Drs Paimin Sukartana
ARTI PENTING PEMAHAMAN PERILAKU SERANGGA PERUSAK KAYU UNTUK PENGENDALIANNYA YANG LEBIH RAMAH LINGKUNGAN Orasi ini merupakan
C. Rayap Perusak Kayu
1. Rayap tanah perusak kayu
Hadirin yang saya hormati,
Hanya beberapa jenis rayap tanah yang berpotensi besar dalam perusakan kayu bangunan di Indonesia yaitu jenis Macrotermes gilvus, Microtermes spp. dan
Odontotermes sp. (Isoptera: Termitidae) dan Coptotermes spp. (Isoptera: Rhinotermitidae). Serangan rayap familia Termitidae meninggalkan rongga-rongga dalam kayu yang kosong. Rayap M. gilvus termasuk jenis yang berukuran terbesar di Indonesia dan karenanya daya perusaknya juga besar. Ciri khas dari jenis rayap ini, yang mudah dilihat oleh awam sekalipun, adalah adanya dua macam kasta perajurit, yang satu berkepala besar dan berahang kuat yang mampu melukai kulit kita, yang disebut sebagai prajurit mayor, dan yang lain lebih kecil atau prajurit minor. Laron dari rayap ini mudah dijumpai pada sekitar awal musim hujan, yang biasanya muncul pada pagi, siang atau malam hari. Di beberapa tempat laron dikumpulkan oleh penduduk untuk dimakan.
Perbedaan waktu munculnya laron ini mungkin disebabkan oleh varitas atau bahkan oleh jenis yang memang berbeda. Namun ditilik dari struktur anggota koloninya, semua memiliki komposisi yang mirip. Kiranya masih perlu studi lebih lanjut mengenai jenis- jenis yang termasuk dalam rayap Macrotermes spp.
Di daerah-daerah tertentu, biasanya pada habitat tanah merah, jenis rayap ini sering membentuk gundukan tanah. Gundukan-gundukan tanah ini sering dijumpai di lapangan, perkebunan dan pekarangan rumah, atau bahkan muncul di dalam rumah. Gundukan ini sangat liat, sehingga sangat menyulitkan dalam pengerjaan tanah. Kadang-kadang dengan traktor pertanian pun belum tentu mampu membongkarnya. Gundukan ini adalah pusat koloni rayap yang berisi raja dan ratu. Bila raja dan ratu megalami kemunduran atau mati, seringkali terbentuk raja ratu baru, dari kasta reproduktif sekunder (neoten), untuk menggantikannya. Kehidupan koloni pun berlanjut.
Rayap familia Termitidae sebenarnya bukan pemakan kayu. Jenis-jenis rayap ini termasuk pemakan jamur. Rayap pekerja, akan membentuk saluran atau terowongan dari tanah untuk mengembara ke mana-mana menuju kayu atau benda-benda lain yang berasal dari kayu misalnya kertas untuk diserangnya. Saluran-saluran tersebut, berfungsi sebagai pelindungan, sering terlihat di permukaan dinding atau pada batang pohon, menghubungkan pusat koloni dengan sasaran serangannya. Serpihan kayu yang diserang
akan diangkut ke dalam koloni untuk kebun jamur (fungus garden) yang akan menjadi makanan bagi koloni tersebut.
Pada musim hujan, dari kebun jamur tersebut sering tumbuh badan buah, yang sering disebut jamur laron atau jamur barat (Jawa) atau supa bulan (Sunda), yang muncul di permukaan tanah. Badan buah jamur ini enak dimakan, sering dicari masyarakat pedesaan pada awal musim hujan.
Informasi penelitian pada rayap Termitidae belum banyak. Mungkin karena habitatnya yang umumnya di daerah tropis, dan tidak menimbulkan kerusakan hebat, berbeda dengan jenis-jenis rayap tanah yang lain, yaitu Coptotermes spp., yang akan disampaikan juga dalam pidato ini. Daya jelajah jenis rayap ini agaknya tidak terlalu jauh sehingga serangannya lebih banyak terjadi pada konstruksi yang dekat tanah, dan cukup lembab. Kusen-kusen pintu dan panel-panel kayu menjadi sasarannya.
