• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASONANSI, ALITERASI, DAN PURWAKANTHI LUMAKSITA DALAM SERAT TRIPAMA BAIT 1-7

B. Pemanfaatan Aspek Penanda Morfologis dan Diksi dalam Sêrat Tripama Karya KGPAA Mangkunegara IV

1. Morfologi Literer

1.2. Reduplikasi a. Dwilingga Wutuh

Dwilingga wutuh merupakan perulangan kata yang sama pada kata selanjutnya, bisa dengan menambahkan atau mengurangi salah satu vokal atau konsonan.

(163) kinarya gul-agul (ST/B5/L7) ‘yang dijadikan andalan’

Data (163) menunjukkan pemanfaatan dwilingga wutuh, yaitu berupa pengulangan kata agul ‘andalan’ yang diulang menjadi gul-agul ‘andalan’. Kata gul-agul ‘andalan’ pada dasarnya berasal dari kata agul-agul ‘andalan’ yang berkelas kata sebagai kata benda. Kata gul-agul ‘andalan’ mengalami pelesapan vokal /a/ di bagian awal kata. Pelesapan tersebut bertujuan untuk memenuhi konvensi sastra berupa jumlah guru wilangan pada baris ke tujuh yang berjumlah enam suku kata. Pengulangan kata gul-agul ‘andalan’ menimbulkan kesan indah.

2. Diksi

Diksi merupakan pemilihan kosakata yang dinilai tidak lazim dan memiliki kesan keindahan atau arkhais dalam sebuah karya sastra. Pemilihan kosakata atu diksi dalam sebuah karya sastra sangat diperlukan, karena diksi juga bisa dijadikan sebagai salah satu parameter dalam menilai suatu karya sastra, baik atau tidaknya mutu karya sastra tersebut. Di sisi lain, diksi juga bisa dijadikan sarana untuk mengetahui kekhasan pengarang dalam menciptakan karya sastranya. Adapun diksi yang terdapat pada tembang dhandhanggula dalam Sêrat Tripama ini cenderung berfokus kepada masalah keprajuritan. Pemanfaatan diksi meliputi sinonimi, antonimi, protesis, têmbung plutan, têmbung garba, penggunaan bahasa Jawa krama, dan penggunaan bahasa Jawa Kuna/ Sanskêrta.

2.1.Sinonimi

Sinonimi dapat diartikan sebagai nama lain untuk benda atau hal yang sama; atau ungkapan yang maknanya kurang lebih sama dengan ungkapan lain (Sumarlam 2013: 61). Berikut sinonimi yang ditemukan dalam data.

(164) guna bisa saniskarèng karya (ST/B2/L2) ‘pandai dalam segala hal pekerjaan’

Data di atas menunjukkan adanya sinonimi kata dengan kata, yaitu pada kata guna ‘pandai’ dan pada kata bisa ‘pandai’. Kata guna merupakan salah satu kosa kata dalam bahasa Jawa Kuna atau bahasa Sanskerta yang berarti ‘pandai’.

2.2.Antonimi

Antonimi dapat diartikan sebagai nama lain untuk benda atau hal yang lain; atau satuan lingual yang maknanya berlawanan/ beroposisi dengan satuan lingual yang lain (Sumarlam, 2013: 62-63). Berikut data yang mengandung antonimi.

(165) lan nolih yayah réna (ST/B4/L6) ‘dan mengangkat ayah ibunya’

Data di atas menunjukkan adanya antonimi hubungan yang sifatnya saling melengkapi, yaitu pada kata yayah ‘ayah’ dan réna ‘wong wadon’. Adapun kata yayah di dalam konteks tuturan di atas berarti ‘ayah’ sebagai seorang laki-laki dimungkinkan ada kehadirannya karena kehadiran kata lain yang menjadi oposisinya yaitu kata réna ‘wong wadon’ yang mengacu pada seorang ibu. (166) lèn yayah tunggil ibu (ST/B5/L4)

