• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rekomendasi

Dalam dokumen Integrasi Upaya Penanggulangan (Halaman 127-148)

Integrasi sebagai sebuah tujuan yang ideal untuk menjamin efektivitas dan keber-lanjutan program HIV dan AIDS bisa diwujudkan jika secara bersamaan juga ada upaya untuk memperkuat sistem kesehatan itu sendiri dengan:

1. Adanya sinergi pemangku kepentingan strategis (Bappeda, Kepala Daerah, DPRD, dan SKPD) terhadap isu-isu HIV dan AIDS untuk memprioritaskannya sebgai isu kesehatan daerah. Para pemangku kepentingan strategis penanggulangan HIV dan AIDS yang memiliki kewenangan untuk menyusun dan menetapkan kebijakan seperti Bappeda, Kepala Daerah, DPRD, dan SKPD perlu disinergikan untuk mendorong pelaksanaan regulasi yang ada sehingga upaya penanggulangan HIV dan AIDS dijadikan prioritas sektor kesehatan di daerah.

2. Penguatan fungsi regulasi melalui pengembangan kebijakan operasional di tingkat daerah terkait dengan peraturan daerah atau peraturan di tingkat pusat. Regulasi yang ada seperti perda perlu dibuatkan kebijakan operasionalnya agar dapat diimplementasikan, seperti kebijakan operasional penganggaran HIV dan AIDS di kabupaten/kota di masing-masing SKPD anggota KPAD. Penguatan regulasi perlu disertai juga dengan pembentukan mekanisme pengawasan dan evaluasi kebijakan dan program yang terintegrasi dengan mekanisme pengawasan dan evaluasi sektor kesehatan secara umum.

3. Adanya kewenangan yang lebih besar dari daerah untuk mengelola data pro-gram dan data epidemiologis sebagai dasar pengembangan kewenangan adminis-tratif (perencanaan dan penganggaran) untuk memperkuat penyediaan layanan pencegahan, PDP, dan MD di daerah. Surveilans penyakit di daerah yang sudah menjadi wewenang pemda perlu diaktifkan, dan surveilans penyakit perlu memasukan komponen HIV dan AIDS. Sinkronisasi perencanaan antara peme rintah pusat dan daerah (provinsi dan kabupaten/kota) perlu dilakukan sehingga masing-masing pihak mempunyai hak yang sama atas kepemilikan dan penggunaan data dalam perencanaan kesehatan daerah.

4. Adanya kesediaan pusat (pemerintah dan MPI) untuk menyerahkan sebagian besar kewenangan administratif (termasuk penyerahan sumber daya) dalam penanggulangan HIV dan AIDS kepada daerah sesuai dengan kapasitas daerah.

Penyerahan kewenangan dimulai dari perencanaan program dan pembiayaan sehingga ada kepemilikan bersama antara pemerintah pusat dan pemda. Dasar perencanaan ini menjadi kebutuhan daerah berdasarkan bukti epidemi daerah.

5. Adanya komitmen pemda untuk mengambil peran yang lebih besar dalam pencegahan melalui pendanaan komunitas yang selama ini didanai oleh MPI.

Komitmen pemerintah untuk mengambil peran lebih besar dalam program pencegahan ini misalnya dimulai dengan membuat kebijakan operasional dari perda yang menyebutkan adanya partisipasi masyarakat dalam penanggulangan HIV dan AIDS.

6. Adanya replikasi dari keberhasilan-keberhasilan kebijakan penanggulangan HIV dan AIDS di tingkat lokal (kabupaten/kota atau desa) di tingkat provinsi dan nasional. Perlu adanya identifikasi keberhasilan dalam integrasi penanggulangan HIV dan AIDS ke dalam sistem yang berlaku di berbagai daerah untuk kemudian bisa dikembangkan di daerah lain. Contoh keberhasilan yang bisa dilihat dari hasil penelitian ini ialah berkembangnya mekanisme pembiayaan SDM HIV dan AIDS dari alokasi dana daerah seperti di Jayapura dan Merauke. Demikian pula keberhasilan inovasi dan inisiasi pemda dalam menyelenggarakan program penanggulangan HIV dan AIDS di Bali sampai pada level desa, dengan menggunakan alokasi dana desa.

