• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV GAMBARAN UMUM NAGARI TUO PARIANGAN

4.2. Ragam Peran Kelembagaan dan Adat Nagari Pariangan

Pada masa sistem pemerintahan nagari sebelum kolonial, kehidupan sosial dan politik nagari khususnya nagari pariangan di dominasi oleh pemimpin informal yang disebut ninik mamak, alim ulama dan cadiak pandai serta angku palo sebagai kelembagaan yang membantu unsur adat tersebut.27 Sebagaimana tergambar pada bagan dibawah ini;

Bagan 4.1. Kondisi Nagari sebelum kolonial belanda

Sumber : diolah penulis 2017

Ketiga unsur adat lazim disebut tungku tigo sajarangan. Unsur adat tali tigo sapilin, tungku tigo sajarangan menjadi komponen masyarakat yang paling menentukan dalam pengambilan keputusan di nagari, meskipun mereka tidak

27Muhammad Jamil. (2015). Dilema Pemangku Adat Minangkabau. Bukittinggi: Cinta Buku Agency

duduk di pemerintahan. Jika mengacu dengan tambo sejarah minangkabau, masih banyak kelembagaan adat sesuai stratifikasi suku, jurai dan paruik yang terbagi-bagi lagi. Karena menurut tambo ber-nagari harus beradat dan balimbago28. Segala keputusan dan sengketa suku yang terjadi diselesaikan melalui forum musyawarah mufakat unsur adat tersebut berdasarkan ketentuan undang adat nan 20.

4.2.1. Ninik Mamak

Dalam tambo sejarah Minangkabau, Ninik mamak terbagi menjadi dua stratifikasi adat. Pertama, Ninik mamak nan salapan yakni, Datuk Sri Dirajo, Datuk Rajo Api, Datuk Basa, Datuk Tarmijo, Datuk Tunaro, Datuk Jikpang, Datuk Kayo, Datuk Basa dan Datuk Sinaro. Mereka merupakan para pendiri adat Minangkabau yang kemudian garis keturunannya sekarang masih tetap dijadikan Ninik mamak nan salapan dimana yang ditauladani sikap dan diikuti pada setiap perkataannya dalam adat oleh para suku di nagari. Kedua, Ninik mamak, merupakan pemimpin pada setiap suku yang ada di dalam nagari. Gelar ini diturunkan berdasarkan garis matrilineal (garis ibu). Ninik mamak dalam perkembangannya menyesuaikan dengan kebutuhan setiap suku dan jorong yang ada. Dalam Nagari Pariangan, terdiri dari 22 Ninik mamak dan 8 suku yakni piliang, gadang, malayu, dalimo panjang, dalimo singkek, caniago, jambak dan mandailiang yang masing-masing suku dipimpin oleh para Ninik mamak.

Ninik mamak memiliki kewenangan untuk mengontrol dan mengarahkan stratifikasi sosial di bawahnya seperti jurai, hindu,suku, paruik dan rumah tanggo.

Mereka merupakan kelompok penentu setiap keputusan yang menyangkut hajat

28Beradat dan balimbago atau beradat dan berlembaga, merupakan syarat-syarat pendirian nagari sesuai hukum adat.

kemenakan, khususnya mengenai penentuan sako dan pusako yang merupakan warisan kehormatan seperti gelar, hutan, tanah, sawah dan kekayaan komunal lainnya yang diwariskan kepada keturunan berdasarkan garis matrilineal.29 Sako dan pusako tersebut dibahas pada tiap-tiap stratifikasi dimulai dari paling bawah dalam nagari yakni rumah tanggo melalui musyawarah, jika tidak menemukan kata mufakat maka akan dibahas di paruik hingga sampai ke nagari sebagai stratifikasi paling tinggi dalam kepemimpinan adat. Serta menjadi tempat bertanya mengenai ketentuan adat-istiadat seperti yang disimbolkan dalam falsafah minangkabau sebagai pai tampek batanyo, pulang tampek babarito.30 Sebuah keputusan mengenai adat dalam nagari sebelum dimusyawarahkan dengan Ninik mamak yang secara otomatis tergabung dan diwadahi didalam Kerapatan Adat Nagari (KAN) berdasarkan konsep kepemimpinan adat tali tigo sapilin dan tungku tigo sajarangan. Setiap kebijakan bersangkutan korong jo kampuang 31dalam masyarakat nagari sampai kepada kaum terkecil yang terdiri dari keluarga harus melalui keputusan Ninik mamak yang berpedoman kepada Undang nan 20 dan adat salingka nagari sebagai landasan dasar dan pedoman adat dalam nagari.32

