• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Lahan Rawa Pasang Surut

Lahan rawa merupakan lahan yang menempati posisi peralihan di antara sistem daratan dan sistem perairan (sungai, danau, atau laut) yaitu antara daratan dan laut atau di daratan sendiri yaitu antara wilayah lahan kering (uplands) dan sungai/danau. Karakteristik lahan ini adalah tergenang dangkal, selalu jenuh air atau mempunyai air tanah yang dangkal sepanjang tahun atau dalam waktu yang panjang dalam setahun (Subagyo 2006b).

Pertemuan Nasional Pengembangan Pertanian Lahan Rawa Pasang Surut pada tahun 1992 di Cisarua, Bogor, menyepakati bahwa istilah rawa mempunyai dua pengertian, yaitu rawa pasang surut (tidal swamps) dan rawa lebak (swampy atau non-tidal swamps). Rawa pasang surut diartikan sebagai daerah rawa yang mendapatkan pengaruh langsung atau tidak langsung oleh ayunan pasang surutnya air laut/sungai sekitarnya. Rawa lebak diartikan sebagai daerah rawa yang mengalami genangan selama lebih dari tiga bulan dengan tinggi genangan terendah antara 25-50 cm (Noor 2004).

Berdasarkan pengaruh air pasang surut, khususnya sewaktu pasang besar di musim hujan, bagian daerah aliran sungai dapat dibagi menjadi tiga zona. Klasifikasi zona-zona wilayah rawa ini adalah Zona I (Wilayah rawa pasang surut air asin/payau), Zona II (Wilayah rawa pasang surut air tawar), dan Zona III (Wilayah rawa lebak, atau rawa non-pasang surut). Wilayah zona II sudah berada di luar pengaruh air asin/salin dan yang dominan adalah pengaruh air-tawar (fresh-water) dari sungai, namun energi pasang surut masih cukup dominan yang ditandai oleh masih adanya gerakan air pasang dan air surut di sungai. Saat volume air sungai relatif tetap atau malahan berkurang di musim kemarau, pengaruh air asin/salin dapat merambat sepanjang sungai sampai jauh ke pedalaman. Pengaruh air asin/salin di sungai dapat mencapai jarak sejauh 40-90 km dari muara sungai pada bulan-bulan terkering yaitu bulan Agustus-Oktober (Widjaja-Adhi et al. 1992; Subagyo 1997).

Menurut Noor (2004), lahan rawa pasang surut dibagi menjadi empat tipe luapan yaitu tipe A, B, C dan D. Tipe A merupakan daerah yang diluapi baik oleh air pasang besar maupun air pasang kecil. Tipe B merupakan daerah yang diluapi

5

hanya oleh air pasang besar. Sementara tipe C dan D tidak mengalami luapan air pasang namun muka air tanah berada pada kedalaman kurang dari 50 cm untuk tipe C dan lebih dari 50 cm untuk tipe D.

Lahan sulfat masam merupakan bagian dari lahan rawa pasang surut yang dapat diklasifikasikan menurut posisi bahan sulfidik di dalam tanah. Tanah dengan reaksi masam ekstrim yang banyak mengandung ion sulfat ini disebut tanah sulfat masam (acid sulphate soils). Tanah sulfat masam potensial mengandung pirit pada jeluk >50 cm yang bila terbuka ke udara akan terjadi reaksi oksidasi membentuk asam sulfat dan oksida besi sehingga tanah tidak dapat digunakan untuk pertanian (Noor 2004; Suriadikarta 2005).

Kandungan pirit di tanah rawa pasang surut umumnya rendah, yakni hanya sekitar 0-5%. Pirit menjadi permasalahan utama yang berat ketika tanah rawa dibuka untuk pertanian (Subagyo 2006b). Pirit yang mengalami oksidasi menghasilkan asam sulfat dan senyawa besi bebas bervalensi 3 (Fe3+). Setiap 1 mol pirit yang teroksidasi akan membebaskan 4 mol ion H+, dan apabila Fe3+ kemudian bertindak sebagai oksidator maka akan dibebaskan sebanyak 16 mol ion H+ (Noor 2004). Hasil akhirnya merupakan tanah dengan reaksi masam ekstrim (pH <3.5), dan banyak mengandung ion-ion sulfat (SO4-), besi bervalensi 2 (Fe2+), dan aluminium (Al3+). Asam sulfat akan melarutkan sejumlah besar logam-logam berat, antara lain Al, Mn, Zn dan Cu sehingga bersifat toksik (Suriadikarta 2005).

