No Kegiatan/Indikator Satuan
Tahun
2009 2010 2011 2012*)
1 Biodiesel Kilo Liter 119.348 223.041 358.812 357.747
2 Bioetanol**) Kilo Liter 1.058 - - -
Total Kilo Liter 120.406 223.041 358.812 357.747
3 Kapasitas Terpasang PLTP
MW 1.189 1.189 1.226 1.341***)
Sumber: Kemen ESDM, 2012 *) Realisasi s/d 15 Juni 2012
**) Bioetanol tidak diproduksi lagi sejak tahun 2010 ***) Target 2012
Permasalahan Pelaksanaan dan Tindak Lanjut
Pembangunan ketenagalistrikan, migas terkendala oleh
beberapa hal, antara lain: (1) ketergantungan pada energi fosil untuk pembangkit listrik; (2) masih terbatasnya jangkauan pelayanan penyediaan tenaga listrik; (3) masih terbatasnya mutu dan keandalan penyediaan tenaga listrik; dan (4) belum optimalnya penyediaan tenaga listrik oleh badan usaha (swasta, daerah, koperasi) dan peran pemerintah daerah yang masih terbatas.
Untuk itu, tindak lanjut yang akan dilakukan adalah: (1) melanjutkan program percepatan pembangunan PLTU 10.000 MW termasuk jaringan transmisinya serta antisipasi persiapan penyediaan batubaranya dengan melakukan koordinasi baik dengan pemerintah daerah, maupun dengan kementerian/instansi pusat lainnya; (2) mempercepat pembangunan berbagai pembangkit listrik yang baru terutama yang menggunakan energi terbarukan khususnya panas bumi; (3) melanjutkan pengembangan jaringan transmisi serta
mengembangkan dan memperluas jaringan distribusi; (4)
penyempurnaan struktur, organisasi, dan budaya korporat pengelola sistem ketenagalistrikan nasional yang semakin efektif dan efisien;
(5) meningkatkan peran swasta dengan meningkatkan iklim investasi
serta pengembangan model transaksi bagi independent power
producers (IPP); (6) mengidentifikasi program percepatan pembangunan pembangkit listrik tahap selanjutnya untuk menjaga
kesinambungan penyediaan listrik yang diprioritaskan pada
pembangkit listrik yang menggunakan energi terbarukan; (7) melaksanakan upaya penghematan pemakaian listrik di sisi pengguna (demand side management) melalui penurunan losses, penerapan tarif non subsidi untuk pelanggan tertentu; serta (8) melaksanakan program diversifikasi energi primer di pembangkitan tenaga listrik di
supply side melalui optimalisasi penggunaan gas bumi,
pengembangan dan pemanfaatan CBM, penggantian high speed
diesel (HSD) menjadi marine fuel oil (MFO), peningkatan penggunaan batubara, dan pemanfaatan biofuel.
Peningkatan produksi minyak dan gas bumi terkendala oleh terbatasnya penemuan cadangan baru. Survei seismik 3D terhambat oleh sulitnya mendapatkan kapal survei seismik yang sesuai dengan spesifikasi survei seismik di laut dalam. Pemboran sumur eksplorasi terkendala oleh lamanya penyelesaian pembebasan lahan, perijinan
dan tidak tersedianya rig eksplorasi. Tindak lanjut yang akan
dilakukan adalah meningkatkan koordinasi dengan para pemangku kepentingan, terutama untuk menyelesaikan dan mempercepat upaya pembebasan lahan dan perijinan dengan pemerintah daerah.
Pemenuhan kebutuhan BBM, terkendala oleh terbatasnya kapasitas kilang minyak dalam negeri. Pemerintah c.q. Menteri Keuangan pada bulan Agustus 2011 telah menerbitkan PMK Nomor 130/PMK.011/2011 tentang Pemberian Fasilitas Pembebasan atau Pengurangan Pajak Penghasilan Badan, dimana industri pengilangan
minyak bumi termasuk dalam bidang usaha yang berhak
mendapatkan fasilitas pembebasan (tax holiday) atau pengurangan
pajak penghasilan. Namun fasilitas ini belum dapat meningkatkan minat badan usaha untuk membangun kilang.
