• Tidak ada hasil yang ditemukan

D. KOMISI D/PEMBANGUNAN

3) Rapat Kerja/Dengar pendapat 3 kali

a) Tanggal 1 September 2003, pukul 11.15 wib bertempat di ruang rapat Komisi D melaksanakan Rapat kerja dengan Kepala Dinas Perhungan Propinsi Sumbar dan Kepala Jembatan Timbang di Sumbar.

Kesimpulan dan Saran

(1) Perlu segera disyahkan Ranperda tetang Kelebihan Muatan di Jembatan Timbang untuk menjadi Perda yang sampai saat sekarang ini

masih belum selesai pembahasannya, untuk itu diharapkan kepada Pansus yang berkaitan dengan Ranperda tersebut agar dapat menyelesaikan Ranperda tersebut dalam waktu tidak begitu lama. Permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan tertundanya pengesahan Ranperda tersebut agar dapat dicarikan solusinya.

(2) Perlu ditingkatkan pendataan barang keluar masuk di JTO dan pelaporannya agar dilakukan sesuai dengan petunjuk. Untuk pelaksanaan tesebut agar didukung dengan sarana dan prasarana yang cukup seperti pengadaan komputer, SDM serta pemondokan bagi para petugas JTO. Dan perlu adanya gudang untuk dapat menampung jika terjadi kelebihan muatan dimana yang bersangkutan tidak dapat membayar retribusi sesuai dengan peraturan.

(3) Perlu peningkatan sumber Daya Manusia petugas Jembatan Timbang Oto (JTO) tersebut, mengingat tugas-tugas pada masa mendatang kwalitasnya bertambah berat dan meningkat. Disamping itu jumlah petugas/karyawan perlu ditambah sehingga ada waktu istirahat untuk menjaga stamina dari para petugas tersebut.

(4) Perlu dialokasikan anggaran untuk biaya Operasional bagi JTO, dalam rangka meningkatkan kinerja dan operasionalnya untuk menghilangkan pandangan negatif dari masyarakat terhadap petugas jembatang timbang oto.

Untuk menambah PAD maka perlu dibuat Perda yang berkaitan dengan Retribusi terhadap Kendaraan keluar masuk pada jembatan timbang oto tersebut.

b) Tanggal 20 September 2003, pukul 09.00 wib, tempat ruang rapat Komisi D mengadakan rapat kerja dengan Walikota Padang, Bupati Padang Pariaman, Ka. Dinas Perhungan, Ka. Dinas Prasaran Jalan Propinsi Sumbar, acara membicarakan permasalahan Pembangunan Bandara Kataping dan pelebaran Jalan Tabing– Duku.

(1) Pelebaran Jalan Tabing-Duku sebagai sarana pendukung dari pengoperasian Bandara Kataping yang berkaitan dengan permasalahan ganti rugi tanah, bangunan dan lahan masyarakat yang terkena proyek pelabaran jalan Tabing-Duku telah selesai pelaksanaan ganti rugi yang dilakukan oleh Pemrintah Daerah. Jumlah dana yang dialokasikan untuk pembangunan pelebaran jalan Tabing–Duku ini adalah sebesar Rp 74 Milyard yang digunakan masing-masing 43 Milyard untuk pembangunan fisik jalan dan Rp 31 Milyard untuk

penggantian rugi tanah, bangunan dan lahan masyarakat yang terkena pelebaran jalan tersebut.

Dana tersebut berasal dari Bank Dunia sebesar Rp 35 Milyad, APBN sebesar Rp 32 Milyard dan APBD Propinsi sebesar Rp 7 Milyard. Pada saat sekarang ini masih dalam taraf pelaksanaan proyek pembangunan dan diharapkan telah selesai proyek tersebut sebelum Bandara Kataping dioperasikan pada awal tahun 2005.

(2) Pembangunan Bandara Kataping yang dananya sebesar Rp 700 Milyard sudah selesai sekitar 30 %. Dan diperkirakan siap dioperasionalkan pada bulan Februari 2005.

Bandara Kataping ini akan besar manfaatnya.

Terminal Regional Bingkuang yang sekarang ini belumdapat beroperasi secara maksimal. Diharapkan dengan beroperasi Bandara Kataping diharapkan masalah Terminal Regional Bingkuang dapat secara berangsur-angsur teratasi dengan melakukan pelebaran jalan-jalan alternatif antara Jalan By Pass dengan Jalan Tabing-Duku misalnya Jalan Simpang Kalumpang, Jalan Simpang Tabing, sehingga lalu lintas angkot menjadi lancar

c) Tanggal 25 September 2003, pukul 10.00 wib Komisi D mengadakan rapat kerja dengan Walikota Sawahlunto, Ka, Dinas Pertambangan Kota sawahlunto, Bupati Swl/Sijunjung, Ka. Dinas Pertambangan Kab. Swl/Sijunjung, Ka. Dinas Pertambangan dan Energi Prop. Sumbar, Ka. Bapedalda Prop Sumbar, Pimpinan PT. BA. UPO, Pimpinan PT. Semen Padang, Pimpinan AIC, Pimpinan PLTU Sijantang, acara membicarakan masalah lingkungan Hidup yang barkaitan dengan penambangan Batu Bara.