Pada musim hujan air tanah berangsur naik ke permukaan dan dapat menggenangi tanah. Potensial redoks tanah menjadi lebih tinggi dan pH tanah meningkat kembali. Hal ini mengakibatkan konsentrasi ion H dan Al dalam larutan tanah menurun atau kurang bersifat toksik, tetapi muncul masalah-masalah baru. Kandungan ion sulfat (SO42-) dalam larutan tanah meningkat kembali yang disebabkan oleh hidrolisis Al-sulfat hidrat:

AlOHSO4 + 2H2O7→ Al(OH)3 + 2H+ + SO42-,

atau desorpsi sulfat yang diadsorpsi kompleks pertukaran liat tanah Tanah-SO4 + 2H2O → Tanah-(OH)2 + 2H+ + SO4

2-Oksigen yang berada dalam tanah dalam waktu relatif singkat segera digunakan oleh bakteri aerobik sehingga konsentrasinya mendekati nol karena diffusi oksigen udara pada tanah jenuh air sangat lambat. Bakteri anaerobik akan memanfaatkan semua senyawa-senyawa teroksidasi sebagai sumber oksigennya.

6

Tahap pertama yang mengalami reduksi adalah nitrat (NO3-), sehingga semua nitrat akan direduksi menjadi ion amonium (NH4+). Setelah semua nitrat habis, oksida-mangan (MnO2) yang ada akan direduksi menjadi ion Mn2+. Dalam 1-3 minggu penggenangan, hampir seluruh Mn dapat tukar, direduksi menjadi Mn2+. Sesudah semua MnO2 habis, reduksi sebarang Fe3+ (ferri-oksida) mulai terjadi, yang menghasilkan Fe2+ (ferro) yang melimpah, dan peningkatan pH oleh karena dihasilkannya senyawa hidrokarbonat dalam larutan tanah.

Fe(OH)3 + ¼ CH2O + 2H+ → Fe2+

+ ¼ CO2 + 1¼ H2O

Peningkatan pH larutan tanah bersifat menstabilkan reduksi Fe3+, sehingga dihasilkan ion Fe2+ dalam konsentrasi tinggi yang bersifat toksik terhadap tanaman. Jumlah ion Fe2+ yang melimpah mendesak ke luar basa-basa dapat tukar Ca dan Mg dari kompleks adsorpsi tanah, sehingga jumlahnya meningkat dalam larutan tanah. Kedua unsur hara ini dengan mudah terbawa keluar dari lingkungan akar oleh air yang mengalir. Sesudah semua ferri-oksida tereduksi, reduksi sulfat mulai terjadi, yang berakibat menurunkan konsentrasi ion sulfat dan ion H+ (karena digunakan untuk membentuk bikarbonat), dan disertai dengan peningkatan pH tanah.

SO42- + 2CH2O → H2S + 2HCO3-

Proses reduksi sulfat terjadi pada potensial redoks antara -0.12V dan -0.19V,serta hanya terjadi di atas pH 5.0, tetapi juga pada reaksi lebih masam, pH 2.8-3.4. Sulfida yang terbentuk segera bereaksi dengan Fe2+ yang tersedia dalam larutan tanah, dan membentuk senyawa ferro-sulfida. Adanya reduksi sulfat pada lapisan tanah ditandai oleh karatan FeS yang berwarna hitam, dan terkadang oleh bau (busuk) H2S. Senyawa H2S yang dihasilkan dari reduksi sulfat bersifat sangat toksik terhadap pertumbuhan tanaman. Penggenangan selama musim hujan, terjadi peningkatan pH tanah, dan penurunan konsentrasi Al. Namun, kemungkinan dapat terjadi keracunan ion Fe2, dan Mn karena konsentrasinya yang sangat tinggi dalam larutan tanah. Kemungkinan juga terjadi keracunan H2S, dan pencucian unsur basa Ca dan Mg yang berakibat menurunkan kesuburan alami tanah rawa (Konsten et al. 1990; Subagyo 2006b).