Hasil uji ketahanan alami 30 jenis kayu, yang dilakukan langsung pada pusat koloni rayap di Cikampek dan Janlappa, menunjukkan bahwa sekitar 50% termasuk yang tahan sampai sangat tahan terhadap rayap tanah M. gilvus35. Jenis-jenis kayu seperti Aglaia
versteeghii, Hopea odorata, Khaya antoteca, Neonauclea dan Querus turbinata termasuk
yang sangat tahan, sedangkan Gluta ranghas, G. rostata, Shorea meristopterix sangat tidak tahan. Dengan metode uji yang sama, Sukartana36 menyatakan bahwa sekitar 45% dari 40 jenis kayu yang diuji termasuk tahan terhadap jenis rayap ini. Pemaparan contoh kayu langsung pada koloni (pada kondisi yang ekstrem), perlu dikembangkan untuk menilai daya tahan suatu jenis kayu atau daya tahan suatu perlakuan pada kayu dalam waktu yang lebih cepat.
Rayap tanah Coptotermes termasuk yang paling ganas, banyak ditemukan di berbagai belahan dunia. Indonesia diduga termasuk negara yang paling kaya dalam hal jenis-jenis rayap ini34,20,37,38. Satu spesies baru, C. javanicus, telah ditemukan39 serta revisi taksonimis juga diusulkan berdasarkan sifat-sifat genetik dan morfologinya40. Jenis-jenis rayap tersebut antara lain adalah C. curvignathus, C. travians, C. kalshoveni,
C. borneensis, C. menadoensis, C. havilandi, C. minutissimus, C. preginator dan yang
terbaru C. javanicus.
Di belahan utara katulistiwa yaitu, Jepang, Cina, Hawaii dan daratan Amerika Serikat bagian Selatan (California sampai Florida) tersebar rayap C. formosanus yang sangat terkenal. Konon jenis rayap ini tersebar dari Cina ke berbagai negara/benua dengan perantaraan pengapalan logistik secara besar-besaran pada masa Perang Dunia II. Jenis rayap ini sekarang telah ditemukan juga di Sri Lanka dan Afrika Selatan41. Dikhawatirkan jenis rayap ini juga telah terbawa dan berkembang di Indonesia.
Berbeda dengan tanda-tanda serangan rayap Termitidae, serangan rayap
Coptotermes (juga semua yang termasuk Familia Rhinotermitidae) tidak meninggalkan
rongga-rongga yang kosong, namun terisi sarang karton (carton nest), yang dibuat dari campuran selulose, lumpur dan ludah rayap pekerja. Sarang ini serupa dengan sarang di pusat koloninya dan akan menjadi semacam koloni satelit (cabang koloni). Ribuan individu rayap, terdiri dari berbagai kasta dan tingkat umur (seringkali termasuk kasta
reproduktif), berada dalam sarang karton tersebut. Sarang tersebut, bila sewaktu-waktu karena sesuatu hal terpisah dari koloni induknya, akan berkembang menjadi pusat koloni yang baru, lengkap dangan raja dan ratu yang baru yang berkembang dari neoten, menggantikan pusat koloni yang hilang.
Daya jelajah jenis rayap ini, baik horisontal maupun vertikal, dapat mencapai ratusan meter dari pusat koloninya42. Jumlah anggota koloninya pun biasanya sangat besar, dari ratusan ribu hingga jutaan ekor. Dan karenanya, daya perusaknya pun menjadi sangat besar, dan dapat menjangkau konstruksi dan dokumen yang tersimpan di beberapa lantai sebuah gedung bertingkat.
