• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS PUISI BIMA, SAUDARA KEMBAR, TELINGA,

B. Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik

3. Puisi Telinga

TELINGA

karya Sapardi Djoko Damono dalam kumpulan puisi Hujan Bulan Juni “Masuklah ke telingaku,” bujuknya.

Gila: ia digoda masuk ke telinganya sendiri agar bisa mendengar apa pun

secara terperinci – setiap kata, setiap huruf, bahkan letupan dan desis

yang menciptakan suara.

“Masuklah,” bujuknya.

Gila! Hanya agar bisa menafsirkan sebaik-baiknya apa pun yang dibisikkannya kepada diri sendiri

a. Penggantian Arti

Kalimat “masuklah ke telingaku,” merupakan gaya bahasa sinekdoke. Sinekdoke adalah semacam bahasa yang mempergunakan sebagian dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto) (Gorys Keraf, 2000: 142). Sinekdoke “masuklah ke telingaku” menunjukkan pusat tempat untuk mendengar dan menerima suara atau bunyi masuk ke dalam tubuh. “Telinga” digunakan untuk mewakili keseluruhan bentuk atau tubuh manusia.

Kalimat “agar bisa mendengar apa pun” dan “…baiknya apapun yang dibisikkannya” merupakan gaya bahasa sinekdoke. Sinekdoke adalah semacam bahasa figuratif yang mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagaian (totum pro parte) (Gorys Keraf, 2000: 142). Sinekdoke “agar bisa mendengar apa pun” menunjukkan semua atau seluruh hal yang dapat didengar. Pengunaan “apa pun” digunakan untuk mewakili bunyi, suara, yang berupa ucapan maupun perkataan baik dan buruk yang semua dapat diterima.

“Secara terperinci setiap kata, setiap huruf, bahkan letupan dan desis” merupakan bentuk gaya bahasa metafora. Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat, tidak mempergunakan kata: seperti, bak, bagai, bagaikan, dan sebagainya (Gorys Keraf, 2000: 139). Kalimat “setiap kata, setiap huruf” berarti perkataan mengenai rangkaian proses hidup yang terdapat dalam kehidupan manusia di dunia. Kalimat “bahkan letupan dan desis” menyatakan proses yang melibatkan udara dan suara yang keluar atau yang dihasilkan. Udara dan suara merupakan tanda kehidupan.

Kata “Gila:” dan “Gila!” merupakan bentuk gaya bahasa hiperbola. Hiperbola merupakan semacam gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal (Gorys Keraf, 2000: 135). Penggunaan “gila” menunjukkan bahwa di situ terdapat hal yang dirasa sangat kurang masuk di akal sehingga menjadi heran, dan kemudian diulang lagi untuk memperjelas keanehan hal itu atau tidak wajar sehingga menjadi tidak percaya.

b. Penyimpangan Arti Ambiguitas

Ambiguitas merupakan kata-kata, frase atau kalimat dalam puisi yang sering kali mempunyai arti ganda sehingga menimbulkan banyak tafsir atau ambigu (Pradopo, 1993:213). Dengan ambiguitas, puisi memberi kesempatan kepada pembaca untuk memberikan arti sesuai dengan asosiasinya (Rachmat Djoko Pradopo, 1993:215).

Penggunaan “Gila:” dan “Gila!” mempunyai arti: tidak masuk akal, kurang waras, tidak sehat, aneh, tidak biasa, tidak seperti mestinya, tidak wajar. Kalimat “yang menciptakan suara” mempunyai arti: bunyi yang dikeluarkan dari mulut manusia, ucapan, perkataan, bunyi ujaran, pendapat, pernyataan.

Kontradiksi

Kontradiksi, mengandung arti pertentangan yang disebabkan oleh paradoks dan/atau ironi. Dalam puisi terdapat ironi, yaitu salah satu cara menyampaikan maksud dengan secara berlawanan atau berbalikan. Ironi biasanya digunakan untuk mengejek sesuatu yang keterlaluan (Rachmat Djoko Pradopo, 1993:215-216).

