• Tidak ada hasil yang ditemukan

PUTUSAN MANCANEGARA

Dalam dokumen Majalah PA Edisi 4 Juli 2014 (Halaman 34-36)

J

ika di )ndonesia dikenal istilah ekonomi syariah, maka di luar negeri sebutan yang berkembang untuk hal serupa adalah keuangan )slam islam ic finance atau perbankan

)slam islam ic banking . Di )ndonesia

kita kenal lembaga keuangan syariah dan perbankan syariah, di luar negeri seperti )nggris dan Amerika lebih dikenal dengan julukan lembaga keuangan )slam dan perbankan )slam. Dua hal yang sebetulnya sama.

Berbicara tentang lembaga keuangan )slam di dunia, sebagian besar dari mereka beroperasi di negara-negara yang menganut pluralisme dalam sumber dan sistem hukum atau yang kita kenal dengan

legal pluralism. Dalam konteks

ini syariah hukum )slam eksis berdampingan dengan sistem hukum

com m on law atau civil law. Akibatnya,

setiap transaksi, produk, dokumen dan pengoperasiannya tidak hanya harus sesuai dengan prinsip-prinsip syariah tetapi juga tidak boleh bertentangan dengan hukum positif dan semua peraturan yang berlaku di negara tersebut.

Di )ran dan Saudi Arabia, misalnya, hukum )slam—tentu dengan versinya masing-masing—ditetapkan sebagai otoritas hukum tertinggi, sehingga setiap sengketa perbankan )slam mungkin tidak menimbulkan masalah besar. Akan tetapi di negara-negara yang menganut sistem hukum yang majemuk seperti di Malaysia, )ng- gris, )ndia dan Amerika, penyelesa- ian sengketa keuangan )slam menjadi masalah yang sangat signifikan.

Akan lebih rumit lagi jika sengketa keuangan )slam ini melibatkan pihak- pihak yang berasal dari yurisdiksi yang berbeda yang melakukan transaksi antar negara. Pertanyaan kita: bagaimana prinsip-prinsip syariah dapat berlaku secara beriringan dengan hukum positif di suatu negara

dan bagaimana penyelesainnya jika diajukan ke pengadilan?

Menarik membaca hasil analisis putusan yang terkait dengan keuangan )slam yang dikeluarkan oleh pengadilan-pengadilan di negara-negara yang mempunyai studi kasus yang menarik untuk dikaji. Kita ambil contoh Malaysia, )nggris, )ndia dan Amerika. Keempat negara ini mempunyai studi kasus keuangan dan perbankan )slam yang fenomenal.

Bagaimana pendekatan yang dilakukan pengadilan di Malayasia yang berpenduduk mayoritas Muslim dibandingkan dengan pengadilan di negara-negara yang minoritas Muslim dalam mengadili sengketa serupa? Apa saja yang bisa dipetik oleh Peradilan Agama di )ndonesia dalam kasus seperti ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu akan secara ringkas terjawab di tulisan ini, yang merupakan saripati dari sebuah artikel di )SRA )nternational Journal of )slamic Finance Vol. )ssue tahun yang berjudul An Analysis of the Courts’ Decisions on Islam ic Disputes karya Zulkifli (asan

dan Mehmet Asutay. Artikel lengkap journal tersebut bisa diakses di http://dro.dur.ac.uk/ / / . pdf?DDD +dgi ma+dul eg.

Zulkifli (asan adalah dosen senior Fakultas Syariah dan (ukum pada )slamic Science University of Malaysia. Sedangkan Mehmet Asutay adalah pakar keuangan )slam dari Durham University )nggris.

Karena keterbatasan ruang, pemaparan ini hanya secara umum menggambarkan bagaimana perkara keuangan )slam diselesaikan oleh pengadilan di empat yurisdiksi yang berbeda itu.

Malaysia

Walaupun industri keuangan )slam sudah beroperasi selama

lebih dari setengah abad, sejak didirikannya the Mit Ghamir Savings Bank pada Juli di Mesir dan banyak perkara keuangan )slam yang diajukan ke pengadilan sejak saat itu, publikasi putusan tentang perkara keuangan )slam sampai saat ini masih terhitung sedikit. Malaysia merupakan pengecualian. Negeri jiran ini rajin mempublikasikan putusan perbankan )slamnya secara rutin.

Seperti diketahui, sengketa per- bankan )slam di Malaysia diselesaikan secara litigasi melalui civil court pen- gadilan negeri bukan shariah court

pengadilan agama . Berdasarkan analisis Zulkifli (asan dan Mehmet Asutay terhadap putusan-putusan yang dihasilkan civil court, ditemu- kan bahwa hakim-hakim di civil court Malaysia pada batasan tertentu tidak memiliki kompetensi atau kapabili- tas menangani sengketa perbankan )slam.

