Hukum daN PemeriNTaHaN
3. Putusan Hakim ( Vonis )
Meskipun sistem hukum indonesia tidak mewarisi sistem
“common law” yang mengutamakan hukum buatan hakim (“judge made law”), tetapi putusan hakim yang baik dan telah memiliki kekuatan hukum yang tetap tetap dianggap sebagai salah satu sumber hukum yang penting dan dapat dijadikan referensi yang oleh di kemudian hari. karena itu, peranan putusan hakim atau
vonis sangatlah penting dalam perkembangan hukum. Bahkan, selain vonis, hakim juga dapat mengeluarkan penetapan yang juga bernilai hukum. Jika regels adalah produk legislatif dan regulatif,
beschikking merupakan produk kekuasaan eksekutif, maka vonis
dan penetapan hakim juga dapat dianggap sebagai produk hukum yaitu produk putusan kekuasaan judikatif (judisial).
Semua putusan-putusan hakim itu mulai dari tingkat ter-tinggi, yaitu hakim kasasi sampai ke tingkat terendah, yaitu hakim pengadilan negari, pengadilan agama, dan pengadilan tata usaha negara sudah seharusnya tercatat dan terdokumentasi dengan baik, serta dapat diakses oleh siapa saja yang berkepentingan atau yang memerlukannya. Berapa banyak jumlah putusan hakim di seluruh indonesia sejak awal kemerdekaan sampai sekarang, tidak ada yang tahu. Bahkan dokumentasi putusan-putusan tingkat kasasi di Mah-kamah Agung sekalipun kadang-kadang sulit untuk mendapatkan fotokopinya. oleh karena itulah gagasan untuk mengembangkan
electronic government di bidang hukum mutlak perlu dipriori-taskan jika kita sungguh-sungguh berkeinginan untuk mewujud-kan cita-cita negara hukum yang demokratis (democratische rechtsstaat) ataupun prinsip-prinsip negara demokrasi yang berdasar atas hukum (constitutional democracy).
geJala HiPer regulasi daN kebuTuHaN akaN ‘E-LAW’
Salah satu tantangan terbesar hukum di masa depan adalah potensi berkembangnya gejala over regulasi atau hyper-regulated society. Umat manusia, dan juga masyarakat kita, makin lama makin banyak diatur oleh norma-norma yang sengaja dibuat untuk kepentingan bersama. gejala ini tidak saja terjadi di lingkungan negara-negara dengan sistem “civil law”, tetapi juga negara yang menggunakan sistem “common law” seperti inggris, Amerika Serikat dan sebagainya. Jumlah peraturan yang dibuat ataupun jumlah putusan hakim yang telah memperoleh kekuatan mengikat makin lama makin banyak jumlahnya dari waktu ke waktu. Jika semua itu dicatat dan didokumentasikan secara biasa, niscaya tidak mudah untuk ditelusuri oleh siapa saja yang membutuhkan-nya. Apalagi dalam lingkungan negara-negara yang tidak memiliki
sistem administrasi hukum yang baik, tentu semua jenis peraturan dan putusan-putusan hukum sebagaimana digambarkan di atas tidak tercatat dengan baik.
kecenderungan serupa itu juga terjadi di indonesia, yang sejak kemerdekaan tahun 1945 sampai sekarang belum memiliki sistem administrasi hukum yang dapat dikatakan baik. Baik pu-tusan hukum berupa peraturan perundang-undangan, pupu-tusan hukum sebagai produk eksekutif, maupun putusan para hakim di negara kita tidak atau belum tercatat secara lengkap. idealnya, semua jenis peraturan mulai yang paling tinggi, yaitu Undang-Undang Dasar, ketetapan MPr, sampai ke peraturan yang paling rendah, yaitu Peraturan Desa. Demikian pula putusan-putusan administrasi pemerintahan, mulai dari keputusan Presiden sampai keputusan Bupati dan Walikota serta keputusan kepala Desa sudah seharusnya terdokumentasi dengan baik. Begitu juga putusan-putusan hakim, baik berupa vonis maupun penetapan serta fatwa hakim, mulai dari tingkat Mahkamah Agung sampai ke tingkat Pengadilan Negeri, Pengadilan Agama dan Pengadilan Tata Usaha Negara di seluruh tanah air, haruslah tercatat dengan baik, sehingga dapat dijadikan referensi di kemudian hari. Akan tetapi, selama ini, catatan mengenai hal itu diakui sangat minim. Apalagi putusan hakim pengadilan negeri, putusan para Bupati dan Walikota di seluruh indonesia tidak terdokumentasi dengan baik, dan belum ada juga usaha untuk mengkompilasikannya secara menyeluruh di tingkat nasional. Memang sudah ada lem-baran Negara dan Berita Negara yang diterbitkan oleh Sekretariat Negara. Akan tetapi, cakupan isinya terbatas pada peraturan dan putusan eksekutif tingkat pusat. itupun tidak semua tercakup di dalamnya.
