• Tidak ada hasil yang ditemukan

Meningkatkan pertumbuhan ekonomi untuk jangka yang lebih panjang adalah tujuan utama para penyusun kebijakan

Salah satu tujuan penyusun kebijakan adalah meningkatkan jalur lintasan jangka lebih panjang ekonomi mereka untuk meningkatkan standar kehidupan penduduk. Hal ini sangat penting bagi negara-negara seperti Indonesia dengan tingkat pendapatan yang relatif rendah. Untuk meningkatkan potensi pertumbuhan ekonomi, sangatlah penting untuk memahami pendorong utamanya dan bagaimana mereka diharapkan untuk berkembang pada jangka menengah. Proyeksi pertumbuhan ekonomi jangka menengah yang dapat dipercaya akan bermanfaat untuk disertakan ke dalam keputusan investasi dan ramalan perkembangan sektor swasta dan bagi perencanaan pemerintah di bidang-bidang lain, seperti dalam penyusunan neraca fiscal untuk jangka menengah.

Kerangka sisi penawaran berguna untuk

memperkirakan potensi pertumbuhan ekonomi jangka menengah

Cara yang berguna untuk mengkukur potensi output jangka menengah Indonesia adalah melalui penggunaan kerangka sisi penawaran berdasarkan inputnya ke dalam produksi.

Input-input utama termasuk modal fisik, modal tenaga kerja, tanah, energi dan bahan baku. Kerangka sisi penawaran memusatkan pada bagaimana input-input tersebut saling berinteraksi dengan yang lain, dan efisiensi penggunaannya. Kerangka ini dapat membantu penyusun kebijakan dengan menyoroti kebutuhan akan perbaikan terhadap kendala investasi infrastruktur, investasi dalam modal tenaga kerja melalui belanja pendidikan dengan sasaran yang lebih baik, dan reformasi ekonomi mikro atau kebijakan lain yang dapat mendorong pertumbuhan produktivitas yang lebih kuat. Bagian C dari terbitan ini membahas beberapa tantangan reformasi yang dihadapi Indonesia tersebut, seperti akses ke bidang pendanaan, pendidikan, kesehatan dan kebijakan tenaga kerja.

Bahasan ini menekankan pada perkiraan dan proyeksi potensi PDB Indonesia

Sisa bagian ini menetapkan kerangka sisi penawaran untuk memperkirakan dan meramalkan potensi PDB. Bahasan ini menguraikan metodologi untuk memperkirakan dan memproyeksikan potensi pertumbuhan di Indonesia. Bahasan ini mencoba untuk menggambarkan implikasi kebijakan dari hasil perkiraan, dan kemudian menguraikan manfaat dan kerugian dari pendekatan ini. Bahasan ini menemukan bahwa agar Pemerintah dapat mencapai sasaran-sasaran pertumbuhannya seperti tercantum dalam rencana pembangunan jangka menengah (RPJM), maka dibutuhkan laju pertumbuhan investasi yang kuat serta upaya peningkatan produktivitas.

a. Pendorong potensi pertumbuhan ekonomi Potensi laju pertumbuhan

di dalam ekonomi adalah laju tren pertumbuhan dalam kapasitas produktivitas

Potensi laju pertumbuhan ekonomi dapat didefinisikan sebagai laju tren pertumbuhan dalam kapasitas produktif dari ekonomi. Dapat juga dikatakan sebagai laju tren pertumbuhan yang konsisten dengan inflasi yang stabil.Dengan demikian ketika ekonomi bekerja di atas tren pertumbuhan, atau ketika pertumbuhan output melebihi kapasitas produksi, umumnya terdapat tekanan yang bersifat inflasi.

Potensi laju pertumbuhan ekonomi bergantung pada kuantitas dan kualitas input terhadap produksi yang tersedia di dalam ekonomi

Potensi laju pertumbuhan ekonomi bergantung pada kuantitas dan kualitas input-input terhadap produksi yang tersedia di dalam ekonomi, dan tingkat efisiensi penggunaannya.

