serta tren melambatnya impor nonmigas.

Bank Indonesia akan terus mencermati beberapa risiko yang membayangi proses penyesuaian ekonomi ke depan. Dari global, risiko tersebut, antara lain, berkaitan pelemahan ekonomi Tiongkok proses normalisasi kebijakan The Fed, dan risiko munculnya spillover & spillback dari melemahnya perekonomian emerging market. Dari sisi domestik, risiko yang perlu mendapat perhatian adalah potensi tekanan penyesuaian administered prices seperti tarif listrik dan peningkatan harga pangan.

Prospek Perekonomian Global

Perekonomian global ke depan diperkirakan tetap dalam tren membaik, meskipun lebih moderat dari prakiraan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi global 2014-2015 diperkirakan 3,4% dan 3,8%, sedikit menurun dari proyeksi sebelumnya sebesar 3,6% dan 3,9%. Pertumbuhan tersebut didukung perkembangan ekonomi negara-negara maju yang membaik sejalan dengan masih berlanjutnya stimulus moneter dan meredanya tekanan fiskal. Namun, pemulihan ekonomi global tersebut tidak terjadi secara merata. Perkembangan ekonomi negara berkembang diperkirakan relatif terbatas, antara lain

L a p o r a n K e b i j a k a n M o n e t e r

|

31 akibat rebalancing ekonomi Tiongkok dan pelemahan harga komoditas. Meskipun tidak merata, prospek perekonomian global akan meningkatkan volume perdagangan dunia pada tahun 2014 dan 2015, yang masing-masing diperkirakan akan tumbuh sebesar 3,4% dan 5%.

Pemulihan ekonomi global diperkirakan terus berlanjut dan didukung oleh perbaikan ekonomi negara maju. Meskipun mengalami perbaikan, pertumbuhan ekonomi negara maju lebih rendah dari prakiraan sebelumnya sejalan dengan prakiraan pertumbuhan AS yang lebih lambat dari perkiraan semula. Perekonomian AS diprakirakan masih tumbuh sebesar 2,0% pada tahun 2014, dan meningkat menjadi 3% pada tahun 2015. Perbaikan ekonomi AS tersebut sejalan dengan pertumbuhan konsumsi yang solid dan kinerja sektor perumahan yang semakin membaik. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Eropa tahun 2014 dan 2015 diperkirakan sedikit lebih baik dari perkiraan sebelumnya. Ekonomi Eropa diperkirakan tumbuh 1,1 % pada 2014 dan meningkat menjadi 1,5% pada tahun 2015. Perbaikan tersebut antara lain didukung kebijakan ECB terkait negative deposit rate (standing facility) dan targeted long-term refinancing operations

yang diharapkan dapat mendorong penyaluran kredit dan investasi. Selain itu, perbaikan ekonomi global juga didukung oleh membaiknya ekonomi Jepang yang antara lain ditopang oleh kebijakan abenomics (Tabel 2.1).

Berbeda dengan prospek negara maju yang membaik, pertumbuhan ekonomi negara berkembang diperkirakan relatif terbatas. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun 2014 dan 2015 diperkirakan 7,4% dan 7,1%. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada tahun 2015 diperkirakan lebih lambat seiring dengan dampak proses rebalancing ekonomi yang terus berlangsung. Sementara itu, perkiraan ekonomi India relatif sama dengan proyeksi sebelumnya. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi emerging market yang lebih lambat juga dipengaruhi oleh melemahnya ekonomi negara emerging market lainnya sebagai akibat masih rentannya kondisi eksternal, rebalancing ekonomi Tiongkok dan pelemahan harga komoditas.

