Sementara itu, faktor risiko berasal dari volatile food karena adanya La Nina yang memengaruhi produksi ikan tangkap, serta inflasi inti karena
7.1 Prospek Pertumbuhan Ekonomi
Dengan mempertimbangkan kondisi terkini indikator ekonomi domestik dan global, perekonomian Sulsel pada 2016 dan 2017 diperkirakan tumbuh sedikit membaik (7,6%-8,0%) dibandingkan pertumbuhan 2015 (7,15%, yoy).
Pertumbuhan ekonomi pada 2016, diperkirakan mengalami perbaikan dalam kisaran 7,6%-8,0%, dengan asumsi terjadi perbaikan harga komoditas internasional dan ekonomi negara mitra dagang, khususnya dari negara maju (Amerika Serikat, Kawasan Eropa, dan ASEAN). Dari sisi domestik, pendorong berasal dari realisasi penyaluran belanja pemerintah pusat dan pembangunan infrastruktur. Faktor risiko yang perlu diwaspadai kedepan adalah ketidakpastian ekonomi global yang masih akan berlanjut, kembali rebound-nya harga minyak dunia, pergerakan nilai tukar rupiah, dan optimalisasi kebijakan ekonomi pemerintah pusat dan daerah. Pada tahun 2017, pertumbuhan perekonomian diprakirakan juga akan kembali meningkat dalam kisaran 7,6%-8,0%, seiring dengan terjaganya laju pertumbuhan perekonomian global, membaiknya harga komoditas internasional, dan pembangunan infrastruktur.
Grafik 5.12. Perkembangan PDRB Sulsel dan Proyeksinya
Perekonomian Sulsel di triwulan IV 2016 diperkirakan meningkat, yang ditopang oleh konsumsi dan investasi.
Pertumbuhan ekonomi Sulsel triwulan IV 2016 diperkirakan sedikit melambat dalam kisaran 7,6% - 8,0% (yoy). Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga dan LNPRT, masih akan kuat dengan adanya kegiatan di akhir tahun dan akan adanya tunjangan hari raya. Investasi diperkirakan terakselerasi karena pembangunan infrastruktur dan penyaluran belanja pemerintah. Sementara aktivitas ekspor diperkirakan akan sedikit membaik, seiring dengan perbaikan harga internasional nikel, bijih besi, dan kopi. Dari sisi lapangan usaha, peningkatan pertumbuhan di triwulan IV 2016 diperkirakan akan terjadi pada lapangan usaha Pertanian, sektor Pertambangan, sektor Pengadaan Listrik/Gas, sektor Konstruksi, sektor Perdagangan, dan sektor Administrasi Pemerintahan.
7.1.1 Prospek Sisi Pengeluaran
Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi Sulsel triwulan IV 2016 diperkirakan melambar dalam kisaran 7,6%-8,0%
(yoy) tetap akan ditopang oleh permintaan domestik. Permintaan domestik yang tumbuh meningkat antara lain konsumsi rumah tangga dan LNPRT, konsumsi pemerintah, serta investasi (Pembentukan Modal Tetap Bruto). Konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh pada kisaran 6,2%-6,6% dengan optimisme konsumen menjelang hari keagamaan.
Kegiatan investasi diperkirakan tumbuh 16,4%-16,8%, dengan dipercepatnya pembangunan proyek infrastruktur dan penyaluran belanja pemerintah. Sementara itu, ekspor luar negeri Sulsel diperkirakan membaik, ditengah tren positif ekonomi negara-negara mitra dagang dan harga komoditas yang mulai rebound.
Konsumsi pada triwulan IV 2016 diperkirakan menguat dibandingkan triwulan sebelumnya. Komponen konsumsi rumah tangga meningkat tercermin dari indeks tendensi konsumen yang berada di level 114,12, terutama untuk ekspektasi pendapatan mencapai 118,0. Sedangkan indeks rencana pembelian barang durable berada pada level 107,32. Daya beli masyarakat akan meningkat dengan stabilnya inflasi dan pembayaran tunjangan hari raya. Konsumsi pemerintah diperkirakan juga terakselerasi, seiring disalurkannya dana desa26, dan realisasi belanja/pendapatan pemerintah yang naik lebih tinggi dari 2015. Sebagai indikasi, realisasi belanja pemerintah pada triwulan II 2016 telah mencapai 33,0%, sementara pada triwulan III 2016 dan triwulan IV 2016 diperkirakan masing-masing akan mencapai 54,72% dan 94,25%.