Input tersebut dapat termasuk modal fisik seperti pabrik dan peralatan, tenaga kerja, bahan dan energi. Makin banyak tersedianya input-input tersebut di dalam ekonomi, dan makin tinggi kualitasnya, makin besar pula potensi output dari ekonomi tersebut. Cara yang sederhana untuk menganalisa potensi output adalah memusatkan pada dua faktor

input utama, yaitu tenaga kerja dan modal (seperti pada model pertumbuhan ekonomi

“Solow” yang terkenal). Hubungan antara kedua input tersebut dan pertumbuhan PDB riil diasumsikan akan diringkas oleh suatu fungsi matematik produksi yang sederhana.

Sementara memang mungkin untuk mendapatkan fungsi produksi untuk setiap sektor di dalam ekonomi, dan lalu menjumlahkan hasil-hasilnya untuk menemukan perkiraan potensi PDB, pendekatan di sini adalah perkiraan atas-ke-bawah (top-down) dengan hanya satu fungsi produksi untuk keseluruhan ekonomi. Fungsi produksi dapat digunakan untuk menguraikan sumber-sumber pertumbuhan dengan menggunakan cara yang dikenal sebagai “akuntansi pertumbuhan”.

Jumlah faktor produktivitas adalah pendorong utama pertumbuhan

Tingkat efisiensi penggunaan input dalam produksi umumnya dikenal sebagai jumlah faktor produktivitas (TFP) dan dapat menjadi pendorong utama potensi pertumbuhan.

Terdapat banyak contoh penggunaan sumber daya yang lebih efisien. Melalui penelitian dan pengembangan (litbang), perusahaan-perusahaan dapat menghasilkan lebih banyak produk atau produk-produk baru dengan menyusun kembali modal dan tenaga kerja yang mereka miliki. Ketika teknologi baru dikirimkan dari luar negeri, misalnya melalui penanaman modal asing, perusahaan-perusahaan local mungkin dapat menyadur dan menggunakan teknologi tersebut untuk meningkatkan efisiensi proses-proses produksi mereka demi mendapatkan hasil yang lebih dari input yang ada.Ketika distorsi dihilangkan dari sektor-sektor ekonomi dengan menghapus peraturan pasar yang tidak efisien atau perubahan dalam pajak-pajak yang tidak efisien, maka sumber-sumber daya dapat bergeser antar sektor sehingga menyebabkan alokasi produksi yang lebih efisien.

Ketika diukur, TFP umumnya menangkap lebih dari peningkatan efisiensi tersebut karena mereka biasanya dihitung sebagai nilai sisa.

b. Menengok kembali ke akuntansi pertumbuhan Jumlah faktor

produktivitas diukur sebagai perbedaan antara pertumbuhan input dan output

Akuntansi pertumbuhan menggunakan suatu asumsi fungsi produksi untuk mengurai pengukuran pertumbuhan output menjadi sumbangan dari pengukuran pertumbuhan input dan komponen sisa yang dianggap mewakili pertumbuhan di dalam jumlah faktor produktivitas. Kerangka ini kemudian dapat digunakan untuk mendapatkan suatu perkiraan bagi potensi output di masa depan. Untuk mendapatkan proyeksi-proyeksi bagi potensi output, dibutuhkan proyeksi bagi faktor input dan jumlah faktor produktivitas.

Organisasi Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dan Kantor Anggaran Kongres di Amerika Serikat menggunakan pendekatan ini bagi perkiraan potensi output mereka.

Biasanya fungsi produksi Cobb-Douglas

diterapkan di dalam perhitungan ekonomi

Untuk menghitung perkiraan potensial output menggunakan kerangka akuntansi pertumbuhan, digunakan suatu fungsi produksi standar (Persamaan 1), dengan , , ,

yang masing-masing mewakili output, jumlah faktor produktivitas, masukan modal, dan masukan tenaga kerja. Satu versi fungsi ini di Persamaan 2, dikenal sebagai fungsi constant returns-to-scale “Cobb-Douglas” sangat umum digunakan di dalam ekonomi karena kesederhanaan penggunaan matematikanya.

