BAB III MATERI DAN METODE
3.5. Variabel Penelitian
3.5.3. Protein Kasar (PK)
Protein Kasar (PK) adalah semua zat yang mengandung nitrogen. Penentu kadar protein kasar dilakukan dengan menggunakan Metode Kjedhal yang melalui proses destruksi, destilasi, titrasi dan perhitungan.
Keterangan : A = Berat kertas minyak
B = Berat kertas minyak + sampel C = V NaOH (sampel)
D = V NaOH (blanko) 3.5.4 Serat Kasar (SK)
Serat kasar adalah bagian dari pangan yang tidak dapat terhidrolisis oleh bahan-bahan kimia yang digunakan untuk menentukan kadar serat kasar yaitu asam sulfat (H2SO41,25%) dan natrium hidroksida (NaOH 1,25%).
Kadar PK =( )× × , × , × 100%
Kadar Serat Kasar = A − B
Berat Sampel × 100%
% Bahan Organik =(100% − Kadar Abu)
100 × BK
29
Keterangan: A = Bobot sampel setelah di oven dan didinginkan (g)
B = Bobot sisa pembakaran (g) 3.6 Analisa Data
Data hasil penelitian diuji secara statistik melalui analisa keragaman dengan analisa sidik ragam menggunakan Rancangan Petak Terbagi pola Rancangan Acak Kelompok (RAK) (Steel and Torrie, 1991).
Rumus : Keterangan:
Yijk :pengamatan dari faktor A level ke i, faktor B level ke j dan pada kelompok ke k
µ :nilai tengah
αi :pengaruh faktor A (petak utama/ umur potong) pada level ke i
K :pengaruh kelompok ke k
ik :galat percobaan (a) untuk level A dan kelompok ke k
ßj :pengaruh faktor B (anak petak/jarak tanam) pada level ke j
(αß)I :interaksi antara faktor A level ke i dan faktor B level ke j
ijk :galat percobaan (b) untuk level ke i (faktor A) level ke j (faktor B) dan kelompok ke k Apabila ada perbedaan yang nyata maka dilanjutkan dengan analisis uji jarak ganda Duncan (Steel and Torrie, 1991).
Yijk=µ + K+ αi+ ik+ ßj+ (αß)ij+ ijk
30 3.7 Batasan Istilah
Defoliasi : Pemotongan dan pengambilan bagian yang ada diatas permukaan tanah baik oleh manusia atau pun renggutan hewan ternak yang digembalakan .
Hijauan : Semua bahan pakan yang diberikan kepada ternak yang terdiri atas daun-daunan yang berasal dari rumput-rumputan, tanaman biji bijian/jenis kacang-kacangan.
Jarak Tanam : Suatu jarak antara tanaman satu dengan tanaman lainnya.
Pemupukan : Penambahan bahan (pupuk) kedalam tanah agar tanah menjadi subur.
Rumput odot : Rumput unggul yang berasal dari Philipina dimana rumput ini mempunyai produksi yang cukup tinggi. Selain itu menghasilkan banyak anakan, mempunyai akar kuat, batang yang tidak keras dan mempunyai ruas ruas daun yang banyak serta struktur daun yang muda sehingga sangat disukai oleh ternak.
Stek (batang) : Bagian dari tanaman yang digunakan untuk perbanyakan tanaman.
Umur : Umur tanaman ketika dilakukan Uji Jarak Ganda Duncanα= R(p,v,α)×
31
Pemotongan pemotongan oleh manusia atau pun renggutan hewan ternak yang digembalakan.
32
33 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Kondisi Kesuburan Tanah Selama Penelitian Hasil analisis sampel tanah (Lampiran 13) terhadap C-Organik, Bahan C-Organik, C/N, N, P dan K disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil analisis tanah Desa Kandangan Kabupaten Blitar.