4.2.2. Penghulu

Penghulu merupakan pangkat yang bergelar Datuak sebagai pemimpin diatas Ninik mamak dan bertanggung jawab terhadap seluruh anak kemenakan di dalam nagari. Gelar Datuak diatur dalam sako adat Minangkabau dan diterima

29STS.Dt.Rajo Indo. (1967). Hukum Adat Minangkabau. Bukittinggi: Pustaka Indonesia

30Pai tampek batanyo, pulang tampek babarito atau pergi tempat bertanya, pulang tempat membawa berita merupakan salah satu fungsi ninik mamak dalam mengayomi kaumnya.

31Korong jo kampuang/Jorong merupakan wilayah di bawah struktur nagari.

32 Hasil wawancara dengan ninik mamak pada 5 April 2017

berdasarkan garis matrilineal. Jika keturunannya terputus atau habis maka gelar penghulu pun terputus pula. Penghulu memiliki fungsi dan tugas untuk melindungi adat-istiadat, adat nan diadatkan, adat nan teradat serta adat nan sabana adat,33 membuat keamanan serta kenyamanan dan memegang teguh Undang nan ampek di dalam nagari. Dalam tambo sejarah, Ninik mamak yang menjadi penghulu harus memiliki unsur sikap berakal, berilmu, kaya, murah, hemat dan cermat, jaga serta sabar. Seseorang yang sudah diberi gelar penghulu di Minangkabau memiliki tugas berdasarkan asal-usul secara turun temurun dan harus dijalankan sebagaimana mestinya. Jika tidak dijalankan maka penghulu tersebut tidak dihargai oleh anak kemenakan 34dalam sukunya. Seperti yang dijelaskan oleh Datuk Mangkuto35:

³Seorang penghulu memiliki tugas menyangkut ekonomi, pendidikan anak kemenakan, agama anak kemenakan, menyelesaikan sengketa anak kemenakan dan berpartisipasi dalam lancarnya roda pemerintahan di tingkat Nagari. Seorang penghulu harus mengaplikasikan jalan menurut adat yaitu, beradat, balimbago, dan bacupak jogantang´.

Penghulu memiliki kewenangan untuk menentukan dan melindungi sako dan pusako adat kepada anak kemenakan di bawahnya agar tidak digadaikan atau dijual oleh para kaum, karena berdasarkan Undang nan ampek, pusako adat tidak boleh dijual hanya saja boleh digadaikan. Untuk menjaga garis keturunan agar tidak buram maka penghulu perlu membuat silsilah/ranji keturunan anak kemenakan

33Adat nan diadatkan, adat nan teradat serta adat nan sabana adat atau adat yang teradatkan, adat yang teradat dan adat yang sebenarnya adat merupakan diferensiasi adat-istiadat di dalam Minangkabau. Klasifikasi paling atas adalah adat nan sabana adat yang merupakan otentisitas ketentuan Minangkabau dan tidak boleh di ubah ketentuannya, adat nan teradat merupakan klasifikasi adat dibawahnya yang juga tidak boleh di ubah dan yang terakhir adat nan diadatkan merupakan klasifikasi adat paling bawah yang ketentuannya bisa di ubah sesuai perkembangan nagari.

34 Anak kemenakan merupakan sebutan untuk kaum/suku di dalam nagari.

35 Hasil wawancara dengan Ninik mamak nan 22 pada tanggal 2 april 2017

yang berguna menjaga kemurnian garis keturunan matrilineal dan melihat garis keturunan berikutnya sebagai penerima sako dan pusako adat. Jika terjadi sengketa dalam suku baik mengenai sengketa pusako adat, perebutan gelar ninik mamak dan penghulu atau melanggar Undang nan 20 maka penghulu juga akan menjadi juru hakim yang mengadili para anak kemenakan yang melanggar secara realistis dan adil.36

Penjelasan di atas memperlihatkan bahwa penghulu memiliki legitimasi yang paling kuat baik dalam mengkontrol perkembangan sosial, ekonomi dan politik dalam nagari dan bertanggungjawab sepenuhnya terhadap keberlangsungan adat-istiadat. Posisi penghulu merupakan peranan kunci untuk memutuskan dan menetapkan segala persoalan mengenai anak kemenakan yang ditempuh melalui musyawarah mufakat berdasarkan konsep tali tigo sapilin dan tungku tigo sajarangan yaitu Ninik mamak, alim ulama dan cadiak pandai serta wali nagari sebagai pelaksana administratif nagari. Ninik mamak dan Penghulu merupakan kepala sekaligus tiang pondasi dalam nagari, mereka merupakan penunjuk arah anak kemenakan dan menjamin berjalannya ketentuan adat dan keberlangsungan adat-istiadat di setiap zaman.

