SUMBANGAN PEMIKIRAN ZAKIAH DARADJAT TERHADAP KERUKUNAN UMAT
A. DALAM PENDIDIKAN IN-FORMAL
1. Rasa Kasih Sayang
Bekenaan dengan rasa kasih sayang ini Zakiah Daradjat menyatakan sebagaimana berikut:
Rasa kasih sayang adalah kebutuhan jiwa yang paling pokok dalam hidup manusia. Anak kecil yang merasa kurang disayang oleh ibu-bapaknya batinnya akan menderita; kesehatan badannya mungkin terganggu, kecerdasannya mungkin akan berkurang, kelakuannya mungkin menjadi nakal, keras kepala dan sebagainya. Orang dewasa pun juga demikian. Tak ada satu orangpun yang merasa gembira apabila ia merasa dibenci orang lain. Setiap orang ingin merasa disayangi oleh orangtua, keluarga dan kalau bisa oleh setiap orang yang dikenalnya. Apabila orang merasa tidak diisenangi oleh masyarakat
di mana ia hidup, ia akan merasa sedih dan gelisah.23
yang menggoda, cinta pada harta benda, dan lain sebagainya. Mawaddah itu sinonimnya adalah mahabbah yang artinya cinta dan kasih sayang. Lihat, Tim Penulis Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah (2014), Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah Edisi Revisi, Yogyakarta : Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, h. 16-18.
22Rahmah adalah jenis cinta kasih sayang yang lembut, siap berkorban untuk menafkahi dan melayani dan siap melindungi kepada yang dicintai. Rahmah lebih condong pada sifat qolbiyah atau suasana batin yang terwujudkan pada belaian kasih sayang, seperti cinta tulus, kasih sayang, rasa memiliki, membantu, menghargai, rasa rela berkorban, yang terpancar dari pada cahaya iman. Sifat rahmah ini akan muncul manakala niat pertama saat melangsungkan perkawinan ialah karena mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasulullah serta bertujuan hanya untuk mendapatkan ridha Allah SWT. Tim Penulis Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah (2014), Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah Edisi Revisi, Yogyakarta: Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, h. 16-18.
23Zakiah Daradjat (1982), Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental, Jakarta: Gunung Agung, cet. Ke-6, h.36.
Pandangan Zakiah Daradjat di atas memberikan pelajaran berharga bahwa setiap orang memerlukan kasih sayang, muali dari anak kecil hingga orang dewasa. Oleh sebab itu, dalam keluarga atau rumah tangga, nilai kasih sayang ini mestilah ditanamkan dan dibina dalam jiwa anak. Jika tidak, anak-anak akan tumbuh dan berkembang dengan jiwa yang kurang sehat. Sebab, menurut Zakiah Daradjat lagi, anak yang kehilangan rasa kasih sayang dari keluarga, maka anak tersebut akan mencari kasih sayangnya di luar dari keluarganya. Boleh jadi, anak tersebut akan merasa puas dengan kasih sayang dari orang-orang yang berada di luar keluarganya. Jika orang-orang tersebut termasuk golongan orang-orang baik, hal ini tidak menjadi persoalan, tetapi jika sebaliknya, maka anak akan masuk ke dalam lingkungan orang-orang yang jahat dan tentunya anak tersebut akan patuh pada orang yang selalu menyayanginya.
Menurut Zakiah Daradjat, tidak sedikit orang yang menjadi bingung dan tidak dapat mengendalikan perasaannya, akibat kehilangan rasa kasih sayang itu. Hal itu akan terlihat jelas jika seseorang kehilangan rasa kasih sayang dari pada masyarakat, atau kehilangan orang yang paling dicintainya, baik ia hilang karena pergi jauh tidak kembali atau meninggal dunia. Biasanya, orang seperti itu akan mengurung diri, menjauhi setiap orang yang mengingatannya terhadap apa yang hilang darinya. Lama kelamaan orang itu akan makin jauh dari hidup dan alam yang sehat dan akhirnya pikirannya kacau balau, mengalami gangguan atau
sakit jiwa, menjadi putus asa, atau mungkin juga akan membunuh diri.24
Hal ini terjadi, karena bimbingan agama yang tidak diberikan ke dalam jiwanya, sehingga jiwanya gersang bagaikan tanah yang tidak pernah disiram air, tentu akan kering. Demikianlah perumpamaan jiwa manusia yang tidak disirami nilai-nilai agama ke dalam jiwanya.
