• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJ IAN PUSTAKA

2.1. Penelitian Ter dahulu

Penelitian terdahulu yang pernah dilakukan oleh pihak lain yang dapat dipakai sebagai bahan masukan serta bahan pengkajian yang terkait dengan penelitian ini, yaitu :

1. Fatmawati Mohamad, Dharma Cakrawartana Sutra, Endang Kusnawati,

Agustus 2012, Jurnal Health & Sport, Volume 5, Nomor 3, PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH

DI DUKUH MRICAN SLEMAN YOGYAKARTA. Tujuan Penelitian

Menurunkan perilaku warga membuang sampah sembarangan melalui pemberdayaan masyarakat dalam mengelola sampah, dan mengharapkan warga masyarakat memperoleh pengetahuan, pengalaman dan manfaat ekonomi dari pengolahan sampah. Metode jenis penelitian ini mengkombinasikan metode kuantitatif dan kualitatif, metode kuantitatif menggunakan desain quasi eksperimen dengan pendekatan one group pre-post test. Intervensi yang diberikan adalah diskusi kelompok, studi banding, pembentukan model dan advokasi media. Populasi penelitian adalah warga RT 14, 15 dan 16 RW 06 Pringgodani Dukuh Mrican Kec. Depok Kab. Sleman Yogyakarta, dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian untuk data kuantitatif adalah wawancara terstruktur dengan kuesioner dan instrumen data kualitatif adalah wawancara mendalam dan observasi partisipatif, data dianalisis dengan Stata 9 dan Open code. Pengetahuan

masyarakat mengalami peningkatan yang nyata setelah intervensi yang didukung oleh hasil wawancara mendalam pada warga. Hal ini seiring dengan peningkatan sikap yang signifikan, didukung data kualitatif yang menggunakan diskusi kelompok terarah dengan pendekatan participatoris. Hasil ini memberikan dampak positif pada warga melalui partisipasi sosial, praktek model pengolahan sampah, upaya untuk mengetahui teknik dan mempertahankan pengelolaan sampah yang baik.

2. Aryenti, 2011, Jurnal Permukiman, Vol. 6 No. 1 April 2011 : 40-46 PENINGKATAN PERAN SERTA MASYARAKAT MELALUI GERAKAN MENABUNG PADA BANK SAMPAH DI KELURAHAN BABAKAN SURABAYA, KIARACONDONG BANDUNG. Bank sampah adalah tempat menabung sampah yang telah dipisah-pisah sesuai dengan jenisnya dan masih mempunyai nilai ekonomis. Setiap masyarakat dapat menjadi nasabah bank sampah dengan mendaftarkan diri sebagai nasabah. Manajemen bank sampah hampir sama dengan bank biasa pada umumnya, setiap nasabah yang akan menabung mendapatkan buku tabungan dan dicatat sebagai anggota bank

sampah. Bank sampah bertujuan membantu masyarakat dalam

memasarkan/menjual sampah anorganik. Metode yang digunakan dalam peningkatan peranserta masyarakat dalam pengelolaan sampah 3R melalui gerakan menabung pada bank sampah, adalah menggunakan metode deskriptif analisis, yaitu mengamati dan mempelajari perilaku masyarakat dalam mengelola sampah. Teknis analisis yang digunakan adalah dengan cara kualitatif dan pengamatan langsung di lapangan pada ibu-ibu rumah tangga

masyarakat RW 13 yaitu RT 1, 2, 3 dan 4. Sistem pengambilan sampelnya menggunakan teknik random sampling tiap RT diambil 10 responden yang mewakili. Data sekunder diambil dari literatur-literatur, hasil-hasil penelitian terdahulu dan melalui penelusuran data di internet. Berdirinya bank sampah di RW 13 Kiaracondong Bandung telah mampu merubah perilaku masyarakat dalam mengelola sampah. Melalui kegiatan program 3R dan gerakan menabung sampah telah mereduksi sampah lingkungan di RW 13 ± 40% dari jumlah sampah yang ada. Keberhasilan pengelolaan sampah 3R di RW 13 telah membawa RW 13 menjadi juara 3 kebersihan se Kotamadya Bandung. 3. Rochyani Naditya, Agus Suryono, Mochamad Rozikin, 2013, Jurusan