Sumber: Laboratorium Kimia Tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (2017)
Tabel 2 menunjukan bahwa kandungan C-organik sebesar 0,65 termasuk dalam kategori sangat rendah. Hal tersebut sesuai pendapat Guntur, Guchi dan Razali (2015) bahwa C-organik sangat rendah apabila kurang dari 1%, rendah apabila organik tanah 1-2%, sedang apabila C-organik tanah 2-3% , tinggi apabila lebih dari 3%. C-C-organik yang rendah disebabkan oleh kebiasaan petani yang membersihkan lahannya setelah masa panen selesai. Menurut
34
pendapat Sari, Santoso, dan Mawardi (2013) bahwa C-organik menggambarkan bahan organik tanah. Bahan organik tanah dikategorikan subur apabila kadarnya melebihi 3%. Menurut Supangat, Supriyo,Sudira, dan Poedjirahajoe (2013) bahwa bahan organik tanah (C-Organik) berfungsi dalam memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah-tanah mineral. Kadar C-Organik secara langsung akan mempengaruhi tingkat kesuburan tanah sisa panen yang berupa jerami padi merupakan sumber bahan organik bagi tanah, namun jerami padi yang dihasilkan langsung dibakar oleh petani. Hal ini yang menyebabkan bahan organik pada tanah berkurang (Guntur, dkk., 2015).
N total pada tanah yang digunakan penelitian tergolong sangat rendah yaitu sebesar 0,10%. Hal tersebut sesuai pendapat Yamani (2010) bahwa N total sangat rendah jika kurang dari 0,10%, rendah apabila berkisar antara 0,10-0,20%, sedang apabila berkisar antara 0,21-0,50%, tinggi apabila berkisar antara 0,51-0,75% dan sangat tinggi apabila lebih dari 0,75%. Menurut Supangat, dkk (2013) bahwa Nitrogen (N) merupakan hara makro utama yang penting bagi pertumbuhan tanaman. Sebagian besar tanaman umumnya menyerap unsur N dari tanah dalam bentuk NH4
+ dan NO3 -. Keberadaan N di dalam tanah bersifat mudah hilang karena menguap ke udara, tercuci, maupun terangkut bersama erosi.
Ketersediaan N tanah sangat tergantung dari bahan organik tanah sebagai sumber utamanya. Hal ini sesuai pendapat Sari, Santoso, dan Mawardi (2013) bahwa ketersediaan N dalam tanah selain ditentukan oleh jumlah N-total tanah, juga berhubungan erat dengan kandungan bahan organik tanah terutama tingkat dekomposisinya (C/N).
35
Rasio C/N pada tanah yang digunakan penelitian tergolong rendah yaitu sebesar 7. Hal tersebut sesuai pendapat Sipahutar, Marbun dan Fauzi (2014) bahwa kandungan bahan organik sebagian rendah sampai sedang dan sebagian lagi sedang sampai tinggi. Kandungan bahan organik lapisan atas selalu lebih tinggi daripada lapisan bawah dengan ratio C/N tergolong rendah (5–10) sampai sedang (10–18). Jika karbon yang masuk ke dalam tanah sebagai bahan organik segar banyak sedangkan jumlah nitrogen relatif sedikit, maka C/N menjadi tinggi. Sebaliknya, jika karbon yang masuk dalam tanah sebagai bahan organik segar sangat banyak sedangkan jumlah nitrogen relatif tinggi maka C/N menjadi rendah. Hal ini disebabkan sebagian N tersedia digunakan oleh mikroorganisme dalam perombakan bahan organik.
Bahan Organik pada tanah yang digunakan penelitian tergolong rendah yaitu sebesar 1,13. Hal tersebut sesuai pendapat Guntur, dkk., (2015) bahwa kandungan bahan organik tanah menurut Balai Besar Penelitian Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP) adalah rendah apabila kurang dari 2%, sedang apabila kandungan bahan organik tanah 2-3%, dan tinggi apabila lebih dari 3%.