(Persamaan 1) (Persamaan 2) Jika logaritma natural diambil dari Persamaan 2 dan diikuti dengan jumlah deferensial,

maka Persamaan 3 menunjukkan persamaan dasar di belakang akuntansi pertumbuhan

%∆ %∆ 1 %∆ %∆ (Persamaan 3)

Dengan %∆ , %∆ , %∆ , %∆ masing-masing sebagai persentase perubahan dalam PDB, jumlah faktor produktivitas, tenaga kerja dan saham modal. 1 adalah bagian tenaga kerja dalam ekonomi dan adalah bagian dari ekonomi yang dikembalikan ke modal. Persamaan ini menyatakan bahwa pertumbuhan PDB adalah bagian pembobotan tenaga kerja dan modal di tambah pertumbuhan jumlah faktor produktivitas. Dengan demikian untuk memproyeksikan PDB dalam jangka menengah dengan menggunakan kerangka ini, ada tiga variabel yang dibutuhkan yaitumodal, tenaga kerja dan jumlah faktor produktivitas.

Sayangnya tidak ada perkiraan resmi untuk data modal

Data keberadaan modal Indonesia sangatlah terbatas, tetapi untungnya beberapa peneliti telah mencoba untuk menghitungnya sendiri karena tidak adanya perkiraan resmi dari BPS. Pembahasan ini menggunakan rangkaian saham modal untuk tahun 1980-2007 yang disusun oleh Van Der Eng (2008) dengan menggunakan pengukuran persediaan perpetual (perpetual inventory measure, PIM). PIM dihitung dengan mengambil pengukuran modal yang ada, lalu menjumlahkan investasi tahunan untuk tiap tahun, sementara menyesuaikan terhadap depresiasi. Rangkaian ini diekstrapolasi ke tahun 2009 dengan menggunakan data pembentukan modal tetap bruto. Data angkatan kerja diambil dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), yang, agar tetap sederhana, tidak disesuaikan untuk kualitas tenaga kerja, misalnya dalam hal tingkat pendidikan.

Data PDB riil diperoleh dari Neraca Nasional triwulanan BPS. Karena tidak ada neraca pendapatan di Indonesia, cukup sulit untuk mendapatkan perkiraan bagian output tenaga kerja dan modal sehingga diasumsikan bagian tenaga kerja sebesar 67 persen, yang konsisten dengan OECD (2008) yang memperkirakan potensi PDB di Indonesia.

Menggunakan data untuk PDB riil, modal dan tenaga kerja, pertumbuhan dalam jumlah faktor produktivitas dapat dihitung sebagai nilai sisa dari Persamaan 3. Artinya bahwa pertumbuhan apapun yang tidak dicatat sebagai pergerakan di dalam bagian pembobotan tenaga kerja dan modal akan dicatat di dalam TFP.

Jumlah faktor produktivitas memiliki rata-rata sekitar 2,2 persen selama tahun 2000an

Jumlah faktor produktivitas tumbuh sekitar 0,8 persen di tahun 2009. Rata-rata pertumbuhan TFP untuk dekade tahun 2000an adalah sekitar 2,3 persen. Selain pada tahun 2009 ketika pertumbuhan TFP mencapai 0,8 persen, tren pertumbuhan selalu naik selama hampir seluruh dekade. Menghaluskan perkiraan TFP, modal dan tenaga kerja dengan saringan Hodrick-Prescott menghilangkan pengaruh siklus bisnis dan memungkinkan perkiraan potensi PDB. Dengan metodologi ini, potensi PDB Indonesia di tahun 2009 meningkat sekitar 5,2 persen, dibanding dengan pertumbuhan sebenarnya sebesar 4,5 persen. Dalam hal sumbangan terhadap jumlah pertumbuhan PDB, konsisten dengan penelitian lain, ditemukan bahwa akumulasi input menyebabkan sebagian besar pertumbuhan Indonesia pada masa 1980an. Untuk keseluruhan tahun 2000an, akumulasi input menyumbang sekitar 55 persen dari keseluruhan pertumbuhan PDB.