Sementara itu, prospek harga komoditas ekspor nonmigas diperkirakan masih lemah. Harga komoditas ekspor nonmigas pada tahun 2014 diperkirakan menurun seiring dengan pasokan yang membaik, khususnya untuk palm oil. Perbaikan pasokan tersebut di topang oleh iklim yang kondusif. Di sisi permintaa, selain karena melemahnya permintaan India, penurunan harga barang substitusi - terutama soybean oil – turut melemahkan permintaan palm oil. Ke depan, pasokan kedelai masih diperkirakan melimpah karena iklim AS yang kondusif terhadap tanaman pertanian tersebut sehingga excess supply kedelai masih berpotensi melemahkan harga palm oil. Namun, penurunan harga komoditas tertahan oleh kenaikan harga karet seiring dengan permintaan Tingkok yang masih cukup kuat. Sementara itu, pada tahun 2015 harga komoditas ekspor nonmigas diperkirakan

2014 2015 PDB Dunia 3,1 3,4 3,8 Negara Maju 1,4 2,0 2,4 Amerika Serikat 2,2 2,1 3,0 Kawasan Eropa -0,4 1,1 1,5 Jepang 1,5 1,6 1,1

Negara Emerging Market dan berkembang 4,7 4,6 5,0

Tiongkok 7.7 7,4 7,1

India 4,6 5,4 6.4

Negara Emerging Market Lainnya 3.1 3.1 3.6

2013 Proyeksi Table 2.1

L a p o r a n K e b i j a k a n M o n e t e r

|

32 akan membaik seiring pemulihan ekonomi dunia. Namun, harga batu bara dan palm oil diperkirakan masih tertekan seiring dengan perkiraan pasokan yang cukup baik di pasar.

Prospek Pertumbuhan Ekonomi

Sejalan dengan perkembangan ekonomi global dan kondisi domestik yang relatif stabil, Bank Indonesia tetap mempertahankan kisaran proyeksi pertumbuhan ekonominya untuk tahun 2014 dan 2015. Pertumbuhan ekonomi 2014 tetap diperkirakan berada pada kisaran 5,1-5,5%, dengan kecenderungan menuju batas bawah menyusul pertumbuhan ekonomi triwulan I dan II 2014 yang lebih rendah dari prakiraan. Pada tahun 2015, pertumbuhan ekonomi diperkirakan kembali membaik pada kisaran 5,4-5,8% (Tabel 2.2).

Meskipun tidak mengalami perubahan kisaran proyeksi, pertumbuhan ekonomi pada 2014 diperkirakan mendekati batas bawahnya. Hal tersebut disebabkan pertumbuhan ekspor yang masih lemah dipengaruhi terutama oleh pertumbuhan negara-negara emerging market yang masih terbatas. Selain itu, konsumsi pemerintah juga

mengalami penyesuaian sejalan dengan program penghematan anggaran APBNP 2014.

Namun, konsumsi rumah tangga diperkirakan masih tetap kuat ditopang keyakinan konsumen yang masih kuat dan daya beli yang terjaga.

Konsumsi rumah tangga diperkirakan masih kuat sebesar 5,1-5,5%, tidak berubah dari proyeksi sebelumnya, meskipun dengan lintasan yang melambat sejalan dengan dampak Pemilu yang semakin terbatas. Konsumsi rumah tangga yang tetap kuat terindikasi dari indeks keyakinan konsumen yang masih kuat pada triwulan III 2014, baik pada komponen keyakinan atas kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi kondisi ekonomi ke depan. Selain itu, prospek konsumsi yang masih baik juga ditopang oleh pendapatan masyarakat yang masih cukup kuat dengan daya beli yang terjaga seiring dengan inflasi yang menurun. Hal tersebut, antara lain, tercermin dalam pertumbuhan upah buruh riil kelompok buruh nonformal dan nilai tukar petani (NTP) yang membaik. Penghasilan deposan dari suku bunga riil deposito juga meningkat sejalan dengan kenaikan suku bunga di tengah inflasi yang lebih rendah. Selain itu, konsumsi juga didukung oleh peningkatan penghasilan pelaku usaha yang terindikasi dari peningkatan profit margin. Namun, lintasan pertumbuhan konsumsi diperkirakan mulai melambat seiring dengan menurunnya dampak pemilu. Perlambatan tersebut juga tercermin pada ekspektasi pendapatan konsumen dalam survei konsumen Bank Indonesia yang melambat hingga triwulan IV-2014.

