• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Realitas ekonomi keluarga terhadap keberlangsungan

1. Gambaran tentang pekerjaan orangtua

Keluarga merupakan social pertama yang memberikan pengaruh sangat besar bagi tumbuh kembangnya anak. Secara ideal perkembangan anak akan optimal apabila mereka bersama keluarganya yang berkecukupan, Adapun realitas ekonomi masyarakat di dusun lembah bahagia II desa cendana hijau. Sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Selain itu, ada juga peternak, persawahan, buruh, pedagang atau wirausaha. Hasil penelitian di dusun lembah bahagia II menurut penuturan Bapak Kepala Desa Cendana Hijau yang mengatkan bahwa:

“Didieu mah lolobana penduduk na teuh digaweu kana tani, teumpo beu kajeun maneuh na jadi guru ouge, dadagangan,neurnak, eujeng anu lain ouge, tetep kana tani, anau laien na maeh ejeng cadangangan atueh, (disi kebanyak penduduknya berkerja pada pertanian, meskipun seorang guru, pedagang, peternak dan lain-lain. Tetap berpetani, pekerjaan yang lain hanya cadangan.)”. (wawancara pada tanggal 15 agustus 2016)

Meski dari tahun ketahun mengalami kemajuan untuk melakukan pekerjaan selain bertani. Akan tetapi penduduk dusun lembah bahagia II tetap bertani meski sebagian diantara mereka sudah berkerja sebagai guru, pedagang, berternak, buruh dan lain-lain, pekerjaan tesebut di anggap sebagai sampingan guna untuk menambah penghasilan untuk mememnuhi kebutuhan bahkan perabotan-perabotan mewah seperti kendaran bermotor, televisi dan sebagainya dapat dijumpai dirumah-rumah penduduk.

Keberlangsungan pendidikan anak tergantung dari ekonomi keluarga yang memadai. Hal ini sesuai dengan pendapat Uli selaku orangtua mengatakan bahwa :

“hente oege, sabenarna mah masyarakat di dusun lembah bahagia II pengahsilannana cukuplah boega gawean lain-lain cukuplah jeung nyakolahkeun anak, tapi pada kageoloan barang anu mewah hente mikirken masa depan anak. Da malah gengsi arie hente boega abarng-barang anu mewah. Malah jeulma maralat anu sadar pendidikan anak na. kajeun hente kabeah”(tidak juga. Sebanarnya masyarakat di dusun lembah bahgia II penghasilannya di rata-rata cukuplah karena punya pekerjaan sampingan cukup untuk menyekolahkan anak, tapi pada besar gengsinya karena kalau tidak punya barang-barang mewah tidak berpikir masa depan. Malah orang yang pengahsilan di bawa rat-rata yang sadar akan pendidikan. Walaupun tidak semuanya, tapi sebagian besar).”(wawancara pada tanggal 15 agustus 2016)

Sama halnya dengan bapak Dede selaku orangtua mengatakan bahwa:

”barudak ayeuna mah nyontoh bapak, emma. Orangtuana berhasil dadagangan jadi minat eujeng sakolah euweh da eumpo orangtuana ngek hente sakolah bisa neangan cicis loba.da sakali menang kauntungan bisa sarua enujeng gajina pegawe. Ayenamah tergantung pikiran orangtua eujeng barudakna.(anak-anak sekarang contoh bapak, mamanya, oratuanya berhasil berdagang jadi manat sekolah tidak ada karena lihat orangtua berhasil dapat uang tanpa sekolah. Sekali dapat keuntungan bisa sama dengan gaji pegawe ayena mah tergantung pola pikir orangtu dengan anak-anaknya.).”(wawancara pada tanggal 15 agustus 2016) .