Gambar 33: Potensi PDB dibanding pertumbuhan aktuil sejak tahun 1980 (persen pertumbuhan tahunan)

Sumber dan catatan: Perhitungan Bank Dunia dan BPS.

c. Proyeksi Dasar Proyeksi jangka pendek

dari Bagian A dapat digunakan untuk melakukan proyeksi jumlah faktor

produktivitas dan PDB potensial

Kerangka ini dapat digunakan untuk menghasilkan proyeksi-proyeksi bagi potensi PDB pada jangka menengah. Untuk tahun 2010 dan 2011, proyeksi-proyeksi pembentukan modal tetap bruto di Bagian A digunakan untuk menghitung saham modal hingga tahun 2011. Proyeksi ILO bagi populasi usia kerja juga digunakan untuk menghitung pertumbuhan lapangan kerja untuk tahun 2010 dan 2011. Hal ini digabungkan dengan proyeksi PDB riil jangka pendek Bank Dunia sebesar 6,0 persen dan 6,2 persen untuk tahun 2010 dan 2011, untuk menghitung suatu rangkaian jumlah faktor produktif yang berlanjut hingga tahun 2011 (Gambar 34).

-20 -15 -10 -5 0 5 10 15

-20 -15 -10 -5 0 5 10 15

1981 1985 1989 1993 1997 2001 2005 2009

Per cent Per cent

TFP

Real GDP

Potential GDP

Jika investasi dan proyeksi RJPM pemerintah untuk PDB sesuai yang seperti diasumsikan, maka TFP akan menunjukan pertumbuhan yang kuat untuk jangka menengah

Asumsi jangka panjang mengenai modal, angkatan kerja dan jumlah faktor produktivitas harus di susun untuk periode tahun 2012 hingga 2014. Untuk proyeksi dasar, diasumsikan bahwa PDB bertumbuh pada proyeksi Pemerintah seperti yang diasumsikan pada rencana pembangunan jangka menengah atau RPJM. Diasumsikan bahwa investasi tahunan meningkat pada laju yang konsisten dengan RPJM Pemerintah. Pada akhir periode proyeksi, investasi di asumsikan akan meningkat di atas 10 persen. Proyeksi Bank Dunia untuk populasi usia kerja kemudian digunakan untuk menghitung pertumbuhan lapangan kerja hingga tahun 2015. Jumlah faktor produktivitas diasumsikan akan berubah untuk memenuhi proyeksi RPJM Pemerintah.

Gambar 34: Proyeksi potensi pertumbuhan Indonesia (persen pertumbuhan tahunan)

Sumber dan catatan: Perhitungan Bank Dunia dan BPS.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat bergantung pada sasaran investasi RPJM

RPJM memperkirakan pertumbuhan akan meningkat dari sekitar 6,0 persen saat ini menjadi sekitar 7½ persen di tahun 2014 (Gambar 34). RPJM bergantung pada peningkatan investasi yang signfikan di dalam ekonomi Indonesia . Akan tetapi hal itu membutuhkan kelanjutan dan pendalaman dari upaya-upaya reformasi yang dilaksanakan oleh Pemerintah untuk mendorong investasi sektor swasta, baik domestik dan internasional, dan untuk menangani kebutuhan yang signifikan untuk infrastruktur di Indonesia.

Analisa skenario menggambarkan kepekaan proyeksi pertumbuhan terhadap laju pertumbuhan investasi dan TFP yang diasumsikan

Analisa skenario sangat penting untuk memahami variasi yang mungkin disekitar proyeksi pusat. Skenarios dilaksanakan di sekitar proyeksi RPJM pusat, di mana pertumbuhan investasi dan jumlah faktor produktivitas dapat bervariasi. Pada skenario pertumbuhan investasi yang rendah diasumsikan bahwa rata-rata laju pertumbuhan investasi berada dikisaran laju tahun 2000 selama masa proyeksi, sementara pada skenario tinggi diasumsikan bahwa rata-rata pertumbuhan investasi berada dikisaran laju sebelum terjadinya Krisis Keuangan Asia di tahun 1998. Skenario pertumbuhan TFP yang rendah mengasumsikan bahwa TFP bertumbuh rata-rata 1,5 persen selama masa proyeksi, sementara skenario pertumbuhan TFP yang tinggi mengasumsikan bahwa TFP melaju ke sekitar 3 persen selama masa proyeksi (Tabel 11)

Tabel 11: Analisa kepekaan

(laju pertumbuhan rata-rata tahunan selama 2012-14 kecuali dinyatakan lain)

*GDP/cap pada 2014

Sumber dan catatan: Perhitungan Bank Dunia dan BPS.