7. Pelibatan yang lebih besar dari perguruan tinggi di daerah untuk menyediakan fakta-fakta atau bukti (evidences) sebagai informasi untuk pengembangan kebi-jakan daerah. Sejalan dengan Tridarma Perguruan Tinggi—pendidikan, pene-litian, dan pengabdian—penyediaan evidences oleh perguruan tinggi sebagai informasi untuk pengembangan kebijakan sudah harus dimulai di daerah. Dalam hal ini peran KPAD sebagai koordinator multisektor perlu berkoordinasi dengan perguruan tinggi setempat mulai dari perencanaan program hingga pengawasan dan evaluasi. Dari pihak perguruan tinggi perlu ada langkah nyata untuk menyam paikan berbagai hasil penelitiannya kepada pemangku kepentingan penanggulangan HIV dan AIDS di daerah, yang secara teknis bisa dijadikan agenda bersama.

Atun, R. dan J. Bataringaya. 2011. “Building a durable response to HIV dan AIDS:

Implications for health system.” Acquired Immuno Deficiency Syndrome, 57:S91-S95.

Atun, R., T. de Jongh, F. Secci, K. Ohiri, O. Adeyi. 2010a. “Integration of targeted health interventions into health systems: A conceptual framework for analysis.” Health Policy and Planning, 25:104-111.

Atun, R., J.V. Lazarus, W. Van Damme, R. Coker. 2010b. “Interactions between critical health system functions and HIV/AIDS, tuberculosis and malaria programmes.” Health Policy and Planning, 25:i1-i3.

Atun, R., S. Pothapregada, J.S.K. Kwansah, D.L. Degbotse, V. Jeffrey. 2011. “Critical Interactions Between the Global Fund-Supported HIV Programs and the Health System in Ghana.” Journal of acquired immune deficiency syndromes, Volume 57 Suppl 2: S72-S76.

AIPHSS. 2014. “Indonesia Health System Review.”

Brinkerhoff, D.W. dan B.L. Crosby. 2002. Managing Policy Reform: Concepts and Tools for Decision-Makers in Developing and Transitioning Countries. Bloomfield, CT. Kumarian Press.

Butt, L.J. Morin, G. Numbery, I. Peyon, A. Goo. 2010. “Stigma dan HIV/AIDS di Wilayah Pegunungan Papua.” Jayapura: Universitas Cendrawasih dan University of Victoria.

DAFTAR PusTAkA

BPS, JOTHI, dan UNDP. 2010. “Socioeconomic Impact of HIV at the Individual and Household Level in Indonesia: a seven-province study.” Jakarta: BPS.

Brugha, R dan Z. Varvasovszky. 2000. “Stakeholder analysis: A Review.” Health Policy and Planning 15(3): 239–246.

Calciolari S, Buccoliero L. 2010. “Information integration in health care organizations:

The case of a European health system.” Health Care Manage Rev 35(3).

Chevo, T. dan S. Bhatasara. 2012. “HIV and AIDS Programmes in Zimbabwe:

Implication for Health System.” International Scholarly Research Network Immunology 11, article ID 609128, 11 pages.

Coker, R. et al. 2010. “Conceptual and Analytical Approach to Comparative Analysis of Country Case Studies: HIV and TB Control Programmes and Health Systems Integration.” Health Policy and Planning. 2010:25:i21-i-31.

Coker, R., J. Balen, S. Mounier-Jack, A. Shigayeva, J.V. Lazarus, J.W. Rudge, N. Naik, R. Atun. 2010. “A conceptual and analytical approach to comparative analysis of country case studies: HIV and TB control programmes and health systems integration.” Health Policy and Planning 25 (suppl 1):

i21-i31.

Conseil, A., S. Mounier-Jack, A. Coker. 2010. “Integration of health systems and priority health interventions: a case study of the integration of HIV and TB control programmes into the general health system in Vietnam.”

Health Policy and Planning 25:i32-i36.

Creswell, J.W. 2003. Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches. Thousand Oaks, CA: Sage Publications.

Desai, M., J.M. Rudge, W. Adisasmito, S. Mounier-Jack, R. Coker. 2010. “Critical interactions between global fund-supported programmes and health systems: a case study in Indonesia.” Health Policy and Planning, 25:i43-i47.