Kandungan phospor (P) pada tanah yang digunakan penelitian tergolong sangat tinggi sebesar 316,30 mg kg-1. Hal tersebut sesuai pendapat Hairiah (2000) bahwa interpretasi hasil uji tanah unsur P dikatakan sangat rendah jika kurang dari 5 mg kg-1, rendah apabila berkisar antara 5-9 mg kg-1, sedang apabila berkisar antara 10-17 mg kg-1, tinggi apabila berkisar antara 18-25 mg kg-1dan sangat tinggi bila lebih dari 25 mg kg-1. Menurut Supangat, Supriyo,Sudira, dan Poedjirahajoe (2013) bahwa unsur hara P juga merupakan hara makro penting. Unsur P diserap oleh tanaman dari tanah dalam
36 bentuk H2PO4
- dan atau HPO4
2- . Kadar hara P yang tinggi akan menguntungkan bagi tanaman sehingga tanah cenderung subur.
Kandungan Kalium (K) pada tanah yang digunakan penelitian tergolong sangat rendah yaitu sebesar 0,31 me/100g.
Hal tersebut sesuai pendapat Yamani (2010) bahwa kalium sangat rendah jika kurang dari 10 me/100g, rendah apabila berkisar antara 10-20 me/100g, sedang apabila berkisar antara 21-40 me/100g, tinggi apabila berkisar antara 41-60 me/100g dan sangat tinggi apabila lebih dari 0,60 me/100g.
4.2 Kondisi Iklim Selama Penelitian
Tabel 3 menunjukan data curah hujan dan lama penyinaran matahari selama penelitian.
Tabel 3. Data curah hujan dan lama penyinaran matahari
Variable Januari Februari Maret
Sumber : Data curah hujan diperoleh dari Dinas PU Kab Blitar dan data lama penyinaran matahari di peroleh dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Klimatologi Karangploso.
Tabel 3 menunjukan bulan Januari nilai curah hujan sebesar 379 mm/bulan yang termasuk katagori bulan basah, bulan Februari sebesar 280 mm/bulan yang termasuk katagori bulan basah dan bulan Maret sebesar 194 mm/bulan yang dikatagorikan bulan lembab. Hal tersebut sesuai pendapat Indarto, Susanto dan Fakrudin (2012) bahwa Bulan Basah
37
(BB) dan Bulan Kering (BK) ditentukan dengan metode klasifikasi iklim Oldeman: 1. Bulan basah, apabila curah hujannya > 200 mm/bulan. 2. Bulan lembab, apabila curah hujannya 100–200 mm/bulan. 3 Bulan kering, apabila curah hujannya < 100 mm/bulan.
Cahaya merupakan faktor lingkungan terpenting, mempunyai peranan yang mendasar pada proses fotosintesis di dalam metabolisme tanaman. Proses perkembangan yang dipengaruhi cahaya ditemui pada semua tahap pertumbuhan dari perkecambahan biji, pertumbuhan sampai berbunga.
Pada Tabel 3 menunjukan lama penyinaran matahari semakin meningkat dengan nilai lama penyinaran matahari bulan Januari (40,1%), Februari (50,7%) dan Maret (56,3%) yang berbanding terbalik dengan nilai curah hujan dimana nilai curah hujan semakin menurun.
4.3 Pengaruh Umur Pemotongan dan Jarak Tanam terhadap Kandungan Bahan Kering (BK) dan Bahan Organik (BO)
Berdasarkan analisis ragam (Lampiran 9) bahwa jarak tanam dari interaksi umur pemotongan dengan jarak tanam tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap Bahan Kering (BK) tetapi perbedaan umur pemotongan rumput odot (Pennisetum purpureum cv. Mott) memberikan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) terhadap Bahan Kering (BK).
