• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sedangkan ramalan penjualan untuk tahun 2000 adalah sebagai berikut:

Dalam dokumen (STUD! KASUS PADA PT. TRITAMA TEXINDORAYA) (Halaman 145-157)

Y' 2000 = 4.395.000 + 52.500x

= 4.395.000 + 52.500(4)

= 4.605.000 yards

Jadi ramalan penjualan untuk tahun 2000 adalah sebesar 4.605.000

yards.

2) Merabuat rencana produksi

Agar kegiatan proses produksi lebih terarah maka perusahaan perlu menyusun rencana produksi terlebih dahulu. Dalam proses produksi sering teijadi hambatan-hambatan yang dapat merugikan perusahaan.

Masalah-masalah yang sering dihadapi oleh PT. Tritama Texindoraya dalam proses produksinya adalah sebagai berikut:

(1) Masalah bahan baku

Karena PT. Tritama Texindoraya berproduksi bedasarkan pesanan maka bahan baku yang dipergunakan dalam proses produksi juga tergantung pada pesanan yang dikehendaki oleh konsumen. Bahan baku yang tidak memenuhi standard mutu seringkali menjadi penghambat dalam proses produksi karena akan menghasilkan barang yang tidak sesuai dengan standard mutu yang diharapkan oleh pelanggan. Dalam hal ini akan mengakibatkan penolakan oleh pelanggan pada waktu penyerahan barang atau produk. Masalah keterlambatan bahan baku dan kerusakan bahan baku setelah sampai akan mengakibatkan juga terganggunya proses produksi.

(2) Masalah mesin dan peralatan laiimya

Dalam melaksanakan kegiatan produksinya sebagai perusahaan yang bergerak dalam industri tekstil, perusahaan lebih banyak menggunakan fasilitas mesin secara otomatis yang pelaksanaaimya diawasi oleh beberapa orang operator. Mesin-mesin disusun menurut siklus produksinya, Jadi jika ada satu mesin saja yang mengalami

kerusakan dapat mengganggu kelancaran proses produksi. Jadi pemeliharaan mesin sangat diperlukan karena dapat menyebabkan

penunman hasil produksi perusahaan jika tidak dilaksanakan.

Untuk mengatasi masalah bahan baku tersebut maka perusahaan dapat melakukan pengetesan terhadap bahan baku yang masuk melalui supplier dimana melalui pengetesan ini nantinya akan diketahui layak atau tidaknya bahan baku ini untuk digunakan dalam proses produksi.

Sedangkan untuk mengatasi masalah kerusakan bahan baku setelah sampai ditempat, hendaknya dalam pengiriman bahan baku ditambah sebagai cadangan untuk menghindari berkurangnya jumlah bahan baku yang akan digunakan dalam proses produksi karena adanya kerusakan.

Untuk mengatasi keterlambatan bahan baku yang datang sebaiknya PT.

Tritama Texindoraya dalam melakukan pemesanan untuk pembelian bahan baku memperhatikan tenggang waktu yang cukup lama, dalam hal

ini diperkirakan berapa hari bahan baku akan sampai ditempat sehingga

proses produksi tidak terhambat dan produk yang dipesan dapat

diserahkan sesuai dengan tanggal peijanjian dengan pelanggan.

Sedangkan untuk menangani kerusakan dan ketidakstabilan mesin, PT, Tritama Texindoraya dapat memberikan kepercayaan kepada bagian perawatan mesin dengan menyiapkan tempat perbaikan (bengkel), juga menyiapkan onderdil atau spare-part mesin atau peralatan yang dibutuhkan karena hal ini sangat membantu apabila teijadi kerusakan onderdil mesin yang tidak dapat ditangani oleh bagian mesin.

Dengan detnikian sangatlah diperlukan adanya koordinasi dari seluruh kegiatan-kegiatan pabrik, karena dengan koordinasi ini akan diperoleh hasil yang lebih baik dan ekonomis dalam penggunaan bahan baku, waktu dan karyawan yang terampil seita peralatan dan mesin-mesin yang stabil. Semuanya diperlukan untuk membuat produk yang diinginkan sesuai dengan standars sehingga perencanaan produksi akan

lebih baik.