Adminsitrasi Publik, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya, Malang, Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol. 1, No. 6, Hal. 1086-1095, IMPLEMENTASI PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH (Suatu Studi di Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) dalam Pelaksanaan Program Bank Sampah Malang (BSM) di Kelurahan Sukun Kota Malang). Pengelolaan sampah di Kota Malang merupakan hal yang sangat penting, karena jumlah penduduk yang bertambah akibat berbagai kemajuan di Kota Malang yaitu pendidikan dan perekonomian yang menciptakan gunungan timbulan sampah di TPA Supiturang. Adanya Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 10 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan Sampah telah membentuk kesadaran warga RW 3 Kelurahan Sukun untuk mengelola sampah melalui implementasi bank sampah pada Bank Sampah Malang (BSM). Penelitian ini menggunakan

metode penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan sampah melalui manajemen bank sampah di RW 3 Kelurahan Sukun atau Kampung Terapi telah sesuai dengan amanat pada Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 10 Tahun 2010 dan berdampak pada pengurangan sampah dan peningkatan ekonomi warga RW 3 Kelurahan Sukun.

Penelitian terdahulu yang tertulis ini merupakan penelitian yang dilakukan oleh pihak lain yang dapat dipakai sebagai bahan pengkajian atau perbandingan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Adapun beda penelitian sekarang dengan penelitian terdahulu, penelitian ini difokuskan pada Bagaimana Dampak Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program Bank Sampah di Bank Sampah Bintang Mangrove Kelurahan Gunung Anyar Tambak Kecamatan Gunung Anyar Kota Surabaya. Sedangkan penelitian terdahulu mengenai Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah di Dukuh Mrican, Sleman, Yogyakarta, yang kedua mengenai, Peningkatan Peran Serta Masyarakat Melalui Gerakan Menabung Pada Bank Sampah Di Kelurahan Babakan Surabaya, Kiaracondong Bandung dan yang ketiga mengenai Implementasi Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 10 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan Sampah (Suatu Studi di Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) dalam Pelaksanaan Program Bank Sampah Malang (BSM) di Kelurahan Sukun Kota Malang).

2.2. Landasan Teori

2.2.1. Pemberdayaan

Suharto (2009:57) menjelaskan bahwa secara konseptual, pemberdayaan atau pemberkuasaan (empowerment), berasal dari kata power (kekuasaan atau keberdayaan). Karena ide utama pemberdayaan bersentuhan dengan konsep mengenai kekuasaan. Kekuasaan seringkali dikaitkan dengan kemampuan kita untuk membuat orang lain melakukan apa yang kita inginkan, terlepas dari keinginan dan minat mereka.

Wrihatnolo dan Dwidjowijoto (2007:74) menjelaskan konsep pemberdayaan

masyarakat mencakup pengertian community development (pembangunan

masyarakat) dan community-based development (pembangunan yang bertumpu pada masyarakat), dan tahap selanjutnya muncul istilah community-driven

development yang diterjemahkan sebagai pembangunan yang diarahkan

masyarakat atau diistilahkan pembangunan yang digerakkan masyarakat.

Keberdayaan dalam konteks masyarakat adalah kemampuan individu yang bersenyawa dalam masyarakat dan membangun keberdayaan masyarakat bersangkutan. Masyarakat yang sebagian besar anggotanya sehat fisik dan mental, terdidik dan kuat serta inovatif, tentu memiliki keberdayaan yang tinggi.

