pertimbangan tertentu untuk penggunaannya.
Kelebihan CTC
Kelebihan dari CTC yang utama adalah terakomodasinya material non-origin untuk mendapatkan tarif preferensi setelah mengalami perubahan substansi, dan penggunaannya sangat mudah karena adanya dukungan dokumen impor yang telah divalidasi oleh administrasi pabean di negara importir. Di atas telah dijelaskan bahwa CTC dibentuk dalam rangka mengakomodasi kebutuhan akan adanya material yang bukan berasal dari negara anggota skema FTA, yang kemudian disebut material non-origin. Atas masuknya material non-origin ini tentunya telah mendapat approval dari administrasi pabean, sehingga penetapan nomor HS telah benar. Oleh karena
itu dokumen impor ini akan menjadi bukti autentik terkait dengan perubahan nomor HS dalam rangka CTC.
Sepintas kelebihan dari CTC ini seperti RVC, yaitu sama-sama didukung oleh dokumen yang valid dan akurat. Hanya saja dalam hal CTC nilai FOB tidak merupakan keharusan, karena yang menjadi patokan adalah nomor HS (kecuali memang diwajibkan di dalam perjanjian pembentuk skema FTA-nya).
Kelemahan CTC
Selain kelebihan dari kriteria CTC, perlu juga diperhatikan kelemahan dari kriteria ini, dimana dalam satu perjanjian pembentuk skema FTA terdapat pembatasan produk tertentu yang tidak diperbolehkan mendapat tarif preferensi, sekalipun mampu melakukan tranformasi sehingga menghasilkan nomor HS baru. Biasanya hal ini akan dibuat dalam bentuk daftar khusus. Hal inilah yang diprediksi dapat menjadi tantangan tersendiri, karena daftar ini seringkali tidak menjadi perhatian dari pihak pengusaha maupun issuing authority yang menerbitkan certificate of origin. Oleh karena itu administrasi pabean harus memiliki pengetahuan lebih dalam hal adanya produk yang masuk dalam daftar larangan dan pembatasan (lartas), dan berpotensi untuk dimodifikasi menjadi produk lain dengan tujuan untuk mendapatkan tarif preferensi.
Contoh Penggunaan CTC
Sebuah pabrik barang pecah belah di Viet Nam berencana membuat peralatan makan dan minum dari porcelain dalam jumlah yang sangat besar, dengan desain dan warna bermacam-macam, guna memenuhi pesanan dari sebuah perusahaan grosir di Indonesia, yang merupakan pelanggan utamanya sejak lama. Perusahaan di Indonesia meminta agar pengiriman barang pecah belah tersebut dilindungi dengan form D (skema ASEAN FTA), sehingga diharapkan akan memperoleh tarif preferensi.
Dalam rangka memuaskan pelanggan utamanya, pabrik di Viet Nam tersebut berencana menggunakan material kualitas tinggi yang akan diimpor dari China. Oleh karena itu dapat dipastikan bahwa material yang digunakan
adalah non-origin, dan kemungkinan kriteria yang akan digunakan adalah perubahan klasifikasi pada level tariff heading atau CTH.
Berikut adalah bahan baku yang digunakan dalam pembuatan peralatan makan dan minum tersebut, yaitu :
Kaolin - HS heading 2507
Pigments (pewarna) - HS heading 3207 Decorative designs - HS heading 4911
Nomor HS untuk barang pecah belah dari porcelain adalah 6911.
Apabila kita perhatikan bahwa material non-origin yang digunakan oleh produsen di Viet Nam (kaolin, pewarna, dan decorative designs) berbeda dengan nomor HS dari barang jadi yang akan diproduksinya, yaitu dari : HS 2507; 3207; dan 4911, kemudian terjadi perubahan substansi menjadi HS 6911. Dengan demikian, maka atas barang pecah belah tersebut dapat dianggap memenuhi syarat untuk menggunakan origin criteria CTH dalam kegiatan ekspornya, dan pada saat tiba di negara importir berhak mendapatkan tarif preferensi.