38
Tabel 4. Kandungan Bahan Kering (BK) rumput odot (Pennisetum purpureum cv. Mott) berbagai umur pemotongan dan jarak tanam
Keterangan: a,b Superscript yang berbeda pada kolom umur menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01)
Pada Tabel 4 menunjukkan umur pemotongan paling tua (U60) memberikan kandungan Bahan Kering (BK) paling tinggi yaitu sebesar 12,75% sedangkan umur pemotongan paling muda (U40) memiliki kandungan BK paling rendah (10,73%). Kandungan BK hasil penelitian pada umur pemotongan cenderung konstan dan lebih tinggi dibandingkan dengan rumput odot hasil penelitian Andilala, Subagiyo dan Sudarwati (2015) bahwa konsentrasi BK Pennisetum purpureum cv. Mott yakni 7,30-8,30%. Sedangkan kandungan rumput gajah hasil penelitian Surono, Soejono, dan Budhi (2006) bahwa kandungan rumput Gajah (Pennisetum purpureum) umur 57 – 70 hari berdasarkan bahan kering (BK) adalah 14,1%, hal ini terjadi karena rumput gajah dilakukan pemotongan lebih tua sehingga terjadi peningkatan kandungan BK. Hal ini sesuai dengan pendapat Savitri, dkk (2014) bahwa tanaman yang berusia tua terjadi penebalan dinding sel yang mengakibatkan kandungan BK (Bahan Kering) meningkat.
Semakin tinggi umur tanaman maka komponen dinding sel suatu hijauan akan semakin tinggi. Seseray, dkk (2013)
39
proporsi bahan kering yang dikandung oleh rumput berubah seiring dengan umur tanaman, makin tua tanaman maka akan lebih sedikit kandungan airnya dan proporsi dinding sel lebih tinggi. Apabila kandungan dinding sel yang dimiliki tanaman lebih besar maka tanaman tersebut akan lebih banyak mengandung bahan kering.
Berdasarkan hasil analisis ragam (Lampiran 10), didapatkan jarak tanam tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap Bahan Organik (BO) tetapi perbedaan umur pemotongan rumput odot (Pennisetum purpureum cv.
Mott) memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap Bahan Organik (BO). Interaksi umur pemotongan dengan jarak tanam memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap bahan organik, interaksi umur pemotongan 60 hari dengan jarak tanam 20x20 cm (U60J2) memberikan nilai bahan organik paling tinggi sebesar 84,03%.
Tabel 5. Kandungan BO (Bahan Organik) Pennisetum
purpureum cv. Mott pada berbagai umur pemotongan dan jarak tanam
40
Keterangan: a,b Superscript yang berbeda pada kolom umur menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01)
k,-n Superscript yang berbeda pada interaksi umur dan jarak menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05)
Pada Tabel 5 menunjukkan semakin tua umur pemotongan (U60) menyebabkan kandungan Bahan Organik (BO) semakin tinggi. Interaksi umur potong dengan jarak tanam yang paling tinggi pada perlakuan U60J2 sebesar 84,03% sedangkan yang paling rendah pada perlakuan U40J2 sebesar 81,80%. Kandungan BO hasil penelitian antar umur pemotongan cenderung konstan lebih rendah dibandingkan dengan hasil penelitian Andilala, dkk (2015) yaitu 87,54-90,13%. Sedangkan hasil penelitian Rukmana (2005) bahwa kandungan rumput gajah (Pennisetum purpureum) yaitu 88,3%, tingginya kandungan BO diduga karena ketersediaan N dalam tanah yang cukup tinggi. Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Savitri, dkk., (2012) menyatakan bahwa semakin lama tanaman tidak dilakukan pemotongan maka daun akan melakukan proses fotosintesis yang semakin lama, sehingga dapat meningkatkan produksi gula sederhana yang mengakibatkan kandungan BO meningkat.
4.4 Pengaruh Umur Potong dan Jarak Tanam terhadap Kandungan Protein Kasar (PK)
Berdasarkan analisis sidik ragam (Lampiran 11) perbedaan umur pemotongan dan jarak tanam rumput odot (Pennisetum purpureum cv. Mott) memberikan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) terhadap Protein Kasar (PK).
Interaksi umur pemotongan dan jarak tanam memberikan
41
perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) terhadap Protein Kasar (PK) dimana interaksi umur pemotongan 40 hari dengan jarak tanam 30 x 30 cm (U40J3) yaitu 8,46% memberikan nilai protein kasar paling tinggi.