Memberdayakan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat Indonesia yang dalam kondisi sekarang tidak mampu melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Dengan kata lain memberdayakan adalah memampukan dan memandirikan masyarakat.

menyatakan bahwa ketidakberdayaan ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti: ketiadaan jaminan ekonomi, ketiadaan pengalaman dalam arena politik, ketiadaan akses terhadap informasi, ketiadaan dukungan finansial, ketiadaan pelatihan-pelatihan , dan adaya ketegangan fisik maupun emosional (Suharto, 1997). Para teoritisi seperti Seeman (1985), Seligman (1972), dan Learner (1986) yang dirangkum Suharto (2009:61) meyakini bahwa ketidakberdayaan yang dialami oleh sekelompok masyarakat merupakan akibat dari proses internalisasi yang dihasilkan dari interaksi mereka dengan masyarakat. Mereka menganggap diri mereka lemah dan tidak berdaya, karena masyarakat memang menganggap demikian. Seeman menyebut keadaan ini dengan istilah alienasi. Sementara Seligmen menyebutnya sebagai ketidakberdayaan yang dipelajari (Learned helpless-ness), dan Learner menamakannya dengan istilah ketidakberdayaan surplus (Surpluss Powerlesness).

Menurut Ife dalam Edi Suharto (2009:59) pemberdayaan memuat dua pengertian kunci yakni kekuasaan dan kelompok lemah. Kekuasaan di sini diartikan bukan hanya menyangkut kekuatan politik dalam arti sempit, melainkan kekusaan atau penguasaan klien atas:

a. Pilihan-pilhan personal dan kesempatan-kesempatan hidup: kemampuan dalam membuat keputusan-keputusan mengenai gaya hidup, tempat tinggal dan pekerjaan.

b. Pendefinisian kebutuhan: kemampuan menentukan kebutuhan selaras dengan aspirasi dan keinginannya.

gagasan dalam suatu forum atau diskusi secara bebas dan tanpa tekanan.

d. Lembaga-lembaga: kemampuan menjangkau, menggunakan dan

mempengaruhi pranata-pranata masyarakat, seperti lembaga kesejahteraan sosial, pendidikan, kesehatan.

e. Sumber-Sumber: kemampuan memobilisasi sumber-sumber formal,

informal kemasyarakatan.

f. Aktivitas ekonomi: kemampuan memanfaatkan dan mengelola mekanisme produksi, distribusi serta pertukaran barang serta jasa.

g. Reproduksi: kemampuan dalam kaitannya dengan proses kelahiran, perawatan anak, pendidikan dan sosialisasi.

2.2.1.1.Tujuan Pemberdayaan

Menurut Suharto (2009; 60), Tujuan utama pemberdayaan adalah memperkuat kekuasaan masyarakat, khususnya kelompok lemah yang memiliki ketidakberdayaan, baik karena kondisi internal (misalnya persepsi mereka sendiri), maupun karena kondisi eksternal (misalnya ditindas oleh struktur sosial yang tidak adil). Guna melengkapi pemahaman mengenai pemberdayaan perlu diketahui konsep mengenai kelompok lemah dan ketidakberdayaan yang dialaminya. Beberapa kelompok yang dapat dikategorikan sebagai kelompok lemah atau tidak berdaya meliputi:

1. Kelompok lemah secara struktural, baik lemah secara kelas, gender maupun etnis.

2. Kelompok lemah khusus, seperti manula, anak-anak dan remaja,

3. Kelompok lemah secara personal, yakni mereka yang mengalami masalah pribadi atau keluarga.

Kelompok-kelompok tertentu yang mengalami diskriminasi dalam suatu masyarakat, seperti masyarakat ekonomi rendah, kelompok minoritas etnis, wanita, populasi lanjut usia, serta para penyandang cacat, adalah orang-orang yang mengalami ketidakberdayaan. Keadaan dan perilaku mereka berbeda dari ‘keumuman’ kerapkali dipandang sebagai penyimpang. Mereka seringkali kurang dihargai dan bahkan dicap sebagai orang yang malas, lemah, yang disebabkan oleh dirinya sendiri. Padahal ketidakberdayaan mereka seringkali merupakan akibat dari adanya kekurangadilan dan diskriminasi dalam aspek-aspek kehidupan tertentu.

Menurut Ife (1995) dalam Edi Suharto (2009:58) berpendapat bahwa tujuan pemberdayaan adalah untuk meningkatkan kekuasaan orang-orang yang lemah atau tidak beruntung.