Pada kasus Malaysian Merchant Bank Bhd v Silver Concept Sdn Bhd mis-

alnya. Dalam perkara ini, hakimnya sendiri mengakui bahwa tidak semua ketua majelis adalah seorang Muslim. Dan kalaupun hakimnya orang )slam, mungkin juga tetap tidak semumpuni ahli hukum )slam ulama yang mem- pelajari hukum )slam bertahun-tahun. Persoalan ini kemudian mengemuka dan menjadi wacana bahwa perkara keuangan )slam sebaiknya ditan- gani oleh shariah court pengadilan agama .

Inggris

Sudah menjadi praktik umum di negerinya Ratu Elizabeth itu bahwa perbankan )slam dan semua transaksi yang berkaitan dengan keuangan diatur oleh hukum )nggris. Bahkan, sebagai bagian dari strategi bisnis, banyak transaki keuangan )slam terutama yang melibatkan transaksi

lintas negara diatur oleh hukum )nggris.

Konsekuensinya, semua dokumen transaksi tanpa terkecuali juga tunduk pada hukum )nggris. Karena semua transaksi keuangan )slam diatur oleh hukum )nggris, maka pengadilan )nggris memiliki yurisdiksi ekslusif untuk menyelesaikan setiap sengketa keuangan )slam.

Perkara sengketa keuangan )slam yang pertama kali masuk dan diadili oleh pengadilan )nggris adalah perkara Investm ent Com pany of the Gulf (Baham as) Lim ited v Sym phony Gem s N.V. and Ors [2002] West Law 346969, QBD (Com m . Ct .). Perkara

yang diketok palu pada Februari itu merupakan sengketa perjanjian murabahah. Pengadilan akhirnya memenangkan penggugat.

India

Jika di )nggris perkara keuangan )slam yang masuk ke pengadilan lebih mempersoalkan pada ketentuan hukum yang mengatur dan elemen syariah sebagai pembelaan hukum

legal defence, di )ndia lebih fokus

pada isu konstitusional. (al ini dapat dipahami karena keuangan )slam masih relatif baru di )ndia dan belum diterima keberadaannya oleh beberapa pihak dan organisasi di sana. Mereka yang menolak eksistensi lembaga keuangan )slam berpendapat bahwa pelaksanaan transaksi keuangan )slam di )ndia merupakan pelanggaran terhadap konstitusi yang berkarakteristik sekuler.

Sampai saat ini menurut (asan dan Asutay, hanya ada satu kasus yang berkaitan dengan keuangan )slam yang diputus pengadilan )ndia. Kasus itu diajukan oleh Dr. Surbahamaniam Swamy yang menggugat Negara Bagian Kerala pada tahun . Penggugat menguji legalitas pelaksanaan keuangan )slam

di negara bagian itu.

Perkara ini sangat penting karena berhubungan dengan masa depan keuangan )slam di )ndia karena akan menjadi preseden untuk setiap perkara yang akan datang terkait pembiayaan syariah.

Untungnya, the Kerala (igh Court yang mengadili perkara itu mementahkan gugatan penggugat dan memutuskan bahwa dukungan pemerintah terhadap keberadaan perbankan )slam tidak melanggar ketentuan konstitusi.

Serikat menyidangkan perkara yang berkaitan dengan keuangan )slam.

Masalah utama yang dipersoalkan penggugat adalah penggunaan uang pajak federal untuk menyelamatkan A)G yang dianggap melanggar konstitusi. Penggugat berdalih bahwa bantuan pemerintah kepada A)G, yang sebagian besar bisnisnya berkaitan dengan produk syariah, merupakan bentuk dukungan indoktrinasi agama )slam melalui pendanaan dan promosi keuangan )slam. Lebih lanjut, Penggugat percaya bahwa dukungan kepada keuangan )slam seperti dalam kasus A)G akan dapat menyebabkan kehancuran peradaban Barat dan Amerika Serikat.

Pengadilan distrik federal di Michigan akhirnya menolak gugatan penggugat dan juga menolak pengujian legalitas konstitusional. Pengadilan memutuskan bahwa penyelamatan A)G melalui bail out

tidak melanggar konstitusi. Tidak puas dengan putusan ini, penggugat kemudian mengajukan banding.

Le ssons le arne d untuk Pe radilan Agama di Indone sia?

Setelah menganalisis putusan pengadilan mengenai sengketa keuangan )slam di empat negara tersebut, (asan dan Asutay kemudian memberikan observasi kritis dalam tujuh hal, yakni: 1) the polem ics of governing laws, 2) shariah issues as a legal defence, 3) constitutional issues, 4) Islam ic financial instrum ents in disputes, 5) judges’ awareness and understanding of Islam ic finance, 6) com petency of lawyers, dan 7) shariah governance.

Dalam hal polemik hukum yang mengatur governing laws , sikap pengadilan )nggris sejauh ini telah mengabaikan unsur syariah. Memang pada kenyataannya mereka tidak mengakui syariah sebagai hukum yang

Inisiat if pengembangan

Dalam dokumen Majalah PA Edisi 4 Juli 2014 (Halaman 34-36)