Tabel 6. Kandungan PK (Protein Kasar) Pennisetum purpureum cv. Mott pada berbagai umur pemotongan dan jarak tanam
Keterangan: a-c Superscript yang berbeda pada kolom umur menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01)
f,g Superscript yang berbeda pada baris jarak tanam menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01)
k-m Superscript yang berbeda pada interaksi umur dan jarak menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05)
Pada Tabel 6 menunjukan semakin lama umur pemotongan kandungan PK semakin turun yaitu umur pemotongan 40 hari (8,22%), umur pemotongan 50 hari (7,98%) dan umur pemotongan 60 hari (6,99%). Kandungan PK rumput odot antar umur pemotongan cenderung konstan dan lebih rendah dibandingkan rumput odot hasil penelitian Budiman, et al., (2012) yang menunjukkan bahwa kandungan PK Pennisetum purpureum cv. Mott yaitu 12,94% pada umur
42
56 hari (8 minggu) dan kadar PK 11,50-14,90% (Yasin et al., 2013). Hasil penelitian Purbajanti, dkk (2011) bahwa kandungan protein kasar rumput gajah (Pennisetum purpureum) (7,02%) tergantung pada jumlah nitrogen yang tersedia bagi tanaman yang prosesnya didalam tanaman sangat dipengaruhi oleh jumlah pelarut substrat yang tersedia.
Menurut pendapat Savitri, dkk (2014) bahwa kandungan PK menurun seiring dengan semakin tua umur tanaman. Semakin tua umur tanaman maka produksi batang dan bunga meningkat, tetapi produksi daun menurun, hal ini yang mempengaruhi kandungan protein tanaman. Protein tanaman berhubungan erat dengan aktivitas jaringan, sehingga daun mengandung lebih banyak protein dibandingkan dengan batang. Hal tersebut di perkuat oleh Andrianton (2010) bahwa umur tanaman pada saat pemotongan sangat berpengaruh terhadap kandungan gizinya. Umumnya, makin tua umur tanaman pada saat pemotongan, makin berkurang kadar proteinnya. Tanaman pada umur muda kualitasnya lebih baik karena kadar proteinnya lebih tinggi. Menurut Mansyur, dkk.
(2005) bahwa jika umur pemotongan diperpanjang akan terjadi penurunan kandungan protein kasar. Sajimin, Purwantari, Sutedi, dan Oyo (2011) mengatakan bahwa panen awal kandungan protein kasarnya lebih tinggi dibandingkan dengan panen akhir. Menurut Susetyo, et al., (1994) menyatakan bahwa tanaman pada umur muda kualitas lebih baik karena kadar proteinnya lebih tinggi. Sedangkan terlalu awal dilakukan pemanenan pada umur yang pendek, hijauan tersebut akan selalu dalam keadaan muda sehingga kandungan protein dan kadar airnya tinggi.
Berdasarkan analisis ragam (Lampiran 11) jarak tanam yang paling lebar mempunyai kandungan protein yang
43
paling tinggi yaitu jarak tanam J3 (30 x 30 cm) sebesar 7,98%
sedangkan yang paling rendah yaitu J2 (20 x 20 cm) sebesar 7,60%. Jarak tanam akan mempengaruhi efektivitas penyerapan unsur hara oleh tanaman. Semakin rapat jarak tanam semakin banyak populasi tanaman per satuan luas, sehingga persaingan hara antar tanaman semakin ketat.
Akibatnya pertumbuhan tanaman akan terganggu, pengaturan jarak tanam berpengaruh terhadap besarnya intensitas cahaya dan unsur hara yang dibutuhkan bagi tanaman. Semakin lebar jarak tanam, semakin besar intensitas cahaya dan semakin banyak ketersediaan unsur hara tanaman, karena jumlah pohonnya lebih sedikit. Sebaliknya semakin rapat jarak tanam semakin banyak jumlah pohonnya dan persaingan semakin ketat (Mawazin dan Suhaendi, 2008). Menurut Jamaran (2006) berpendapat bahwa persaingan antara tanaman tidak terjadi selama kandungan air, hara dan cahaya matahari dalam keadaan serba lebih bagi kebutuhan tanaman.