Dongbao, y., y. Souteyrand, M.A. Banda, J. Kaufman, J.H. Perriëns. 2008. “Investment in HIV/AIDS programs: Does it help strengthen health systems in developing countries?.” Globalization and Health doi: 10.1186/1744-8603-4-8.

Dudley, L. dan P. Garner. 2011. “Strategies for Integrating Primary Health Services in Low- and Middle-income Countries at the Point of Delivery (Review).”

The Cochrane Collaboration 7.

Gilson, L. dan N. Raphaely. 2008. “The terrain of health policy behaviour take us? Health Policy and Planning, analysis in low- and middle-income countries: a review of published literature 1994– 2007. Health Policy and Planning 23(5):294–307.

Glaser, B.G. dan A.L. Strauss. 1967. The Discovery of Grounded Theory: Strategies for Qualitative Research. Mill Valley, CA: Sociology Press.

Godwin, P. dan C. Dickinson. 2012. “HIV in Asia–Transforming the agenda for 2012 and beyond: Report of a Joint Strategic Assessment in ten countries.”

Canberra: AusAID Health Resource Facility.

Hanvoravongchai, P., B. Warakamin, dan R. Coker. 2010. “Critical interactions between Global Fund-supported programmes and health systems: a case study in Thailand.” Health policy and planning.25 (Suppl 1): i53-i57.

Kawonga, M., B. Blaauw, S. Fonn. 2012. “Aligning vertical interventions to health systems: a case study of the HIV monitoring and evaluation system in South Africa.” Health Research Policy and Systems 10(2).

Kemenkes RI. 2014. “Estimasi Jumlah Populasi Kunci terdampak HIV tahun 2012.”

__________, 2013. “Laporan kasus HIV dan AIDS Triwulan III tahun 2013.” Jakarta:

Dirjen PP dan PL.

__________, 2012a. “Estimasi Epidemi HIV dan AIDS Indonesia.” Jakarta: Dirjen PP dan PL.

__________, 2012b. “Surveilans Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) 2011.”

Jakarta: Dirjen PP dan PL.

KPAN. 2010. “Strategi dan Rencana Aksi Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS tahun 2010 –2014.” Jakarta: KPAN.

__________, 2011. “Upaya Penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia 2006–

2011: Laporan 5 tahun pelaksanaan Peraturan Presiden No. 75/2006 tentang Komisi Penanggulangan AIDS Nasional.” Jakarta: KPAN.

KPAN. 2014. “Indonesia HIV Control Program: An Institutional Analysis.” Jakarta:

KPAN.

Lush, L., J.W. Cleland, S.G. Mayhew. 1999. “Integrating reproductive health: Myth and ideology.” Bulletin of the World Health Organization 77(9): 771–777.

Mahal, A. dan B. Rao. 2005. “HIV/AIDS epidemic in India: An economic perspective.” Indian J Med Res 121, April, Hlm. 582–600.

Nadjib, M., A. Megraini, L. Ishardini, R. Rosalina. 2013. “National AIDS Spending Analysis 2011–2012.” Jakarta: UNAIDS-NAC.

Onyeneho, N.G. 2009. “HIV/AIDS risk factors and economic empowerment needs of female sex workers in Enugu Urban, Nigeria.” Tanzania Journal of Health Research 11(3).

Rasschaert, F., M.P. Pirard, R. Atun, E. Wouters, y. Assefa, B. Criel, J.E. Schouten, dan W. Van Damme. 2011. “Positive spill-over effects of ART scale up on wider health systems development: evidence from Ethiopia and Malawi.” Journal of the International AIDS Society 14 (Suppl 1): S3 PKMK. 2015. Tinjauan Respons Sektor Komunitas dalam Penanggulangan HIV dan

AIDS di Indonesia. Akan terbit.

Pritchett, L. dan M. Woolcock. 2004. “Solutions when the Solution is the Problem:

Arraying the Dissarray in Development.” World Development 32: 191–

212.

Pfeiffer, J.M., A.P. Baptista, J. Karagianis, M. Pugas, M. Micek, M. Johnson, W. Sherr, K. Gimbel, S. Baird, S. Lambdin, B. and Gloyd, S. 2010. Integration of HIV/AIDS services into African primary health care: Lessons learned for health system strengthening in Mozambique - A case study. Journal of the International AIDS Society. Vol. (13) (1).

