Mekanisme Rantai Pasok
Rantai pasok merupakan sebuah mekanisme yang berguna untuk membantu perusahaan dalam mencapai produktivitas yang tinggi. Menurut Indrajit dan Djokopranoto (2002) konsep rantai pasok merupakan mata rantai dari penyediaan bahan baku sampai pada barang jadi. Maka dari itu, mekanisme rantai pasok yang ada di PT.
Kelola Mina Laut patut menjadi perhatian.
Bahan baku udang yang menjadi fokus utama dari pengamatan ini adalah udang vannamei ( Litopenaeus vannamei). Udang vannamei merupakan salah satu komoditas unggulan sektor perikanan. Berbagai kelebihan yang dimiliki mulai dari mudahnya membudidaya udang ini, produksi yang stabil dan relatif tahan terhadap penyakit menyebabkan sebagian besar petambak di Indonesia menggeluti usaha budidaya udang vannamei. Disamping itu, ada kelebihan lain udang vannamei, yaitu bersifat eurihalin. Udang ini mampu hidup pada perairan dengan salinitas sekitar 0,5 – 40 ppt (Bray et al. 1994 dalam Kaligis 2015). Kemampuan ini membuka peluang bagi petambak udang untuk mengembangkan budidaya vannamei di perairan darat (inland water ) bersalinitas rendah. Dengan budidaya udang vannamei di perairan bersalinitas rendah akan meningkatkan produksi komoditas ini (Kaligis 2015).
Pemasok bahan baku udang terdiri dari banyak pemasok dikarenakan bahan baku yang dibutuhkan untuk memproduksi berbagai macam produk cukup banyak sedangkan kapasitas bahan baku yang dapat dihasilkan oleh p etambak terbatas dan beragam. Ditinjau dari aspek cara memperoleh bahan bakunya, udang diperoleh melalui budidaya tambak. Pada dasarnya udang memang tersedia bebas di alam (lautan) dan dapat langsung ditangkap, namun volumenya tidak akan banyak apabila dibandingkan dengan hasil budidaya (tambak). Jenis petambak yang memasok bahan baku kepada perusahaan dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu petambak intensif dan petambak tradisional. Petambak tradisional mengelola lahan tambaknya secara sederhana mengikuti musim yang ada, sehingga produksi tidak bisa dilakukan secara terus-menerus. Selain itu, biasanya dilakukan pengurasan serta pembalikan lahan pada bulan September hingga Desember. Hal ini dilakukan agar nutrisi yang ada dapat memenuhi kebutuhan pembiakan udang kedepannya.
Kelebihan sistem tradisional ini adalah biaya produksi yang digunakan murah dan sederhana. Namun udang yang dihasilkan dari tambak tradisional rawan penyakit dan biasanya berukuran kecil. Lain halnya dengan sistem tambak intensif yang menghasilkan udang dengan ukuran besar dan sehat, serta dapat dipanen setiap saat. Kelemahan tambak
intensif adalah biaya pemeliharaannya yang cenderung tinggi. Untuk lebih jelasnya, pembagian jenis petambak dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 5 Pembagian jenis petambak udang
Manajemen Kapasitas Produksi Tujuan penjualan
Tradisional Sederhana < 100 kg Pengumpul (Pemasok)
Intensif Profesional 3-5 ton Pengumpul (Pemasok)
Model dari sistem rantai pasok yang terdapat pada PT. Kelola Mina Laut dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5 Model rantai pasok udang
Pola rantai pasok di PT. Kelola Mina Laut dimulai dari para supplier memasok bahan baku ke perusahaan. Perusahaan mengolah bahan baku tersebut sehingga
menghasilkan produk yang diinginkan, yaitu beragam produk olahan udang. Produk- produk tersebut kemudian didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia dan beberapa negara di Asia dan Eropa serta Amerika. Struktur rantai pasok produk di PT. Kelola Mina Laut dibedakan menjadi tiga aliran berdasarkan pendistribusian produk, yaitu:
I. Struktur Rantai Pasokan 1
Petambak Tradisional / Petambak Intensif → Pengumpul → PT. KML → Importir → Retailer → Konsumen
Pada aliran ini PT. Kelola Mina Laut mendapatkan pasokan udang dari petambak tradisional yang kapasitas panennya tidak terlalu tinggi sehingga perlu dikumpulkan terlebih dahulu oleh pengumpul. Petambak intensif pun juga turut menyalurkan udangnya kepada pemasok. Hal tersebut dikarenakan sistem yang pembayaran produk ekspor mendorong Petambak Tradisional Petambak Tradisional Petambak Intensif Petambak Tradisional Pengumpul PT KML Petambak Intensif Im ortir 1 Importir 2 Im ortir 3 Pengumpul Distributor Dalam Negri
Factory Outlet Konsumen Retailer Retailer Retailer Retailer Konsumen Konsumen
melakukan penundaan pembayaran terhadap bahan baku yang dikirim oleh pemasok. Produk ekspor yang dikirim perusahaan ke negara tujuan, biasanya
tiba di tempat setelah hampir satu bulan setelah waktu pengiriman. Setelah produk sampai kepada pembeli, pembeli melakukan pengecekan terkait
spesifikasi serta mutu produk yang dikirim. Setelah itu pembeli membayar kepada perusahaan melalui bank. Namun rentan waktunya tidak mencapai beberapa bulan, biasanya paling cepat dua pekan setelah perusahaan
menerima bahan baku. Kondisi tersebut tentunya membuat petambak atau pemasok mengalami kesulitan apabila tidak memiliki kemampuan finansial yang cukup baik. Hal lain yang menjadi pertimbangan mengapa para petambak tradisional dan beberapa petambak intensif menyalurkannya kepada pengumpul.Kemudian PT. Kelola Mina Laut menyalurkannya kepada para
importir di negeri penerima yang kemudian mereka mendistribusikan kepada retailer untuk dijual kepada konsumen.
II. Struktur Rantai Pasokan 2
Petambak Tradisional / Petambak Intensif → Pengumpul → PT. KML → Distributor Dalam Negeri → Retailer → Konsumen
Pada struktur ini kurang lebih sama dengan struktur yang pertama, hanya saja produk disalurkan kepada distributor dalam negri untuk dipasok kepada retailer sehingga dapat diterima langsung oleh konsumen.
III. Struktur Rantai Pasokan 3
Petambak Tradisional / Petambak Intensif → Pengumpul → PT. KML → Factory Outlet → Konsumen
Pada struktur ini kurang lebih sama seperti struktur rantai pasok pertama dan kedua, perbedaannya hanya setelah bahan baku diproses oleh PT. KML produk kemudian dipasarkan pada Factory Outlet yang dimiliki oleh PT. KML sendiri yaitu “Frozen Mart” untuk kemudian dapat dibeli oleh konsumen secara langsung.
Udang yang dipanen dari tambak tradisional kuantitasnya sedikit sehingga dikumpulkan terlebih dahulu oleh pengumpul (pemasok) sebelum dikirim ke perusahaan. Satu pengumpul dapat mengumpulkan udang dari puluhan bahkan ratusan tambak. Hal ini dikarenakan perusahaan menetapkan batas volume minimal dan kontinuitas pengiriman bagi pemasok bahan baku. Pemasok mengumpulkan udang hasil panen
tambak tradisional yang berbeda-beda ukurannya. Pemasok biasanya kurang selektif melakukan pemisahan udang yang berbeda ukuran ini, sehingga terkadang diperoleh udang dengan size yang tidak sesuai permintaan.
Petambak tradisional yang bermitra dengan PT. Kelola Mina Laut sebagian besar berasal dari daerah sekitar perusahaan, yaitu Gresik, Lamongan, dan Sidoarjo. Ada pula petambak lain yang berasal dari daerah Lampung, Makassar, Lombok, daerah Jawa Timur
lain. Pengiriman dari daerah yang dekat biasanya menggunakan mobil bak terbuka, sedangkan pengiriman dari daerah yang cukup jauh menggunakan truk.
Setiap anggota rantai pasokan mempunyai peran yang berbeda satu sama lainnya. Peran masing-masing anggota tersebut dapat dilihat dalam Tabel 7.