“Masuklah ke telingaku,” bujuknya Gila:

Kalimat tersebut menyatakan hal tidak semestinya bahwa orang dibujuk untuk masuk ke dalam telinga, padahal organ tubuh telinga mempunyai lubang yang kecil yang secara nalar tidak mungkin bisa dimasuki badan manusia.

Nonsense

Nonsense, merupakan bentuk kata-kata yang secara linguistik tidak mempunyai arti sebab tidak terdapat dalam kosakata. Nonsense dapat menimbulkan asosiasi-asosiasi tertentu, menimbulkan arti dua segi, suasana aneh, suasana gaib, atau suasana lucu (Rachmat Djoko Pradopo, 1993:219). Pada puisi Telinga tidak terdapat nonsense (kata yang secara linguistik tidak mempunyai arti).

c. Penciptaan Arti

Penciptaan arti (Riffaterre, 1978:2) terjadi bila ruang teks berlaku sebagai prinsip pengorganisasian untuk membuat tanda-tanda keluar dari hal-hal ketatabahasaan yang secara linguistik tidak ada artinya. Hal ini di antaranya yaitu rima (persamaan bunyi akhir), enjambemen (pemutusan kata/frase di ujung baris dan meletakkan sambungannya pada baris berikutnya), tipografi (penyusunan baris dan bait sajak), atau ekuivalensi-ekuivalensi makna di antara persamaan posisi dalam bait (homologues) (Rachmat Djoko Pradopo, 1993:220).

Rima umumnya ditandai dengan abjad, misal: ab-ab; cde-cde; a-a, dan lain-lain. Penandaan selalu dimulai dengan huruf a, dan setiap bunyi berikutnya yang berbeda ditandai dengan urutan abjad: b, c, d, e dan seterusnya (Atmazaki,1993:80).

Puisi Telinga hanya terdiri dari satu bait, yang terdiri dari sebelas baris.

“Masuklah ke telingaku,” bujuknya. a

Gila: a

ia digoda masuk ke telinganya sendiri b

secara terperinci – setiap kata, setiap huruf, d

bahkan letupan dan desis e

yang menciptakan suara. a

“Masuklah,” bujuknya. a

Gila! Hanya agar bisa menafsirkan sebaik- f

baiknya apa pun yang dibisikkannya a

kepada diri sendiri b

Puisi Telinga mempunyai rima dengan pola a-a-b-c-d-e-a-a-f-a-b.

Bait puisi Telinga yang berjumlah satu dengan jumlah baris yang banyak tersebut mempunyai arti bahwa peristiwa yang terkandung puisi itu terdapat pada satu peristiwa dalam jangka waktu yang lama.

Bunyi di samping hiasan dalam puisi, juga mempunyai tugas penting, yaitu untuk memperdalam ucapan, menimbulkan rasa, dan menimbulkan bayangan angan yang jelas, menimbulkan suasana yang khusus, dan sebagainya (Rachmat Djoko Pradopo, 1993:22).

Bunyi t kuat tampak pada baris 5, 6, dan 7. secara terperinci – setiap kata, setiap huruf, bahkan letupan dan desis

yang menciptakan suara.

Variasi bunyi t tersebut menyebabkan berirama dan menyiratkan ketegasan. Bunyi a tampak menonjol pada baris 9, 10, dan 11.

Gila! Hanya agar bisa menafsirkan sebaik-baiknya apa pun yang dibisikkannya kepada diri sendiri

Persamaan bunyi a menyebabkan berirama dan membuat liris.

Persejajaran arti tampak pada baris ‘“Masuklah ke telingaku,” bujuknya’ dengan ‘“Masuklah,” bujuknya’ yang kemudian menimbulkan arti baru, selain bermakna masuk ke dalam tempat untuk mendengar suara juga bermakna tempat yang memang sudah disediakan baginya. Pengulangan kata gila pada baris kedua dan kesembilan, “Gila:” dan “Gila!” mempunyai arti

untuk menunjuk ketidakmungkinan terhadap hal yang akan diketahui berikutnya dan dipertegas ketidakmungkinan tersebut setelah tahu hal yang telah diketahuinya.