Shakarishvili G, Atun R, Berman P et al.. 2010. Converging health systems frameworks: towards a concepts-to-actions roadmap for health systems strengthening in low and middle income countries. Global Health Governance, Spring III: 2.

Strauss, A. dan J. Corbin. 1998. Basics of qualitative research: Grounded theory procedures and techniques (2nd ed). Thousand Oaks, CA: Sage Publications.

Shigayeva A, Atun R, Mc Kee M, and Coker, R. 2010. Health Systems, Communicable Diseases and Integration. Health Policy and Planning, 25: i4-i20.

Tim Peneliti Unair. 2014. “Integrasi Upaya Penanggulangan HIV dan AIDS dalam Kerangka Sistem Kesehatan Nasional di Provinsi Jawa Timur.” Laporan Penelitian.

Tim Peneliti Unud. 2014. “Integrasi Upaya Penanggulangan HIV dan AIDS dalam Kerangka Sistem Kesehatan Nasional di Provinsi Bali.” Laporan Penelitian.

Tim Peneliti Unhas. 2014. “Integrasi Upaya Penanggulangan HIV dan AIDS dalam Kerangka Sistem Kesehatan Nasional di Provinsi Sulawesi Selatan.”

Laporan Penelitian.

Tim Peneliti Uncen. 2014. “Integrasi Upaya Penanggulangan HIV dan AIDS dalam Kerangka Sistem Kesehatan Nasional di Provinsi Papua.” Laporan Penelitian.

Tim Peneliti Unipa. 2014. “Integrasi Upaya Penanggulangan HIV dan AIDS dalam Kerangka Sistem Kesehatan Nasional di Provinsi Papua Barat.” Laporan Penelitian.

Tim Peneliti USU. 2014. “Integrasi Upaya Penanggulangan HIV dan AIDS dalam Kerangka Sistem Kesehatan Nasional di Provinsi Sumatera Utara.”

Laporan Penelitian.

UNAIDS. 2012. “Laporan Epidemi AIDS di Indonesia, update.” Geneva: UNAIDS.

Varvasovszky, Z. dan R. Brugha. 2000. “Stakeholder analysis: How to do (or not to do).” Health Policy and Planning 15(3): 338–345.

Walt, G. et al. 2008. “‘Doing’ health policy analysis: methodological and conceptual reflections and challenges.” Health Policy and Planning 23(5): 308–317.

WHO. 2007. “Everybody’s Business: Strengthening Health System to Improve Health Outcomes: WHO’s Framework for Action.” Geneva: WHO.

yayasan Spritia. 2005. “Dokumentasi tentang pelanggaran hak asasi manusia terhadap orang dengan HIV dan AIDS di Indonesia.” Jakarta: Spiritia.

LAmPiRAN 1

instrumen Penelitian: Pengumpulan Data Primer

Instrumen penelitian data primer terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang mewa-kili setiap subsistem dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS (pencegahan, PDP, dan MD). Masing-masing komponen dan subsistem membutuhkan penggalian men-dalam agar bisa diperoleh isu-isu strategis setiap subsistem dan hubungannya dengan subsistem lain. Di bawah ini ialah instrumen yang akan digunakan berdasarkan tujuh (7) subsistem kesehatan.

1. subsistem manajemen, informasi, dan Regulasi kesehatan Penang-gulangan HiV dan AiDs

Subsistem manajemen, informasi, dan regulasi kesehatan adalah pengelolaan yang menghim-pun berbagai upaya kebijakan kesehatan, administrasi kesehatan, pengaturan hukum kesehatan, pengelolaan data dan informasi kesehatan untuk menjamin adanya kerangka kebijakan strategis yang dikombinasikan dengan pengawasan, pengembangan kemitraan, akuntabilitas, peraturan, insentif dan kesesuaian dengan disain sistem kesehatan yang ada.

(a) Berdasarkan regulasi yang ada (UU, PP, Permen, Perda), apakah peran dan tanggung jawab SKPD dan Organisasi Masyarakat Sipil dalam bidang penang-gulangan HIV dan AIDS didefinisikan secara jelas? Apakah secara umum sumber daya yang disediakan untuk melaksanakan peran dan tanggung jawab tersebut sudah mencukupi?

