• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rasa Takut Masyarakat Terhadap PKI dan Tindakan Militer

BAB III. FAKTOR PENDORONG GELOMBANG

A. Rasa Takut Masyarakat Terhadap PKI dan Tindakan Militer

Pada tanggal 11 Maret 1966, Supersemar dikeluarkan dengan tujuan untuk mengembalikan stabilitas negara. Keputusan lainnya masih pada tahun 1966 menegaskan legalitas Supersemar. Dengan adanya keputusan keputusan yang ada maka secara resmi menyatakan PKI dilarang. Dengan adanya keputusan-keputusan tersebut terjadilah operasi pembersihan PKI ke seluruh daerah di Indonesia50.

Setelah tahun 1965, aksi pembalasan terhadap tindakan PKI terjadi di mana mana. Di setiap daerah terjadi pembantaian terhadap orang-orang PKI, sehingga pada pasca Gerakan 30 September orang-orang PKI banyak yang menjadi korban pembantaian, baik oleh militer maupun oleh orang-orang yang tidak senang dengan aksi-aksi PKI pada masa sebelumnya.

Masalah paling besar disebabkan oleh tindakan militer, di mana mereka melegalkan aksi yang dilakukan oleh sipil, sehingga masalah itu terus berlarut larut terjadi. Hal itu, membuat pembantaian semakin merajalela karena tindakan yang

47

melegalkan pembantaian itu51. Oleh karena pembantaian terhadap orang-orang PKI juga banyak dilakukan di desa-desa, maka daerah lain yang bukan merupakan endemik organisasi PKI ikut- ikutan menjadi takut. Masyarakat menjadi takut, karena pembantaian itu tidak hanya ditujukan kepada orang-orang PKI saja, tetapi juga ditujukan kepada orang orang non-PKI52. Di Jawa Tengah53 banyak orang abangan

yang terbantai. Pembantaian tersebut, diindikasikan sebagai tindakan murni dendam pribadi dalam masyarakat. Mereka hanya memanfaatkan kesempatan untuk melakukan pembantaian, sehingga menimbulkan korban yang tidak sedikit. Berdasarkan laporan setidaknya terdapat 800.000 orang terbunuh di Jawa Tengah dan Timur dan masing- masing 100.000 orang di Bali dan Sumatra54. Bukti ini memberikan fakta bahwa pada pasca G 30 S telah banyak terjadi korban yang disebabkan oleh aksi militer yang ingin menumpas PKI.

51 Masyarakat menjadi takut dengan peristiwa tersebut. Untuk itu mereka mencari cara agar selamat dari aksi yang dilakukan oleh Militer. Pada dasarnya masyarakat takut dianggap sebagai PKI. Untuk menghilangkan anggapan tersebut, maka mereka banyak yang masuk menjadi Katolik.

52

Baca: Baskara T. Wardaya. Bung Karno Menggugat Dari Marhaen, CIA Pembantaian Massal 65 hingga G 30 S. Yogyakarta: Galang Press, 2006. “… Kebanyakan dari mereka adalah masyarakat biasa yang kemungkinan besar tidak ada sangkut langsung…” Hal. 164.

53

Untuk di Jawa Tengah pembantaian terhadap orang-orang PKI terjadi di Klaten, Solo dan Boyolali. Sementara itu, di Jawa Timur pembantaian terbesar terjadi di Banyuwangi. Daerah endemik yang tidak terlalu jauh dari Yogyakarta setidaknya bisa membuat masyarakat menjadi takut dengan keberadaan PKI di sekitar mereka. Asvi Warman Adam, Ibbid. 205.

Kedatangan pasukan RPKAD di Magelang disambut rakyat dengan gembira dan

setelah RPKAD melakukan Show of Force keliling kota dilanjutkan demonstrasi

perusakan gedung-gedung dan rumah-rumah PKI. Mereka juga melakukan

penumpasan dan penangkapan terhadap orang-orang PKI55.

Setidaknya hal itu membuktikan bahwa antara militer dan rakyat anti Komunis bekerja sama melakukan penangkapan terhadap orang-orang PKI. Karena terlalu banyak yang mengikuti aksi pengangkapan itu, maka gerakan itu terkadang tidak terkontrol sehingga menyebabkan jatuhnya banyak korban.

Para korban banyak yang berasal dari rakyat kecil, padahal, mereka belum tentu mengerti tentang aksi politik yang dilakukan oleh PKI. Memang pada kenyataannya mereka adalah anggota PKI, namun mereka tidak mengerti tentang politik. Hal yang paling disayangkan adalah semua orang PKI harus menjadi korban dan mati sia-sia, padahal mereka belum tentu bersalah56. Bahkan, orang yang terkadang bukan PKI harus menjadi korban keganasan hanya demi kepentingan kalangan tertentu.

Peristiwa pembantaian yang terjadi di Jawa dan Bali terutama yang berada di wilayah pedesaan lebih disebabkan oleh masalah pribadi. Di antaranya adalah mengenai permasalahan Islam santri yang lebih memegang teguh agama atau

55

Ibid. Hal. 271.

56

Baca: John Roosa, dkk (ed), Tahun yang Tak Pernah Berakhir Memahami Pengalaman Korban 65.

Jakarta: ELSAM, 2004. Buku ini menceritakan tentang pengalaman para tapol dan masyrakat yang ikut menyaksikan keganasan kaum militer. Buku ini merupakan hasil dari petikan wawancara dengan pelaku sejarah pada tahun 1965.

49

berpihak kepada kaum agamais dengan Islam abangan yang cenderung untuk lebih mendukung PKI57.