‘berlainan ayah beribu sama’

Berdasarkan konteks tuturan (166), yayah yang berarti ‘ayah’ sebagai seorang laki-laki dimungkinkan ada kehadirannya karena kehadiran kata lain yang menjadi oposisinya yaitu kata ibu ‘ibu’. Kata yayah ‘ayah’ beroposisi dengan kata ibu ‘ibu’ yang sifatnya saling melengkapi. 2.3.Protesis

Protesis adalah penambahan suara di awal kata. Penambahan suara tersebut tidak mengubah arti dan makna kata (Sry Satriya Tjatur Wisnu Sasangka, 2011: 20). Adapun pemanfaatan protesis dalam data sebagai berikut.

(167) aprang tandhing lan ditya Ngalêngka aji (ST/B2/L9) ‘perang tanding melawan raja raksasa Ngalêngka’

Data di atas menunjukkan pemanfaatan protesis atau penambahan bunyi di awal kata, yakni kata aprang ‘perang’ yang berasal dari kata pêrang ‘perang’ (yang telah mengalami penambahan menjadi aprang ‘perang’). Adanya protesis berfungsi untuk memenuhi jumlah guru wilangan pada baris kesembilan yang berjumlah dua belas suku kata.

(168) aprang tandhing lan sang Dananjaya (ST/B6/L2) ‘perang tanding melawan sang Dananjaya’

Data di atas menunjukkan pemanfaatan protesis atau penambahan bunyi di awal kata, yakni kata aprang ‘perang’ yang berasal dari kata pêrang ‘perang’ (yang telah mengalami penambahan menjadi aprang ‘perang’). Adanya protesis berfungsi untuk memenuhi jumlah guru wilangan pada baris kedua yang berjumlah sepuluh suku kata.

(169) aprang ramé Karna mati jinêmparing (ST/B6/L9) ‘dalam perang Karna gugur dipanah’

Data di atas menunjukkan pemanfaatan protesis atau penambahan bunyi di awal kata, yakni kata aprang ‘perang’ yang berasal dari kata pêrang ‘perang’ (yang telah mengalami penambahan menjadi aprang ‘perang’). Adanya protesis berfungsi untuk memenuhi jumlah guru wilangan pada baris kesembilan yang berjumlah dua belas suku kata, agar sesuai dengan konvensi sastra tembang dhandhanggula.

2.4.Têmbung Plutan

Têmbung plutan yaitu berubahnya suara pada suatu kata, tanpa mengubah makna kata (Padmosoekotjo, dalam Untari 2014: 21). Berikut têmbung plutan yang ditemukan pada data. (170) kang ginêlung tri prakara (ST/B1/L8)

‘yang dimuat dalam tiga hal’

Data tersebut menunjukkan pemanfaatan têmbung plutan atau pengurangan bunyi di awal kata, yakni kata kang ‘yang’ berasal dari kata ingkang ‘yang’. Pengurangan buny di awal kata

disebut dengan aferesis. Adanya têmbung plutan berfungsi untuk memenuhi jumlah guru wilangan pada baris ke delapan yang berjumlah delapan suku kata.

(171) guna kaya puruné kang dènantêpi (ST/B1/L9) ‘pandai dan kemampuannya itulah yang ditekuni’

Data tersebut menunjukkan pemanfaatan aferesis atau pengurangan bunyi di awal kata, yakni kata kang ‘yang’ berasal dari kata ingkang ‘yang’. Adanya aferesis berfungsi untuk memenuhi jumlah guru wilangan pada baris ke sembilan yang berjumlah dua belas suku kata. (172) satriya gung nagari Ngalêngka (ST/B3/L2)

‘satriya agung negeri Ngalêngka’

Data tersebut menunjukkan pemanfaatan aferesis atau pengurangan bunyi di awal kata, yakni kata gung ‘besar’ berasal dari kata agung ‘besar’. Adanya aferesis berfungsi untuk memenuhi jumlah guru wilangan pada baris ke dua yang berjumlah sepuluh suku kata.