Karena kemampuan membentuk koloni sekunder ini, rayap Coptotermes dapat berkembangbiak di mana-mana, baik di dalam tanah maupun di atas tanah20,43, bahkan dapat membentuk koloni pada konstruksi bangunan bertingkat banyak sekalipun44,45,46 tanpa berhubungan dengan tanah asalkan tersedia habitat yang memadai, terutama sumber-sumber air. Air dari kondensasi pendingin ruangan (AC) pun sudah cukup47,48 atau bahkan dapat memanfaatkan air dari udara yang lembab. Banyak kerusakan rangka plafon, balok dan kaso karena serangan rayap Coptotermes.
Tanpa menyertakan raja dan ratu dari lapangan, jenis rayap ini dapat dipelihara di laboratorium beberapa tahun, dan mungkin sekali akan terbentuk neoten, menggantikan raja dan ratu yang tertinggal di lapangan. Keadaan ini sangat berbeda dengan rayap
Macrotermes, yang perlu kehadiran kedua induknya, lengkap dengan kebun jamurnya.
Sejumlah ahli masih mendiskusikan mengenai kepastian adanya jenis rayap
C. curvignathus di Indonesia. Diduga jenis rayap ini bukan C. curvignathus tetapi
C. gestroi, suatu spesies yang banyak ditemukan di Thailand, Myanmar dan India49,
sampai akhirnya muncul nama baru C. javanicus41. Namun apa pun namanya, semua rayap Coptotermes termasuk serangga perusak paling ganas sehingga banyak menarik perhatian para ahli dan praktisi50,51.
Jenis-jenis rayap ini mempunyai ciri khas yang mudah dikenali terutama dari kasta perajuritnya. Bila diganggu, kasta perajurit akan menggigit dan mengeluarkan cairan berwarna putih susu untuk melumpuhkan lawannya. Rayap ini termasuk yang berwarna putih, dan dari sinilah diduga penamaan rayap sebagai semut putih. Sebenarnya tidak semua jenis rayap berwarna putih, rayap Nasutitermes sp. yang banyak ditemukan di hutan Kalimantan berwarna hitam mirip semut pada umumnya.
Kerusakan bangunan karena serangan rayap Coptotermes banyak dijumpai di mana-mana. Serangan rayap pada bangunan dan pohon yang hidup juga banyak dijumpai di Bogor52. Pohon peneduh (Agathis) yang tumbang karena serangannya sering menimbulkan korban bagi pengguna jalan di Bogor. Belakangan juga diinformasikan bahwa beberapa bagian dari Istana Merdeka Jakarta juga rusak berat karena serangannya. Hal ini juga terjadi pada banyak perumahan mewah di Jakarta dan sekitarnya53. Pada bangunan bertingkat, rayap dapat menjangkau struktur atau benda-benda yang tersimpan di dalamnya melalui berbagai pipa/saluran jaringan kabel listrik dan telepon.
Dalam banyak hal, pengendalian serangan rayap Coptotermes sama dengan Macrotermes. Pengawetan kayu dan pengawetan tanah (soil treatment) dianjurkan. Namun kedua perlakuan itu belum memasyarakat, bahkan industri pengawetan kayu pun banyak yang tidak aktif. Jenis-jenis bahan pengawet, baik untuk kayu maupun untuk tanah, makin terbatas. Jenis-jenis yang berdaya racun tinggi dan tahan lama (persisten), misalnya garam arsenat (untuk pengawetan kayu) dan senyawa khlorhidrokarbon (untuk perlakuan tanah) telah dilarang. Sebagai gantinya adalah jenis-jenis yang daya racunnya rendah dan mudah terurai, sehingga perlakuan tersebut menjadi kurang efektif. Keadaan ini tidak hanya di Indonesia, tetapi juga diseluruh dunia yang makin peduli terhadap lingkungan.
Para akhli pun sejak sekitar dua dekade yang lalu, berlomba-lomba mencari pengganti bahan yang lebih ramah lingkungan. Pengendalian rayap secara terpadu telah banyak diusahakan. Pengendalian secara mekanis atau ¿ sis adalah pilihan yang paling ramah lingkungan.