0 1 2 3 4

0 2 4 6 8

2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 2014

Per cent Per cent

TFP (RHS)*

Real GDP (LHS)

RPJM projections WB

Forecasts

Average 2012‐2014* Low RPJM High Low RPJM High

Investment 8.0 11.0 12.0 11.0 11.0 11.0

TFP 2.2 2.2 2.2 1.5 2.2 3.0

GDP 6.6 7.0 7.3 6.0 7.0 7.4

GDP/cap (USD 2010 prices)* 3470 3530 3570 3410 3530 3570 Investment Varies (TFP as in RPJM)TFP varies (Investment as in RPJM)

Jika TFP diasumsikan akan bertahan di tingkat yang dibutuhkan untuk memenuhi proyeksi dasar RPJM, lalu menurut skenario investasi yang rendah, PDB dapat mencapai rata-rata sekitar 6,6 persen, sementara bila investasi melaju lebih cepat, PDB dapat mencapai rata-rata hingga 7,3 persen selama masa 2012-2014. Jika investasi diasumsikan akan bertahan pada tingkat yang dibutuhkan untuk memenuhi proyeksi RPJM, maka menurut skenario TFP yang rendah PDB dapat mencapai nilai lemah sebesar 6 persen, sementara dengan skenario tinggi PDB dapat tumbuh kuat hingga 7,3 persen.

d. Kelebihan, kelemahan dan tugas selanjutnya Kesederhanaan

pendekatan ini memiliki kelebihan dan kelemahan

Salah satu daya tarik utama penggunaan kerangka ini untuk menyusun proyeksi pertumbuhan adalah karena berdasarkan penggambaran sisi penawaran ekonomi yang sangat sederhana, dengan potensi output adalah penjumlahan laju pertumbuhan dari hanya tiga faktor penawaran, yaitu tenaga kerja, modal dan jumlah faktor produktivitas.

Akan tetapi kesederhanaan ini juga bisa menjadi kelemahan, misalnya bagian tenaga kerja dan faktor diasumsikan akan tetap konstan dalam pendekatan ini, dibanding dihitung secara ekonometris atau diambil dari data input-output. Pendekatan yang lebih canggih dapat digunakan untuk memperkirakan fungsi produksi secara ekonometris tetapi mereka juga memiliki masalah teknis mereka sendiri.

Pendekatan ini

bergantung pada kualitas data bagi faktor input, terutama data modal

Kesulitan lain penggunaan pendekatan ini adalah ketergantungan pada data modal, dan tidak ada perkiraan resmi akan saham modal di Indonesia. Memperkirakan modal dengan metode persediaan perpetual bergantung pada ketepatan angka-angka investasi tetap dan penggunaan asumsi depresiasi yang tepat. Ia juga tidak mengendalikan kualitas dari saham modal. Masalah ini juga dialami di negara-negara yang memiliki data resmi modal. Masalah serupa yang berhubungan dengan data input tenaga kerja dan sulitnya melakukan penyesuaian bagi kualitas modal tenaga kerja.

Pendekatan terpisah untuk memperkirakan potensi output dapat digunakan

Dalam pelaksanaan ini potensi PDB diperkirakan pada tingkat agregat. Kerangka ini dapat diperluas untuk memperkirakan potensi output untuk masing-masing sektor ekonomi. Memperkirakan output sektoral dapat memberikan informasi lanjutan mengenai pendorong pertumbuhan ekonomi yang tidak ditangkap pada tingkat agregat. Sebagai contoh, modal untuk sektor yang berbeda dapat memiliki kualitas dan umur yang berlainan. Hal ini sangatlah penting karena beberapa sektor memiliki penetrasi teknologi informasi yang lebih dalam, sehingga membutuhkan tingkat depresiasi yang berbeda.