(173) mring raka amrih raharja (ST/B3/L8) ‘kepada kakandanya agar selamat’

Kata mring ‘kepada’ berasal dari kata maring ‘kepada’. Kata tersebut mengalami pengurangan suara di tengah kata atau disebut dengan sinkop. Pengurangan suara pada data di atas berfungsi untuk memenuhi jumlah guru wilangan pada baris ke delapan yang berjumlah delapan suku kata.

(174) Dasamuka tan kéguh ing atur yêkti (ST/B3/L9) ‘Dasamuka tak tergoyahkan oleh pendapat baik’

Kata tan ‘tidak’ pada data di atas merupakan têmbung plutan yang berupa aferesis, karena kata tersebut berasal dari kata dasar datan ‘tidak’ dan mengalami pengurangan suara di awal katanya. Pengurangan suara pada data di atas berfungsi untuk memenuhi jumlah guru wilangan pada baris ke sembilan yang berjumlah dua belas suku kata.

(175) mring kang raka sira tan lênggana (ST/B4/L2) ‘oleh kakandanya ia tidak menolak’

Data di atas menunjukkan pemanfaatan aferesis atau pengurangan bunyi di awal kata, yakni kata kang ‘yang’ berasal dari kata ingkang ‘yang’. Adanya aferesis berfungsi untuk memenuhi jumlah guru wilangan pada baris kedua yang berjumlah sepuluh suku kata.

(176) duk bantu prang Manggada nagri (ST/B2/L5) ‘ketika membantu perang negeri Manggada’

Data tersebut menunjukkan pemanfaatan têmbung plutan, yakni kata prang ‘perang’ yang berasal dari kata pêrang ‘perang’ (yang telah mengalami elipsis menjadi prang ‘perang’). Adanya têmbung plutan yang berupa aferesis berfungsi untuk memenuhi jumlah guru wilangan pada baris kelima yang berjumlah sembilan suku kata.

(177) duk awit prang Ngalêngka (ST/B3/L6) ‘semenjak membantu perang Ngalêngka’

Data tersebut menunjukkan pemanfaatan têmbung plutan yakni kata prang ‘perang’ yang berasal dari kata pêrang ‘perang’ (yang telah mengalami elipsis menjadi prang ‘perang’). Adanya têmbung plutan yang berupa aferesis berfungsi untuk memenuhi jumlah guru wilangan pada baris keenam yang berjumlah tujuh suku kata.

2.5.Têmbung Garba

Têmbung garba atau kata gabung yaitu satuan lingual yang mengalami persandian sebagai akibat dari penggabungan dua kata atau lebih. Persandian adalah timbulnya suara baru sebagai akibat dari bergabungnya dua satuan lingual. Berikut contoh têmbung garba yang terdapat pada data.

(178) guna bisa saniskarèng karya (ST/B2/L2) ‘pandai dalam segala pekerjaan’

Data di atas menunjukkan pemanfaatan têmbung garba yaitu kata saniskarèng ‘dalam segala’ yang berasal dari kata saniskara + ing. Adanya vokal /a/ dan vokal /i/ yang bersandingan pada kata saniskara+ing menyebabkan persandian dalam sehingga membentuk vokal /è/.

Pemanfaatan têmbung garba pada tuturan di atas untuk menimbulkan kesan estetis suatu kata. Selain itu, pemanfaatan têmbung garba juga untuk memenuhi konvensi tembang dhandhanggula berupa jumlah guru wilangan pada baris ke dua yang berjumlah sepuluh suku kata.