Oleh karena itu pengelolaan tanah dan air merupakan kunci utama keberhasilan pengembangan pertanian di lahan rawa pasang surut. Pengelolaan tanah dan air meliputi jaringan tata air makro maupun mikro (Widjaya-Adhi

7

1995), teknologi budidaya jenuh air (Ghulamahdi 1999), ameliorasi dan pemupukan (Suriadikarta & Sjamsidi 2001) serta penataan lahan (Suriadikarta 2005).

Varietas Kedelai Adaptif Lahan Masam

Penambahan areal penanaman ke lahan pasang surut dihadapkan pada kendala fisik dan kimia tanah yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. Produktivitas kedelai di lahan pasang surut tergolong rendah, 800 kg/ha (Djayusman et al. 2001). Menurut Sabran et al. (2000), kendala penanaman kedelai di lahan pasang surut adalah genangan air. Genangan air yang berkepanjangan akan mengurangi ketersediaan oksigen di lapisan perakaran. Respirasi akar akan terganggu dan jangka panjang dapat mematikan tanaman. Masalah lain yang dihadapi adalah kemasaman tanah. Drainase yang berlebihan pada tanah sulfat masam menciptakan kondisi aerob yang mengakibatkan lapisan pirit teroksidasi dan melepaskan asam yang merupakan racun bagi tanaman.

Upaya untuk mengatasi kondisi tanah sulfat masam dapat ditempuh melalui perakitan varietas kedelai yang toleran tanah sulfat masam atau mengadaptasikan varietas-varietas unggul yang sudah ada pada kondisi tanah sulfat masam. Penelitian yang dilakukan oleh Suastika dan Ismail (1992) menyimpulkan bahwa salah satu varietas yang tumbuh dan berkembang baik di lahan potensial adalah varietas wilis dengan tingkat hasil antara 1.7-2 ton/ha biji kering. Menurut Sabran et al. (2000), pengujian galur-galur yang berasal dari hasil persilangan Balitkabi pada lahan sulfat masam telah menghasilkan 4 galur yang berdaya hasil tinggi yaitu 3034/Lamp 3-II-1, 3034/Lamp 3-II-2, MSC 8613-6-8 dan SJ-5. Selanjutnya Alihamsyah dan Ar-Riza (2004) menemukan bahwa varietas Wilis, Rinjani, Lokon, Dempo, Galunggung, Slamet, Lawit, Merbabu, Petek, Kerinci, Tampomas, Tanggamus dan Menyapa mampu memberikan hasil panen sebesar 1.5-2.4 ton/ha di lahan rawa lebak.

Mengadaptasikan varietas-varietas unggul yang sudah ada di lahan pasang surut juga dimaksudkan untuk mendapatkan varietas yang adaptif dengan stabilitas yang tinggi. Menurut Lin et al. (1996), ada 3 konsep mengenai genotipe yang stabil yaitu bila ragam hasilnya lintas lingkungan kecil, bila responnya terhadap perubahan lingkungan sebanding dengan rataan respon

genotipe-8

genotipe lainnya yang diuji, dan bila penyimpangan hasilnya dari garis regresi rataan hasil terhadap indeks lingkungan kecil. Stabilitas hasil merupakan ukuran kemampuan suatu genotipe untuk menenggang perubahan lingkungan.

Budidaya Jenuh Air pada Kedelai

Budidaya kedelai yang biasa dilakukan oleh petani adalah dengan memberikan pengairan secara berkala baik dengan cara luapan maupun penyiraman. Kondisi ini menyebabkan tanaman kedelai akan mengalami kelebihan air pada suatu waktu dan stress kekurangan air pada suatu waktu tertentu. Pemberian air secara terputus-putus sangat mengganggu pertumbuhan tanaman karena pada waktu kering akan mengalami stres dan saat air diberikan terjadi pemulihan namun sebelum pulih tanaman kembali mengalami stres kekeringan. Penggenangan terputus-putus juga dapat menghambat penambatan N dibandingkan dengan tanpa penggenangan (Tampubolon 1988).