Tabel 6 Anggota rantai pasokan komoditi dan produk olahan udang
Tingkatan Anggota Proses Aktivitas
Produsen Petambak (tradisionaldan intensif) - Budidaya- Penjualan
Melakukan budidaya
udang di tambak dan penjualan hasil budidaya
udang kepada Supplier /tengkulak Distributor - Supplier (pemasok) - Distributor dalam negeri
- Importir luar negeri
- Pembelian - Sortasi
- Penyimpanan - Penjualan
Melakukan pembelian
udang dari petambak;
melakukan proses sortasi udang ukuran ( size) sesuai
permintaan perusahaan;
melakukan penyimpanan
untuk mempertahankan
kesegaran; dan menjual udang hasil sortasi ke perusahaan
Manufaktur Perusahaan (PT.Kelola Mina Laut)
- Pembelian - Sortasi - Pengolahan - Penjualan
Melakukan pembelian
udang dari petambak;
sortasi berdasarkan ukuran,
tingkat kesegaran dan
kelengkapan organ tubuh,
serta uji kimiawi;
melakukan proses
pengolahan udang; dan
menjual hasil olahan
kepada importir atau
retailer
Ritel - Factory Outlet
- Supermarket
- Pembelian - Penyimpanan - Penjualan
Melakukan pembelian dari
perusahaan dan
menjualnya lagi ke
konsumen
Konsumen Masyarakat umum Pembelian Melakukan pembelian
Entitas Rantai Pasok
1)
ProdukUdang merupakan komoditas perairan yang dapat diolah menjadi berbagai macam produk olahan. Udang sebagai komoditas perairan memiliki sifat yang mudah rusak, sehingga produk beku lebih diutamakan dalam perdagangan internasional. Produk-produk yang diproduksi PT. Kelola Mina Laut memiliki kualitas yang baik sehingga dapat memasuki pasar internasional. Produk-produk tersebut diproses secara higienis sehingga kualitasnya terjaga. PT. Kelola Mina Laut selalu memerhatikan mutu, oleh karena itu setiap bahan yang telah melewati satu tahap menuju tahap selanjutnya akan diperiksa. Jenis-jenis produk hasil olahan udang yang terdapat di PT. Kelola Mina Laut dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 7 Produk-produk hasil olahan udang PT. Kelola Mina Laut
Produk Keterangan
Cooked Peeled Tail On (CPTO)
Udang tanpa kepala yang dikupas kulitnya, diambil ususnya, lalu dimasak (dengan uap panas). Satu ruas kulit terakhir dan ekor masih utuh.
Cooked Peeled Undeveined (CPUD)
Udang tanpa kepala yang dikupas seluruh kulitnya dan dimasak (dengan uap panas). Cooked Peeled Deveined
(CPD)
Udang tanpa kepala yang dikupas seluruh kulitnya, diambil ususnya, dan dimasak (dengan uap panas).
Peeled Deveined Tail On (PDTO)
Udang tanpa kepala yang dikupas kulitnya, diambil ususnya, tanpa dimasak. Satu ruas kulit terakhir dan ekor masih utuh.
Peeled Deveined (P&D)
Udang tanpa kepala yang dikupas seluruh kulitnya dan diambil ususnya tanpa dimasak
Peeled Undeveined (PUD) Udang tanpa kepala yang dikupas seluruh
kulitnya tanpa dimasak. Easy Peel
Udang tanpa kepala yang kulitnya utuh, hanya diambil ususnya, dan dibelah di bagian punggung
Head On Udang yang masih memiliki kepala, ditata rapi, lalu dibekukan.
Head Less Udang tanpa kepala, ditata rapi, lalu
dibekukan. Peeled Deveined Tail On
Butterfly
Udang tanpa kepala yang dikupas kulitnya, diambil ususnya, tanpa dimasak. Satu ruas kulit terakhir dan ekor masih utuh. Daging dibelah kemudian dilebarkan PDTO Skewer
(Peeled Deveined Tail On Skewer)
Udang tanpa kepala yang dikupas kulitnya, diambil ususnya, tanpa dimasak. Satu ruas kulit terakhir dan ekor masih utuh. Ditusuk seperti sate.