%Y-o-Y, Tahun Dasar 2000

I II III IV I II

Konsumsi Rumah Tangga 5.2 5.1 5.5 5.3 5.3 5.6 5.6 5.1 - 5.5 5.2 - 5.6 Konsumsi Pemerintah 0.4 2.2 8.9 6.4 4.9 3.6 (0.7) 3.2 - 3.6 3.0 - 3.4 Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto 5.5 4.5 4.5 4.4 4.7 5.1 4.5 4.9 - 5.3 5.7 - 6.1 Ekspor Barang dan Jasa 3.6 4.8 5.2 7.4 5.3 (0.4) (1.0) (0.3) - 0.1 4.6 - 5.0 Impor Barang dan Jasa 0.0 0.7 5.1 (0.6) 1.2 (0.7) (5.0) (2.2) - (1.8) 3.5 - 3.9

PDB 6.0 5.8 5.6 5.7 5.8 5.2 5.1 5.1 - 5.5 5.4 - 5.8

Sumber : BPS

* Proyeksi Bank Indonesia

Tabel 2.2

Pertumbuhan Ekonomi Sisi Pengeluaran

2013 2013

L a p o r a n K e b i j a k a n M o n e t e r

|

33 Di sisi lain, pertumbuhan konsumsi pemerintah diperkirakan tumbuh terbatas sebesar 3,2-3,6%, lebih rendah dari prakiraan sebelumnya sebesar 6,2-6,6%. Penurunan itu terkait dengan penghematan belanja pemerintah dalam APBNP 2014. Sementara itu, kontraksi konsumsi pemerintah pada triwulan II-2014 disebabkan oleh penangguhan penyaluran bantuan sosial dalam rangka pemberdayaan.

Investasi pada 2014 diperkirakan masih tumbuh cukup baik sebesar 4,9-5,3%, lebih tinggi dari prakiraan sebelumnya sebesar 4,8-5,2%. Peningkatan investasi terutama ditopang oleh pertumbuhan investasi bangunan. Hal itu juga sejalan dengan pola historisnya pascapilpres. Tren ini juga terlihat pada beberapa hasil survei seperti perkiraan realisasi investasi dalam SKDU yang sedikit meningkat. Demikian pula, optimisme pelaku usaha yang tercermin dalam Indeks Tendensi Bisnis BPS meningkat pada triwulan II 2014 dan berlanjut ke triwulan III 2014. Investasi bangunan diperkirakan tumbuh solid seiring optimisme sektor konstruksi yang lebih tinggi dari awal tahun. Indikasinya tercermin dari penjualan semen dan impor bahan bangunan yang meningkat pada triwulan II 2014. Namun, prospek investasi nonbangunan diperkirakan masih tertahan oleh pertumbuhan ekpor yang terbatas. Sementara itu, dukungan dari sisi belanja modal pemerintah sampai dengan bulan Juni 2014 masih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan belanja modal diprakirakan memuncak pada triwulan IV sesuai pola serapan anggaran. Kinerja ekspor diperkirakan melambat menjadi -0,3-0,1%, lebih rendah dari prakiraan sebelumnya 1,5-1,9%, seiring dengan realisasi yang lebih rendah dari perkiraan. Prakiraan pertumbuhan ekspor yang terbatas disebabkan oleh menurunnya ekspor komoditas berbasis sumber daya alam seperti CPO, batu bara dan mineral lainnya terkait pelemahan emerging market dan penerapan UU minerba. Namun, penurunan tertahan oleh ekspor manufaktur yang tumbuh meningkat seiring pertumbuhan ekonomi negara maju yang membaik. Selain itu, kinerja ekspor pertambangan nonmigas juga berpotensi meningkat seiring ekspor konsentrat pertama Freeport yang mulai terealisir sejak pemberlakukan larangan di awal bulan Januari 2014. PT. Freeport bisa kembali melakukan ekspor dengan kuota 756 ribu ton konsentrat tembaga sampai dengan akhir tahun.

Kinerja impor pada 2014 diperkirakan menurun menjadi -2,2- (-1,80)%, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar 0,5-0,9%. Hal tersebut seiring dengan realisasi impor barang modal pada triwulan II yang sangat rendah. Realisasi impor alat berat mengalami penurunan terkait kinerja sektor pertambangan. Selain itu, penurun impor juga disebabkan merespons terhadap penurunan ekspor dan investasi nonbangunan.