Partikel pasir, granit atau sejenisnya ukuran tertentu dapat menghalangi masuknya rayap ke struktur bangunan atau umpan yang diberikan54,55. Pengendalian ini menggunakan prinsip; celah-celah antar partikel terlalu kecil untuk dilewati rayap, namun partikelnya juga terlalu besar untuk diangkatnya56. Cara pemakaiannya adalah dengan menebarkan partikel pasir tersebut secara merata (dengan ketebalan tertentu) di bawah fondasi sebelum pembangunan. Ukuran partikel yang digunakan bervariasi, antara diameter 1-3 mm, tergantung ukuran jenis rayap sasaran57. Partikel pasir ukuran 1-2 mm dan 2,0-2,83 mm dapat mencegah serangan rayap C. curviganthus58,59.
Penggunaan sistem ini dinilai efektif selamanya, namun pelaksanaannya tidak mudah, terutama menyediakan partikel pasir atau sejenisnya (ukuran tertentu) dalam jumlah besar. Pengendalian dengan sistem ini telah direkomendasikan di Australia dan Hawaii, Amerika Serikat. Penelitian dan pengembangan cara-cara pencegahan serangan rayap semacam ini perlu didorong, dan mungkin akan menjadi ladang bisnis yang menarik di Indonesia karena sifat-sifatnya yang ramah lingkungan, serta kandungan lokalnya besar (tidak impor).
Selain dengan partikel pasir, kawat kasa anti rayap (Termi-Mesh) yang telah diproduksi di Australia juga dapat digunakan untuk pencegahan serangan rayap pada bangunan60. Kawat kasa dipasang merata di bawah fondasi sehingga rayap dari luar tidak dapat menembusnya. Prinsip kerjanya mirip penggunaan partikel pasir; lubang saringan terlalu kecil, namun juga terlalu keras untuk digigit rayap. Kawat kasa yang diperlukan juga harus tahan karat. Kawat semacam ini barangkali dapat dicari di pasaran, tinggal daya tahannya (terhadap karat) dan ukuran mesh kasanya yang sesuai dengan ukuran tubuh rayap di Indonesia.
Untuk rumah panggung, pengendalian rayap tanah dapat dilakukan dengan pemasangan sungkup/tudung lembaran plat baja tahan karat (stainless steel) di atas umpak/tiang penyangga. Rayap tidak mudah melewati plat tersebut karena licin. Kalau ada saluran rayap yang melewati tiang juga mudah dibersihkan, sehingga rayap gagal naik ke rumah.
Selain secara ¿ sis, pengendalian biologis juga sudah dikembangkan61,62,63. Sistem pengendalian ini termasuk ramah lingkungan karena spektrum sasarannya lebih sempit daripada insektisida kimia yang dampaknya tidak selektif. Penggunaan jamur patogen serangga (entomopa-thogenous fungi) mulai dikembangkan sejak beberapa tahun terakhir. Prinsip kerjanya adalah pemanfaatan perilaku rayap sebagai serangga sosial. Dengan menginfeksi sebagian anggota koloninya dengan jamur patogen, diharapkan seluruh anggota koloni akan tertular dan akhirnya mati. Penginfeksiannya dilakukan dengan sistem perangkap, perlakuan dan lepas trapped-treated-released (TTR). Rayap dipancing dengan umpan, diinfeksi dengan spora jamur dan kemudian dilepas agar terjadi penularan ke seluruh anggota koloni. Penularan berlangsung karena adanya perilaku trofalaksis (trophallaxis), yaitu saling sentuh dan saling menyuapi (makan) antar anggota koloni.
Dalam beberapa percobaan laboratorium, jamur patogen serangga Metarhizium anisoliae termasuk paling efektif untuk pengendalian rayap daripada jamur patogen yang lain. Tiga jenis rayap, yang terdiri dari dua jenis rayap tanah C. curvignathus,
Schedorhinotermes javanicus, dan satu jenis rayap kayu kering Cryptotermes
cynocephalus, yang terinfeksi spora jamur dapat menular ke rayap yang sehat sehingga
menimbulkan persentase kematian yang lebih tinggi64,59,65. Jenis jamur ini juga dapat digunakan sebagai penghalang, sehingga rayap tanah tidak mudah menembus jamur untuk menyerang kayu umpan yang disediakan karena terjadi infeksi66. Penggunaan jamur patogen ini dalam praktek belum banyak berkembang. Banyak faktor lingkungan yang menjadi hambatan terhadap efektivitas jamur ini di lapangan sehingga sifat virulensinya menurun.