26 Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan RI No. 93/PMK.07/2015 tentang Tata Cara Pengalokasian, Penyaluran, Penggunaan, Pemantauan, dan Evaluasi Dana Desa disebutkan bahwa penyaluran Dana Desa dilakukan dalam 3 tahap, yaitu tahap I pada bulan April sebesar 40% (empat puluh per seratus); tahap II pada bulan Agustus sebesar 40% (empat puluh per seratus); dan tahap III pada bulan Oktober sebesar 20% (dua puluh per seratus).
4,0 4,5 5,0 5,5 6,0 6,5 7,0 7,5 8,0 8,5 9,0
2014 Q1 2014 Q2 2014 Q3 2014 Q4 2015 Q1 2015 Q2 2015 Q3 2015 Q4 2016 Q1 2016 Q2 2016 Q3 2016 Q4 2017 Q1 2017 Q2 2017 Q3 2017 Q4
%, yoy
2016:
7,6% - 8,0%
2017:
7,6% - 8,0%
2014:
7,54%
2015:
7,15%
96
Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan | Periode Agustus 2016 Pengembangan Infrastruktur Kemaritiman Sebagai Pendorong Ekonomi SulselSumber: Badan Pusat Statistik p) Perkiraan BPS Sumber: Survei Konsumen – BI
Grafik 5.13. Indeks Tendensi Konsumen BPS Grafik 5.14. Indeks Keyakinan Konsumen Bank Indonesia
Sumber: Kanwil Perbendaharaan Negara Sulsel dan Badan Pengelola Keuangan Daerah Provinsi Sulsel Grafik 5.15. Persentase Realisasi Pagu Anggaran Pemerintah Pusat di Daerah
Komponen investasi Sulsel pada triwulan IV 2016 tetap tumbuh tinggi dan diperkirakan dalam tren meningkat sampai dengan keseluruhan 2016. Beberapa proyek unggulan yang masih terus berlangsung selama 2016 antara lain:
1. Pelabuhan Makassar (Makassar New Port) dengan kapasitas 3 juta teus, yang berlangsung 2015 – 2018, yang membutuhkan biaya sebesar Rp1,8 Triliun. Kemajuan pekerjaan mencapai 10 %, antara lain jalan menuju proyek, dan struktur dermaga yang ada pada pinggir pantai.
2. Tiga Proyek Jalan yakni Bypass Mamminasata, Middle Ring Road dan Elevated Poros Maros-Bone, yang berlangsung 2015 – 2018 yang membutuhkan biaya Rp251,25 Miliar. Kemajuan pekerjaan penandatanganan kontrak untuk pengerjaan tahap pertama.
3. Proyek kereta api Trans Sulawesi trace Makassar - Parepare, yang berlangsung 2015 – 2018, pada tahun 2016 membutuhkan biaya Rp1,3 triliun (APBN). Kemajuan pekerjaan konstruksi telah mencapai 10 Km dan pembebasan lahan tahap I sepanjang 30 Km telah selesai 90%.
4. Pembangkit Listrik (Kapasitas PLTU Jeneponto tahap II 2x135 MW (gross capacity) atau 2x125 (net capacity), yang berlangsung 2015-2016 membutuhkan biaya Rp 3 triliun. Kemajuan pekerjaan berupa groundbreaking yang telah dilakukan pada Maret 2015.
5. Bendung Baliase yang berlangsung 2015 – 2019, membutuhkan biaya Rp200 miliar. Kemajuan pekerjaan berupa mobilisasi, tenaga, alat, material on site.
6. Bendungan Karalloe yang berlangsung 2013 – 2017, membutuhkan biaya Rp500 miliar. Kemajuan pekerjaan berupa pembebasan lahan.
7. Bendungan Paselloreng yang berlangsung 2015 – 2019, membutuhkan biaya Rp800 miliar. Kemajuan pekerjaan berupa pembebasan lahan.
Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan| Periode Agustus 2016 Pengembangan Infrastruktur Kemaritiman Sebagai Pendorong Ekonomi Sulsel
97
10. Perbaikan Irigasi (Sekunder) yang berlangsung 2016, membutuhkan biaya Rp31,6 miliar. Kemajuan pekerjaan sampai pada tahap kontrak kerja.