PD Skewer
(Peeled Deveined Skewer)
Udang tanpa kepala yang dikupas seluruh kulitnya, diambil ususnya, tanpa dimasak. Ditusuk seperti sate.
Penjualan rata-rata produk-produk olahan udang mencapai 300 sampai 500 ton dalam satu bulan. Hasil samping seperti kulit udang dan kepala udang dapat digunakan untuk produk lokal atau dijual ke penadah yang selanjutnya dapat diolah menjadi pakan ternak, terasi, dan petis. Pemanfaatan hasil samping komoditi ikan kakap dan udang dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 8 Produk olahan hasil samping udang
Hasil Samping Hasil Olahan
Kepala Udang Pakan ternak, terasi, petis
Kulit Udang Pakan ternak, chitosan
2) Pasar
Sekitar 90% produk hasil olahan udang yang diproduksi PT. Kelola Mina Laut dijual ke pasar internasional. Tujuan utamanya adalah Amerika Serikat dan Jepang yang permintaan terhadap udang terbilang besar. Selain kedua negara tersebut, PT. Kelola Mina Laut mengirim produknya ke Korea, Cina, Eropa, Timur Tengah, Australia, Selandia Baru, dan negara-negara di Afrika. Sebagian besar dari importir-importir akan menjual komoditinya ke supermarket atau toko ritel. Konsumsi masyarakat di negara-negara tersebut terhadap produk perikanan terbilang tinggi, sehingga terkadang permintaan dari pembeli tidak dapat dipenuhi
oleh PT. Kelola Mina Laut. Negara-negara yang menjadi tujuan penjualan produk udang PT. Kelola Mina Laut dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6 Negara-negara tujuan penjualan PT. Kelola Mina Laut 3) Pemangku Kepentingan
Pihak-pihak yang terlibat dalm rantai pasok komoditi dan produk udan g atau pemangku kepentingan pada dasarnya termasuk ke dalam anggota rantai pasokan baik secara langsung ataupun secara tidak langsung. Pemangku kepentingan yang
terlibat dalam rantai pasok komoditi dan produk udang antara lain petambak, supplier, perusahaan jasa transportasi, perusahaan pembuat es, perusahaan produsen kemasan, perusahaan jasa kontainer, dan pemerintah. Pada sistem ini, pemerintah berwenang memberikan regulasi dan izin pelayaran bagi para nelayan dan izin ekspor untuk mengirimkan barang ke luar negeri
Kemitraan
Permintaan pasar terhadap produk olahan udang terbilang tinggi. Perusahaan yang menekuni bisnis produk olahan udang pun tidak h anya digeluti oleh PT. Kelola Mina Laut saja sehingga memunculkan persaingan bisnis. Salah satu faktor yang dapat membantu perusahaan memenangkan persaingan tersebut adalah kemampuan memberi pasokan
kepada pembeli secara terus-menerus (konsisten). Ada beberapa kebijakan yang dapat ditempuh oleh PT. Kelola Mina Laut untuk membuat hal tersebut dapat dipenuhi. Seperti bersaing dengan cara mematok harga tinggi kepada petambak atau supplier sehingga
mereka akan memberikan udangnya kepada PT. Kelola Mina Laut. Cara ini memang praktis dan sangat ampuh, namun apabila perusahaan menerapkan cara ini terus-menerus,
PT. Kelola Mina Laut akan jatuh pada efisiensi karena akan banyak uang yang dikeluarkan. Saat jumlah udang melimpah, maka petambak atau pemasok akan enggan
menurunkan harga terlalu jauh dari harga normal yang telah biasa dibayarkan, sehingga secara perlahan-lahan perusahaan akan kalah bersaing.
PT. Kelola Mina Laut menerapkan cara agar dapat menyediakan pasokan secara konsisten adalah penerapan pola kemitraan dengan baik sehingga membuat petambak atau pemasok setia mengirimkan udang kepada perusahaan. Ketika udang sedang melimpah, PT. Kelola Mina Laut membeli semua udang yang dikumpulkan pemasok dengan harga yang wajar. Efeknya, ketika udang sedikit, petambak atau pemasok biasanya juga bersedia untuk tidak menaikkan harga terlalu tinggi. Kondisi ini akan menggiring kepada sebuah sistem dimana petambak atau pemasok hanya akan memasok udang atau ikan ke satu perusahaan saja, yaitu PT. Kelola Mina Laut.
