Pedoman Manajemen Malaria 117
1. Penilaian Situasi Nasional, merupakan langkah pertama untuk menentukan kebutuhan dan cara menerapkan intervensi PPM.
2. Menciptakan Sumber Daya Nasional, adalah penting bagi keberadaan focal point dari PPM dan pentingnya komisi pengarah (steering committee) dan tim konsultan untuk mendukung pelayanan yang harus dibentuk di tingkat pusat untuk mengkoordinasikan dan memfasilitasi pelaksanaan PPM ini berjalan dengan baik.
3. Pengembangan pedoman operasional nasional PPM untuk memperjelas peran dan tanggung jawab program pengendalian malaria (pemerintah) dan penyedia layanan kesehatan lainnya. Pengembangan dan pelaksanaannya melalui konsultasi dan advokasi dengan pemangku kebijakan.
Dalam jejaring PPM, Dinas Kesehatan dan Puskesmas berperan dalam :
a.
Menyusun prosedur tetap jejaring layanan pasien malaria, dan memastikan prosedur tetap dijalankan.b.
Memastikan ketersediaan obat.c.
Pembinaan, monitoring dan evaluasi penerapan PPM di fasyankes.d.
Memastikan sistem pencatatan dan pelaporan malaria berjalan.e.
Memastikan pelaporan pemakaian obat sesuai dengan wilayah kerja masing-masingf.
Memastikan pelaksanaan pemantauan pasien.B. Peranan PPM bagi kesehatan masyarakat
1. Meningkatkan kualitas diagnosis, pengobatan dan dukungan pasien. PPM dapat mengurangi kejadian malpraktek karena diagnosis malaria berdasarkan bukti dan mengacu pada standar diagnosis yang ada. Hal ini dapat meningkatkan tingkat kesembuhan pasien dan mengurangi risiko resistensi obat akibat kesalahan diagnosis maupun pemberian obat yang tidak perlu.
2. Meningkatkan penemuan kasus dan mengurangi tertundanya / keterlambatan diagnosa. PPM dapat membantu meningkatkan penemuan kasus malaria dan mengurangi tertundanya diagnosis dengan melibatkan semua penyedia layanan kesehatan dalam penegakan diagnose malaria dan rujukan yang tepat waktu. Tentu saja hal ini juga membantu memotong rantai penularan penyakit di tahap awal. 3. Meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan yang merata bagi masyarakat.
PPM dapat meningkatkan akses atau jangkauan terhadap pengobatan dengan melibatkan penyedia layanan kesehatan yang ada di luar pemerintah.
4. Mengurangi biaya perawatan dan perlindungan bagi masyarakat miskin. PPM dapat mengurangi biaya yang harus dikeluarkan pasien dengan kepastian bahwa obat malaria adalah gratis.
5. Memastikan terkumpulnya data epidemiologi. PPM dapat berkontribusi terhadap surveilans epidemiologi malaria apabila semua penyedia layanan kesehatan yang ada di tengah masyarakat yang melakukan diagnosis dan pemberian pengobatan menggunakan pencatatan dan pelaporan rutin yang ada di sistem informasi program pengendalian malaria.
6. Meningkatkan kapasitas managemen. PPM dapat meningkatkan kapasitas managemen baik di pihak pemerintah maupun di pihak swasta bahkan dapat memperkuat system kesehatan secara umum.
Pedoman Manajemen Malaria 118
C. Pelaksanaan PPM
Ekspansi layanan malaria harus dikembangkan secara selektif dan bertahap agar memperoleh hasil yang efektif, efisien dan bermutu. Sebaiknya ekspansi tersebut dilakukan bersamaan dengan peningkatan mutu program penanggulangan malaria di Kabupaten/Kota dengan terus berusaha meningkatkan atau minimal mempertahankan :
- Cakupan pengobatan dengan ACT lebih dari 80%. - Angka kesalahan laboratorium di bawah 5%.
Secara umum langkah-langkah implementasi PPM dilakukan sebagai berikut:
1) Melakukan penilaian dan analisa situasi untuk mendapatkan gambaran kesiapan fasyankes yang akan dilibatkan dan Dinas Kesehatan setempat.
2) Melakukan advokasi guna mendapatkan komitmen yang kuat dari pihak manajemen fasyankes (seperti pimpinan RS) dan tenaga medis (seperti dokter umum dan spesialis, paramedis, dan seluruh petugas terkait).
3) Menyusunan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) diantara fasyankes, Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota dan mitra terkait.
4) Membentuk tim PPM jika memungkinkan
5) Menyiapkan atau memiliki akses dengan laboratorium untuk pemeriksaan sediaan darah malaria.
6) Menyiapkan tenaga medis, paramedis, laboratorium, rekam medis, petugas administrasi, farmasi (apotek)
7) Sosialisasi PPM menggunakan format pencatatan dan pelaporan sesuai dengan program pengendalian malaria
8) Supervisi, monitoring dan evaluasi pelaksanaan.