Lebih jelas untuk ilustrasi contoh di atas adalah sebagai berikut : Material non-origin dari luar ASEAN FTA Barang Jadi
Kaolin
Heading 2507
Heading 6911
Pewarna Heading 3207
Barang cetakan Heading 4911
Dalam kasus yang sama, ternyata pihak supplier bahan baku di China memberikan penawaran yang lebih menarik, yaitu harga yang sangat murah untuk produk pecah belah yang sudah jadi tetapi dalam keadaan polos tanpa ornamen atau hiasan apapun. Selain itu juga pihak China memastikan bahwa apabila pabrik di Viet Nam membeli peralatan polos tersebut, maka akan ada diskon yang lebih tinggi untuk pembelian bahan baku lainnya.
Mendapat penawaran ini pabrik di Viet Nam tergiur dan menerimanya, sehingga barang-barang yang dibeli dari China tidak lagi dalam bentuk bahan baku murni seperti pada kasus pertama, melainkan peralatan pecah belah yang sudah jadi dalam keadaaan polos serta zat pewarna yang dibutuhkan.
Dengan demikian gambaran dari kasusnya menjadi sebagai berikut : Material non-origin dari luar ASEAN FTA Barang Jadi
Pecah Belah Polos Heading 6911
Heading 6911
Pewarna Heading 3207
Barang Cetakan Heading 4911
Pada kasus ini telah terjadi perubahan strategi dari pabrik di Viet Nam, dimana material non-origin pertama adalah barang pecah belah yang sudah jadi dan polos, masuk dalam kelompok HS 6911, sama dengan barang jadi yang akan diproduksi. Oleh karena adanya kesamaan kelompok HS ini maka terhadap barang pecah belah yang dipesan oleh perusahaan di Indonesia tidak memperoleh tarif preferensi.
3. Product Specific Rules (PSR)
Apa sebenarnya definisi dari PSR? Apabila kita merujuk pada agreement on ROO, pada annex II paragraf 3 (a), butir iii-nya hanya menyebutkan bahwa
“in cases where the criterion of manufacturing or processing operation is prescribed, the operation that confers preferential origin shall be precisely specified”.
Sepertinya provisi ini hanya memberikan alternatif bahwa origin criteria dapat menggunakan proses produksi sebagai referensinya. Oleh karena itu batasan dari PSR hanya pada proses produksi, yang kemudian disepakati oleh para pihak yang terlibat dalam perjanjian pembentukan skema FTA.
Berdasarkan penelusuran penulis pada isi dari perjanjian pembentukan skema FTA yang diikuti Indonesia, PSR merupakan daftar dari produk-produk yang disusun berdasarkan kelompok HS dan origin criteria yang harus dipenuhi, seperti misalnya : CTC, RVC, atau proses khusus yang disepakati untuk suatu produk. Jika demikian, maka sebenarnya PSR cukup diartikan sebagai ketentuan khusus dalam penentuan origin criteria bagi material yang mengalami perubahan substansi (substantial tranformation).
Jika memang demikian adanya, maka dalam hal diperlukan, definisi yang disediakan oleh ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA) pada artikel 25 ROO dapat mewakili pengertian dari PSR ini, yang menyebutkan bahwa :
product specific rules means rules that specify that the materials have undergone a change in tariff classification or a specific manufacturing or processing operation, or satisfy a Regional Value Content criterion or a combination of any of these criteria.
Dalam skema FTA yang ada yang diikuti oleh Indonesia, aturan khusus tersebut ditafsirkan apabila dalam daftar PSR yang disepakati bahwa suatu produk dapat dinyatakan memenuhi origin criteria dengan menggunakan CTSH (change tariff of sub-heading), misalnya, maka hanya origin criteria CTSH-lah yang dapat diberlakukan atas produk tersebut untuk mendapatkan tarif preferensi, sedangkan penggunaan kriteria origin lain tidak dapat diberlakukan. Artinya, apabila terdapat ekspor yang menggunakan kriteria RVC, sementara di dalam daftar PSR hanya menyebutkan CTC, maka atas komoditas tersebut tidak dapat diberikan tarif preferensi karena kriteria yang
digunakan tidak sesuai. Begitu juga sebaliknya, dalam hal terdapat komoditas yang menggunakan kriteria CTC, sementara di dalam daftar PSR hanya menyebutkan RVC, maka atas komoditas tersebut juga tidak dapat diberikan tarif preferensi.