4.5 Pengaruh Umur Pemotongan dan Jarak Tanam terhadap Kandungan Serat Kasar (SK)
Berdasarkan analisis ragam (Lampiran 13) perbedaan umur pemotongan rumput odot (Pennisetum purpureum cv.
Mott) memberikan perbedaan yang nyata (P<0,05) terhadap serat kasar (SK). Pada perbedaan jarak tanam dan interaksi antara jarak tanam dan umur pemotongan tidak memberikan perbedaan yang nyata (P>0,05)
44
Tabel 7. Kandungan SK (Serat Kasar) Pennisetum purpureum cv. Mott pada berbagai umur potong dan jarak tanam
Umur Jarak tanam Rataan
Keterangan: a,b Superscript yang berbeda pada umur menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) Pada Tabel 7 menunjukkan bahwa semakin lama umur pemotongan menyebabkan kandungan serat kasar tinggi yaitu umur pemotongan 40 hari (30,62%), umur pemotongan 50 hari (31,65%), umur pemotongan 60 hari (32,92%). Kandungan SK rumput odot antar umur pemotongan cenderung konstan dan sesuai dengan hasil penelitian. Hal tersebut sesuai pendapat Purbajanti, dkk (2011) bahwa kandungan serat kasar rumput gajah (Pennisetum purpureum) 31,67%. Menurut Hanafi, dkk (2013) bahwa semakin lambat tanaman dilakukan pemotongan, kandungan serat kasarnya semakin tinggi.
Hijauan muda kadar airnya tinggi tetapi kadar seratnya rendah.
Diperkuat oleh pendapat Djuned, dkk (2005) bahwa semakin tinggi umur tanaman maka komponen dinding sel suatu hijauan akan semakin tinggi, hal ini sehubungan dengan perkembangan kedewasaan (umur tanaman) hijauan, maka akan terjadi pula peningkatan konsentrasi seratnya. Menurut Reksohadiprodjo (1981) faktor yang sangat mempengaruhi kandungan serat kasar pada tanaman adalah umur pemotongan. Semakin lama umur pemotongan pada rumput, maka kandungan serat kasar meningkat.
45 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa :
Konsentrasi BK, BO, SK tertinggi pada umur 60 hari.
Konsentrasi PK tertinggi pada U40J3.
Jarak tanam yang paling lebar J3 (30 x 30 cm) memberikan pengaruh terhadap Protein Kasar (PK) sebesar 7,9%.
Interaksi umur pemotongan 60 hari dengan jarak tanam 20 x 20 cm (U60J2) memberikan pengaruh terhadap Bahan Organik (BO) paling tinggi sebesar 84,02%.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini maka disarankan untuk melakukan pemotongan rumput odot (Pennisetum purpureum cv. Mott) pada umur pemotongan 60 hari karena cenderung memiliki nilai BK, BO dan SK paling tinggi.
46
47
DAFTAR PUSTAKA
Adrianton. 2010. Pertumbuhan dan Nilai Gizi Tanaman Rumput Gajah pada Berbagai Interval Pemotongan.
Jurnal Agroland. 17(3): 192-197.
Alia, L. S., T. Dhalika dan R. Hidayat. 2015. Pengaruh Umur Pemotongan Tanaman Rami (Boehmeria Nivea) Terhadap Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik (In Vitro). Universitas Padjajaran. 1-12.
Andilala, D., I. Subagiyo dan H. Sudarwati. 2015. Pengaruh Lama Perendaman Stek ke dalam Urin Sapi Perah Betina Terhadap Pertumbuhan dan Produktivitas Rumput Gajah Mini (Pennisetum purpureum cv.
Mott). (Sripsi). Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang.
Antonius. 2009. Pemanfaatan Jerami Padi Fermentasi sebagai Subtitusi Rumput Gajah dalam Ransum Sapi. JITV.
14 (4):270-277.
AOAC. 2005. Official Methods of Analysis Association (18thEd), Official Association of Official Analytical Chemist, Washington, DC.
As-syakur, A. R., I. W. Suarna., I. W. Rusna dan I. N. Dibia.