4.2.3. Angku Palo/Wali Nagari

Sebelum kolonial Belanda, Wali Nagari disebut masyarakat Minangkabau sebagai angku palo. Kehadiran Pemerintah Hindia Belanda ke Indonesia merubah pemerintahan nagari melalui kebijakan ordonasi nagari pada tahun 1914,37 sebutan

36 Loc.Cit

37 Kahn, J. S. (1980). Minangkabau Social Formation: Indonesian Peasants and the World Economy.

London: Cambridge University Press.

angku palo mengalami perubahan orientasi kelembagaan menjadi Wali Nagari.

Masa sebelum kolonial belanda, angku palo merupakan kelembagaan nagari yang berfungsi sebagai pelaksana urusan administratif nagari.38 Selain itu angku palo memiliki fungsi menghimbau masyarakat untuk bergotong-royong, bekerja sama dengan kelembagaan tali tigo sapilin, tungku tigo sajarangan yakni KAN, Cadiak Pandai dan Alim Ulama. Angku palo dipilih oleh para Ninik mamak melalui forum musyawarah adat, sehingga angku palo bertanggungjawab terhadap keberlangsungan Adat Alam Minangkabau dan menjalankan ketentuan-ketentuan Undang adat nan 20..

Pasca kolonial angku palo berubah menjadi Wali Nagari, terdapat berbagai macam perubahan dalam pelaksanaan fungsi kelembagaan. Sebagaimana diungkapkan Irwan sebagai ketua lembaga unsur Cadiak Pandai Nagari Pariangan39:

³3DVFDNHELMDNDQRUGRQDVLLWXangku palo berubah menjadi Wali Nagari. Banyak fungsi Wali Nagari yang berubah, tetap menjadi pelaksana administratif namun juga turut mengatur pembangunan dan pengesahan legalitas hukum tanah pusako masyarakat , Wali Nagari mulai diangkat oleh Pemerintah Hindia Belanda hingga zaman sekarang melalui proses mekanisme pengangkatan DWDXSXQSHPLOLKDQODQJVXQJGDQGL6.NDQGHQJDQEXSDWL´

Wali Nagari difungsikan sama seperti jabatan kepala desa disetiap daerah baik secara struktur maupun secara orientasi fungsi kelembagaan.

Awalnya Wali Nagari (angku palo) bertanggung jawab ke adat semenjak perubahan itu, pertanggungjawaban Wali Nagari langsung kepada

38 STS.Dt.Rajo Indo. (1967). Hukum Adat Minangkabau. Bukittinggi: Pustaka Indonesia

39 Hasil wawancara dengan lembaga unsur adat Cadiak Pandai Nagari Pariangan pada tanggal 5 April 2017

pemerintah. Wali Nagari terfokus dalam fungsinya melaksanakan pembangunan nagari dengan bekerja sama dengan lembaga adat dibahas melalui forum musyawarah. Di dalam forum itu pula Wali Nagari mendistribusikan anggaran pembangunan yang masuk dalam program pembinaan masyarakat, jika ada pembangunan yang bersentuhan dengan adat.

Wali Nagari juga memiliki fungsi untuk mendorong masyarakat mendaftarkan tanah pusako ke Badan Pertanahan (BPN) Kabupaten Tanah Datar, agar tanah-tanah yang sifatnya dikelola secara komunal dan turun temurun memiliki legalitas hukum formal. Fungsi Wali Nagari adalah sebagai perpanjangan tangan pemerintah di dalam nagari beserta menjalankan ketentuan-ketentuan hukum formal negara. Jika ada persoalan-persoalan mengenai nagari secara administratif, pemerintah bekerjasama dengan Wali Nagari untuk kemudian menyelesaikan persoalan tersebut.