BAB II : PELAKSANAAN PENGAWASAN TAHAPAN PEMILIHAN
tanggal 04 Oktober 2016 sampai 05 Oktober 2016
1. Regulasi Kampanye
Dari beberapa penjelasan diatas soal kampanye maka ada beberapa catatan yang berkaitan dengan hal diatas atau yang perlu dicermati dari tahapan kampanye adalahsebagai berikut :
1. Regulasi Kampanye
Karena perkembangan media kampanye ini begitu berkembang maka potensi pelanggaran pun sering di lakukan pihak yang berkampanye, maka KPU sebagai lembaga yang mengatur mekanisme pemilu membuat semacam aturan baru bagi para peserta kampanye yang menggunakan media elektronik sebagai alat untuk memobilisasi massa. Khususnya di Indonesia aturan mengenai pemilu secara keseluruhan sebagaman di atur oleh peraturan perundangan-undangan.
.
Batasan Waktu Kampanye
UU Pemilu Nomor 8 Tahun 2016 menyatakan, kampanye pemilihan dimulai tiga hari setelah penetapan pasangan calon dan berakhir saat dimulainya masa tenang. Artinya, sekian bulan kontestasi pemilihan, masyarakat akan menghadapi terpaan kampanye beragam kekuatan yang bertarung. Tak hanya metode rapat umum, iklan di media cetak dan elektronik baru bisa digunakan 21 hari sebelum masa tenang. Dalam praktik demokrasi elektoral di Indonesia, fase kampanye kerap menjadi satu titik krusial yang memengaruhi kualitas penyelenggaraan pemilu, terutama hubungannya dengan pendidikan politik warga masyarakat. Hal kunci yang sering menjadi persoalan dalam fase kampanye adalah komitmen untuk menghormati dan menjalankan kesepakatan aturan main.
Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 95 Batasan Alat Peraga Kampanye
Ada dua hal yang kita batasi dalam alat peraga yakni, pertama adalah alat peraga kampanye berbentuk baliho, spanduk dan t banner itu hanya diperuntukan seluruh pasangan calon dan dibuatkan oleh KPU DKI Jakarta dengan jumlh yang sama untuk masing-masing pasangan calon hanya saja ketika pertauran KPU membolehkan pasangan calon untuk membuat dengan ketentuan yang sudah hanya dengan ketentuan yang sama dan jumlah yang dibatasi bnamun pada kenyataannya salat peraga kampanye berupa spanduk dan baliho tidak sesuai dengan ketentuan yang sudah ditentukan oleh KPU.
Kampanye Media Massa
Perihal kampanye politik, peraturan dan perundang-undangan yang menjadi acuan bukan hanya terbatas pada peraturan perundang-Undang, melainkan juga merujuk pada UU No. 32/2002 tentang Penyiaran serta UU No.40/1999 tentang Pers. Terlebih apabila itu menyangkut media massa.
Dalam upayanya untuk mewujudkan kebebasan pers dan tinjauan positif atas pelaksanaan kampanye di media massa, maka sudah semestinya Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Komisi Pemilihan Umum (KPU), Banwaslu, Dewan Pers untuk duduk bersama menyiapkan beberapa aturan tentang batasan kampanye di media massa.
Pengawasan Penyiaran
Guna memperbaiki kualitas kampanye di media penyiaran, ada beberapa faktor yang harus menjadi perhatian bersama. Pertama, faktor struktural, harus adanya koordinasi yang lebih intensif, fungsional, dan komplementer antarpenyelenggara pemilu; dalam hal ini KPU dan Bawaslu dengan Komisi Penyiaran Indonesia dan Dewan Pers. Kedua, faktor substansial, yakni menyangkut sejumlah aturan yang memerlukan ketatnya sistem pengawasan di lapangan.
KPI juga perlu mengatur secara lebih operasional tentang beberapa hal, antara lain berapa kali diperbolehkannya running text dan superimpose dalam sehari, penyiaran jajak pendapat, dialog/talkshow, dan jenis siaran lain yang sangat mungkin menjadi kampanye terselubung para kontestan pemilu.
Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 96 D. Pelaksanaan Pengawasan Pengadaan dan Pendistribusian Perlengkapan
Pemungutan dan Penghitungan Suara
Bahwa dalam rangka melaksanakan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta, KPU bertanggungjawab dalam merencanakan dan menetapkan standar kebutuhan pengadaan dan pendistribusian perlengkapan pemungutan suara. Sedangkan tanggungjawab dalam pelaksanaan kebutuhan pengadaan dan pendistribuian perlengkapan pemungutan suara dibebankan kepada Sekretaris Jenderal KPU, sekretaris KPU Provinsi, dan sekretaris KPU Kabupaten/Kota.
Selain perlengkapan pemungutan suara untuk untuk menjaga keamanan, kerahasiaan, dan kelancaran pelaksanaan pemungutan suara dan penghitungan suara, diperlukan dukungan perlengkapan lainnya. Perlengkapan pemungutan suara sebagaimana dimaksud terdiri atas: a. kotak suara; b. surat suara; c. tinta; d.
bilik pemungutan suara; e. segel; f. alat untuk mencoblos pilihan; dan g. tempat pemungutan suara. Dukungan Perlengkapan Lainnya sebagaimana dimaksud terdiri atas:a. sampul kertas; b. formulir; c. stiker nomor kotak suara; d. alat bantu tunanetra; e.perlengkapan di TPS.
Penyediaan perlengkapan penyelenggaraan pemilu dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut: a. tepat jumlah, b. tepat jenis, c. tepat sasaran, d. tepat waktu, e. tepat kulaitas dan f. hemat anggran/ efesien.
Pengadaan surat suara dilakukan di dalam negeri dengan mengutamakan kapasitas cetak yang sesuai dengan kebutuhan surat suara dan hasil cetak yang berkualitas baik. Jumlah surat suara yang dicetak sama dengan jumlah Pemilih tetap (DPT) ditambah dengan 2% (dua persen) dari jumlah Pemilih tetap sebagai cadangan, yang ditetapkan dengan keputusan KPU. Selain menetapkan pencetakan surat suara, KPU menetapkan besarnya jumlah surat suara untuk pelaksanaan pemungutan suara ulang.
Untuk kepentingan tertentu, perusahaan pencetak surat suara dilarang mencetak surat suara lebih dari jumlah yang ditetapkan oleh KPU. Perusahaan pencetak surat suara wajib menjaga kerahasiaan, keamanan, dan keutuhan surat suara.
KPU memverifikasi jumlah dan kualitas surat suara yang telah dicetak, jumlah yang sudah dikirim, dan/atau jumlah yang masih tersimpan dengan membuat berita acara yang ditandatangani oleh pihak percetakan dan petugas KPU. KPU mengawasi dan mengamankan desain, film separasi, dan plat cetak yang digunakan untuk membuat surat suara sebelum dan sesudah digunakan, serta menyegel dan menyimpannya. KPU meminta bantuan Kepolisian Negara
Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 97 Republik Indonesia untuk mengamankan surat suara selama proses pencetakan berlangsung, menyimpan, dan mendistribusikannya ke tempat tujuan. Apalagi proses pencetakan kertas suara di cetak di Sulawesi Selatan tepatnya di Makasar hal ini sesuai dengan proses lelang yang dilakukan oleh KPU RI sehingga KPU Provinsi hanya menjalankan kebijakan terkait dimenangkannya proses lelang oleh perusahaan yang erada di Makasar, sehingga Bawaslu DKI Jakarta turut hadir dalam pengawasan yang berkaitan dengan proses pencetakan kertas suara yang dilakukan oleh PT Adi Perkasa yang berdomisili di Makasar Sulawesi Selatan.
Pendistribusian perlengkapan pemungutan suara dilakukan oleh sekretariat KPU Provinsi, dan sekretariat KPU Kabupaten/Kota dibantu oleh pihak pemenang lelang yakni PT Adi Perkasa. Dalam pendistribusian dan pengamanan perlengkapan pemungutan suara, KPU dapat bekerja sama dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia.