(179) wus mukti anèng Ngalêngka (ST/B4/L8) ‘telah hidup nikmat di negeri Ngalêngka’

Data tersebut menunjukkan kata anèng ‘di’ yang berasal dari kata ana+ing. Seperti pada sebelumnya, adanya vokal /a/ dan vokal /i/ yang bersandingan pada kata ana+ing menyebabkan adanya persandian dalam, sehingga membentu vokal /è/. Pemanfaatan têmbung garba pada tuturan di atas untuk memenuhi konvensi sastra tembang dhandhanggula, yaitu berupa jumlah guru wilangan di baris ke delapan yang berjumlah delapan suku kata.

(180) anèng nagri Ngalêngka (ST/B5/L6) ‘di negeri Ngalêngka’

Data di atas memiliki kesamaan dengan data sebelumnya, yaitu kata anèng ‘di’ yang berasal dari kata ana+ing. Adanya vokal /a/ dan vokal /i/ yang bersandingan pada kata ana+ing menyebabkan adanya persandian dalam, sehingga membentu vokal /è/. Pemanfaatan têmbung garba pada tuturan di atas untuk memenuhi konvensi sastra tembang dhandhanggula, yaitu berupa jumlah guru wilangan di baris ke enam yang berjumlah tujuh suku kata.

(181) marga dènnya arsa males sih (ST/B6/L5)

‘karena dengan demikian ia memperoleh jalan membalas cinta kasih’

Data di atas menunjukkan kata males sih ‘membalas cinta kasih’ yang berasal dari kata males + asih. Pemanfaatan têmbung garba pada tuturan di atas untuk memenuhi konvensi sastra tembang dhandhanggula, yaitu berupa jumlah guru wilangan di baris ke lima yang berjumlah sembilan suku kata. Meskipun sebagai têmbung garba, penulisan kata malês sih dipisah, dikarenakan adanya konsonan /s/ ganda yang berada di tengah kata tersebut. Pemisahan penulisan kata tersebut berfungsi untuk efektivitas kata.

(182) sumbaga wirotama (ST/B6/L10) ‘mahsyur sebagai perwira utama’

Data tersebut menunjukkan kata wirotama ‘perwira utama’ yang berasal dari kata wira + utama. Adanya vokal /a/ dan vokal /u/ yang bersandingan pada kata wira+utama menyebabkan adanya persandian dalam, sehingga membentu vokal /o/. Pemanfaatan têmbung garba pada tuturan di atas untuk memenuhi konvensi sastra tembang dhandhanggula, yaitu berupa jumlah guru wilangan di baris ke sepuluh yang berjumlah tujuh suku kata.

(183) katri mangka sudarsanéng Jawi (ST/B7/L1) ‘ketiganya sebagai teladan orang Jawa’

Data di atas menunjukkan kata sudarsanêng ‘teladan’ yang berasal dari kata sudarsana + ing. Adanya vokal /a/ dan vokal /i/ yang bersandingan pada kata sudarsana+ing menyebabkan adanya persandian dalam, sehingga membentu vokal /è/. Pemanfaatan têmbung garba pada tuturan di atas untuk memenuhi konvensi sastra tembang dhandhanggula, yaitu berupa jumlah guru wilangan di baris ke satu yang berjumlah sepuluh suku kata.

(184) pantês lamun sagung pra prawira (ST/B7/L2) ‘sepantasnyalah semua perwira’

Kata sagung yang berasal dari kata sa + agung. Bertemunya dua vokal /a/ di tengah kata menyebabkan terjadinya elipsis atau pelesapan salah satu vokal /a/. Penggabungan dua kata tersebut utamanya bertujuan untuk memenuhi jumlah guru wilangan dalam setiap baris tembang, yaitu pada baris ke dua yang berjumlah sepuluh suku kata.

