BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Lampiran 2. Rangkuman Pembuatan Komitmen
PEMBUATAN KOMITMEN
LITA
OKY
ARSI
Pemahaman terhadap agama pilihan 1. Memahami ajaran agama Kristen
“Kita punya landasan
: iman, pengharapan
dan kasih ”
“Sebenernya sama, dalam perjanjian lama itu masih sama, jadi kayak larangan makan makanan berkuku genap, berkuku ganjil. Kenapa sampe sekarang ga boleh makan babi atau
Pemahaman terhadap komitmen pilihan 1. Mampu bersikap netral terhadap agama apapun
“Aku bisa melihat berbagai hal dari sisi yang berbeda, jadi ga apatis”
2. Memiliki pemahaman
tersendiri mengenai konsep Tuhan
“Aku cuma berusaha meyakini bahwa Tuhan
Pemahaman terhadap agama pilihan 1. Memahami ajaran agama Hindu “…aku memahami Hindu ga hanya sekedar memahami dewa-dewa aneh yang ga masuk akal itu tapi juga tau kalo semua yang diajarin di agamaku itu metafora. Jadi kayak dewa itu adalah metafora dari sifat manusia…”
anjing, itukan berkuku genap berkuku ganjil. Apalagi ya? Eeee, kalo masalah muli kayak misalnya itu emang terjadi jaman dulu yaa. Kayak masalah perayaan, orang Kristen jaman dulu kan cuma ada perayaan Paskah Yahudi, itu ga tau di Islam itu dijelasin apa ga, yang jelas disitu udah mulai beda tapi kalo sekarang kan kalo Paskah yaudah tapi sedangkan Abraham jauh ke belakang kan udah beda”
“Kalo di Kristen itu nikah hanya boleh cerai mati. Kalopun suaminya selingkuh,
itu ada dimanapun dan di diri siapapun”
cuma ada kata-kata disarankan untuk apa gitu, misalnya disarankan untuk ga makan sapi dengan alasan karena sapi itu seperti ibu bagi kita, karena dia memberi kita susu, member kita segala sesuatu, memberi kita kehidupan, sapi juga kendaraannya Wisnu”
5.Memahami esensi perayaan hari besar agama
dan budaya
agama Hindu
“Galungan gitu ya, sebenernya esensinya bukan buat perayaan makan-makan kayak
yaa ditunggu sampai dia mati, baru pasangannya boleh nikah lagi. Paling kayak gitu. Mmmm, apa lagi ya?Sempet waktu itu tu, siapa yaa yang bikin marah di rumah, aku lupa, trus
aku tanya ke ibu “kalo
marahan ga boleh sampe matahari
terbenam ya?”
“Trus yang kedua perpuluhan,
menyisakan sebagian dari rejeki kita. Jadi kalo di Kristen kan 10% kalo di Islam cuma 2,5%”
lebarannya orang Islam, beda itu tuh lebih kayak sembahyang lama, berjam-jam, ada pawai nanti ada acaranya nonton tari-tarian trus ntar ada pawai ogoh- ogoh gitu jadi ga intim kayak lebaran gitu. Karena memang itu bukan hari besar yang melambangkan
keintiman”
“ .. orang Hindu itu punya budaya sendiri yang mengurus diri sendiri, jadi semua hari raya itu, semestinya ya kamu merayakannya itu dengan meditasi, dengan introspeksi ke dalam. Jadi misalnya hari ini merayakan dengan menanyakan
kebaikan atau kejahatan yang sudah kamu lakukan, kadang kamu melihat sendiri dirimu, konflik di dalam dirimu, kamu sudah membiarkan kejahatan yang menang di dalam dirimu atau kebaikan”
“Jadi kalo Nyepi itu, malam sebelumnya kita begadang di pura, begadang jagain pura sebelum meditasi, kemudian nanti jam 6 pagi kita istilahnya kayak sahur yang juga jadi makan besar terakhir, kemudian ga makan lagi selama 24 jam. Nah itu aku merasa ga perlu melakukan hal seperti itu karena aku merasa
mendapat kebebasan di agamaku. Kamu ga seperti itu ya sudah, itu kan cuma tradisi di Bali menurutku, Hindu Bali kan? Beda kan? Ya ambil intinya aja, kalo Nyepi itu hari difungsikan puasa kenapa? Karena kita harus menghindari keduniawian, makan dan minum itu keduniawian, godaan. Kita ga berbicara dengan orang lain, hilangkan relasimu dengan orang lain selama sehari karena kamu harus focus sama dirimu sendiri. Ga boleh menggunakan teknologi karena itu sama aja kamu sedang memanjakan dirimu
dengan jaman yang serba instan, gitu. Jadi bener-bener murni, cuma meditasi dan itu terjadi sampai sekarang”
Menjalankan ibadah dan ajaran agama Kristen sebagai implementasi terhadap komitmen beragama 1. Menjalankan ibadah agama Kristen