D. Pembentukan Jejaring PPM
Secara umum fasyankes seperti RS Pemerintah, RS Swasta dan UPKS (Unit Pelayanan Kesehatan Swasta seperti Dokter Praktek Mandiri/DPM dan klinik) memiliki potensi yang besar dalam penemuan pasien malaria (case finding), namun memiliki keterbatasan dalam pemberian pengobatan pasien dan pemantauan pengobatan sampai selesai (follow up) jika dibandingkan dengan Puskesmas. Kelemahan ini dapat diatasi dengan kolaborasi layanan diantara fasyankes. Untuk itu perlu dikembangkan jejaring diantara fasyankes maupun dengan Dinas Kesehatan. Jejaring ini meliputi jejaring internal dan eksternal.
1) Jejaring Internal adalah jejaring yang dijalankan di dalam fasyankes dengan melibatkan seluruh unit yang menangani pasien malaria. Koordinasi kegiatan dilaksanakan oleh penanggung jawab tim PPM (misal penanggung jawab program surveilans). Tidak semua fasyankes harus memiliki tim PPM, yang mempunyai tugas antara lain merencanakan, melaksanakan, memonitoring serta mengevaluasi kegiatan PPM di fasyankes.
2) Jejaring Eksternal adalah jejaring yang dibangun antara instansi/unit Dinas Kesehatan, RS, puskesmas dan fasyankes lainnya dalam layanan pasien malaria dan dalam program pengendalian malaria.
Tujuan jejaring eksternal : Memastikan semua pasien malaria mendapatkan akses tatalaksana malaria yang bermutu, mulai dari diagnosis, pengobatan, pemantauan sampai akhir pengobatan.
Pedoman Manajemen Malaria 119
Jejaring PPM dapat berfungsi sebagai :
- Jalur rujukan pasien malaria untuk diagnosis, pengobatan maupun pemantauan diantara fasyankes
- Jalur pencatatan dan pelaporan program antara fasyankes dengan Dinas Kesehatan atau Puskesmas
- Supervisi, monitoring dan evaluasi oleh Dinas Kesehatan - Alur distribusi OAM
A. Supervisi dan Monitoring
Supervisi (pengawasan) dan pemantauan penting dilakukan untuk menilai kemajuan dari kegiatan PPM dalam penanganan malaria dan pencapaian tujuan sebagaimana yang telah ditetapkan. Kegiatan ini dikoordinasikan oleh program pengendalian malaria dan dilakukan bekerja sama dengan ikatan dokter atau ikatan profesi lainnya.
Gambar 16.1. Jejaring PPM
Keterangan :
Public Private Mixed (kolaborasi PPM), merupakan pendekatan komprehensif yang melibatkan semua fasilitas
layanan kesehatan (fasyankes) dalam melakukan layanan pasien malaria dan program pengendalian malaria. PPM meliputi semua bentuk kolaborasi PPM, (termasuk kerjasama dengan perusahaan apabila ada), kolaborasi swasta-swasta (seperti program Malaria dengan RS Pemerintah) dan kolaborasi swasta-swasta (seperti Lembaga Swadaya Masyarakat, RS Swasta dengan Dokter Praktek Swasta) bersama dengan organisasi profesi seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Ahli Tenaga Laboratorium Kesehatan Indonesia (Patelki), Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Ikatan Ahli Farmasi Indonesia (IAFI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Pesatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dengan tujuan menjamin akses layanan malaria yang bermutu dan berkesinambungan bagi masyarakat. PPM juga diterapkan pada kolaborasi pemeriksaan laboratorium dan apotik sebagai penyedia obat.
B. Tujuan PPM
Tujuan PPM adalah meningkatkan penemuan kasus dan managemen kasus dengan peningkatan akses, peningkatan pengobatan dan meminimalisir pengeluaran yang tidak perlu oleh pasien. Layanan ini haruslah dapat memperkuat sistem kesehatan dengan mengoptimalkan kontribusi/peran serta semua penyedia layanan kesehatan umum dan swasta, termasuk perusahaan untuk mencapai tujuan kesehatan nasional.