Akan tetapi kesulitan data yang disinggung pada tingkat agregat makin diperbesar pada tingkat sektoral dalam hal mendapatkan data saham modal dan tenaga kerja yang dapat digunakan.

e. Implikasi dan kesimpulan Pemerintah harus

melanjutkan komitmen reformasinya agar ekonomi dapat meningkat menuju 7 persen pada pertengahan dekade

Terdapat beberapa hal utama yang dapat diambil dari pelaksanaan ini. Agar Pemerintah dapat mencapai sasaran-sasaran pertumbuhannya seperti tercantum dalam rencana pembangunan jangka menengah (RPJM), dibutuhkan laju pertumbuhan investasi yang sangat kuat, bersama-sama dengan peningkatan produktivitas. Agar dapat tercapai, pemerintah harus meneruskan komitmen reformasinya yang kuat seperti dijelaskan di dalam rencana pembangunan. Reformasi seperti penurunan rintangan masuk bagi usaha baru dengan memangkas waktu dan biaya yang dibutuhkan untuk mendirikan usaha dan juga mendorong lebih banyak investasi asing melalui pembatasan yang lebih sedikit atas kepemilikan asing sangatlah penting. Kebijakan yang memacu penciptaan pekerjaan di sektor formil non pertanian yang umumnya memiliki pertumbuhan produktivitas yang lebih tinggi juga dapat membantu meningkatkan produktivitas ekonomi agregat. Tanpa upaya-upaya reformasi tersebut, pertumbuhan potensi output mungkin tidak memenuhi sasaran pemerintah. Hal ini juga memiliki implikasi bagi inflasi di masa depan. Jika permintaan domestik mempertahankan kuatnya pertumbuhan yang baru berlangsung, maka tekanan inflasi tercipta pada tahun-tahun yang akan datang karena ekonomi diperkirakan akan meningkat lebih besar dari pertumbuhan potensi output baik di tahun 2010 maupun tahun 2011.

Pemerintah menetapkan komitmen yang kuat untuk melaksanakan reformasi tersebut di dalam rencana pembangunan jangka menengahnya (RPJM)

Isi RPJM memberikan perhatian yang besar kepada mobilisasi yang lebih baik akan seluruh jenis input ekonomi dan juga upaya-upaya untuk meningkatkan produktivitas.

Keunggulan pendekatan ini adalah ia mengirimkan sinyal yang kuat kepada lembaga sektor publik dan sektor swasta bahwa pemerintah memberikan prioritas yang tinggi pada penciptaan lingkungan untuk perluasan kegiatan ekonomi yang sehat.

Di sisi input, diakui bahwa input-input ekonomi seperti tanah, tenaga kerja, modal dan kewirausahawan umumnya tidak dimobilisasi secara efektif di Indonesia. RPJM mencatat bahwa berbagai masalah yang berhubungan dengan pengadaan dan penggunaan tanah yang efisien telah merintangi banyak sekali investasi. Penggunaan tenaga kerja juga dipandang rendah. Pada beberapa tahun terakhir sejumlah besar peserta yang baru masuk ke dalam angkatan kerja telah diserap ke kegiatan dengan produktivitas yang rendah di sektor tidak resmi pada usaha-usaha kecil dan mikro. Selain itu, perlu dicatat bahwa akan dibutuhkan sejumlah besar investasi untuk menyokong pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat. Dengan demikian upaya-upaya untuk meningkatkan iklim investasi bagi investor dalam dan luar negari harus diutamakan. Dan peran penting yang dimainkan oleh wirausahawan terutama dalam mendorong pertumbuhan sektor swasta diakui dalam strategi pertumbuhan yang tercantum di dalam RPJM.

f. Rujukan

Congressional Budget Office (CBO) (2001), ‘CBO's Method for Estimating Potential Output: An Update’.

Van Der Eng, P. (2008), ‘The sources of long-term economic growth in Indonesia, 1880-2007’, Australian National University, Working Papers in Economics & Econometrics.

OECD (2008), ‘OECD Economic Surveys – Indonesia Economic Assessment’.