“Dulu aku rajin banget lo baca Al- Kitab sampe, belum katam sih tapi sampe
Mazmur lebih” “Ya mencoba buat jalanin ibadahnya, Menciptakan dan menjalankan ibadah dengan cara tersendiri sebagai yang wujud implementasi komitmen pilihan 1. Melaksanakan dan memaknai ibadah dengan cara yang
sesuai dengan
kenyamanan diri sendiri
“Aku meyakini dan percaya bahwa apapun
Menjalankan ibadah dan ajaran agama Hindu dengan cara tersendiri sebagai wujud implementasi terhadap komitmen beragama 1. Melaksanakan dan memaknai ibadah dengan cara yang
sesuai dengan
kenyamanan diri
sendiri namun
masih dalam aturan agama Hindu
misalnya ke gereja, puasa, baca AlKitab, banyak cari tau tentang Kristen, ikut acara di gereja dan yang pasti harus selalu makin taat. Sebisa mungkin makin rajin beribadah, makin sering belajar dari Alkitab trus pahami isinya”
yang ada dan terjadi di alam semesta ini itu ya karena Tuhan. Berbuat baik sesama kita, bukan hanya manusia kan juga ajaran Tuhan, jadi anggep aja hal itu sebagai bagian dari
ibadah juga”
“Menurutku
merefleksikan hikmah kehidupan itu jauh lebih membantu ketimbang kita hanya mendengarkan ceramah. Soalnya mereflesikan hal-hal kecil kayak nonton tivi, mendengarkan lirik lagu,kan bisa jadi pencerahan buat kita sendiri. Ketika kita melihat suatu peristiwa, kalo kita menyerapi, mengevaluasi diri trus mengambil kesimpulan,
“Kita ga punya patokan yang wajib, ya udah jalani aja senyamannya kita, ga ada paksaan, yang penting kita nyaman sih. Jadi iya, ga ada yang wajib yang harus kita jalani”
“Mungkin bisa dibilang, aku ke pura itu buat mengisi sisi spiritualku bukan tentang religiusitas atau perayaan- perayaan”
2. Memperbaiki tujuan diri dalam beribadah
“Mungkin bisa dibilang, aku ke pura itu buat mengisi sisi spiritualku bukan tentang religiusitas
itu semua kan yang pada akhirnya membentuk pola pikir dan mengisi hati kita, menurutku itu salah satu cara mengisi sisi spiritual juga” atau perayaan- perayaan” 3.Melaksanakan ibadah agama Hindu yang utama “.. intinya berusaha di jalannya Hindu tapi lebih dengan pemaknaan sendiri dan lebih ke ibadah yang utama aja..”
Gambaran emosi diri ketika memilih
agama Kristen sebagai agama pilihan 1. Merasa yakin dengan agama Kristen Gambaran emosi ketika memilih untuk tidak berkomitmen pada agama apapun
1. Merasa yakin dengan komitmen
“Aku merasa lebih yakin dan seneng aja menjalankan apa yang
Gambaran emosi diri
ketika memilih
agama Hindu sebagai agama pilihan
1. Merasakan adanya kesesuaian dengan agama pilihan
“Udah mantep banget soalnya (memilih agama Kristen) ”
“ .. udah sreg sama
agamaku (Kristen)”
2.Merasa bangga dengan agama Kristen
“ Kita punya landasan
: iman, pengharapan dan kasih, dan aku bangga menjadi
bagian di dalamnya”
menjadi keinginan dan pilihan hatiku, tanpa adanya paksaan. Rasanya lebih dapet feelnya, secara spiritualitasnya juga dapet. Walaupun ga beragama tapi rasanya jauh lebih nyaman seperti
ini”
2. Merasakan kebebasan dalam berkomitmen
“…memang aku merasa lebih bebas untuk memilih dan aku senang dengan pilihanku”
3. Mendapatkan
ketenangan hati dan
mengisi sisi
spiritualitas
yang cocok buat aku, cocok dengan pendirianku, cocok dengan kepercayaanku, aku merasa Hindu itu sangat fleksibel”
2.Merasa nyaman dengan agama yang dipilih
“Banyak pengalaman yang mungkin biasa aja buat orang tapi ngena banget buat aku, misal waktu aku nunggu giliran sembahyang diluar pura itu ujan tapi gak tau kenapa setelah aku masuk ke pura tuh jadi ga ujan, padahal cuma terpisah tembok dan sama-sama outdoor trus ngerasa tenang banget waktu
“…menjalankan apa yang menjadi keinginan dan pilihan hatiku, tanpa adanya paksaan. Rasanya lebih dapet feelnya, secara spiritualitasnya juga dapet” 4. Merasa nyaman dengan komitmen yang dipilih “Walaupun ga beragama tapi rasanya jauh lebih
nyaman seperti ini”
aku muali pakai pakaian