Apabila terdapat dalam diri manusia yang tidak percaya kepada Tuhan atau tidak mampu memanfaatkan kepercayaannya itu untuk menenangkan jiwanya, maka kehilangan kasih sayang atau kehilangan orang yang disayanginya, akan menimbulkan akibat-akibat negatif, seperti yang disebutkan di atas. Kehilangan kasih sayang itu akan mengganggu
24Wawancara dengan Zakiah Daradjat, 4 Januari 2010, di rumah beliau di Jakarta. Zakiah Daradjat (1982), Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental, Jakarta: Gunung Agung, cet. Ke-6, h.36.
dan menggoncang jiwanya. Orang itu tidak mendapat ganti untuk mengisi jiwanya. Jiwanya akan terasa kosong dan hampa. Akan tetapi, menurut Zakiah Daradjat, jika orang yang kehilangan kasih sayang itu orang yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, maka orang itu tidak akan merasa kesepian. Dunia tidak akan menjadi gelap gulita bagi matanya, karena masih ada sumber kasih sayang yang tidak pernah hilang atau terhenti limpahannya. Orang tersebut tidak akan membenci atau menjauhi orang lain, dan tidak akan kehilangan pegangan, karena memiliki pegangan lain, yaitu pegangan abadi, Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, orang tersebut tidak akan bertindak membunuh diri atau menderita sakit jiwa. Sebab, biasanya orang akan menderita penyakit jiwa, jika orang itu telah putus asa dan tidak mampu lagi mengharungi hidup yang nyata. Setiap masalah atau kesulitan dalam hidup dianggapnya
sebagai ancaman baginya.25
Berdasarkan hal tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa butuhnya jiwa atas kasih sayang akan dipenuhi jika seseorang percaya kepada Tuhan dan dapat betul-betul meyakini bahwa Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang kepada umatnya. Karena itu orang yang betul-betul percaya kepada Tuhan tidak akan pernah menjadi terganggu atau sakit jiwa, andai kata tidak mendapat kasih sayang dari pada orang atau masyarakat sekeliling. Berkenaan dengan saling mengasihi, menyayangi dan mencintai sesama saudaranya, ia merupakan anjuran Rasulullah SAW, sebagaimana sabda baginda:
25Wawancara dengan Zakiah Daradjat, 4 Januari 2010, di rumah beliau di Jakarta. Oleh itu, Zakiah Daradjat mengemukakan bahwa dalam ajaran Islam, dianjurkan untuk selalu mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim (dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang) pada setiap kali memulakan sesuatu pekerjaanatau perbuatan. Ucapan tersebut akan memberikan keyakinan kepada jiwa sendiri, bahwa Tuhan akan melimpahkan kasih sayang dalam melakukan pekerjaan itu. Perasaan seperti ini akan menenangkan hati dan melegakan batin, sehingga perasaan aman tenteram akan selalu terasa. Maka dengan sendirinya tindakan-tindakannya akan tetap menunjukkan bahwa ada rasa kasih sayang yang tersimpan dibelakangnya.
(1 / 21)
- يرﺎﺨﺒﻟا ﺢﻴﺤﺻ
ﻪﻠﻟﺍ ﻲﺿﺭ ﹴﺲﻧﹶﺄ.ﻨﻋ ﹶﺓﺩﺎﺘﹶﻗ ﻦﻋ ﹶﺔﺒﻌﺷ ﻦﻋ ﻰﻴﺤﻳ ﺎﻨﹶﺛﱠﺪﺣ ﹶﻝﺎﹶﻗ ﺩﱠﺪﺴﻣ ﺎﻨﹶﺛﱠﺪﺣ - 12
ﻦﻋ ﹸﺓﺩﺎﺘﹶﻗ ﺎﻨﹶﺛﱠﺪﺣ ﹶﻝﺎﹶﻗ ﹺﻢﻠﻌﻤﹾﻟﺍ ﹴﻦﻴﺴﺣ ﻦﻋﻭ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﹶﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﱢﻲﺒﹺﱠﻨﻟﺍ ﻦﻋ ﻪﻨﻋ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Musaddad beliau berkata,
telah menceritakan kepada kami Yahya dari pada Syu‘bah dari pada Qatadah dari pada Anas r.a. dari pada Nabi SAW dan dari pada Husayn al-Mu’allim, beliau berkata, telah menceritakan kepada kami Qatadah dari pada Anas dari pada Nabi SAW, baginda bersabda: “Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana
dia mencintai dirinya sendiri.” (H.R. al-Bukhâri).26
Hadis di atas memberikan pengajaran bahwa seorang mukmin dengan mukmin yang lainnya bagaikan satu jiwa. Jika dia mencintai saudaranya maka seakan-akan dia mencintai dirinya sendiri. Inilah anjuran Rasulullah SAW yang merupakan dasar dalam ajaran Islam, agar kita dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.