Pengadaan Bahan Baku
PT. Kelola Mina Laut dalam proses produksinya membutuhkan bahan baku utama yaitu udang. Ketersediaan bahan baku tersebut baik secara ketepatan waktu dan jumlah akan mempengaruhi kecepatan proses produksi. Untuk mencegah keterlambatan dan ketidaktersediaan bahan baku perlu diadakan perencanaan produksi sehingga dapat diketahui jumlah bahan baku yang akan dipesan berdasarkan jumlah produk yang akan dihasilkan atau diproduksi. Bahan baku tersebut diperoleh dari mitra perusahaan yang telah terpercaya. Proses pengadaan bahan baku didasarkan pada peramalan ( forecasting ) dan ketersediaan ( stock ) bahan baku yang terdapat di gudang penyimpanan. Mekanisme perencanaan pengadaan bahan baku dapat dilihat pada Gambar 7.
Gambar 7 Mekanisme pengadaan bahan baku
Bagian Marketing melakukan kontrak penjualan dengan pembeli. Kemudian, Marketing memberikan data kepada bagian PPIC untuk kemudian diolah menjadi data perencanaan produksi terkait dengan perhitungan jumlah setiap jenis produknya. Perencanaan produksi dilakukan selama sebulan kedepan berdasarkan peramalan terhadap ketersediaan bahan baku udang di gudang maupun di tambak. Pasokan udang akan melimpah pada bulan Desember hingga April. Hal ini diakibatkan para petambak sedang melakukan panen raya sebelum akhirnya dilakukan pembalikan tambak untuk mengembalikan nutrisi. Hal tersebut yang membuat pasokan udang fluktuatif. PT. Kelola
Forecasting Bagian PPIC Supplier Bagian Purchasin Gudang Supplier Bagian Marketing Kontrak Penjualan
Mina Laut sangat meminimalisir ketersediaan bahan baku udang untuk disimpan di dalam gudang, hal tersebut dikarenakan apabila bahan baku udang disimpan dalam bentuk beku akan mengurangi kualitasnya. Biasanya persediaan disimpan dalam bentuk hasil olahan namun hanya sekedar untuk buffer stock. Setelah mendapatkan jumlah kebutuhan, selanjutnya bagian PPIC akan menghubungi bagian Purchasing untuk memesan kebutuhan udang tersebut kepada para supplier .
Bagian Purchasing bertanggung jawab untuk memenuhi bahan baku dengan cara mendapatkannya dari supplier yang terpilih. Pemilihan supplier didasarkan pada jenis udang, kapasitas panen tambak, dan track record dari petambak tersebut apakah selama ini selalu datang tepat waktu dan tidak menggunakan antibiotik pada udang secara berlebihan.