Salah satu sistem pengendalian rayap, yang juga ramah lingkungan, yang sekarang banyak dikembangkan adalah penggunaan senyawa mirip hormon penghambat pendewasaan (juvenile hormon analogue = JHA) dan penghambat pembentukan kitin
chitin synthesis inhibitor (CSI). JHA berperan mengganggu deferensiasi perkembangan
rayap sehingga terjadi kekacauan proporsi kasta dalam koloni rayap67,68. Struktur koloni menjadi tidak normal, dan dapat menimbulkan kematian koloni. Pengembangan potensi hormon ke depan sangat penting sebagai salah satu usaha pengendalian rayap yang ramah lingkungan.
Senyawa CSI berperan menghambat pendewasaan rayap dengan cara menghambat pembentukan kitin, yaitu kulit serangga. Karena pembentukan lapisan kitin terhambat, rayap yang muda tidak mengalami pendewasaan. Struktur dan fungsi organisasi kekastaan terganggu sehingga dapat mematikan koloni. CSI telah dikembangkan sejak tahun 90- an69,70 dengan menggunakan senyawa berbahan aktif heksafl umuron dan difl ubenzuron untuk pengendalian rayap tanah C. formosanus dan Reticulitermes fl avipes. Jenis CSI ini juga efektif untuk eliminasi rayap tanah yang banyak ditemukan di Indonesia C. curvignathus71, dan hal yang sama juga pada CSA yang berbahan aktif klorÀ uasuron72. Seperti halnya penggunaan jamur patogen, prinsip penggunaan JHA dan CSI adalah pemanfaatan perilaku sosial rayap sehingga perlakuan yang diberikan pada sebagian anggota koloni akan diteruskan ke seluruh koloninya. Diduga senyawa CSI hanya efektif terhadap rayap Familia Rhinotermitidae, meskipun hal ini masih perlu studi lebih lanjut.
Pilihan lain yang ramah lingkungan adalah penggunaan bahan baku (kayu) yang tahan rayap. Namun ketersediaan bahan baku semacam ini makin langka, dan karenanya menjadi sangat mahal. Satu meter kubik balok kayu kamper saja mencapai harga sekitar 3,5 juta rupiah, harga yang mungkin tidak akan terjangkau bagi kebanyakan masyarakat. Pilihan terakhir adalah penggunaan bahan pengawet atau insektisida. Pengawetan tanah dilakukan pada tanah di bawah fondasi agar rayap dari luar tidak dapat masuk ke dalam bangunan. Perlakuan ini lebih baik dilakukan sebelum pembangunan. Namun perlakuan ini juga terkendala, karena adanya larangan penggunaan jenis-jenis insektisida yang tahan lama. Berbagai informasi menyebutkan bahwa efektivitas perlakuan ini hanya sekitar 5-10 tahun.
Pengawetan kayu juga menjadi kebutuhan. Penggunaan bahan-bahan pengawet yang berdaya racun rendah atau tidak beracun sama sekali menjadi pilihan. Namun dengan bahan pengawet yang tidak persisten, daya tahannya juga menurun. Belum ada pengganti bahan pengawet kayu yang seefektif CCA.
Sejak sekitar dua dekade yang lalu, penggunaan bahan-bahan non-toksik, misalnya dengan cara memodi¿ kasi sifat-sifat kimia kayu (chemical modifi cation), banyak dikembangkan sebagai pengganti pengawetan menggunakan insektisida. Penelitian semacam itu selayaknya didorong di negeri ini, supaya kita tidak hanya menjadi ajang pemasaran hasil-hasil penelitian dari luar negeri.