Kesimpulan

(1) Beberapa Perusahaan Pemegang Kuasa Pertambangan (KP) hanya menggunakan KP Pengangkutan dan Penjualan saja sedangkan KP Explorasi dan Eksploitasinya tidak dilaksanakan. Pemegang KP tersebut hanya menerima Batu Bara dari Penambang Tanpa Izin (PETI), sehingga perlu dipertanyakan siapa yang menanggung retribusi dan royalty yang berkaitan dengan Explorasi, Exploitasi dan pengangkutan serta penjualan batu bara tersebut.

(2) PT Semen Padang dan PLTU Sijantang adalah pemakai Batu Bara terbesar di Propinsi Sumatera Barat. Perusahaan tersebut menerima batu bara dari PETI (Penambang Tanpa Izin)

(3) Reklamasi dan penanganan dampak lingkungan secara luas pada bekas penambangan batu bara serta dampak dari perusahaan pengguna batu bara di Sumatera Barat, belum terkelola dengan baik. Seperti yang terjadi : Pada areal penambangan PT. BA. UPO, PT. AIC.

Dampak debu dan emisi gas yang ditimbulkan pemakai, seperti PLTU Ombilin dan PT Semen Padang.

(4) Lahan yang dibuka PT. BA. UPO masih ditemui areal bekas tambang seluas 126.109 ha yang masih harus dilakukan reklamasi. Kondisi itu berdampak langsung terhadap peningkatan erosi air pemukaan dan penurunan kawalitas air sungai.

Pada bekas lahan penambangan tsb, seluas 91.349 ha ditambang lagi oleh PETI (Penambang Tanpa Izin). Hal itu dilakukan karena mereka beranggapan bahwa PT. BA. UPO tidak menambang lagi pada lokasi tersebut. Hal ini dianggap bahwa pihak PT BA UPO telah melepaskan tangung jawab untuk melakukan reklamasi terhadap lahan yang bekas ditambang.

PT. BA. UPO tetap mengupayakan akan melakukan reklamasi lahan bekas tambang tersebut, namun hal ini terkendala oleh aktivitas PETI (penambang tanpa izin) yang justru merusak lahan yang telah direklamasi.

(5) Masih adanya kegiatan penambang rakyat yang beroperasi di kawasan Kuasa Penambangan PT BA UPO dengan jumlah 396 lubang 1188 orang, dengan perincian :

- Di Daerah Barrier Pillar = 179 lubang ( 537 orang) - Di Daerah bukan Barrier Pilar = 217 lubang (651 orang). Kondisi penambang batu bara di sepanjang Barrier Pilar sudah tahap membahayakan akibat aktifitas tambang rakyat (bahaya longsor dan ledakan Gas berdampak terhadap keselamatan jiwa dan kelangsungan UPO di Sawahlunto) serta Masyarakat yang berada dekat daerah Barrier Pillar.

Saran-saran PT BA UPO.

(1) Agar para Perusahaan pengguna Batu Bara PT Semen Padang dan PLN Sijantang dalam menentukan syarat-syarat Perusahaan yang dapat memasok Batu Bara selain mempunyai KP dan persyaratan-persyaratan lainnya agar dilampirkan surat bukti bahwa perusahaan tersebut telah melakukan pembayaran retribusi dan royalty untuk menjaga lingkungan hidup di wilayah tersebut sehingga kerugian-kerugian yang ditimbulkan oleh PETI

(Penambang Tanpa Izin) yang yang lingkungan hidup menjadi terganggu dapat didanai dari retribusi dan royalty yang diterima dari Perusahaan pemegang KP.

(2) Diharapkan kepada Instansi terkait Kepolisian Republik Indonesia, Dinas Pertambangan, Bupati dan Walikota untuk melarang PETI (Penambang Tanpa Izin) yang beroperasi di Daerah Barrrier Pillar yang pada saat sekarang ini terdapat 79 lubang yang sedang ditambang oleh PETI, agar dapat ditertibkan karena sangat membahayakan terjadinya ledan gas, bahaya longsor, misalnya :  Di Lokasi Waringin, Sawah Rasau sudah menembus lubang

penambangan lama yang menyimpang banyak gas berbahaya.  Di Daerah Langkok sampai dengan Sungai Durian pengupasan

tanah penutup juga terjadi di sekitar daerah Barrier Pillar.  Jalur tiang jaringan listrik yang rawan longsor

Dokumen terkait