C. INDONESIA 2014 KE DEPAN: SEBUAH PANDANGAN SELEKTIF

1. Meningkatkan Akses terhadap Jasa Keuangan: Analisa dan Ide-Ide bagi Pembuat Kebijakan

Akses terhadap

pendanaan resmi penting dalam peningkatan partisipasi masyarakat di kegiatan ekonomi dan keuangan, dan membantu memangkas kemiskinan dan ketimpangan

Akses terhadap jasa keuangan sangat penting dalam meningkatkan partisipasi masyarkat di dalam kegiatan ekonomi dan keuangan, mengurangi kesenjangan pedapatan, dan mengentaskan kemiskinan di dunia. Akan tetapi, hanya sekitar setengah dari penduduk Indonesia memiliki akses terhadap jasa keuangan yang resmi. Bank-bank umum, yang mendominasi sektor keuangan Indonesia, hanya melayani sebagian kecil dari rumah tangga di Indonesia. Kurang dari setengah penduduk Indonesia menabung di bank-bank, sementara hanya 17 persen dari penduduk Indonesia yang meminjam dari bank-bank.

Meningkatkan akses terhadap jasa keuangan resmi tidak hanya akan membawa manfaat ekonomi dan sosial bagi rumah tangga tetapi juga membawa manfaat bagi Pemerintah dan juga bank-bank umum.

Karena berbagai faktor, ada banyak kebutuhan tidak terpenuhi dari konsumen akan jasa keuangan di Indonesia

Di Indonesia, terdapat banyak bidang kebutuhan yang tidak terpenuhi dimana konsumen menginginkan tetapi tidak dapat meraih jasa keuangan resmi, dikarenakan adanya masalah-masalah seperti tidak tersedianya produk yang tepat maupun lokasi geografis.

Kebijakan-kebijakan yang lalu telah menekankan pada pemeliharaan stabilitas secara keseluruhan sementara mengabaikan ketersediaan, walaupun keduanya sebetulnya dapat dicapai secara bersama-sama. Bagian ini memberikan tinjauan data, analisa dan rekomendasi bagi penyusun kebijakan yang dapat membantu peningkatan ketersediaan terhadap jasa keuangan di Indonesia.

a. Apa itu akses terhadap pendanaan/keterlibatan keuangan dan di mana Indonesia berpijak? produk-produk dan jasa-jasa keuangan seperti tabungan, kredit dan asuransi terhadap seseorang atau perusahaan

Popularitas pendanaan mikro telah melonjak selama beberapa tahun terakhir dan operasi-operasi kredit mikro berkembang pesat di seluruh dunia. Kredit berskala kecil yang diberikan kepada wirausahawan yang berasal dari keluarga miskin telah berhasil membantu mereka menghasilkan pendapatan dan melepaskan diri dari kemiskinan. Tidak seperti yang diketahui secara umum, ketersediaan pendanaan tidak terbatas kepada kredit mikro saja. Pendanaan mikro biasanya terhubung kepada konsep ketersediaan pendanaan dan keterlibatan keuangan yang lebih luas, yang merujuk pada tersedianya produk-produk dan jasa-jasa keuangan kepada seseorang atau perusahaan, seperti tabungan, pinjaman maupun asuransi. Pembangunan aktiva keuangan termasuk di dalamnya, dalam bentuk produk-produk tabungan, dan juga tersedianya produk-produk yang memberikan mitigasi risiko keuangan terhadap hal-hal yang tidak terduga melalui skema asuransi.

Sekitar setengah dari penduduk Indonesia tidak memiliki akses terhadap jasa keuangan yang resmi

Penelitian menunjukkan bahwa sekitar setengah dari penduduk Indonesia tidak memiliki a terhadap jasa keuangan resmi.

Indonesia memiliki tingkat akses keuangan yang lebih rendah dari Negara pembanding di wilayah yang sama seperti Malaysia dan Thailand. Akan tetapi, posisi Indonesia lebih

baik dibanding Bangladesh dan Filipina.

Untuk melihat tingkat akses terhadap keuangan di Indonesia

secara lebih rinci, Bank Dunia telah melakukan penelitian terhadap

Gambar 35: Bagian populasi dengan akses ke jasa keuangan

Gambar 35: Bagian populasi dengan akses ke jasa keuangan