2.2.1.2. Dimensi Ukuran dan Indikator Pember dayaan

Menurut Wrihatnolo dan Dwidjowijoto (2007:147) menjelaskan bahwa pemberdayaan masyarakat harus dilihat baik dari dengan pendekatan komprehensif maupun incremental. Pada pengertian pertama, dalam upaya ini diperlukan perencanaaan berjangka, serta pengerahan sumber daya yang tersedia dan pengembangan potensi yang ada secara nasional, yang mencakup seluruh masyarakat. Dalam upaya ini perlu dilibatkan seluruh lapisan masyarakat, baik pemerintah maupun dunia usaha dan lembaga sosial dan kemasyarakatan, serta tokoh-tokoh dan individu-individu yang mempunyai kemampuan untuk

membantu. Dengan demikian, programnya harus bersifat nasional, dengan curahan sumber daya yang cukup besar untuk menghasilkan dampak yang berarti.

Pada pengertian kedua, perubahan yang diharapkan tidak selalu harus terjadi secara cepat dan bersamaan dalam waktu yang sama. Pemberdayaan masyarakat dengan sendirinya terpusat pada sektor ekonomi karena sasaran utamanya adalah memandirikan masyarakat. Pembangunan manusia berkualitas bukan hanya menyangkut aspek ekonominya, tetapi juga disisi lain, seperti pendidikan dan kesehatan. Dalam bidang ini,ukurannya telah banyak dikembangkan antara lain persentase penduduk yang buta huruf, angka partisipasi sekolah untuk SD, SLTP, SLTA dan perguruan tinggi,angka kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup, persentase penduduk yang kurang gizi, dan rata-rata umur harapan hidup. Selain itu, Bappenas bersama BPS juga

sedang mengembangkan angka indeks kesejahteraan rakyat yang

menggabungkan indicator ekonomi, kesehatan dan pendidikan dalam suatu angka indeks. Dalam dunia internasional, indeks seperti ini telah dikembangkan oleh UNDP yang dikenal dengan nama Human Development Index (HDI). Menurut Kiefer (1981) dalam Edi Suharto (2009:63) pengertian pemberdayaan mencakup tiga dimensi yang meliputi kompetensi kerakyatan, kemampuan sosial politik, dan kompetensi partisipatif. Parsons et.al (1994) seperti yang dikutip oleh Edi Suharto (2009:63) juga mengajukan tiga dimensi pemberdayaan yang merujuk pada :

kemudian berkembang menjadi sebuah perubahan sosial yang lebih besar. b. Sebuah keadaan psikologis yang ditandai rasa percaya diri, berguna dan

mampu mengendalikan diri dan orang lain.

c. Pembebasan yang dihasilkan dari sebuah gerakan sosial, yang dimulai dari pendidikan dan politisasi orang-orang lemah dan kemudian melibatkan upaya-upaya kolektif dari orang-orang lemah tersebut untuk memperoleh kekuasaan dan mengubah struktur-struktur yang masih menekan.

Untuk mengetahui fokus dan tujuan pemberdayaan secara operasional, maka perlu diketahui berbagai indikator keberdayaan yang dapat menunjukkan seseorang itu berdaya atau tidak. Sehingga ketika sebuah program pemberdayaan sosial diberikan, segenap upaya dapat dikonsentrasikan pada aspek-aspek apa saja dari sasaran perubahan yang perlu dioptimalkan. Schuler, Hashemi dan Riley dalam Suharto mengembangkan delapan indikator pemberdayaan yang mereka sebut sebagai empowerment index atau indeks pemberdayaan. Keberhasilan pemberdayaan masyarakat dapat dilihat dari keberdayaan mereka yang menyangkut kemampuan ekonomi, kemampuan mengakses manfaat kesejahteraan, dan kemampuan kultural politis. Ketiga aspek tersebut dikaitkan dengan empat dimensi kekuasaan, yaitu : ‘kekuasaan di dalam’ (power within), ‘kekuasaan diluar’ (power to), ‘kekuasaan atas’ (power over), dan ‘kekuasaan dengan’ (power with). Menurut Schuler, Hashemi dan Riley dalam Suharto (2009:64) indikator pemberdayaan :

1. Kebebasan mobilitas : kemampuan individu untuk pergi keluar rumah atau wilayah tempat tinggalnya, seperti pasar, fasilitas medis, rumah ibadah, ke

rumah tetangga. Tingkat mobilitas ini dianggap tinggi jika individu mampu pergi sendirian.

