• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.7 Reception Analysis, Pemahaman Terhadap Khalayak Aktif

Reception Analysis yang merupakan gabungan antara social science dan humanis, memberikan penekanan penggunaan media sebagai refleksi dari sejumlah konteks sosio cultural dan pemeknaan pada produk budaya dan pengalaman. Pendekatan humanis, menyumbangkan konsep bahwa komunikasi massa adalah praktek produksi budaya, dan sirkulasi makna dalam konteks sosial. Pendekatan social – science menyumbangkan model penelitian empiris yang menghubungkan pesan media dan khalayaknya. Reception Analysis merupakan riset khalayak yang mengkonstruksi data valid akan penerimaan, penggunaan, dan dampak media terhadap khalayak (Jensen & Jankowski, 1991 : 135). Reception Analysis berasumsi bahwa takkan ada efek tanpa adanya pemaknaan, maka dibutuhkan peran aktif individu. Individu pengguna media dalam Reception Analysis dilihat Fiske dan de Certaeu sebagai active producer meaning, bukan sekedar consumers media meaning. Khalayak memaknai teks media berdasarkan pada lingkungan sosial dan

budaya serta bagaimana khalayak menjalaninya sebagai pengalaman (http://www. Cultstock ndirect.co.uk/MUHome/cstml/index.html.2005).

Reception Analysis muncul karena selama ini riset mengenai media hanya berkutat pada isi pesan dan bukan pada bagaimana hubungan antara isi media dan khalayaknya. Metode ini telah disunakan oleh Janice Radway (1987) dalam Reading The Romance, sebuah studi tentang interpretative community perempuan pembaca novel pada tahun 1985. Ien Ang meneliti bagaimana penerimaan khalayak terhadap serial Dallas yang menemukan bahwa khalayak memaknai berbeda serial tersebut. David Morley pada tahun 1986, mengkaji tentang bagaimana pemaknaan terhadap penggunaan televisi sebagai alat kekuasaan patriarki (www.cultsock. Ndirect.co. uk:2005)

Berdasarkan model “encoding-decoding”-nya, Hall dalam Barker mengatakan bahwa produksi makna tidak menjamin dikonsumsinya makna tersebut sesuai apa yang dimaksud oleh produsennya (encoder) karena pesan-pesan, yang dikonstruksi sebagai system tanda dengan berbagai komponen yang multi penonjolan, bersifat polisemis, atau mereka memiliki lebih dari satu rangkaian makna potensial. Jika pemirsa bertempat pada posisi sosial yang berbeda (dalam kelas gender, misalnya) dari para produser, dengan segala sumber daya cultural yang ada pada mereka, mereka akan bisa membaca atau menafsirkan (decode) program-program itu secara alternative (Barker 2005:43).

Sebagaimana dikutip dari McQuail, karakteristik dari Reception Analysis adalah sebagai berikut :

 Teks media harus "dibaca" melalui persepsi penonton, yang membangun makna dan menikmati teks-teks media yang ditawarkan (dan tidak pernah Proses menggunakan media dan bagaimana yang tetap atau diprediksi). terbentang dalam konteks tertentu objek pusat kepentingan menggunakan media biasanya situasi khusus dan tugas-berorientasi sosial

 Pemirsa envolve keluar dari partisipasi dalam komunitas "penafsiran." untuk media tertentu genre sering terdiri atas "komunitas terpisah interpretasi" yang berbagi banyak bentuk yang sama wacana dan kerangka penonton tidak pernah pasif, dan kerja untuk membuat rasa media. Tidak semua anggota mereka bersama-sama, karena beberapa fans akan Metode yang lebih berpengalaman atau lebih aktif daripada yang lain. harus "kualitatif" dan mendalam, sering etnografi, mengingat isi, penerimaan tindakan, dan konteks bersama-sama.( Indolf dalam Mc Quail 1997:19)

Dari karakteristik tersebut di atas, dapat diketahui bahwa Reception Analysis merupakan sebuah pendekatan yang melihat bagaimana khalayak secara aktif memberikan makna terhadap texs media dalam Reception Analysis dipahami sebagai penerimaan. Proses penerimaan ini melibatkan semua unsure dan latar belakang budaya yang dimiliki oleh masing-masing individu.

Audience “decode” the meanings proposed by sources according to their own perspectives and wishes, athough often within some shared framework or experience.

(McQuail. 1997:101)

Penerimaan tersebut tidak dapat diprediksi sebelumnya, karena masing-masing individu memaknai sebuah teks media berdasarkan field of experience dan frame of reference yang masing-masing berbeda satu sama

lain. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode Reception Analysis karena metode ini merupakan metode yang paling tepat untuk mengetahui bagaimana pemaknaan khalayak terhadap suatu teks media, semantara penelitian ini pun berusaha untuk mengeksplorasi bagaimana para pendidik yang berbeda memaknai satu teks yang sama berdasarkan field of experience dan frame of reference-nya.