1. Persiapan Pengawasan
a. Kerawanan-kerawanan Dalam Tahapan Pengadaan dan Pendistribusian Perlengkapan Pemungutan dan Penghitungan Suara
No Potensi Masalah Analisa Langkah Pengawasan/Tindak lanjut
1. Transparasi terkait jumlah, jenis dan
Sejak awal tahapan pengadaan dan distribusi logistik, pengawas berkoordinasi
dengan KPU Prov, KPU Kab/Kota dan PPK untuk mendapatkan data/dokumen
Meminta jadwal pengadaan dan jadwal distribusi kepada KPU Prov, KPU
Kab/Kota atau Bawaslu RI. bisa menggunakan dan mengertai akan kepada KPU Prov/ KPU Kab/Kota untuk
melakukan Bimtek/sosialisasi kepada jajaran PPS dan KPPS
Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 98 transportai dan kendala teknis dalam proses pengadaan
Koordinasi yang intensif dengan KPU Prov, KPU Kab/Kota dan mengingatkan
jadwal pengadaan dan jadwal pendistribusian logistic pemilu.
5. Rusaknya logistic perlengkapan pemilu
Potensi adanya kerusakan pada logistic perlengkapan pemilu
Melakukan pengawasan dan pengecekan terhadap logistic sampai tingkat PPS untuk memastikan logistic perlengkapan
pemilu tidak mengalami kerusakan dan melaporakan jika ditemukan kerusakan.
6. Kekurangan logistic perlengkapan pemilu
Potensi adanya kekurangan logistic di tingkat PPS atau KPPS karena salah hitung pada pengepakan di tingkat PPK
Melakukan monitoring dan pengawasan melakat pada saat proses pengepakan di
tingkat PPK dan PPS
7.
Kondisi beberapa kelurahan yang sedang renovasi
Potensi tidak adanya tempat yang siap dan penyimpanan aman dan terkendali dari
gangguan lain, berkoordinasi dengan kelurahan-kelurahan yang rawan banjir
Melakukan pengawasan dan memastikan logistic perlengkapan pemilu aman dari
kerusakan.
b. Perencanaan Pengawasan
Jenis kebutuhan perlengkapan penyelenggaraan pemilu sebagai berikut:
1. Surat Suara
Pengawasab Pengadaan Surat suara Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta yang dilakukan oleh KPU DKI Jakarta yang dicetak di Makasar Sulawesi Selatan yang dimenangkan oleh PT Adi Perkasa, Bawaslu DKI Jakarta ikut melaksanakan pengawasan terhadap pengadaan kertas suara tersebut dengan cara ikut secara langsung mengawasi proses pencetakannya.
Surat suara sebagaimana dimaksud merupakan sarana untuk memberikan suara pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI diberi tanda pengaman, nomor urut pasangan calon gambar pasangan calon dan nama lengkap masing-masing pasangan calon.
2. Tinta
Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 99 Tinta sebagaimana dimaksud digunakan untuk memberikan tanda kepada pemilih yang telah menggunakan hak pilihnya. Tinta tersebut berwarna ungu dan/atau biru tua. Tinta yang digunakan harus aman dan nyaman bagi pemakainya, tidak menimbulkan efek iritasi dan alergi pada kulit, dibuktikan dengan sertifikat dari Badan/Balai Pengawasan Obat dan Makanan dan atau sertifikat uji komposisi bahan baku dari Laboratorium Pemerintah/ Perguruan Tinggi Negeri. Tinta memiliki daya lekat yang kuat dan tidak luntur ketika dilap dengan tissue atau kain setelah jari diangkat dari celupan tinta. Tinta harus memiliki daya tahan/lekat selama 24 (dua puluh empat) jam, dan memiliki daya tahan terhadap proses pencucian dengan keras baik menggunakan sabun, detergen, alkohol maupun pembersih lainnya, serta harus mendapatkan sertifikat halal dan tidak menghalangi air untuk keabsahan wudhu dari Majelis Ulama Indonesia.
3. Segel/stiker
Segel digunakan untuk menyegel sampul dan kotak suara sebagai pengaman dokumen/barang keperluan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta
4. Kotak Suara
Kotak suara yang digunakan dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta terbuat dari almumunium dan kotak suara tersebut merupakan milik KPU yang pada pemilu lalu digunakan untuk pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.