2011. Pemetaan Kesesuaian Iklim Tanaman Pakan Serta Kerentanannya Terhadap Perubahan Iklim dengan Sistem Informasi Geografi (SIG) di Provinsi Bali. Pastura. 1(1):9-15.
Budiman, R. D. Soetrisno, S. P. S. Budhi and A. Indrianto.
2012. Morphological Characteristics, Productivity and Quality of Three Napier Grass (Pennisetum
48
purpureum schum) Cultivars Harvested At Different Age. J.Indonesian Trop.Anim.Agric.
37(4):294-301.
Djajanegara, A., M. Rangkuti., Siregar, Soedarsono dan S.K.
Sejati. 1998. Pakan ternak dan Faktor-faktornya.
Pertemuan Ilmiah Ruminansia. Departemen Pertanian, Bogor.
Djuned, H., Mansyur, dan H. B. Wijayanti. 2005. Pengaruh Umur Pemotongan terhadap Kandungan Fraksi Serat Hijauan Murbei (Morus indica L. var. Kanva-2). Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. 859-864.
Guntur, P. O., H. Guchi., Razali .2015.Pemetaan Status C-Organik Tanah Sawah Di Desa Sei Bamban, Kecamatan Sei Bamban Kabupaten Serdang Bedagai. Jurnal Agroekoteknologi . 4(1): 1830-1837.
Hairiah, K. 2000. Pengolahan Tanah Masam Secara Biologi.
SMT grafika Desa Putra press. Jakarta.
Hamdi, S. 2014. Mengenal Lama Penyinaran Matahari Sebagai Salah Satu Parameter Klimatologi. Berita Dirgantara. 15( 1):7-16
Hanafi, D. N., Yuniar dan Hanum. 2013. Produktivitas Pastura Campuran pada Tingkat Naungan dan Interval Pemotongan yang Berbeda. Seminar Nasional Teknologi Peternakan Dan Veteriner. 432-440.
49
Indarto., B. Susanto dan A. N. Fakrudin. 2012. Analisis Spasial Bulan Basah dan Kering di Jawa Timur.
AGRITECH. 32(4): 432-445.
Jamaran, N. 2006. Produksi dan Kandungan Gizi Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) dan Rumput Raja (Pennisetum purpupoides) yang ditumpangsarikan dengan Tanaman Jati. Jurnal Peternakan Indonesia.
11(2):151-157.
Juergen, S. M., W. B. Kaunang, F. Dompas dan N. Bawole.
2013. Produksi dan Kualitas Rumput Gajah Dwarf (Pennisetum purpureum cv. Mott) yang Diberi Pupuk Organik Hasil Fermentasi EM4. Jurnal Zootek (“Zootek”Journal). 32(5) : 158–171.
Kartasapoetra, A. G. 1991. Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan. Rineka Cipta. Jakarta.
Kushartono, B., N. Iriana dan Gunawan. 2003. Pengaruh Umur dan Panjang Cacahan Rumput Raja Terhadap Efisiensi Bagian yang Termakan Domba Dewasa. Prosiding Temu Teknis Fungsional Non Peneliti. 32-37.
Kusuma, M. E. 2014. Respon Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) terhadap Pemberian Pupuk Majemuk.
Jurnal Ilmu Hewani Tropika. 3(1):6-11.
Lasamadi, R. D., S. S. Malalang, Rustadi dan S. D. Anis.
2013. Pertumbuhan dan Perkembangan Rumput Gajah Dwarf (Pennisetum purpureum cv. Mott) yang diberi Pupuk Organik Hasil Fermentasi.
Jurnal Zootek. 32(5). 158-171.
50
Lubis, D., D. Nurhayati dan T. Manurung. 1999. Potensi Nutrisi Rumput Gajah dari Sistim Pertanaman Lorong dan Kapasitas Dukunganya Untuk Sapi Perah Laktasi. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. 375-381.
Lugiyo dan Sumaito. 2000. Teknik Budidaya Rumput Gajah Cv Hawaii (Pennisetum purpureum). Balai Penelitian Ternak. 120-125.