Pada baris ketiga dan kedelapan ada persejajaran yang menciptakan makna baru: “agar bisa mendengar apa pun” menjadi bermakna baru karena disejajarkan dengan “hanya agar bisa menafsirkan sebaik-”. Baris tersebut mempunyai arti dapat menerima dan mengamalkan nasehat atau ajaran yang diberikan. Puisi Telinga mempunyai bentuk tipografi yang unik, yaitu seperti irisan telinga. Hal ini untuk merujuk pada organ telinga manusia yang dikaitkan dengan judul serta kandungan puisi.

“Masuklah ke telingaku,” bujuknya. Gila: ia digoda masuk ke telinganya sendiri agar bisa mendengar apa pun

secara terperinci – setiap kata, setiap huruf, bahkan letupan dan desis

yang menciptakan suara.

“Masuklah,” bujuknya.

Gila! Hanya agar bisa menafsirkan sebaik-baiknya apa pun yang dibisikkannya kepada diri sendiri

4. Puisi Dewa Ruci

DEWA RUCI

karya Saini K.M. dalam kumpulan puisi Nyanyian Tanah Air Siapakah engkau, Sang Bima bertanya pada Dewa Ruci - Aku adalah engkau yang telah mendamba

yang pernah dinista, ditipu dan disesatkan

Engkau yang membunuh naga dalam dasar lautmu. Kau bukanlah yang saya cari, ujar Sang Bima - Tapi akulah yang kau temukan

anugerah yang kau tebus dengan duka-deritamu Yang lain tiada, kecuali aku.

Apa gunanya saya mendapatkanmu, tanya Sang Bima - Untuk segala-galanya atau tidak untuk apa-apa

kau dapat menerima atau menolakku

dan hidup selama-lamanya bergulat dengan nagamu. a. Penggantian Arti

Pada bait pertama, kalimat “aku adalah engkau” merupakan gaya bahasa metafora. Metafora merupakan bahasa kiasan seperti perbandingan, hanya tidak mempergunakan kata-kata pembanding, seperti: bagai laksana, seperti, dan sebagainya (Rahmat Djoko Pradopo, 1993:66). Metafora menyatakan sesuatu sebagai hal yang sama atau seharga dengan hal lain, yang sesungguhnya tidak sama (Altenbernd dalam Rahmat Djoko Pradopo, 1993:66). Kalimat “aku adalah engkau” berarti si ‘aku’ seperti halnya si ‘engkau’ yang sama dalam bentuk maupun rupa. Kesamaan tersebut selain bersifat jasmani juga dalam sifat rohani.

Kalimat “Engkau yang membunuh naga dalam dasar lautmu” merupakan gaya bahasa metafora. Naga diibaratkan sebagai cobaan atau kesukaran yang sangat berat. Kalimat ini berarti bahwa tokoh Bima telah berhasil menghadapi cobaan kesukaran berat yang menyelimuti batinnya. Dasar laut sebagai kiasan dasar perasaan yaitu batin

Pada bait kedua, “anugerah yang kau tebus dengan duka-deritamu” merupakan gaya bahasa metafora dan hiperbola. Hiperbola merupakan semacam gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal (Gorys Keraf, 2000: 135). Metafora “anugerah yang kau tebus dengan duka-deritamu” berarti ganjaran atau karunia yang diperoleh atas usaha atau pengorbanan yang telah dilakukan. Hiperbola “anugerah yang kau tebus dengan duka-deritamu” menyatakan

proses yang dilalui untuk mendapat anugerah dilakukan dengan sangat berat, harus ditebus atau diperoleh dengan pengorbanan besar dengan melewati penderitaan dan kesusahan.