Contohnya dalam skema ASEAN FTA, PSR untuk bab 60 diantaranya adalah sebagai berikut :
Pada kolom kedua terlihat untuk bab 60, heading 6003, dan sub-heading 6003.10, telah ditetapkan bahwa kain rajutan atau sulaman dengan lebar tidak lebih dari 30 cm, selain daripada produk yang dimaksud dalam heading 6001 atau heading 6002, dapat diakui sebagai origin, apabila memenuhi RVC lebih dari 40%, atau mengalami perubahan menjadi sub-heading 6003.10 dari heading manapun, atau mengalami proses tertentu yang khusus untuk tekstil dan produk tekstil sebagaimana diatur dalam lampiran 1 (lihat lampiran 1 dari perjanjian pembentuk skema ATIGA).
Berdasarkan penjelasan di atas, maka agar produk yang ada di dalam sub-heading 6003.10 dapat diakui sebagai produk origin dan mendapatkan tarif preferensi dalam skema ATIGA, maka PSR ATIGA menyediakan beberapa cara, yaitu :
- RVC 40%; atau
- CTSH (perubahan pada 6 digit, dari heading mana saja); atau
- Proses tertentu yang khusus untuk tekstil dan produk tekstil
Pengertian dari catatan di atas adalah, setiap jenis barang yang ada di dalam kelompok HS 6003.10 dapat disebut origin dan berhak mendapatkan tarif preferensi apabila memenuhi salah satu origin criteria di atas. Apabila misalnya, proses transformasi substansi-nya hanya menggunakan perubahan tarif klasifikasi pada level 4 digit (CTH), maka tentunya dianggap tidak memenuhi origin criteria dan tidak dapat memperoleh tarif preferensi .
Pemahaman lain yang kita peroleh adalah, adanya origin criteria lain berupa proses tertentu yang khusus untuk tekstil dan produk tekstil, yang berada pada lampiran tersendiri dari setiap perjanjian pembentuk skema FTA.
Hal yang paling penting untuk diingat disini adalah, dalam hal terdapat impor dengan menggunakan kriteria not wholly obtained/produced, maka petugas pabean wajib melakukan hal-hal sebagai berikut :
(a) Melakukan pemeriksaan terhadap daftar PSR untuk memastikan bahwa komoditas tersebut termasuk di dalamnya atau tidak.
(b) Dalam hal termasuk dalam daftar PSR, apakah kriteria yang diberitahukan telah sesuai dengan yang tercantum di dalam kolom kriteria pada daftar PSR.
(c) Dalam hal tidak sesuai, maka atas komoditas tersebut tidak dapat diberikan tarif preferensi.
(d) Dalam hal tidak termasuk di dalam daftar PSR, maka atas barang tersebut terbuka peluang untuk menggunakan kriteria origin yang ada selain PSR.
Contoh berikut diharapkan dapat memperjelas keterangan di atas, yaitu :
“PT. Abadi Jaya, sebuah perusahaan ekspor-impor yang berdomisili di Bandung, memesan 1.500 pcs kantong (bag) yang terbuat dari kulit dicampur dengan bahan plastik (pos tarif:
4202.29.99.00), dari Thailand. Atas pemesanan barang tersebut pihak importir meminta agar dilindungi dengan certificate of origin (surat keterangan asal) Form D agar pada saat pemasukannya di Indonesia dapat memperoleh tarif preferensi.”
Memenuhi pesanan tersebut, pihak supplier di Thailand menyiapkan komoditas yang dipesan dan mengajukan permohonan kepada issuing authority di negaranya, sehingga certificate of origin dapat diterbitkan sebelum barang diberangkatkan.
Pada saat barang tiba di Indonesia, importir mengajukan permohonan PIB disertai dokumen pelengkapnya, termasuk di dalamnya certificate of origin yang pada kolom 8 nya menginformasikan bahwa kriteria origin yang digunakan adalah CTH.
Berdasarkan penelitian Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen (PFPD) atas daftar PSR dalam kerangka skema ATIGA (AFTA), kedapatan bahwa atas pos tarif tersebut termasuk di dalamnya dan terdapat penjelasan sebagai berikut :
Atas penjelasan dari daftar PSR di atas, maka kriteria origin yang dapat digunakan untuk pos tarif 4202.29 hanya RVC lebih dari 40%;
atau perubahan menjadi sub-heading (CTSH) 4202.29 dari chapter (Change in Chapter-CC) manapun. Oleh karena yang diberitahukan adalah CTH, maka harus dipastikan bahan bakunya berasal dari chapter mana? Hal ini harus diketahui untuk memastikan bahwa telah terjadi perubahan dari bahan baku (eks chapter manapun) menjadi sub-heading 4202.29.