Pada saat itu, selain terjadi pembunuhan banyak pula terjadi pencekalan kepada orang-orang PKI. Mereka dipenjara tanpa melalui proses pengadilan dan kadang dieksekusi ataupun dipindahkan ke daerah lain58. Banyak diantaranya yang tidak pulang. Bahkan, pencekalan tidak hanya tertuju kepada orang-orang PKI saja tetapi juga terhadap orang-orang yang dicurigai memiliki hubungan dengan PKI. Patroli penjaringan terhadap anggota PKI tidak hanya terjadi di kota besar saja. Mereka masuk sampai ke desa-desa demi untuk mencari orang-orang yang teridentifikasi. Daerah daerah yang menjadi sasaran tidak hanya yang besar anggota PKInya saja, tetapi ke seluruh pelosok desa tanpa kecuali, sehingga seluruh rakyat pernah merasakan sakitnya menjadi korban aksi militer. Terkadang masayarakat dipaksa kemudian disuruh berbaris dan melakukan kegiatan persis seperti kegiatan militer.

Banyak pengalaman yang tidak mengenakkan bagi mereka khususnya masyarakat yang berada di wilayah Paroki Boro. Meskipun mereka bukanlah orang orang PKI, tetapi tetap saja mendapatkan perlakuan yang kurang baik dari militer. Pada saat itu, militer sedang gencar mencari orang-orang yang terlibat dengan

57

Asvi Warman Adam, Ibid. Hal 50. Di sini disebutkan bahwa keganasan pembantaian lebih disebabkan oleh permusuhan kelompok-kelompok kultur, antara abangan dan santri.

keanggotaan PKI. Biasanya masyarakat dikumpulkan disebuah lapangan kemudian diperintahkan untuk melakukan aktifitas gaya militer.

Berdasarkan cerita Bapak Suparno akibat dari tindakan militer itu banyak orang tidak berani keluar rumah. Jika ingin keluar, mereka harus melintas di hutan menyusuri tepi sungai. Jalan besar sepi dari dari orang-orang yang melintas karena takut akan bertemu dengan militer yang akan menginterogasi mereka.

Masyarakat kadang dipaksa untuk memberitahukan keberadaan orang PKI dengan tidak memberikan pilihan lain kecuali menunjukkan, sehingga banyak terjadi aksi salah tangkap. Itu diakibatkan kedidakjujuran dari masyarakat akibat tekanan yang diberikan, sehingga banyak pula orang orang disekitar Paroki Boro yang menjadi PKI, meskipun hanya terdaftar sebagai golongan C. Banyak alasan yang diberikan diantaranya jika tidak mau memeberitahukan siapa saja yang menjadi PKI mereka sendirilah yang akan menjadi korban pemukulan oleh pihak militer.

Di Boro, pengaruh PKI tidak terlalu besar, namun keberadaan PKI tetap membuat masyarakat takut. Pada tahun-tahun berjayanya PKI, di Pedukuhan Dukuh Kisik Tlagan, Sudimoro Hargogondo dan Paras terdapat orang-orang PKI. Mereka ingin menyebarkan pengaruhnya kepada masyarakat di wilayah Kalibawang khususnya di wilayah Boro. Usaha- usaha yang dilakukan untuk mendapatkan

51

pengaruh yaitu dengan mengadakan kesenian di bawah naungan LEKRA59 dan menyebarkan isu atas hak kepemilikan tanah60.

Ada pula masyarakat di tempat itu yang terdaftar, tetapi sama sekali tidak tahu bahwa mereka adalah orang PKI. Sehingga, banyak juga yang terdaftar sebagai PKI. Setidaknya masih terdapat tiga belas orang PKI yang menjadi Katolik dan sampai sekarang masih hidup. Mereka menjadi Katolik supaya bisa diterima oleh masyarakat.

Seperti yang sudah disebutkan pada bagian sebelumnya mereka terdaftar sebagai orang PKI hanyalah sebagai pengikut ataua simpatisan saja. Namun untuk membersihkan nama mereka, maka harus diambil suatu tindakan yang tepat agar mereka bisa hidup bersama dengan masyarakat61.

Orang-orang yang berada di pedukuhan itu banyak yang teridenitfikasi tetapi menurut anggapan masyarakat mereka bukanlah orang PKI, karena sebenarnya masyarakat tidak tahu benar dengan organisasi tersebut. Mungkin ini disebabkan oleh tindakan mereka yang mau menerima dan terpengaruh dengan ajaran komunis. Apalagi, pada saat itu banyak sekali kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang PKI dalam rangka menarik simpati dari masyarakat. Ketika terjadi pendataan nama mereka tertera sebagai anggota PKI. Mereka kemudian di panggil ke kecamatan

59

Berdasarkan wawancara dengan Bapak Dirjoutomo pada tanggal 2 Oktober 2006.

60

Berdasarkan wawancara dengan Bapak Suparno dan Bapak Suparwono.

61 Masuknya masyarakat di Paroki Boro menjadi Katolik lebih disebabkan oleh ketakutan pribadi di mana mereka pada umumnya adalah penganut Kejawen. P. Jayasewaya 5 Februari 2007.

dalam rangka untuk upacara pembubaran PKI. Akhirnya orang-orang yang memenuhi panggilan kemudian dianggap PKI oleh pihak berwenang62.

Perasaan tidak nyaman, resah dan takut dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Meskipun daerah mereka bukan merupakan daerah endemik dan pembantaian, namun kekhawatiran mereka akan menjadi korban selanjutnya selalu menghantui. Masyarakat yang berada di bawah pengaruh Paroki Boro ternyata masih banyak yang menganut agama lokal yaitu Kejawen. Proses masuk agama yang dilakukan oleh masyarakat diambil untuk mengantisipasi akan dianggap PKI jika tidak memeluk agama, karena pada saat itu PKI sudah dilarang.