(185) manawa tibèng nistha (ST/B7/L6) ‘jikalau jatuh dalam kehinaan’

Data (185) menunjukkan kata tibèng ‘jatuh dalam’ yang berasal dari kata tiba + ing. Adanya vokal /a/ dan vokal /i/ yang bersandingan pada kata tiba+ing menyebabkan adanya persandian dalam, sehingga membentu vokal /è/. Pemanfaatan têmbung garba pada tuturan di atas

untuk memenuhi konvensi sastra tembang dhandhanggula, yaitu berupa jumlah guru wilangan di baris ke enam yang berjumlah tujuh suku kata.

2.6.Têmbung Camboran

Têmbung Camboran ialah dua kata atau lebih disambung menjadi satu, adapun kata-katanya ada yang utuh dan ada juga yang sudah disingkat. Berdasarkan arti sederajatnya, têmbung camboran dibedakan menjadi tiga:

1. Bentuk têmbung camboran yang memiliki arti sederajad (rangkaian kopulatif). Kata tersebut dapat diucapkan lain (agak panjang) dengan menambah kata lan atau saha. Misalnya, wadya bala.

2. Têmbung Camboran yang kata keduanya menjadi kata keterangan kata yang berada di depannya (rangkaian determinatif). Data yang menunjukkan têmbung camboran yang berupa rangkaian determinatif sebagai berikut:

(186) aprang tandhing lan ditya Ngalêngka aji (ST/B2/L9) ‘perang tanding melawan raja raksasa Ngalêngka’

Kata ditya ‘raksasa’ dan kata Ngalêngka ‘Ngalêngka’ merupakan dua kata yang memiliki hubungan determinatif, karena kata Ngalêngka ‘Ngalêngka’ berkedudukan sebagai kata yang menerangkan kata ditya ‘raksasa’. Dengan demikian dapat dimaknai bahwa yang dimaksud ditya Ngalêngka atau raksasa negeri Ngalêngka adalah Kumbakarna.

3. Têmbung Camboran yang kata awalnya menjadi keterangan kata yang kedua. Data yang menunjukkan adanya têmbung camboran jenis ketiga ini adalah sebagai berikut.

(187) suryaputra narpati Ngawangga (ST/B5/L2) ‘suryaputra raja Ngawangga’

Kata suryaputra ‘suryaputra’ merupakan dua kata yang disingkat menjadi satu kata. Kata surya ‘surya’ pada kata di atas mengacu kepada Bathara Surya, dan kata putra ‘putra’ pada kata

di atas berarti putra atau anak. Dengan demikian, kata suryaputra dimaknai sebagai seorang putra Bathara Surya yang mengacu kepada Adipati Karna.

2.7.Têmbung Saroja

Têmbung saroja atêgês têmbung rangkêp. Maksudé: têmbung loro kang paḍa têgêsé utawa mèh paḍa têgês, dianggo bêbarêngan ‘têmbung saroja berarti kata rangkap. Maksudnya: dua kata yang berarti sama atau hampir sama artinya, digunakan secara bersamaan’ (S. Padmosoekotjo, 1955: 25). Berikut têmbung saroja yang terdapat pada data.

(188) guna bisa saniskarèng karya (ST/B2/L2) ‘memiliki kepandaian dalam segala pekerjaan’

Kata guna ‘pandai’ dan kata bisa ‘pandai’ memiliki arti yang sama yaitu ‘pandai’. Data di atas menunjukkan adanya penggunaan kata guna dan bisa secara bersisihan, yang bertujuan untuk menekankan atau menyangatkan suatu tuturan. Adanya têmbung saroja pada data di atas juga membuat makna tuturan lebih mendalam.

2.8.Penggunaan bahasa Jawa krama

Pada data juga ditemukan penggunaan bahasa Jawa krama untuk memperindah bunyi atau lirik tembang. Di sisi lain, penggunaan bahasa Jawa krama tersebut juga dimanfaatkan untuk memberikan kesan kehalusan lirik-liriknya. Berikut uraian data yang memanfaatkan penggunaan bahasa Jawa krama dalam Sêrat Tripama.