Budidaya jenuh air adalah sistem produksi yang dikembangkan di semi arid tropis Australia yang dapat meningkatkan hasil kedelai dibandingkan dengan irigasi konvensional. Budidaya jenuh air mempertahankan air dalam saluran antar bedengan sejak awal stadia vegetatif hingga stadia kematangan (Fehr et al. 1971; Nathanson et al. 1984).

Pertumbuhan kedelai mengalami tekanan pada awal pemberian jenuh air. Akar dan bintil akar menjadi mati dan selanjutnya tumbuh di atas muka air. Pertumbuhan meningkat setelah melewati masa aklimatisasi. Peningkatan pertumbuhan ini sangat berhubungan dengan peningkatan nodulasi dan fiksasi N2

yang besar (Ghulamahdi et al. 2006). Budidaya jenuh air juga dapat menurunkan aborsi bunga dan polong, tidak mengalami senessen saat masa pengisian polong sehingga akhirnya dapat meningkatkan indeks panen (Fehr et al. 1971; Garside et al. 1982; Nathanson et al. 1984; Troedson et al. 1984). Menurut Inderadewa et al. (2004), genangan dalam parit dapat meningkatkan hasil biji kedelai 20-80% dari hasil biji tanaman kontrol yang diluapi.

Ralph (1983) menyimpulkan bahwa peningkatan pertumbuhan dan hasil biji ini terjadi karena tanaman kedelai mendapatkan lengas dalam jumlah cukup sepanjang hidupnya, pertumbuhan bintil terus berlanjut sampai fase pengisian polong dan mengalami penundaan penuaan serta perpanjangan fase reproduktif.

9

Sebaliknya dengan pengairan luapan yang dilakukan petani, tanaman kedelai mengalami kekurangan air saat tidak diairi dan kekurangan oksigen saat diairi.

Ghulamahdi (1999), selanjutnya menambahkan bahwa budidaya jenuh air memberikan hasil yang baik terhadap pertumbuhan tanaman kedelai dengan meningkatnya kadar etilen dalam jaringan tanaman. Mekanisme adaptasi tanaman kedelai pada budidaya jenuh air dimulai dengan meningkatnya kandungan prekusor etilen, aminocyclopropana-1-carboxylic acid, di akar yang diikuti dengan meningkatnya kandungan etilen akar. Etilen akar meningkatkan terbentuknya jaringan aerenkima dan perakaran baru.

Dalam penelitian yang lebih detail dilakukan oleh Hartley et al. (1993) dengan galur yang lebih representatif di Lawes, ada variasi yang sangat besar dalam respon relatif (RR) tanaman terhadap budidaya jenuh air (dimana respon relatif didefinisikan sebagai respon terhadap budidaya jenuh air dikurangi respon terhadap irigasi konvensional kemudian dibagi dengan respon terhadap irigasi konvensional tersebut) dengan hasil biji menurun hingga 52%, meningkat hingga 37% atau tidak berubah tergantung genotipe dan manajemen agronominya. Variasi genotipe dalam hal RR umumnya konsisten antar musim dan bervariasi dalam hal penotipe antar genotipe bila ditanam pada sistem irigasi konvensional. Secara umum, genotipe-genotipe yang memberi respon paling positif adalah genotipe yang memulai fase pembungaannya lambat karena tanaman harus beraklimatisasi terhadap budidaya jenuh air dan durasi berbunganya lama. Genotipe-genotipe yang berespon negatif adalah genotipe-genotipe yang fase vegetatifnya singkat karena fase pembungaan mulai sebelum aklimatisasi selesai.

Berdasarkan lamanya periode tumbuh dari sejak tanam sampai polong matang, varietas kedelai digolongkan menjadi tiga kelompok umur, yaitu umur genjah (<80 hari), umur sedang (80-85 hari) dan umur dalam (>85 hari) (Somaatmadja et al. 1985). Tanggap varietas kedelai terhadap keadaan jenuh air berbeda-beda (Ghulamahdi 2008; Ghulamahdi & Nirmala 2008). Kedelai yang berumur lebih panjang biasanya mempunyai pertumbuhan yang lebih baik dan produksi yang lebih tinggi dibandingkan kedelai yang berumur pendek (Hunter et al. 1980; CSIRO 1983; Ghulamahdi et al. 1991).