Memperhatikan fakta-fakta di atas, maka petugas PFPD memutuskan untuk melakukan permintaan retro-active check atas certificate tersebut untuk menanyakan perubahan klasifikasi yang terjadi sehingga terbentuk kantong di atas.
3.2 Latihan
1. ROO merupakan kriteria untuk menentukan ke-asal-an dari suatu barang, yang terdiri dari kriteria origin (origin criteria), kriteria pengiriman langsung (direct consignment), dan kriteria prosedural (procedural provisions). Apakah yang dimaksud dengan kriteria origin?
2. Pada kolom 8 certificate of origin form D, tertulis kode : CTH. Jelaskan maksud dari kode tersebut!
3. Dalam Form E yang diterbitkan oleh issuing authority di Malaysia, tertulis bahwa produk yang diimpor oleh PT. Simpang Siur adalah produk tekstil dengan kriteria origin RVC 60%. Apabila pada saat importasinya anda bertugas sebagai Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen (PFPD), apa yang akan dilakukan terkait kegiatan pemeriksaan terhadap dokumen tersebut?
Jelaskan !
4. Kriteria origin yang digunakan dalam setiap skema FTA, bergantung kepada apa yang disepakati oleh para pihak yang menandatangani perjanjian pembentuk skema FTA masing-masing. Untuk mengetahui kriteria origin apa saja yang diberlakukan dalam skema ASEAN-China FTA, dimanakah kita dapat melihatnya, dan sebutkan masing-masing dari kriteria origin dalam skema ASEAN-China tersebut!
5. Salah satu kriteria origin untuk tujuan tarif preferensi adalah Value Added Rules yang kemudian diganti istilahnya dalam skema FTA yang diikuti Indonesia menjadi Regional Value Content (RVC), yang diekspresikan dalam bentuk persentase (RVC ....%). Adapun untuk menghitung jumlah persentase tersebut, WCO kemudian memberikan panduan dengan menyiapkan dua metode/formula yang disebut metode langsung dan metode tidak langsung.
Jelaskan kedua metode tersebut !
3.3 Rangkuman
ROO preferensi ditujukan untuk mendapatkan tarif istimewa atau tarif preferensi, terdiri dari tiga kriteria yang wajib dipenuhi, yaitu : origin criteria (kriteria origin); direct consignment (kriteria pengiriman langsung); dan Procedural Provisions (ketentuan prosedural).
Untuk mengetahui kriteria origin dalam skema FTA yang diikuti Indonesia, maka kita dapat melihat pada bagian overleaf notes (bagian belakang) dari masing-masing form FTA-nya. Kriteria itulah yang kemudian wajib dituliskan pada kolom 8 certificate of origin.
Berdasarkan analisis terhadap seluruh kriteria origin not wholly obtained/wholly produced yang ada di bagian overleaf notes masing-masing Form FTA-nya, diperoleh kesimpulan bahwa dalam perjanjian pembentuk skema FTA yang diikuti Indonesia terdapat 4 (empat) kriteria origin yang diberlakukan, dan selayaknya dipahami oleh seluruh petugas pabean yang tugas dan fungsinya terkait dengan penanganan dokumen impor, sehingga pada saat menerima dokumen certificate of origin yang berasal dari negara lain langsung mengetahui tindakan apa saja yang harus dilakukan.
Keempat kriteria origin tersebut masing-masing adalah : 1. Diproduksi secara khusus (PE)
Produced Exclusively atau disingkat menjadi PE merupakan salah satu kriteria yang ada di beberapa skema FTA, seperti ASEAN-Korea FTA dan ASEAN-Jepang FTA. Pengertian dari PE adalah proses produksi (transformasi substansi) yang dilakukan atas origin material (material yang bersumber dari negara-negara yang ikut serta menandatangani perjanjian pembentuk skema FTA). Atas barang-barang yang merupakan hasil transformasi substansi tersebut dianggap sebagai barang yang memenuhi kriteria origin, dan berhak mendapatkan tarif preferensi apabila persyaratan lainnya (direct consignment) dan procedural provisions terpenuhi.
2. Regional Value Content (RVC)
RVC merupakan salah satu kriteria origin yang mengacu pada origin material, sebagaimana halnya PE. Akan tetapi di dalam RVC diperkenankan terakumulasikannya sejumlah non-origin material yang membentuk barang jadi hasil produksi suatu proses.