oleh sebab itu, pemanfaatan teknologi informasi sangat dirasakan mendesak untuk mengelola sistem administrasi hukum tersebut. Apalagi, seperti dikemukakan di atas, makin kompleks kehidupan hukum kita, makin berkembang kehidupan masyarakat kita ke arah gejala hyper-regalated society, makin dirasakan pula perlunya promulgation of law, diseminasi dan sosialisasi hukum,
lebih daripada sekedar upaya mengundangkan dan menerbitkan berbagai putusan hukum tersebut dalam bentuk formal. Apalagi, dalam hukum dikenal adanya doktrin teori iksi hukum yang menentukan bahwa setiap orang sudah seharusnya dianggap tahu hukum, sehingga ketidaktahuan orang akan sesuatu aturan tidak boleh dijadikan alasan hukum untuk membebaskan seseorang dari kesalahan dan tanggungjawab hukum. Akibatnya, para administator hukum merasa cukup apabila sesuatu aturan baru telah disahkan dan diundangkan dengan cara menerbitkannya dalam lembaran Negara ataupun Berita Negara secara formal (publication of law), dan tidak merasa terikat akan tanggungjawab yang lebih luas untuk menyebarluaskan dan memasyarakatkan aturan-aturan baru itu lebih lanjut ke tengah-tengah masyarakat (promulgation of law). kecenderungan demikian inilah yang an-tara lain sejak lama dikritik orang pemikir hukum seperti Jeremy Bentham dalam bukunya Of Laws In General. Padahal, untuk mengharapkan peraturan perundang-undangan itu ditegakkan dalam kehidupan nyata, diperlukan sosialisasi yang luas di ka-langan warga masyarakat sebagai subjek hukum.
Semua jenis putusan hukum tersebut di atas sudah seharus-nya dapat dengan mudah diakses oleh masyarakat luas. Semua negara, termasuk di Amerika Serikat, juga tengah berusaha kerasa untuk membuat semua orang dapat dengan mudah mengakses berbagai putusan hakim, peraturan-peraturan perundang-undan-gan, serta putusan-putusan administrasi pemerintahan. Melalui jaringan internet, setiap orang secara gratis dapat mengakses
website Supreme Court, website White House, dan Congress
melalui jaringan Library of Congress. indonesia meskipun sudah ketinggalan, tetap dapat segera mengejar kemajuan di bidang ini. karena itu, perlu dilakukan segera upaya-upaya sistematis, ber-sengaja dan terkoordinasi untuk menata substruktur informasi hukum ini melalui pelembagaan infrasktruktur informasi hukum yang tersendiri. Jika kita tidak cukup menganggap penting memba-ngun infrastruktur informasi hukum seperti yang dilakukan di berbagai negara yang lebih dulu maju, bukan tidak mungkin
pada saatnya nanti, segala informasi berkenaan hukum nasional kita justru dapat dengan mudah diketahui dari jaringan internet yang dikembangkan oleh ‘Library of Congress’ Amerika Serikat tersebut. Begitu juga bisa terjadi, informasi hukum kita lebih luas diketahui dan dikuasai oleh warga masyarakat Singapura daripada orang warga negara indonesia sendiri.