METODOLOGI PENELITIAN

Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di lahan pasang surut Desa Banyu Urip Kecamatan Tanjung Lago Kabupaten Banyu Asin Sumatera Selatan. Waktu pelaksanaan penelitian mulai bulan April hingga Agustus 2009.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan meliputi benih kedelai, inokulan Rhizobium sp, insektisida berbahan aktif Karbosulfan 25.53%, pupuk kandang, urea, SP18 dan KCl. Alat yang digunakan adalah peralatan pengolaan tanah dan peralatan pertanian lainnya seperti sprayer.

Metode Penelitian

Percobaan disusun dalam Rancangan Petak Terpisah dengan rancangan acak kelompok sebagai rancangan lingkungan. Percobaan diulang sebanyak tiga kali. Sebagai petak utama adalah tinggi muka air yang terdiri dari lima taraf, yaitu tanpa pengairan, 10, 20, 30 dan 40 cm di bawah permukaan tanah (DPT). Sebagai anak petak adalah varietas yang terdiri dari empat jenis yaitu Tanggamus, Slamet, Willis, dan Anjasmoro. Anak petak berukuran 2 m x 5 m. Diantara anak petak dibuat saluran air yang berukuran lebar 30 cm dan dalamnya 50 cm sehingga petak utama berukuran 5.90 m x 11 m, dan dengan pengaturan ini maka kondisi petakan akan selalu basah pada saat irigasi diberikan (Gambar 1, 2 dan 3). Air irigasi diberikan mulai saat tanam.

Gambar 1 Ukuran saluran dan pengukuran kedalaman muka air 20 cm

50 cm

v v v v v v v v v v v v v v 30 cm

11

Keterangan: : Pintu air : Pematang / Jalan : Aliran air : Anak petak (2 m x 5 m) : Jembatan : Jarak antar anak petak

Pintu air

Saluran (lebar 30 cm) Pembatas petak utama (50 cm)

Gambar 2. Skema pengaturan air

2 m x 5 m 2 m x 5 m 2 m x 5 m 2 m x 5 m 2 m x 5 m 2 m x 5 m 2 m x 5 m 2 m x 5 m Jalan Saluran Tersier

Saluran Primer Jalur 17 Saluran Primer Jalur 17

S a l S e k u n d e r Lahan Percobaan Saluran Tersier

12

13

Model linier dari rancangan petak terpisah (Mattjik & Sumertajaya 2002) adalah:

Yijk= µ + i+ αj+ ij+ βk+ (αβ)jk+ Єijk

Dimana:

i : Ulangan/kelompok (1, 2, 3) j : Tinggi muka air (1, 2, 3, 4, 5) k : Varietas (1, 2, 3, 4)

Yijk : Hasil pengamatan pengaruh tinggi muka air ke-j, Varietas ke-k dan ulangan ke-i

µ : Nilai tengah

i : Pengaruh ulangan/kelompok ke-i αj : Pengaruh tinggi muka air ke-j

ij : Pengaruh galat tinggi muka air ke-j dan ulangan/kelompok ke-i βk : Pengaruh varietas ke-k

(αβ)jk : Pengaruh interaksi antara tinggi muka air ke-j dan varietas ke-k

Єijk : Pengaruh galat tinggi muka air ke-j dan varietas ke-k pada ulangan ke-i Prosedur Percobaan

Pada waktu pengolahan tanah diberikan 2 ton kapur/ha, 2.5 ton pupuk kandang/ha, 400 kg SP18/ha dan 100 kg KCl/ha. Kapur dan pupuk kandang diberikan pada saat pengolahan tanah kemudian diinkubasi selama 2 minggu. Pupuk SP 18 dan KCl diberikan pada saat tanam dengan cara ditugal. Pupuk N tidak diberikan dengan harapan bintil akar dapat memenuhi kebutuhan tanaman akan nitrogen, namun, untuk membantu pemulihan daun saat aklimatisasi, tanaman disemprot N melalui daun pada umur 2 dan 4 minggu setelah tanam (MST) dengan konsentrasi 7.5 g urea/l air. Setelah dua minggu masa inkubasi kapur dan pupuk kandang, kedelai yang telah diberi inokulan Rhizobium sp (5 g/kg benih) dan insektisida berbahan aktif karbosulfan 25.53% (15 g/kg benih) ditanam. Insektisida ini diberikan untuk mengatasi lalat bibit. Benih ditanam dangkal dengan kedalaman 2-3 cm dengan jarak tanam 20 cm x 25 cm, setiap lubang diisi dengan dua benih kedelai sehingga populasi per petak berjumlah 400 tanaman. Pemeliharaan meliputi penjagaan kecukupan air sesuai dengan perlakuan tinggi muka air, pengendalian gulma dan pengendalian hama. Gulma

14

dikendalikan dengan cara mekanis, sedangkan hama dikendalikan dengan menggunakan insektisida.

