Secara umum, adapun rekomendasi yang diberikan untuk mengembalikan performa sektor pariwisata Kota Yogyakarta dan meningkatkan lama tinggal wisatawan di Kota Yogyakarta pada tahun 2021 adalah sebagai berikut:
1) Adaptasi normal baru pada sarana akomodasi dan daya tarik wisata. Dalam hal ini,
pihak hotel baik bintang maupun non bintang di Kota Yogyakarta agar selalu
mengutamakan kenyamanan tamu hotel untuk menjaga citra wisata Kota Yogyakarta,
khususnya juga adalah mengenai protokol kesehatan maupun protokol dan sertifikasi
CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environment) sesuai yang dipersyaratkan oleh
Kementerian Kesehataran RI beserta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI;
2) Analisis lama tinggal wisatawan agar dilakukan survei secara berkala secara rutin dan
akurat sehingga bisa menganalis dan mengevaluasi lebih jauh terhadap lama tinggal
wisatawan di Kota Yogyakarta;
3) Meningkatkan atraksi wisata, baik atraksi di DTW dan atraksi di pusat kota, maupun
beberapa atraksi di regular maupun spontan terjadwal dengan tetap memperhatikan
dan menjalankan protokol CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environment) yang
berlaku;
4) Konsisten dalam melaksanakan kegiatan peningkatan, sosialisasi, serta pemantauan
terhadap kualitas dari daya tarik wisata maupun akomodasi wisata di Kota Yogyakarta
terhadap penerapan protokol kesehatan yang berlaku;
BAB V – KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 73
6) Optimalisasi gate (meningkatkan direct flight, intermoda dari main gate ke Kota
Yogyakarta);
7) Optimalisasi destinasi wisata minat khusus di Kota Yogyakarta;
8) Diversifikasi berbagai macam daya tarik wisata di Kota Yogyakarta dengan turut
melibatkan komunitas;
9) Memberbanyak media-media edukasi untuk wisatawan terhadap kualitas daya tarik
wisata DIY yang mampu menjamin kesehatan, keselamatan, kebersihan, dan
keberlanjutan lingkungan, agar wisatawan memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi
untuk berkunjung/berwisata ke DIY.
10) Meningkatkan dan menciptakan lingkungan destinasi yang tercermin sesuai Sapta
Pesona;
11) Peningkatan citra wisata Kota Yogyakarta;
12) Peneguhan Kota Yogyakarta sebagai hub untuk kawasan regional (DIY, Kedu, Solo
Raya);
13) Penguatan dan penataan kelembagaan ekosistem pariwisata;
14) Khusus untuk wisatawan mancanegara, dapat dilakukan dengan strategi:
Travel Agent/biro perjalanan wisata dapat melakukan pemulihan performa
(recovery) dengan menarget/membidik pasar nusantara, khususnya pada daerah
yang memiliki akses mudah dan dekat, misalnya saja DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa
Tengah, Jawa Timur, maupun lingkungan DIY;
Untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan mancanegara, travel Agent/biro
perjalanan wisata dapat melakukan direct marketing ke negara tujuan (yang
memiliki tingkat keamanan dan risiko penularan penyakit kecil);
Menambah sarana penginapan yang dilengkapi dengan kegiatan unik tentang
perilaku kehidupan khas Kota Yogyakarta;
Mengoptimalkan dan meningkatkan kualitas kampung wisata dengan yang
disesuaikan dengan kebutuhan BPW (mewakili kebutuhan wisatawan). Misalnya
saja seperti layanan pemandu berbahasa asing, kelengkapan fasilitas toilet, dan
sebagainya.