Untuk itu diperlukan pembangunan kilang minyak baru. Tindak lanjut yang akan dilakukan adalah menyelesakan kajian awal
pembangunan kilang Balongan RefineryII dengan kapasitas sebesar
300 MBCD untuk dapat beroperasi pada tahun 2016, kilang minyak Tuban di Jawa Timur dengan kapasitas sebesar 300 MBCD untuk dapat beroperasi pada tahun 2017, dan kilang minyak Banten tahap I dengan kapasitas sebesar 150 MBCD untuk dapat beroperasi pada tahun 2018. Di samping itu akan dilakukan kajian kemungkinan adanya tambahan insentif fiskal lainnya, seperti pembebasan bea masuk atas barang modal, penanggungan Pemerintah atas pajak dalam rangka impor (PDRI), pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) atas suku cadang fasilitas kilang selama masa konstruksi, dan sebagainya.
Ketersediaan gas untuk pembangkit listrik dan industri di dalam negeri masih terkendala oleh rendahnya harga gas di dalam negeri, infrastruktur yang terbatas, serta masih berlakunya kontrak jangka panjang gas untuk ekspor. Untuk meningkatkan ketersediaan gas akan dilakukan: (1) penentuan harga gas mendekati harga ekspor, untuk memberikan signal positif bagi badan usaha agar dapat memasok gas untuk memenuhi permintaan di dalam negeri; (2) mempercepat penyelesaian pembangunan jaringan transmisi dan
distribusi gas bumi; (3) melakukan revitalisasi fasilitas
penyimpanan/kilang LNG yang ada seperti Arun untuk menjadi
terminal penerima (receiving terminal) LNG, disamping
mempercepat penyelesaian pembangunan fasilitas terapung terminal
penampungan LNG (floating storage receiving unit – FSRU); dan
(4) menyempurnakan aturan alokasi gas guna menjamin
ketersediaan/pasokan gas bumi untuk pasar dalam negeri.
Pengembangan panas bumi terkendala oleh tumpang tindih peruntukan lahan terutama dengan hutan produksi dan hutan lindung, disamping penetapan harga uap dan harga listik dari pembangkit listrik panas bumi (PLTP). Untuk mengatasi permasalahan lahan,
tindak lanjut yang dilakukan adalah melakukan koordinasi antar kementerian guna mempercepat proses perijinan pengusahaan panas bumi di kawasan hutan produksi dan kawasan hutan lindung, serta mempersiapkan langkah-langkah agar kegiatan panas bumi dapat
dilakukan di kawasan hutan konservasi dengan tetap
mempertimbangkan prinsip-prinsip konservasi. Sedangkan masalah penetapan harga, tindak lanjut yang akan dilakukan adalah
menyempurnakan Permen ESDM 2/2011 melalui penerapan feed-in
tariff dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber energi untuk pembangkit listrik yang ada di suatu daerah dan daya dukung lingkungan.
Pemanfaatan BBN masih marginal. Untuk itu, tindak lanjut yang akan dilakukan adalah: (1) melakukan revisi indeks harga BBN; (2) meningkatkan persentase campuran menjadi 7,5 persen biodiesel pada solar bersubsidi; (3) mengimplementasikan kewajiban pencampuran BBN pada BBM non-subsidi 2 persen untuk sektor tranportasi non PSO dan industri; dan (4) pembebasan cukai ethanol untuk bahan bakar khususnya ethanol yang diproduksi oleh usaha kecil menengah (UKM).
Upaya efisiensi energi terkendala oleh penggunaan teknologi yang belum ramah lingkungan dan tidak efisien. Untuk melakukan perubahan teknologi di industri diperlukan investasi yang cukup besar. Tindak lanjut yang akan dilakukan adalah menerapkan insentif kepada pelaku usaha yang melakukan peralihan teknologi dan penerapan penggunaan material bangunan yang hemat energi.
BAB2PRIORITASNASIONALDANPRIORITASNASIONALLAINNYA| 2-109
2.9 PRIORITAS NASIONAL 9: LINGKUNGAN HIDUP