BAB II URAIAN TEORITIS
II.1.3 Radio
Sebagai media massa, radio siaran memunyai ciri dan sifat yang berbeda dengan media massa lainnya. Jelas berbeda dengan surat kabar yang merupakan media cetak, juga dengan film yang bersifat mekanik optik. Dengan televisi, kalau pun ada persamaannya dalam sifatnya yang elektronik, terdapat perbedaan, yakni radio sifatnya auditif, televisi audiovisual.
Penyampaian pesan melalui radio siaran dilakukan dengan menggunakan bahasa lisan, kalaupun ada lambang – lambang nonverbal yang dipergunakan jumahnya sangat minim.
Keuntungan radio siaran bagi komunikator ialah sifatnya yang santai. Orang bisa menikmati acara siaran radio sambil makan, sambil tidur-tiduran, sambil bekerja, bahkan sambil mengemudikan mobil.
Penyajian hal yang menarik dalam rangka penyampaian suatu pesan, adalah penting, karena publik sifatnya selektif. Begitu banyak pilihan di antara sekian banyak media komunikasi, dan begitu banyak pula pilihan acara dari sekian banyak acara dari setiap media. Dalam hal ini musik memegang peranan yang sangat penting. Di antara acara-acara musik yang memukau itulah pesan- pesan disampaikan kepada para pendengar.
Radio siaran adalah “makanan” telinga, untuk didengarkan, hal-hal yang dapat dipahami melalui indera telinga. Karena itu apa yang disajikan untuk dibaca belum tentu dapat dimengerti apabila dihidangkan melalui radio siaran. Susunan berita untuk surat kabar tidak akan mencapai tujuannya apabila dibacakan di depan mikrofon radio siaran. Susunan kata-kata untuk pidato dalam rapat di alun- alun tidak akan sukses jika dibacakan di depan mikrofon radio. Untuk radio siaran terdapat gaya tersendiri, yakni yang disebut “radio style” atau “gaya radio”.
Di Amerika Serikat, tempat lahirnya radio style sudah terdapat ketentuan- ketentuan mengenai bentuk dan susunan kalimat untuk radio siaran, kata-kata yang boleh dipergunakan dan yang harus dihindarkan pemakaiannya. Bahkan telah diselidiki kata-kata mana yang lebih besar daya penerimaannya dan yang mudah ditangkap pengertiannya oleh rata-rata pendengar. Selain itu, ditentukan pula bagaimana cara membawakannya suatu acara, sehingga apa yang diucapkan oleh penyiar-penyiar tidak hilang sewaktu tiba ditelinga pendengar. Kata-kata disusun menjadi daftar yang panjang untuk menjadi pegangan penyiar, dimana ditentukan kata-kata yang ringan untuk diucapkan.
Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya “radio style” ialah: 1. Sifat radio siaran
a. Auditif
Sifat radio siaran adalah auditif, untuk didengar, karena hanya untuk didengar, maka isi siaran yang sampai di telinga pendengar hanya sepintas lalu saja.
b. Mengandung gangguan
Radio siaran tidak merupakan media sempurna. Komunikasi melalui radio siaran tidak akan sesempurna seperti komunikasi antara dua orang secara berhadapan. Kalau tidak bersifat alamiah, maka gangguan itu bersifat teknis. Gelombang radio yang ditimbulkan oleh pancaran pemancar radio mendapat pengaruh sinar matahari. Akibatnya ialah isi siaran tidak dapat dipancarkan oleh gelombang yang mendukungnya secara leluasa. Gangguan teknis dapat berupa “interferensi”, yakni dua atau lebih gelombang yang berdempetan, sehingga membuat isi siaran sukar dimengerti.
c. Akrab
Radio siaran sifatnya akrab, intim. Seorang penyiar radio seolah-olah berada dikamar pendengar yang dengan penuh hormat dan cekatan menghidangkan acara-acara yang menggembirakan kepada penghuni rumah.