5. Bilik Pemungutan Suara
Bilik Pemungutan Suara sebagaimana dimaksud digunakan untuk penyelenggaraan pemungutan suara dalam Pemililihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta . Bilik pemungutan suara sebagaimana dimaksud disediakan di setiap TPS sejumlah 3 (tiga) buah. Bilik pemungutan suara sebagaimana dimaksud dibuat dari bahan karton tebal yang berkualitas baik.
6. Alat Pencoblos Pilihan
Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 100 Alat untuk mencoblos pilihan sebagaimana dimaksud meliputi paku, bantalan, dan meja. Alat untuk mencoblos pilihan sebagaimana dimaksud disediakan sejumlah 1 buah per bilik pemungutan suara di TPS49.
7. Tempat Pemungutan Suara (TPS).
8. Untuk pelaksanaan pemungutan suara dibuat tempat pemungutan suara dalam TPS sebagaimana dimaksud harus memberikan kemudahan akses bagi penyandang disabilitas.
9. Sampul
Sampul kertas digunakan untuk memuat: a. surat suara b. berita acara pemungutan dan penghitungan suara dan sertifikat hasil penghitungan suara di TPS dan c. berita acara rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara dan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara diPPK, KPU Kabupaten/Kota, KPU Provinsi.
10. Formulir
Formulir yang digunakan oleh KPPS adalah seluruh formulir yang dibutuhkan dengan Model- model tertentu dengan diberi pengaman.
11. Alat Bantu Tuna Netra
Alat bantu tunanetra sebagaimana dimaksud disediakan untuk membantu pemilih tunanetra pada saat pemungutan suara. Alat bantu tunanetra dibuat dengan ukuran sesuai ukuran surat suara.
12. Perlengkapan Di TPS
Perlengkapan di TPS sebagaimana dimaksud meliputi: a. tanda pengenal KPPS b. tanda pengenal petugas keamanan TPS c. tanda pengenal saksi; d. karet pengikat surat suara; e. lem/perekat; f. kantong plastik; g. pulpen; h. gembok; i.
spidol; j. tali pengikat alat pemberi tanda pilihan.
13. Salinan Daftar Pemilih Tetap (S-DPT)
Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 101 SDPT sebagimana dimaksud dibuat untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang terdaftarnya pemilih pada Tempat Pemungutan Suara dimana pemilih dapat menggunakan hak suaranya.
2. Kegiatan Pengawasan a. Pencegahan
Terhadap pelaksanaan pengadaan dan pengelolaan logistik tersebut, Bawaslu Provinsi DKI Jakarta menyampaikan instruksi kepada Panwaslu kabupaten/kota, Perihal: Instruksi pengawasan logistik perlengkapan pemungutan suara. Pada pokoknya Panwaslu kabupaten/kota melakukan koordinasi dengan KPU kabupaten/kota masing-masing dan emlakukan pengawasan terhadap hal-hal sebagai berikut:
1. Bagaimana KPU kabupaten/kota melakukan perencanaan terhadap pengadaan dan distribusi perlengkapan pemungutan suara di wilayah masing-masing;
2. Bagaimana KPU kabupaten/kota membuat jadual pendistribusian perlengkapan pemungutan suara dimulai dari logistik masuk ke KPU kabupeten/kota sampe pendistribusian ke PPK dan PPS;
3. Bagaimana mekanisme pendistribusian perlengkapan pemungutan suara dari KPU kabupeten/kota sampai ke PPK dan PPS;
4. Berapa jenis perlengkapan pemungutan suara dan dukungan perlengkapan lainnya yang saat ini sudah masuk dan diterima KPU kabupaten/kota masing-masing?