Pada tahun 2015, sejalan dengan perkiraan permintaan domestik dan kondisi perekonomian global yang lebih baik, laju pertumbuhan ekonomi diprakirakan akan meningkat mencapai 5,4-5,8%. Kinerja perekonomian domestik diprakirakan akan meningkat seiring dengan perkiraan kondisi ekonomi global yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Sejalan dengan hal tersebut, kontribusi ekspor terhadap pertumbuhan juga diprakirakan akan meningkat. Peningkatan penghasilan dan inflasi yang berada dalam tren menurun diperkirakan memberikan dorongan terhadap permintaan domestik.

Secara keseluruhan, konsumsi rumah tangga di tahun 2015 diprakirakan masih tetap kuat yang tumbuh sebesar 5,2-5,6%, lebih rendah dari prakiraan sebelumnya 5,3-5,7%. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang tetap kuat didukung meningkatnya proporsi penduduk usia produktif sehingga akan meningkatkan jumlah angkatan kerja (Grafik 2.1). Hal tersebut diperkirakan akan mendukung tren penurunan tingkat kemiskinan dan meningkatkan jumlah kelas menengah sehingga pada gilirannya akan

L a p o r a n K e b i j a k a n M o n e t e r

|

34 meningkatkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Kontribusi ekspor di tahun 2015 yang diperkirakan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya diperkirakan akan menambah daya beli masyarakat sehingga dapat meningkatkan konsumsi rumah tangga. Inflasi yang diperkirakan berada dalam rentang target 4% + 1% juga mendukung terjaganya daya beli masyarakat.

Tabel 2.3 IMD Scoreboard 2014

Grafik 2.1

Dependency Ratio Indonesia vs Beberapa Negara Kawasan

Investasi di tahun 2015 diprakirakan tumbuh lebih tinggi dari tahun sebelumnya dan mencapai kisaran 5,7-6,1%, lebih tinggi dari kisaran prakiraan sebelumnya sebesar 5,3-5,7%. Pertumbuhan investasi terutama disumbang oleh investasi nonbangunan. Hal ini terkait dengan masih besarnya kebutuhan investasi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Setelah melalui tahun politik 2014, pertumbuhan investasi diprakirakan akan meningkat di tahun 2015. Potensi pertumbuhan investasi masih cukup kuat didukung oleh kuatnya permintaan domestik dan perkiraan mulai meningkatnya permintaan eksternal untuk produk ekspor Indonesia. Selain itu, pertumbuhan invetasi juga didukung persepsi positif investor terhadap prospek Indonesia ke depan. Survei World Competitiveness Scoreboard yang diterbitkan International Management Development (IMD), 2014, juga menunjukkan perbaikan ranking Indonesia dari 39 pada tahun 2013 menjadi 37 pada tahun 2014. Indonesia mengalami perbaikan hampir di seluruh kategori (efisiensi pemerintah, efisiensi bisnis, dan infrastruktur) sementara faktor yang menahan laju peningkatan peringkat Indonesia adalah kinerja (pertumbuhan) ekonomi yang menurun di tahun 2014 (Tabel 2.3).

Sementara itu, pertumbuhan ekspor pada 2015 diprakirakan meningkat menjadi sebesar 4,6-5,0%, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya 5,1-5,5%. Lebih rendahnya proyeksi ini disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi dunia yang diperkirakan lebuh rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya. Namun dibandingkan tahun 2014, pertumbuhan ekspor diproyeksikan lebih tinggi sejalan dengan kenaikan pertumbuhan ekspor sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dunia. Pertumbuhan ekspor Indonesia ke negara-negara maju seperti AS dan Eropa diprakirakan akan meningkat sehingga dapat mengimbangi terbatasnya pertumbuhan ekspor ke negara-negara emerging market. Ekspor mineral mentah yang mulai berjalan akan berdampak positif pada kinerja ekspor di tahun 2015. Dengan langkah-langkah peningkatan daya saing, diantaranya dengan nilai tukar yang lebih kompetitif dan inflasi yang terjaga, diversifikasi pasar dan produk sehubungan dengan membaiknya ekonomi negara maju, pertumbuhan ekspor di tahun 2015 diperkirakan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