PeNaTaaN iNfraskTrukTur
daN subsTrukTur iNformasi Hukum
Sistem informasi hukum merupakan sub-struktur dari suatu sistem hukum. ia berfungsi sebagai instrumen yang penting dalam upaya membangun suatu sistem hukum nasional. Setiap sistem hukum selalui terbentuk atas tiga pilar utama, yaitu pilar institusi, pilar kultur hukum, dan pilar instumen hukum itu sendiri. Dalam arti sempit instrumen yang dimaksud biasanya adalah instrumen peraturan perundang-undangan tertulis. Tetapi dalam arti yang lebih luas, instrumen hukum itu juga mencakup ketiga pengertian putusan hukum seperti tersebut di atas, yaitu (a) putusan legislatif dan regulatif berupa peraturan perundang-undangan, (b) putusan administratif berupa keputusan-keputusan jajaran pemerintahan, dan (c) putusan judikatif berupa vonis dan penetapan hakim dalam seluruh tingkatannya.
Substruktur informasi hukum yang bersifat instrumental tersebut perlu dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi informasi modern, yaitu ‘IT-based’. Untuk itu, perlu diatur dengan undang-undang, adanya pelembagaan pusat informasi hukum itu. Pemerintah berkewajiban untuk mengambil langkah-langkah yang terarah dan terkoordinasi mengenai hal itu, berhubung banyak pihak yang terkait di dalamnya. Mahkamah Agung (dan Mahka-mah konstitusi), DPr dan MPr (DPD) dan Presiden terkait secara fungsional di dalamnya. karena itu, dalam undang-undang yang akan dibentuk khusus berkenaan dengan sistem hukum nasional atau tentang Peraturan Perundang-Undangan yang sekarang rancangannya telah ada di DPr, perlu diatur dengan tegas adanya infrastruktur pusat informasi hukum itu secara jelas, sehingga
semua pihak terikat dengannya.
Dengan demikian, sistem informasi hukum indonesia di masa depan dapat dibangun sebagaimana mestinya, sehingga dapat menunjang upaya membangun indonesia sungguh-sungguh sebagai sebuah Negara Hukum. Cita-cita Negara Hukum tidak boleh hanya menjadi buah bibir dan retorika, melainkan perlu diwujudkan secara nyata. Sesuai dengan prinsip “the Rule of Law, and not of Man”, hukumlah yang seharusnya sungguh-sungguh menjadi pe-gangan dan menjadi pemimpin yang sejati dalam penyelenggaraan kehidupan kita bermasyarakat dan bernegara. Akan tetapi, jika dunia hukum tidak tertata secara memadai, sulit bagi kita meng-harapkan ide Negara Hukum itu terwujud secara nyata. Dalam masa-masa transisi menuju sistem demokrasi konstitusional yang sejati di masa depan, sekaranglah saatnya bagi kita menata ulang sistem kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan kita. oleh karena itu, marilah kita manfaatkan semaksimal mungkin bantuan jasa teknologi informasi dan komunikasi modern berupa jaringan komputer dan internet untuk membangun infrastruktur informasi hukum nasional indonesia.
Dimanakah sebaiknya pusat informasi hukum tersebut diorganisasikan dalam struktur ketatanegaraan dan ketatape-merintahan indonesia tentu tidak perlu menimbulkan kendala dalam upaya memulai pelaksanaan gagasan penting ini. Apalagi, dimanapun pusat informasi itu berada, semua pihak dapat saling mengakses informasi dari sana dan bahkan dimanapun pusat informasi dikembangkan, jaringan yang dibangun bersifat saling terkait satu sama lain. Yang terpenting ialah adanya koordinasi untuk kepentingan eisiensi. Misalnya, di lingkungan parlemen, tidak perlu ada perbedaan antara pusat informasi yang dikembang-kan oleh Sekretariat Jenderal MPr-ri dan Sekretariat Jenderal DPr-ri. Di lingkungan organisasi pemerintah, tidak perlu ada persaingan dan perebutan pekerjaan antara kantor Sekretariat Negara dan (saat itu) kantor Departemen kehakiman dan HAM. Demikian juga berkenaan dengan administrasi putusan hakim, tidak perlu ada perebutan pekerjaan antara kantor Departemen
kehakiman dan Hak Asasi Manusia dengan Sekretariat Jenderal Mahkamah Agung.