Pada bait ketiga, kalimat “dan hidup selama-lamanya bergulat dengan nagamu” merupakan gaya bahasa hiperbola, personifikasi, dan metafora. Personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan (Gorys Keraf, 2000:140). Metafora “dan hidup selama-lamanya bergulat dengan nagamu” berarti bahwa akhirnya kembali hidup dengan kesukaran dan cobaaan yang berat. Personifikasi “dan hidup selama-lamanya bergulat dengan nagamu” menyatakan tindakan bergulat atau bergelut dengan seekor naga, seperti kegiatan bergulat atau bergelut yang dilakukan oleh manusia, seakan-akan naga bisa bergulat atau bergelut seperti halnya manusia. Hiperbola dari “dan hidup selama-lamanya bergulat dengan nagamu” menyatakan perbuatan sangat berat yang harus dilakukan dengan diibaratkan bergulat dengan seekor naga.

b. Penyimpangan Arti Ambiguitas

Ambiguitas merupakan kata-kata, frase atau kalimat dalam puisi yang sering kali mempunyai arti ganda sehingga menimbulkan banyak tafsir atau ambigu (Rachmat Djoko Pradopo, 1993:213). Dengan ambiguitas, puisi memberi kesempatan kepada pembaca untuk memberikan arti sesuai dengan asosiasinya (Rachmat Djoko Pradopo, 1993:215).

Kalimat “Aku adalah engkau yang telah mendamba” mempunyai arti si ‘aku’ adalah si ‘engkau’ yang sangat menginginkan sesuatu, mendambakan sesuatu, merindukan sesuatu, mengharapkan sesuatu. Kalimat “Yang lain tiada, kecuali aku” mempunyai arti tidak ada yang lain kecuali si ‘aku’, yang lain tidak mempunyai kepentingan kecuali si aku, tidak ada yang berkenan lainnya, tidak ada pihak atau makhluk lain, tidak ada yang menyamai, bersifat tunggal.

Kalimat “dan hidup selama-lamanya bergulat dengan nagamu” mempunyai arti hidup selamanya bergumul atau bergelut dengan naga, hidup selamanya dengan kesukaran, hidup dengan penuh rintangan, hidup penuh dengan kesusahan, hidup dengan penuh penderitaan, hidup dengan penuh perjuangan, hidup dengan penuh kesulitan.

Kontradiksi

Kontradiksi, mengandung arti pertentangan yang disebabkan oleh paradoks dan/atau ironi. Dalam puisi terdapat ironi, yaitu salah satu cara menyampaikan maksud dengan secara berlawanan atau berbalikan. Ironi biasanya digunakan untuk mengejek sesuatu yang keterlaluan (Rachmat Djoko Pradopo, 1993:215-216).

Kau bukanlah yang saya cari, ujar Sang Bima - Tapi akulah yang kau temukan

anugerah yang kau tebus dengan duka-deritamu

Pada baris tersebut terjadi peritiwa ketika tokoh Bima menyangkal bahwa bukan si ‘aku’ yang tokoh Bima cari, namun kenyataannya bahwa si ‘aku’ yang tokoh Bima temukan. Dan ternyata, si ‘aku’ merupakan anegerah

bagi tokoh Bima. Hal itu merupakan permulaan yang ironis (bertentangan) bagi tokoh Bima.

Apa gunanya saya mendapatkanmu, tanya Sang Bima - Untuk segala-galanya atau tidak untuk apa-apa

Baris tersebut menyatakan bahwa tokoh Bima menanyakan guna atau manfaat dari tokoh Bima mendapatkan si ‘aku’. Si ‘aku’ menerangkan bahwa kegunaan tersebut adalah untuk segala-galanya atau tidak untuk apa-apa. Jawaban yang keluar tersebut tidak sesuai dengan kenyataan bahwa semestinya ketika orang menanyakan manfaat atau kegunaan maka semestinya dijawab dengan jelas manfaat atau kegunaan baiknya bagi orang yang bertanya. Dengan memperoleh jawaban yang jelas, maka orang mudah menerima atau memahami.