Pedoman Manajemen Malaria 120
C. Tugas PPM
Penegakan diagnosis malaria adalah berdasarkan pemeriksaan SD/ pemeriksaan secara laboratorium. Oleh karena tidak semua penyedia layanan kesehatan memiliki kapasitas pemeriksaan laboratorium maka penyedia layanan (dokter praktek swasta, RS, klinik dan lain-lain) dapat merujuk tersangka ke laboratorium yang ada di penyedia layanan kesehatan lainnya (misalnya Puskesmas, Balai Laboratorium Kesehatan, Laboratorium Kesehatan Daerah, Balai Teknik Kesehatan Lingkungan, Laboratorium Swasta, dan lain-lain) untuk dapat ditegakkan diagnosis pasti pada suspek. Demikian juga halnya dengan pengobatan, akses obat program yang diberikan secara gratis mungkin saja tidak sampai terdistribusi pada penyedia layanan kesehatan yang ada sehingga pemenuhan kebutuhan obat dapat dipenuhi dari penyedia layanan kesehatan lainnya (misal Puskesmas, Apotek, Dinas Kesehatan, Gudang Farmasi, dan lain-lain) tergantung dari kesepakatan awal yang disepakati peran dan tanggung jawab apa yang diambil masing-masing penyedia layanan. Tidak hanya berhenti pada fungsi penegakan diagnosa dan pemberian pengobatan namun termasuk dalam pemantauan hasil pengobatan sampai pasien dinyatakan benar-benar sembuh.
Untuk memandu proses ini sangatlah berguna memetakan penyedia layanan yang berbeda dan menentukan peran masing-masing dengan tetap berpedoman pada kebijakan yang ada di program pengendalian malaria dan bertanggung jawab pada program pengendalian malaria (pemerintah).
D. Alat Praktis Untuk Penerapan PPM
Tools atau alat praktis dalam menerapkan PPM termasuk monitoring dan evaluasi dapat dibuat dalam bentuk sederhana termasuk formulir permintaan pemeriksaan SD / laboratorium, rujukan untuk pengobatan dan umpan balik. Kartu register pasien sesuai yang ada di pedoman surveilans malaria dapat dipakai dan dapat dipertimbangkan apabila memerlukan adaptasi. Hal lain yang tak kalah penting adalah adanya kesepakatan kerjasama atau kontrak kerjasama (Memorandum of Understanding (MOU)) dengan penyedia layanan ataupun surat perjanjian untuk penyedia layanan individu.
Tabel 16.1. Paket pelayanan malaria di PPM
PPM PENEMUAN KASUS PEMERIKSAAN LABORATORIUM PENGOBATAN PENYEDIAAN OBAT PENCATATAN DAN PELAPORAN RSUD/RS SWASTA √ √ √ √ √ PUSKESMAS √ √ √ √ √
KLINIK RAWAT INAP √ √ √ √ √
KLINIK RAWAT JALAN √ √ √
DOKTER PRAKTEK SWASTA √ √ √
LABORATORIUM √ √
APOTEK √ √
BACAAN LEBIH LANJUT :
1. Public Private Mix for Malaria; Malaria Annual Congress for 2013 (March, 21-23, 2013) 2. Piloting a Malaria Public Private Mixed Model in Cambdia (www.path.org)
Pedoman Manajemen Malaria 121
A. Latar Belakang
Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena dapat menyebabkan tingginya angka kesakitan dan kematian serta sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Secara langsung malaria dapat menyebabkan anemia dan menurunkan tingkat produktifitas. Penyakit ini juga menjadi salah satu pembunuh terbesar terutama pada kelompok dengan faktor risiko tinggi misalnya bayi, anak balita dan ibu hamil.
Di Indonesia, angka kematian ibu adalah 359 per 100.000 kelahiran hidup yang sebagian besar disebabkan oleh perdarahan, preeklamsi dan infeksi (SDKI 2012). Sedangkan angka kematian bayi 32 per 1000 kelahiran hidup per tahunnya (SDKI 2012) setiap tahunnya. Sementara setiap tahunnya terdapat 40 kematian balita per 1000 kelahiran hidup dimana 80% dari kematian tersebut terjadi pada anak usia di bawah 1 tahun yang sebagian besar disebabkan oleh penyakit menular. Hal ini menunjukan bahwa ibu hamil, bayi, dan balita merupakan kelompok yang paling rentan terhadap malaria dan memiliki kecenderungan lebih besar untuk menderita malaria berat yang dapat menimbulkan kematian. Di daerah terpencil di mana fasilitas kesehatan sulit dijangkau, pada umumnya cakupan pelayanan pemeriksaan kehamilan dan imunisasi rutin sangat rendah serta angka kejadian penyakit malaria cukup tinggi.
Dalam rangka mempercepat penurunan angka kematian ibu, bayi dan anak serta angka kesakitan dan kematian akibat malaria, sesuai dengan tujuan pembangunan Millenium Development Goal (MDGs) terutama goal ke 4, 5 dan 6, perlu dilaksanakan kegiatan terpadu pengendalian malaria dengan pelayanan kesehatan ibu hamil, balita sakit dan imunisasi. Adapun kegiatan keterpaduan ini dilakukan melalui skrining malaria ibu hamil dan balita sakit serta pemberian kelambu berinsektisida (kelambu anti nyamuk) pada pelayanan kesehatan ibu hamil dan bayi melalui program imunisasi. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil, cakupan imunisasi dan penemuan kasus positif malaria serta mencegah penularan penyakit malaria pada ibu hamil, bayi dan balita.