Persyaratan utama dari RVC adalah adanya transformasi substansi yang memberikan nilai tambah sampai dengan level tertentu yang diekspresikan dalam nilai persentase. Nilai persentase tersebut merupakan jumlah dari origin material yang terkandung di dalam barang jadinya. Adapun origin material adalah setiap material dan/atau bahan baku yang berasal dari negaranya sendiri maupun dari negara lain yang merupakan anggota dari suatu perjanjian pembentuk skema FTA.
Penggunaan kriteria RVC misalnya adalah RVC 50%, diartikan bahwa regional value content (kandungan nilai material yang berasal para pihak dalam skema FTA yang terkait adalah 50% dari nilai FOB barang jadi).
Persentase yang berlaku di dalam skema FTA yang diikuti Indonesia dan telah berlaku saat ini hampir seluruhnya adalah RVC minimal 40%, dan RVC 35% untuk ASEAN-India FTA.
3. Change Tariff Classification
Kriteria CTC merupakan kriteria origin yang diciptakan untuk mengakomodasi non-origin material, atau material yang berasal dari negara-negara yang bukan merupakan anggota dari suatu perjanjian pembentuk skema FTA. Misalnya dalam skema ASEAN-China FTA, anggotanya terdiri dari seluruh negara ASEAN ditambah China (seluruhnya menjadi 11 negara).
Atas material yang berasal dari 11 negara tersebut disebut origin material, sedangkan setiap material dan/atau bahan baku yang tidak berasal dari 11 negara tersebut disebut non-origin material.
Seperti halnya kriteria RVC, dalam kriteria CTC juga diwajibkan adanya perubahan substansi (substantial transformation) dari non-origin material yang diimpor menjadi barang jadi tertentu, serta memiliki klasifikasi yang berbeda dengan material pembentuknya.
Dalam skema FTA yang ada, CTC terdiri dari : Change in Chapter atau CC (perubahan substansi pada dua digit HS), Change in Tariff Heading atau CTH (perubahan substansi pada level 4 digit HS), dan Change in Tariff Sub Heading atau CTSH (perubahan substansi pada level 6 digit HS).
4. PSR
Kriteria terakhir dalam skema FTA yang ditandatangani oleh Indonesia adalah PSR, yang merupakan kriteria origin paling liberal, karena disediakan untuk mengakomodasi kebutuhan setiap negara yang ingin mengusulkan agar produknya dapat memenuhi kriteria origin, dengan berdasar pada proses produksinya. Tentunya harus berdasarkan kesepakatan para pihak yang terlibat di dalam perjanjian pembentuk skema FTA.
Tidak terdapat definisi yang baku untuk kriteria PSR, melainkan hanya merujuk pada proses produksi (perubahan substansi) dari suatu komoditas. Adapun ekspresi dari PSR tetap mengacu pada kriteria yang telah ada (wholly obtained/produced, regional value content, change in tariff classification, atau proses produksi lainnya yang dianggap tetapi menjadi suatu kekhususan, seperti tekstil dan produk tekstil). Dalam ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA), PSR didefinisikan sebagai :
product specific rules means rules that specify that the materials have undergone a change in tariff classification or a specific manufacturing or processing operation, or satisfy a Regional Value Content criterion or a combination of any of these criteria.
Oleh karena PSR merupakan suatu kekhususan, maka biasanya PSR dibuat dalam daftar tersendiri dengan mengacu pada kode HS. Setiap instansi penerbit maupun penerima certificate of origin wajib mendahulukan/melakukan pemeriksaan atas daftar PSR terlebih dahulu dalam hal terdapat pengajuan certificate of origin dari eksportir maupun importir.
Apabila HS yang digunakan terrdapat dalam daftar PSR, maka pastikan bahwa hanya kriteria yang ada di dalam daftar tersebut yang dapat digunakan untuk komoditas yang sedang ditangani.
3.4 Test Formatif 3
Jawablah petanyaan di bawah ini dengan jawaban yang singkat, dan jelas!
1. PT. Indah Pada Akhirnya, sebuah perusahaan di Indonesia mengimpor barang dari Malaysia berupa pakaian jadi sebanyak 5 kontainer. Setibanya di pelabuhan Tanjung Priok, perusahaan tersebut mengajukan PIB dilampiri beberapa dokumen termasuk Form E yang melindungi komoditas yang dipesannya. Pada kolom 8 Form E tersebut tertulis kriteria origin dari barang tersebut adalah PSR (CTHS). Jelaskan maksud dari kriteria tersebut, dan apa yang harus dilakukan dalam rangka verifikasi dokumen!