Dari uraian hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa kondisi ekonomi tidaklah dapat dikatakan sebagai faktor yang mutlak, sebab hal ini tergantung pula kepada sikap orang tua, corak interaksi dalam keluarga itu sendiri, pola pikir anak dan latar belakang pekerjaan orangtua karena orangtua contoh tauladan.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa kondisi ekonomi orangtu memuaskan tetapi kadang-kadang anak mereka yang tidak mau sekolah karena

beranggapan tanpa sekolah juga bisa cari uang dan berkeinginan melanjutkan usaha oarangtua. Pola pikir juga sangat dipengaruhi oleh faktor pendidikan, pengalaman, dan nilai-nilai yang dianut di lingkungannya. Meskipun demikian, setiap orang bebas memilih dan menentukan pola pikir seperti apa yang akan dijadikan pegangan bagi dirinya

2. Gambaran tentang kepemilikian ala-alat pertanian

Masalah alat yang digunakan untuk pertanian, pekerjaan buruh, peternak, dagang, wirausaha sangat menentukan pendapatan dan produktifitas dalam menjalankan pekerjaanya. Hal ini sesuai dengan pendapat Hj. Mae selaku petani yang menyatakan bahwa :

“Arie hanyoeng loeba hasil paneunna anue sagala di gaweuan kudu lengkap peralatanna eujeng alus perawatan na, arie perawatan alus kan ngabutukan alata-alat(tanian,buruh,dagang) atueh. Aie alatna saeutik nyaea saeutik oge hasilna gieutu oge sabalikna. ( kalau ingin banyak hasil penen atau segala pekerjaan yang dikerjakan ingin mendapatkan hasil yang banyak, harus lengkap peralatannya sama harus bagus peawatannya, dan sebaliknya)”. (wawancara pada tanggal 15 agustus 2016)

Sama dengan pendapat Ibu Purwanti selaku buruh harian mengatkan bahwa :

“awal-awalna abi ngienjem sama keluarga alat-alat eujeng buburuh, terus ari meunang gaji nyisipken meli. Kan ari bouga alat-alat sorangatmah loba untungna ngagowatkeun digawe, bisa digawe ka anu lainna,”(wawancara pada tanggal 15 aguatus 2016)

Dari uraian di atas dapatlah dipahami bahwa kepemilikan alat-alat kerja sangat menentukan pengahasilan mereka. Dengan memiliki alat sendiri dan canggih yang digunakan semakin banyak hasil yang didapat, dan mempercepat kerja sehingga bisa kerja yang lain.

Pada umumnya pandangan dari segi apapun tentang ekonomi keluarga yang dapat menunjang pendidikan anak-anak, dapat mempengaruhi atau tidaknya bukan penentu mutlak dalam keberlangsungan pendidikan anak didusun lembah bahagia II desa cendana hijau kecamatan wotu kabupaten luwu timur karena dipengaruhi oleh hal-hal lain. Namun semua ini tergantung bagaimana orangtua dan peserta didik mempunyai kesadaran tentang pentingnya pendidikan. Begitu pun dengan kepememilikan alat-alat pekerja dapat sepenuhnya mempengaruhi penghasilan karena masyarakan dusun lembah bahagia II saling tolong menolong untuk memenuhi kebutuhan mereka. Tergantung dari setiap individu mengelolah dan menggunakan dengan baik.

C. Minat warga Terhadap Keberlangsungan Pendidikan Anak di Dusun Lembah Bahgia II Desa Cendana Hijau Kecamatan Wotu Kabupaten Luwu Timur.

Minat dapat mendorong dan mengarahkan seseorang pada cita-cita yang dinginkan karena adanya suatu kesadaran untuk menjadi lebih baik dengan menjadikan dirinya sendiri bermanfaat. dalam penelitian ini peneliti lebih menfokuskan pada minat orang tua menyekolahkan anaknya. Hal ini sesuai dengan pendapat bapak Edi guru SMA yang mengatakan bahwa

“Minat orangtua sangat menentukan keberlangsungan pendidikan anak dalam jenjang pendidikan. Kegiatan yang dilakukan dengan senang hati akan memberikan hasil yang baik sebab dengan adanya minat, usahanya akan timbul untuk berusaha bagaimana caranya untuk melanjutkan pendidikan anaknya”.(wawancara pada tanggal 15 agustus 2016)

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa minat merupakan salah satu pendorong yang perlu diperhatikan dalam menunjang kemampuan belajar dan memajukan kemauan anak dalam melanjutkan pendidikannya.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa pentinya memberi dorongan kepada anak-anak untuk selalu meningkatkan pendidikan mereka, Semangat dan dorongan adalah modal utama dalam mencpai cita-cita, namun banyak anak anak merasa jenuh dan bosan untuk menuntut ilmu atau bersekoalah. Maka disinilah peran orangtua untuk selalu memberikan dorongan kepada anaka-anaknya agar tetap mau melanjutkan pendidikannya.