2. Kemampuan membeli komoditas kecil : kemampuan individu untuk

membeli barang-barang kebutuhan keluarga sehari-hari dan kebutuhan dirinya. Individu dianggap mampu melakukan kegiatan ini terutama jika dapat membuat keputusan sendiri tanpa meminta ijin pasangannya, terlebih jika dapat membeli barang-barang tersebut dengan menggunakan uangnya sendiri.

3. Kemampuan membeli komoditas besar : kemampuan untuk membeli

barang-barang sekunder atau tersier. Seperti halnya diatas, poin tinggi diberikan jika dapat membuat keputusan sendiri tanpa meminta ijin pasangannya, terlebih jika dapat membeli barang-barang tersebut dengan menggunakan uangnya sendiri.

4. Terlibat dalam pembuatan keputusan-keputusan rumah tangga: mampu membuat keputusan secara sendiri maupun bersama suami/istri mengenai keputusan-keputusan keluarga.

5. Kebebasan relatif dari dominasi keluarga : responden ditanya mengenai apakah dalam satu tahun terakhir ada seseorang (suami, istri, anak-anak, mertua) yang mengambil uang, tanah, perhiasan dari dia tanpa ijinnya; yang melarang mempunyai anak; atau melarang bekerja diluar rumah.

6. Kesadaran hukum dan politik : mengetahui nama presiden, mengetahui salah seorang pegawai pemerintah desa/kelurahan, mengetahui pentingnya memiliki surat nikah dan hukum-hukum waris.

7. Keterlibatan dalam kampanye dan protes-protes : seseorang dianggap ‘berdaya’ jika pernah terlibat dalam kampanye atau bersama orang lain melakukan protes, misalnya, penyalahgunaan bantuan sosial atau penyalahgunaan kekuasaan polisi dan pegawai pemerintahan.

8. Jaminan ekonomi dan kontribusi terhadap keluarga : memiliki rumah, tanah, tabungan. Seseorang dianggap memiliki poin tinggi jika memiliki aspek-aspek secara sendiri/terpisah dari pasangannya

2.2.1.3. Strategi Pemberdayaan

Parsons et.al. (1994) dalam Suharto (2009:66) menyatakan bahwa proses pemberdayaan umumnya dilakukan secara kolektif. Menurutnya, tidak ada literature yang menyatakan bahwa proses pemberdayaan terjadi dalam relasi satu lawan satu antara pekerja sosial dan klien dalam pertolongan perseorangan. Meskipun pemberdayaan seperti ini dapat meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan diri klien, hal ini bukanlah strategi utama pemberdayaan. Namun demikian, tidak semua intervensi pekerjaan sosial dapat dilakukan melalui kolektivitas, dalam arti mengkaitkan klien dengan sumber atau sistem lain diluar dirinya. Dalam konteks pekerjaan sosial, pemberdayaan dapat dilakukan melalui tiga aras atau matra pemberdayaan (empowerment setting) : mikro, mezzo dan makro.

1. Aras Mikro : pemberdayaan dilakukan terhadap klien secara individu melalui bimbingan konseling, stress management (manajemen stress), crisis intervention (krisis intervensi). Tujuan utamanya adalah membimbing atau melatih klien dalam menjalankan tugas-tugas kehidupanya. Model ini sering

disebut sebagai Pendekatan yang Berpusat pada Tugas (task centered approach).

2. Aras Mezzo : pemberdayaan dilakukan terhadap kelompok masyarakat, pemberdayaan dilakukan dengan menggunakan pendekatan kelompok sebagai media intervensi. Pendidikan, pelatihan, dinamika kelompok biasanya digunakan sebagai strategi dalam meningkatkan kesadaran, pengetahuan, keterampilan serta sikap-sikap kelompok agar memiliki kemampuan memecahkan permasalahan yang dihadapi.