Nonsense

Nonsense, merupakan bentuk kata-kata yang tidak mempunyai arti sebab tidak terdapat dalam kosakata. Nonsense dapat menimbulkan asosiasi-asosiasi tertentu, menimbulkan arti dua segi, suasana aneh, suasana gaib, atau suasana lucu (Rachmat Djoko Pradopo, 1993:219). Pada puisi Telinga tidak terdapat nonsense (kata yang secara linguistik tidak mempunyai arti).

c. Penciptaan Arti

Penciptaan arti (Riffaterre, 1978:2) terjadi bila ruang teks berlaku sebagai prinsip pengorganisasian untuk membuat tanda-tanda keluar dari hal-hal ketatabahasaan yang secara linguistik tidak ada artinya. Hal ini di antaranya yaitu simitri (keseimbangan), rima (persamaan bunyi akhir), enjambemen (pemutusan kata/frase di ujung baris dan meletakkan

sambungannya pada baris berikutnya), tipografi (penyusunan baris dan bait sajak), atau ekuivalensi-ekuivalensi makna di antara persamaan posisi dalam bait (homologues) (Rachmat Djoko Pradopo, 1993:220).

Puisi Dewa Ruci terdiri dari tiga bait. Tiap bait dalam puisi Dewa Ruci mempunyai jumlah baris yang sama yaitu terdiri dari empat baris. Puisi Dewa Ruci mempunyai rima yang tiap baitnya berbeda.

Biasanya rima ditandai dengan abjad, misal: ab-ab; cde-cde; a-a, dan lain-lain. Penandaan selalu dimulai dengan huruf a, dan setiap bunyi berikutnya yang berbeda ditandai dengan urutan abjad: b, c, d, e dan seterusnya (Atmazaki,1993:80). Puisi Dewa Ruci berima dengan pola sebagi berikut.

Siapakah engkau, Sang Bima bertanya pada Dewa Ruci a

- Aku adalah engkau yang telah mendamba b

yang pernah dinista, ditipu dan disesatkan c

Engkau yang membunuh naga dalam dasar lautmu. d

Kau bukanlah yang saya cari, ujar Sang Bima a

- Tapi akulah yang kau temukan c

anugerah yang kau tebus dengan duka-deritamu d

Yang lain tiada, kecuali aku. d

Apa gunanya saya mendapatkanmu, tanya Sang Bima a

- Untuk segala-galanya atau tidak untuk apa-apa a

kau dapat menerima atau menolakku d

dan hidup selama-lamanya bergulat dengan nagamu. d

Bait pertama berima dengan pola ab-cd, bait kedua berima dengan pola ac-dd, dan bait ketiga berima dengan pola aa-dd. Pada bait pertama, terdapat penggunaan kata ganti orang yaitu ‘engkau’ yang menonjol yang memberi arti untuk mempertegas bentuk individu yang ada dalam puisi Dewa Ruci.

Pada bait kedua, juga terdapat penggunaan kata ganti orang yaitu ‘kau’ dan ‘aku’ yang menonjol. Penggunaan tersebut untuk mempertegas

bentuk individu (personal) yang ada dalam puisi Dewa Ruci. Adanya penggunaan kata ‘yang’ yang diulang pada baris ke-1, ke-2, ke-3 memberi kesan berirama dan menjelaskan kata sebelumnya.

Bunyi di samping hiasan dalam puisi, juga mempunyai tugas penting, yaitu untuk memperdalam ucapan, menimbulkan rasa, dan menimbulkan bayangan angan yang jelas, menimbulkan suasana yang khusus, dan sebagainya (Rachmat Djoko Pradopo, 1993:22). Variasi bunyi t dalam baris ketiga “….. dinista, ditipu dan disesatkan”, menciptakan arti memperkeras suasana dan keadaaan yang tidak menyenangkan.

Pada bait ketiga, bunyi a tampak dominan. Bahkan hampir di tiap baris terdapat bunyi a. Terdapat bentuk asonansi bunyi a, yang terdapat pada: Apa gunanya saya … dan segala-galanya… apa-apa.

Apa gunanya saya mendapatkanmu, tanya Sang Bima - Untuk segala-galanya atau tidak untuk apa-apa

kau dapat menerima atau menolakku

dan hidup selama-lamanya bergulat dengan nagamu.

Bunyi a yang dominan dan bentuk asonansi bunyi a memberi kesan berirama dan membuat liris (penuh perasaan). Homologues terdapat pada bait ketiga baris ke-2 dan ke-3.