(b) Apakah ada rencana strategis untuk penanggulangan HIV dan AIDS? Jika ya, apakah rencana strategis ini merefleksikan rencana strategis sektor kesehatan?

Apakah ada review secara berkala atas rencana strategis ini? Apakah rencana strategis ini digunakan untuk menentukan keputusan, alokasi sumber daya manusia, dan menentukan situasi epidemi di wilayah ini?

(c) Apakah ada pengaruh kebijakan desentralisasi terhadap kebijakan HIV dan AIDS di daerah ini? Jika ya, apa dampaknya bagi upaya penanggulangan AIDS di daerah ini?

(d) Apakah ada rencana pemda dalam karangka pencapaian MDGs untuk penang-gulangan HIV dan AIDS?

(e) Apakah pernah ada assessment tentang situasi epidemi di kabupaten ini?

(f) Bagaimana perencanaan kegiatan dan pelayanan dalam rangka penanggulangan HIV dan AIDS di wilayah ini dikembangkan? Seberapa jauh kebijakan ini didasar kan pada bukti-bukti kecenderungan epidemiologis atau evaluasi atas kegiatan pada masa sebelumnya?

(g) Bagaimana masyarakat bisa mengetahui program HIV dan AIDS yang dilakukan di wilyah ini sehingga memudahkan untuk mengaksesnya?

2. subsistem Pembiayaan kesehatan

Subsistem pembiayaan adalah pengelolaan berbagai upaya penggalian, pengalokasian, dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

Unsur-unsur pembiayaan kesehatan terdiri atas dana, sumber daya, dan pengelolaan dana kesehatan.

(a) Apakah pernah dilakukan assessment tentang pembiayaan penanggulangan HIV dan AIDS di wilayah ini? Jika ya, seberapa sering itu dilakukan?

(b) Apakah ada perencanaan untuk meningkatkan besaran APBD di wilayah ini untuk penanggulangan HIV dan AIDS? Bagaimana perencanaan tersebut disusun?

(c) Dari mana sumber utama pendanaan penanggulangan HIV dan AIDS di kabupaten ini?

(d) Apakah ada sumber dari pihak lain yang digunakan untuk membantu upaya penang gulangan HIV dan AIDS? Jika ya, apakah ada kesulitan di dalam menge-lola sumber pembiayaan yang beragam ini?

(e) Apakah ada jaminan kesehatan pemerintah (JKN atau Jamkesda) bagi kelompok populasi kunci?

(f) Apakah kelompok populasi kunci selama ini membayar secara formal atau informal atas pelayanan kesehatan terkait dengan HIV dan AIDS yang mereka terima? Jika ya, seberapa besar mereka harus membayar? Apakah ini telah menye-babkan hambatan bagi pasien untuk mengakses layanan tersebut?

3. subsistem sumber Daya manusia kesehatan

Subsistem ini digunakan untuk memastikan bahwa sumber daya manusia yang terli-bat dalam penanggulangan HIV dan AIDS responsif, efisien, kompeten, adil, dan terdistribusi merata sesuai dengan sumber daya yang tersedia dan situasi yang ada serta mencukupi jumlahnya.

(a) Bagaimana kebijakan SDM untuk penanggulangan HIV dan AIDS disusun?

Bagaimana dengan pengembangan kapasitas dokter, perawat, bidan, dan tenaga kesehatan lannya? Apakah ada penguatan kapasitas secara berkelanjutan bagi mereka?

(b) Apakah SDM yang dimiliki oleh penyedia layanan (pemerintah dan non-peme-rintah) mencukupi untuk melaksanakan beban tugas rutin termasuk memenuhi kebutuhan populasi kunci?

(c) Apakah ada kebijakan yang mengatur tenaga di luar dinas kesehatan dikontrak oleh dinas untuk melaksanakan penanggulangan HIV dan AIDS? Jika ya, sebut-kan.

(d) Jika kebutuhan SDM di kabupaten ini kurang mencukupi, apa langkah yang selama ini dilakukan untuk memenuhinya?