Lugiyo. 2006. Pengaruh Umur Pemotongan Terhadap Produksi Hijauan Rumput Sorghum Sp Sebagai Tanaman Pakan Ternak. Temu Teknis Nasional Tenaga Fungsional Pertanian. 57-61.
Lukiwati, D. R., N. Nurhidajat, C. A. H. Wibowo, J. Bambang dan T. Nurdewanto. 2005. Peningkatan Produksi dan Nilai Nutrisi Hijauan Pueraria phaseoloides oleh Pupuk Fosfor dalam Suspensi Fermentasi Acetobacter saccharomyces. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia. 7(2):82-86.
Mansyur, L. Abdullah, H. Djuned, A.R. Tarmidi dan T.
Dhalika. 2007. Konsentrasi Amonia dan Asam Lemak Terbang Rumput Brachiaria humidicola (Rendle) Schweick pada Berbagai Interval Pemotongan (In Vitro). Jurnal Ilmu Ternak.
7(1):64-68.
Mansyur, H. Djuned, T. Dhalika, S. Hardjosoewignyo dan L.
Abdullah. 2005. Pengaruh Interval Pemotongan dan Inveksi Gulma Chromolaena Odorata Terhadap Produksi Dan Kualitas Rumput Brachiaria Humidicola. Media Peternakan Agustus.
51
Mawazin dan H. Suhaendi. 2008. Pengaruh Jarak Tanam terhadap Pertumbuhan Diameter Shorea parvifolia dyer. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. 5(4): 391-388.
Mulyono, D. 2014. Analisis Karakteristik Curah Hujan Di Wilayah Kabupaten Garut Selatan. Jurnal STT-Garut. 13(1): 1-9.
Novianty, N. 2014. Kandungan Bahan Kering Bahan Organik Protein Kasar Ransum Berbahan Jerami Padi Daun Gamal dan Urea Mineral Molases Liquid dengan Perlakuan yang Berbeda. Skripsi. Universitas Hasanuddin Makassar.
Oyo, T., Hidayat, I. Heliati dan M. Solihat. 1997. Teknik Budidaya Rumput Brachiaria decumbens (Rumput Bede). Lokarya Fungsional Non Peneliti. 104-109.
Polakitan, D. dan A. Kairupan. 2011. Pertumbuhan dan Produktivitas Rumput Gajah Dwarf (Penniestum purpureum cv. Mott) pada Umur Potong Berbeda.
Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian.
427-437.
Purbajanti, E., D. Anwar, S. Widyati dan F. Kusmiyati. 2011.
Kandungan Protein dan Serat Kasar Rumput Benggala (Panicum Maximum) dan Rumput Gajah (Pennisetum Purpureum) pada Cekaman Stres Kering. Jurnal Animal Production. 11(2):109-115.
Purwawangsa, H. dan B. W. Putera. 2014. Pemanfaatan Lahan Tidur Untuk Penggemukan Sapi. Risalah
52
Kebijakan Pertanian dan Lingkungan. 1(2). ISSN:
2355-6226.
Reksohadiprojo, S. 1981. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropik. Universitas Gajah Mada.
Yogyakarta.
Rukmana, R. H. 2005. Budi Daya Rumput Unggul, Hijauan Makanan Ternak. Kanisius. Yogyakarta.
Sajimin, B. R., E. Prawiradiputra, Sutedi dan Lugiyo. 2003.
Pengaruh Interval Potong terhadap Produksi Hijauan Beberapa Kultivar Sorgum sp Sebagai Tanaman Pakan. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. 339-345.
Sajimin, N. D., Purwantari, E. Sutedi dan Oyo. 2011.
Pengaruh Interval Potong terhadap Produktivitas dan Kualitas Tanaman Bangun-Bangun (Coleus amboinicus L.) sebagai Komoditas Harapan Ternak. JITV. 16(4):288-293.
Pengaruh Interval Potong terhadap Produktivitas dan Kualitas Tanaman Bangun-Bangun (Coleus amboinicus L.) sebagai Komoditas Harapan Ternak. JITV. 16(4):288-293.