2. Sifat pendengar radio a. Heterogen
Pendengar adalah massa, sejumlah orang yang sangat banyak yang sifatnya heterogen, terpencar-pencar di berbagai tempat.Dan mereka berbeda dalam jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, dan taraf kebudayaan.
b. Pribadi
Karena pendengar berada dalam keadaan heterogen, terpencar-pencar di berbagai tempat dan umumnya di rumah-rumah maka sesuatu isi pesan akan dapat diterima dan dimengerti, kalau sifatnya pribadi (personal) sesuai dengan situasi di mana pendengar itu berada. Penyiar harus berbicara seperti bicaranya eorang teman yang datang bertemu. c. Aktif
Wilbur Schramm, Paul Lazarsfeld dan Raymond Bauer, para ahli komunikasi di Amerika Serikat, mereka sama-sama berpendapat bahwa pendengar radio sebagai sasaran komunikasi massa jauh daripada pasif. Mereka aktif. Apabila mereka menjumpai sesuatu yang menarik dari sebuah stasiun radio, mereka aktif berpikir, aktif melakukan interpretasi. Mereka bertanya-tanya pada dirinya, apakah yang diucapkan oleh seorang penyiar radio, benar atau tidak.
d. Selektif
Pendengar sifatnya selektif. Ia dapat dan akan memilih program radio siaran yang disukainya. Begitu banyak stasiun radio siaran, tidak terhitung sudah, dengan aneka jenis acara siarannya yang masing- masing berlomba untuk memikat perhatian pendengar. Oleh karena itu maka dalam proses komunikasi massa, unsur pendengar banyak diteliti, karena sasaran yang kompleks ini menyangkut berbagai segi sosiologis, psikologis, edukatif, kultural, dan bahkan juga politis dan ekonomis. (Effendy, 1978 : 87-92)
Meskipun komunikasi yang dilakukan tergolong komunikasi massa, namun “gaya” komunikasi di radio harus berupa komunikasi personal dan antarpribadi (interpersonal communication) karena pendengar radio, meskipun banyak, harus dianggap hanya seorang individu layaknya teman dekat. Prinsip utama siaran
radio adalah visualisasi, yakni berimajinasi, membayangkan “berbicara kepada seorang pendengar yang duduk di depan penyiar”.
Karena termasuk media massa, radio memiliki karakteristik media massa. 1. Publisitas, yakni disebarluaskan kepada publik, khalayak, atau orang
banyak. Siapa saja bisa mendengarkan siaran radio. Tidak ada batasan tentang siapa yang boleh dan tidak boleh mendengarkan.
2. Universalitas, pesannya bersifat umum, tentang segala aspek kehidupan dan semua peristiwa di berbagai tempat, juga menyangkut kepentingan umum karena sasaran dan pendengarnya orang banyak (masyarakat umum).
3. Periodisitas, tetap atau berkala, misalnya harian atau mingguan. Radio mengudara secara periodik, misalnya 19 jam setiap hari: mulai pukul 05.00 pagi hingga pukul 12.00 malam.
4. Kontinuitas, berkesinambungan atau terus menerus sesuai dengan periode mengudara atau jadwal terbit.
5. Aktualitas, berisi hal-hal baru, seperti informasi atau laporan peristiwa terbaru, tips baru, dan sebagainya. Aktualitas juga berarti kecepatan penyampaian informasi kepada publik.
Namun, dibandingkan dengan media massa lain, radio memiliki karakteristik khas sebagai berikut:
1. Auditori, Sound Only, auditif. Radio adalah “suara”, untuk didengar, dikonsumsi telinga atau pendengaran. Apa pun yang disampaikan melalui radio harus bebentuk suara.
2. Transmisi. Proses penyebarluasannya atau disampaikan kepada pendengar melalui pemancaran (transmisi).
3. Mengandung gangguan. Seperti timbul-tenggelam (fading) dan gangguan teknis “channel noise factor”.
4. Theatre of Mind. Radio mencipta gambar (makes pictures) dalam imajinasi pendengar, “memainkan” imajinasi pendengar, dengan kekuatan kata dan suara. Secara harfiah, theatre of mind berarti ruang bioskop di dalam pikiran. Radio mampu menggungah imajinasi pendengarnya, dengan suara, musik vokal atau bunyi-bunyian.