11. Perbaikan Irigasi (Tersier) yang berlangsung 2016, membutuhkan biaya Rp5,8 miliar. Kemajuan pekerjaan sampai pada tahap kontrak kerja.
12. Pembangunan perumahan, perkantoran, dermaga, dan pergudangan di Makassar, Gowa, Maros, dan Wajo senilai US$ 2,05 juta.
Kinerja ekspor dan impor diprakirakan masih lemah. Permintaan dari negara mitra dagang masih rendah, seiring pertumbuhan kawasan Asia dan ASEAN yang diprediksi stabil.Faktor yang diperkirakan akan mendorong ekspor faktor harga internasional yang mulai membaik. Selain itu, Pemda melaksanakan kebijakan akselerasi ekspor melalui diversifikasi produk dan Negara tujuan ekspor. Untuk mendukung kebijakan tersebut, Gubernur Sulsel telah mencanangkan kenaikan nilai ekspor non-migas menjadi 3 kali lipat dari kondisi 2015, dan kepada setiap Kabupaten diminta agar mempunyai komoditi andalan ekspor, dan kebijakan ini telah dimulai sejak Agustus 201527.
Tabel 5.6. Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi Beberapa Negara
*) Terdiri dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam p) Proyeksi
Keterangan: ↑ Lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya
→ Sama dengan perkiraan sebelumnya
↓ Lebih rendah dari perkiraan sebelumnya
Harga internasional komoditas pertanian dan pertambangan diperkirakan semakin membaik dan tumbuh positif, turut mendorong perbaikan ekspor luar negeri. Tren perbaikan harga internasional komoditas olahan tambang mulai membaik pada triwulan III 201628, yang diperkirakan akan berimbas positif pada peningkatan ekspor. Harga komoditas ekspor utama, yaitu nikel trennya membaik di triwulan III 2016, atau akan tumbuh -26,22% (yoy), dimana pada akhir 2015 harga nikel tumbuh -40,6% (yoy) atau berada pada kisaran 8.708 USD/metrik ton. Saat ini, harga nikel tercatat membaik 9.283 USD/metrik ton. Membaiknya harga nikel, diperkirakan karena mulai membaiknya ekonomi China/Tiongkok pada 2016 menjadi 6,6% dari perkiraan sebelumnya 6,5%.
Sumber: World Bank Sumber: World Bank
Grafik 5.16. Perkembangan Harga Internasional Nikel Grafik 5.17. Perkembangan Harga Internasional Bijih Besi
27 Program ini dibuka secara simbolis oleh presiden Jokowi,yang melepas ekspor ke 24 negara tujuan dengan 27 komoditas berbeda dengan nilai Rp62 triliun. Dalam program ini Sulsel membidik 24 negara tujuan ekspor, diantaranya Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Italia, Puerto Rico, Jerman, Australia, Malaysia, Singapore Hongkong, Philipina , Inggris, Taiwan, Tiongkok , Israel, Polandia, Denmark, Dubai (Uni Emirat Arab), Kuwait, Saudi Arabia, Ukraina, Spanyol, Vietnam, Timor leste. Sedangkan komoditi yang di ekspor adalah udang beku, ikan tuna beku, kepiting, gurita beku, ikan segar, kakao liquer, kakao powder, kopi, kakao, buah markisa, jagung, budsudan (dupa), kayu olahan, rumput laut, karet, minyak mete, kulit mete, mete kupas, tepung terigu, dedak gandum, reptile skin, semen, nikel, marmer, ikan hidup, telur ikan terbang, daging kepiting, dan marmer.
28 Commodity Market Outlook, Juli 2016.
Harga Internasional Nikel g.Harga Internasional Nikel - sisi kanan
-60%
Harga Internasional Iron Ore g.Harga Internasional Iron Ore - sisi kanan
98
Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan | Periode Agustus 2016 Pengembangan Infrastruktur Kemaritiman Sebagai Pendorong Ekonomi SulselPerdagangan dalam negeri (antarpulau) diperkirakan relatif rendah seiring usainya panen raya dan hari besar keagamaan. Pengiriman barang dari Sulsel cenderung berupa bahan mentah yang nilai tambahnya rendah, sementara barang yang dikirim ke Sulsel memiliki nilai tambah yang lebih tinggi, karena berupa barang jadi dan alat rumah tangga.