3. Aras Makro : pendekatan ini sering disebut dengan strategi sistem pasar (large-system strategy), karena sasaran perubahan diarahkan pada sistem lingkungan yang luas. Perumusan kebijakan, perencanaan sosial, kampanye, aksi sosial, pengorganisasian dan pengembangan masyarakat adalah beberapa strategi dalam pendekatan ini. Strategi Sistem Besar memandang klien sebagai orang yang memiliki kompetensi untuk memahami situasi-situasi mereka sendiri, dan untuk memilih serta menentukan strategi yang tepat untuk bertindak.

Menurut Kartasasmita dalam Mashoed (2004:46), upaya-upaya dalam pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan melalui tiga tahap, antara lain : 1. Menciptakan suasana atau iklim tolaknya yang memungkinkan masyarakat

untuk berkembang. Disini titik tolaknya bahwa setiap manusia, setiap masyarakat memiliki potensi yang dapat dikembangkan, artinya tidak ada masyarakat yang sama sekali tanpa daya.

2. Memperkuat potensi daya yang dimiliki oleh masyarakat (Empowering). Dalam rangka ini perlu langkah-langkah yang lebih positif, Selain menciptakan iklim dan suasana. Penguatan ini merupakan / meliputi langkah-langkah nyata dan menyangkut penyediaan berbagai masukan, serta pembukaan akses kedalam berbagai peluang yang akan membuat masyarakat menjadi makin berdaya. Dalam rangka pemberdayaan ini upaya yang amat pokok adalah peningkatan taraf pendidikan, derajat kesehatan, serta akses kedalam sumber-sumber kemajuan ekonomi seperti modal, teknologi, informasi, lapangan kerja, dan pasar.

3. Pemberdayaan mengandung pula arti melindungi (Protecting). Dalam proses pemberdayaan harus dicegah yang lemah menjadi bertambah lemah karena kekurangberdayaan dalam menghadapi yang kuat. Oleh karena itu, perlindungan dan pemihakkan kepada yang lemah sangat mendasar sifatnya dalam konsep pemberdayaan masyarakat. Melindungi bukan berarti mengisolasi atau menutupi dari interaksi, karena hal ini justru akan menglunglaikan yang lemah. Melindungi harus dilihat dari sebagai upaya untuk mencegah terjadinya persaingan yang tidak seimbang, serta eksploitasi yang kuat atas yang lemah. Pendekatan utama dalam konsep pemberdayaan adalah masyarakat tidak dijadikan objek berbagai proyek pembangunan, tetapi merupakan subyek upaya pembangunan sendiri.

Upaya utama dalam pemberdayaan menurut Wrihatnolo dan Dwidjojoto (2007 : 205), ada tiga macam upaya, yaitu :

1. Upaya pemberian kesempatan

Pemberdayaan adalah upaya memberikan kesempatan kepada kelompok masyarakat berkemampuan lemah yang dilakukan secara sengaja dan terukur. Upaya yang dilakukan secara sengaja dan terukur artinya terdapat strategi, mekanisme, dan tahapan yang disusun secara sistematis untuk memberdayakan kelompok masyarakat berkemampuan lemah dalam jangka waktu tertentu (World Bank, 2000, dan UNDP, 2003). Upaya ini harus disediakan dan dipersiapkan secara terencana oleh para pengambil keputusan baik dikalangan pemerintaan maupun di kelompok swadaya

masyarakat (Sumodiningrat, 1999). Yang dimaksud kelompok

berkemampuan lemah dapat dikategorikan dengan berbagai pendekatan.

Dari sisi pendekatan ekonomin Badan Pusat Statistik (BPS)

mengkategorikan masyarakat berkemampuan lemah yaitu dengan

penghasilan dibawah garis kemiskinan (BPS,2002).

2. Upaya pemihakan

Pemberdayaan adalah memberikan pemihakan yang berjalan terpadu upaya pemberian kesempatan. Upaya pemihakan utamanya dilakukan dengan cara-cara menciptakan iklim yang kondusif untuk melakukan kegiata social-ekonomi (enabling) dan mencegah penindasan yang kuat terhadap yang lemah dengan mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan mengakses asset produktif dan sediaan produktif yang ada

3. Upaya perlindungan

Pemberdayaan adalah melindungi yang lemah. Melindungi yag lemah diperlukan akibat penguasaan asset yang produktif yang tidak seimbang antara kekuatan ekonomi besar dan sekelompok warga Negara yang tidak menguasai atau mempunyai sekalipun aset produktif.