Peubah dan Pengolahan Data

Pengamatan dilakukan setiap 2 minggu dan dimulai sejak tanaman berumur 4 MST. Peubah-peubah yang diamati adalah:

1. Tinggi tanaman pada umur 4, 6, 8, 10 MST dan saat panen 2. Jumlah daun trifoliate pada umur 4, 6, 8, 10 MST dan saat panen 3. Jumlah cabang pada umur 4, 6, 8, 10 MST dan saat panen

4. Bobot kering batang, daun, akar, bintil akar, dan total

Tanaman sampel berumur 6 MST sebanyak delapan tanaman (diperkirakan berat kering daun cukup untuk analisis hara daun) diambil mulai dari akar. Sampel dikeringkan dalam oven selama 72 jam dengan suhu 60oC. Setelah dikeringkan, bagian-bagian tanaman dipisahkan yaitu batang, daun, akar, dan bintil, lalu ditimbang.

5. Jumlah polong isi 6. Umur 50% berbunga 7. Umur panen

8. Bobot biji per hektar

9. Analisis hara N, P, K, Fe dan Mn daun

Contoh daun umur 6 MST diambil dari lapangan, dikeringkan dalam oven dengan suhu 60oC selama 72 jam kemudian daun kering dihaluskan. Kandungan N daun ditentukan dengan metode Kjeldahl dengan alat titrasi. P daun ditentukan dengan metode pengabuan kering dan ditetapkan dengan spektrofotometer. K, Fe dan Mn ditentukan dengan metode HClO4+HNO3

menggunakan alat Atomic Absorption Spectrometer (AAS). 10. Analisis tanah sebelum tanam dan sesudah panen

Analisa tanah dilakukan untuk komposisi tekstur tanah (pasir, debu dan liat), pH, C organik, N, P2O5, K2O, nilai tukar kation Ca, Mg, K, Na, dan KTK, kejenuhan basa, Al3+, H+, unsur hara mikro Fe, S, dan Mn, dan pirit. Tekstur tanah ditentukan dengan metode pipet. Keasaman tanah (pH) ditentukan dengan ekstrak 1:5 menggunakan H2O dan KCl. C organik ditentukan dengan metode kurmis. N ditentukan dengan metode Kjeldahl.

15

P2O5 ditentukan dengan metode Bray I, K2O ditentukan dengan metode Morgan. Kation dan unsur hara mikro dengan metode AAS, KTK dengan metode titrasi.

11. Analisis air meliputi pH, DHL, kation, anion dan kadar lumpur

Keasaman tanah (pH) diukur dengan pH meter menggunakan elektrode gelas kombinasi. Daya hantar listrik diukur dengan menggunakan alat konduktometer. Kation diukur dengan metode yang sesuai dengan masing-masing kation. Ca, Mg, Fe, Al, Mn ditentukan dengan metode AAS; K dan Na dengan fotometer nyala; NH4 dengan kolorimeter metode biru indofenol; NO3 dengan spektrofotometri; SO4 dengan turbidimetri, Cl dengan argentometri; PO4 dengan kolorimetri pewarnaan biru molibden pada panjang gelombang 693 nm; CO3 dan HCO3 dengan titrasi menggunakan asam hingga pH tertentu.

