• Tidak ada hasil yang ditemukan

WIHDATUL WUJUD

B. Realisasi Dalam Moralitas

Lembaga pendidikan keluarga adalah merupakan lembaga pendidikan yang pertama, tempat anak didik pertama-tama menerima pendidikan dan bimbingan dari orang tuanya atau anggota keluarganya lainnya. Di dalam keluarga inilah tempat meletakkan dasar-dasar kepribadian anak didik pada usia yang masih muda. Karena pada usia muda ini anak lebih peka terhadap pengaruh dari pendidikannya

Dalam ajaran islam Nabi SAW dalam hadisnya:

“Setiap anak dilahirkan ke dasar Fitrah, maka sesungguhnya

kedva orang luanyalah yang menjadikan dia Majusi, Yahudi atau

Nasrani (Zuhairini, 1994: 177).

Di sinilah tanggung jawab orang tua untuk mendidik anaknya, terutama pendidikan Islam dalam keluarga. Karena hal ini sangatlah besar pengaruhnya terhadap kepribadian anak didik, sebab itu adalah suasana pendidikan yang telah dialaminya pertama kali sehingga akan selalu menjadi kenangangan sepanjang hidupnya. Kasih sayang yang wajarlah yang akan membuat kepribadian, tindakan serta tingkah laku anak menjadi lurus dan terarah.

Secara realita pengenalan terhadap Tuhan selain dengan memahamkan kepada alam jagad raya, nama-nama Tuhan, juga dapat digunakan melalui pendekatan historis, sosiologis, artistik dan sufistik. Dengan pendekatan historis dapat diketahui dengan adanya bangsa yang jaya dan bangsa yang hancur, ada yang kalah dan yang menang. Dalam sejarah bahwa setiap perjuangan yang berpihak pada kejahatan akan kalah dan yang muncul adalah ada pada pihak yang benar.

Secara sosiologis dipahamkan dengan adanya realita sosial, perbedaan tingkatan dan sebagainya. Walau manusia telah berjuang dengan sekuat tenaga, toh ketika pada akhimya kembali pada peraturan Tuhan. Begitu juga dengan cara artistik atau perasaan seni, terlihatnya

penataan alatn raya dan tata surya yang tidak pemah saling tindih, aneka ragam jenis tumbuhan, lapisan bumi, itu menunjukkan adanya Yang Maha Kuasa yang mengatumya. Dan sufistik adalah pendekatan yang bersifat rohaniyah, seperti yang dilakukan para sufi.

Adalah fana dan baqa apabila seorang melaksanakan kebajikan; dan ada fana dan baqa yang lain apabila seorang menarik diri dari menjauhi larangan Allah dan patuh pada kehendak-Nya (Ansari, 2001: 47). Tingkatan fana dalam sufi temyata bermacam pemaknaan, tingkatan yang paling dini dalam pengenalan kepada Yang Satu (Tuhan) adalah dengan mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan larangan- Nya. Sehingga qolbu akan selalu terhindar dari perbuatan dosa-dosa yang akan menutupi dirinya kepada Tuhan.

Menurut hemat penulis, ada lima sikap dasar yang mendasari kepribadian yang mantap. Dalam hubungan yang harmonis dalam lingkungan masyarakat.

1. Kejujuran

Dasar setiap usaha untuk menjadi orang yang kuat secara moral adalah kejujuran. Tanpa kejujuran kita sebagai manusia tidak dapat maeju selangkah pun karena kita belum berani menjadi diri kita sendiri. Tidak jujur berarti tidak seia sekata dan itu berarti kita belum sanggup untuk mengambil sikap lurus. Orang yang tidak lurus tidak

bisa mengambil dirinya sendiri sebagai titik tolak, melainkan apa yang diperkirakan dan diharapkannya semata dari orang lain. Ia bukan tiang dan tidak bisa menjadi tiang, melainkan bendera yang mengikuti arah segenap angin.