2.2.1.4. Pendekatan Pemberdayaan

Menurut Suharto (2009 : 67), pelaksanaan proses dan pencapaian tujuan pemberdayaan dicapai melalui penerapan pendekatan pemberdayaan yang dapat disingkat menjaadi 5P, yaitu: Pemungkinan, Penguatan, Perlindungan, Penyokongan dan Pemelliharaan.

1. Pemungkinan : Menciptakan suasana atau iklim yang memugkinkan potensi masyarakat berkembang secara optimal. Pemberdayaan harus mampu membebaskan masyarakat dari sekat-sekat kultural dan struktural yang menghambat.

2. Penguatan : memperkuat pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki masyarakat dalam memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Pemberdayaan harus mampu menumbuh-kembangkan segenap kemampuan dan kepercayaan dari masyarakat yang menunjang kemandirian mereka.

3. Perlindungan : melindungi masyarakat terutama kelompok-kelompok lemah agar tidak tertindas oleh kelompok kuat, menghindari terjadinya persaingan yang tidak seimbang apalagi tidak sehat antara yang kuat dan lemah, dan mencegah terjadinya eksploitasi kelompok kuat terhadap kelompok lemah.

Pemberdayaan diarahkan pada penghapusan segala jenis diskriminasi dan dominasi yang tidak menguntungkan rakyat kecil.

4. Penyokongan : memberikan bimbingan dan dukungan agar masyarakat mampu menjalankan peranan dan tugas-tugas kehidupannya. Pemberdayaan harus mampu menyokong masyarakat agar tidak terjatuh kedalam keadaan dan posisi yang semakin lemah dan terpinggirkan.

5. Pemeliharaan : memelihara kondisi yang kondusif agar tetap terjadi keseimbangan distribusi kekuasaan antara bebrbagai kelompok dalam masyarakat. Pemberdayaan harus mampu menjamin keselarasan dan keseimbangan yang memungkinkan setiap orang memperoleh kesempatan berusaha.

2.2.1.5. Tahap-Tahap Pemberdayaan

Menurut Wrihatnolo dan Dwidjojoto (2007 : 2) pemberdayaan adalah sebuah “proses menjadi”, bukan sebuah “proses instan”. Sebagai sebuah proses pemberdayaan mempunyai tiga tahapan, yaitu:

a. Tahapan Penyadaran

Pada tahap ini target yang hendak diberdayakan diberi pencerahan dalam pemberian penyadaran bahwa mereka mempunyai hak untuk mempunyai sesuatu. Program-program yang dapat dilakukan pada tahap ini misalnya pemberian pengetahuan secara kognitif, belief dan healing. Prinsip dasarnya adalah membuat target mengerti bahwa mereka perlu (membangun “demand”) diberdayakan, dan proses pemberdayaan itu dimulai dari dalam diri mereka (tidak dari orang luar)

b. Tahap Pengkapasitasan

Artinya adalah memberikan kapasitas kepada individu dan kelompok manusia untuk dilakukan dalam bentuk restrukturisasi organisasi yang hendak menerima gaya atau kapasitas tersebut.

c. Tahap Pemberian Daya

Target diberikan daya, kekuatan, otoritas, dan peluang sesuai dengan kecakapan yang telah dimiliki.

2.2.1.6. Pemberdayaan sebagai Pr oses dan Hasil Intervensi

Menurut Adi Fahrudin (2012: 48) menyatakan bahwa stilah pemberdayaan merupakan terjemahan dari istilah bahasa inggris yaitu empowerment. Secara harfiah, empowerment berarti pemberian kekuasaan atau pemberian kekuatan. Ife dalam Adi Fahrudin (2012: 48) mengatakan empowerment aims to increase the power of disvantaged (pemberdayaan bertujuan memberikan kekuatan atau kekuasaan kepada orang-orang yang tidak beruntung). Swift dan Levin dalam Adi Fahrudin (2012: 48) cenderung mengartikan empowerment sebagai

Dokumen terkait