Minat orangtua salah satu penentu keberlangsungan pendidikan anak di dusun lembah bahagia II. Hal ini seperti diungkapkan oleh Ibu Imi selaku orangtua bahwa :

“ya satuju atuh, memang minat orangtua bisa oege ngadukung,da percuma arie barudakna hoyoeng sakolah ari emma eujeng bapak na eumbung nyaokolaken da percuma. Tapi dipikir-pikir mana aya orangtua hente minat nyakolaken anakna, pasti orangtua minat kabeah, tapi sabagian kuer hayalan arie neuompo dei danana. Kajen oge diluwu timur gratis sakolana da aya biaya anu lainna oege.(Ya setuju, memang minat orangtua bisa sangat mendukung, karena percuma kalau anaknya ingin sekolah tapi ibu dan bapaknya tidak mau kasih sekolah kan percuma juga. Tapi kalau dipikir-pikr mana ada orangtua yang tidak berminat menyekolahkan anaknya, pasti berminat semua, tapi sebagian hayalan kalau mereka ingat akan biaya pendidikan. Biar diluwu timur gratis sekolahnya tetap masih ada biaya yang lain).” (wawancara pada tanggal 15 agustus 2016).

Sama dengan pendapat bapak Tholib selaku orangtua :

“ya satuju, sagalana bersangkutan eujeng pendidikan,ayeuna maeuh arie di gawea di tanyauken boeuga ijazah teunte?, lulusan mana? . Heunte

ditanyauken maneuh bisa baca ejeung nulis? Arie moedah ngabaca tulis maeuh heuntu cukup atueh. Teuompo anyeun-anyeuna arie baruer neangan keurja. (ya setuju, segalanya bersangkutan dengan pendidikan. Seakarang kalau kerja ditanya punya ijazah?, lulusan mana?. Tidak ditanya kamu biasa basa dengan tulis?, kalau modal baca tulis tidak cukup. Lihat saja sekarang kalau orang-orang cari kerja.”(wawancara pada tanggal 15 agustus 2016)

Dari uraian di atas menunjukan bahwa kendala anak yang ingin sekolah akan tetapi orangtua mereka enggan menyekolahkan, karena tidak sanggup dengan biaya pendidikan, tidak dapat di pungkiri zaman semakin maju dulu bisa bekerja dengan modal baca tulis saja akan tetapi seiring waktu dibutuhkan gelar untuk memperoleh pekerjaan.

Dengan demikian dapat di pahami bahwa masyarakat awan tentang pendidikan itu bukanlah hal yang sangat begitu penting karena bagi mereka pendidikan tidak akan memepengaruhi kehidupan mereka dan anak mereka. Mereka berpikir yang penting biasa baca tulis itu sudah cukup, hal itu disebabkan karena mereka kurang mengerti arti sesungguhnya pendidikan dan betapa pentingnya pendidikan itu untuk masa depan anaknya. Selain untuk masa depan anak pendidikan juga penting bagi kehidupan sehari-ahari yaitu agar tidak dibohongi orang dan tidak ketinggalan zaman. Selain itu pendidikan juga sanagat menentukan masa depan.

Namun masih lebih banayak mayarakat yang menyadari bahwa bisa baca tulis belum cukup untuk bekal memperoleh pekerjaan, mereka harus lebih berusaha lagi untuk menguasai beberapa keterampilan sesuai kebutuhan kerja mereka.

Banyaknya faktor yang mempengaruhi minat, maka dalam penelitian ini peneliti lebih menfokuskan pada minat orang tua menyekolahkan anaknya kejenjang pendidikan.

1. Faktor intrinsik yang meliputi rasa tertarik, perasaan senangdan motivasi orangtua karena saat orangtua mempunyai suatu harapan atau niat yang didasari oleh suatu perilaku (rasa tertarik), niat tersebut setelah dijalani memberikan ketertarikan serta rasa senang saat melakukannya (perasaan senang), dan kemauan yang menimbulkan kesenangan tersebut timbul karena suatu dorongan (motivasi).