(e) Apa mekanisme dukungan untuk mempertahankan SDM yang bekerja di penang-gulangan HIV dan AIDS (pengembangan karier, supervisi, keamanan, mobilitas, kesejahteraan)? Apakah rotasi dan mutasi SDM dalam penanggulangan HIV dan AIDS menjadi isu penting bagi pelaksanaan program?

(f) Apakah ada kebijakan yang menagtur tentang standardiasai kompetensi tenaga penanggulangan HIV dan AIDS? Jika ya, sebutkan.

4. subsistem informasi strategis

Subsistem informasi strategis berfungsi untuk memastikan bahwa produksi, analisis, dise-mi nasi, dan penggunaan informasi yang reliable dan tepat waktu tentang deterdise-minan ke se hatan, kinerja sistem kesehatan, dan status kesehatan dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan.

(a) Apakah di wilayah Anda pernah dilakukan penelitian tentang pencegahan HIV dan AIDS?

(b) Apakah ada sistem informasi terkait dengan upaya penanggulangan HIV dan AIDS yang digunakan untuk membantu pengambilan keputusan? Jika ya, apa saja sumber informasinya (survei perilaku, laporan program dan evaluasi, Surveilans Terpadu Perilaku Dan Biologi (STBP))?

(c) Bagaimana hasil informasi ini didiseminasikan?

(d) Apakah ada data populasi kunci dan sasaran program penanggulangan HIV dan AIDS? Apa saja?

(e) Apakah sistem informasi HIV dan AIDS sama dengan yang digunakan oleh sis-tem kesehatan lainnya?

5. subsistem Penyediaan Farmasi, Alat kesehatan, dan makanan

Subsistem ini digunakan untuk melihat produk medis, teknologi yang dijamin kualitas, keamanan, efikasi, cost-effectiveness, dan penggunaannya.

(a) Apakah ada masalah khusus yang terkait dengan pengadaan atau kualitas obat, reagen, atau perlengkapan pencegahan? (Isu yang perlu digali: pengadaan, regu-lasi, jaminan kualitas, akses, teknologi kesehatan, penyimpanan, dan makanan tambahan)

(b) Dari mana sumber obat, reagen, perlengkapan pencegahan, alat medis habis pakai, bahan medis habis pakai, alat diagnostik, dan makanan tambahan?

(c) Bagaimana regulasi obat, reagen, perlengkapan pencegahan, alat medis habis pakai (AMHP), bahan medis habis pakai (BMHP), alat diagnostik, dan makanan tambahan tersebut?

(d) Bagaimana jaminan kualitas terhadapobat, reagen, perlengkapan pencegahan, alat medis habis pakai, bahan medis habis pakai, alat diagnostik dan makanan tambahan?

(e) Bagaimana prosedur akses terhadap terketersediaan obat, reagen, perlengkapan pencegahan, alat medis habis pakai, bahan medis habis pakai, alat diagnostik, dan makanan tambahan?

(f) Apakah ada kendala untuk proses akses tersebut? Apabila ada, apa saja kendala tersebut dan bagaimana penyelesaiannya?

(g) Apakah ada sistem informasi manajemen logistik yang berjalan? Bagaimana ini dilakukan dan siapa yang bertanggung jawab?

(h) Apakah ada aturan tentang obat yang spesifik (seperti ARV pediatrik, TB-HIV, Hepatitis, ibu hamil)?

(i) Apakah ada Standard Operasional Procedure (SOP) untuk mengeluarkan, mendistribusikan, dan memberikan kepada unit pelayanan kesehatan di tingkat provinsi atau kabupaten/kota?

(j) Apakah ada SOP untuk meminjamkan obat kepada unit layanan lain di tingkat provinsi/kab/kota?

6. subsistem upaya kesehatan

Subsistem ini mencakup intervensi kesehatan personal maupun masyarakat yang efektif, aman, dan berkualitas yang disediakan bagi mereka yang membutuhkan di tempat dan waktu tertentu.

(a) Bagaimana sistem penyediaan layanan kesehatan untuk penanggulangan HIV dan AIDS di wilayah ini diorganisasikan?

(b) Jelaskan secara singkat apa tanggung jawab dari unit kesehatan dan apakah kapasitasnya sudah sesuai dengan tanggung jawab saat ini? (Check-list kemenkes nomor 296)

(c) Apakah jenis layanan kesehatan yang disediakan mencakup layanan pencegahan, pengobatan, paliatif, dan rehabilitatif, promosi kesehatan, dan mitigasi dampak?