L a p o r a n K e b i j a k a n M o n e t e r

|

35 Pertumbuhan impor tahun 2015 diprakirakan sebesar 3,5-3,9%, lebih rendah dari prakiraan sebelumnya sebesar 4,9-5,3%. Lebih rendahnya proyeksi impor ini sejalan dengan proyeksi ekspor dan permintaan domestik, terutama konsumsi rumah tangga yang lebih rendah. Namun jika dibandingkan perkiraan 2014, impor diperkirakan lebih tinggi sejalan dengan perkiraan pertumbuhan permintaan domestik, terutama investasi yang tumbuh lebih tinggi yang mendorong peningkatan impor barang modal dalam bentuk mesin dan perlengkapan. Kegiatan produksi yang diprakirakan masih tetap kuat akan mendorong permintaan impor akan bahan baku yang relatif tinggi. Sementara itu, impor barang konsumsi diprakirakan masih akan tetap tumbuh sejalan dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang masih cukup kuat.

Secara sektoral, sektor industri pada 2014 diprakirakan tumbuh lebih lambat dari prakiraan sebelumnya. Sementara itu, prospek sektor pertambangan membaik seiring ekspor mineral yang mulai terealisasi serta Blok Cepu yang mulai berproduksi. Pada sektor penghasil jasa, revisi ke bawah terutama pada sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR) terkait aktivitas perdagangan luar negeri yang lebih rendah dan sektor pengangkutan dan komunikasi terkait moderasi pada subsektor pengangkutan yang realisasinya lebih rendah pada triwulan II-2014. Di sisi lain, sektor bangunan diprakirakan membaik terkait realisasi triwulan II-2014 yang lebih tinggi dan optimisme sektor konstruksi yang lebih tinggi dari awal tahun. Sektor keuangan, persewaan, dan jasa juga membaik sejalan dengan realisasi pada triwulan II-2014 yang lebih tinggi dan prospek bisnis paska pemilihan umum Presiden (Tabel 2.4).

Pertumbuhan sektor pertanian diprakirakan sebesar 2,8-3,2%, tidak berubah dari proyeksi sebelumnya. Kinerja sektor pertanian mendapat dukungan dari subsektor perikanan yang terindikasi sedikit membaik, tercermin dari ekspor perikanan yang meningkat, terutama pada komoditas ikan. Selain itu, dampak dari cuaca kering atau El Nino tehadap kinerja sektor pertanian diperkirakan relatif terbatas. Berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan lembaga klimatologi dari AS, Jepang, dan Australia, kondisi cuaca hingga Agustus 2014 masih berada dalam kondisi normal, dan berpotensi memasuki cuaca yang kering atau El Nino lemah pada akhir tahun 2014.

Kinerja sektor pertambangan diprakirakan tumbuh 0,6-1,0% pada 2014, meningkat dari prakiraan sebelumnya sebesar 0,3-0,7. Perbaikan kinerja sektor pertambangan yang masih terbatas didukung oleh Blok Cepu yang mulai berproduksi dan ekspor mineral yang mulai terealisir sejalan dengan penandatangan MoU kontrak karya antara PT.Freeport

%Y-o-Y, Tahun Dasar 2000

I II III IV I II

Pertanian,Peternakan,Kehutanan,& Perikanan 3.7 3.3 3.3 3.8 3.5 3.2 3.4 2.8 - 3.2 2.8 - 3.2

Pertambangan & Penggalian 0.1 (0.6) 2.0 3.9 1.3 (0.3) (0.2) 0.6 - 1.0 2.6 - 3.0

Industri Pengolahan 6.0 6.0 5.0 5.3 5.6 5.1 5.0 4.6 - 5.0 5.0 - 5.4

Listrik, Gas & Air Bersih 7.9 4.0 3.8 6.6 5.6 6.3 5.8 5.6 - 6.0 5.7 - 6.1

Konstruksi 6.8 6.6 6.2 6.7 6.6 6.5 6.6 6.4 - 6.8 6.4 - 6.8

Perdagangan, Hotel & Restoran 6.5 6.4 6.1 4.8 5.9 4.8 4.5 4.4 - 4.8 5.1 - 5.5

Pengangkutan & Komunikasi 9.6 10.9 9.9 10.3 10.2 10.2 9.5 9.5 - 9.9 10.2 - 10.6

Keuangan, Real Estat & Jasa Perusahaan 8.2 7.7 7.6 6.8 7.6 6.2 6.2 6.0 - 6.4 6.1 - 6.5