2.7.1 Encoding-Decoding

Pendekatan khalayak aktif semakin berkembang sebagai reaksi terhadap berbagai kajian khalayak yang mengasumsikan bahwa khalayak mengkonsumsi media secara pasif, dengan makna dan pesan dari media yang dengan mudah diterima oleh khalayak. Chris Barker dalam bukunya, Cultural Studies Teori dan praktek menyatakan bahwa pemirsa televisi bukanlah massa homogeny (tak terdeferensiasi) yang merupakan kumpulan individu yang saling terisolasi. Menonton televisi merupakan kegiatan yang sosial dan cultural yang pada intinya berkaitan dengan makna. Pemirsa merupakan pencipta makna yang aktif dalam hubungannya dengan televisi (mereka tidak semata-mata menerima makna tekstual begitu saja) dan mereka melakukannya berdasarkan kompetensi cultural yang telah diperoleh sebelumnya dalam konteks bahasa dan hubungan sosial. Jiga, teks dipandang memiliki makna yang multibentuk (polisemi) dan bukannya mengandung satu set makna yang jelas atau tidak ambigu. Teks adalah pembawa beragam makna, yang Cuma

sebagiannya yang diterima pemirsa. Pemirsa yang terbentuk secara berbeda akan menanggapi makna tekstual yang berbeda juga (Barker,2005:354-355)

Barker menekankan bahwa pemirsa atau khalayak yang berbeda akan menanggapi makna teks secara berbeda, bergantung pada budaya yang membentuk khalayak tersebut. Hal ini berarti bahwa makna tidak terdapat pada teks itu sendiri, melainkan terdapat pada individu. Makna diciptakan melalui hubungan antar teks dan pembaca teks itu sendiri. Individu melakukan negosiasi makna terhadap teks. Latar belakang budaya masing-masing khalayaknya yang akhirnya menjelaskan mengapa satu khalayak memaknai teks sedemikian rupa, sementara yang lain tidak.

Proses negosiasi makna seperti diatas tidak lepas dari proses encoding-decoding. Hall dalam beaker memahami proses encoding (proses menanamkan kode-kode ke dalam teks) sebagai artikulasi dari momen-momen produksi, sirkulasi, distribusi dan reproduksi yang bisa dibedakan tapi saling terkait. Diproduksinya makna tidak menjamin dikonsumsinya makna tersebut sebagaimana dimaksud para encoder (penanam/penyampai kode) karena pesan media, yang terkonstruksi sebagai system tanda dengan berbagai komponen yang aksentuasinya beragam, bersifat polisemi (Barker, 2005:356). Makna dan pesan tidak sekedar ditransmisikan, keduanya senantiasa diproduksi : pertama oleh sang pelaku encoding dari bahan ‘mentah’ kehidupan sehari-hari; kedua, oleh khalayak dalam kaitannya dengan lokasinya pada wacana-wacana lainnya. Selain itu, sebagaimana dijabarkan Hall, momen encoding dan decoding mungkin tidak benar-benar simetris. Para professional media

mungkin menginginkan decoding sama dengan encoding, namun mereka tidak bisa memastikan atau menjamin hal ini (Storey, 2007:14)

Hall menyatakan tiga posisi khalayak dalam proses decoding. Yang pertama adalah dominant hegemonic. Dalam posisi ini, khalayak menerima dan menyetujui makna yang disodorkan oleh teks atau yang disebut dengan preferred meaning. Kedua adalah negotiated code, dimana dalam posisi ini khalayak mencocokkan mekna mereka dengan makna dalam teks, dan yang ketiga adalah oppositional code, dimana pada proses decoding ini informan menolak makna yang disodorkan oleh teks (Storey, 2007:14-16). Pendek kata, pesan-pesan tersebut membawa beragam makna dan bisa ditafsirkan secara berbeda-beda. Bukan berarti bahwa semua makna punya kedudukan yang ssejajar, teks akan ‘terstruktur dalam dominasi’ yang mengarahkan pada suatu ‘makna yang lebih diinginkan’, makna yang disodorkan pada kita oleh teks. Khalayak yang memiliki kode-kode cultural yang serupa dengan para encoder akan melakukan decoder pesan-pesan yang disampaikan dengan kerangka yang sama. Tetapi kalau berada pada posisi sosial yang berbeda, maka proses decode pesan bisa mengambil jalan alternatif (Barker, 2005:356-357). Artinya, bahwa seorang pengarang, sutradara, atau apapun yang bertindak sebagai kominikator dalam proses komunikasi tidak dapat memastikan bahwa makna pesan yang disampaikan akan diterima sama persis oleh khalayak karena adanya perbedaan latarbelakang, kecuali jika kedua belah pihak memiliki kacamata budaya yang sama.

Dokumen terkait