Data hasil pengamatan dianalisis dengan analisis sidik ragam pada taraf 5% dan jika berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. Peubah tinggi tanaman, jumlah daun dan jumlah cabang umur 4, 6, 8 dan 10 MST, bobot kering total, batang, daun, bintil akar dan akar, kadar dan serapan hara daun dianalisis tanpa menggunakan pembanding perlakuan tanpa pengairan sehingga rerata yang diperoleh adalah rerata kedalaman muka air 10, 20, 30 dan 40 cm DPT. Peubah-peubah ini dimaksudkan untuk mempelajari pola pertumbuhan empat varietas yang diuji pada BJA. Peubah tinggi tanaman, jumlah daun dan jumlah cabang saat panen, jumlah polong, umur 50% berbunga, umur panen dan produktivitas dianalisis dengan menggunakan pembanding kontrol sehingga rerata yang diperoleh adalah rerata dari kedalaman muka air tanpa pengairan, 10, 20, 30 dan 40 cm DPT.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Keadaan Umum dan Agroekologi Lokasi Penelitian

Secara geografis provinsi Sumatera Selatan berbatasan dengan provinsi Jambi di utara, provinsi Kepulauan Bangka-Belitung di timur, provinsi Lampung di selatan dan provinsi Bengkulu di barat (Gambar 4). Luas daratan provinsi Sumatera Selatan adalah 87 017 km2 atau 1.68 persen dari total luas daratan wilayah Indonesia dan dialiri oleh 34 Sungai besar dan kecil (Sumsel 2010).

Kabupaten Banyuasin adalah salah satu kabupaten di provinsi Sumatera Selatan pemekaran dari Kabupaten Musi Banyuasin yang terbentuk berdasarkan UU No. 6 Tahun 2002. Kabupaten Banyuasin terletak pada posisi antara 1.30°-4.0° LS dan 104° 00’-105° 35’ BT yang terbentang dari bagian tengah provinsi Sumatera Selatan sampai dengan bagian timur dengan luas wilayah seluruhnya 11 832.99 km2 atau 1 183 299 ha. Kabupaten Banyuasin terbagi menjadi 15 kecamatan yaitu Banyuasin I, Banyuasin II, Banyuasin III, Betung, Makarti Jaya, Muara Padang, Muara Telang, Pulau Rimau, Rambutan, Talang Kelapa, Rantau Bayur, Tungkal Ilir, Tanjung Lago, muara Sugihan, dan Air Saleh (Pusdatarawa 2006; Banyuasin 2010).

Sebagian besar wilayah Kabupaten Banyuasin merupakan dataran rendah pesisir yang terletak di bagian hilir aliran sungai Musi dan sungai Banyuasin (Gambar 4). Wilayah Kabupaten Banyuasin hampir 80% adalah dataran rendah berupa rawa pasang surut dan lebak sedangkan 20% sisanya merupakan penyebaran lahan kering dengan topografi datar sampai dengan bergelombang. Oleh karena itu sebagian besar lahan tersebut dimanfaatkan untuk pertanian pangan lahan basah, khususnya persawahan pasang surut. Areal lahan kering merupakan sentra perkebunan rakyat dan usaha milik negara terutama karet, kelapa sawit dan hortikultura. Daerah perairan baik payau maupun laut di sepanjang pesisir timur sebagian besar merupakan area penangkapan ikan perairan umum, hanya beberapa lokasi yang telah dijadikan areal budidaya tambak ikan dan udang (Banyuasin 2010).

17

Gambar 4 Peta lokasi penelitian (diolah dari Pusdatarawa 2006)

Desa Banyu Urip, Kecamatan Tanjung Lago merupakan salah satu desa eks transmigrasi penempatan tahun 1980-1981 yang berasal dari Pulau Jawa. Desa Banyu Urip mempunyai luas lahan 1 600 ha dengan penggunaan 1 100 ha untuk lahan sawah penanaman padi. Desa ini terletak pada ketinggian 1-2 m dari permukaan laut dan berjarak 42 km dari Selat Bangka (Gambar 4). Berdasarkan tipe luapan, areal ini termasuk dalam tipe luapan C dan D (Gambar 5; Monografi desa Banyu Urip).

Gambar 5 Klasifikasi rawa pasang surut menurut luapan pasang maksimun dan minimum (Widjaja-Adhi et al. 1992)

18

Daerah reklamasi rawa pasang surut ini dibuka dengan cara membuat jaringan drainase. Semua saluran belum dilengkapi pintu air, sehingga sistem pengelolaan air hanya tergantung dengan fluktuasi pasang surut. Jaringan drainase terdiri dari saluran primer, sekunder, tersier dan saluran kuarter (Gambar 6).

Dokumen terkait