Didalam melaksanakan kegiatan produksi PT. Tritama

Texindoraya terlebih dahulu merapertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi perusahaan antara lain : kapasitas teipasang dan mesin-mesin yang ada, situasi permintaan dan penjualan serta tenaga keija yang dibutuhkan. Diharapkan dari pertimbangan-pertimbangan tersebut perusahaan dapat melakukan perencanaan produksi secara tepat yang pada akhimya perencanaan yang dilakukan perusahaan dapat mencapai tujuan perusahaan.

Perencanaan yang dilakukan oleh PT. Tritama Texindoraya adalah rencana jangka pendek yaitu rencana produksi yang dilakukan perusahaan dalam jangka waktu 1 tahun mendatang atau kurang.

Rencana Jangka pendek ini dilakukan dengan membuat target yang hams dicapai dalam satu tahun, dimana pembuatan target ini didasarkan

pada penjualan selama 5 tahun terakhir.

3) Melakukan perencanaan yang lebih terinci

Perencanaan produksi yang ada pada perusahaan dibuat oleh departemen perencanaan dan pengendalian produksi yang bekeqa sama dengan bagian-bagian lain yang ada pada perusahaan. Perencanaan yang dilakukan perusahaan meliputi:

(1) Perencanaan bahan baku

Perencanaan bahan baku yang akan dibahas oleh penulis hanya bahan baku Grey untuk Kain Thick and Thin yang rata-rata penjualannya untuk jenis kain ini adalah konstan selama 5 tahun terakhir sehingga dapat dibuat perencanaan kebutuhan bahan bakunya.

(2) Perencanaan tenaga keija

Dalam perencanaan tenaga keija yang meliputi jumlah dan ketepatan penempatan karyawan, perusahaan hanya menyesuaikan dengan kebutuhan mesin yang ada. Oleh karena perencanaan itu tidak dilakukan secara rutin, dan perencanaan tenaga keija ini baru akan dilakukan jika ada perluasan pabrik yang tentunya diikuti dengan

penambahan mesin.

(3) Perencanaan mesin dan peralatan

Perencanaan mesin-mesin yang digunakan dalam proses produksi kain harus disiapkan agar kelancaran proses produksi tidak terganggu dari pusat keqa yang satu ke pusat keija yang lainnya.

Mesin-mesin yang digunakan harus memperhatikan kapasitas

produksinya sehingga setiap order yang masuk dapat direncanakan oleh MPC (Marketing Planning Control) produksinya.

(4) Perencanaan standard kualitas

Untuk menghasilkan tekstil dengan kualitas yang baik memerlukan suatu standard acuan. Standard kualitas ini pada FT. Tritama Texindoraya disebut standard pemeriksaan kain yang dibuat oleh MPC diberikan kepada bagian produksi (Verpacking). Bagian Verpacking memeriksa tekstil dengan menggunakan Visual Inspecting Table kemudian berdasarkan standard pemeriksaan tersebut mengkategorikan tekstilnya menjadi 5 kategori yaitu grade

A, A', A", B dan BS.

4.1.1. Perencanaan Kebutuhan Bahan Baku

Setiap perusahaan pabrik untuk memperlancar proses produksi, selalu merencanakan masalah pengadaan kebutuhan bahan baku yang sangat penting. Jika tanpa adanya persediaan bahan baku perusahaan akan dihadapkan pada resiko kekurangan bahan baku yang dapat menghambat proses produksi sehingga pada waktu perusahaan tidak dapat memenuhi keinginan pelanggan yang hendak melakukan pemesanan. Sebaiknya persediaan bahan baku di gudang mencukupi untuk proses produksi atau tidak terlalu tinggi (berlimpah) dan tidak

terlalu rendah.

Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku di dalam gudang, perusahaan tidak cukup hanya melakukan satu kali pemesanan, oleh karena itu pembelian bahan baku ini dilakukan secara berkala untuk mengisi kembali persediaan yang dibutuhkan di dalam gudang. Namun dalam hal ini yang menjadi persoalan adalah berapa banyak bahan baku yang harus dipesan agar jumlah bahan baku tersebut mencukupi untuk kebutuhan proses produksi dan kapan pesanan tersebut harus dilakukan.

Untuk menjaga kelancaran dalam pengadaan bahan baku, PT. Tritama

Texindoraya selalu mengadakan hubungan baik dengan para suppliemya

Dalam dokumen (STUD! KASUS PADA PT. TRITAMA TEXINDORAYA) (Halaman 145-157)