DIREKTUR JENDERAL PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN KEMENTERIAN PUPR (Dr. Ir. EKO DJOELI HERIPOERWANTO, MCP.):
Baik terima kasih kami lanjutkan.
Setelah kami tadi menyampaikan bahwa terima kasih terhadap niat baik yang diberikan kepada kami. Bapak-bapak dan Ibu-ibu juga menyampaikan mengenai perlunya kredibilitas ya dibangun sejak awal beroperasinya BP TAPERA. Ini kami catat ya dan kami ingin juga jelaskan mengenai organisasi BP TAPERA.
Jadi selain diatur di undang-undang juga mekanisme pengangkatan komisioner, Deputi Komisioner itu juga diatur di sana. Bahkan kalau kami boleh cerita ya bahwa dalam pembahasan RUU TAPERA tempo hari, itu memang sempat ada acara fit and proper ya, tapi kemudian dibatalkan oleh forum yang di pembahasan di sana ya dan diserahkan kepada pemerintah.
Untuk itu kemudian pemerintah ya mengatur ya pemilihan dari komisioner Deputi Komisioner ini di dalam Perpres-nya Nomor 9 Tahun 2018
ya. Itu kira-kira seperti itu dan ini mohon diingat kembali bahwa Undang-undang TAPERA ini dulu adalah memang inisiatif DPR. Sehingga tadi banyak Bapak Ibu sekalian dari yang hadir di sini menyampaikan bahwa dulu ikut menyusun itu memang betul.
Lalu kemudian Bapak Ibu sekalian di dalam organisasi itu kemudian pemerintah memberikan modal awal yang besarnya Rp.2,5 Triliun ya. Uang itu untuk apa? Itu adalah untuk operasionalnya BP TAPERA, untuk menggaji komisioner Deputi Komisioner dan seterusnya.
Yang kemudian kalau simpanan tadi yang tabungan yang nanti akan dipungut itu tidak diotak atik sama sekali untuk operasionalnya organisasi ini, jadi terlepas. Pemerintah sudah berikan itu, dana sebesar Rp.2,5 Triliun itu sudah ya, itu namanya modal awal ya. Jadi ini sudah ada, jadi mereka dijamin mestinya harusnya ya memang tidak otak atik operasional dan itu dilarang untuk menggunakan dana operasional yang berasal dari simpanan ya.
Lalu kemudian mengenai bagaimana BP TAPERA nanti bekerja. Tentu teman-teman di BP TAPERA nanti bekerja berdasarkan koridor kebijakan pemerintah ya. Jadi ada beberapa yang disebutkan tadi misalnya saja pembatasan mengenai MBR itu memang nanti pemerintah Tidak bisa BP TAPERA kemudian membuat sendiri batasan mengenai MBR ya. Dan batasan MBR selama ini kami melakukan pengkajian ada kertas kerja dan seterusnya dengan mempertimbangkan bermacam-macam masukan, ya itu yang kami buat.
Lalu kemudian selain mengenai MBR itu, tentu tadi juga terakhir diingatkan oleh Bu Neng ya bahwa terkait misalnya apakah ada subsidi atau tidak. Jadi begini, kami sangat sangat menginginkan dan BP TAPERA bisa menjalankan program perumahan itu dengan bunga murah, itu adalah tantangan di Indonesia memang. Jadi menghadirkan bunga murah. Kalau selama ini bunga murahnya adalah melakukan menjalankan program FLPP dan memberikan subsidi.
Nah nanti BP TAPERA dengan inisiatifnya dengan inovasinya harus membuat bunga itu murah. Kalau sekarang benchmark-nya bunga murah misalnya FLPP katakanlah 5%. BP TAPERA harus bisa jalankan itu ya, tanpa uang pemerintah lagi ya, itu yang diinginkan oleh pemerintah. Jadi kebijakan itu kita berharap tetap continue ke depan jadi tidak ada lagi misalnya nanti ada produk BP TAPERA tapi kok bunganya di atas 5% ya mending pakai subsidi pemerintah, nah itu tidak akan ada lagi. Kami berusaha menjamin mengenai hal itu.
Nah Bapak Ibu sekalian.
INTERUPSI WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Hj. NURHAYATI/FPPP): Pak Dirjen, saya boleh tanya?
DIREKTUR JENDERAL PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN KEMENTERIAN PUPR (Dr. Ir. EKO DJOELI HERIPOERWANTO, MCP.):
Baik.
WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Hj. NURHAYATI/FPPP):
Apabila dana TAPERA ini dijadikan FLPP di bank seperti apa? Karena kan kalau FLPP sekarang bank mempunyai kewajiban menambahkan kan? DIREKTUR JENDERAL PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN KEMENTERIAN PUPR (Dr. Ir. EKO DJOELI HERIPOERWANTO, MCP.):
Iya.
WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Hj. NURHAYATI/FPPP):
Jadi kalau pemerintah menyimpan dana mereka harus menyiapkan minimum 30% begitu?
DIREKTUR JENDERAL PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN KEMENTERIAN PUPR (Dr. Ir. EKO DJOELI HERIPOERWANTO, MCP.):
Ya.
WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Hj. NURHAYATI/FPPP):
Nah kalau TAPERA ini dimasukkan ke dalam FLPP itu juga bisa kan? Karena bunganya sudah flat 5% jangka waktu panjang dan juga bank harus menyiapkan juga di situ dana.
DIREKTUR JENDERAL PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN KEMENTERIAN PUPR (Dr. Ir. EKO DJOELI HERIPOERWANTO, MCP.):
Ya, jadi begini bu, mohon izin.
Itu nanti sangat tergantung kepada kreativitas teman-teman di BP TAPERA, apakah akan dikelola ala FLPP atau ada model lain yang bisa memberikan jaminan manfaat yang lebih besar kepada MBR, jadi itu. Nah mumpung ini menyebut FLPP. Jadi begini mohon maaf kalau kemarin kebetulan ada teman dari PPDPP hadir yang itu tanpa diundang ya.
Saya sendiri juga mendapat undangan acara kemarin, tapi yang mengundang adalah APERNAS Jaya. Saya yakin juga teman-teman di PPDPP yang mengundang adalah APERNAS Jaya. Di situ disebutkan diminta untuk menjadi narasumber. Saya tidak hadir, karena mestinya kalau saya
resmi diundang oleh DPR organ DPR kan begitu oleh Sekretaris DPR kan begitu ya, tapi teman saya hadir. Mohon maaf mengenai hal itu dan kalau ada informasi yang salah nanti kita luruskan ya.
Nah PPDPP ini adalah BLU ya, bukan Satker ya, ini adalah BLU (Badan Layanan Umum). Mereka menjalankan FLPP ya untuk ada dana pemerintah di situ. Kemudian nanti di-blend dengan dana perbankan dan kemudian juga di-blend juga dari dana SMF. Ya itu yang terjadi sekarang FLPP.
Nah yang dialihkan itu bukan programnya, tetapi dananya. Nah dananya apa, tadi Bapak Ibu sekalian sempat sebut Rp.11 Triliun dan seterusnya itu adalah posisi dana tahun ini Rp.11 Triliun. Sebetulnya akumulasi dari FLPP selama sejak berdiri tahun 2010 itu adalah sekitar Rp.41 Triliun. Itu yang akan dialihkan sebagai porsi pemerintah di BP TAPERA ya kira-kira.
Jadi pemerintah kan memberi kerja, porsi itulah yang akan diambilkan dari dana itu. Seperti juga kalau swasta ya pemberi kerja membayar, kemudian pekerjanya juga membayar, ini kan juga nanti begitu. Kami misalnya ASN kami membayar tetapi ada porsi pemerintah yang juga di situ. Nah itu diambilkan dari dana FLPP tadi yang sudah terkumpul sejak 2010.
Nah mengenai dana yang 2011 ya itu kami laporkan di sini ya sampai dengan hari ini itu sudah mendanai sekitar 75.000 untuk tahun ini. Ya unit ya itu rumah subsidi ya dan mohon maaf tadi ada juga yang menanyakan kenapa ini jarang diangkat di forum di Komisi V. Nah sekali lagi mohon maaf bahwa FLPP itu adalah bagian anggaran 999. Jadi kami melapornya di sana dan itu adalah melalui Menteri Keuangan. Jadi bukan di tempat kami bukan BA.
INTERUPSI F-PG (DRS. HAMKA BACO KADY, M.S.): Interupsi Pimpinan.
Saya lagi-lagi tidak sangat keberatan kalau tidak dilaporkan, apapun undang-undangnya harus di sini pak. Saya kalau itu saya tahu bahwa itu dari BUN, mungkin dari BUN, tapi laporannya di sini bapak. Tidak boleh tidak dilaporkan di sini, itu undang-undang. Tidak bisa dong, contoh BMKG dapat bantuan Rp.908 Miliar yang lalu harus dilaporkan di sini pak. Tidak boleh pak, sumbernya dari mana tidak jelas nantinya ya. Jangan begitu dong ya Pak Dirjen, saya protes itu dan saya tidak setuju oke.