5. Identik dengan musik. Umumnya orang mendengarkan radio untuk mendengarkan musik/lagu. Radio menjadi media utama untuk mendengarkan musik.
□ Keunggulan dan Kelemahan Radio 1. Keunggulan Radio
a. Cepat dan Langsung, Sarana tercepat, lebih cepat dari surat kabar maupun TV, dalam menyampaikan informasi kepada publik tanpa melalui proses yang rumit dan butuh waktu banyak seperti siaran TV atau sajian media cetak. Hanya dengan melalui telepon, reporter radio dapat secara langsung menyampaikan berita atau melaporkan peristiwa yang ada di lapangan. b. Akrab. Radio adalah alat yang akrab dengan pemiliknya. Orang jarang
sekali duduk dalam satu grup mendengarkan radio, tetapi biasanya mendengarkan sendirian, seperti di mobil, di dapur, di kamar tidur, dan sebagainya.
c. Personal. Jadi teman karena mampu menyentuh pribadi pendengar. Pembicaraannya langsung menyentuh aspek pribadi (interpersonal communications), dengan pendekatan pibadi (personal approach), sehingga radio menjadi teman pribadi yang setia.
d. Hangat. Paduan kata-kata, musik, dan efek suara dalam siaran radio mampu mempengaruhi emosi pendengar. Pendengar akan bereaksi atas kehangatan suara penyiar dan seringkali berpikir bahwa penyiar adalah seorang teman bagi mereka.
e. Sederhana. Tidak rumit
f. Tanpa batas. Jangkauan wilayah siarannya luas. Siaran radio menembus batas-batas geografis, demografis, SARA (Suku, Agama, Ras, Antargolongan), dan kelas sosial.
g. Murah. Dibandingkan dengan berlanggananmedia cetak atau harga pesawat televisi, pesawat radio relatif jauh lebih murah. Pendengar pun tidak dipungut biaya bayaran sepeser pun untuk mendengarkan radio. Orang bisa mendengarkan aneka musik, hiburan, dan informasi, tanpa harus membayar.
h. Bisa Mengulang. Radio memiliki kesementaraan alami (transient nature) sehingga berkemampuan mengulang informasi yang sudah disampaikan secara cepat.
i. Fleksibel. Siaran radio bisa dinikmati sambil mengerjakan hal lain atau tanpa mengganggu aktivitas yang lain, seperti memasak, mengemudi, belajar, dan membaca koran atau buku. Selain itu pesawat radio pun mobile atau portable, mudah dibawa ke mana saja.
2. Kelemahan Radio
a. Selintas. Dapat diakses cepat dan seketika, juga cepat hilang dan gampang dilupakan. Pendengar tidak bisa mengulang apa yang didengarnya, tidak bisa seperti pembaca koran yang bisa mengulang bacaannya dari awal tulisan.
b. Global. Sajian informasi radio bersifat global, tidak detil, karena angka- angka pun dibulatkan. Misalnya penyiar akan menyebutkan “seribu orang lebih” untuk angka 1.053 orang.
c. Batasan waktu. Waktu siaran radio relatif terbatas, hanya 24 jam sehari, berbeda dengan surat kabar yang bisa menambah jumlah halaman dengan bebas.
d. Linier. Program disajikan dan dinikmati pendengar berdasarkan urutan yang sudah ada, tidak bisa meloncat-loncat. Beda dengan suratkabar, pembaca bisa langsung ke halaman tengah, akhir, atau langsung ke rubrik yang ia sukai.
e. Mengandung gangguan. Seperti timbul tenggelam (fading) dan gangguan teknis “channel noise factor”.
f. Lokal. Media radio bersifat lokal, hanya di daerah yang ada frekuensinya.