Bahan makanan yang rutin dikirim dari Sulsel adalah beras, yang dikirim kepada 22 provinsi. Pengiriman melalui mekanisme move Bulog, terutama untuk Kawasan Timur Indonesia serta Kalimantan. Pengiriman didukung oleh infrastruktur yang semakin membaik akan mendukung perhubungan antar pulau29.
7.1.2 Prospek Sisi Lapangan Usaha
Lapangan Usaha Pertambangan, Pengadaan Listrik/Gas, Konstruksi, Perdagangan, dan Administrasi Pemerintahan diperkirakan tumbuh meningkat pada triwulan IV 2016. Faktor-faktor pendorong adalah membaiknya harga internasional nikel, pembangunan pembangkit/jaringan listrik, pembangunan infrastruktur, daya beli yang masih relatif baik, dan realisasi penyerapan anggaran.
Lapangan usaha pertanian, terutama tanaman bahan makanan, diprakirakan relatif lemah pada triwulan IV 2016.
Fenomena La Nina mendorong terjadinya pergeseran pola tanam menjadi pad-padi-palawija, sehingga pada triwulan IV 2016 hasil dari palawija diperkirakan hasilnya relatif rendah. Dari sisi subsektor perkebunan, tren harga internasional untuk coklat dan kopi diperkirakan memburuk, sehingga ekspor komoditas tersebut juga diperkirakan terpengaruh.
Sumber: World Bank Sumber: World Bank
Grafik 5.18. Perkembangan Harga Internasional Coklat Grafik 5.19. Perkembangan Harga Internasional Kopi (Robusta) Lapangan usaha pertambangan diprakirakan tumbuh meningkat, seiring dengan perkiraan harga internasional nikel yang relatif membaik dan rebound. Perkembangan harga internasional nikel, sampai dengan Juli 2016 masih mengalami penurunan -26,22%(yoy) hingga level harga 9.283 USD/metrik ton. Harga bahan bakar minyak dimanfaatkan perusahaan dengan meningkatkan produksi nikel perusahaan30, dan dengan demikian pendapatan perusahaan meningkat. Dalam menyiasati penurunan permintaan pasar dunia, perusahaan tambang di Sulsel pada 2016 akan menunda belanja modal, yang berarti tidak melakukan ekspansi usaha.
Lapangan usaha konstruksi diperkirakan tetap kuat pada triwulan IV 2016. Beberapa proyek pembangunan skala besar telah mulai berjalan pada 2015, dan masih berlanjut di 2016. Rencana pembangunan infrastruktur baru (jaringan irigasi, waduk, dan embung) hingga periode triwulan II 2016 mencapai Rp8,51 Triliun (12,99%) dari APBD dan Rp1,42 Triliun (26,84%) dari APBN. Diperkirakan realisasi belanja modal dalam tren meningkat, karena adanya Instruksi Presiden agar seluruh Kementrian mempercepat realisasi anggaran di awal tahun. Dinas Pekerjaan Umum sudah mulai membuat kontrak pada akhir tahun lalu, sehingga proyek pembangunan sudah dapat berjalan pada awal tahun ini.
Lapangan usaha perdagangan besar/eceran diprakirakan tetap kuat pada triwulan IV 2016. Kegiatan perdagangan diperkirakan meningkat menjelang Natal/Tahun Baru. Pembayaran tunjangan hari raya dan rendahnya inflasi diperkirakan akan mendorong daya beli masyarakat dan meningkatkan pembelian barang tahan lama.
29 Penambahan dermaga peti kemas, serta mulai beroperasinya lintas penyeberangan Pelabuhan Paciran, Jawa Timur dengan Pelabuhan Garongkong di Kabupaten Barru.
30 er atat produksi nikel yang dilakukan perusahaan pengolahan nikel meningkat menjadi 58.875 mt pada 2015 dari sebelumnya hanya 58.141 mt pada 2014.
Harga Internasional Coklat g.Harga Internasional Coklat - sisi kanan
-30%
Harga Internasional Kopi g.Harga Internasional Kopi - sisi kanan
Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan| Periode Agustus 2016 Pengembangan Infrastruktur Kemaritiman Sebagai Pendorong Ekonomi Sulsel
99
Sementara itu, lapangan usaha Administrasi Pemerintahan diperkirakan tetap kuat. Hingga triwulan II 2016, penyerapan anggaran APBD telah mencapai 30,72% sementara penyerapan anggaran APBN telah mencapai 37,80%.