Bawaslu provinsi DKI Jakarta menyampaikan instruksi kepada Panwaslu kabupaten/kota Perihal: Instruksi pengawasan terhadap pengadaan kotak suara.
pada pokoknya menyampaikan instruksi sebagai berikut:
1. Panwaslu Kabupaten/Kota melakukan pengecekan dan penghitungan terhadap kotak suara yang telah dikirim ke KPU Kabupaten/Kota masing-masing untuk memastikan pemenuhan jumlah ketersediaan kotak suara diseluruh TPS di masing-masing Kabupaten/Kota;
2. Apabila dari hasil pengawasan tersebut ditemukan dugaan pelanggaran pemilu, maka Panwaslu Kabupaten/Kota agar segera menindaklanjuti sesuai dengan peraturan perundang-undangan;
b. Aktifitas Pengawasan
Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 102 Dalam hal pengawasan terkait dengan proses perlengkapan penyelenggaraan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Bawaslu DKI Jakarta dan jajaranya melakukan pengawasan melekat berdarsarkan dengan wilayahnya, namun demikian proses tersebut sedikit mengalami kendala terkait dengan jumlah yang harus dipenuhi terkait dengan perlengkapan tetapi secara keseluruhan hal tersebut bukanlah kendala yang bererati.
Hal-hal yang di awasi terkait dengan pengawasan distribusi kebutuhan perlengkapan suara dilapangan difokuskan kepada apakah kebutuhan tersebut sudah benar, pas dan akurat sehingga jika ada kekurangan dpat dilengkapi kekurangannya secara cepat berdasarkan Kabupaten/Kota ataupun PPK ke PPS dan PPS langsung kepada KPPS diman TPS tersebut berada.
3. Hasil-Hasil Pengawasan a. Temuan
Terkait dengan temuan pengawasan perlengkapan dan distribusi suara di fokuskan kepada surat suara pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta, apakah setiap TPS sesuai dengan jumlahnya ditambah 2.5% dari DPT disetiap TPS, karena secara umum semua kebutuhan terkait dengan perlengkapan sudah terpenuhi di masing-masing TPS. Dari hasil Pengawasan tidak ditemukan hal-hal yang krusial kalaupun ada sifatnya langsung dilengkapi yang menjadi kekurangannya.
b. Rekomendasi
Titik rawan pendistribusian perlengkapan penyelenggaraan pemilu : No Potensi
Masalah Analisa Tindak lanjut
1. Transparasi Dokumen
Potensi tidak transparannya KPU Provinsi, KPU Kab/Kota atau Panwascam
dalam memberikan dokumen perlengkapan pemilu, terkait jumlah, jenis
dan
Sejak awal tahapan pengadaan dan distribusi logistik, pengawas berkoordinasi dengan KPU Prov, KPU Kab/Kota dan PPK untuk mendapatkan
data/dokumen terkait pengadaan perlengkapan penyelengaraan pemilu
2. Jadwal Distribusi
Potensi tidak diberikannya jadwal dari proses
pengadaan dan pendistribusian masuk ke
KPU Kab/Kota ataupun pendistribusian ke PPK dan
PPS
Meminta jadwal pengadaan dan jadwal distribusi kepada KPU Prov, KPU
Kab/Kota atau Bawaslu RI.
3. Sosialisasi PPS dan KPPS tidak bisa Mengingatkan dan Merekomdasikan
Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 103
mengertai akan fungs-fungsi perlengkapan
penyenggaraan pemilu sesuai aturan yang ditentukan
kepada KPU Prov/ KPU Kab/Kota untuk melakukan Bimtek/sosialisasi kepada logistik, terkait transportai dan kendala teknis dalam proses pengadaan
Koordinasi yang intensif dengan KPU Prov, KPU Kab/Kota dan mengingatkan
jadwal pengadaan dan jadwal
Potensi adanya kerusakan pada logistic perlengkapan pemilu
Melakukan pengawasan dan pengecekan terhadap logistic sampai tingkat PPS untuk memastikan logistic perlengkapan pemilu tidak mengalami
Potensi adanya kekurangan logistic di tingkat PPS atau KPPS karena salah hitung pada pengepakan di tingkat PPK
Melakukan monitoring dan pengawasan melakat pada saat proses pengepakan
di tingkat PPK dan PPS
No Potensi Masalah Tindak lanjut
1. Transparasi Dokumen
Sejak awal tahapan pengadaan dan distribusi logistik, pengawas berkoordinasi dengan KPU Prov, KPU Kab/Kota
dan PPK untuk mendapatkan data/dokumen terkait pengadaan perlengkapan penyelengaraan pemilu