(189) liré lêlabuhan tri prakawis (ST/B2/L1) ‘arti jasa bakti yang tiga macam’

Data tersebut menunjukkan adanya pemakaian bahasa Jawa krama, yaitu pada kata prakawis ‘macam’. Kata tersebut merupakan ragam krama dari kata perkara ‘macam’. Penggunaan ragam krama pada tuturan di atas untuk memenuhi guru swara pada baris ke satu yang jatuh pada vokal /i/.

(190) wontên malih tuladhan prayogi (ST/B3/L1) ‘ada lagi teladan yang baik’

Data tersebut menunjukkan adanya pemakaian bahasa Jawa krama, yaitu pada kata prayogi ‘baik’. Kata tersebut merupakan ragam krama dari kata prayoga ‘baik’. Penggunaan ragam krama pada tuturan di atas untuk menyesuaikan kalimat yang digunakan, dan juga untuk memenuhi guru swara pada baris ke satu yang jatuh pada vokal /i/.

(191) suprandéné nggayuh utami (ST/B3/L5)

‘meskipun demikian berusaha mencapai keutamaan’

Data tersebut menunjukkan adanya pemakaian bahasa Jawa krama, yaitu pada kata suprandéné ‘meskipun’ dan kata utami ‘keutamaan’. Kata suprandéné ‘meskipun’ lebih memiliki nilai keindahan, sehingga digunakan dalam lirik tuturan di atas. Adapun kata utami ‘keutamaan’ tersebut merupakan ragam krama dari kata utama ‘keutamaan’. Penggunaan ragam krama pada tuturan utami ‘keutamaan’ untuk memenuhi guru swara pada baris ke lima yang jatuh pada vokal /i/.

(192) amung cipta labih nagari (ST/B4/L5) ‘hanya demi membela negara’

Data di atas menunjukkan adanya pemakaian bahasa Jawa krama, yaitu pada kata labih ‘membela’ dan kata nagari ‘negara’. Kata labih ‘membela’ merupakan ragam krama dari kata labuh ‘membela’. Kata nagari ‘negara’ merupakan ragam krama dari kata nagara ‘negara’ Penggunaan ragam krama pada kata labih ‘membela’ memperhalus bahasa yang digunakan dalam karya sastra, sehingga menimbulkan kesan lebih indah. Adapun penggunaan kata nagari ‘negara’ untuk memenuhi guru swara pada baris ke lima yang jatuh pada vokal /i/.

(193) lèn yayah tunggil ibu (ST/B5/L4) ‘berlainan ayah beribu sama’

Data di atas menunjukkan adanya pemakaian bahasa Jawa krama, yaitu pada kata tunggil ‘sama’. Kata tersebut merupakan ragam krama dari kata tunggal ‘sama’. Penggunaan ragam krama pada tuturan di atas untuk memperhalus bahasa yang digunakan dan menciptakan keindahan lirik dalam tembang.

(194) katri mangka sudarsanèng Jawi (ST/B7/L1) ‘ketiganya sebagai teladan orang Jawa’

Data tersebut menunjukkan adanya pemakaian bahasa Jawa krama, yaitu pada kata Jawi ‘Jawa’. Kata tersebut merupakan ragam krama dari kata Jawa ‘Jawa’. Penggunaan ragam krama pada tuturan di atas untuk memperhalus bahasa yang digunakan sekaligus memenuhi guru swara pada baris ke satu yang jatuh pada vokal /i/.

2.9.Penggunaan bahasa Jawa Kuna/ Sanskerta

Penggunaan bahasa Sanskerta dalam Sêrat Tripama berfungsi untuk menambah kesan arkhais lirik tembang, sehingga akan menimbulkan aspek keindahan di dalamnya. Berikut data-data yang menunjukkan adanya pemanfaatan bahasa Sanskerta.