Tanpa kejujuran keutamaan-keutamaan moral lainnya kehilangan nilai mereka. Bersikap baik terhadap orang lain, tetapi tanpa kejujuran, adalah kemunafikan dan sering beracun. Bersikap jujur terhadap orang lain mempunyai dua arti; pertama. sikap terbuka, kedua bersikap fair. Dengan terbuka, tidak dimaksud bahwa segala pertanyaan orang lain harus kita jawab dengan selengkapnya, atau bahwa orang lain berhak untuk mengetahui segala perasaan dan fikiran kira.

Kedua, terhadap orang lain bersikap wajar atau fair. Ia memperlakukan menurut standart-standart yang diharapkannya dipergunakan orang lain terhadap dirinya. Ia menghormati hak orang lain, ia selalu akan memenuhi janji yang diberikan, juga terhadap orang yang tidak dalam posisi untuk menuntutnya. Ia tidak pemah bertindak yang bertentangan dengan hati nuraninya.

2. Nilai Otentik.

Otentik adalah kelanjutan dari kejujuran, disini otentik diartikan agar diri itu menjadi diri sendiri, bukan iiplakan atau tiruan. Tidak hanya berbicara saja tapi harus bisa melakukannnya juga.

Otentik berarti aseli, manusia otentik adalah manusia yang menghayati dan menunjukkan diri sesuai dengan keasliannya, dengan kepribadiannya yang sebenarnya. Manusia yang tidak otentik adalah manusia yang dicetak dari luar, yang dalam segala-galanya menyesuaikan diri dengan harapan lingkungannya, orang yang seakan-akan tidak rnempunyai kepribadian sendiri, melainkan terbentuk oleh lingkungan sepenuhnya.

3. Kesediaan Untuk Bertanggung Jawab.

Kejujuran sebagai kualitas dasar kepribadian moral menjadi jprasional dalam kesediaan untuk bertanggung jawab. Hal itu menunjukkna bahwa ada kesediaan untuk melakukan apa yang harus dilakukan dengan sebaik mungkin. Bertanggung jawab berarti suatu sikat terhadap tugas yang yang harus kita selesikan untuk tidak bermalas-malasan, atau hanya mengantungkan kepada orang lain saja.

Orang yang mempunyai wawasan biasanya lebih bersedia untuk bertanggung jawab secara prinsipial tidak terbatas. Ia tidak

membatasi perhatiannya pada apa yang menjadi urusan dan kewajibannya, melainkan merasa bertanggung jawab di mana saja ia diperlukan. Ia bersedia mengerahkan tenaga dan kemampuan di mana ia di tantang unutk menyelamatkan sesuatu. Ia bersikap positif, kreatif, kritis dan objektif.

4. Kemandirian Moral

Apabila kita ingin mencapai kepribadian moral yang kuat, maka jangan pemah ikut-ikutan saja dengan perbagai pandangan moral dalam lingkungan kita, melainkan selalu membemtuk penilaian dan pendirian sendiri dan bertindak sesuai dengan jalan atau aturan yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Kemandirian moral adalah kekuatan batin untuk mengambil sikap moral sendiri dan untuk bertindak sesuai dengannya. Mandiri secara moral berarti bahwa kita tidak dapat dibeli oleh mayoritas, bahwa kita tidak pemah akan rukun hanya demi kebersamaan kalau kerukunan itu malanggar keadilan.

5. Keberanian Moral

Keberanian moral menunjukkna diri dalam tekad untuk tetap mempertahankan sikap yang diyakini sebagai kewajiban, apabila tidak disetujui atau secara aktif dilawan oleh llingkungan. Orang yang memiliki keutamaan itu tidak mundur dari tugas dan tanggung

jawab atau diancam oleh banyak orang. Keberanian moral adalah kesetiaan terhadap suara hati yang menyatakan diri dalam kesediaan untuk mengambil resiko konflik.

Orang yang berani secara moral akan membuat pengalaman yang lebih menarik. Setiap kali ia berani mempertahankan sikap yang diyakini, ia merasa lebih kuat dan berani dalam hatinya, dalam arti bahwa ia semakin dapat mengatasi perasaan takut dan malu yang sering mencekam dia. Ia merasa lebih mandiri. Bagaikan batu karang yang kokoh walau dihujat dengan kezaliman pihak-pihak yang kuat dan berkuasa.

Dokumen terkait