2. Jadwal Distribusi Meminta jadwal pengadaan dan jadwal distribusi kepada KPU Prov, KPU Kab/Kota atau Bawaslu RI.
3. Sosialisasi terhadap Mengingatkan dan Merekomdasikan kepada KPU Prov/ KPU
Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 104 penggunaan
perlengkapan penyelengaraan
pemilu
Kab/Kota untuk melakukan Bimtek/sosialisasi kepada jajaran PPS dan KPPS
4. Terlambatnya distribusi logistic perlengkapan pemilu
Koordinasi yang intensif dengan KPU Prov, KPU Kab/Kota dan mengingatkan jadwal pengadaan dan jadwal
pendistribusian logistic pemilu.
5. Rusaknya logistic perlengkapan pemilu
Melakukan pengawasan dan pengecekan terhadap logistic sampai tingkat PPS untuk memastikan logistic perlengkapan
pemilu tidak mengalami kerusakan dan melaporakan jika ditemukan kerusakan.
6. Kekurangan logistic perlengkapan pemilu
Melakukan monitoring dan pengawasan melakat pada saat proses pengepakan di tingkat PPK dan PPS
7.
Kondisi beberapa kelurahan yang sedang renovasi
Melakukan pengawasan dan memastikan tempat yang digunakan untuk penyimpanan aman dan terkendali dari gangguan lain, berkoordinasi dengan kepolisian setempat.
8.
Musim penghujan, beberapa daerah
rawan banjir
Melakukan pengawasan dan memastikan logistic perlengkapan pemilu aman dari kerusakan.
4. Dinamika dan Permasalahan
Dalam tahapan pengadaan dan Distribusi Logistik Bawaslu DKI dan Jajaranya sudah memaksimalkan tugas dan fungsinya berdasarkan Undang-undang namun dalam prakteknya perlu diuapayakan sebuah kendaraan operasional khususnya di kepulauan seribu mengingat letak geografis yang tersebar di seluruh pulau-pulau kecil sehingga dalam aspek pengawasan mengalami sedikit kendali dalam aspek transportasi. Namun secara keseluruhan upaya untuk mengawasi serta melakukan monitoring terhadap tahapan pengadaan dan distribusi logistic tidak mengalami kendala yang berati.
5. Evaluasi Pelaksanaan Pengawasan
Pengadaan dan distribusi logistic Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta 2017 sangatlah penting dimana segala kebutuhan yang berkaitan dengan proses pemilu logistic menjadi hal yang paling krusial, oleh karena yang menjadi catatan Bawaslu Provinsi DKI Jakarta dalam pengadaan distribusi logistic adalah sebagai berikut :
1. Proses pengadaan logistic pemilu haruslah disesuaikan dengan wilayah geografis tertentu sehingga dalam hal pendistribusian tidaklah terlampau mengalami kendala teknis berarti.
Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 105 2. Dalam hal pengadaan pihak terkait dalam hal ini KPU dan perusahaan
pencetak kertas suara dan kebutuhan lainnya, haruslah mengikuti prosedur sebagaimana mestinya, sehingga dalam prosesnya dapat dipertanggung jawabkan, sebagai contoh mengenai hologram, yang seharusnya dalam bentuk hologram cetak namun prakteknya dalam bentuk hologram stiker atau tempel, hal ini jika diantisipasi adanya pihak yang tidak bertanggung jawab melakukan pemalsuan terhadap segala jenis kebutuhan logistic.
3. Dalam hal penyandang disabilitas kebutuhan logistic terhadap mereka menjadi prioritas dengan cara mengelola data berapa jumlah penyandang difabel tersebut, dan KPU DKI Jakarta harus menaruh perhatian lebih terhadap hal ini.
4. Proses pelipatan kertas suara haruslah professional dengan memperhatikan para pekerjanya sehingga sedapat mungkin menghindarai rusaknya kertas suara ataupun kekurangan.
5. Mempertimbangankan model baru dalam hal kebutuhan logistic, semisalnya menggunakan system modern seperti e-voting, utnuk menghindari kebutuhan logistic atau kertas suara yang banyak, sehingga efektif dan efesiensi anggaran bisa dimaksimalkan