(Check-list jenis layanan)

(d) Adakah layanan untuk dukungan kepatuhan berobat?

(e) Adakah dukungan layanan pada kesejahteraan sosial dan bantuan hukum bagi ODHA yang miskin dan terkucilkan?

(f) Apakah layanan pencegahan, diagnostik maupun pengobatan tersedia bagi semua orang (seperti jarak, stigma, dan diskriminasi, informasi layanan, biaya)?

(g) Apakah di seluruh layanan HIV dan AIDS telah menyediakan dukungan gizi?

Kendala apa saja yang dihadapi?

(h) Apakah di seluruh layanan telah mengupayakan menurunkan stigma dan diskriminasi bagi ODHA? Apa saja upaya yang sudah dilakukan untuk menu-runkannya?

(i) Apakah sudah tersedia fasilitas dan peralatan medis untuk menerapkan kewas-padaan standar?

(j) Bagaimana sistem jaminan kualitas unit pelayanan di sektor swasta, pemerintah, dan LSM? Apakah supervisi disediakan untuk semua program atau program-program yang ada memiliki sistem supervisi yang berbeda? Apakah ada supervisi eksternal?

(k) Apakah penilaian kepuasan penerima manfaat dilakukan secara berkala?

Bagaimana hasil tersebut digunakan?

(l) Bagaimana sektor swasta dan LSM bisa secara bersama-sama terlibat dalam membangun jejaring layanan kesehatan di wilayah ini?

(m) Bagaimana perencanaan untuk penyediaan layanan bagi wilayah terpencil (DTPK, DBK)? Bagaimana model penjangkauan untuk masyarakat di wilayah tersebut?

7. subsistem Pemberdayaan masyarakat

Subsistem ini mencakup peran aktif masyarakat terhadap upaya penanggulangan HIV dan AIDS yang dilakukan pemerintah melalui bentuk-bentuk kerjasama. Masyarakat dapat berupa LSM, perguruan tinggi, organisasi profesi bidang kesehatan, komunitas populasi kunci, dan dunia usaha. Definisi pemberdayaan masyarakat berdasarkan Perpres Nomor :72/2012 tentang SKN adalah sebagai berikut:

“Subsistem pemberdayaan masyarakat adalah pengelolaan penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan, baik perorangan, kelompok, maupun masyarakat secara terencana, terpadu, dan berkesinambungan guna tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.”

(a) Bagaimana bentuk kemitraan yang dilakukan pemda dengan masyarakat (LSM, komunitas populasi kunci, organisasi profesi kesehatan, dll)?

(b) Bentuk keterlibatannya seperti apa saja dalam penanggulangan HIV dan AIDS?

(c) Apakah ada regulasi yang dikeluarkan pemda yang berkaitan dengan partisipasi masyarakat dalam penanggulangan HIV dan AIDS?

(d) Apakah pemda mengalokasikan dana untuk program-program yang melibatkan peran aktif masyarakat? Contohnya: pelatihan kader kesehatan yang berasal dari masyarakat.

(e) Apakah di dalam kemitraan ini ada upaya pemda untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam penanggulangan HIV dan AIDS?

(f) Apakah kendala-kendala yang paling Anda rasakan selama bermitra dengan pemerintah?

(g) Apakah peran perusahaan swasta dalam penanggulangan HIV dan AIDS (misalnya Corporate Social Responsibility).

(h) Apakah ada perawatan berbasis masyarakat di wilayah ini?

(i) Apakah populasi kunci dan masyakarat dilibatkan dalam proses perencanaan, implementasi, dan evaluasi dalam penanggulangan HIV dan AIDS?

(j) Apakah ada komunikasi antara pembuat kebijakan dengan pelaksana di lapangan?

Apakah ada pertemuan konsultasi berkala?

(k) Khusus untuk mitigasi, bagaimana pemanfaatan bantuan tunai bersyarat dari dinas sosial?

(k) Khusus untuk mitigasi, bagaimana pemanfaatan bantuan tunai bersyarat dari dinas sosial?

Dalam dokumen Integrasi Upaya Penanggulangan (Halaman 127-148)