sembahyangnya, cium bau dupa, pokoknya tenang banget rasanya. Trus kayak misalnya aku sembahyang di pura di atas dimana udaranya dingin banget dan semua orang kedinginan tapi aku malah ngerasa nyaman, tenang dan aku bisa khusyuk tanpa ngerasa kedinginan. Hal-hal kayak gitu loh yang akhirnya bikin aku ngerasa sangat nyaman banget sama pilihanku sekarang”
3.Merasa yakin dengan agama yang dipilih
“ Udah ga peduli lagi dengan maunya masing-masing
keluarga besar ini, yang penting sekarang aku yakin dengan pilihanku” Identifikasi diri terhadap sosok panutan dalam beragama 1. Melihat Ibu
sebagai sosok yang dapat dipercaya dan menginspirasi
“Kalo teman buat bertanya ya paling Ibu”
Tidak adanya sosok
panutan dalam menjalankan komitmen pilihan sebagai identifikasi diri 1. Tidak adanya panutan
“Jadi semuanya kan berawal dari diriku sendiri gimana, orang lain itu memberi pengaruhnya itu lebih menjadi pemateri saja
Tidak adanya sosok
dalam beragama
panutan sebagai identifikasi diri
1. Tidak adanya
panutan
“Islam yang kuhadapi itu Islam yang salah, Hindu yang kuhadapi juga Hindu yang salah jadi kayak gini jadinya, aku merasa ga punya panutan”
tapi kalo pembahasan ya aku lakukan sendiri. Bukan mereka mempengaruhi aku tapi aku berusaha mengisi diriku sendiri” Memahami esensi ajaran agama Kristen sebagai wujud konsistensi dalam beragama dalam kurun
waktu yang lama
1. Memahami esensi dari agama Kristen secara lebih mendalam melalui proses
Menjaga pola pikir dan
bersikap kritis
terhadap ajaran agama atau suatu kepercayaan
sebagai wujud
konsistensi terhadap komitmen pilihan
1. Menjaga pola pikir dan terus bersikap kritis terhadap ajaran
agama yang
ditawarkan
Memahami esensi ajaran agama Hindu serta implementasi ajaran agama sebagai wujud konsistensi
dalam beragama
dalam kurun waktu yang lama
1. Memahami esensi dari agama Hindu
secara lebih
pembelajaran
“Ya mencoba buat terus taat. Pokoknya makin memperdalam dan memahami ajaran agamaku”
“Yang paling utama ya pola pikir, menjaga pola pikir dan harus selalu kritis. Banyak yang bilang agama itu pasti sempurna karena merupakan hukum Tuhan. Tapi buatku, agamapun perlu direvisi, selama kita kritis terhadap agama dan ajarannya, saya percaya saya akan menjadi lebih baik dan tetap pada pendirian saya saat ini”
proses pembelajaran
“Ya, tetap berdiri dan berjalan di pilihanku saat ini. Terus belajar mengembangkan kepercayaan yang aku yakini, pintar-pintar memilah mana yang baik dan realistis sesuai dengan ajaran yang ada, trus juga jangan lupa di praktekan”
“ ga mau menjadi orang yang ga punya identitas, karena rasanya ga enak banget, terasing, malu .. ya kayak pengalamanku SMP itu, bisa sampe stress. Makanya aku berusaha belajar, cari tau dan berkomitmen supaya ga
terulang lagi kondisi yang ga ngenakin itu”
2. Mengimplementas ikan ajaran Hindu
di dalam
kehidupan sehari- hari
Ya, tetap berdiri dan berjalan di pilihanku saat ini. Terus belajar mengembangkan kepercayaan yang aku yakini, pintar-pintar memilah mana yang baik dan realistis sesuai dengan ajaran yang ada, trus juga jangan lupa di praktekan” Kecenderungan untuk konsisten komitmen Kecenderungan untuk tidak konsisten terhadap komitmen Kecenderungan untuk tidak konsisten terhadap
beragama 1.Tidak adanya kemungkinan untuk merubah komitmen “Pindah? Aduh, enggak deh, jangan
sampe Lis”
pilihan
1. Adanya
kemungkinan untuk merubah komitmen
“Kalo ditanya mau pindah apa ga, jawabanku ga. Kalo kamu tanya pake presentase mungkin 99,9% aku mau tetap seperti ini. Tapi kita kan gak tau hari esok. Aku juga gak bisa menghindar kalo ternyata Tuhan kasih aku hidayah atau Tuhan kasih aku jodoh yang mengharuskan aku untuk memeluk suatu agama. Apapun bisa terjadi tapi untuk saat ini jawabanku tidak” komitmen pilihan 1. Adanya kemungkinan untuk merubah komitmen
“Mungkin aja, tapi mungkin itu udah dalam keadaan yang sangat kepepet, misal menikah. Makanya aku mending memilih untuk ga menikah tapi kalopun aku harus berubah, ya paling itu cuma secara status aja berubahnya tapi secara keyakinan dan kepercayaan tetap di agama yang udah aku pilih sebelumnya