• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

3. Model Quantum Teaching

a. Pengertian Model Quantum Teaching

Kata quantum memiliki arti interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Dengan demikian quantum teaching adalah orkestrasi bermacam- macam interaksi (mencakup unsur- unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa) yang ada di sekitar momen belajar. Inetraksi- interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan dan bagi orang lain (Riyanto, 2010: 200).

Penelitian yang dilakukan oleh Jeannette Vos-Groenendal 1991, disertasi doktoral (DePorter, 2005:19) menunjukkan bahwa Super Camps: 68% meningkatkan motivasi, 73% meningkatkan nilai belajar, 81% memperbesar keyakinan diri, 84% meningkatkan kehormatan diri, 96% mempertahankan sikap positif terhadap Super Camps, dan 98% melanjutkan memanfaatkan keterampilan.

Pembelajaran berakar dari upaya Georgi Lozanov yang bereksperimen dengan apa yang disebutnya sebagai suggestology.

Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar. Pembelajaran mencakup aspek-aspek penting dalam program neurolinguistik (NLP), yaitu suatu penelitian tentang bagaimana otak mengatur informasi. Dengan pengetahuan NLP para pendidik mengetahui bagaimana menggunakan bahasa yang positif untuk meningkatkan tindakan-tindakan positif.

Pembelajaran ini dipraktekkan di ruang-ruang kelas dalam bentuk pengajaran.

23

Quantum teaching adalah pengubahan belajar yang meriah dengan segala nuansanya dan quantum teaching juga menyertakan segala kaitan interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar. Quantum teaching ini terfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas interaksi yang mendirikan landasan dan kerangka untuk belajar (De Porter, 2010: 32).

Menurut De Porter, pembelajaran quantum merupakan cara baru yang memudahkan proses belajar, yang memadukan unsur seni dan pencapaian terarah untuk segala mata pelajaran.

Pembelajaran quantum teaching adalah pengubahan belajar yang meriah dengan segala nuansanya, yang menyertakan segala kaitan, interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar serta berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas interaksi yang mendirikan landasan dalam kerangka untuk belajar (Wena, 2011: 160-161).

Model pembelajaran quantum teaching dibagi atas dua kategori yaitu konteks dan isi (DePorter & Nourie, 2001 dalam Wena 2009:163).Konteks meliputi lingkungan, suasana, landasan, dan rancangan. Sedangkan isi mencakup masalah penyajian dan fasilitasi (mempermudah proses pembelajaran). Dalam konteks guru dituntut harus mampu mengubah:

1. Suasana yang memberdayakan untuk kegiatan PBM.

2. Landasan yang kukuh untuk kegiatan PBM.

3. Lingkungan yang mendukung PBM.

4. Rancangan pembelajaran yang dinamis.

Sedangkan dalam isi guru dituntut untuk mampu menerapkan keterampilan penyampaian isi pembelajaran dan strategi yang dibutuhkan siswa untuk bertanggung jawab atas apa yang dipelajarinya.

Menurut De Porter (2014: 34), quantum teaching bersandar pada konsep “ bawalah dunia mereka (siswa) ke dalam dunia kita

(guru), dan antarkan dunia kita (guru) ke dunia mereka (siswa)”, maksudnya bawalah dunia kita yaitu sebelum mengawali pembelajaran guru harus menjembatani dunia siswa dengan materi yang akan di ajarkan dengan sebuah peristiwa, pikiran atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan sehari- hari yang masih relevan dapat digunakan untuk menyampaikan materi agar sejalan dengan alam pikiran dan perasaan siswa. Bila kondisi tesebut telah dilalui maka antarkan dunia kita ke dunia mereka yaitu menyimpulkan materi, konsep, prinsip dan latihan yang akan dipelajari tersebut kepada siswa. Hal ini merupakan bagian dari menciptkan suasana terbuka dan efektif.

Jadi dari beberapa uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa model quantum teaching adalah suatu model pembelajaran yang memadukan unsur seni yang dapat menciptkana suasana belajar yang meriah dan menyenangkan bagi siswa, yang membuat siswa berperan aktif dalam proses belajar.

b. Prinsip- Prinsip Model Quantum Teaching

Pelaksanaan pembelajarannya, menurut De Porter (2004:

50) quantum memiliki lima prinsip atau kebenaran tetap, prinsip- prinsip ini mempengaruhi seluruh aspek quantum teaching.

Prinsip- prinsip tersebut adalah:

1. Segalanya berbicara

Hal ini mengandung arti baik lingkungan kelas atau sekolah sampai bahasa tubuh guru dari lembar kerja atau kertas kerja yang dibagikan kepada siswa sampai rencana pelaksanaan pembelajran semuanya mencerminkan pembelajaran.

2. Segalanya bertujuan

Semua yang terjadi dalam proses pembelajaran mempunyai tujuan.

25

3. Pengalaman sebelum pemberian nama

Proses belajar yang paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari.

4. Aksi setiap usaha

Mengakui usaha siswa untuk memperoleh kecakapan dan kepercayaan diri adalah yang penting dalam membangun keberhasilan siswa. Belajar menanggung resiko. Belajar berarti keluar dari kenyamanan. Pada saat siswa mengambil langkah ini, mereka patut mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan dri mereka. De Porter (2014: 61) bahwa pujian atau penghargaan kepada seseorang atas karyanya memunculakn suatu energi yang membangkitkan emosi positif.

5. Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan

Perayaan adalah sarapan para juara. Perayaan yaitu memberikan reward kepada siswa. Langkah ini perlu untuk diterpkan agar keinginan murid untuk belajar akan tumbuh dan berkembang dengan cepat. Meskipun ini bukan merupakan sesuatu yang harus dilakukan, namun paling tidak dengan memberikan semacam hadiah atau penghargaan atas prestasi yang di peroleh akan semakin memacu minat siswa dalam belajar. Ini tentua akan membantu siswa dalam proses belajar karena siswa akan merasa dihargai dengan diberikannya pengganti atas prestasi yang diperolehnya.

c. Kerangka Rancangan/ Tahapan Quantum Teaching

Menurut De Porter (2010: 39) pada dasarnya dalam pelaksanaan komponen rancanagan pembelajaran quantum, dikenal dengan singkatan “TANDUR” yang merupakan kepanjangan dari:

Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasi, Ulangi dan Rayakan.

Kerangka unsur- unsur tersebut membentuk basis struktural

keseluruhan yang melandasi quantum. Penjelasan dari masing-masing kata di atas adalah sebagai berikut:

1. Tumbuhkan, tumbuhkan berarti sertakan diri mereka, pikat dan puaskan dengan AMBAK (Apakah Manfaat BagiKu). Pada tahap ini, guru hendaknya menyampaikan tujuan pembelajaran dan manfaat yang akan diperoleh setelah mempelajari materi atau mengingatkan materi penunjang yang sebelumnya sudah diperoleh siswa.

2. Alami, siswa mengalami sendiri dalam belajar memperoleh pengetahuan dengan praktek langsung dalam menyelesaikan masalah. Siswa berdiskusi, mengerti dan memahami pelajaran.

Ciptakan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua siswa. Jangan menggunakan istilah yang asing dan sulit untuk dimengerti.

3. Namai, namai yang dimaksud adalah tahap untuk menyediakan kata kunci dan mengajarkan konsep, keterampilan berpikir, dan belajar yang menjadi pesan belajar. Dengan melakukan praktek secara langsung maka siawa benar-benar bisa mencari rumus, menghitung dan memperoleh informasi baru (nama) yaitu dengan pengalaman yang dialami sehingga membuat pengetahuan yang diperoleh siswa menjadi berarti.

4. Demonstrasikan, Maksudnya pada tahap ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan bahwa mereka tahu. Siswa membutuhkan kesempatan yang sama untuk berlatih dan menunjukan apa yang mereka ketahui kemampuan dalam bentuk aktivitas belajar.

5. Ulangi, memberikan kepada siswa pengulangan dengan memberikan latihan bahwa mereka benar-benar tahu tentang apa yang mereka pelajari.

6. Rayakan, rayakan berarti berikan penghargaan atas prestasi yang positif. Memberikan pengakuan atas upaya atau usaha yang

27

dilakukan siswa baik berupa pujian maupun hadiah, tepuk tangan, ataupun bentuk lainnya untuk memotivasi siswa agar belajar lebih giat lagi.

Berdasarkan teori-teori yang dikemukakan para pakar tersebut, maka yang dimaksud dengan model quantum teaching pada penelitian ini adalah suatu model pembelajaran yang menyenangkan dengan memadukan unsur seni, menata lingkungan kelas sehingga tercipta suasana belajar menyenangkan dan kondusif. Adapun langkah-langkah dalam penerapan model quantum teaching yaitu (1) menumbuhkan minat belajar siswa untuk mengikuti pembelajaran (tumbuhkan); (2) memfasilitasi siswa untuk mendapatkan pengalaman belajar dengan percobaan (alami); (3) membimbing siswa untuk menarik kesimpulan berdasarkan informasi, fakta atau rumus yang ditemukan (namai); (4) memberi kesempatan kepada siswa untuk memaparkan hasil percobaan yang telah dilakukan (demonstrasi); (5) mengarahkan siswa untuk mengulangi pengetahuan yang telah dimiliki ke dalam suatu persoalan supaya memperkuat koneksi saraf dalam pemahaman konsep (ulangi); dan (6) memberikan perayaan sebagai feedback positif terhadap usaha siswa selama proses pembelajaran (rayakan).

d. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Quantum Teaching

Setiap model pembelajaran pasti mempunyai kelebihan dan kelemahannya masing-masing, tanpa kecuali model pembelajaran Quantum Teaching . kelebihan dari model pembelajaran Quantum Teaching adalah sebagai berikut:

1) Model Quantum Teaching ini menjadikan guru dan siswa lebih kreatif sehingga meningkatkan rasa percaya diri dan minat belajar siswa.

2) Mengembangkan pola pikir siswa dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas.

3) Melatih rasa tanggung jawab dan disiplin siswa serta melatih keberanian siswa.

4) Pelaksanaan pembelajaran didalam kelas tidak menjenuhkan Sedangkan kekurangan dari model pembelajaran Quantum Teaching adalah sebagai berikut:

1) Memerlukan persiapan yang matang bagi guru dan lingkungan yang mendukung. Untuk menimalisirnya adalah guru harus berusaha keras dalam mempersiapkan pembelajaran

2) Memerlukan sarana dan prasarana yang memadai untuk menunjang proses pembelajaran.

3) Membutuhkan waktu yang lumayan lama dalam mempersiapkan perangkat pembelajaran. untuk meminimalisirnya adalah rencanakan proses pembelajaran dengan baik, agar tujuan pembelajaran bisa tercapai dan waktu yang disediakan bisa di maksimalkan.

4) Kurang dapat mengontrol siswa, untuk meminimalisirnya guru harus bersikap tegas untuk menciptakan suasana yang kondusif dalam melaksanakan proses pembelajaran (dalam Trianto, 2010).

4. Hubungan Model Pembelajaran Quantum Teaching dengan

Dokumen terkait