2. Total Buah Segar, sebuah perusahaan retail di Indonesia mengimpor buah jeruk Kino dari Sehat Segar Sdn. Bhd., Malaysia. Memenuhi pesanan ini,
Sehat Segar mengirimkannya dengan dilindungi Form D, agar atas impor tersebut dapat diberikan tarif preferensi. Saat menerima Form D yang dilampirkan oleh Total Buah Segar, PFPD di KPPBC Tanjung Perak melihat bahwa kriteria origin yang dituliskan pada kolom 8 adalah WO atau wholly obtained. Bagaimana analisis Saudara terhadap kondisi tersebut?
3. Sebuah pabrik penghasil feature baja di Bekasi, PT. Tidak Setengah Hati, membeli baja-baja potongan dari para pengumpul lokal untuk dijadikan bahan baku di perusahannya. Potongan-potongan tersebut merupakan bekas beberapa mesin eks impor yang telah rusak dan tidak dapat dipergunakan lagi. Setelah melalui proses produksi di pabriknya, potongan-potongan tersebut saat ini telah menjadi feature baja dalam kualitas yang sangat tinggi kualitas ekspor. Apabila PT. Tidak Setengah Hati benar-benar ingin mengekspor barang jadinya ke negara-negara anggota skema FTA yang juga ditandatangani oleh Indonesia, kriteria apa yang dapat digunakan? Jelaskan!
4. Dalam kriteria RVC dikenal 2 metode untuk menghitung persentase dari nilai suatu komoditas sehingga layak mendapatkan tarif preferensi di negara pengimpor. Jelaskan kedua metode tersebut, dan biaya apa saja yang dapat dilibatkan dalam penghitungan RVC sebuah komoditas !
5. Pada saat sebuah perusahaan memastikan bahwa atas produknya akan digunakan kriteria CTC, tentunya terdapat alasan kuat dan dianggap paling menguntungkan. Jelaskan hal-hal terkait kriteria CTC tersebut, khususnya tentang :
a. Kemungkinan digunakannya kriteria CTC.
b. Kelebihan dan kekurangan kriteria CTC.
3.5 Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Coba cocokkan hasil jawaban Anda dengan materi yang sudah ada pada pembahasan ini. Hitunglah jawaban yang benar, kemudian gunakan rumus untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi pada kegiatan belajar ini.
Perhatikan dan cocokan hasil jawaban Anda dengan kualifikasi hasil belajar yang telah terinci sebagaimana rumus berikut.
TP = Jumlah Jawaban Yang Benar X 100%
Jumlah keseluruhan Soal
Apabila tingkat pemahaman (TP) dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai:
91 % s.d 100 % : Sangat Baik 81 % s.d. 90,99 % : Baik
71 % s.d. 80,99 % : Cukup 61 % s.d. 70,99 % : Kurang
0 % s.d. 60,99 % : Sangat Kurang
Bila hasil perhitungan Anda telah mencapai 81 % atau lebih, maka Anda telah menguasai materi kegiatan belajar ini dengan baik. Untuk selanjutnya Anda dapat melanjutkan kegiatan belajar berikutnya. Jika belum mencapai angka 81%, kami menyarankan agar anda mengulang kembali materi kegiatan belajar ini.
PENUTUP
Saudara para peserta workshop, Saudara telah mempelajari seluruh kegiatan belajar yang meliputi KB-1 sampai dengan KB-3 dengan materi ROO, Wholly Obtained atau Wholly Produced, dan Non Wholly Obtained atau Non Wholly Produced, yang seluruhnya difokuskan pada tujuan Preferensi.
Modul ini merupakan gambaran dari seluruh kriteria origin yang digunakan atau yang diatur dalam seluruh perjanjian pembentuk skema FTA yang turut ditandatangani oleh Indonesia sebagai salah satu anggotanya.
Sebelum Saudara menyudahi mata pelajaran ini disarankan Saudara mengerjakan test sumatif berikut ini. Dengan selesainya pembelajaran modul ini diharapkan Saudara akan lebih mudah dalam mempelajari modul-modul berikutnya dalam workshop ROO.
Semoga sukses.