DIREKTUR JENDERAL PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN KEMENTERIAN PUPR (Dr. Ir. EKO DJOELI HERIPOERWANTO, MCP.):
Kami bukan tidak melaporkan pak, kami melaporkan pak, tapi memang tidak detil ya.
Jadi Bapak Ibu sekalian.
Kami lanjutkan tadi juga ada pertanyaan mengenai yang terkait dengan setiap pekerja dan pekerja mandiri ini yang berpenghasilan itu memang diwajibkan sebagai peserta ya. Jadi BP TAPERA targetnya ini adalah peserta. Nah tadi memang kalau misalnya ada pertanyaan apakah boleh misalnya MBR non-peserta ya itu mendapatkan fasilitas layanan manfaat dari TAPERA?
Nah undang-undang-nya tidak mengatakan begitu ya. Jadi ini ada kecuali suatu saat nanti ada pengaturan lain ya. Tapi sampai dengan saat ini manfaat ini hanya diberikan hanya kepada peserta kira-kira. Dan peserta itu bisa peserta baik pekerja formal maupun informal dan kepesertaan yang sifatnya mandiri kira-kira seperti itu.
INTERUPSI WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Hj. NURHAYATI/FPPP): Pak, mohon pertanyaan saya bahwa di BPJS ketenagakerjaan juga ada manfaat perumahan pak.
DIREKTUR JENDERAL PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN KEMENTERIAN PUPR (Dr. Ir. EKO DJOELI HERIPOERWANTO, MCP.):
Betul-betul.
WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Hj. NURHAYATI/FPPP):
Berarti kan peserta ini yang sudah dipotong juga BPJS ketenagakerjaan kan?
DIREKTUR JENDERAL PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN KEMENTERIAN PUPR (Dr. Ir. EKO DJOELI HERIPOERWANTO, MCP.):
Ya betul.
WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Hj. NURHAYATI/FPPP):
Nah di situ ada manfaat perumahan, nah sekarang mereka juga dipotong untuk manfaat perumahan tersendiri begitu loh pak. Nah makanya yang saya ingin ketahui apa ini benang merahnya antara BPJS ketenagakerjaan yang manfaat perumahan dengan TAPERA sendiri? Artinya TAPERA hadir tidak menyelesaikan masalah backlog secara keseluruhan kan, hanya orang yang berpenghasilan.
Pertanyaan kami adalah kalau orang yang informal yang tidak mempunyai penghasilan tetap bagaimana mereka bisa mendapatkan rumah dari pemerintah karena pemerintah harus hadir di sini? Bagaimana pak? Apakah itu tetap dilakukan subsidi? Karena dengan adanya TAPERA bapak bilang pemerintah diharapkan tidak memberikan subsidi kembali.
Nah kami ingin mengetahui yang informal ini bagaimana pak yang tidak punya penghasilan begitu? Yang tidak mempunyai pemberi kerja begitu. Jadi itu yang kami ingin ketahui bahwa kami inginnya TAPERA ini juga bisa menyentuh karena rakyat-rakyat yang memang tidak bankable tadi pak. Jadi ada wadah dari pemerintah yang bisa menyentuh langsung kepada masyarakat begitu.
DIREKTUR JENDERAL PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN KEMENTERIAN PUPR (Dr. Ir. EKO DJOELI HERIPOERWANTO, MCP.):
Baik bu, terima kasih.
Jadi sebagaimana tadi sudah disampaikan bahwa kepesertaan dari BP TAPERA ini adalah mulai dari yang upah minimum regional sampai katakanlah tadi disebut angka 8.000.000. Bagaimana yang di bawah itu? Yang di bawah itu nanti masih tanggung jawab pemerintah ibu ya, masih tanggung jawab pemerintah yang di bawahnya UMP yang tidak bisa dilayani. WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Hj. NURHAYATI/FPPP):
Tapi apa bentuknya pak?
DIREKTUR JENDERAL PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN KEMENTERIAN PUPR (Dr. Ir. EKO DJOELI HERIPOERWANTO, MCP.):
Oh kalau begini jadi idealnya sebetulnya kalau di Indonesia bentuk FLPP itu paling ideal karena uang pemerintah tidak hilang di sana, itu yang ideal ya. Nah kita berharap bahwa itu yang bisa diteruskan ya, makanya kemudian kami sekarang tengah siapkan.
WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Hj. NURHAYATI/FPPP):
Maaf pak, itu bank berarti melalui KPR bank ya pak ya? Tetapi kan ada 26 persyaratan dari bank untuk masyarakat bisa mengambil KPR di bank pak gitu, apakah FLPP juga ada 26 persyaratan itu? 29 persyaratan yang sulit sekali masyarakat untuk bisa memenuhi itu. Jadi apakah FLPP juga persyaratannya sama dengan KPR bank umumnya begitu pak yang memakai dana FLPP ini?
DIREKTUR JENDERAL PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN KEMENTERIAN PUPR (Dr. Ir. EKO DJOELI HERIPOERWANTO, MCP.):
Ya memang begini bu, jadi kami memang membuat persyaratan dan kriteria LGBLT untuk mendapatkan FLPP. Karena utamanya adalah karena ini dana meskipun ada “likuiditas dari pemerintah”. Tapi prinsipnya adalah kalau pemilikan rumah melalui KPR itu uangnya harus kembali, itu satu.
Yang kedua kami diminta untuk memenuhi persyaratan ya yang itu bisa diterima oleh semua kalangan stakeholders dari KPR ini ya. Contohnya tadi kalau disebutkan apakah itu ada KTP ya? Nanti akan coba kami lihat lagi kalau memang apakah KTP ini nanti sudah cukup untuk mewakili tidak perlu lagi ada KK atau baliknya, nanti kami lihat.
Karena pada saat FLPP pertama diluncurkan 2010 itu KTP elektronik memang belum dan kami sangat pada saat itu sampai sekarang pun PR kami mengenai hal itu belum selesai. Karena sebagian orang masih pegang KTP lama, sebagian elektronik, sementara ketentuan pemerintah yang mendapatkan subsidi itu tidak boleh dua kali. Nah itu kalau seseorang masih pegang KTP lama ada kemungkinan bocor. Itu yang kami cegah ya kira-kira seperti itu bu.
WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Hj. NURHAYATI/FPPP): Tapi belum menjawab pertanyaan saya pak.
Apakah masyarakat yang informal ini yang tidak bankable ini bisa memakai dana FLPP untuk mendapatkan KPR rumahnya untuk mendapatkan rumah pak? Dikarenakan begini pak, di kampung-kampung ini pak sekarang ada namanya bank semok pak. Artinya bukan bank tetapi dia memberikan pinjaman kepada petani dan lain-lain dan itu kembali. Masyarakat ini disiplin sekali dalam mengembalikan uang.
Jadi kita juga tidak bisa melihat bahwa orang kalau tidak mempunyai penghasilan tetap juga tidak akan mengembalikan gitu. Nah tetapi yang ingin kami tahu adalah FLPP ini kan bentuk subsidi dari pemerintah untuk menekan suku bunga dan mendapatkan jangka panjang untuk KPR kan begitu pak? DIREKTUR JENDERAL PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN KEMENTERIAN PUPR (Dr. Ir. EKO DJOELI HERIPOERWANTO, MCP.):
Ya.
WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Hj. NURHAYATI/FPPP):
Struktur instrumen untuk bank untuk memberikan pinjaman kepada masyarakat berbentuk KPR. Nah yang ingin saya tanyakan adalah apakah FLPP ini bisa disentuh oleh seluruh masyarakat walaupun yang informal pak dengan adanya 29 tadi persyaratan yang diajukan oleh bank yang dianggap tidak bankable mereka ini. Bagaimana subsidi pemerintah ini bisa menyentuh kepada informal pak? Karena TAPERA bukan untuk itu.
TAPERA hanya untuk yang mempunyai pekerjaan. BPJS tenaga kerja pun yang ada manfaat perumahan hanya untuk yang mempunyai pekerjaan pak. Tetapi bagaimana pemerintah ini, apa instrumen dari pemerintah untuk bisa masyarakat yang tidak bankable tadi. Ya tapi mereka punya penghasilan hanya tidak tetap mereka tidak punya pemberi kerja, bagaimana bisa mereka mendapatkan rumah karena backlog itu ada di sini pak gitu. Jadi itu yang saya ingin tanyakan kepada bapak sebagai pemerintah yang harus hadir di sana. Bagaimana apakah FLPP sebagai subsidi ini bisa diakses oleh mereka?