BAB V – KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 74 Tabel 5.1
Strategi Meningkatkan Lama Tinggal Wisatawan di Kota Yogyakarta
No Strategi Kegiatan
1 Adaptasi normal baru pada
sarana akomodasi dan daya
tarik wisata
1) Sosialisasi protokok kesehatan COVID-19
2) Penyusunan SOP jaminan keamanan pada
fasilitas akomodasi dan daya tarik wisata
terhadap bahaya penyebaran COVID-19
3) Pelatihan dan peningkatan keterampilan
bagi petugas maupun pengelola
akomodasi wisata dan daya tarik wisata
4) Penerapan protokol kesehatan COVID-19
secara ketat dan disiplin
2 Mengembangkan Calender of
Event yang lebih tersistem dan
terstruktur
1) Pembuatan, pembaruan, dan publikasi
Calender of Event secara rutin setiap
tahunnya
2) Menyediakan sarana prasarana pariwisata
dan fasilitas untuk venue event berskala
internasional (misalnya: convention
center)
3) Sinergi dengan destinasi lain yang
potensial, seperti Kulonprogo, Gunung
Kidul, Bantul, Sleman, dan Magelang
4) Pengembangan formula kunjungan
(diversifikasi paket wisata)
3 Optimalisasi main gate 1) Percepatan penyelesaian tol YIA-
Yogyakarta- Solo
2) Percepatan jalur angkutan masal dari
bandara YIA ke Kota Yogyakarta, Kota
Yogyakarta ke Borobudur
BAB V – KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 75
No Strategi Kegiatan
4 Optimalisasi destinasi wisata
minat khusus
1) Pengembangan dan penguatan kualitas
Kampung Wisata
2) Pengembangan wisata budaya dan sejarah
5 Diversifikasi data tarik wisata 1) Heritage trail
2) Living museum
3) Industri kreatif, seperti kerajinan, kuliner,
fashion, perfilman
4) Live-in (dengan menawarkan kearifan
lokal)
5) Edu Tourism
6) Wisata malam
7) Sport Tourism
8) Lab City (seni, budaya, film, sejarah,
arkeologi, antroplogi, pendidikan)
6 Peningkatan citra wisata 1) Mengupayakan untuk terus mengusulkan
Kota Yogyakarta sebagai World Heritage
(City of Phylosophy)
2) Penguatan citra fisik Kota Yogyakarta
sebagai kota budaya dan sejarah
(penataan sumbu filosofis, penguatan
penanda, beautification place)
7 Peneguhan Kota Yogyakarta
sebagai Hub
1) Peningkatan standar fasilitas akomodasi
(baik dari sisi aksesibilitas dan utilitas)
2) Peningkatan jumlah pelaku jasa pariwisata
yang bersertifikasi
3) Perbaikan kualitas berbagai layanan untuk
wisatawan
4) Evaluasi dan pengembangan desain
sirkulasi/jalur penghubung antar DTW
BAB V – KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 76
No Strategi Kegiatan
(penataan arus lalu lintas)
8 Penguatan dan penataan
kelembagaan ekosistem
pariwisata
1) Penguatan hubungan pemangku
kepentingan dengan masyarakat
pariwisata (Kraton, Pakualaman, BPCB,
Pemerintah Kota, Pemerintah DIY, Badan
Otorita Borobudur, asosiasi, Kelompok
Sadar Wisata)
2) Penegakan peraturan usaha jasa
akomodasi dan peningkatan jumlah hotel
berijin
3) Pembentukan DMO (Destination
Management Organization) DIY
77
DAFTAR PUSTAKA
Austriana, Ida. 2005. Analisis Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Daerah dari Sektor Pariwisata. Skripsi. Semarang: Fakultas Ekonomi Universitas Diponogoro.
Badan Pusat Statistik Provinsi DIY. 2020. Direktori Hotel dan Akomodasi Lain Daerah Istimewa
Yogyakarta.
Badan Pusat Statistik Provinsi DIY. 2020. Perkembangan Pariwisata dan Transportasi Udara di DI
Yogyakarta, Februari 2020
Bank Indonesia. 2020. Laporan Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta Agustus 2020:
Ekonomi DIY Terdampak COVID-19.
Cooper, Chris dan Hall, C. Michael. 2008. Contemporary Tourism: An International Approach. Oxford: ELSEIVER.
Edward, Inskeep. 1991. Tourism Planning An Integrated and Sustainable Development Approach. New York: Van Nostrand Reinhold.
Ismayanti. 2011. Pengantar Pariwisata. Jakarta: Grasindo.
Inskeep, Edward. 1991. Tourism Planning and Sustainable Development Approach. New York: Van Nostrand Reinbold.
Kota Yogyakarta Dalam Angka 2019.
Kusmayadi, Sugiarto, Endar. 2000. Metode Penelitian dalam Bidang Kepariwisataan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Kusmayadi, 2004. Statistika Pariwisata Deskriptif. Jakarta: PT Gramedia Utama. Laporan Akhir Analisa Belanja Wisatawan Tahun 2019. Dinas Pariwisata DIY.
Ramla, dkk. 2015. Faktor-Faktor Keputusan Wisatawan di Objek Wisata Riau Fantasi Labersa Waterpark Kabupaten Kampar. Jurnal Fisip. Universitas Riau. Vol.2, No.1, Hal.1-15.
Singapore Tourism Board.2012. Yearbook od Statistic Singapore 2012. Statistik Kepariwisataan Daerah Istimewa Yogyakarta 2017.
Suastika, I Gede Yoga dan I Nyoman M Y. 2017. Pengaruh Jumlah Kunjungan Wisatawan, Lama Tinggal Wisatawan dan Tingkat Hunian Hotel Terhadap Pendapatan Asli Daerah dan Kesejahteraan Masyarakat Pada Kabupaten/Kota di Provinsi Bali. Jurnal Ekonomi
Pembangunan Universitas Udayana. Vol.6, No.7, Hal.1332-1363.
Sudarwono, Cunduk Bagus. 2013. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Lama Tinggal Wisatawan Mancanegara di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Suryamin. 2013. Tingkat Penghunian Kamar Hotel, Occupancy Rate of Hotel Room 2012. Katalog. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
Suwena, Widyatmaja, 2010. Pengetahuan Dasar Ilmu Pariwisata. Denpasar: Udayana University Press