Jasa-jasa 6.5 4.5 5.6 5.3 5.5 5.7 5.7 5.5 - 5.9 5.3 - 5.7

PDB 6.0 5.8 5.6 5.7 5.8 5.2 5.1 5.1 - 5.5 5.4 - 5.8

Sumber : BPS

* Proyeksi Bank Indonesia

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Sisi Lapangan Usaha Tabel 2.4

2013

2015* 2013

L a p o r a n K e b i j a k a n M o n e t e r

|

36 dan pemerintah. Pada minggu pertama Agustus 2014, PT.Freeport telah merealisasikan ekspor konsentrat mineral pertama ke Tiongkok, dengan kuota keseluruhan tahun mencapai 756 ribu ton. Sedangkan, Newmont belum mendapatkan izin ekspor, akibat pemerintah menolak melakukan negosiasi sebelum gugatan arbitrase yang diajukan Newmont dicabut. Lifting minyak tumbuh positif pada triwulan II-2014 dan diperkirakan terus membaik seiring Blok Cepu yang mulai berproduksi.

Sektor Industri Pengolahan diprakirakan tumbuh pada kisaran 4,6-5,0% di tahun 2014, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar 4,9-5,3%. Kinerja sektor industri yang melambat sejalan dengan permintaan ekspor yang belum kuat. Kondisi ini antara lain tercermin dari produksi CPO yang melambat dan ekspor manufaktur khususnya yang berbasis SDA yang melambat sejalan dengan volume perdagangan negara emerging market, sebagai pasar utama komoditas SDA, yang lebih rendah. Hal ini dikonfirmasi oleh pertumbuhan Indeks Produksi Industri dari BPS yang melambat.

Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih (LGA) diprakirakan tumbuh di kisaran 5,6-6,0% di tahun 2014, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar 6,4-6,8%. Produksi manufaktur yang diperkirakan melambat berdampak pada konsumsi listrik yang lebih rendah. Selain itu, kenaikan harga TTL secara bertahap baik untuk kelas konsumen maupun bisnis juga akan mempengaruhi kinerja subsektor listrik. Sementara itu, kinerja subsektor gas kota terindikasi membaik tercermin dari tren peningkatan distribusi gas oleh PT. PGN. Hal ini terkait program percepatan penyaluran gas untuk untuk segmen rumah tangga, komersial dan industri pada tahun 2014 sebanyak 2 juta unit oleh Kementerian ESDM dan PGN.

Sektor Bangunan diprakirakan tumbuh sekitar 6,4-6,8% pada 2014, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya 6,2-6,6%. Peningkatan tersebut didukung oleh realisasi triwulan II 2014 yang tinggi serta sentimen positif paska pemilihan umum Presiden. Peningkatan sektor bangunan juga terindikasi dari penjualan semen dan impor bahan kontruksi yang membaik. Di sisi lain, lintasan pertumbuhan sektor bangunan yang meningkat pada akhir tahun sejalan dengan pola historis paska pemilihan umum Presiden. Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran (PHR) diprakirakan tumbuh pada kisaran 4,4-4,8% di tahun 2014, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar 4,8-5,2%. Kinerja sektor PHR yang lebih rendah terkait dengan volume perdagangan melalui ekspor dan impor yang lebih rendah. Selain itu, pertumbuhan Indeks Penjualan Eceran pada bulan Juni 2014 dan prakiraan penjualan eceran pada bulan Juli 2014 juga melambat.