(195) kang ginêlung tri prakara (ST/B1/L8) ‘yang termuat dalam tiga hal’

Data di atas menunjukkan adanya pemakaian bahasa Jawa Kuna atau Sanskerta, yaitu pada kata tri ‘tiga’. Kata tersebut dalam bahasa Jawa memiliki arti yang sama dengan kata telu ‘tiga’. Penggunaan ragam Jawa Kuna atau Sanskerta pada tuturan di atas untuk memberikan kesan literer dan arkhais bahasa karya sastra.

(196) liré lêlabuhan tri prakawis (ST/B2/L1) ‘arti jasa bakti yang tiga macam’

Data tersebut menunjukkan adanya pemakaian bahasa Jawa Kuna atau Sanskerta, yaitu pada kata tri ‘tiga’. Kata tersebut dalam bahasa Jawa memiliki arti yang sama dengan kata telu

‘tiga’. Penggunaan ragam Jawa Kuna atau Sanskerta pada tuturan di atas untuk memberikan kesan literer dan arkhais bahasa karya sastra.

(197) guna bisa saniskarèng karya (ST/B2/L2) ‘pandai dalam segala pekerjaan’

Data tersebut menunjukkan adanya pemakaian bahasa Jawa Kuna atau Sanskerta, yaitu pada kata karya ‘pekerjaan’. Kata tersebut dalam bahasa Jawa memiliki arti yang sama dengan kata gawé ‘pekerjaan’. Penggunaan ragam Jawa Kuna atau Sanskerta pada tuturan di atas untuk memberikan kesan literer bahasa karya sastra, sekaligus untuk memenuhi konvensi sastra berupa guru swara /a/ yang jatuh di akhir baris ke dua.

(198) aprang tandhing lan ditya Ngalêngka aji (ST/B2/L9) ‘perang tanding melawan raja raksasa Ngalêngka’

Data di atas menunjukkan adanya pemakaian bahasa Jawa Kuna atau Sanskerta, yaitu pada kata ditya ‘raksasa’. Kata tersebut dalam bahasa Jawa memiliki arti yang sama dengan kata buta ‘raksasa’ ataupun rasêksa ‘raksasa’. Penggunaan ragam Jawa Kuna atau Sanskerta pada tuturan di atas untuk memberikan kesan literer dan arkhais bahasa karya sastra. Kata ditya dipilih untuk memenuhi guru swara vokal a terbuka /O/ sehingga menimbulkan bunyi ritmis yang indah. (199) tur iku warna diyu (ST/B3/L4)

‘padahal itu berwujud raksasa’

Data di atas menunjukkan adanya pemakaian bahasa Jawa Kuna atau Sanskerta, yaitu pada kata diyu ‘raksasa’. Kata tersebut dalam bahasa Jawa memiliki arti yang sama dengan kata buta ‘raksasa’ ataupun rasêksa ‘raksasa’. Penggunaan ragam Jawa Kuna atau Sanskerta berfungsi untuk memenuhi konvensi sastra tembang dhandhanggula berupa guru swara yang jatuh pada vokal /u/ di baris ke empat.

(200) mring raka amrih raharja (ST/B3/L8) ‘kepada kakandanya agar selamat’

Data tersebut menunjukkan adanya pemakaian bahasa Jawa Kuna atau Sanskerta, yaitu pada kata raka ‘kakak’ dan kata raharja ‘selamat’. Kata tersebut dalam bahasa Jawa memiliki arti yang sama dengan kata kakang ‘kakak’. Kata raharja ‘selamat’ dalam bahasa Jawa memiliki arti yang sama dengan kata slamêt ‘selamat’ ataupun kata rahayu ‘selamat’. Penggunaan ragam Jawa Kuna atau Sanskerta pada tuturan raka ‘kakak’ untuk memberikan kesan literer dan arkhais bahasa karya sastra, sedangkan pada kata raharja ‘selamat’ berfungsi untuk memenuhi konvensi tembang dhandhanggula berupa guru swara yang jatuh pada vokal /O/ di baris ke delapan.