- Untuk segala-galanya atau tidak untuk apa-apa kau dapat menerima atau menolakku

Dari persejajaran bentuk tersebut menimbulkan persejajaran arti bahwa dengan menerima hal itu dapat digunakan untuk menghadapi segala bentuk permasalahan yang datang sehingga bisa mendapatkan penyelesaian, namun juga bisa untuk tidak mempergunakannya.

Puisi Dewa Ruci tersebut penuh dengan keseimbangan (simitri). Keseimbangan tersebut terdapat pada rima akhirnya, baris-baris dalam baitnya, dan antar bait yang satu dengan bait yang lain. Baris dan bait puisi Dewa Ruci tersusun dalam bentuk yang rapi. Hal ini menyiratkan suasana dialog antara tokoh Bima dan Dewa Ruci yang nyaman dan kondusif.

Puisi Dewa Ruci berbentuk dialog, yaitu dialog Sang Bima dan Dewa Ruci. Puisi Dewa Ruci memiliki tipografi yang dibuat seimbang dan teratur. Pemakaian jumlah baris dan pengaturannya dalam tiap bait seimbang, sehingga secara visual tipografi puisi Dewa Ruci terlihat rata. Hal ini melukiskan bahwa dialog atau percakapan antara tokoh Bima dan Dewa Ruci terbentuk keteraturan dan keselarasan suasana.

Siapakah engkau, Sang Bima bertanya pada Dewa Ruci - Aku adalah engkau yang telah mendamba

yang pernah dinista, ditipu dan disesatkan

Engkau yang membunuh naga dalam dasar lautmu. Kau bukanlah yang saya cari, ujar Sang Bima - Tapi akulah yang kau temukan

anugerah yang kau tebus dengan duka-deritamu Yang lain tiada, kecuali aku.

Apa gunanya saya mendapatkanmu, tanya Sang Bima - Untuk segala-galanya atau tidak untuk apa-apa

kau dapat menerima atau menolakku

B. Pembacaan Heuristik Dan Hermeneutik

Dalam pembahasan ini akan diuraikan tentang pembacaan heuristik dan hermeneutik atau retroaktif keempat puisi yang menghadirkan tokoh Bima. Dalam pembacaan keempat puisi tersebut peneliti menitikberatkan pada analisis tokoh Bima yang terdapat dalam puisi-puisi tersebut.

Untuk dapat memberi makna sajak secara struktural semiotik, dilakukan dengan pembacaan heuristik dan hermeneutik (retroaktif) (Riffaterre, 1978:5—6). Pembacaan heuristik adalah pembacaan berdasarkan struktur kebahasaannya atau secara semiotik adalah berdasarkan konvensi sistem semiotik tingkat pertama. Pembacaan hermenutik adalah pembacaan karya sastra (puisi) berdasarkan konvensi sastranya. Pembacaan hermeneutik adalah pembacaan ulang sesudah pembacaan heuristik dengan memberikan tafsiran berdasarkan konvensi sastranya.

Dalam pembacaan hermeneutik, puisi dibaca berdasarkan konvensi-konvensi sastra menurut sistem semiotik tingkat kedua. Konvensi sastra yang memberikan makna itu di antaranya konvensi ketidaklangsungan ucapan (ekspresi) puisi (Riffaterre, 1978:1). Dikemukakan Riffaterre (1978:2) ketidaklangsungan ekspresi puisi disebabkan oleh penggantian arti (displacing of meaning), penyimpangan arti (distorting of meaning), dan penciptaan arti (creating of meaning).

Dalam pelaksanaannya, pembacaan heuristik dilakukan terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan pembacaan hermeneutik (retroaktif). Di bawah ini adalah pembacaan heuristik dan hermeneutik (retroaktif) puisi Bima, Saudara Kembar, Telinga, dan Dewa Ruci.