idealnya, pusat informasi hukum itu terkait erat dengan suatu kelembagaan tertentu yang secara khusus mendesain, merancang dan mengembangkan sistem hukum indonesia yang utuh dan terintegrasi. kelembagaan khusus ini dapat pula diberi fungsi tertentu yang berkaitan dengan keperluan promulgation of law, penyebarluasan, sosialisasi dan penyadaran publik berke-naan dengan berbagai perangkat hukum yang berlaku. realitas keragaman tingkat perkembangan antar penduduk indonesia dari Sabang sampai ke Merauke di tengah kecenderungan timbulnya gejala hyper-regulation di seluruh pelosok tanah air memerlukan upaya bersengaja di bidang pendidikan hukum (mass education) dan pemasyarakatan hukum dalam arti yang seluas-luasnya. Den-gan demikian, sungguhpun indonesia mewarisi tradisi “civil law”
yang cenderung mengutamakan pembuatan peraturan tertulis, agenda pembangunan hukum tidak boleh berhenti hanya pada pembuatan aturan semata. Proses produksi hukum yang bersifat terus menerus haruslah diimbangi secara lebih berarti dengan memasyarakatkannya secara sistematis, terprogram, bersengaja dan bersungguh-sungguh. Usaha semacam inilah yang menjadi hakikat pentingnya agenda promulgation of law lebih dari sekedar
publication of law. Dengan begitu, kita tidak hanya menyibuk-kan diri dengan agenda pembuatan hukum, tetapi kita juga sama sibuknya atau malah lebih sibuk lagi dengan agenda penegakan hukum itu dalam kenyataan. Hanya dengan begitu hukum yang dibuat dapat tegak dan ditegakkan dengan sebaik-baiknya, dan pada gilirannya cita-cita Negara Hukum yang demokratis (democratische rechtsstaat) dapat pula memperoleh peluang untuk terwujud dalam kenyataan.
membahas mengenai aspek sistem informasi dan administrasi yang terkait dengan fungsi-fungsi lembaga-lembaga tinggi negara dan sistem administrasi pemerintahan. Dalam hubungan itu, sistem informasi dan administrasi yang harus diperhitungkan perlu dikelompokkan sebagai berikut:
1. Sistem informasi dan administrasi di lingkungan MPr, DPr dan DPrD propinsi, dan kabupaten/kota.
2. Sistem informasi dan administrasi di lingkungan kekuasaan kehakiman atau badan-badan peradilan, mulai dari Mahka-mah Agung sampai ke Pengadilan tingkat pertama.
3. Sistem informasi dan administrasi di lingkungan Badan Pemeriksa keuangan.
4. Sistem informasi dan administrasi di lingkungan kantor ke-presidenan atau sekretariat negara.
5. Sistem informasi dan administrasi di lingkungan kantor gu-bernur, kantor Bupati dan Walikota.
Dari sudut hukum tata negara dan administrasi negara, informasi-informasi dan produk-produk hukum dan kebijakan-kebijakan administrasi yang dianggap penting untuk dikomputeri-sasikan dan dikembangkan sebagai bahan dalam rangka komuni-kasi dan telekomunikomuni-kasi elektronis, minimal adalah:
1. Produk-produk peraturan tertulis yang dikeluarkan dan ditetapkan ataupun yang dijadikan dasar kebijakan yang diambil.
2. Tindakan-tindakan administrasi yang diambil oleh pejabat yang bersangkutan yang dituangkan dalam bentuk-bentuk tertulis.
3. rumusan-rumusan program dan kebijakan-kebijakan pub-lik yang dijadikan pegangan bagi pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan oleh pejabat publik yang bersangkutan.
4. informasi dan data personalia sebagai aparat pelayanan pub-lik yang terlibat dalam sistem administrasi kenegaraan dan pemerintahan pada level yang bersangkutan.
elektronik. Di masa-masa di mana semua kegiatan dilakukan dengan pendekatan paperless, jasa komputer dan telekomunikasi elektronik ini nantinya akan makin memperoleh posisi yang sen-tral dalam kegiatan umat manusia sehari-hari. oleh karena itu, para ahli hukum administrasi negara dan hukum tata negara, para penentu kebijakan dan juga para pengamat serta peminat mengenai urusan-urusan administrasi yang berkenaan dengan fungsi-fungsi kenegaraan dan pemerintahan harus juga turut memperhitungkan pentingnya jasa komputer dan telekomunikasi elektronik ini di masa mendatang.
Apabila kita mengkhususkan perbincangan mengenai sistem informasi administrasi kenegaraan dan pemerintahan, maka kita