(201) dasamuka tan kéguh ing atur yêkti (ST/B3/L9) ‘dasamuka tidak tergoyahkan oleh pendapat baik’

Data di atas menunjukkan adanya pemakaian bahasa Jawa Kuna atau Sanskerta, yaitu pada kata tan ‘tidak’. Kata tersebut dalam bahasa Jawa memiliki arti yang sama dengan kata ora ‘tidak’. Penggunaan ragam Jawa Kuna atau Sanskerta pada tuturan tan ‘tidak’ untuk memberikan kesan lebih indah dibandingkan dengan kata ora ‘tidak’.

(202) dé mung mungsuh wanara (ST/B3/L10) ‘padahal hanya bermusuhkan kera’

Data di atas menunjukkan adanya pemakaian bahasa Jawa Kuna atau Sanskerta, yaitu pada kata wanara ‘kera’. Kata tersebut dalam bahasa Jawa memiliki arti yang sama dengan kata kêthèk ‘kera’. Penggunaan ragam Jawa Kuna atau Sanskerta pada tuturan wanara ‘kera’ memberikan kesan literer, dan berfungsi untuk memenuhi konvensi tembang dhandhanggula berupa guru swara yang jatuh pada vokal /a/ di baris ke sepuluh.

(203) mring kang raka sira tan lênggana (ST/B4/L2) ‘oleh kakandanya ia tidak menolak’

Data tersebut menunjukkan adanya pemakaian bahasa Jawa Kuna atau Sanskerta, yaitu pada kata raka ‘kakak’, kata sira ‘ia’, dan kata tan ‘tidak’. Kata raka ‘kakak’ dalam bahasa Jawa memiliki arti yang sama dengan kata kakang ‘kakak’. Kata sira ‘ia’ dalam bahasa Jawa memiliki

arti yang sama dengan kata dhèwèké ‘dia’. Kata tan ‘tidak’ dalam bahasa Jawa memiliki arti yang sama dengan kata ora ‘tidak’. Penggunaan ragam Jawa Kuna atau Sanskerta pada tuturan raka ‘kakak’ dan sira ‘ia’ memunculkan keindahan dan kepaduan bunyi /O/ terbuka, sedangkan penggunaan kata lênggana ‘menolak’ untuk memberikan kesan literer dan untuk memenuhi konvensi tembang dhandhanggula berupa guru swara yang jatuh pada vokal /a/ di baris ke dua. (204) wontên malih kinarya palupi (ST/B5/L1)

‘ada lagi yang dijadikan teladan’

Data tersebut menunjukkan adanya pemakaian bahasa Jawa Kuna atau Sanskerta, yaitu pada kata palupi ‘teladan’ Kata tersebut dalam bahasa Jawa memiliki arti yang sama dengan kata tuladha ‘teladan’. Penggunaan ragam Jawa Kuna atau Sanskerta pada tuturan palupi ‘teladan’ terkesan literer dan arkhais. Di samping itu, pemanfaatan kata palupi ‘teladan’ berfungsi untuk memenuhi konvensi tembang dhandhanggula berupa guru swara yang jatuh pada vokal /i/ di baris ke satu.

(205) Suryaputra narpati Ngawangga (ST/B5/L2) ‘putra Bathara Surya raja Ngawangga’

Data di atas menunjukkan adanya pemakaian bahasa Jawa Kuna atau Sanskerta, yaitu pada kata narpati ‘raja’ Kata narpati ‘raja’ dalam bahasa Jawa memiliki arti yang sama dengan kata ratu ‘raja’. Penggunaan ragam Jawa Kuna atau Sanskerta pada tuturan narpati ‘raja’ selain untuk memunculkan bahasa yang indah juga untuk memenuhi konvensi tembang dhandhanggula berupa guru wilangan pada baris ke dua, yaitu berjumlah sepuluh suku kata.

Dokumen terkait