1. Puisi Bima

BIMA

karya Subagio Sastrowardoyo dalam kumpulan puisi Keroncong Motinggo Di dalam pengelanaannya

dilihatnya tiada yang kekal pada bahasa yang tinggal mati Hutan jati hilang kumandangnya dan sudut kota habis diperkata juga langit telah hangus terbakar di nyala matahari

Maka diputuskannya

untuk meninggalkan tanah kapur dan tidur dengan naga

(yang tak jadi dibunuhnya) di samudra angan-angan

Di sana ia bisa bertatapan dengan sunyi -- makhluk kecil itu

berhuni di lubuk hati

Matanya cerah seperti punya bocah yang hidup abadi

b. Pembacaan Heuristik

Di dalam pengelanaannya, dilihatnya tiada yang kekal (abadi). (Hal tersebut terjadi) pada bahasa (komunikasi) yang tinggal mati (tidak dipergunakan lagi).

Hutan jati hilang kumandangnya (gaungnya), dan sudut kota (telah) habis diperkata. Langit telah hangus terbakar (hitam banyak asap), (terlihat) di nyala matahari (siang hari).

Maka diputuskannya untuk meninggalkan tanah kapur (tanah cadas), dan (akhirnya) tidur dengan naga (ular besar), (yang tak jadi dibunuhnya) di samudra (lautan) angan-angan (maksud atau pikiran).

Di sana ia bisa bertatapan dengan sunyi (tidak ada bunyi, hening). (Ia bertemu) makhluk kecil (yang) berhuni (mendiami) di lubuk hati (batin, dalam hati).

Matanya (mata Bima) cerah seperti mata seorang bocah, yang hidup abadi (kekal).

c. Pembacaan Hermeneutik

Judul “Bima” sebagai tanda menunjukkan tokoh Bima yang ada dalam cerita pewayangan. Dalam puisi Bima, tokoh Bima dihadirkan secara eksplisit atau tersurat. Kalimat “di dalam pengelanaannya” yang merupakan bentuk gaya bahasa metafora. Kalimat “di dalam pengelanaannya” merupakan bentuk ambiguitas yang mempunyai arti berkelana, pergi ke mana-mana, mengembara, masuk hutan, naik gunung turun gunung. “Di dalam pengelanaannya” juga mempunyai arti pengalaman hidup, cobaan yang datang dan menimpa, kesukaran dan kemudahan, susah, senang bahagia, menderita, dan segala tindakan dan perbuatan baik maupun buruk tokoh Bima dalam menghadapi dan menjalani hidup.

Di dalam kehidupan Bima, dalam pengelanaannya merupakan metafora mengenai rangkaian perjalanan hidup yang telah dilalui Bima. Bima mengembara atau berkelana untuk mencari ilmu yang dapat membawa ke arah kemampuan melebihi kebanyakan orang. Bima melalui tahap ketika manusia berupaya untuk meningkatkan taraf hidupnya. Hal yang dilakukan Bima adalah dengan menuntut ilmu. Dari ilmu yang diperoleh maka selanjutnya dipergunakan ilmu tersebut untuk bekal hidup Bima. Dalam menuntut ilmu, diperlukan usaha atau bentuk laku untuk menjalani prosesnya.

Usaha dalam sehari-hari, di dalam bahasa Jawa disebut ngudi atau ngupaya (mencari) (Purwadi, 2003:159). Di dalam suatu kehidupan, berjalan mengembara atau berkelana dilakukan pada waktu usia menginjak dewasa untuk mencari ilmu dalam arti mencari guru yang dapat membimbing ke arah lebih baik. Rangkaian perjalanan hidup Bima tersebut terjadi semenjak Bima muda hingga dewasa. Ketika beranjak dewasa pada saat itulah Bima menyadari hal-hal yang terjadi padanya. Bima dapat memahami arti suatu hubungan. Bima menyadari bahwa dirinya tidak hidup sendiri, Bima berada dalam lingkungan masyarakat yang saling berhubungan dan berkaitan dengan alam sekitarnya.

Dalam waktu interaksi yang dilakukan oleh Bima, terdapat peristiwa yang menarik diri Bima. Bima melihat, merasakan, dan kemudian menyadari bahwa semua yang ada tidak ada yang kekal atau abadi. Manusia mengalami mati, begitu juga dengan alam sekitar yaitu lingkungan tempat tinggal Bima mengalami perubahan dan tidak kekal. Hal tersebut berlaku pada benda mati

Dokumen terkait