Hal ini sesuai denganungkapan Ibu Ningsih selaku orangtua mengatakan bahwa :

“ya satuju,abi mah memang jeleuma heunte boega tapi abi bega kahayang yakolaken anak, jeung anak na oge hanyoeng sakolah. Jadi salku orangtua ya berusaha neangan icis eujeng ngabiayaan sakolah.dengan harapan anak-anak lebih baik kahiuruppan nana dari pada orangtua na. (Ya setuju, saya orang tidak punya. tapi punya keinginan sekolahkan anak dan anaknya juga ingin sekolah. Jadi kami selaku orangtua berusaha kumpulkan uang untuk biaya sekolah dengan harapan mudah-mudahan kehidupan anak-anak lebih baik dari pada orangtuanya).”(wawancara pada tanggal 15 agustus 2016)

Dari pemaparan ibu Ningsih peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa orangtua didusun lembah bahagia II berminat untuk menyekolahkan anaknya. Karena bagi mereka pendidikan dapat mengubah hidup mereka.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa masyarakat menunjukkan rasa ketertarikan atau minat orangtua dapat membawa berubahan atau peningkatan dalam kehidupan keluarga. Hal ini terbukti bahwa ada keluarga yang lumayan tidak punya

tapi mampu menyekolahkan anaknya dikarena rasa minat mereka terhadap pendidikan.

2. Faktor ekstrinsik yang meliputi status sosial ekonomi orang tua, status sosial ekonomi yang terdiri dari tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan penghasilan.

Status sosial ekonomi sangat berperan penting, karena orang tua pasti mempertimbangkan keadaan status sosial ekonomi keluarga sebelum menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan. Hasil penelitian di dusun lembah bahagia II menurut penuturan bapak Dady selaku kepala dusun bahwa :

“iyah atuh, loeba kolot kaya didie tapi arie diteompo dilatarbelakang kahirupan nanan heante nginjakeun kana bangku sakola jadi arie nyakolaken barudakna teh mikir-mikir sarebu kali. Aya oege kolot serba pas-pasan tapi pernah nginjak bangku sakolah ti SD samapai kuliah jadi berusaha dedengkeakan samapi dikurangi jatah dahar na jadi 2 kali sehari amieh barudakna sakolah. Yeah neng, memang satatus sosial teh bisa mempengaruhi minat kolot sakolaken anakna tapi neng dei-dei tergantung dari tingkat kesadaran kolot eujeng barudak paham pentingna kana pendidikan, sebenarna yang kaya,cukup,pas-pasan bisa nyakolaken barudakna da diluwu timur sakola gratis bahkan aya program na bupati barudak yang kuliah areak digratisken oege, tapi teompo kayataan nana banyak barudak heunte sakola..(iya, banyak orangtua kaya disini tapi kalu dilihat latar belakang kehidupannya tidak injak bangku kuliah jadi mau menyekolahkan anaknya berpikir seribu kali. Ada juga oarangtua yang pas-pasan tapi pernah injak bangku sekolah dari SD sampai kuliah jadi berusaha keras sampai jatah makan dikurang jadi 2 kali sehari demi menyekolahkan anaknya. Nih neng, memang satatus sosial biasa mempengaruhi orangtua menyekolahkan anaknya tapi lagi-lagi tergantung dari tingkat kesadaran orangtua dan anaknya sendiri. Sebenarnya orang kaya, cukup, pas-pasan bisa menyekolakan anaknya karena pendidikan di luwu timur gartis bahkan ada program bupati anak yang kuliah akan digartiskan. Tapi liaht kenyataannya banyak anak tidak sekolah)”. (wawancara pada tanggal 15 agustus 2016)

Dari uraian tersebut menunjukan bahwa status sosial dan ekonomi orangtua tidak sepenuhnya mempengaruhi minat orangtua menyekolahkan anaknya. Akan

tetapi, ada sebab lain yang mengakibatkan tidak berlangsungnya pendidikan anak didusun lembah bahagia II desa cendana hijau.

Dengan demikian dapat di pahami bahwa tingkat kesadaran tentang pendidikan harus ditanamkan terlebih dahulu kepada setiap para orangtua, anak-anak, agar tidak terdapat tumpang tindih sehingga fasilitas yang sudah memadai dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

D. Faktor Peluang Dan Tantangan Ekonomi Keluarga Terhadap

Dokumen terkait