Penerimaan Bahan Baku
Bahan baku yang diantarkan oleh supplier diterima oleh tim receiving . Pada bagian ini dilakukan sortasi udang secara kasar untuk memisahkan udang sesuai dengan
standarnya dan memisahkannya juga dari kotoran (kayu, rumput, hewan lain, dll). Sortasi tersebut dilakukan secara organoleptik (tampilan dan bau). Udang yang masih segar, dagingnya kenyal, dan tidak ada kerusakan serta kecacatan fisik maka udang tersebut dikategorikan ke dalam 1st grade. Apabila terdapat kerusakan seperti mengalami gencetan, daging tidak kenyal, cacat fisik (kaki putus, badan hanya sebagian) dan kulit mulai memerah maka udang tersebut dikategorikan below standard . Untuk udang yang memiliki bau busuk tidak akan diterima oleh PT. Kelola Mina Laut dan akan dikembalikan kepada supplier . Selain itu pada lini ini juga dilakukan pengukuran global size dari udang tersebut, yaitu dengan melakukan sampling pada setiap sepuluh keranjang diambil udang dari masing-masing keranjang secukupnya untuk kemudian dihitung berapa bobotnya (dalam kilogram) dan dihitung berapa pieces udang yang terdapat di dalamnya. Global size didapat dengan perbandingan jumlah udang per kilogram ( pcs/kg), panduan ukuran udang dapat dilihat pada Lampiran 4. Jumlah udang yang akan dibayarkan oleh PT. Kelola Mina Laut merupakan jumlah udang yang telah diterima dan telah melalui proses sortasi kasar (tidak termasuk reject ) dan dengan mempertimbangkan global size dari keseluruhan udang yang masuk. Pada lini ini juga dilakukan uji mikrobiologis yang dilakukan oleh tim Quality Control (QC) dan staff lab. Perusahaan pada umumnya melakukan pengujian mutu sebelum menerima barang tersebut, namun di PT. Kelola Mina Laut barang disortir sambil dilakukan uji oleh tim QC. Hal itu dilakukan dengan tujuan efisiensi waktu dikarenakan tim QC telah memiliki pemetaan terhadap supplier yang memiliki track record kualitas mutu yang baik sehingga dapat langsung dilaksanakan bersamaan. Udang
yang telah disortir kemudian akan langsung memasuki lini Pemotongan Kepala (PK). Secara garis besar, proses penerimaan bahan baku dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar 8. Mekanisme penerimaan bahan baku udang
Gambar 9 Penerimaan bahan baku udang
Penyimpanan dan Penanganan Bahan Baku
Penyimpanan bahan baku di PT. Kelola Mina Laut dilakukan untuk menjaga pasokan bahan baku udang agar dapat tersedia apabila suatu saat dibutuhkan. Bahan baku
udang disimpan dalam bentuk beku dan diletakkan di dalam cold storage dengan -25 oC. Kualitas bahan baku dipengaruhi oleh penanganan selama penerimaan dan penyimpanan. Penanganan bahan baku di PT. Kelola Mina Laut dilakukan menggunakan beberapa peralatan penanganan bahan sebagai penunjang kegiatan transportasi dan penyimpanan bahan baku.
a. Pallet
Pallet merupakan alat penanganan bahan yang digunakan untuk pemindahan ataupun penyimpanan barang. Pallet berperan sebagai pondasi Supplier
Sortasi kasar
Pengukuran Global Size dan
penegecekan kualitas Pemotongan Kepala Tidak Ya
struktural beban unit yang memungkinkan penanganan bahan menjadi lebih mudah. Umumnya pallet mempunyai bentuk persegi dan terbuat dari kayu atau plastik. Kuantitas bahan yang diletakkan pada pallet berbeda-beda tergantung pada kapasitas penumpukan bahan dan pola penumpukkan. Pada pemindahan bahan baku, biasanya digunakan pallet plastik. Penggunaan pallet plastik digunakan untuk penanganan bahan baku yang dalam prosesnya banyak menggunakan air. Sedangkan pallet kayu banyak digunakan untuk pemindahan dan penyimpanan produk jadi.
Gambar 10 Pallet kayu dan pallet plastik Sumber: akflow.com dan ipac.com.my b. Handlift
Handlift merupakan alat yang digunakan untuk memindahkan produk dalam jumlah tidak terlalu banyak, terbuat dari besi dengan dua garpu yang berfungsi sebagai bantalan beban. Bagian yang memilik peran penting agar handlift dapat digunakan sesuai fungsinya terletak pada bagian pemompa. Bagian pemompa inilah yang mengendalikan sirkulasi aliran hidrolik untuk mengangkat beban. Penggunaan handlift di PT. Kelola Mina Laut untuk memindahkan bongkahan es, bak penampungan, dan produk jadi dari dalam cold storage ke area loading dock .
Gambar 11 Handlift Sumber: tradeboss.com c. Keranjang plastik
Keranjang berbahan plastik yang digunakan terdiri dari berbagai macam ukuran sesuai dengan kebutuhan. Keranjangan plastik digunakan untuk menemptkan udang setelah proses potong kepala, sortir, dan pencucian udang.
d. Bak penampungan
Bak penampungan digunakan untuk menyimpan udang yang belum sempat diproses dan untuk proses soaking .