Sektor Pengangkutan dan Komunikasi pada 2014 diperkirakan tetap tumbuh tinggi di sekitar 9,5-9,9%, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar 10,1-10,5%. Meskipun melambat, pertumbuhan sektor pengangkutan dan komunikasi masih cukup tinggi. Kinerja subsektor pengangkutan didorong oleh subsektor angkutan rel yang membaik terindikasi dari pertumbuhan penumpang kereta api yang meningkat sampai dengan Juni 2014. Namun, subsektor komunikasi diprakirakan melambat pada paruh kedua 2014 seiring berakhirnya masa kampanye pemilu yang meningkatkan lalu lintas data, suara dan sms dari beberapa provider komunikasi.

Sektor Keuangan, Real Estate, dan Jasa Perusahaan 2014 diprakirakan tumbuh melambat pada kisaran 6,0-6,4%, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya sebesar 5,8-6,2%. Sektor keuangan keuangan, persewaan, dan jasa diprakirakan meningkat seiring realisasi pada triwulan II-2014 yang lebih tinggi dan prospek bisnis paska pemilihan umum Presiden.

L a p o r a n K e b i j a k a n M o n e t e r

|

37 Pada tahun 2015, pertumbuhan ekonomi yang diprakirakan mencapai 5,4 – 5,8 % akan didukung terutama oleh sektor Industri Pengolahan, PHR, serta Pengangkutan dan Telekomunikasi. Prospek kinerja sektor-sektor ekonomi tersebut antara lain didukung oleh daya beli yang tetap resilien sejalan dengan ekspansi kelas menengah yang tetap berlanjut dan inflasi yang menurun.

Sektor Pertanian diprakirakan tumbuh meningkat pada kisaran 2,8-3,2% pada 2015, menurun dari prakiraan sebelumnya 2,9-3,3%. Luas tanam beberapa bahan pangan utama diperkirakan menurun, sehingga berpotensi memengaruhi tingkat produksi. Sementara itu, indikasi gangguan cuaca global El Nino pada tingkat lemah hingga moderat diperkirakan masih akan terjadi di awal tahun 2015. Namun, sektor ini mendapat dukungan dari harga komoditas nonmigas internasional yang diprakirakan kembali pulih, terutama pada subsektor perkebunan seperti karet. Di samping itu, sektor perkebunan terutama CPO diperkirakan tetap mencatat pertumbuhan seiring dengan perkiraan tetap berlanjutnya kebijakan kewajiban pencampuran bahan bakar minyak dengan bahan bakar nabati (biodiesel) sehingga mampu mendorong produksi CPO guna memenuhi permintaan.

Sektor Pertambangan diprakirakan tumbuh membaik hingga mampu mencapai kisaran 2,6-3,0% di 2015, lebih tinggi dari prakiraan sebelumnya 1,4-1,8%. Dari sisi domestik, prospek ini sejalan dengan rencana 15 smelter yang diperkirakan mulai beroperasi pada tahun 2015. Dari sisi eksternal, prakiraan harga komoditas nonmigas

internasional yang kembali positif dan lebih tinggi dari tahun sebelumnya. diperkirakan

berakibat pada membaiknya kinerja sektor pertambangan. Di samping itu, kinerja subsektor Migas diperkirakan meningkat. Hal ini antara lain ditopang oleh peningkatan produksi (ramp up) minyak di blok Cepu yang berpotensi meningkatkan lifting minyak sebesar 165 ribu barel per hari. Sementara itu, sejumlah proyek hulu yang didominasi sektor gas juga diperkirakan mampu mendorong kinerja sektor ini. Dari komoditas batu bara, prospek ke depan diperkirakan berada pada tingkat moderat. Semakin tingginya pasokan di pasar internasional mendorong berlanjutnya penurunan harga batu bara. Di tengah prakiraan turunnya harga tersebut, terdapat kemungkinan pelarangan China terhadap impor batu bara kualitas rendah, termasuk yang berasal dari Indonesia. Hal ini diperkirakan akan berdampak terhadap realisasi ekspor batu bara Indonesia.

Sektor Industri Pengolahan diprakirakan tumbuh mencapai 5,0-5,4% di tahun 2015,

Dalam dokumen LAPORAN KEBIJAKAN MONETER (Halaman 31-43)

Dokumen terkait